Tampilkan postingan dengan label PENCIPTAAN-Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENCIPTAAN-Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Pemulihan Sebagai Hasil Penebusan.(13)



"PENCIPTAAN KEMBALI"

PENDAHULUAN

Lama dan baru. Sebutan "langit dan bumi" adalah istilah Alkitab yang merujuk kepada satu dunia, yaitu satu bagian wilayah di alam semesta, yang merupakan tempat di mana manusia hidup dan beraktivitas. Inilah dunia yang sudah terkutuk akibat dosa yang akan diperbarui kembali, dipulihkan kepada keadaan semula seperti waktu diciptakan dan belum tercemar oleh dosa. Pemulihan itu akan terjadi pada "hari Tuhan" (2Ptr. 3:10) atau "hari Allah" (ay. 11). Dalam kata-kata rasul Petrus, "Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran" (ay. 12-13; huruf miring ditambahkan).
 Kata Grika untuk langit yang digunakan dalam ayat ini adalah οὐρανός, ouranós, sebuah kata-benda maskulin yang dalam hal ini berbentuk jamak. Kita sudah pernah pelajari sebelumnya, "langit" dalam PB mencakup tiga lapisan sesuai dengan pengertian masyarakat pada masa itu, yakni "langit biru" (atmosfir) sebagai langit pertama, "langit berbintang" (hamparan benda-benda langit) sebagai langit kedua, dan "surga" (tempat Allah dan malaikat-malaikat suci bersemayam) sebagai langit ketiga. Dalam 2Kor. 12:2 rasul Paulus menggunakan sebutan "tingkat yang ketiga" (TB) atau "langit yang ketiga" (TL). Jika dikaitkan dengan nubuatan rasul Petrus bahwa pada "hari Tuhan" nanti langit itu akan "binasa" maka tentu yang dimaksudkannya adalah langit yang pertama, yaitu "langit biru" atau atmosfir yang sesungguhnya merupakan lapisan terluar dan bagian tak terpisahkan dari planet Bumi. (Lihat ulasan Pelajaran Ke-II, 12 Januari.) Sedangkan kata bumi di sini adalah γῆ, gē, yang berarti (a) tanah tempat berpijak, atau (b) bumi secara keseluruhan
 Alasan mengapa "langit dan bumi" yang lama hendak dibinasakan ialah karena telah dicemari, dikuasai, dan dirusak oleh dosa. Untuk memulihkannya kepada keadaan asli, yaitu kondisi semula yang suci dan tanpa dosa seperti pada waktu baru diciptakan, "langit dan bumi" ini harus dibinasakan dengan api dalam arti kata yang sesungguhnya. "Lihatlah perbedaan antara dua perwujudan. Dosa telah berkuasa di dalam yang lama, kebenaran mendiami di dalam yang baru. Kematian berkuasa di dalam yang lama, kehidupan di dalam yang baru. Perbedaan yang sangat mencolok, atau mutlak" [alinea kedua].
 Allah hanya menciptakan Bumi ini satu kali, dan Ia akan tetap mempertahankan atau memelihara eksistensi dari salah satu warga tatasurya dan alam semesta ini. Betapa tidak? Inilah planet di mana Putra-Nya yang tunggal yang kita kenal sebagai Yesus Kristus itu datang menjelma, hidup, dan mati sebagai manusia biasa untuk menebus orang-orang berdosa yang menghuni planet ini. Selain itu, sesuai dengan rencana-Nya semula, Bumi ini akan menjadi tempat tinggal abadi dari satu umat yang dikasihi-Nya dan yang mengasihi Dia. Jadi, pemulihan bumi ini secara fisik sekaligus juga merupakan penggenapan dari maksud penciptaannya semula. Dosa boleh saja berhasil menaklukkan manusia, tetapi tidak dapat membatalkan rencana Allah.
1.      KIAMAT DAN PENCIPTAAN ULANG (Suatu Permulaan yang Baru).
 Ramalan kiamat. Empat tahun lalu, tepatnya 23 Maret 2009, situs resmi stasiun televisi FoxNews dari AS memuat tulisan tentang lima kemungkinan terjadinya kiamat dunia. Ramalan yang didasarkan pada perkiraan ilmiah ini adalah: (1) tabrakan dengan asteroida raksasa, (2) akibat letusan gunung berapi yang bersifat masif, (3) musim dingin nuklir, (4) pengaruh gravitasi "lubang hitam" dan (5) pembesaran matahari. Setidaknya salah satu dari skenario tersebut dapat memusnahkan segala bentuk kehidupan di muka bumi ini, dan dengan demikian merupakan kiamat dunia. (Lihat di sini---> http://www.foxnews.com/story/0,2933,477084,00.html).
 Kemungkinan bumi kita ditabrak oleh benda-benda angkasa yang beterbangan di alam semesta, termasuk meteor, bukanlah khayalan. Bulan lalu, 15 Februari 2013, sebuah meteor yang berhasil menembus atmosfir bumi meledak di atas kota Chelyabinsk, Rusia sehingga mengakibatkan kerusakan 4000 bangunan dan memecahkan kaca gedung dan rumah seluas 200.000m2. Kejadian ini telah menimbulkan kerugian lebih dari 1 milyar rubel (lebih dari US$33 juta, sekitar Rp 3,1 trilyun), dan melukai lebih dari 1000 orang termasuk 200 anak-anak. Ini mengingatkan orang akan peristiwa Tunguska di Siberia, Rusia, 30 Juni 1908, ketika sebuah meteor raksasa atau mungkin komet yang menyusup sampai ke permukaan bumi lalu meledak sehingga meratakan hutan seluas 2000 Km2. Ledakan yang diperkirakan sedahsyat 10-15 megaton TNT itu tak urung menimbulkan gelombang kejut yang setara dengan gempa bumi berkekuatan 5,0 SR. Beruntung itu terjadi di kawasan yang nihil penduduk sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
 Letusan gunung berapi dalam kekuatan besar adalah sebuah teori yang juga didasarkan pada pengalaman masa lalu. Antara lain ledakan gunung Tambora di pulau Jawa tahun 1815 yang mempengaruhi cuaca sehingga setahun kemudian, 1816, benua Eropa mengalami apa yang disebut "tahun tanpa musim kemarau" di mana salju turun dalam bulan Juni (seharusnya adalah musim panas) dan menggagalkan panen di seluruh belahan bumi bagian utara. Begitu pula dengan letusan gunung Krakatau di selat Sunda tahun 1883 yang fenomenal itu, dan juga gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991, yang menyebabkan suhu dingin di sebagian besar wilayah bumi. Suhu dingin tersebut diakibatkan oleh gumpalan debu yang dilontarkan ke atmosfir bumi begitu tebalnya sehingga menghalangi sinar matahari. Sekarang ini yang paling ditakuti orang adalah meletusnya gunung api super (supervolcano) Yellowstone di negara bagian Wyoming, AS di mana terdapat Taman Nasional Yellowstone seluas 8983 Km2 dengan aliran mata air panas yang terkenal itu.
 Musim dingin nuklir akibat perang nuklir dianggap kecil kemungkinannya, sedangkan dua skenario lainnya, yaitu gravitasi lubang hitam dan pembesaran matahari, itu masih bersifat teoretis yang kemungkinannya jauh lebih kecil atau kalau pun terjadi waktunya masih jutaan tahun lagi. Tapi setidaknya "hari kiamat" atau tamatnya riwayat bumi ini adalah sesuatu yang masuk akal manusia dan diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Alkitab juga menubuatkan hal yang sama, tetapi dengan skenario yang sama sekali berbeda, yaitu bahwa hari kiamat yang akan datang itu bukanlah akhir dari riwayat dunia ini melainkan awal dari sejarah baru dunia ini. Tulis Yohanes Pewahyu, "Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi" (Why. 21:1).
 Memulai sejarah baru. Pada hakikatnya, menciptakan yang baru itu sama dengan memulai baru. Sekalipun rasul Yohanes mengatakan bahwa langit dan bumi yang lama sudah berlalu, bukan berarti planet yang sedang kita diami ini secara fisik akan hancur lalu musnah melainkan akan diperbarui atau diciptakan baru. Kalau kuasa Allah sanggup menciptakan bumi ini dari sesuatu yang tidak ada (ex nihilo), maka tentu saja untuk memperbaruinya adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah bagi-Nya. Bumi ini tidak sekadar direnovasi, tapi memang akan diciptakan baru. Salah satu hal penting yang membedakan dunia yang baru dengan yang lama ialah bahwa di dunia baru nanti "tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya" (Why. 21:23). Ini mengingatkan kita pada hari pertama dalam minggu penciptaan ketika Allah menciptakan terang (Kej. 1:3-5) sebelum ada matahari dan bulan yang baru diciptakan pada hari keempat (ay. 14-19).
 Tapi perbedaan paling penting dan terutama yang menyangkut penghuni dunia yang akan dijadikan baru itu ialah bahwa di dunia baru tidak akan ada lagi dosa yang mendatangkan kesengsaraan dan kematian, sebab maut dan dukacita tidak akan ada lagi (Why. 21:4), dan karena para penghuni dunia baru itu adalah orang-orang yang mengenakan keadaan yang tidak dapat binasa dan tidak dapat mati (1Kor. 15:54). "Penciptaan baru membawa awal yang baru. Eksperimen dengan dosa yang buruk ini akan berakhir. Akibat-akibatnya ada dan jelas: dosa membawa kematian dan penderitaan, dan hukum Allah adalah hukum kehidupan" [alinea ketiga].
 Pena inspirasi menulis: "Dalam Alkitab warisan orang yang selamat itu disebut tanah air. (Ibrani 11:14-16.) Di sana Gembala agung itu menuntun domba-domba-Nya ke mata air kehidupan. Pohon kehidupan menghasilkan buahnya setiap bulan, dan daun-daun pohon itu untuk melayani bangsa-bangsa. Ada sungai yang terus mengalir, jernih seperti kristal, dan di sisi-sisinya pepohonan melambai yang menyediakan keteduhan pada jalan-jalan yang disediakan bagi umat tebusan Tuhan. Terdapat dataran-dataran luas yang menutupi bukit-bukit permai, dan gunung-gunung Tuhan menopang puncak-puncaknya yang megah. Pada dataran-dataran yang tenteram itu, di samping sungai-sungai hidup itu, umat Allah yang sudah begitu lama menjadi pengelana dan pengembara akan menemukan sebuah tanah air" (Ellen G. White, The Story of Redemption, hlm. 430-431).
 Apa yang kita pelajari tentang dunia yang akan diperbarui ini?
1. Sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab, ilmu pengetahuan juga meramalkan bahwa dunia ini sekali kelak akan hancur dan binasa. Namun, berbeda dari skenario ilmiah bahwa kehancuran dunia ini sebagai akhir dari segalanya, Firman Tuhan justeru menyebutkan bahwa kiamatnya dunia yang lama ini adalah awal dari dunia yang baru.
2. Bumi yang lama ini akan dihancurkan, tetapi di tempatnya yang lama itu akan muncul bumi yang baru dengan kondisi serupa dengan bumi yang lama pada waktu diciptakan pertama kali. Kemunculan dunia baru adalah penciptaan ulang dari dunia yang lama.
3. Di dunia baru, yaitu bumi yang diciptakan baru, akan berbeda dari dunia lama yang kita huni sekarang ini. Selain perbedaan yang bersifat fisik seperti tidak adanya malam dan tidak dibutuhkannya matahari dan bulan sebagai sumber cahaya, manusia yang mendiami dunia baru itu juga adalah orang-orang yang kondisi fisiknya telah dibarui pula dengan ciri kekekalan.
2. MANUSIA DICIPTAKAN BARU (Dari Debu Kepada Kehidupan)
 Dibangkitkan dari debu. Sebagai keturunan Adam dan Hawa, kita semua adalah manusia yang berasal dari debu tanah (Kej. 2:7), dan oleh karena dosa Adam dan Hawa juga kita pun akan kembali kepada debu dan tanah (Kej. 3:19). Pada hari kiamat, yaitu pada waktu kedatangan Yesus kedua kali, semua orang "yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal" (Dan. 12:2). Bagi umat Tuhan ada jaminan bahwa mereka "yang sudah mati akan hidup kembali, mayat-mayat mereka akan bangkit lagi" (Yes. 26:19, BIMK).
 Bagi umat percaya, kematian bukanlah akhir dari riwayat manusia, tetapi kematian adalah akhir dari satu periode hidup yang fana untuk menantikan periode hidup yang baka sesudah kematian. Namun bukan dalam pengertian serupa novelis Inggris, Joanne Rowling alias J.K. Rowling, yang mengatakan bahwa "kematian hanyalah petualangan yang besar selanjutnya" seperti yang ditampilkannya dalam serial fantasi Harry Potter yang digandrungi banyak orang itu.
 "Untuk orang beriman, kematian hanyalah sementara. Allah yang membentuk Adam dari debu dan menghembuskan kehidupan ke dalam dirinya belum lupa bagaimana menciptakan manusia dari debu. Kebangkitan akan menjadi sebuah tindakan penciptaan seperti halnya penciptaan semula dari Adam" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].
 Diubahkan dalam sekejap. Kutukan dosa mengakibatkan manusia kembali kepada debu tanah, tetapi penebusan mengangkat kembali manusia dari debu tanah. Rekondisi (pengkondisian ulang) ini adalah bagian dari rencana keselamatan yang Allah canangkan di Taman Eden, yaitu memulihkan kembali manusia yang fana kepada keadaannya yang baka sebelum berdosa. Dengan dihapusnya dosa dan ditiadakannya maut untuk selama-lamanya maka kondisi manusia yang baka tersebut kali ini akan bersifat permanen dan abadi. Sebab melalui iman di dalam Yesus Kristus, kematian yang kita alami sekarang ini adalah "kematian terhadap dosa" dari tubuh yang fana tapi kemudian kita akan "hidup bagi Allah" dalam tubuh yang baka (Rm. 6:10-12).
 Pada hari kedatangan Yesus kedua kali semua manusia yang sudah mati akan dibangkitkan untuk turut menyaksikan peristiwa kedatangan-Nya yang mulia itu bersama-sama dengan orang-orang yang masih hidup, sebab "setiap mata akan melihat Dia" (Why. 1:7). Tetapi ada satu kejadian istimewa yang hanya akan dialami oleh umat tebusan yang hendak diselamatkan, baik mereka yang masih hidup maupun yang baru dibangkitkan dari kematian. Yaitu, "kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir...karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1Kor. 15:51-53).
 "Kebangkitan orang benar pada kedatangan Yesus yang kedua akan terjadi dengan seketika. Seperti pada penciptaan pertama umat manusia, itu akan menjadi sebuah peristiwa adikodrati di mana Allah melakukan segalanya. Semua ini secara mencolok bertentangan dengan evolusi teistik. Betapapun juga, jika Allah tidak akan menggunakan jutaan tahun evolusi untuk menciptakan kita kembali, tetapi melakukannya dalam sekejap, maka Ia pasti sudah menciptakan kita tanpa evolusi di babak pertama" [alinea terakhir: empat kalimat pertama].
Apa yang kita pelajari tentang penciptaan ulang manusia?
1. Setiap manusia yang pernah hidup di atas Bumi ini adalah keturunan Adam dan Hawa yang aslinya terbuat dari debu tanah. Akibat dosa nenek moyang pertama manusia itu maka seluruh keturunannya juga mewarisi kutukan dosa yang sama: semua harus mati dan kembali kepada debu tanah.
2. Kematian penebusan dosa yang dijalani oleh Yesus Kristus di kayu salib telah membuka pintu kepada penciptaan ulang manusia (rekondisi). Kematian atas tubuh yang lama harus terjadi sebagai upah dosa, tapi di dalam Yesus kita pun beroleh karunia hidup kekal dari Allah (Rm. 6:23).
3. Secara rohani, penciptaan ulang manusia dari "manusia lama" menjadi "manusia baru" terjadi ketika anda dan saya masih hidup dengan tubuh yang fana. Secara fisik, penciptaan ulang manusia dari "kondisi yang fana" kepada "kondisi yang baka" akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali, baik bagi mereka yang masih hidup maupun yang sudah mati.
3. HASIL PENEBUSAN KRISTUS (Pemulihan Kekuasaan Manusia)
 Pemulihan status. Luar biasa! Rencana keselamatan Allah yang dilaksanakan melalui kematian penebusan Yesus Kristus di Golgota tidak saja memulihkan manusia secara fisik kepada keadaannya semula yang baka, tetapi penebusan-Nya itu juga memulihkan manusia kepada statusnya semula sebagai penguasa bumi ini. Pada waktu baru diciptakan Allah telah memberikan kuasa kepada manusia untuk memerintah bumi ini (Kej. 1:28), tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat kuasa itu direbut oleh Iblis. Namun Yesus datang ke dunia ini dan merebut kembali kuasa itu dan melemparkan ke luar penguasa dunia tersebut (Yoh. 12:31).
 "Adam diberi tanggungjawab untuk menjadi penguasa dunia. Ketika dia berbuat dosa, kekuasaan Adam dalam bahaya...Dan meskipun Setan masih diperbolehkan untuk beroperasi di bumi dan melakukan kerusakan, kita bisa bersyukur karena mengetahui bahwa hari-hari Setan sedang dihitung; kemenangan Kristus di salib menjamin hal itu" [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinae kedua: kalimat terakhir].
 Mati bersama Kristus. Rasul Paulus menulis, "Benarlah perkataan ini: 'Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia'" (2Tim. 2:11-12; huruf miring ditambahkan). Ungkapan "benarlah perkataan ini" (Grika: πιστὸς ὁ λόγος, pistos ho logos; Inggris: faithful saying) merupakan gaya bahasa yang lazim dipakai untuk memberi tekanan akan kebenaran dari kata-kata selanjutnya. Ungkapan ini digunakan beberapa kali oleh sang rasul ketika hendak menekankan sesuatu pekabaran penting yang akan disampaikannya (baca juga 1Tim. 1:15, 1Tim. 4:8, dan Tit. 3:8).
 Dalam ayat di atas, Paulus menekankan pekabaran penting tentang jaminan bahwa setiap orang yang mati bersama Kristus akan hidup pula bersama Dia. Alkitab mengajarkan kita tentang bagaimana kita "mati bersama Kristus" dalam dua cara: pertama, yang digambarkan dengan baptisan (Rm. 6:3-5); kedua, yang dialami oleh para syuhada (Mat. 10:39, Mrk. 8:35). Sementara kedua kematian tersebut sama-sama bernuansa penyangkalan diri, kematian yang pertama itu lebih bersifat rohani (kematian dari sifat-sifat manusia lama, dalam hal ini hanya dialami oleh manusia) sedangkan yang kedua adalah bersifat jasmani (mati dalam arti kata sesungguhnya, yang dalam hal ini dialami juga oleh Yesus Kristus). Terhadap kematian yang kedua itu kita beroleh jaminan untuk dibangkitkan kembali sama seperti Kristus.
 Memerintah bersama Kristus. Dalam penglihatannya, Yohanes Pewahyu menyaksikan bagaimana Yesus Kristus sebagai "Anak Domba yang tersembelih" itu menerima gulungan Kitab dari tangan Allah Bapa untuk kemudian membuka materainya (Why. 5:8). Kemudian rasul mendengar sebuah paduan suara yang menyampaikan pujian terhadap Anak Domba yang menyatakan kelayakan-Nya untuk berbuat itu oleh sebab Dia "telah disembelih" dan dengan darah-Nya "telah membeli" manusia dari "tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa" bagi Allah.
 Rombongan besar manusia yang berasal dari segala bangsa itu telah dikumpulkan-Nya dari sepanjang zaman untuk "membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi" (ay. 10; huruf miring ditambahkan). Hal ini selaras dengan pernyataan rasul Petrus perihal umat tebusan Allah, "kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri" (1Ptr. 2:9).
 Apa yang kita pelajari tentang pemulihan status manusia melalui penebusan Kristus?
1. Kematian penebusan oleh Yesus Kristus selain menghasilkan pemulihan kondisi manusia secara fisik, dari keadaan yang fana kepada keadaan yang baka, juga memulihkan status manusia yang hilang akibat dosa, yaitu kembali menjadi penguasa atas bumi ini.
2. Untuk memperoleh pemulihan tersebut--fisik maupun status--kita harus rela mati bersama Kristus supaya kita pun akan bangkit bersama Dia dalam kemenangan. 
3. Hanya orang-orang yang telah menjalani pengalaman seperti yang Kristus alami saja akan beroleh kesempatan untuk memerintah bersama Dia dan juga melayani sebagai imam-imam seperti Dia. Memerintah bersama Kristus artinya turut mengambil bagian dalam kuasa-Nya.
4. PENATAAN KEMBALI KEHIDUPAN (Lebih Banyak Pemulihan)
 Restorasi pertama. Dalam ekologi (ilmu yang mempelajari tentang hubungan organisme-organisme hidup dengan lingkungan abiotik) dikenal istilah "ekologi restorasi" yang mulai populer pada tahun 1980-an. Ini adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana memperbaiki dan memulihkan ekosistem yang sudah merosot dan rusak. Betapa tidak rusak? Manusia, yang seharusnya menjadi penguasa serta pelindung alam dan lingkungan hidup, justeru telah berubah menjadi perusak alam yang ganas. Manusia, yang pada waktu diciptakan Tuhan adalah makhluk paling mulia di planet ini dan bukan pemangsa makhluk hidup, malah belakangan tergolong dalam "rantai makanan" dengan kebuasan yang tak alang kepalang.
 Allah, Sang Pencipta, tentu sangat kecewa dengan kenyataan tersebut. Maka Ia pun berfirman, "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka" (Kej. 6:7). Ini adalah semacam tindakan "pemutihan" untuk merestorasi planet yang telah rusak ini. "Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi" (ay. 11-12). Jadi, dapat dikatakan bahwa kerusakan akhlak manusia berkorelasi dengan kerusakan lingkungan hidup atau alam. Memang kerusakan akhlak itu bukan baru sekarang, hanya saja sekarang ini kerusakan itu semakin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya.
 "Apa yang telah dimulai sebagai sebuah kerajaan yang damai sudah menjadi penuh dengan penyelewengan, kekerasan, dan kejahatan. Ini adalah akibat dosa. Dunia yang tadinya 'amat baik' telah menjadi begitu buruk sehingga menyerukan kehancurannya sendiri" [alinea kedua].
 Restorasi kedua. Pembersihan bumi dengan air bah yang Allah lakukan pada zaman Nuh adalah bersifat fisik, tidak dimaksudkan sebagai pembasuhan dosa yang telah menguasai dunia ini. Meskipun restorasi ekologis tersebut sudah dilakukan, di mana generasi baru manusia maupun hewan telah menggantikan generasi lama yang sudah musnah, tetapi karena dosa masih bercokol di hati manusia maka restorasi kedua harus dilakukan. Kali ini bukan sebatas restorasi ekologis saja tapi menyeluruh, sebuah restorasi total yang meliputi bumi dan segala isinya termasuk manusia dan hewan.
 Dalam kitab Yesaya pasal 65, penggambaran tentang "dunia baru" sebagai hasil dari restorasi kedua yang bersifat total itu sungguh menyenangkan dan membesarkan hati untuk dibaca. Restorasi total itu ditegaskan dalam ayat 17, yang berbunyi: "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati" (huruf miring ditambahkan). Artinya, dunia baru itu akan benar-benar berbeda dari yang lama, bahkan yang lama itu bakal dilupakan sama sekali. Kedamaian dan ketenteraman dunia baru itu dilukiskan dengan kata-kata ini: "Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu" (ay. 25, bag. pertama). Versi BIMK menerjemahkan bagian ini: "Serigala dan anak domba sama-sama makan rumput; singa makan jerami seperti sapi, dan ular tidak berbahaya lagi."
 "Melalui keindahan bahasa puisi ini, Yesaya menunjukkan kepada kita bahwa tidak akan ada kekerasan di dunia baru. Penyelewengan dan kekerasan, yang menjadi karakteristik dari dunia sebelum air bah yang menyerukan kehancurannya, keduanya akan hilang dari yang baru. Itu akan menjadi satu dunia yang harmonis dan kooperatif, sebuah kerajaan damai" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].
 Sekilas tentang kitab Yesaya. Membaca Yesaya 65:17-25 membuat banyak dari kita membayangkan suasana dunia baru dalam pemahaman harfiah seperti itu, termasuk bahwa di surga keluarga-keluarga akan membangun rumah (ay. 21), bercocok-tanam (ay. 22), dan masih akan ada kelahiran bayi (ay. 23). Tetapi hal ini akan jadi bertentangan dengan perkataan Yesus sendiri, ketika menanggapi skenario kaum Saduki tentang seorang perempuan yang bersuamikan tujuh pria bersaudara secara berturut-turut, bahwa sesudah kebangkitan tidak ada lagi ikatan perkawinan karena semua akan hidup seperti malaikat (Mat. 22:30; Mrk. 12:25). Tetapi sementara kita perlu melakukan penelitian lebih mendalam tentang hal ini, ada baiknya kita menyimak dulu informasi perihal latar belakang kitab Yesaya.
 Para penyelidik Alkitab berpendapat bahwa kitab Yesaya tidak seluruhnya ditulis oleh nabi Yesaya, melainkan oleh setidaknya tiga penulis dalam periode waktu yang berbeda. Pakar-pakar membagi kitab Yesaya ke dalam tiga bagian: Proto-Yesaya atau Yesaya pertama dan asli merupakan tulisan nabi Yesaya (pasal 1-39), ditulis di Yerusalem antara tahun 740-687 SM; Deutero-Yesaya atau Yesaya kedua (pasal 40-55) yang ditulis oleh seorang tak dikenal yang tinggal di Babilonia pada masa pembuangan; Trito-Yesaya atau Yesaya ketiga (pasal 56-66) yang ditulis oleh salah satu atau lebih pengikut nabi Yesaya tak lama setelah pulang ke Yerusalem dari pembuangan di Babilonia. Alasan utama dari teori tiga bagian ini ialah karena bagian-bagian dari kitab Yesaya tersebut menggunakan gaya bahasa yang berbeda, keadaan dan suasana yang berbeda, serta tema isi yang berbeda. Pasal 1-39 berisi nubuatan perihal kejatuhan Yerusalem, pasal 40-55 menyangkut masa pembuangan di Babilon, dan pasal 56-66 tentang masa pemulihan Yerusalem yang dikaitkan dengan suasana dunia baru. Namun teori tiga bagian (tiga penulis) ini ditandingi pula dengan teori dua bagian (dua penulis) dan teori keutuhan kitab Yesaya (satu penulis tunggal). (Dari berbagai sumber.)
 Apa yang kita pelajari tentang pemulihan-pemulihan Allah atas bumi ini?
1. Dosa dan kejahatan manusia telah mengakibatkan kerusakan pada Bumi yang Allah sudah ciptakan dengan sempurna. Akibatnya, Allah bertindak dengan melakukan restorasi pertama--bersifat fisik--dengan mendatangkan air bah dan hanya menyisakan keluarga Nuh serta beberapa pasang hewan dari tiap jenis.
2. Karena warisan dosa terus dibawa oleh keturunan Nuh, umat manusia pasca air bah tetap saja jahat dan melakukan kejahatan-kejahatan seperti semula. Sesuai dengan rencana Allah, restorasi kedua yang bersifat total--fisik dan spiritual--akan dilakukan pada kedatangan Yesus kedua kali.
3. Keberhasilan "restorasi kedua" yang merupakan restorasi pamungkas (terakhir) terletak pada kenyataan bahwa dosa maupun upah dosa, yakni kematian, akan dihapuskan untuk selamanya (Mi. 7:19).
5. DIDAMAIKAN DENGAN ALLAH (Pemulihan Hubungan Dengan Allah)
 Permusuhan dengan Allah. Permusuhan Allah terhadap manusia telah ditunjukkan secara fisik dengan mengusir Adam dan Hawa keluar dari Taman Eden dengan cara yang tegas (Kej. 3:24), dan sejak itu manusia tidak dapat lagi memandang wajah Allah tanpa mengalami kematian (Kel. 33:20), bahkan kehadiran Allah secara fisik di dekat manusia dapat menimbulkan ketakutan dan kengerian yang hebat (Ul. 5:24-26). Sebuah ujud perseteruan yang dahsyat.
 "Dosa telah memutuskan hubungan antara Allah dengan umat manusia. Allah menjauhkan pasangan itu dari hadirat-Nya demi perlindungan mereka sendiri. Manusia tidak bisa lagi melihat wajah Allah dan tetap hidup...Namun, Tuhan dengan inisiatif-Nya sendiri membawa rencana keselamatan oleh mana hubungan yang rusak itu dapat diperbaiki, sekalipun dengan harga yang mengerikan terhadap Diri-Nya sendiri" [alinea kedua dan ketiga].
 Salib sebagai jalan pendamaian. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, hubungannya dengan Allah menjadi terputus dan manusia kehilangan kemuliaan Allah yang semula menyelubungi mereka. Paulus berkata, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23). Tetapi atas prakarsa Allah sendiri, Ia telah mengutus Putra-Nya datang ke dunia ini dan mati untuk kita sehingga kita "dibenarkan dengan cuma-cuma" (ay. 24), oleh sebab "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya" (ay. 25). Salib adalah "jalan pendamaian" yang disediakan Allah untuk mendamaikan Diri-Nya sendiri dengan manusia yang telah berseteru gara-gara dosa (Rm. 5:10).
 Adalah manusia yang pertama kali memusuhi Allah oleh karena lebih mementingkan keinginan daging sehingga melanggar hukum-Nya (Rm. 8:7). Tetapi Yesus Kristus sudah datang untuk "mempersatukan kedua pihak dan merubuhkan tembok pemisah" antara manusia dengan Allah, "sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu" (Ef. 2:14-16). Inilah damai yang dinyanyikan oleh paduan suara malaikat di hadapan gembala-gembala di padang malam hari itu, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk. 2:14). Inilah perdamaian atas konflik vertikal antara bumi dan surga.
 Dipersatukan kembali. Jalan perdamaian yang disediakan oleh Allah sendiri dan dilaksanakan melalui Putra-Nya, Yesus Kristus, telah disahkan di atas salib. Secara resmi perseteruan antara Allah dengan manusia sudah berakhir dan secara teknis hubungan yang retak akibat dosa itu sudah pulih kembali. Namun secara fisik manusia belum langsung dipersatukan kembali dengan Allah, tetapi hal itu baru akan terwujud bilamana Yesus datang kedua kali ketika menjemput anak-anak Tuhan untuk dipertemukan dengan Allah Bapa di surga. Pertemuan ini terjadi pada waktu yang disebut sebagai "Hari Perkawinan Anak Domba" (Why. 19:7).
 Pertemuan inilah yang dijanjikan Yesus kepada murid-murid-Nya sesaat Ia hendak diangkat ke surga (Why. 14:1-3). Di tempat yang disediakan Kristus bagi mereka serta untuk semua umat tebusan-Nya itu adalah tempat yang sangat nyaman dan menyenangkan. "Di dalam kota itu tidak terdapat sesuatu pun yang terkena kutuk Allah. Takhta Allah dan Anak Domba itu akan berada di dalam kota itu. Hamba-hamba-Nya akan berbakti kepada-Nya, dan melihat wajah-Nya. Nama-Nya akan ditulis di dahi mereka. Mereka tidak akan memerlukan lampu atau cahaya matahari, sebab malam tidak ada lagi, dan Tuhan Allah sendiri akan menerangi mereka. Maka mereka akan memerintah sebagai raja untuk selama-lamanya" (Why. 22:3-5, BIMK).
 "Allah dan umat manusia akan dipersatukan kembali, dalam damai dan bertatap muka. Bumi akan menjadi bebas dari kutukan apa pun, dan semua yang telah hilang akan dipulihkan. Umat tebusan akan diberikan suatu lingkungan baru, kehidupan baru, kekuasaan baru, perdamaian baru dengan seluruh ciptaan lainnya, dan hubungan baru dengan Allah. Maksud semula di balik penciptaan manusia sekarang akan terpenuhi. Allah, umat manusia, dan ciptaan akan menjadi harmonis, dan keharmonisan itu akan berlangsung selamanya" [alinea terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang pemulihan hubungan kita dengan Allah?
1. Dosa telah memutuskan hubungan yang harmonis antara Allah dengan manusia. Bahkan, dosa telah menjauhkan manusia dari Allah dan sejak itu tidak dapat dipertemukan lagi. Tetapi terdorong oleh kasih, Allah mengambil inisiatif untuk merukunkan kembali Diri-Nya dengan manusia.
2. Salib menjadi jalan perdamaian yang memungkinkan hubungan yang rusak itu dipulihkan. Pemulihan hubungan itu membuka jalan bagi pemulihan keadaan manusia dan kondisi alamiah bumi ini kembali kepada aslinya.
3. Perdamaian yang diciptakan Kristus akan berujud dengan dipersatukannya kembali Allah dengan umat-Nya, secara rohani sejak masih di dunia ini, dan secara jasmani bilamana umat tebusan itu akan dijemput Yesus untuk bertemu dengan Allah Bapa di surga. Tujuan penciptaan manusia dan dunia ini akan terpenuhi pada akhirnya.
PENUTUP
 Masa kekekalan. Seperti telah kita pelajari, kedatangan Yesus kedua kali nanti akan ditandai dengan pemulihan fisik atas orang-orang saleh yang selamat, yaitu diubahkan dari kondisi tubuh yang dapat binasa menjadi tidak dapat binasa (1Kor. 15:52-54). Pada saat itulah masa kekekalan dimulai. Jadi, masa kekekalan diawali di dunia ini dan dilanjutkan juga di dunia ini setelah masa seribu tahun orang saleh bermukim di surga (milenium), kemudian kita akan kembali ke bumi ini untuk hidup selama-lamanya.
 "Dan sementara bergulir, tahun-tahun kekekalan itu akan mengantar penyataan-penyataan tentang Allah dan Kristus yang semakin lengkap dan terus bertambah mulia. Sementara pengetahuan berkembang, demikian jugalah kasih, rasa hormat dan kebahagian itu pun meningkat. Semakin manusia belajar tentang Allah, semakin besar kekaguman mereka akan tabiat-Nya" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].
 Tidak lama setelah bangkit dari kematian-Nya, yang menandai kemenangan-Nya atas maut, Yesus Kristus terangkat ke surga. Pesan yang disampaikan-Nya kepada murid-murid pada waktu itu adalah juga pesan untuk kita semua yang percaya:
 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada" (Yoh. 14:1-3).
 Tidak perlu waktu sampai 2000 tahun lamanya untuk menyediakan tempat bagi kita di surga sehingga Yesus belum datang sekarang. Bahkan, Dia sendiri menyatakan bahwa di rumah Bapa-Nya ada banyak tempat. Lalu, apa lagi yang harus disediakan? Mungkin maksud dari "menyediakan tempat" di sini harus dipahami sebagai "memastikan tempat" untuk anda dan saya, yaitu dengan menjadi Pembela atas kasus kita di pengadilan surgawi. Dalam hal ini, satu-satunya hal yang anda dan saya dapat lakukan sebagai bentuk kerjasama kita dengan Kristus demi memuluskan pembelaan-Nya adalah bertobat sekarang juga!.
 SUMBER :

1.      James L. Gibson, Dir.Geoscience Research Institute, Lomalinda: “Asal “Usul, Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.I, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.
2.      Loddy Lintong, California U.S.A.

Senin, 25 Maret 2013

Dosa Melahirkan Kasih Karunia (12)



"PENCIPTAAN DAN INJIL"

PENDAHULUAN
  
   Hubungan dipulihkan. Manusia--Adam dan Hawa--tidak saja diciptakan sebagai makhluk hidup yang paling cerdas tetapi juga paling mulia, dan kemuliaan itu ditandai utamanya dengan kebebasan berkehendak yang memberi mereka hak bebas memilih. Tanpa kebebasan tersebut pasangan manusia pertama itu hanya akan menjadi "manusia mesin" atau robot yang tidak dapat mengasihi dengan perasaan yang berasal dari hati sanubari.
 Namun kebebasan memilih itu bukan tanpa risiko, sesuatu yang sangat pasti diketahui pula oleh Sang Pencipta. Risiko itu menjadi kenyataan tatkala Hawa terperdaya oleh Setan lalu memetik dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, atas kehendaknya sendiri, kemudian menyodorkannya pula kepada Adam yang langsung memakannya tanpa ragu. Tidak jelas apakah mereka masing-masing memakan satu buah atau hanya mengecap dari buah yang sama, tapi yang pasti mereka berdua telah melakukan pelanggaran secara bersama-sama.
 Alkitab mencatat bahwa sebelum memetik buah itu Hawa melakukan semacam pengamatan dan pertimbangan. "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian" (Kej. 3:6; huruf miring ditambahkan). Dengan kata lain, proses keberdosaan itu dimulai dalam pikirannya lebih dulu baru kemudian melahirkan sebuah tindakan. Jadi, Hawa melakukan itu dengan penuh kesadaran, dan dia berbuat dosa oleh menggunakan haknya untuk memilih. Ini sesuai dengan perkataan rasul Petrus bahwa manusia berbuat dosa oleh sebab "keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup" (1Yoh. 2:16).
 Tetapi puji syukur kepada Allah karena manusia tidak dibiarkan terus hidup dalam keberdosaannya tanpa sesuatu pengharapan. Segera setelah pasangan manusia pertama itu jatuh ke dalam dosa Tuhan langsung mencanangkan suatu jalan kelepasan dari kematian kekal akibat dosa melalui Yesus Kristus, "keturunan Hawa" yang akan "meremukkan kepala" Setan melalui kematian penebusan-Nya di kayu salib. Yesus adalah solusi atas dosa.
 "Namun Yesus telah datang untuk menghancurkan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8) dan membebaskan kita dari kekuasaannya. Dia melakukan ini dengan mati menggantikan kita dan menawarkan kehidupan kepada kita. Di salib, Yesus menjadi dosa karena kita (2Kor. 5:21) dan mengalami perpisahan dari Bapa-Nya yang disebabkan oleh dosa. Oleh kematian-Nya, Yesus memulihkan hubungan antara Allah dan umat manusia yang telah rusak oleh dosa Adam dan Hawa" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].
 Allah bukan saja Pencipta manusia; Dia adalah juga Penebus manusia!
1.      KESELAMATAN DARI EDEN (Kasih Karunia Dalam Taman).
 Bersama Yesus di Taman. Charles Austin Miles (1868-1946), sehari-harinya bekerja sebagai apoteker, adalah seorang pemimpin koor gereja yang menggemari fotografi. Suatu hari di bulan Maret 1912, Charles mengalami suatu pencerahan ketika sedang berada di kamar gelap untuk memproses film negatif hasil pemotretannya. (Bagi banyak generasi muda yang mungkin tidak mengetahuinya, sebelum ditemukan kamera digital yang mulai populer pertengahan dekade 1990-an, fotografi masih menggunakan teknologi seluloid yang disebut "filem negatif" dalam bentuk gulungan yang dimasukkan ke dalam kamera--dulu namanya "tustel"--untuk merekam setiap gambar, dan kemudian harus diproses dalam ruang tanpa cahaya sebelum bisa dicetak ke atas kertas foto.) Di kamar gelap itulah Charles mengaku pikirannya seperti dikuasai oleh pemandangan di kubur Yesus tatkala Maria Magdalena datang pada pagi hari Minggu itu, sebagaimana tercatat dalam Yoh. 20:11-18 yang baru dibacanya.
 Masih berada dalam suasana batin tersebut, sekeluarnya dari kamar gelap itu Austin mulai menulis puisi yang kemudian menjelma menjadi lirik lagu berjudul "In the Garden" yang dalam versi bahasa Indonesia adalah "Aku Masuk Dalam Taman" (LS No. 182). Lagu ini langsung populer setelah digunakan sebagai lagu tema sepanjang seri KKR oleh evangelis Billy Sunday (1862-1935), mantan atlet nasional AS cabang olahraga baseball yang kemudian menjadi penginjil. Belakangan lagu tersebut masuk dapur rekaman lewat suara penyanyi Perry Como (1912-2001) tahun 1958, dan selanjutnya diangkat sebagai lagu penutup dalam film drama "Places in the Heart" (1984) dengan pemeran utama Sally Field. Selain dinyanyikan oleh berbagai penyanyi legendaris seperti Mahalia Jackson, Jim Reeves dan Elvis Presley, lagu indah ini juga dilantunkan oleh Anne Murray seperti yang dapat anda saksikan di sini: http://www.youtube.com/watch?v=AzdFHs6j2dE. (Atau, anda juga dapat menyanyikannya sendiri dengan iringan musik dan panduan lirik dari link ini: http://www.youtube.com/watch?v=pWyufa8KTQs.)
 Penghakiman di Taman Eden. Allah menangani dosa segera setelah itu terjadi. Sebagaimana sudah kita pelajari terdahulu, Allah mengumpulkan para pelaku yang terlibat dalam kejahatan itu untuk mengadakan "penghakiman pemeriksaan" langsung di TKP (tempat kejadian perkara). Adam, Hawa, dan juga ular sebagai representasi iblis (Kej. 3:9-15). Satu demi satu mereka yang terlibat dijatuhi hukuman, bahkan tak luput juga bumi itu sendiri. Tetapi, tentu saja, vonis yang paling penting dijatuhkan ke atas Hawa dan Setan sebagai pelaku utama. "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (ay. 15). Seperti sudah pernah dibahas sebelumnya, dunia Kristen menyebut ayat penting ini sebagai protoevangelium (injil perdana) di dalam mana termaktub kabar baik tentang penebusan dosa dan keselamatan melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang datang ke dunia ini sebagai manusia yang lahir melalui salah seorang perempuan keturunan Hawa.
 "Tujuan dari pengadilan ini bukan supaya Allah dapat mempelajari fakta-fakta. Dia sudah tahu fakta-fakta itu. Sebaliknya, tujuannya adalah memberikan kepada pasangan itu suatu kesempatan untuk menerima tanggungjawab atas perbuatan mereka, langkah pertama menuju pertobatan dan pemulihan. Allah bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi, dan mereka mengaku, sekalipun enggan" [alinea kedua: kalimat kedua hingga kelima].

Kasih karunia di Taman Eden. Seusai mengadili dan menjatuhkan hukuman, tindakan Allah selajutnya adalah menangani Adam dan Hawa yang sedang berada dalam keadaan amat memalukan sesudah berbuat dosa, yaitu separuh telanjang karena tubuh mereka yang hanya dibalut cawat anyaman dari daun pohon ara (Kej. 3:7). Inilah karya pertama manusia setelah berdosa, pakaian yang terbuat dari dedaunan. Namun dalam pemandangan Tuhan pakaian seperti itu sangat tidak pantas untuk dikenakan oleh makhluk ciptaan termulia di Bumi, yang meski sudah berdosa masih tetap mengenakan citra Allah. "Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka" (ay. 21).
 Usaha Adam dan Hawa untuk menutupi ketelanjangan mereka akibat dosa dengan pakaian daun ara buatan tangan sendiri melambangkan usaha manusia berdosa untuk membenarkan diri di hadapan Allah. Tetapi Allah tidak berkenan dengan "agama daun ara" seperti itu. Keberdosaan manusia yang telah menyebabkan mereka berada dalam ketelanjangan harus dibalut oleh "pakaian kebenaran" yang berasal dari Allah sendiri, yaitu melalui "korban penebusan" sebagaimana binatang yang harus mati untuk diambil kulitnya demi kepentingan manusia, sebab "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr. 9:22). Manusia tidak dapat membenarkan diri melalui penurutan hukum, ataupun menutupi perbuatan dosa mereka dengan kebaikan dan kebajikan, itu hanya berguna untuk kehidupan sementara di dunia ini. Anda dan saya hanya bisa beroleh keselamatan dengan mengenakan "pakaian pesta" (Mat. 22:11, 12), yaitu kebenaran Kristus, yang adalah kasih karunia Allah.
 "Bayangkanlah perasaan Adam ketika hewan itu mati, mungkin untuk menggantikan dia sebagai suatu kurban. Itulah pertama kalinya Adam melihat kematian, dan hal itu pasti telah membawa kesedihan pikiran yang hebat kepadanya. Kemudian hewan itu dikuliti dan pakaian dibuat dari kulit tersebut. Kulit itu ditaruh ke atas tubuh Adam untuk menutupi ketelanjangannya. Setiap kali dia melihatnya, atau merasakannya, dia pasti teringat akan apa yang telah dilakukannya dan apa yang sudah hilang dari padanya. Lebih penting lagi, itu merupakan pengingat akan kasih karunia Allah" [alinea terakhir: enam kalimat terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang kasih karunia yang Allah adakan di Taman Eden?
1. Segera setelah manusia pertama itu berdosa, Tuhan langsung bertindak dengan mengadakan penghakiman dan memutuskan vonis. Adam dan Hawa tidak langsung mati pada hari mereka memakan buah larangan itu, tetapi kematian mereka sudah ditetapkan pada hari itu juga (Kej. 2:17).
2. Allah menjatuhkan hukuman atas dosa berdasarkan keadilan-Nya, tetapi pada waktu yang sama Dia juga menyediakan pengampunan dan penebusan dosa berdasarkan kasih-Nya. Dosa ialah pelanggaran hukum Allah (1Yoh. 3:4), tetapi darah Kristus adalah pengampunan dosa (Mat. 26:28).
3. Manusia tidak dapat menutupi dosa-dosanya dan membenarkan diri dengan perbuatan kebaikan atau pun penurutan hukum Allah, itu adalah "agama daun ara" yang tidak berguna. Keselamatan hanya bisa diperoleh melalui iman terhadap kurban penebusan Kristus
2. ALLAH SUMBER KEHIDUPAN (Dosa dan Kematian)
 Tanah kembali ke tanah. Akibat dosa adalah kematian (Rm. 6:23), dan kematian mengubah tubuh manusia--melalui proses dekomposisi--kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Adam telah dijadikan dari debu tanah (Kej. 2:7), atau tanah liat (Ay. 10:9), maka setelah mati akan berubah kembali menjadi tanah. "Hal yang sama terjadi pada kita. Perhatikan--kita tidak kembali menjadi kera karena kita tidak dibuat dari kera. Kita dijadikan dari debu, dan kepada debulah kita kembali pada saat kematian" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
 Penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam tubuh manusia mempunyai persamaan dengan unsur-unsur pada lapisan kulit bumi meskipun persentasenya berbeda. Tanah dan tubuh manusia sama-sama memiliki 59 unsur. (Baca di sini---> http://esoriano.wordpress.com/2007/05/25/from-dust-to-man-a-scientific-proof/). Planet bumi terdiri atas empat lingkup interaksi, yaitu atmosfir (udara), litosfir (lapisan kulit Bumi), hidrosfir (laut, danau, sungai-sungai) dan biosfir (semua makhluk hidup). Manusia (bagian dari biosfir) secara fisik mengandung komposisi unsur-unsur kimia yang sama dengan litosfir (lapisan kulit bumi) tapi dalam persentase yang tidak sama, sebagian lebih besar dan sebagian lagi lebih kecil. Silakan mendalami pada situs ini--->
http://www.earthlearningidea.com/PDF/108_What_made_of.pdf.
 Kehidupan berasal dari Allah. Musa mencatat bahwa "Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Sementara itu pemazmur menyatakan, "Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta" (Mzm. 104:29-30). Berdasarkan ayat-ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manusia merupakan perpaduan antara dua unsur utama, yaitu unsur bumi (jasmani) dan unsur ilahi (rohani). Unsur yang berasal dari Allah--nafas dan roh--itulah yang menghidupkan manusia, oleh sebab "dalam Dia ada hidup" (Yoh. 1:4), dan "karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas" (Kis. 17:25). Sedangkan unsur yang berasal dari bumi ini--debu dan tanah--tidak mengandung kehidupan apapun tetapi hanyalah sekadar "mewadahi" unsur-unsur ilahi yang merupakan sumber hidup itu.
 "Kematian dapat kita hasilkan, tetapi penciptaan kehidupan berada di luar jangkauan kita. Allah saja yang memiliki kemampuan untuk menciptakan organisme-organisme yang hidup. Para ilmuwan telah mencoba untuk menciptakan kehidupan, mengira bahwa jika mereka dapat berbuat demikian maka mereka mempunyai satu alasan mengapa mereka tidak percaya kepada Allah. Sejauh ini, semua upaya tersebut telah gagal" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].
 Dosa memisahkan dari Sumber kehidupan. Alasan mengapa Allah tidak menghiraukan umat Israel, bangsa pilihan-Nya itu, ketika mereka ditimpa kemalangan, ialah karena kejahatan dan dosa mereka. "Jangan mengira TUHAN terlalu lemah untuk menyelamatkan kamu, atau terlalu tuli untuk mendengar seruanmu," kata nabi Yesaya. "Karena kejahatanmulah maka Ia tidak mendengarkan waktu kamu berdoa kepada-Nya. Dosa-dosamulah yang memisahkan kamu dari Allah" (Yes. 59:1-2, BIMK; huruf miring ditambahkan).
 Dalam kepanikannya Daud pernah berseru kepada Tuhan, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang" (Mzm. 22:2-3). Mengapa Daud takut ditinggalkan Allah? Oleh sebab Allah adalah sumber kehidupan (Mzm. 36:10; Yes. 57:16) dan sumber air hidup (Yer. 17:13).
 "Jika kehidupan hanya datang dari Allah, maka perpisahan dari Allah memutuskan kita dari sumber kehidupan. Akibat yang tak terelakkan dari perpisahan dengan Allah adalah kematian...Dosa, berdasarkan pada sifatnya, menyebabkan perpisahan dari kehidupan, dan akibatnya adalah kematian" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang dosa dan kematian?
1. Hukum Allah menetapkan bahwa akibat dosa adalah kematian, dan hukum alam menentukan bahwa tubuh manusia yang mati kembali menjadi tanah. Jasad manusia yang mengalami dekomposisi tidak akan mencemari tanah tapi unsur-unsurnya langsung diserap dan menyatu kembali dengan tanah.
2. Manusia merupakan wujud perpaduan antara unsur-unsur alam duniawi (tanah/debu) dan ilahi (nafas/roh). Dalam perspektif alkitabiah, kematian terjadi akibat hilangnya unsur ilahi dari tubuh manusia. Bila seorang manusia mati, jasadnya tinggal di bumi, rohnya kembali kepada Allah (Pkh. 12:7; Ay. 34:14-15).
3. Allah adalah sumber kehidupan, tetapi dosa menyebabkan kematian. Ini bukan berarti bahwa dosa lebih berkuasa dari kehidupan yang berasal dari Allah, tetapi justeru kematian adalah kegenapan dari hukuman atas dosa (Rm. 6:23; Kej. 3:19
3. SOLUSI ATAS DOSA (Ketika Kita Masih Berdosa...)
 Respon Allah terhadap dosa. Allah membedakan antara dosa dengan orang berdosa; Ia membenci dosa tapi mengasihi orang berdosa. Rasul Paulus berkata, "Ketika kita dalam keadaan tidak berdaya, Kristus mati untuk kita pada waktu yang tepat yang ditentukan oleh Allah; padahal kita orang-orang yang jauh dari Allah...Tetapi Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa" (Rm. 5:6, 8, BIMK). Surat Paulus kepada jemaat di Roma diperkirakan ditulis dan dikirim dari kota Korintus, tahun 57 AD. Paulus terkesan dengan reputasi orang-orang Kristen di Roma yang telah tersiar ke mana-mana (Rm. 1:8), dan menyatakan kerinduannya untuk mengunjungi mereka suatu hari kelak (ay. 10), keinginan yang baru terpenuhi beberapa tahun kemudian dalam kesempatan untuk naik banding sehubungan dengan perkaranya (Kis. 25:11-12).
 Tidak jelas bagaimana dan kapan jemaat di kota Roma itu berdiri, yang pasti pendirinya bukan Paulus dan Petrus (seperti yang diklaim oleh Gereja Katolik Roma). Diyakini gereja di Roma adalah hasil penginjilan orang-orang Kristen Yahudi yang juga hadir pada Hari Pentakosta di Yerusalem (Kis. 2:10). Tatkala kaisar Klaudius pada tahun 49 AD mengeluarkan maklumat persona-non-grata (pengusiran) orang-orang Yahudi dari Roma, sebagian dari mereka mengungsi ke Korintus, termasuk suami-istri Akwila dan Priskila yang kemudian menjadi rekan bisnis Paulus (Kis. 18:2-3). Orang-orang Yahudi perantauan balik ke Roma setelah kaisar Nero yang naik takhta tahun 54 AD mengijinkan mereka untuk kembali. Kekristenan berkembang pesat di Roma, sampai "permainan politik" jahat dari sang kaisar yang dengan sengaja membakar kota ini tahun 64 AD, lalu mengambinghitamkan orang-orang Kristen dan menganiaya mereka dengan bengis.
 Jemaat di Roma adalah jemaat yang besar, sebagian adalah orang-orang Kristen Yahudi perantauan dan sebagian lagi orang-orang Kristen non-Yahudi. Kepada mereka inilah sang rasul menyatakan tentang kurban penebusan dosa oleh Yesus Kristus--yang sudah mati lebih dari 20 tahun lalu--sebagai pernyataan kasih Allah ketika umat percaya itu masih "dalam keadaan tidak berdaya" dan "jauh dari Allah." Tulisan rasul Paulus itu juga ditujukan kepada kita, umat percaya yang hidup 2000 tahun kemudian setelah kematian Kristus. Namun sesungguhnya, jauh sebelum itu, rencana penebusan dosa melalui kematian Kristus sudah dicanangkan Allah di Taman Eden segera setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Secepat itulah Allah merespon dan menyediakan solusi terhadap dosa manusia.
 "Dia bisa saja dibenarkan sepenuhnya dalam menyerahkan Adam dan Hawa kepada kuasa Setan yang membinasakan; lagi pula, mereka sudah menentukan pilihan mereka. Tetapi Allah tahu bahwa Adam dan Hawa tidak memahami arti sepenuhnya dari apa yang mereka telah lakukan, dan Dia bertekad untuk memberikan mereka kesempatan untuk jadi lebih mengetahui dan mampu untuk memilih kembali" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
 Bagaimana respon kita? Kalau Allah telah merespon kesalahan manusia itu dengan menyediakan kesempatan kedua kepada manusia, bagaimana dengan kita ketika merespon orang-orang lain yang berbuat kesalahan terhadap kita? Allah tidak menunggu Adam dan Hawa untuk meminta maaf atas kesalahan mereka, tetapi justeru Allah sendiri yang langsung mengambil prakarsa untuk menyediakan jalan bagi pemulihan hubungan antara manusia dengan Diri-Nya yang telah terputus oleh dosa.
 "Perlakuan Allah terhadap orang berdosa menunjukkan arti sebenarnya dari kasih. Itu bukan perasaan belaka tetapi sebuah perilaku berprinsip di mana setiap upaya dilakukan untuk mendamaikan si pelanggar dengan pihak yang dilukai dan memulihkan hubungan. Perlakuan Allah terhadap Adam dan Hawa adalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana Dia menangani dosa kita" [alinea terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Kita tidak akan pernah mengenal makna kata "kasih karunia" ini sekiranya kita tidak jatuh. Allah mengasihi malaikat-malaikat suci, yang melayani Dia dan taat kepada semua perintah-Nya; tetapi Dia tidak memberikan kepada mereka kasih karunia. Makhluk-makhluk surgawi ini tidak mengenal akan kasih karunia; mereka tidak pernah memerlukannya karena mereka tidak pernah berdosa. Kasih karunia adalah sifat Allah yang ditunjukkan kepada makhluk manusia yang tidak layak. Kita sendiri tidak mencarinya, tetapi kasih karunia itulah yang dikirim untuk mencari kita" (Ellen G. White, Review and Herald, 15 Oktober 1908).
 Apa yang kita pelajari tentang respon Allah terhadap dosa manusia?
1. Ketika Roh Tuhan mengilhami pikiran rasul Paulus untuk menulis surat kepada jemaat di kota Roma abad pertama itu, pekabaran yang menguatkan iman tersebut telah juga disiapkan untuk seluruh umat percaya di kemudian hari hingga pada akhir zaman. 
2. Allah ingin agar semua manusia mengetahui tentang kasih karunia yang dicanangkan-Nya di Taman Eden, supaya manusia tahu bagaimana Sang Pencipta itu merespon persoalan dosa. Manusia mengikhtiarkan dosa, tetapi Allah mengikhtiarkan penyelamatan dari dosa.
3. Para malaikat saja tidak pernah merasakan kasih karunia Allah yang ajaib itu, karena mereka memang tidak membutuhkannya. Kita manusia mutlak memerlukan itu, selayaknyalah kita menyambutnya dengan bersyukur dan juga dengan mempraktikkan roh pengampunan yang sama terhadap orang lain.
4. KURBAN PENEBUSAN (Pengganti yang Menanggung Dosa)
 Menebus dari kutukan dosa. Hukum Musa menetapkan bahwa apabila di antara bangsa Israel ada seseorang melakukan tindak kejahatan yang luar biasa, orang itu bukan saja pantas dihukum mati tapi juga mayatnya digantung untuk menjadi tontonan masyarakat, dan dengan demikian maka seluruh keluarganya menjadi malu. Tentu saja hukuman yang terkesan keji ini dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera dan menjadi pelajaran bagi orang lain, "sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah" (Ul. 21:22-23). Namun ditetapkan pula bahwa sebelum matahari terbenam hari itu mayat tersebut harus diturunkan untuk dikuburkan. Itulah sebabnya mayat Yesus diturunkan dari salib untuk dikuburkan pada hari itu juga (Yoh. 19:38-40).
 Rasul Paulus menggunakan gagasan hukum Musa tersebut dalam menjelaskan pengorbanan Yesus Kristus untuk mati di salib, sebuah kematian yang memalukan dan terkutuk. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" (Gal. 3:13; huruf miring ditambahkan). Begitu dahsyatnya akibat dari dosa manusia yang tertanggung ke atas pundak Yesus, sehingga Juruselamat itu harus menjalani cara kematian yang dahsyat pula. Kata asli yang diterjemahkan dengan menebus pada ayat ini adalah ἐξαγοράζω, exagorazō, sebuah kata-kerja yang berarti membeli kembali atau "membayar suatu harga untuk membebaskan dari kekuasaan pihak lain." Oleh kematian-Nya di kayu salib itu Yesus membayar tebusan demi membebaskan anda dan saya dari kutukan dan kuasa dosa. Di kayu salib itu status Kristus adalah seperti orang yang terkutuk oleh dosa yang dipikul-Nya.
 "Di salib, Kristus menerima kutukan dosa demi kita. Ini merupakan perubahan dalam kedudukan-Nya dengan Bapa. Anak domba kurban itu ketika dibawa ke mezbah menjadi pengganti bagi kematian orang berdosa. Demikian pula, bilamana Kristus dibawa ke salib, statusnya di hadapan Bapa pun berubah" [alinea kedua: empat kalimat pertama].
Dosa memisahkan dari Allah. Ketika sedang tergantung di atas kayu salib, Yesus melihat Bapa di surga memalingkan wajah-Nya. Ia berseru: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46). Sebagian orang berpendapat bahwa Allah Bapa memalingkan wajah-Nya karena tidak tahan menyaksikan penderitaan yang sedang ditanggung oleh Putra-Nya itu, ada pula yang berkomentar bahwa karena Yesus Kristus saat itu sedang memikul dosa umat manusia membuat Allah yang tidak dapat melihat dosa terpaksa memutuskan hubungan sejenak dengan Putra-Nya itu.
 Sementara kedua komentar tersebut sangat baik dan dapat diterima, mungkin kita juga dapat mempertimbangkan alasan ketiga mengapa Allah memalingkan wajah-Nya dari Yesus: Allah harus "berpisah" sejenak dari Yesus supaya Putra-Nya yang sedang memikul dosa manusia saat itu terputus hubungan-Nya dengan Allah, Sumber kehidupan, sehingga Yesus bisa mati sesuai dengan tuntutan hukuman dosa. "Dengan menanggung kesalahan dosa-dosa kita ke atas diri-Nya dan mati dalam keterpisahan dari Allah, Yesus menggenapi janji yang dibuat di Taman Eden bahwa Benih perempuan itu akan meremukkan kepala ular itu. Pengorbanan-Nya memungkinkan terjadinya pendamaian antara Allah dengan umat manusia dan pada akhirnya akan menghasilkan pembersihan terakhir kejahatan dari alam semesta (Ibr. 2:14, Why. 20:14)" [alinea pertama].
 Yesus sendiri adalah Sumber kehidupan. Dia telah menunjukkan kuasa itu ketika membangkitkan Lazarus yang sudah tiga hari meninggal (Yoh. 11:1-45), dan juga anak perempuan Yairus, kepala rumah ibadah (Luk. 8:41, 49-56). Tetapi, manakala Yesus meletakkan kutukan dosa manusia ke atas pundak-Nya di atas kayu salib, bukan saja semua kuasa ilahi itu harus dilepaskan dari diri-Nya, tapi Ia juga harus mengalami kematian itu sendirian. "Terpisah dari hadirat Bapa, Ia merasakan kutukan yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan kata lain, Yesus, yang adalah Satu dengan Bapa sejak masa kekekalan, mengalami suatu perpisahan dari Bapa dalam apa yang Ellen White sebut 'keterpisahan dari kuasa ilahi'" [alinea kedua: kalimat kelima dan keenam].
 Apa yang kita pelajari tentang kurban penebusan dosa yang Yesus Kristus jalani?
1. Rencana keselamatan Allah menuntut kematian Putra-Nya sendiri sebagai kurban pengganti. Salib adalah skenario penebusan manusia yang nyata, bukan sandiwara. Di Golgota, Yesus Kristus menanggung kutukan dosa yang seharusnya ditanggung oleh anda dan saya (Yes. 53:4, 5).
2. Kematian Yesus di kayu salib disebut "penebusan" karena oleh kematian itu Dia membayar tuntutan untuk pembebasan manusia dari hukuman dosa, yaitu kematian kekal, dan gantinya menyediakan hidup kekal bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16; 1Yoh. 5:10-12).
3. Ketika menghadapi saat-saat kematian-Nya di atas salib itu Yesus harus mengalami keterpisahan dari Allah Bapa, sebuah situasi yang amat mengerikan. Mungkin bagi banyak orang yang belum menyadarinya, dosa adalah soal sepele, tapi bagi Tuhan dosa adalah masalah yang sangat serius.
5. REFORMASI ROHANI (Suatu Ciptaan Baru)
 Salib sebagai kegenapan injil. Pada hari Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Taman Eden, proses kematian mulai menjalari tubuh mereka. Samuele Bacchiocchi (1938-2008)--gurubesar agama pada Andrews University, Michigan, yang terkenal dengan bukunya From Sabbath to Sunday (1977) yang menghebohkan itu--mendefinisikan keadaan tersebut sebagai "dari satu keadaan di mana memungkinkan mereka untuk tidak mati (kekekalan bersyarat), mereka masuk kepada keadaan di mana mustahil bagi mereka untuk tidak mati (kefanaan tak bersyarat)" (Sumber: Immortality or Resurection?, Bab IV; www.biblicalperspective.com).
 Allah telah menciptakan pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, dalam keadaan mereka yang kekal secara bersyarat. Syaratnya ialah tidak sekali-kali memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu (Kej. 2:17). Karena mereka melanggar syarat tersebut--yang kita sebut sebagai "berdosa"--maka akibatnya mereka kehilangan sifat kekekalan yang disandang sejak diciptakan, dan tanda pertama dari hilangnya sifat kekekalan itu adalah tanggalnya pakaian kemuliaan yang menutupi tubuh sehingga mereka menjadi telanjang (Kej. 3:7). Belakangan, sesuai dengan firman Allah, manusia pertama itupun mati dalam arti kata yang sebenarnya (Kej. 5:5). Kefanaan pun diwariskan kepada keturunan mereka, dimulai dengan Habel yang mati di tangan Kain (Kej. 4:8), dan seterusnya kepada umat manusia hingga hari kiamat. Untuk memberantas kematian itulah Yesus Kristus datang ke dunia ini dengan cara "menanggungkan" kematian itu ke atas diri-Nya.
 "Kabar injil yang agung itu terpusat sekitar kematian Yesus sebagai pengganti kita. Dia meletakkan dosa kita ke atas diri-Nya, memikulkan ke atas diri-Nya sendiri hukuman yang jika tidak demikian pasti menjadi bagian kita. Sebagaimana yang juga telah kita lihat, keseluruhan gagasan tentang Kristus sebagai pengganti kita, mati bagi dosa dunia, terkait erat dengan kisah Penciptaan. Kristus sudah datang untuk memusnahkan kematian, yang merupakan penyusup asing dalam penciptaan Allah" [alinea pertama: empat kalimat pertama].
 Hati baru. Bangsa Israel purba jatuh-bangun dalam kehidupan rohani mereka sebagai satu umat pilihan, sehingga Tuhan bertindak dengan membuat mereka terusir dari negeri mereka dan terserak ke berbagai negara. Hukuman pembuangan itu telah menimbulkan sindiran, terhadap mereka dan terhadap Tuhan. "Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya," ejek bangsa-bangsa kafir itu (Yeh. 36:20). Akhirnya Tuhan memutuskan untuk mengembalikan mereka ke kampung halaman, bukan demi bangsa yang durhaka itu tetapi demi nama baik Allah sendiri (ay. 22-24). Untuk itu Tuhan hendak melakukan suatu pembaruan rohani. "Maka kamu Kuberikan hati yang baru dan pikiran yang baru. Hatimu yang sekeras batu itu akan Kuganti dengan hati yang taat. Roh-Ku akan Kucurahkan ke dalam hatimu dan kamu akan Kujaga supaya hidup menurut hukum-hukum-Ku serta mentaati segala perintah-Ku" (ay. 26, 27, BIMK; huruf miring ditambahkan).
 Ini adalah suatu perubahan total sehingga bangsa itu akan memiliki tabiat dan mentalitas yang baru. Dalam pengertian tertentu, tindakan Allah ini sama dengan "penciptaan ulang" untuk menjadikan mereka seperti manusia baru. "Hati baru adalah suatu ciptaan yang hanya Allah dapat lakukan. Kita tidak dapat melakukannya sendiri tetapi harus bergantung pada Pencipta yang sama yang telah membentuk dunia dan menciptakan leluhur kita yang pertama" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].
 Sebagai orang Kristen, kita pun adalah orang-orang yang sudah diciptakan baru di dalam Kristus. Rasul Paulus berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17; huruf miring ditambahkan). Itulah sebabnya kita diamarkan untuk berubah di dalam perangai dan cara hidup, "karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui" (Kol. 3:9, 20; huruf miring ditambahkan). Orang-orang Kristen yang tidak berubah kelakuannya harus mengalami "transplantasi hati dan otak" supaya pada akhirnya mereka dapat berkata seperti rasul Paulus, "Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya" (Gal. 2:20, BIMK).
 Pena inspirasi menulis: "Kuasa dari kehidupan yang lebih luhur, lebih suci, dan lebih mulia merupakan kebutuhan kita yang besar. Pikiran kita sudah terlalu banyak memikirkan tentang dunia, dan terlalu sedikit tentang kerajaan surga. Dalam usahanya untuk mencapai idaman Allah untuknya, orang Kristen sama sekali tidak boleh putus asa. Kesempurnaan moral dan rohani, melalui anugerah dan kuasa Kristus, dijanjikan kepada semua. Yesus adalah sumber kuasa itu, mata air kehidupan" (Ellen G. White, The Acts of the Apostles, hlm. 478).
 Apa yang kita pelajari tentang ciptaan baru yang dijanjikan Allah?
1. Kematian Yesus Kristus di kayu salib sebagai kurban pengganti menyediakan jalan kepada kita untuk diperbarui dan dipulihkan dari keadaan yang fana kembali kepada keadaan yang baka seperti ketika manusia diciptakan. Kali ini, pemulihan itu bersifat abadi karena maut sudah dikalahkan oleh Kristus.
2. Pada saat seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya maka terjadilah sebuah transformasi dalam diri orang itu, yaitu peralihan dari "manusia lama" diubahkan menjadi "manusia baru." 
3. Allah berjanji untuk memberikan kepada kita "hati baru" dan "pikiran baru" agar kita tidak lagi mudah ditipu sehingga jatuh ke dalam dosa seperti leluhur kita yang pertama itu. Ini hanya dapat kita terima dengan berserah kepada kuasa-Nya, tanpa pamrih.
PENUTUP
 Diterima oleh iman. Penebusan dosa melalui kematian Kristus di salib adalah cara Allah untuk "penciptaan ulang" manusia, yaitu melakukan pembaruan dalam diri orang percaya dengan menganugerahkan kepadanya pikiran dan hati baru yang akan mengubahnya menjadi manusia baru. Sebagaimana penciptaan manusia pertama, penciptaan ulang manusia untuk memulihkan keadaannya semula hanya dapat dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta. Rincian proses dari kedua hal itu, yakni penciptaan dan penciptaan ulang, hanya dapat kita terima oleh iman.
 "Bagaimana persisnya Allah menyelesaikan pekerjaan penciptaan tidak pernah dinyatakan-Nya kepada manusia; ilmu pengetahuan tak dapat mengungkapkan rahasia-rahasia dari Yang Maha Tinggi. Kuasa penciptaan-Nya tak terpahami sama seperti eksistensi-Nya" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
 Meskipun banyak hal tentang cara Allah bekerja tidak diketahui oleh manusia, sebagai umat percaya kita yakin bahwa itu semua dilakukan karena kasih-Nya kepada manusia. Rencana keselamatan yang diadakan-Nya, dengan membiarkan Putra-Nya yang tunggal datang ke dunia ini untuk mati sebagai Juruselamat dan Penebus, itu adalah bukti nyata paling penting yang bisa diperlihatkan-Nya kepada kita. Hal itu sudah lebih dari cukup sehingga kita tidak memerlukan bukti lain apapun. Lagipula, penebusan dan keselamatan tersebut disediakan-Nya bukan karena kebaikan apapun yang anda dan saya telah lakukan. Allah mau menyelamatkan kita--itu saja!
 "Ia menyelamatkan kita, bukan karena kita sudah melakukan sesuatu yang baik, melainkan karena Ia sendiri mengasihani kita. Ia menyelamatkan kita melalui Roh Allah, yang memberikan kita kelahiran baru dan hidup baru dengan jalan membasuh kita. Allah mencurahkan Roh-Nya kepada kita dengan perantaraan Yesus Kristus, Raja Penyelamat kita, supaya oleh rahmat Yesus, kita berbaik kembali dengan Allah dan kita mendapat hidup sejati dan kekal yang kita harap-harapkan" (Tit. 3:5-7, BIMK).



SUMBER :


1.   James L. Gibson, Dir.Geoscience Research Institute, Lomalinda: “Asal “Usul, Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.I, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.

2.   Loddy Lintong, California U.S.A.