Sabtu, 24 Agustus 2013

Persiapan Untuk Perjamuan Kudus.

   ”Tuhan semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Dan di atas gunung ini Tuhan akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab Tuhan telah mengatakannya.” (Yesaya 25:6-8)

Mari kita simak dengan cermat beberapa kata kerja yang dipakai di sini!

Pertama: menyediakan. Allah adalah Pribadi yang menyediakan. Dan ini selaras dengan kenyataan bahwa Allah adalah Tuhan semesta Allah. Artinya, Dialah yang menjadi penguasa semesta alam. Janganlah kita lupa bahwa Allah adalah Pencipta langit dan Bumi.
Penulis Kitab Kejadian pada awal kitabnya memperkenalkan Allah sebagai Pribadi yang menciptakan langit dan bumi. Votum dalam ibadah di gereja pun pun menyatakan hal yang sama: ”Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi.” Dan karena Dia adalah pencipta langit dan bumi, maka semesta alam adalah milik-Nya. Dan karena alam semesta adalah milik-Nya, maka tak sukar baginya menyediakan segala sesuatu.
Hanya pemiliklah yang sanggup, dan mungkin, menyediakan. Kalau bukan pemilik tetapi berani menyediakan, itu namanya penyerobotan Tegasnya, hanya pencuri dan perampoklah yang berani, atau mampu, menyediakan yang bukan miliknya. Dan ini sekali lagi merupakan suatu hal yang aneh.
Bicara soal perjamuan, memang tak beda dengan pesta. Semua serba terbaik. Perhatikan: suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Pokok yang hendak dikemukakan di sini ialah kemewahan dan kelimpahan. Arti dari kelimpahan di sini ialah setiap orang yang mengikuti perjamuan itu puas. Tidak ada yang kekurangan. Semua serbakebagian. Kebagian karena Allah sendirilah yang menyediakannya.

Kedua: bagi segala bangsa. Perjamuan tersebut dialamatkan untuk semua orang. Tak ada diskriminasi. Semua bangsa akan mendapatkan bagian yang sama. Allah menyiapkan perjamuan itu untuk segala bangsa karena semua orang, apa pun sukunya, adalah umat-Nya. Dalam pengertian bahwa semua orang adalah ciptaan Tuhan. Agak aneh rasanya, jika ciptaan Tuhan tidak mengakui diri sebagai umat Allah. Tetapi, sekali lagi, memang di sini masalahnya: maukah segala bangsa itu mengaku diri sebagai umat Allah?
Di sini kita menyaksikan sebuah paradoksal. Di satu sisi kasih Allah bersifat universal—untuk semua orang. Namun, di sisi lain, kasih itu ternyata bukan kasih buta. Kasih Allah adalah kasih yang menuntut respons dari manusia. Sekali lagi, semua orang diundang mengikuti perjamuan Tuhan. Tetapi tentunya, para undangan tersebut harus menanggapi undangan itu dengan sebaik-baiknya! Kalau tidak, ya aneh!

Ketiga: mengoyakkan. Tuhan adalah Pribadi yang mengoyakkan selubung perkabungan manusia. Di sini Allah diperkenalkan sebagai Allah yang menghapuskan penderitaan manusia. Kata koyak di sini mengingatkan saya pada peristiwa koyaknya tirai Bait Allah menjadi dua pada waktu Yesus mati disalib. Dan Allahlah yang mengoyakkannya. Allahlah yang menghapuskan penderitaan itu.
Mengapa saya menyinggung peristiwa penyaliban Kristus di sini? Pada awalnya penderitaan manusia memang terjadi tatkala manusia dengan kehendaknya sendiri merasa perlu menjauhi Allah. Penderitaan manusia pertama kali terjadi ketika manusia dengan kesadaran sendiri memutuskan persekutuannya dengan Tuhan. Dan itulah yang dikemukakan dengan jelas pada Kitab Kejadian.
Pada mulanya Allah menciptakan segala sesuatu dengan sungguh amat baik. Semua serbaharmonis. Penulis kitab Kejadian dengan jelas menjelaskan bagaimana manusia bekerja di Taman Eden itu dengan sungguh amat baik. Tetapi, tatkala manusia dengan sengaja memutuskan hubungan dengan Allah—dengan makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat—pada saat itu jugalah hubungan yang harmonis itu jadi berantakan.
Bukti-bukti ketakharmonisan itu dapat disebut di sini. Pertama, manusia takut bertemu dengan Allah. Perasaan takut manusia berawal di sini. Pertemuan dengan Allah tidak dipandang sebagai peristiwa yang menyenangkan, tetapi malah menakutkan. Manusia takut dihukum. Sekali lagi, manusia merasa salah.
Kedua, manusia tak lagi mampu bersikap harmonis terhadap sesamanya. Ingat: Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Saling menyalahkan. Saling mencari kambing hitam. Pencarian kambing hitam menjadi bukti bahwa hubungan manusia tak lagi baik dengan sesamanya. Tak lagi harmonis. Yang ada: saya benar, kamu salah; saya nomor satu, kamu nomor sekian; saya di atas, kamu di bawah.

   Ketiga, manusia tak lagi mampu bersikap harmonis dengan dirinya sendiri. Baiklah kembali kita mengingat kisah manusia sebelum kejatuhan: manusia telanjang tetapi tidak merasa malu. Artinya di sini ialah bahwa manusia mampu bersikap telanjang, terbuka, dan mampu menerima diri apa adanya. Tetapi, sewaktu manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi malu. Dia tidak lagi mampu menerima baik kelemahan dan kekuatan dirinya dengan wajar. Manusia tidak mampu menerima kelemahan dirinya, dan merasa takut kalau kelemahannya itu diketahui oleh pihak lain. Sehingga dia merasa malu ketika menyadari keadaan dirinya yang telanjang.
 
   Keempat, manusia dan bumi tak lagi bersahabat. Manusia harus berpeluh untuk mendapatkan makanannya. Dan bumi hanya mengeluarkan onak duri. Manusia tak lagi mengelola bumi, tetapi mengeksploitasi bumi. Sampai kini manusia dan bumi tak lagi bersahabat. Kalau kita masih buah sampah sembarangan, pada titik itulah kita masih belum bersahabat dengan bumi. Sebab, kita memandang bumi sebagai tempat sampah!
Dan Allah, melalui peristiwa penyaliban, telah menjadikan manusia sebagai sahabat. Allah telah memulihkan hubungan antara diri-Nya dan manusia. Dan karena itulah manusia yang hidup dalam penyelamatan Allah itu dapat kembali hidup harmonis dengan dirinya sendiri, manusia lain, alam. Hanya dengan beginilah penderitaan manusia akan hilang. Allah telah mengoyakkan kain perkabungan.

Keempat: meniadakan maut. Peristiwa salib menyatakan dengan jelas bahwa Allah telah meniadakan maut untuk selamanya; dan dengan itulah Allah menghapuskan air mata dari mata manusia. Itu jugalah kesaksian iman Paulus: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (I Kor. 15:54-55). Dan itu hanya mungkin terjadi dalam diri Yesus Kristus, yang menanggung dosa umat manusia.
Hari ini kita mengadakan persiapan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus merupakan sarana pemeliharaan iman. Dalam Perjamuan Kudus kita mengingat dan diingatkan kembali bahwa penyelamatan Allah telah berlangsung dalam diri Yesus Kristus. Dan itulah yang diwartakan dalam pekabaran Injil. Inti Pekabaran Injil ialah mewartakan kembali kepada dunia bahwa penyelamatan telah telah terjadi dalam diri Yesus Kristus: Allah yang menjadi manusia.
Dalam diri Yesus Kristus kata salam, selamat, syalom, damai, sancti, sancai, bukan lagi utopia. Bukan lagi mimpi. Saya dan saudara dipanggil pula untuk hidup dalam penyelamatan Allah itu dan menyatakan penyelamatan Allah itu kepada orang lain. Sehingga semakin banyak orang yang merasakan damai sejahtera yang dari Allah itu.
Sehingga tergenapilah nubuat Yesaya: ”Di Bukit Sion, Tuhan Yang Mahakuasa akan menyiapkan perjamuan untuk semua bangsa di dunia. Ia menghidangkan makanan yang paling lezat dan anggur yang terpilih. Di atas bukit itu Ia akan menyingkapkan awan kesedihan yang menyelubungi bangsa-bangsa. Tuhan Yang Mahakuasa akan membinasakan maut untuk selama-lamanya! Ia akan menghapus air mata dari setiap wajah, dan menjauhkan kehinaan yang ditanggung umat-Nya di seluruh bumi. Tuhan sudah berbicara, dan hal itu pasti terjadi.” (BIMK).
Amin.