Tampilkan postingan dengan label MINOR PROPHETS: Carilah Tuhan dan Hiduplah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MINOR PROPHETS: Carilah Tuhan dan Hiduplah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2013

Keberagaman Dan Formalisme Peribadatan.




  "SUPAYA JANGAN KITA LUPA! (MALEAKHI)

PENDAHULUAN
  
Bukan soal uang. Apabila kitab Maleakhi disebut mungkin banyak di antara kita yang langsung teringat soal persepuluhan dan persembahan. Memang nabi Maleakhi adalah yang secara tegas menulis perihal tuntutan Allah dalam hal kewajiban umat Tuhan untuk mengembalikan apa yang menjadi milik-Nya, yang untuk zaman sekarang dapat dianggap sebagai "kewajiban finansial" untuk menyokong pekerjaan-Nya. Namun pekabaran utama kitab Maleakhi bukan soal uang, persepuluhan ataupun persembahan, melainkan masalah peribadatan dalam arti yang lebih luas.
 "Pokok pekabaran Maleakhi ialah bahwa sementara Allah telah menyatakan kasih-Nya kepada umat-Nya sepanjang sejarah mereka, kasih itu juga membuat umat-Nya bertanggungjawab kepada-Nya. Tuhan mengharapkan bangsa pilihan itu dan para pemimpinnya menuruti perintah-perintah-Nya...Walaupun mereka telah menjalankan upacara-upacara agama, namun itu merupakan formalisme yang gersang tanpa keyakinan yang tulus" [alinea kedua: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
 Nabi Maleakhi (Ibr.: מַלְאָכִיMal`akiy, artinya Jurukabar-Ku) melayani sebagai nabi Tuhan sesudah bangsa Yehuda bermukim kembali di negeri mereka dan mulai menikmati kemapanan dalam banyak aspek kehidupan. Kemungkinan waktunya antara 420-415 SM, yaitu seratus tahun setelah pelayanan nabi Hagai dan nabi Zakharia ketika bangsa itu baru kembali dari pembuangan di Babel. Ini menjadikan Maleakhi sebagai nabi terakhir dalam zaman kenabian di Israel. Sebuah sumber menyebutkan bahwa Maleakhi termasuk anggota "Anshei Knesset HaGedolah" (Majelis Rakyat), sebuah lembaga yang didirikan oleh nabi Ezra yang bersidang secara berkala selama masa Bait Suci Kedua (520 SM-70 TM). Badan musyawarah beranggotakan 120 pemuka masyarakat tersebut, yang menjadi semacam "dewan agama" dalam tradisi Yahudi, antara lain telah menghasilkan kanonisasi "Tanach" (Kitabsuci Ibrani yang terdiri atas 24 kitab), melembagakan "Shemoneh Esreh" (doa wajib tiga kali sehari), dan ketentuan pemeliharaan hukum Torah. Selain Maleakhi, nabi-nabi yang juga pernah menjadi anggota badan ini termasuk Ezra, Nehemia, Daniel, Hagai dan Zakharia. (Lihat---> http://www.ou.org/about/judaism/anshei.htm).

Peribadatan formalitas. Tampaknya Maleakhi hidup pada masa di mana rakyat Yehuda sedang berada dalam suasana pergumulan iman, khususnya keyakinan apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka. "'Aku mengasihi kamu,' firman Tuhan. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?'" (Mal. 1:2). Sebagian dari umat itu berada dalam kebimbangan, apakah percaya dan menurut perintah Allah itu masih berarti atau tidak. Banyak dari antara umat yang sisa dari bangsa pilihan itu yang tidak lagi menganggap Allah sebagai penolong mereka sehingga tidak ada rasa hormat dan takut kepada-Nya. Sebagian dari mereka yang masih tetap beribadah kepada Tuhan melakukannya secara formalitas saja, yaitu hanya sekadar "bentuk" yang dapat dilihat dari luar tetapi hampa akan "isi" yang hanya dirasakan dalam hati sanubari.
Keunikan kitab Maleakhi terletak pada gaya penuturannya yang berbentuk dialektika retorik, seakan-akan isinya adalah "perbantahan" antara Tuhan dengan umat-Nya. Sejauh yang dapat diidentifikasikan, keseluruhan isi kitab ini bisa dibagi ke dalam tujuh sessi bersoal-jawab:
 1. Perihal kasih Allah kepada Israel (1:1-5).
2. Perihal menghormati Allah dalam peribadatan (1:6-14).
3. Perihal menentang imam-imam (2:1-9).
4. Perihal perkawinan dan perceraian (2:10-16).
5. Perihal keadilan Allah (2:17-3:6).
6. Perihal persepuluhan (3:7-12).
7. Perihal arti dari melayani Tuhan (3:13-4:6).
 Pada dua ayat terakhir Maleakhi bernubuat mengenai "Elia" yang akan "membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya" (4:5, 6). Dalam mengantisipasi kegenapan janji inilah maka orang Yahudi memelihara tradisi untuk menyediakan satu kursi kosong saat mengadakan perjamuan Paskah dalam setiap keluarga, siapa tahu nabi yang sangat dihormati oleh bangsa Israel itu tiba-tiba muncul untuk mengumumkan datangnya Mesias. Tetapi nubuatan yang bersifat figuratif ini baru digenapi sekitar 400 tahun kemudian dalam sosok Yohanes Pembaptis yang mewarisi roh Elia (Mat. 11:14; Mrk. 9:11-13; Luk. 1:17), seorang yang sebelumnya dijuluki "utusan-Ku" yang akan mendahului kedatangan Mesias yang disebut "Malaikat Penyelamat" (Mal. 3:1).
 *Judul asli pelajaran pekan ini adalah "Lest We Forget! (Malachi)"

1.   KEWAJIBAN MEMULIAKAN ALLAH (Besarlah Tuhan)
 Makna persembahan kurban. Upacara persembahan kurban adalah inti dari peribadatan bangsa Israel purba, dan umat Yehuda sudah mulai menjalankan upacara suci itu segera setelah Bait Suci kedua yang dibangun oleh Zerubabel rampung. Namun tampaknya mereka mengabaikan aturan penting menyangkut kurban yang mereka persembahkan, bahwa hewan kurban itu harus sempurna tanpa cacat apapun (Im. 1:1-3, 22:18-25; Ul. 15:21). Tentu kesalahan tidak semata-mata pada umat yang membawa persembahan yang cacat, tetapi imam-imam yang menerima kurban itu seharusnya memeriksa dengan teliti kelaikannya sebelum melaksanakan upacara suci itu. 
 Sesuatu persembahan melambangkan rasa hormat dari pihak pemberi terhadap pihak penerima. Bangsa itu terikat untuk menghormati Allah dalam tiga aspek hubungan, yakni sebagai anak dengan Bapa mereka, sebagai hamba dengan Tuan mereka, dan sebagai rakyat dengan Raja mereka. Tetapi lebih daripada itu, persembahan kurban yang mereka adakan merupakan lambang dari Anak Domba Allah, yaitu Mesias yang datang dalam sosok Yesus Kristus, sebagai Kurban yang sempurna bagi penebusan dosa semua manusia sepanjang zaman.
 "Tentu saja, apa yang membuat tindakan-tindakan mereka itu bahkan lebih keji lagi dalam pemandangan Allah ialah bahwa kurban-kurban ini semuanya merujuk kepada Yesus, Anak Allah yang tidak bernoda dan tidak bercacat (Yoh. 1:29; 1Ptr. 1:18-19). Hewan-hewan itu harus tanpa cela sebab Yesus harus tidak bercela agar menjadi kurban yang sempurna bagi kita" [alinea ketiga].
  
Mencemari mezbah Tuhan. Mezbah Tuhan melambangkan kekudusan Allah, itulah sebabnya Tuhan memberlakukan aturan sangat ketat berkaitan dengan pelayanan mezbah. Segala bentuk kenajisan harus dijauhkan dari mezbah Tuhan. Selain hewan-hewan kurban harus diperhatikan kesempurnaan fisiknya, imam-imam yang melayani di mezbah Tuhan juga harus steril dari kenajisan (Im. 22:2-8). Bahkan, imam-imam dari keturunan Harun yang memang ditentukan untuk melayani mezbah, juga harus diseleksi berdasarkan kesempurnaan fisik mereka karena yang cacat tidak boleh mendekati mezbah (Im. 21:17-21).
 Sebagai umat Kristen, "Bait Suci" yang kita miliki sekarang adalah Gereja yang kita sebut sebagai Rumah Tuhan. Pada hakikatnya, gereja yang sudah ditahbiskan seluruh bagiannya adalah suci sebab telah diasingkan bagi Tuhan, tetapi mimbar adalah bagian paling suci yang kita perlakukan sebagai mezbah Tuhan. Kita bertanggungjawab untuk memelihara kekudusan mimbar gereja dengan tidak membiarkan "kurban-kurban yang najis" mencemari kesuciannya, baik itu berupa persembahan dan persepuluhan dari jemaat maupun dalam bentuk khotbah-khotbah yang konyol dan perkataan-perkataan tidak patut yang terlontar dari atas mimbar sehingga menodai kekudusan mezbah Allah. Demikian juga, orang-orang yang melayani di mimbar haruslah mereka yang terlebih dulu sudah membersihkan kenajisan hatinya dan telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk pelayanan mimbar demi menghormati kesucian mezbah Tuhan.
 Sebagai orang Kristen kita juga percaya bahwa tubuh kita adalah "bait Allah" sebab Roh Allah diam di dalam diri kita, oleh karena itu kita wajib memelihara kesuciannya (1Kor. 3:16-17). Pena inspirasi menulis: 
"Meskipun itu ditujukan kepada Israel purba, perkataan ini mengandung suatu pelajaran bagi umat Tuhan zaman ini. Ketika sang rasul meminta saudara-saudaranya untuk mempersembahkan tubuh mereka 'sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah' [Rm. 12:1], dia mengetengahkan prinsip-prinsip pengudusan sejati. Itu bukan sekadar teori, emosi, atau serangkaian kata-kata, melainkan suatu prinsip yang hidup dan aktif yang merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Itu menuntut agar kebiasaan kita dalam hal makan, minum, dan berpakaian harus sedemikian rupa sehingga memelihara kesehatan fisik, mental dan moral, supaya kita bisa mempersembahkan kepada Tuhan tubuh kita bukan sebagai satu persembahan yang dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan buruk, melainkan 'sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah'" (Ellen G. White, The Sanctified Life, hlm. 28).

Apa yang kita pelajari tentang memuliakan Allah melalui persembahan?
1. Kewajiban umat Tuhan bukan sekadar beribadah kepada-Nya, tapi juga memuliakan Allah. Kita pun dapat memuliakan Tuhan melalui peribadatan, persembahan dan persepuluhan, serta memelihara kekudusan mezbah Tuhan.
2. Kalau persembahan kurban bangsa Israel purba melambangkan pengorbanan Yesus Kristus untuk penebusan dosa manusia, persembahan umat Tuhan zaman ini melambangkan pengorbanan kita sendiri bagi pekerjaan Tuhan. Sebagai persembahan kurban, kita memberi dari kelebihan maupun dari kekurangan kita.
3. Persembahan yang berkenan kepada Tuhan bukan dinilai dari kuantitasnya tetapi dari kualitasnya. Semakin kudus motivasi kita dalam memberi, semakin berkualitas persembahan itu. Persembahan kita yang terbesar bagi Tuhan bukanlah uang dan harta, melainkan hati dan diri kita.

2. AMARAN KEPADA ROHANIWAN (Mengasihi dan Menghormati Orang Lain)
 Kotoran hewan. Peringatan Tuhan terhadap imam-imam pada zaman Maleakhi itu sangat keras. Kalau mereka tidak mau mendengarkan amaran Tuhan dan memperhatikan kehormatan nama-Nya, Allah berkata bahwa selain mengutuk mereka, "Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu" (Mal. 2:2, 3). Makna dari "mematahkan lengan" berarti membebaskan mereka dari tugas keimamatan, dan "melemparkan kotoran ke muka" artinya mempermalukan mereka.
 Pada masa pengembaraan mereka di padang gurun dalam perjalanan dari Mesir menuju Kanaan, Bait Suci masih dalam bentuk tenda dan disebut Kemah Pertemuan yang dapat dibongkar-pasang (portable). Tatkala dilakukan upacara penahbisan, Harun dan keluarganya sebagai imam-imam mempersembahkan hewan kurban berupa seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan selain roti bundar yang tidak beragi (Kel. 29:1-3). Setelah Harun meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan kemudian hewan itu disembelih di depan Kemah Pertemuan, lalu sedikit darahnya dioleskan dengan jarinya pada tanduk-tanduk mezbah dan sisanya dicurahkan ke bawah mezbah itu. Kemudian lemak dan jeroannya dibakar di atas mezbah, sedangkan daging, kulit, dan kotorannya harus dibakar habis di luar perkemahan (ay. 10-14). Dengan mengatakan bahwa kotoran hewan akan dilemparkan ke muka, berarti Tuhan akan "membuang" imam yang dikutuki-Nya itu ke luar lingkungan pelayanan atau memberhentikannya dengan tidak hormat dari jabatan imam.
 Sejak zaman dulu tugas keimamatan adalah tugas yang berazaskan kejujuran dan ketulusan hati yang didasarkan pada perjanjian khusus dengan Allah. Tuhan berkata, "Dalam perjanjian itu Aku menjanjikan kepada mereka hidup yang aman dan sejahtera, dan mereka Kusuruh menghormati Aku. Pada masa itu mereka memang menghormati Aku dan takut kepada-Ku. Mereka mengajarkan yang benar, dan bukan yang salah. Mereka akrab dengan Aku, dan dengan jujur mengikut kehendak-Ku. Mereka juga menolong banyak orang untuk tidak lagi melakukan yang jahat. Memang kewajiban para imam untuk mengajarkan yang benar tentang Aku, Tuhan Yang Mahatinggi. Kepada merekalah rakyat harus bertanya apa kehendak-Ku, karena mereka itu utusan-utusan-Ku. Tetapi sekarang ini, kamu, imam-imam, sudah menyimpang dari jalan yang benar. Ajaran-ajaranmu telah menyeret banyak orang untuk berbuat salah. Kamu sudah merusak perjanjian yang Kubuat dengan kamu. Maka Aku pun akan membuat kamu diremehkan oleh umat Israel karena kamu tidak menaati kehendak-Ku, dan karena kamu membeda-bedakan orang pada waktu mengajar umat-Ku" (Mal. 2:5-9, BIMK; huruf miring ditambahkan).
  
Komitmen pada perkawinan. Sejak semula Allah telah mengamarkan bangsa Israel purba agar jangan kawin dengan lelaki maupun perempuan bangsa lain (Ul. 7:1-4), tapi amaran ini telah dilanggar sejak mereka bermukim di tanah Kanaan sampai pada masa pembuangan. Bahkan, orang-orang dari suku Lewi yang diasingkan untuk tugas melayani Bait Suci mengambil istri dari perempuan-perempuan kafir. Selain itu, mereka juga tidak setia pada perkawinan tersebut dengan menceraikan istri-istri mereka itu. Maleakhi mengingatkan mereka, "Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!" (Mal. 2:15-16; huruf miring ditambahkan).
 "Allah bermaksud bahwa perkawinan harus menjadi sebuah komitmen seumur hidup. Akan tetapi pada zaman Maleakhi banyak laki-laki telah melanggar sumpah yang mereka buat pada awal kehidupan pernikahan mereka, seperti kata sang nabi, 'istri dari masa mudanya.' Melihat istri-istri mereka semakin tua, para suami itu hendak menceraikan mereka lalu mengawini wanita-wanita yang lebih muda dan lebih menarik. Karena alasan inilah maka Tuhan berkata bahwa Dia membenci perceraian (Mal. 2:16). Pernyataan yang tegas ini menunjukkan betapa seriusnya Allah soal janji perkawinan yang seringkali diremehkan orang. Aturan yang ketat dalam Alkitab perihal perceraian memperlihatkan betapa sucinya perkawinan itu" [alinea ketiga].
 Pena inspirasi menulis: "Seperti halnya setiap karunia yang baik dari Allah yang dipercayakan untuk memelihara umat manusia, perkawinan telah diselewengkan oleh dosa; tetapi adalah tujuan injil untuk memulihkan kemurnian dan keindahannya. Dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru hubungan perkawinan digunakan untuk melambangkan ikatan yang lembut dan suci yang ada di antara Kristus dengan umat-Nya, umat tebusan yang sudah dibeli-Nya dengan harga Golgota" (Ellen G. White, Thoughts From the Mount of Blessing, hlm. 63).
  
Apa yang kita pelajari tentang amaran terhadap jabatan keimamatan dan kesucian perkawinan?
1. Sebagaimana pekerjaan keimamatan zaman Israel purba adalah tugas yang suci, demikian juga jabatan dalam pekerjaan Tuhan zaman ini adalah tugas yang suci. Ada kewajiban dan tanggungjawab moral di atas pundak para rohaniwan dan mereka yang terlibat dalam pekerjaan kerohanian.
2. Perkawinan umat Tuhan dapat menjadi barometer penghormatan umat Tuhan pada kekudusan Allah. Sebuah rumahtangga yang memelihara kesuciannya menandakan penghormatan rumahtangga itu terhadap hukum Allah, atau sebaliknya meremehkan kekudusan Allah dan hukum-Nya.
3. Larangan Tuhan atas perkawinan campur di kalangan bangsa Israel tidak ada hubungannya dengan soal ras, tetapi lebih kepada masalah iman. Contohnya Rut, wanita Moab yang memilih untuk percaya kepada Allah Israel (Rut 1:16), dan dari perkawinannya dengan Boas menjadi leluhur Yesus Kristus.

3. BERTOBAT DAN TUNAIKAN KEWAJIBAN (Persepuluhan Dalam Rumah Perbendaharaan)
  
Kembalilah kepada Tuhan. Umat Yehuda mengeluh seolah-olah Tuhan "berkenan" terhadap perbuatan orang jahat dengan membiarkan mereka tanpa hukuman (Mal. 2:17). Terhadap keluhan inilah Tuhan menjawab, "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam" (Mal. 3:1; huruf miring ditambahkan). Ayat ini merujuk kepada Yohanes Pembaptis sebagai "utusan" Allah yang "mempersiapkan jalan" bagi kedatangan "Malaikat Perjanjian" yang tidak lain daripada Sang Mesias. Di kemudian hari Yesus mengutip ayat ini untuk menerangkan tentang Yohanes Pembaptis yang sudah datang mendahului Dia (Mat. 11:10-11).
 Tampaknya penyusun pelajaran melewatkan nubuatan ini supaya lebih berkonsentrasi pada pekabaran tentang imbauan Tuhan kepada umat Yehuda. "Akulah TUHAN, dan Aku tidak berubah. Karena itu kamu, keturunan Yakub, tidak dibinasakan. Seperti leluhurmu dahulu, kamu semua sudah menyeleweng dari hukum-hukum-Ku dan tidak setia menjalankannya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku pun akan kembali kepadamu..." (Mal. 3:6-7, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kalimat terakhir ini adalah pengulangan dari seruan Allah kepada mereka melalui nabi Zakharia (Za. 1:3), dan ajakan untuk kembali kepada Tuhan merupakan sebuah seruan pertobatan (Yes. 55:7). Namun dalam kitab Maleakhi seruan ini diberi penekanan khusus pada kewajiban finansial mereka kepada Tuhan. "Tetapi kamu bertanya, 'Apa yang harus kami lakukan untuk kembali kepada-Mu?' Sekarang Aku bertanya kepadamu: Bolehkah manusia menipu Allah? Tentu saja tidak. Tetapi kamu menipu Aku juga. Kamu bertanya, 'Bagaimana?' Jawab-Ku: Dalam hal membayar sepersepuluhan dan memberi persembahan" (Mal. 3:7-8, BIMK; huruf miring ditambahkan).
 "Kelaziman persepuluhan, yaitu memberi sepuluh persen dari pendapatan, disajikan dalam Alkitab sebagai sebuah pengingat bahwa Allah memiliki segala sesuatu dan semua yang manusia miliki datangnya dari Dia. Persepuluhan sudah digunakan di Israel untuk menunjang orang Lewi yang melayani di Bait Suci. Lalai mengembalikan persepuluhan, menurut Maleakhi, itu sama dengan merampok Allah" [alinea ketiga].
 Ujilah Tuhan. Setelah menyerukan kepada umat itu untuk "kembali kepada Tuhan" yang ditunjukkan melalui kesetiaan membayar persepuluhan dan persembahan, Allah memberi tantangan kepada mereka. "Bawalah sepersepuluhanmu seluruhnya ke Rumah-Ku supaya ada makanan berlimpah di sana. Ujilah Aku, maka kamu akan melihat bahwa Aku membuka pintu-pintu surga dan melimpahi kamu dengan segala yang baik" (Mal. 3:10, BIMK; huruf miring ditambahkan).
"Maleakhi 3:10 adalah salah satu ayat Kitab suci yang ganjil di mana Tuhan menantang umat itu untuk menguji Dia. Di mata air Meriba di padang belantara anak-anak Israel itu berulang-ulang 'menguji' kesabaran Allah, suatu hal yang membuat Dia marah (Mzm. 95:8-11). Akan tetapi di sini Allah mengajak Israel untuk menguji Dia. Ia ingin mereka melihat bahwa mereka bisa percaya kepada-Nya dalam hal ini, yang menurut ayat ini mengandung makna rohani yang besar" [alinea terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Allah memberikan kepada manusia sembilanpersepuluh sementara Dia menuntut sepersepuluh untuk maksud yang suci, sebagaimana Ia telah memberikan kepada manusia enam hari untuk pekerjaan mereka sendiri dan menyimpan serta memisahkan hari yang ketujuh bagi Diri-Nya. Sebab, seperti halnya Sabat, sepersepuluh dari pendapatan itu suci; Allah sudah menyimpan itu bagi Diri-Nya. Ia akan melanjutkan pekerjaan-Nya di atas bumi ini dengan penambahan harta yang Ia percayakan kepada manusia...Apabila mereka mengakui tuntutan Allah dan taat pada tuntutan-Nya, menghormati Dia dengan harta benda mereka, lumbung mereka akan terisi dengan limpah. Tetapi bilamana mereka merampok Allah dalam hal persepuluhan dan persembahan, mereka telah disadarkan bahwa mereka bukan saja merampok Dia tetapi juga diri mereka sendiri, sebab Dia membatasi berkat-Nya kepada mereka sama seperti bagian yang mereka batasi dari persembahan mereka kepada-Nya" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 394, 395).
 Apa yang kita pelajari tentang kewajiban soal persepuluhan?
1. Allah memanggil umat Yehuda di zaman Maleakhi untuk kembali kepada-Nya, dalam arti bertobat dari kesalahan dan kembali menunaikan kewajiban-kewajiban mereka kepada Tuhan. Satu kewajiban khusus yang ditekankan di sini adalah soal membayar persepuluhan dan persembahan.
2. Sebuah kisah nyata pernah diceritakan perihal salah seorang anggota jemaat kita yang rumahnya kemalingan. Si pencuri mengambil semua uang yang ditemukannya di lemari, kecuali yang tersimpan dalam amplop persepuluhan dengan tulisan "Milik Tuhan." Tapi terkadang kita lebih berani dari maling.
3. Menguji Allah itu pantang, kecuali dalam satu hal: persepuluhan. Bahkan, Allah sendiri yang menantang kita untuk menguji Diri-Nya. Hanya Tuhan yang setia kepada janji-janji-Nya bersedia Diri-Nya diuji oleh manusia.

4. PAHALA UNTUK TIDAK MENGELUH (Sebuah Kitab Peringatan)
  
Apatisme umat Tuhan. Bangsa Yehuda mengeluh dengan berkata, "Percuma saja berbakti kepada Allah. Apa gunanya melakukan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Mahakuasa, atau menunjukkan kepada-Nya bahwa kita menyesali kesalahan kita? Kita lihat sendiri bahwa orang-orang sombong bahagia. Orang jahat tidak hanya bertambah makmur, tetapi kalau mereka menguji kesabaran Allah dengan berbuat jahat, mereka luput juga" (Mal. 3:14-15, BIMK). Sebuah ungkapan putus asa dan apatisme, sesuatu yang seringkali juga dikeluhkan oleh sebagian umat Tuhan zaman ini.
 "Dalam Maleakhi 3:13-18 bangsa itu mengeluh bahwa Tuhan tidak peduli terhadap dosa bangsa itu. Mereka yang melakukan kejahatan dan ketidakadilan kelihatannya luput tak ketahuan, sehingga banyak yang bertanya-tanya mengapa mereka harus melayani Tuhan dan hidup dengan benar sedangkan kejahatan tampaknya berlangsung tanpa dihukum" [alinea pertama].
 Bagaimana Tuhan menilai keluhan seperti ini? Kita menemukannya pada ayat sebelumnya tatkala Tuhan berkata, "Bicaramu kurang ajar tentang Aku" (ay. 13; huruf miring ditambahkan). Versi BIMK menulis, "Kata-katamu sungguh menghina Aku" (ay. 13, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan "kurang ajar" atau "menghina" pada ayat ini adalah חָזַקchazaq (baca: khäzak'), sebuah katakerja yang dalam hal ini berarti "perkataan yang keras." Tegasnya, Tuhan tersinggung dengan ucapan dan sikap berkeluh-kesah seperti ini. Sebaliknya, Tuhan senang mendengar sekelompok orang lain yang berbicara dalam nada konstruktif dan percaya bahwa keadilan Allah kelak ditegakkan. "Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan Tuhan: 'Tuhan memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan Tuhan dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya'" (ay. 16; huruf miring ditambahkan). Ayat 13 dan ayat 16, bersama-sama dengan ayat 14 dan 15, harus dibaca sebagai bagian yang utuh dalam satu konteks.

 Kitab kehidupan. Tampaknya, dalam ayat di atas itu nabi Maleakhi sedang bertutur tentang sebuah buku catatan di surga yang pada bagian-bagian lain dalam Alkitab disebut "kitab kehidupan" (Ibrani: חַיִּ֑ים מִסֵּ֣פֶרmissêp̄er ayyîm; Grika: βίβλ ζως, biblō zōēs). Raja Daud pernah menyebut soal eksistensi kitab kehidupan surgawi ini ketika dia menulis perihal orang-orang yang melakukan kejahatan dan ketidakadilan, "Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!" (Mzm. 69:29). Rasul Paulus juga pernah menyinggung tentang keberadaan kitab kehidupan (Flp. 4:3), dan Yohanes Pewahyu beberapa kali menyebutkannya (Why. 3:5; 13:8; 17:8; 20:12, 15). Menulis tentang orang-orang yang bakal masuk surga, pewahyu itu mencatat, "Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu" (Why. 21:27). 
 "Adalah mudah, dalam dunia di mana terdapat begitu banyak ketidakadilan ini, untuk meragukan apakah keadilan benar-benar ditegakkan. Akan tetapi, pekabarannya di sini ialah bahwa Allah mengetahui semua hal ini, dan Ia akan memberi pahala kepada orang-orang yang setia kepada-Nya...Hal yang paling penting ialah bahwa Tuhan mengetahui segala perkara. Dia tahu orang-orang yang menjadi milik-Nya (2Tim. 2:19) dan mana yang bukan" [alinea kedua, dan alinea terakhir: kalimat pertama].
 Pena inspirasi menulis: "Dalam Maleakhi 3:16 satu kelompok berbeda dimunculkan, sekelompok orang yang berkumpul bersama-sama, bukan untuk mencari kesalahan Tuhan tetapi untuk membicarakan kemuliaan-Nya dan menceritakan kemurahan-Nya. Orang-orang ini telah setia dalam kewajiban mereka. Mereka sudah memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya. Kesaksian-kesaksian diutarakan oleh mereka yang membuat malaikat-malaikat surgawi bernyanyi dan bersukacita. Orang-orang ini tidak mempunyai keluhan terhadap Allah. Mereka yang berjalan di dalam terang, yang setia dan benar dalam melaksanakan kewajiban mereka, tidak terdengar mengeluh dan mencari-cari salah. Mereka mengucapkan kata-kata dorongan, pengharapan, dan iman. Orang-orang yang melayani diri sendiri, yang tidak memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya, mereka itulah yang mengeluh" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 6, hlm. 390).
  
Apa yang kita pelajari tentang sikap apatis dan soal kitab kehidupan surgawi?
1.Apatisme (sikap masa bodoh) itu bagaikan virus berbahaya yang dapat mematikan iman dan gampang menular. Gejala utamanya adalah suka mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Umat Yehuda zaman dulu pernah dilanda oleh sikap ini, dan hal yang sama mengancam umat Tuhan zaman ini.
2. Dengan mengeluhkan "kesusahan orang benar" dan menonjolkan "kemakmuran orang tidak benar" kita menghina Allah, sebab dengan begitu kita meragukan keadilan dan kepedulian-Nya pada kehidupan manusia. Allah tidak tidur, mata-Nya "mengawasi orang jahat dan orang baik" (Ams. 15:3).
3. Teologinya di sini adalah: Ketimbang bersusah hati karena ada orang yang lalim tapi makmur, lebih baik bersyukur memikirkan pahala yang disediakan bagi orang yang benar dan setia. Dengan begitu anda dan saya akan terpacu untuk tetap setia dan benar, meskipun susah.

5. SUPAYA JANGAN KITA LUPA (Surya Kebenaran)
  
Hari yang Tuhan siapkan. Nabi Maleakhi menulis, "Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang. Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam" (Mal. 4:2-3; huruf miring ditambahkan). Para komentator Alkitab menafsirkan "surya kebenaran" adalah Mesias yang datang ke dunia ini dalam sosok Yesus Kristus, dan ini berarti bahwa nubuatan tersebut sudah digenapi. Tapi, apakah surya atau matahari itu bersayap dan bisa menyembuhkan? Ini adalah bahasa puitis, "sayap" melambangkan berkas-berkas cahaya yang memancar dari matahari dalam arti kata sebenarnya yang memang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Alkitab sering menggambarkan Tuhan seperti matahari atau bintang (Mzm. 84:12; Yes. 60:19; Why. 22:16).
 "Sementara nasib orang jahat digambarkan dalam ayat 1, ayat 2 terfokus pada berkat-berkat masa depan dari orang benar. Pertanyaan 'Di manakah Allah keadilan?' terjawab kembali, tapi kali ini oleh jaminan satu hari yang akan datang bilamana Surya Kebenaran akan terbit dengan kesembuhan pada sayapnya. Terbitnya 'surya kebenaran' adalah sebuah kiasan untuk satu hari yang baru, hari yang menandakan suatu zaman baru dalam sejarah keselamatan" [alinea kedua: tiga kalimat pertama].
 Anak kalimat "pada hari yang Kusiapkan" pada ayat di atas sudah disebutkan juga pada pasal sebelumnya, ketika Tuhan akan menyambut orang-orang benar yang dikasihi-Nya itu. "Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya" (Mal. 3:16-17; huruf miring ditambahkan).
 Dua peringatan. Maleakhi mengakhiri kitabnya dengan dua peringatan dari Tuhan kepada umat Yehuda; peringatan pertama ialah apa yang harus diingat, peringatan kedua adalah apa yang harus diwaspadai. Allah berkata, "Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu" (Mal. 4:4-5; huruf miring ditambahkan). Jadi mereka tidak boleh lupa pada hukum Taurat dan juga tidak boleh lengah menantikan seseorang yang akan diutus Tuhan. Hal pertama sudah disampaikan secara tertulis (hukum Taurat), hal kedua akan diutarakan secara lisan (kata-kata amaran).
 Harap diketahui bahwa pada waktu dua peringatan itu diucapkan oleh Maleakhi, Musa dan Elia sudah diangkat dan hidup dalam kerajaan surga. Di kemudian hari keduanya muncul dan berbicara dengan Yesus di atas sebuah gunung yang tinggi disaksikan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes (Mat. 17:3; Mrk. 9:4). Namun penampakan itu bukanlah kegenapan dari nubuatan Maleakhi ini. Elia datang dalam sosok Yohanes Pembaptis, seorang yang memiliki roh Elia yang berani menegur kesalahan dan dosa, seperti yang dilakukannya terhadap Herodes (Mat. 14:3-5; Mrk. 6:14-20). Kalau Musa sudah mewariskan kepada bangsa Israel perintah-perintah Allah yang terangkum dalam hukum Taurat, maka Elia telah mengamarkan bangsa itu untuk bertobat dari pelanggaran mereka terhadap hukum Taurat, utamanya pada zaman pemerintahan raja Ahab (1Raj. 16:29-33; 18:18).
 Mengapa peringatan Allah tersebut penting bagi umat-Nya pada zaman itu? Sebab Maleakhi adalah nabi terakhir, dan sesudah dia tidak akan ada lagi nabi sampai datangnya seorang yang disebut "Elia" untuk berbicara atas nama Tuhan kepada mereka. Masa kevakuman firman Tuhan itu akan berlangsung selama 400 tahun! Dalam keadaan tanpa tuntunan terang Allah seperti itulah maka dua peringatan Maleakhi tersebut menjadi penting, yaitu supaya umat yang sisa dari bangsa Israel itu tidak lupa menjalankan hukum Taurat sambil menantikan utusan Allah yang akan datang kemudian kepada mereka.
 Pena inspirasi menulis: "Pekerjaan Yohanes Pembaptis dan pekerjaan orang-orang yang pada zaman akhir pergi dalam semangat dan kuasa Elia untuk membangunkan orang banyak dari keapatisan mereka, dalam banyak hal adalah sama. Pekerjaannya adalah sejenis pekerjaan yang harus dilaksanakan pada zaman ini. Kristus akan datang kedua kali untuk menghakimi dunia dalam kebenaran. Utusan-utusan Allah seperti Yohanes menyiapkan jalan bagi kedatangan-Nya yang pertama...Dengan ketetapan hati yang menjadi ciri nabi Elia dan Yohanes Pembaptis, kita harus berusaha menyiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang kedua" (Ellen G. White, The Southern Watchman, 21 Maret 1905).
  
Apa yang kita pelajari tentang utusan Allah yang dinubuatkan oleh Maleakhi?
1. Allah berjanji akan ada satu hari yang Dia siapkan bilamana utusan-Nya yang dijuluki "Surya Kebenaran" akan datang kepada umat Israel, namun ketika janji digenapi dalam sosok Yesus Kristus bangsa itu menolak. Allah menyiapkan waktu untuk memenuhi janji-Nya, manusia harus menyiapkan hati untuk menerimanya.
2. Inti dari dua peringatan Maleakhi tersebut adalah: Jangan lupa! Pertama, jangan lupa menaati perintah Tuhan; kedua, jangan lupa bertobat (karena terlanjur melanggar). Peringatan kedua menjadi semacam "jaring pengaman" bagi manusia yang gampang terpeleset ke dalam dosa. Allah memang rahmani dan rahimi!
3. Ciri Elia adalah menegur dengan berani. Yohanes Pembaptis dianggap "Elia kedua" karena dia juga berani menegur. "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu," katanya (Mrk. 1:4; Luk. 3:3). Zaman ini dibutuhkan orang-orang dengan roh Elia yang "berani menegur, dan menegur dengan berani"!

PENUTUP
  
   Menuntut keberanian. Bagi sebagian orang dari "golongan ekonomi lemah" dengan penghasilan pas-pasan, mengembalikan persepuluhan seringkali merupakan suatu pergumulan karena takut tidak cukup. Tapi banyak pula orang dari "golongan ekonomi kuat" dengan gaji besar atau usahawan yang bergumul untuk membayar persepuluhan dengan benar karena takut jumlahnya terlalu besar. Untuk memenuhi kewajiban membayar persepuluhan memang menuntut suatu keberanian; bagi orang miskin keberanian untuk menguji kesetiaan Tuhan, bagi orang kaya keberanian untuk menguji kesetian diri sendiri.
 "Allah memberkati pekerjaan tangan manusia supaya mereka bisa mengembalikan kepada Dia bagian-Nya. Ia memberi mereka sinar matahari dan hujan; Ia membuat tumbuh-tumbuhan berkembang; Ia memberikan kesehatan dan kemampuan untuk memperoleh kekayaan. Setiap berkat berasal dari tangan-Nya yang berkelimpahan, dan Ia menghendaki pria dan wanita menunjukkan rasa terimakasih mereka dengan mengembalikan kepada-Nya satu bagian dalam bentuk persepuluhan dan persembahan--dalam persembahan syukur, dalam persembahan sukarela, dalam persembahan pelanggaran" [tiga kalimat pertama].
 Tuhan sudah menetapkan suku Lewi yang menjadi pelayan-pelayan di Bait Suci tidak mendapat tanah warisan di Tanah Perjanjian. Sebagai gantinya, warisan mereka adalah persepuluhan dan persembahan dari sebelas suku Israel lainnya sebagai sumber nafkah bagi mereka (Bil. 18:21-24). Tetapi orang Lewi sendiri diwajibkan juga untuk membayar persepuluhan dari apa yang mereka terima itu, yang dibayarkan kepada keluarga Imam Harun (ay. 26, 28). Jadi, kewajiban membayar persepuluhan dan persembahan juga berlaku bagi golongan rohaniwan.
 "Setiap orang harus memberi menurut kerelaan hatinya. Janganlah ia memberi dengan segan-segan atau karena terpaksa, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati. Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal" (2Kor. 9:7-8, BIMK).
REFERENSI :

1.   Zdravko Stefanofic, Profesor bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama, Universitas Walla Walla,U.S.A--- Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.II, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.
2.   Loddy Lintong, California U.S.A.

Jumat, 21 Juni 2013

JANJI YANG DITEPATI (12)





"PEMBERIAN SURGA YANG TERBAIK (ZAKHARIA)"*
PENDAHULUAN

Mesias dinubuatkan. Seperti telah kita pelajari pekan lalu, bagian kedua dari kitab Zakharia bertutur tentang Mesias (Ibrani: מָשִׁיחַmashiyach; Grika/Yunani: Χριστς, Christos; artinya "yang diurapi") dengan informasi yang lebih rinci, dan merupakan pekabaran nubuatan jangka panjang yang baru digenapi sekitar lima abad kemudian. Diawali dengan "injil pertama" (proto evangelium) yang Allah ucapkan sendiri dalam Kejadian 3:15, berbagai nubuatan tentang Mesias dalam PL yang sudah digenapi di masa PB. (Salah satu referensi cek situs ini: http://christianity.about.com/od/biblefactsandlists/a/Prophecies-Jesus.htm).
 "Walaupun konteks asli dari nubuatan-nubuatan ini jangan pernah diabaikan, pentingnya nubuatan-nubuatan itu jangan pula dibatasi pada penggenapannya di masa lalu. Sebaliknya, kita akan melihat pada cara-cara di mana hal itu telah digenapi dalam Yesus, penggenapan yang bersifat universil dan bukan lokal, karena nubuatan-nubuatan itu berdampak pada nasib akhir dunia ini dan tidak hanya pada Israel dan Yehuda purba" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].
 Penuturan tentang Mesias yang ditakdirkan untuk menderita secara fisik dan mati, demi memungkinkan manusia berdosa untuk beroleh keselamatan, terdapat dalam Yesaya pasal 53. Para rabi Yahudi moderen pada umumnya sepakat bahwa pasal ini memang menubuatkan tentang kedatangan Mesias, meskipun mereka menolak untuk percaya bahwa nubuatan itu sudah digenapi oleh Yesus Kristus kurang-lebih 2000 tahun silam. Tapi tidak semua orang Yahudi menolak kegenapannya. Sebuah organisasi nirlaba kaum Yahudi yang bernama "Chosen People Ministry" yang berkedudukan di New York, AS percaya dan menerima penggenapan nubuatan dalam kitab nabi Yesaya tersebut, bahwa Mesias itu adalah Yesus Kristus.
 Organisasi kerohanian ini telah menerbitkan sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Mitch Glaser berjudul Isaiah 53 Explained (Yesaya 53 Dijelaskan) dan dipublikasikan pada tahun 2010. Sementara format digital dari buku ini dijual seharga $6.95 oleh Amazon.com, saya mendapatkan edisi cetaknya (HVS, 164 halaman, sampul tipis) secara gratis dengan menghubungi situs www.isaiah53.com atau langsung ke http://isaiah53.com/free-book bagi peminat yang bermukim di AS dan Kanada. Merujuk pada nubuatan nabi Zakharia (Za. 12:10), penyusun buku ini menulis: "Di masa yang akan datang, sesaat sebelum Kedatangan Kedua dari Yeshua, orang Yahudi akan insaf bahwa Dia adalah Orang 'yang telah mereka tikam,' dan mereka akan meratap. Tidak ada manusia--Yahudi atau bukan Yahudi--yang bisa bertanggungjawab atas kematian Mesias; Dia mati oleh sebab Bapa merencanakan Dia untuk mati. Pada hari-hari terakhir nanti, semua orang akan melihat dengan jelas bahwa Seorang yang diutus Allah demi kelepasan kita adalah Yeshua" (hlm. 154).
 *Judul asli pelajaran pekan ini: "Heaven's Best Gift (Zechariah)"
1.   DARI MANA KESELAMATAN ITU DATANG ("Jubah seorang Yahudi")
Pesona Yerusalem. Secara politik, kota Yerusalem di Israel menjadi semacam magnet bagi banyak bangsa di dunia. Sejarah mencatat bahwa selama kurang-lebih 3000 tahun sejak didirikan oleh Raja Daud sekitar tahun 1000 SM, kota ini sudah mengalami 23 kali pengepungan, 52 kali penyerangan, 44 kali bolak-balik dicaplok dan direbut kembali, dan dua kali dihancurkan. Satu wilayah yang disebut "Kota Tua" dengan luas kurang dari satu kilometer persegi di bagian timur kota Yerusalem moderen, merupakan sisa-sisa yang secara tradisional terbagi ke dalam empat bagian, masing-masing dikuasai oleh kelompok Islam, Kristen, Yahudi dan Armenia sejak abad ke-19.
 Wilayah di mana terdapat situs-situs keagamaan seperti masjid Al Aqsa dan Qubbat As-Sakhra (Dome of the Rock) untuk kaum muslim, Gereja Makam Suci (Church of Holy Sepulchre) untuk kaum nasrani, serta Bait Suci Bukit Moria (Temple Mount) dan Tembok Barat sebagai tempat sembahyang kaum Yahudi ini sejak 1981 oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai warisan sejarah dunia untuk dilestarikan di bawah pengawasan PBB. Dalam perang Arab-Israel tahun 1947 kawasan ini pernah direbut oleh Yordania tetapi kemudian direbut kembali oleh Israel dalam Perang Enam Hari bulan Juni 1967 dan menguasai seluruh kota hingga sekarang. Yerusalem dianggap sebagai kota suci bagi tiga agama besar dunia: Kristen, Islam, dan Yudaisme. Golongan Islam Sunni menganggap Yerusalem sebagai kota suci ketiga sesudah Mekah dan Medina. Pada bulan Maret 2000, bersamaan dengan hari raya Purim di Israel, mendiang Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Yerusalem dan melontarkan gagasannya untuk menginternasionalisasikan kota Yerusalem, namun gagasan yang dicurigai mengandung niat terselubung itu ditolak Israel dan tidak mendapat dukungan dunia internasional.
 "Rencana Allah adalah bahwa Yerusalem akan kembali menjadi sebuah tempat yang aman di mana orang-orang tua duduk-duduk di jalanan yang dipenuhi dengan anak-anak lelaki dan perempuan yang bermain-main (Za. 8:4-5). Kepada mereka yang mendiami sebuah kota yang dikalahkan oleh para penakluk, janji tentang jalanan yang aman bagi orang-orang tua dan muda kedengarannya seperti mimpi...Gantinya untuk selamanya tetap sebagai satu bangsa jajahan yang kecil, umat Allah itu akan menjadi sebuah magnet terhadap mana bangsa-bangsa akan ditarik untuk menyembah Tuhan, Raja atas seluruh bumi (Za. 14:9). Penggunaan ungkapan 'berbagai-bagai bangsa dan bahasa' dalam Zakharia 8:23 menandakan bahwa nubuatan ini membayangkan suatu pergerakan universil" [alinea kedua dan ketiga].
 Transformasi Yerusalem. Zakharia menuturkan kembali apa yang Tuhan hendak lakukan bagi Yerusalem, sebuah transformasi menyeluruh yang berdampak pada kehidupan segenap warga kota itu. Sebagaimana yang tertulis dalam pasal 8, secara berturut-turut:
 1. "Aku ingin sekali menolong Yerusalem karena Aku amat mengasihi penduduknya, dan karena kasih-Ku itu, hati-Ku panas kepada musuh-musuh kota itu" (ay. 2, BIMK). Perkataan ini menggambarkan kegairahan Allah, bukan saja untuk menolong umat-Nya tapi juga dalam menghukum musuh-musuh mereka.
 2. "Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung TUHAN semesta alam akan disebut Gunung Kudus" (ay. 3). Penduduk kota itu akan berubah dari semula sebagai orang-orang yang melawan Allah menjadi orang-orang yang setia kepada-Nya. Perubahan itu hanya dimungkinkan oleh kehadiran Allah di hati mereka, bukan karena usaha mereka sendiri.
 3. "Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain-main di situ" (ay. 4-5). Orang-orang yang sudah tua renta dan anak-anak kecil adalah mereka yang lemah secara fisik, dan keberadaan mereka di jalan-jalan itu melambangkan kemakmuran serta keamanan yang terjamin bagi warganya.
 4. "Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib?" (ay. 6). Kuasa Allah yang tidak terbatas akan digunakan-Nya untuk menolong umat-Nya dengan cara-cara ajaib. Bagi manusia banyak hal yang tidak mungkin, tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan (Mat. 19:26).
 5. "Aku akan menyelamatkan umat-Ku dari negeri-negeri tempat mereka telah diangkut, dan membawa mereka kembali dari timur dan dari barat, sehingga mereka tinggal di Yerusalem lagi. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku Allah mereka" (ay. 7-8, BIMK). Umat Yehuda waktu itu telah tersebar di sebelah timur (Babel) dan juga di kota-kota sebelah barat (daratan Eropa). Dalam bahasa Alkitab, "timur dan barat" melambangkan seluruh dunia.
 Keselamatan dari Yerusalem. Tetapi janji yang paling istimewa bagi kota Yerusalem ialah kedatangan Mesias, Yesus Kristus, yang membawa keselamatan abadi bukan hanya kepada bangsa itu saja tapi juga semua bangsa di dunia. "Masanya akan tiba penduduk dari banyak kota akan datang ke Yerusalem. Penduduk dari kota yang satu akan berkata kepada penduduk kota yang lain, 'Mari kita pergi menyembah TUHAN Yang Mahakuasa dan memohon berkat-Nya. Ikutlah dengan kami!' Lalu banyak orang dan banyak bangsa yang kuat akan datang ke Yerusalem untuk menyembah Aku TUHAN Yang Mahakuasa dan memohon berkat-Ku. Pada hari-hari itu sepuluh orang asing akan datang kepada satu orang Yahudi dan berkata, 'Kami ingin juga beruntung seperti kamu; sebab kami mendengar bahwa Allah memberkati kamu.' " TUHAN Yang Mahakuasa telah berbicara" (ay. 20-23, BIMK; huruf miring ditambahkan).
 Versi TB menerjemahkan bagian yang tertulis dengan huruf miring di atas: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi..." (ay. 23, TB; huruf miring ditambahkan). Pada zaman dulu, memegang ujung jubah seseorang yang dihormati adalah pertanda sikap yang amat mendesak dan tidak ingin melewatkan kesempatan itu, misalnya untuk memohon pengampunan (1Sam. 15:24-28) atau penyembuhan (Mat. 9:20-21; 14:36). Dalam pengertian tertentu, dunia "berhutang budi" kepada orang Yahudi karena keselamatan yang berasal dari garis keturunan mereka. Seperti kata rasul Paulus, bahwa meskipun Allah adalah untuk semua orang, Yahudi atau bukan (Rm. 3:29), dan bahwa Tuhan memanggil umat-Nya dari kalangan bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa lain (Rm. 9:24), namun "kepada merekalah dipercayakan firman Allah" (Rm. 3:2), dan "bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi" (Rm. 15:27).
 "Gereja Kristus, juga disebut 'Israel milik Allah' (Gal. 6:16), diistimewakan pada zaman kita untuk mengambil bagian dalam missi ini. Kita harus membawa terang keselamatan itu sampai ke ujung-ujung bumi. Dengan cara ini umat Allah dapat menjadi suatu berkat yang besar bagi dunia" [alinea terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang makna "jubah seorang Yahudi" dalam kitab Zakharia?
1. Yerusalem adalah kota yang luar biasa karena beberapa hal: kota yang direncanakan Allah, kota di mana Allah pernah tinggal di Bait Suci-Nya, dan dari kota inilah keselamatan kekal bagi semua bangsa itu berasal. Namanya diabadikan dalam kota yang dibangun Allah di surga, "Yerusalem Baru."
2. Allah berjanji melalui nabi Zakharia bahwa kota Yerusalem duniawi akan kembali menawan karena kemakmuran dan keamanan, tapi itu baru bisa terjadi setelah penduduk kota itu diubahkan. Seperti kota Yerusalem itu, Gereja akan memiliki pesona jika jemaatnya sudah mengalami "pembaharuan budi" (Rm. 12:2).
3. Sebagaimana kota Yerusalem menjadi sumber keselamatan bagi dunia, demikianlah Gereja Tuhan yang benar akan menjadi sumber keselamatan bagi manusia. Orang akan datang ke gereja, menjadi yakin dan bertobat, lalu berkata: "Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu" (1Kor. 14:24-25).
2. SAMBUTAN KEPADA MESIAS (Raja Damai)
 Parade kemenangan. Berabad-abad sebelum peristiwa itu sendiri terjadi, sang nabi telah menulis: "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Za. 9:9). Nubuatan ini digenapi ratusan tahun kemudian tatkala Yesus Kristus yang menunggang seekor keledai dengan diiringi oleh murid-murid-Nya memasuki kota Yerusalem mendapat sambutan meriah dari masyarakat, hanya beberapa hari sebelum penyaliban-Nya (Mat. 21:4-9). Menunggang kuda adalah lambang kebesaran bagi bangsa-bangsa kafir, sedangkan orang Israel biasa menunggang keledai untuk menempuh suatu perjalanan. Dalam tradisi Yahudi, keledai adalah lambang kemenangan dan kebesaran (Hak. 5:9-10; 10:4; 12:14). Sangat mungkin bahwa Yesus sendiri sudah mengendarai keledai sejak masih bayi ketika mengungsi ke Mesir bersama orangtua-Nya untuk menghindari Herodes yang kalap (Mat. 2:13-15).
 "Parade kemenangan Yesus melambangkan Raja masa depan yang menunggang seekor keledai memasuki Yerusalem. Dalam Alkitab, kegembiraan dan sorak sorai sukacita secara khusus dikaitkan dengan perayaan Allah sebagai Raja (Mazmur 47, 96, 98). Penguasa yang lemah lembut ini akan membawa kebenaran, keselamatan dan kedamaian abadi, dan kekuasaan-Nya akan meluas hingga ke ujung bumi" [alinea pertama].
 Bagi prajurit-prajurit Romawi yang menyaksikan arak-arakan tersebut, pemandangan ini mungkin terasa menggelikan. Sebab mereka kenal sosok Yesus yang sering masuk-keluar kota Yerusalem, dan saat itu Yesus bukan baru pulang dari suatu peperangan yang berhasil dimenangkan-Nya. Apa yang mereka saksikan hari itu tentu hanya sebuah lelucon jika dibandingkan dengan parade kemenangan (triumphal entry) fenomenal dari Julius Caesar ketika memasuki kota Roma sekembalinya dari pertempuran di Gaul (Prancis) pada musim gugur tahun 57 SM. Mereka tentu tidak mengerti bahwa parade kemenangan Kristus yang sebenarnya bukan pada saat itu, tetapi baru akan terjadi nanti pada kedatangan-Nya yang kedua kali.
 Harapan yang dikecewakan. Selanjutnya Zakharia bertutur tentang Mesias: "Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi" (Za. 9:10). Kalau ayat 9 merupakan nubuatan tentang kedatangan Mesias yang pertama, maka ayat 10 ini adalah nubuatan tentang kedatangan-Nya yang kedua kali. Penuturan nabi Zakharia ini paralel dengan perkataan nabi Yesaya, "Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yes. 2:4).
 Tidak seperti yang diharapkan oleh rakyat Yahudi pada abad pertama, bahwa Mesias yang dinubuatkan dalam kitab nabi-nabi itu akan datang untuk memerdekakan mereka dari belenggu penjajahan Romawi, kedatangan Mesias yang mereka nanti-nantikan itu sesungguhnya adalah untuk melepaskan mereka dari belenggu dosa. "Sebagian bersukacita, berharap bahwa Kristus akan menggulingkan kekuasaan Roma dan mendirikan kerajaan Allah di Yerusalem. Tetapi gantinya membiarkan Diri-Nya menjadi raja Israel, Yesus mati di kayu salib dan kemudian bangkit dari kubur-Nya. Tidak disangsikan bahwa Dia telah mengecewakan banyak pengikut-Nya, yaitu orang-orang yang mencari seorang pemimpin yang lebih militeristik. Namun demikian, mereka kurang menyadari bahwa apa yang mereka inginkan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang mereka akan peroleh melalui kematian Yesus" [alinea kedua: empat kalimat terakhir].
 Tantangan utama dan nyata yang dihadapi oleh para pengikut Kristus adalah ketika apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan. Tegasnya, bahwa ketika menjadi pengikut Kristus bukannya membawa kesejahteraan melainkan kesengsaraan. Keprihatinan seperti ini adalah manusiawi. Petrus, salah seorang murid Yesus, juga pernah mengutarakan keprihatinan semacam itu: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" (Mat. 19:27).
 Pena inspirasi menulis: "Membutuhkan pengendalian diri untuk menerima kekecewaan tanpa mengeluh; tetapi Yesus mengerti kebutuhan anda. Setiap doa yang dilayangkan kepada-Nya dalam ketulusan hati dan iman akan dijawab. Sesudah berusaha sekuat tenaga, jangan beri kesempatan kepada kekecewaan dan keputusasaan. Apabila terkurung dengan kesulitan-kesulitan yang kelihatannya tidak bisa diatasi, berarti sudah waktunya mengabaikan semua hal lain untuk percaya pada Tuhan" (Ellen G. White, Review and Herald, 30 Mei 1912).
 Apa yang kita pelajari tentang kedatangan Mesias sebagai Raja Damai?
1. Yesus Kristus, yaitu Mesias yang dinubuatkan itu, disebut sebagai Raja Damai. Inilah yang membedakan Dia dari raja-raja dunia yang untuk meraih dan mempertahankan takhta mereka harus melalui perang. Peperangan yang Kristus hadapi dan menangkan di dunia ini ialah peperangan melawan dosa dan kebinasaan.
2. Kedatangan Mesias yang pertama untuk memperdamaikan manusia dengan Allah, kedatangan-Nya yang kedua untuk membawa kedamaian bagi manusia. Inilah tujuan utama dari "Raja Damai" itu ke dunia ini sebagaimana direncanakan Allah.
3. Peperangan yang ditinggalkan kepada para pengikut-Nya untuk diperjuangkan, adalah peperangan melawan dosa dan diri sendiri. Kekecewaan adalah musuh yang harus ditaklukkan, dan untuk itu Yesus telah menyediakan bantuan kekuatan surgawi yang juga telah menolong Dia sendiri.
3. RAJA YANG MENDERITA (Seorang yang Tertikam)
 Perjanjian yang baru. Tuhan berfirman melalu nabi-Nya, "Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung" (Za. 12:10). Bangsa itu akan menyadari kesalahan mereka lalu menyesal dan bertobat, tetapi hal itu akan terjadi hanya apabila Tuhan "mencurahkan roh pengasihan" kepada mereka. Kitab Zakharia menyingkapkan suatu rahasia teologia yang patut dipahami oleh setiap orang, yaitu roh pertobatan hanya berasal dari Tuhan, dan bahwa manusia tidak pernah bisa berubah atas kemauannya sendiri.
 Realisasi dari janji ilahi ini akan terjadi apabila Allah mengadakan suatu "perjanjian baru" dengan umat itu, seperti yang diuraikan dalam kitab Yeremia: "Sesungguhnya akan datang waktunya, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman Tuhan. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka" (Yer. 31:31-34).
 "Sementara Allah mencurahkan Roh-Nya, umat-Nya akan memandang kepada Orang yang mereka telah tikam dan menangisi Dia seperti seorang menangisi kematian anak satu-satunya. Kata Ibrani yang asli untuk 'menikam' selalu menerangkan sejenis kekerasan fisik yang biasanya mengakibatkan kematian (Bil. 25:8; 1Sam. 31:4). Kadar kesedihan bangsa itu meningkat oleh kenyataan bahwa dosa-dosa mereka sendiri yang telah menyebabkan kematian Yesus Kristus" [alinea ketiga].
 Akan memandang Dia. Pada kedatangan-Nya yang kedua segenap manusia yang pernah hidup sejak dunia ini dijadikan akan memandang Dia, karena semua orang yang sudah mati akan bangkit dari tempat mana saja mereka terkubur di Bumi ini. Orang jahat, yang masih hidup maupun yang bangkit dari kubur, juga akan melihat Mesias itu datang, setidaknya untuk beberapa saat sebelum kuasa kemuliaan-Nya membuat mereka terkapar mati. Termasuk di antara mereka itu adalah prajurit Roma yang menikam Yesus pada lambungnya ketika berada di atas kayu salib (Yoh. 19:34). "Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin" (Why. 1:7).
 Charles Spurgeon (1834-1892), pengkhotbah asal Inggris yang berpengaruh, berkata: "Adalah suatu ungkapan lama yang indah bahwa mata diciptakan setidaknya untuk dua hal; pertama untuk melihat, dan kedua untuk menangis. Mata yang memandang Dia yang tertikam itu adalah mata yang menangisi Dia."
 Pena inspirasi menulis: "'Juga mereka yang telah menikam Dia.' Kata-kata ini berlaku tidak saja kepada orang-orang yang telah menikam Kristus waktu Ia tergantung di salib Golgota, tetapi juga kepada mereka yang oleh perkataan yang jahat dan perbuatan yang salah menikam Dia hari ini. Setiap hari Dia merasakan penderitaan kayu salib. Tiap-tiap hari pria dan wanita menikam Dia dengan mempermalukan Dia, oleh menolak melakukan kehendak-Nya" (Ellen G. White, Signs of the Times, 28 Januari 1903).
 Apa yang kita pelajari tentang Dia yang tertikam?
1. Mesias menderita sampai mati di Bumi ini bukan lantaran Dia datang pada waktu yang tidak tepat di tempat yang salah. Orang Yahudi abad pertama yang sedang menderita tekanan penjajah sebagai hukuman atas dosa mereka seharusnya menikmati kesempatan pertama untuk bertobat agar dosa mereka diampuni.
2. Tetapi pertobatan memang tidak dapat diikhtiarkan sendiri oleh manusia, tapi manusia harus disadarkan oleh Roh Kudus yang dicurahkan oleh Allah. Sesuai dengan janji-Nya, Tuhan tidak saja mencurahkan Roh-Nya tapi juga menuliskan hukum-Nya di hati (=pikiran) manusia.
3. Lebih baik memandang Yesus di kayu salib yang membawa pengampunan, daripada memandang Dia datang kedua kali di awan-awan untuk membawa hukuman. 
4. KEMATIAN YANG DIRENCANAKAN (Gembala yang Baik)
 "Hai pedang, bangkitlah..." Dari 365 nubuatan tentang Mesias yang bisa diinventarisasikan dalam PL, 30 di antaranya terdapat dalam kitab Zakharia. Ini menempatkan kitab Zakharia pada urutan ketiga terbanyak sesudah kitab Yesaya (132) dan kitab Mazmur (96). Salah satu nubuatan dalam kitab Zakharia menegaskan tentang kematian Mesias yang direncanakan oleh Allah sendiri. Berfirmanlah Allah, "Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku, terhadap orang yang paling karib kepada-Ku!...Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai!" (Za. 13:7). Sang Mesias sendiri mengutip nubuatan tentang diri-Nya ini ketika Dia berkata kepada murid-murid-Nya seusai perjamuan terakhir malam itu, "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai" (Mat. 26:31; bandingkan dengan Mrk. 14:27).
 "Dalam Zakharia 13:7-9 kepada nabi itu diperlihatkan suatu pemandangan di mana pedang penghakiman Tuhan keluar menyerang Gembala yang Baik. Pada peristiwa sebelumnya sang nabi melihat pedang itu teracung terhadap seorang 'gembala yang tidak berguna' (Za. 11:17, BIMK). Tapi dalam ayat-ayat ini Gembala yang Baik itulah yang terkena, dan domba-domba itu tercerai-berai. Kematian-Nya menyebabkan suatu ujian dan cobaan besar bagi umat Tuhan di mana sebagian binasa; namun, semua yang setia dimurnikan" [alinea kedua].
 Nubuatan tentang kematian Mesias ini menguatkan apa yang sebelumnya dinubuatkan oleh nabi Yesaya (750-690 SM), "Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul" (Yes. 53:10-11; huruf miring ditambahkan). Di kemudian hari, setelah nubuatan ini digenapi, rasul Paulus menerangkan perihal "kehendak Tuhan" itu dalam tulisannya, "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya...Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka" (2Kor. 5:18-19; huruf miring ditambahkan).
 Ayat-ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah sendiri yang menghendaki dan merencanakan kematian Yesus Kristus sebagai Mesias agar dengan itu "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya." Kata Grika (bahasa asli PB) yang diterjemahkan dengan "mendamaikan" dalam ayat ini adalah καταλλσσω, katallassō, sebuah katakerja yang berarti "mengubah" dan dalam hal ini adalah mengubah keadaan seseorang untuk menyesuaikannya kembali kepada "keadaan yang disukai." Rasul Paulus menyatakan bahwa kematian Mesias yang merupakan prakarsa Allah itu adalah kasih karunia "dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita" (Gal. 1:3-4; huruf miring ditambahkan). Jadi, dapat kita katakan bahwa kasih karunia Allah itu terlaksana oleh perpaduan antara "kehendak Bapa" dan "kesediaan Anak" untuk mati bagi dosa manusia. Kematian Yesus Kristus sama sekali bukan akibat dari penolakan orang Yahudi ataupun vonis Pilatus atas diri-Nya!
 Yesus, Gembala yang Baik. Adalah Yesus sendiri yang menyatakan, "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku, sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku" (Yoh. 10:14-15). Penulis kitab Ibrani menggunakan istilah "Gembala Agung" untuk Yesus Kristus (Ibr. 13:20), sama seperti yang digunakan oleh rasul Petrus (1Ptr. 5:4). Sebagai Pemelihara umat-Nya, Kristus adalah Gembala yang baik; sebagai Penebus umat-Nya, Kristus adalah "Anak Domba yang disembelih" (Why. 5:6, 12).
 "Citra Allah sebagai gembala ditemukan di banyak tempat dalam Alkitab. Berawal dengan kitab Kejadian (Kej. 48:15) dan berakhir dengan kitab Wahyu (Why. 7:17). Melalui nabi Yehezkiel, Allah menegur gembala-gembala umat-Nya yang tidak bertanggungjawab dan berjanji untuk mencari domba-domba yang hilang itu serta memelihara mereka. Dengan menerapkan kata-kata ini kepada Diri-Nya, Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Gembala yang Baik yang menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba (Yoh. 10:11)" [alinea terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Yesus adalah Gembala yang Baik yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba itu. Setiap jiwa yang mau berserah untuk ditebus, Yesus akan mengangkatnya dari jurang kebusukan atau dari onak dosa. Ia menanggung dosa-dosa kita, Ia memikul penderitaan-penderitaan kita. Yesus memanggul jiwa yang berdosa dan tercemar itu pada pundak-Nya, lalu dengan sukacita membawanya ke tempat perlindungan yang aman...Satu domba yang tersesat sudah cukup untuk Yesus memulai pencarian demi untuk membawanya pulang ke kandang. Sekarang, apakah mereka yang sudah dipanggul Kristus ke kandang tidak akan bekerja bagi yang lain seperti gembala yang mencari domba yang tersesat itu? Tidak kurang dari hal seperti ini yang Yesus harapkan dari para rekan sekerja-Nya" (Ellen G. White, The Youth's Instructor, 30 Desember 1897).
 Apa yang kita pelajari tentang Yesus, Gembala yang Baik?
1. Yesus disebut "Gembala yang Baik" bahkan "Gembala Agung" oleh karena Dia rela menyerahkan nyawa demi keselamatan domba-domba-Nya, yaitu anda dan saya. Kesediaan-Nya untuk mati itu memungkinkan terlaksananya maksud Allah yang merencanakan kematian-Nya sebagai satu-satunya jalan pendamaian.
2. Jalan pendamaian melalui penebusan dosa manusia yang tertanggung atas Yesus Kristus, dan yang hanya bisa direalisasikan oleh kematian-Nya, itu merupakan "hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita" (1Kor. 2:7).
3. Kematian Yesus Kristus adalah atas kehendak Allah, tetapi penyiksaan yang diderita-Nya adalah akibat kejahatan kita. Sebab "kesengsaraan kita yang dipikulnya...dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita" (Yes. 53:4-5).
5. KEDATANGAN KEDUA DINUBUATKAN (Raja Seluruh Dunia)
 "Hari yang ditetapkan Tuhan." Sejauh ini kita sudah membahas nubuatan-nubuatan tentang kedatangan Mesias--yaitu kedatangan pertama dari Anak Allah sebagai Juruselamat manusia, dalam sosok Yesus Kristus--yang telah digenapi secara harfiah dan nyata. Sekarang, memasuki pembahasan bagian terakhir kitab Zakharia kita dihadapkan dengan nubuatan tentang kedatangan kedua dari Anak Allah yang tidak lagi dalam missi sebagai Penebus dosa dunia melainkan sebagai "Hakim yang adil" (2Tim. 4:8) untuk "menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati" (Kis. 10:42).
 Zakharia pasal 14 diawali dengan kata-kata "Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan Tuhan" (ay. 1), dan selanjutnya menubuatkan tentang bangsa-bangsa yang berkumpul untuk memerangi Yerusalem (ay. 2), kemudian Tuhan sendiri akan "maju berperang melawan bangsa-bangsa itu" (ay. 3). Selanjutnya tertulis, "Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan" (ay. 4). Berdasarkan kegenapan yang bersifat harfiah dari nubuatan-nubuatan tentang Mesias dalam pasal-pasal terdahulu kitab Zakharia, sebagian orang percaya bahwa nubuatan dalam pasal 14 tentang kedatangan yang kedua inipun bersifat harfiah, yaitu bahwa Yesus Kristus benar-benar akan turun dan menjejakkan kaki-Nya di atas Bukit Zaitun di Israel. Tetapi Alkitab menegaskan bahwa bilamana Yesus datang kedua kali Dia tidak menjejakkan kaki di Bumi ini, oleh sebab umat tebusan, yaitu mereka yang "mati dalam Kristus" maupun "yang hidup, yang masih tinggal," semuanya "akan diangkat...dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa" (1Tes. 4:16-17).
 "Ketika Zakharia mengumumkan kedatangan Mesias, dia tidak menarik garis pemisah antara kedatangan-Nya yang pertama dengan yang kedua. Sama halnya dengan nabi-nabi yang lain, dia melihat kedatangan kerajaan Mesias sebagai sebuah masa depan yang mulia. Hanya dalam terang kedatangan Kristus yang pertama kita sekarang dapat membedakan antara kedua kedatangan itu" [alinea kedua: tiga kalimat pertama].
 Janji yang mulia. Kitab Zakharia pasal 14 berisi nubuatan perihal kota Yerusalem yang akan berjaya, kehancuran semua bangsa yang memerangi kota itu, juga tentang bangsa-bangsa yang setiap tahun akan datang menyembah Raja di Yerusalem dan merayakan hari raya Pondok Daun atau kalau tidak akan kena tulah. Seperti halnya bagian pertama dari pasal ini, nubuatan pada bagian kedua ini juga bersifat figuratif (kiasan). Artinya, apa yang diuraikan di sini tidak untuk dipahami dalam arti kata yang sesungguhnya, seperti halnya paham teologia pra-millenium (premillennial theology) yang mengajarkan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali sebelum masa seribu tahun. Selain nubuatan tentang kedatangan Yesus kedua kali itu sendiri, uraian-uraian lainnya dalam pasal terakhir kitab Zakharia ini tidak dapat ditafsirkan sebagai peristiwa-peristiwa dunia yang harus berlangsung seperti apa yang tertulis (dispensational interpretation).
 "Apabila janji-janji yang mulia ini dipelajari bersama-sama dengan pengajaran Alkitab yang menyeluruh, kita akan datang kepada kesimpulan bahwa puncak penggenapan dari nubuatan ini akan terjadi di YerusalemBaru, di mana umat Allah dari segala penjuru akan datang bersama-sama dengan menyembah Dia selamanya" [alinea keempat: kalimat pertama].
 Pena inspirasi menulis: "Kita sedang pulang ke rumah. Dia yang sangat mengasihi kita hingga mau mati bagi kita itu telah membangun sebuah kota untuk kita. Yerusalem Baru adalah tempat peristirahatan kita. Tidak akan ada kenestapaan di kota Allah. Tiada ratapan kesedihan, tiada lagu sendu dari pengharapan yang hancur dan kasih sayang yang terkubur akan pernah terdengar. Tidak lama lagi baju kemalangan akan digantikan dengan jubah perkawinan. Tidak lama lagi kita akan menyaksikan pemahkotaan Raja kita. Mereka yang kehidupannya telah tersembunyi dalam Kristus, mereka yang di dunia ini sudah berjuang dengan baik dalam pergumulan iman, akan bersinar dengan kemuliaan Sang Penebus di dalam kerajaan Allah" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 9, hlm. 287).
 Apa yang kita pelajari tentang kedatangan Yesus yang pertama dan yang kedua?
1. Kedatangan Mesias ke dunia ini telah mengecewakan banyak penduduk Yerusalem purba karena mereka tidak mengerti tujuan kedatangan-Nya yang pertama itu. Sekarang kita menantikan kedatangan-Nya yang kedua untuk membawa umat-Nya pulang ke kota Yerusalem Baru. Kali ini kita tidak akan salah mengerti.
2. Kedatangan Yesus yang pertama tidak terlalu perlu untuk dibahas sebab itu sudah terjadi. Lebih penting adalah memikirkan tentang kedatangan kedua yang segera akan terjadi. Manusia boleh saja keliru menafsirkan kedatangan yang pertama itu, tetapi jangan sampai keliru tentang kedatangan-Nya yang kedua.
3. Allah sudah memenuhi janji-Nya untuk mengutus Anak-Nya sebagai Mesias demi menebus manusia dari dosa, Ia pasti menggenapi janji-Nya untuk mendatangkan Anak-Nya sebagai Raja Dunia demi menyelamatkan umat tebusan dari akibat dosa.
PENUTUP
 Puncak pengharapan umat Allah. Manusia telah bergumul dengan dosa tidak lama setelah penciptaan. Sejak itu banyak orang yang berguguran, mati sebagai korban dosa tanpa mengetahui adanya pengharapan untuk diselamatkan. Kita tidak tahu pasti berapa banyak manusia yang pernah hidup di Bumi selama berabad-abad sejak Adam dan Hawa berdosa dan terusir dari Taman Eden, sampai pada hari kedatangan Yesus kedua kali nanti. Kita pun tidak tahu berapa banyak dari antara mereka yang akan diselamatkan dan mendapat tempat di kota Yerusalem Baru. Namun satu hal pasti, bahwa akan ada satu umat dari segala zaman yang akan diangkat ke surga dan kemudian mewarisi Dunia Baru kelak. Inilah puncak pengharapan umat Allah sepanjang zaman.
 "Pada hari-hari yang paling kelam dalam peperangannya yang panjang dengan kejahatan, jemaat Allah telah diberikan wahyu tentang maksud Tuhan yang kekal. Umat-Nya sudah diizinkan untuk memandang di seberang cobaan-cobaan saat ini kepada kemenangan-kemenangan masa depan, ketika peperangan itu telah berakhir, bilamana umat tebusan akan masuk untuk mewarisi tanah perjanjian itu"  [alinea pertama: dua kalimat pertama].
 Selama kita hidup di dunia yang fana ini godaan dan cobaan akan terus menghiasi kehidupan anda dan saya. Tak seorang pun di antara umat Allah yang sama sekali bebas dari segala ujian karena semua itu diperlukan untuk memurnikan iman kita (1Ptr. 1:6-7). Namun suatu jaminan diberikan kepada setiap orang saleh, bahwa penderitaan yang diakibatkan oleh ujian-ujian yang kita alami sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Rm. 8:18).
 "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (Tit. 2:11-13).
 REFERENSI :

1.   Zdravko Stefanofic, Profesor bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama, Universitas Walla Walla,U.S.A--- Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.II, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.
2.   Loddy Lintong, California U.S.A.