Tampilkan postingan dengan label INDEX KH Penginjilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDEX KH Penginjilan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Dorongan Pelayanan Per orangan.



”ALLAH sebenarnya dapat mencapai tujuanNya dalam menyelamatkan orang berdosa tanpa bantuan kita; akan tetapi supaya kita dapat mengembangkan suatu tabiat seperti tabiat Kristus, wajiblah kita mengambil bagian dalam pekerjaanNya. Untuk dapat menikmati kegiranganNya,-- kegirangan melihat jiwa-jiwa yang ditebus oleh pengorbananNya, wajiblah kita mengambil bagian dalam segenap pekerjaanNya untuk penebusan mereka itu.”
Kerinduan Segala Zaman, hal 140
“Tabiat Jemaat yang sebenarnya di ukur, bukan dengan pengakuan yang dibuatnya…, Tetapi dengan apa yang benar-benar di lakukannya bagi Tuhan dan dengan jumlah mereka yang bekerja dengan setia dan sabar.” RH Sept 6,1881
“Engkau bersalah di hadapan Allah kalau engkau tidak berusaha sekuat tenaga membagikan air hidup ini kepada orang lain.” Historical Sketches, hal.291
Pekerjaan yang sangat penting dari gereja adalah evangelisasi, tanpa itu gereja tidak dapat berdiri. Gereja di bentuk untuk pusat pekabaran dan misi khusus adalah membawa injil keseluruh dunia.” Ev,694
“Bilamana ada aktivitas lain di dalam gereja yang mengancam atau menggantikan aktivitas “Evangelisasi dengan aktivitas yang lain, dapat di pastikan bahwa itu adalah alat setan, dan itu tidak sah.” Ev.694 .




KESIBUKAN:
Sibuk. Satu kata. Benar, kita semua sibuk. Pada posisi, pekerjaan masing-masing. Kesibukan, menemani perjalanan manusia dan kita. Anda pernah terjebak? Pekerjaan menggunung, tanggung jawab semakin besar. Namun masalahnya, kesibukan ini kita jadikan dalih, untuk membenarkan diri. Mari menginjil, maaf saya sibuk. Ayo ke KPA, maaf saya sibuk. Kita telah dan mendirikan kebohongan.
Kesibukan berhubungan dengan waktu. Di setiap tempat orang berkelahi dengan waktu. Sehingga orang tidak memiliki lagi waktu untuk dirinya sendiri, keluarga apalagi dengan Tuhan.
Sibuk, menjadi kata yang popular di tengah masyarakat, juga di masyarakat Advent. Menyebabkan hari kemarin, mungkin juga hari ini kita telah lewati tanpa membaca Alkitab. Tanpa terlibat menginjil.
Dalam aksara Cina, kata "sibuk" berarti "kematian hati" atau "hati yang mati" Kesibukan sanggup membunuh "rasa" kita, "mati rasa" Catatan buku Nehemia pasal 13, tentang kematian hati, kematian
kepekaan Israel terhadap kesucian Sabat. Delapan kali Nehemia menggunakan kata Sabat. Orang di Yehuda mengirik, memeras anggur, memuat dan mengangkut gandum, anggur dan ara. Menjual makanan pada hari Sabat. Dan Yehuda berbelanja ikan dan barang lain pada hari Sabat. Perasaan mereka telah mati? Untuk menjaga awal dan akhir Sabat. Ayat 21-Nehemia berkata: Kalau kamu berbuat itu sekali lagi, akan kukenakan tanganku kepadamu. Satu teguran keras Tuhan melalui seorang pemimpin. Nabi Nehemia. Bagaimana? Apakah hati saya mati?
Kesibukan akan mencuri dan merampas hal berharga dalam hidup kita. Sibuk menyebabkan kita kehilangan kepekaan terhadap Tuhan dan sesama. Dan lama kelamaan menyebabkan kita tidak peduli pada orang di luar diri kita.
II Korintus 10:16 Paulus menulis: Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil. Hidup kita besok, karena kita menginjil hari ini. Saya hidup hari ini karena saya menginjil kemaren. Menginjil dalam arti luas. Konsep sederhana. Saya mempercayai konsep ini, karena saya mengalaminya dan merasakannya hingga sekarang.
Ketika matahari terbenam Jumat sore ini,kita telah mengakhiri satu ronde waktu, waktu untuk bertanding. Berperang.
Saya bagikan beberapa ayat yang telah menjadi kekuatan bagi saya:
1. Filipi 4:13. I Samuel 17:34-37 Bertandinglah dengan segala kekuatan Tuhan. Bukan kekuatan saya. Memikul beban 50 kg selama 6 hari yang lalu, akan memampukan kita memikul beban setidaknya 52 kg untuk satu ronde pertanding- an berikutnya
2. Yosua 14:13-14 Penantang-penantang, lawan-lawan kita untuk ronde berikutnya adalah musuh-musuh raksasa. II Samuel 21:20-22. Musuh yang lebih kuat dari sebelumnya. Tapi ingat! Ikuti terus Tuhan, Allah Israel, maka kita akan jadi pemenang-pemenang dan pahlawan-pahlawan Tuhan. Bila saya berada di wilayah peperangan Kiryat Arba, berhadapan dengan kekuatan-kekuatan raksasa jahat, atau menghadapi orang Gibeon yang licik, Tuhan akan memberikan kuasa membaca dan mengalahkan penipuan
3. Bilangan 23:23, Ulangan 18:9-22 Tidak ada mantera dan tenung setan yang dapat merubuhkan kita dalam ronde pertandingan sekarang dan berikutnya. Karena Tuhan Pencipta kekuatan kita,
 4.Yoel 3:10. Setiap petanding harus berkata: Aku ini pahlawan. Saat itu seluruh kekuatan bantuan surga akan dikirim kepadamu.
EG White, Maranatha, halaman 261: "Semboyan kita haruslah, Maju, maju terus! Malaikat-malaikat surga akan mendahului kita untuk menyediakan jalan".

 

 

 

 

Motivasi Memberitakan Injil

Kita harus terlebih dahulu mengerti dengan jelas tentang istilah motivasi. Motivasi bukanlah tujuan, dan tujuan bukan motivasi. Motivasi adalah penyebab yang menghasilkan suatu tindakan, sedangkan tujuan adalah hasil yang diharapkan dapat tercapai melalui tindakan itu. Seringkali kita sudah mencampuradukkan kedua istilah tersebut. Misalnya, orang yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup yang kekal. Hidup yang kekal adalah istilah hasil dari percaya, bukan motivasi dari untuk percaya. Motivasinya adalah: karena kasih karunia Allah telah dicurahkan kepada kita, Kristus telah mati bagi kita dan telah menebus kita supaya kita menjadi milik-Nya, maka terdorong oleh kasihNya itulah kita mau kembali kepadaNya. Itulah motivasi untuk percaya. Sedangkan masuk surga merupakan akibatnya atau hasilnya, bukan motivasinya.
Demikian pula motivasi dan tujuan pemberitaan Injil berbeda. Jika seseorang memiliki motivasi yang murni maka ia pasti memiliki jiwa yang lurus, baik antara Allah dan manusia, maupun antara langit dan bumi. Sebaliknya jika seseorang tak memiliki motivasi yang murni, betapapun banyaknya bakat dan talenta yang ia miliki, ia tidak akan dapat mencapai hasil yang positif menyeluruh. Motivasi memang sangat penting. Allah tidak akan menerima pelayanan yang bermotivasi campuran, oleh karena itu kita harus meniadakan unsur-unsur campuran dalam motivasi pelayanan kita.
Di dalam dunia kekristenan, banyak orang berbakat yang tidak mencapai hasil pelayanan yang seharusnya dicapainya. Salah satu penyebab utama ialah motivasi yang tidak murni. Paulus berkata, "Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus" (2 Korintus 11:2). Kesucian dan kemurnian adalah hal yang terpenting pada saat kita melayani. Motivasi yang paling dasar dan paling minimal ini haruslah kita pertahankan.
Seorang yang bermotivasi murni tidak mudah mengalami depresi pada saat putus asa, tidak mudah berkompromi pada saat menghadapi musuh yang kuat, tidak mudah goyah pada saat menghadapi banyak godaan. Sebaliknya motivasi yang benar memberi kekuatan yang besar pada saat yang paling melelahkan, dan memberi keteguhan pada waktu penganiayaan menimpa, memberi suka cita pada waktu sengsara menekan; pada saat lingkungan menunjukkan kegelapan yang paling dahsyat, cahaya di dalam hati kita makin menjadi terang. Maka motivasi yang murni dan hati nurani yang suci adalah salah satu penyebab paling penting bagi suksesnya pelayanan kita. Kalau begitu, apakah sebenarnya motivasi yang murni dalam penginjilan?
1. PENGUTUSAN KRISTUS
Setelah Tuhan Yesus menang atas kuasa maut, Dia lalu mengutus gereja-Nya untuk memberitakan Injil. Jadi kita memberitakan Injil karena Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan telah mempercayakan tugas penginjilan kepada kita. Paulus berkata, "Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, ... pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku" (1 Korintus 9:17). Tuhan mempercayakan tugas itu pada diri kita, betapa mulia hal ini dan menakutkan! Siapakah yang telah menyerahkan tugas ini kepada kita? Pencipta semesta alam, Tuhan yang telah menyelamatkan saya, yang akan menghakimi saya bahkan menghakimi seluruh dunia! Tuhan yang begitu terhormat dan mulia menyerahkan tugas itu kepada kita, maka kita pun patut memiliki rasa tanggung jawab yang serius terhadapnya.
 Sejak saat rasul-rasul menerima Amanat Agung di bukit Galilea sampai sekarang kita melihat dalil yang tidak pernah berubah, yaitu barang siapa mematuhi pengutusan ini, mereka menerima pertolongan Roh Kudus. Mereka menikmati penyertaan Allah dan mereka menjadi rekan Allah untuk memberitakan Injil kepada umat manusia.
2. DORONGAN KASIH KRISTUS
Paulus menyebutkan dengan jelas, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8). Di sini terlihat bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2 Korintus 5:15).
Ketika kasih hadir dalam hidup seseorang, dia akan menemukan bahwa hidupnya dilingkungi, dipegang dan diliputi oleh kasih. Kasih telah menguasai kebebasannya, juga telah menentukan arah langkahnya. Oleh sebab itu dirinya sendiri rela ia serahkan kepada Tuhan, dan segenap potensi yang ada pada dirinya ia serahkan sepenuhnya. Dengan kasih Allah inilah beribu-ribu misionaris rela meninggalkan keluarga mereka, bangsa mereka, dan menuju tempat yang jauh untuk memberitakan Injil.
  Propinsi Galatia, Atalia dan daerah-daerah lain, yang pernah dijelajahi oleh Paulus.  Daerah itu begitu tandus, begitu luas, begitu kering. Di daerah padang belantara yang kering kerontang semacam ini, bisakah kita membayangkan bagaimana Paulus telah pergi dengan kaki sebagai kendaraannya untuk memberitakan Injil. Jika bukan kasih Kristus yang mendorongnya, mungkinkah Paulus rela berkorban seperti ini?
Dalam hati para rasul terdapat suatu tekad yang agung yaitu pergi, pergi! Paulus pergi, Petrus pergi, Yohanes pergi, Thomas pergi. Pergi ke Afrika Utara, ke Arab, ke Eropa, ke India, ke Asia kecil. Baik di padang belantara, di hutan rimba mereka hanya tahu pergi, tanpa bertanya kemana mereka harus pergi, kapan mereka kembali, apakah dijamin dapat kembali. Asalkan bisa pergi, hati mereka sudah cukup puas. Bagi orang yang rela mati di tangan Tuhan, adakah tempat yang tak dapat dikunjunginya? Manusia semacam ini semakin berat jatuhnya, semakin besar aniaya yang dideritanya, justru mendesak dia untuk menyelinap ke dalam lengan Tuhan yang penuh kasih dan kelembutan. Itulah sebabnya mereka rela pergi.
Di sinilah letak rahasia rohani: berapa besar kasih seseorang terhadap Tuhan tergantung sampai berapa dalam dia menyelami kasih dan pengorbanan Tuhan di bukit Golgota. Bila seseorang sudah mengalami kasih itu dan menyelaminya dengan sungguh-sungguh, dengan sendirinya dia dapat mengasihi Tuhan dengan lebih mendalam.
Paulus mengalami pelbagai mara bahaya, baik yang berasal dari banjir, penyamun, saudara-saudara palsu, di darat, di laut, dari orang Yahudi dan bukan Yahudi; dalam keadaan telanjang, dihina, sengsara, kedinginan, diadili dan dipukul, mengalami penganiayaan dan penderitaan, tetapi dia tetap memberitakan Injil. Apakah sebabnya dia rela menanggung semua itu? Gilakah dia? Bodohkah dia? Sama sekali tidak! sebaliknya, Paulus tergolong kaum intelektual agung pada zaman itu. Sampai hari ini dia tetap termasuk salah seorang dari puluhan pemikir yang paling besar pengaruhnya terhadap umat manusia dalam sejarah. Tokoh yang demikian besar, ternyata telah melalui suatu kehidupan yang amat sangat menderita -- dia dipukuli, dicaci-maki, dan dianiaya. Apakah sebabnya dia mau menderita penganiayaan dunia yang sementara ini? Paulus sendiri pasti merasa heran, sehingga dia menjawab, "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami ...." (2 Korintus 5:14; dalam terjemahan lain: menggerakkan dan mendorong). Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan tidak lagi bisa tahan ketika saatnya sudah tiba, demikian juga orang yang didorong oleh kasih Tuhan tak mungkin menahan diri untuk memberitakan Injil. Itulah arti dari "menggerakkan dan mendorong."
3. PERASAAN BERHUTANG
Orang Kristen adalah orang yang menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang. Dalam Alkitab kita melihat hutang kemuliaan kita terhadap Allah, hutang kasih kita terhadap sesama, dan lebih dari itu kita masih mempunyai hutang terhadap dunia, yaitu hutang Injil. Bila gereja hari ini tidak maju, itu adalah karena gereja tidak memiliki perasaan berhutang. Paulus berkata, "Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar" (Roma 1:14). Perasaan berhutang semacam inilah yang selalu mendesak Paulus memberitakan Injil kepada manusia dari lapisan mana saja. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita juga menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang ini, atau merasa diri sudah kaya sehingga menuju kepada kemiskinan rohani kita? Bukankah kita yang seharusnya menginjili dunia, tidak peduli siapa mereka, baik kaum miskin, kaum kaya, orang intelektual, maupun rakyat jelata, yang sama-sama membutuhkan Injil? Bukankah perasaan berhutang ini harus diikuti oleh pembayarannya, yakni melaksanakan penginjilan? Apakah kita sudah memperlengkapi diri untuk mengisi kebutuhan setiap lapisan masyarakat dengan Injil secara relevan?

 

 

GAIRAH DALAM BERSAKSI DAN MEMBERITAKAN INJIL

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14)

Berbagai persoalan yang muncul di akhir zaman ini, menyebabkan gereja kehilangan semangatnya (passion) untuk bersaksi dan menginjil. Bersaksi dan memberitakan Injil sudah seharusnya menjadi program utama gereja. Apapun program pelayanan yang kita buat atau rencanakan dalam gereja lokal, jika hal itu tidak bermuara kepada jiwa-jiwa yang diselamatkan, maka sebenarnya gereja tersebut telah keluar dari tujuan yang sesungguhnya. Jangan kita berpikir apabila kita telah menghabiskan waktu berjam-jam melayani di gereja, memberi persembahan untuk membantu pekerjaan misi, itu sudah cukup. Itu tidak bisa menggantikan tugas utama kita untuk pergi bersaksi dan memberitakan Injil. Tugas memberitakan Injil, tidak bisa digantikan dengan yang lain. Kita harus pergi dan menyaksikan kepada orang banyak, apa yang Yesus perbuat terhadap diri kita. Kita perlu menyaksikan karya dan kasih Kristus kepada orang-orang yang berada di luar gereja dan memberitakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup.
Dalam Injil Matius 24 khususnya pada ayat 1 sampai 14 ini, kita melihat ada terjadi suatu dialog antara para murid dengan Yesus. Dalam dialog tersebut para murid mengajukan 3 pertanyaan kepada Yesus: pertama, kapan Bait Allah akan hancur; kedua, apa tanda-tanda kedatangan Kristus yang kedua kalinya, dan yang ketiga adalah apa tanda-tanda akhir jaman. Kemudian di dalam ayat 4-14, ini adalah jawaban yang diberikan Yesus atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Menarik sekali untuk kita renungkan ayat 14 ini, karena dari semua tanda-tanda yang disampaikan oleh Yesus, tanda tentang Injil Kerajaan harus diberitakan ke suluruh dunia dan menjadi kesaksian bagi semua bangsa merupakan tanda terakhir. Artinya seluruh dunia dan semua suku bangsa harus mendengar Injil, barulah tiba saatnya kedatangan Yesus yang kedua kali. Dan yang lebih menarik lagi adalah, walaupun ada berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh gereja Tuhan di akhir zaman ini seperti: ada nabi palsu dan ajaran sesat (ay 4,5,11); ada peperangan (ay 6); ada kelaparan dan gempa bumi (ay 7); umat Tuhan dianiaya (ay 9-10); banyak orang kristen murtad (ay 10); dan dosa merajalela sehingga banyak orang kristen menjadi suam (ay 12), gereja Tuhan harus tetap pada panggilannya yaitu bersaksi dan memberitakan injil. Ini adalah tugas utama yang harus dikerjakan oleh gereja Tuhan sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Namun tugas penting ini seringkali dilalaikan oleh gereja Tuhan.
Ada orang berkata, ‘saya mau bersaksi tetapi saya takut.’ Saya coba memberi sebuah ilustrasi: apabila Saudara pergi kepengadilan, jika ada seorang saksi yang takut bersaksi maka kemungkinan besar bahwa kesaksiannya itu bohong atau tidak benar dan omong kosong. Kemungkinan lain adalah saksi tersebut sedang diintimidasi, ditekan, diancam dan sebagainya, sehingga ia takut berbicara. Jadi, jika Saudara tidak berani untuk bersaksi, atau gereja tidak punya gairah lagi untuk memberitakan Injil, pertanyaannya adalah, apakah Saudara sedang percaya pada Juruselamat yang palsu? Atau Saudara sedang berada di bawah ancaman? Ingat perkataan Yesus : “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Tantangan dan ancaman apapun yang kita hadapi, percayalah bahwa Tuhan senantiasa menyertai orang-orang yang pergi memberitakan Injil. Haleluya!
Jika gereja Tuhan merindukan akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, maka gereja Tuhan harus bersemangat, bergairah, harus memiliki passion untuk bersaksi dan memberitakan Injil. Gereja Tuhan harus bersemangat dalam melatih, memuridkan serta mengutus para misionaris ke suku-suku yang belum dijangkau oleh Injil. Tapi sayangnya ada banyak gereja Tuhan akhir-akhir ini yang hanya memikirkan ke dalam saja, kepentingan dirinya sendiri, tetapi kurang memiliki kepedulian kepada orang-orang yang belum mendengar berita Injil. Seharusnya gereja memiliki gairah yang tinggi dalam bersaksi dan memberitakan Injil.
Ada 3 alasan mengapa kita harus tetap memiliki gairah atau passion dalam bersaksi dan memberitakan Injil :

1. Karena kita percaya bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah hanya melalui Yesus Kristus.
Ada orang berkata bahwa ada banyak jalan ke Roma demikian juga jalan ke sorga. Tetapi Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Rasul 4:12). Demikian pula ditegaskan oleh Yesus sendiri di dalam Injil Yohanes 14 : 6 bahwa, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Firman Tuhan ini merupakan sebuah pernyataan tentang sebuah kepastian, tentang satu-satunya jalan serta cara yang harus ditempuh manusia, apabila ia ingin mendapatkan keselamatan yang kekal bersama Bapa di Sorga, yaitu dengan beriman dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Yesus Kristus adalah jalan bagi semua orang yang ingin memperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan kesuksesan hidup. Pengakuan bahwa Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan bukan karena hanya didasarkan pada ajaran dan khotbah-Nya, tetapi lebih dari itu didasarkan pada bukti-bukti pekerjaan atau karya keselamatan yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus terlihat mulai dari saat Dia lahir, ketika Ia melayani dan akhirnya Ia mati di kayu salib serta dibangkitkan. Ini yang membuat kita tetap bergairah untuk bersaksi dan memberitakan Injil karena Kabar baik yang kita sampaikan bukan isapan jempol  tetapi sebuah fakta yang sangat akurat.

2. Karena ada janji penyertaan Tuhan.
Ada banyak alasan orang takut untuk bersaksi dan memberitakan Injil. Takut ditolak, dikucilkan, dianggap terlalu fanatik, dan lain sebagainya. Apapun alasan kita, pada dasarnya kita mau mencari aman saja. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:24-25).
Kita harus percaya bahwa Tuhan pasti menjaga dan menyertai orang yang mau pergi untuk bersaksi dan memberitakan Injil. Matius 28:19-20, berkata “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Di dalam Injil Markus 16:20 juga dikatakan bahwa, “Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Jadi, apalagi yang perlu kita takuti. Bergairahlah dalam memberitakan Injil, karena janji penyertaan-Nya adalah ya dan amin.

3. Karena ada upahnya.
Selain janji akan penyertaan-Nya lewat tanda-tanda mujizat, Tuhan juga menyediakan upah khusus bagi mereka yang pergi memberitakan Injil. “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (Matius 10:10). Hal ini juga ditegaskan dalam 1 Korintus 3:8 bahwa, “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” Jerih payah kita dalam memberitakan Injil tidaklah sia-sia. Tuhan selalu memperhitungkan hal itu.
Kiranya hal ini mendorong kita untuk tetap memiliki gairah dalam bersaksi dan memberitakan Injil sampai Yesus datang pada kali kedua.-

Selasa, 12 Maret 2013

Mengkomunikasikan "Kasih"




    ARTI DAN UNSUR YANG PERLU.
   
  “Suatu seni dan kesukaan dalam menceritakan Kabar Baik.  Komunikasi melibatkan banyak hal daripada hanya sekedar menceritakan atau berbicara. 
   Dari banyak unsur yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan baik, tidak ada yang lebih penting daripada KASIH. (1 Korintus 13:1); Roma 5:7,8.
   Pentingnya berbicara dengan kasih—pentingnya “kasih dalam perbuatan”.
   Ini memperlihatkan kepada mereka yang akan kita tolong bahwa dengan perbuatan kita, kita sungguh-sungguh mengasihi mereka.  Kasih semacam ini dapat lebih baik dikomunikasikan melalui perbuatan daripada melalui sekedar kata-kata.”
                                                APA PENTINGNYA?
1, Baca 1 Korintus 14:8-12.
    Tidak ada hal yang semudah bicara dan tidak ada hal yang se-sulit berkomunikasi.  Pernahkah saudara berdoa memohon karunia berbicara?.  Ada karunia  yang lebih besar, dan itu adalah karunia berkomunikasi.  Inilah yang didambakan oleh Rasul Paulus.  Pokok pemikiran yang menjadi klimaks ayat-ayat tadi tertulis dalam 1 Korintus 14:19 (baca).  Perhatikan: 5(lima) kata yang dapat dimengerti dan dikomunikasikan pada orang lain lebih baik daripada 10 000 kata yang tidak komunikatif.

2. 2 Timotius 2:2 (baca)..  Rasul Paulus berkata bahwa Allah telah mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang memberI hidup kepadanya dan gilirannya adalah menyampaikan kebenaran-kebenaran itu kepada orang lain.

                                                MENGKOMUNIKASIKAN INJIL
   Ada 3(tiga) bagian utama dalam memulai proses komunikasi:
I.             BAGIAN MENTAL(Intelek):
Harus mengetahui sesuatu sebelum mampu untuk menyampaikannya (misalnya: konsepnya, beritanya dan pentingnya).
Tiap orang, hari ini berhenti belajar, berarti berhenti berkomunikasi pada ke esokan harinya.

PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN DALAM MENYAMPAIKAN BERITA INJIL:

1.   Berita injil itu dibeberapa gereja dikemukakan secara intelektuil saja.  Sebab para anggota gereja menganggap bila informasi disampaikan dengan tepat maka orang-orang akan menjadi Kristen sejati yang otomatis. “ Bukan….Baca Matius 7:21-23.”
2.   Kebenaran itu sebagai sesuatu yang hanya dapat di utarakan dalam bangunan gereja saja.  –Gereja dijadikan tempat penimbunan kebenaran.
   Kita harus pergi memasuki dunia yang tersesat.  Dr.James Steward, professor Perjanjian Baru di Universitas Edinburgh berkata: “Ancaman terbesar bagi gereja bukanlah komunisme, atheism ataupun materialisme, melainkan usaha orang-orang Kristen untuk menyelinap masuk kedalam sorga tanpa pernah membagikan kepercayaan mereka. Tragisnya,…orang-orang ini memiliki kebenaran itu, namun kebenaran itu tidak cukup menguasai mereka sehingga mereka lupa bahwa penginjilan sebenarnya merupakan proses dari seorang pengemis yang memberitahu pada pengemis lain di tempat mana dapat ditemukan makanan”.
II.           PERASAAN MENGENAI BERITA ITU:
   Seorang pernah bertanya 100 tahun yang lalu kepada Charles Haddon Spurgeon:”Bagaimana saya dapat berkomunikasi seperti saudara?”.  Jawabnya: “Tuanglah minyak tanah keseluruh tubuhmu, nyalakan korek api dan orang-orang akan datang menyaksikan saudara terbakar.”
   Apakah berita Injil begitu mempesona, dan menggelorakan hati saudara sama seperti saudara menghendaki agar berita itu menggelorakan hati para pendengar yang sungguh-sungguh belum pernah mendengarnya?”.
   Saudara tentu pernah mendengar cerita tentang seorang penggerak massa yang berbakat…Ia naek keatas sebuah kotak dan berteriak-teriak keras.  Ia begitu percaya kepada hal-hal yang dia kemukakan itu sehingga 150 orang mengikutinya.  Ada emosi lain yang nyata-nyata dapat berkomunikasi dengan manusia, yaitu : KASIH.  Memang kasih itu tentu lebih dari hanya sekedar perasaan saja, tetapi dalam KASIH pastilah juga termasuk perasaan kita.  Semakin kita menunjukkan kasih pada seseorang, semakin besar pengaruhnya yang kita dapatkan dalam hidupnya.
   Di satu perguruan tinggi, ada  seorang mahasiswa yang sering sakit.  Suatu ketika isterinya jatuh sakit keras.  Seorang dosen mulai melibatkan diri dengan persoalannya dan menemukan masalahnya.  Dosen itu berkata: “Saudara,…saya akan berikan uang padamu.  Jangan ceritakan pada siapapun tentang hal ini.  Saya hanya ingin supaya kau tau bahwa saya mengasihimu”.  Mahasiswa menjawab: “Jangan professor, nanti bapak kekurangan.  Dosen menjawab: “Saya rasa inilah yang Allah ingin saya lakukan, jadi jangan ambil daripadaku hak istimewa untuk memberi ini.”
   Mereka kemudian menjadi begitu akrab ketika perasaan dosen itu sebagai professor pindah ke perasaan seorang sahabat, seorang saudara Kristen yang lebih dari hanya sekedar nama saja.  Saudara tidak dapat berkomunikasi secara dalam dengan seseorang sampai saudara mengasihinya.  Dan semakin saudara mengasihinya, semakin ingin saudara untuk berkomunikasi dengannya.  Kita mungkin bertanya: “Mengapa orag-orang dulu mengikut Yesus?.” Alasan yang kuat adalah karena Yesus mengasihi mereka secara terbuka dan terus terang.  Ia mengkomunikasikan kasih-Nya dengan menyediakan waktu berkumpul bersama-sama dengan mereka dan selalu mencurahkan perhatian-Nya kepada mereka.  Bahkan amarah-Nya pun dilakukan dalam kasih.
   Seorang yang penuh kasih, adalah seorang pemimpin dan seorang pemimpin yang berharga adalah seorang yang penuh dengan KASIH.
III.          TINDAKAN(Kelakuan).
   Bagian ke tiga dalam proses komunikasi ialah: Tindakan(kelakuan).
   Kita berbicara baik dengan tindakan maupun dengan kata-kata.  Kadang-kadang tindakan kita menghapuskan nilai kata-kata kita.  Apa yang kita lakukan harus selalu selaras dengan apa yang kita tau.  Tindakan harus sejalan dengan kata-kata.  Mempelajari berita Injil adalah dengan jalan mempraktekkannya, dan yang kita harus lakukan adalah merealisasikan berita itu dalam tindakan hidup kita sehari-hari diantara orang-orang yang bukan Kristen.  Itulah sebabnya, kita jangan hanya menjadi pemenang di dalam gereja.-  
     Kiranya berkat Tuhan Allah akan senantiasa menjadi bahagian kita sementara kita mengkomunikasikan KASIH dalam perkataan maupun dalam tindakan kita sehari-hari.  Amin !.
               Howard G. Hendrick, Beritakan Injil dengan kasih, hlm.30-37
               Huruf miring ditambahkan.
              

Sabtu, 05 Mei 2012

Membangun Strategi & Program Penginjilan dan Kesaksian yang beraturan dalam gereja.


                1 Korintus 3:2 “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya”.

Pokok Pikiran: Dalam semua kegiatan penginjilan dan kesaksian, adalah penting agar terlebih dulu kita memberikan kebenaran Injil yang mudah untuk dicerna.
   *Susu: Makanan alamiah seorang bayi/prinsip-prinsip dasar dari Injil. Makanan keras(KJV: daging) – makanan padat, menggambarkan: Kebenaran yang lebih dalam/lengkap dari Injil.(6 BC 674).

Judul Pelajaran kita: MEMBANGUN STRATEGI  & PROGRAM PENGINJILAN DAN KESAKSIAN YANG BERATURAN DALAM GEREJA  :
1.       Mengerti apa yang dibutuhkan seseorang:  Yesus mengerti : Lukas 9:11 “berkata-kata kepada mereka tentang kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan.”  Yesus rindu menyembuhkan fisik dan rohani.  Matius  :35-40------Melayani orang-orang yang dikasihi Yesus(saudaraKu yang paling hina ini) –sama seperti melayani Yesus sendiri.
*Ada sukacita melayani kpd. yang homeless – ketika terjadi badai/bencana alam, dll.  Providing shelter & clothes, yang sakit dll.  Yakobus 2:14-18 “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”.

*Our love must be expressed through meeting the needs of others.
      2.   Selalu mengingat Strategi Paulus : Sama seperti makanan untuk bayi dimulai dengan SUSU,
          kemudian perlahan-lahan meningkat kepada makanan keras, bayi dalam Kristus hrs menerima
            makanan rohani yang dapat dicerna sesuai dengan tingkat pemahaman rohani mereka.
        
                    SUBJECT SEQUENCE (Urutan subject):
*Dengan subject apa yang harus kita mulai.  Itu adalah melihat orangnya, apakah dia mantan SDA, dll.
*Tapi pd umumnya harus kita mulai dari dasarnya.  Apakah dasar kita?.  R.N –harus yang terakhir.
   Kenapa?  Harus ada dasar-dasar dulu (makanan susu).
*Ilham Alkitab- bisa dibuat pada permulaan.
*PATOKAN/DASAR UNTUK SUBJECT SEQUENCE :
I.ACCEPTANCE OF CHRIST – Penerimaan Kristus.  Orang tidak menerima Kristus kalau tidak menerima:
                a. Inspiration of the Bible(Ilham Alkitab): Daniel 2, Apakah Yesus dongeng? (Kalau Islam).
                b.Kedatangan Yesus. c. Tanda-tanda Kedatangan-Nya + sorga. d.Millenium.e. Bumi baru.
    3. Kebenaran-kebenaran yang menguji : (Jadi perlu menuntun orang banyak untuk menerima Kristus sebelum meminta mereka  melakukan sesuatu untuk Dia.)
II.OBEDIENCE (Penurutan): a.Hukum b.Setan.c.Dosa & Orang berdosa(Kejatuhan Hawa)d.Penebusan.
                e.Sabat.f.Perobahan sabat.g.Sabat dalam Perjanjian Baru.
III. REFORMATION (Pembaharuan) – Ini harus dibuktikan dalam hidupnya:
                a.Stadard Kristen: -makanan & minuman keras(rokok,narkotika,teh,kopi,makanan b. perhiasan2, kepelesiran & pergaulan(bioskop,kartu,dll).c.Pertobatan/pengakuan.  d. Doa  -boleh dimasukkan kemana saja.  Iman dapat juga digunakan pada bahagian Obedience(Penurutan)
IV. CHURCH MEMBERSHIP (Keanggotaan Gereja): a.Perpuluhan.b.Persembahan.c.Roh Nubuat.d.Tanggung jawab bersaksi. e. BAPTISAN.
*Kalau hanya 1(satu) minggu ---ambil saja yang inti-intinya.

SUBJECT YANG DIAJARKAN SESUDAH DIBAPTIS (Yang menguatkan):
                Mis: Daniel dan Wahyu; Pertarakan; Vegetarian.
  *Jadi mulai dengan umpan yang enak dulu (SUSU).

*Pengalaman membuktikan, bahwa orang lebih mudah memberi respons positif terhadap kebenaran yang menguji jika mereka punya kasih yang mendalam pada Juruselamat.  Jadi urutan yang benar dalam proses penginjilan akan memberikan hasil yang terbaik.

4. Menanyakan pertanyaan2 yang menguji pada saat pelajaran Alkitab diberikan –untuk mengukur pemahaman dan perkembangan kerohanian seseorang.
    --Dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat terbuka.

5. Perawatan dan Pemeliharaan :  Setiap org yang pernah menanam sayur di kebun –ada langkah-langkah yang harus di ikuti jika ingin mendapatkan hasil yang di inginkan.
 *Proses yang sama juga harus dilakukan bagi orang yang berada dalam perjalanan rohani ---sebelum dia dibaptiskan.
*Perencanaan  yang baik utk perawatan dan pemeliharaan –penting diadakan.  Proses perawatan terus berlangsung –sampai dia dapat merawat orang lain. Sampai dia menjadi murid dan kemudian bisa memuridkan orang lain.

6. Menemukan Target Pendengar:   Untuk menentukan kelompok target, kita bisa melihat dalam gereja.
  -Mis.  Mereka yang selalu datang ke gereja namun belum dibaptis; yang sering menghadiri acara-acara khusus di gereja/program-program gereja.

Kesimpulan : Kita harus menyampaikan kebenaran-kebenaran  Injil yang dapat menuntun jiwa-jiwa kepada suatu hubungan yang mengasihi dan menyelamatkan dengan Kristus, kemudian mengajak umat percaya yang masih muda itu untuk memiliki komitmen dan penurutan.

                                                                                ====000===

Sabtu, 21 Januari 2012

Bertolaklah ke tempat yang dalam.



Pendahuluan:
         
          Perintah Kristus yang merupakan tantangan bagi para muridNya dahulu dan bagi kita para muridNya saat ini dapat kita ketahui dalam Lukas 5:4 “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”.
          Saudara-saudaraku yang kekasih didalam Tuhan,
   Sudah tiba saatnya bagi gereja untuk bergerak lebih cepat dari yang sebelumnya agar dapat menarik jiwa lebih banyak bagi Kristus.
  

1.       Perintah Kristus “BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM” (Lukas 5:4 ) adalah merupakan suatu panggilan yang ditujukan buat seluruh gereja agar setiap gereja kita dapat menentukan tujuan-tujuan Penginjilan – yang sungguh-sungguh.  Menurut petunjuk Illahi: Penginjilan baru lah mencapai kemajuan bilamana seluruh anggota GMAHK bergerak bersama-sama menyampaikan kabar selamat kepada jiwa-jiwa yang berada di kota-kota besar maupun di tempat yang terpencil.        Sekaranglah waktunya bagi umat Allah untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala Injil agar banyak jiwa yang diselamatkan dalam Kerajaan Sorga.
2.          PETUNJUK ILLAHI : “BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM” adalah bagaikan sebuah lonceng/alarm yang mendesak agar kita segera bangun dan begerak.  Gereja mustahil(tidak mungkin) dapat memperoleh hasil yang luar biasa seperti yang terjadi pada zaman Pantekosta kalau kita tetap menangkap ikan didalam air yang DANGKAL.  Kita tidak dapat memenangkan jiwa sementara kita masih tetap memiliki perasaan puas dengan diri sendiri, kurang pengorbanan, bila kita tetap dalam keadaan suam-suam kukuh seperti sidang Laodekia.

Saudara-saudaraku,
   GMAHK dimulai dengan pergerakan yang active/giat serta sungguh-sungguh dan jika kita ingin melihat agar pekerjaan ini segera dapat diselesaikan maka kita juga perlu mengakhiri pekerjaan ini dengan suatu pergerakan yang lebih giat dan sungguh-sungguh dari yang sebelumnya.  Sementara PINTU MASIH TERBUKA BUAT PENGINJILAN, maka anggota gereja haruslah secara serentak BERTOLAK dan MENEBARKAN JALA INJIL agar lebih banyak jiwa yang dibawa ke dalam gereja Allah.

3.      “BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM” adalah merupakan panggilan Allah agar kita memberikan seluruh PRIORITAS kepada PEKERJAAN INJIL.
4.      “BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM” berarti mengingatkan agar seluruh Departemen dalam gereja BERGERAK BER SAMA-SAMA.  Hal ini berarti melibatkan PENGINJILAN melalui : K.P.A, CERAMAH UMUM, Penginjilan yang dilakukan oleh Kesehatan, P.A., Komunikasi dan PENERBITAN(Penginjilan melalui Literatur, dll.
5.      Perintah ganda : “BERTOLAKLAH….dan TEBARKAN” adalah suatu perintah Allah yang menjanjikan SUKSES.
6.      Perintah untuk”BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM” bukan hanya ditujukan kepada para pekerja/pendeta, tetapi juga kepada kita semuanya(sebagai anggota Jemaat).

Saudara-saudaraku,
   Apakah artinya perkataan ” DALAM” disini?,
   Perkataan ”DALAM” berarti : SELURUH PENDUDUK DUNIA INI!, yang harus dijangkau oleh Injil Yesus Kristus.
   PENJALA – tidak pernah pergi menjala Ikan ke KOLAM RENANG, melainkan mereka bertolak ke tempat yang dalam: SUNGAI, DANAU-DANAU DAN BAHKAN KE LAUT.
   Yang” DALAM” berarti : Hal ini meliputi seluruh lapisan masyarakat, golongan elite, bangsawan, cendekiawan(Lapisan atas, menengah dan rendah), golongan THE HAVE dan THE HAVE NOT.

   Sekaranglah waktunya bagi kita untuk meninggalkan AIR YANG DANGKAL(Sifat APATIS) dan kemudian memulaikan satu penginjilan yang dipenuhi Roh Suci.
   Saudara-saudaraku yang kekasih didalam Tuhan,
   Ditempat yang ”DALAM” , banyak jiwa yang MENUNGGU KEDATANGAN KITA.

   ”Sungguh banyaklah jiwa oleh karena PRASANGKA, maka mereka tidak akan pernah mengetahui akan kebenaran KECUALI KEBENARAN ITU DIBAWAK KE RUMAH MEREKA”. 4 T.  314.

7.”BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM” adalah satu-satunya STRATEGY KRISTUS  yang dapat kita gunakan agar gereja dapat BERKEMBANG(Resep dari Allah agar gereja mendapat Kemajuan).  Kita harus mengetahui bahwa: Tanpa memiliki Iman yang hidup dan tindakan yang dinamis maka tidak akan ada Hasil(produk).  KUNCI UTAMA agar Penginjilan mendapat Kemajuan yang pesat, jelas diungkapkan dalam sambutan Petrus yang tanpa ragu-ragu kepada perintah Kristus untuk ’BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM”.
   Mati kita teliti FAKTOR IMAN yang terdapat pada jawaban Petrus kepada Yesus dalam Lukas 5:5 ”Simon menjawab:”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”.
.....Because you say so, I will let down the nets” (NIV).
INI ADALAH SUATU IMAN YANG MENGHARAPKAN HASIL.  Hal ini adalah merupakan TINDAKAN IMAN dan adanya SIKAP TUNDUK/PATUH KEPADA PERINTAH. 
   Sebenarnya Petrus adalah seorang ahli dalam hal menangkap ikan.  Jadi dia tahu bagaimana, kapan dan dimana tempat yang baik untuk menjala/menangkap ikan.
   Petrus sebagai seorang Nelayan Professional berusaha menggunakan segala tekhnik yang dia ketahui, segenap keahlian yang dia miliki dalam bidang ILMU PENJALAAN IKAN.  Menurut pengakuannya, dia telah bekerja semalam suntuk namun tidak berhasil menangkap ikan walupun se sekor.  Hal ini menunjukkan pelajaran kepada kita, bahwa USAHA MANUSIA akan mengalami kegagalan tanpa digabungkan dengan KUASA ILLAHI.
   Sebagai penyataan PENURUTANNYA kepada Perintah TUAN ATAS SEMUA PENJALA, tanpa ragu-ragu Petrus pun MENEBARKAN JALANYA dan dengan disertai IMAN, ia pun menunggu hasilnya.  TERNYATA BERHASIL.  Pada akhirnya, Petrus telah mengetahui dan mulai percaya akan KEMANJURAN METHODE ALLAH.
   Memang tepatlah apa yang dinyatakan dalam kitab Zakharia 4:6 “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan rohKu, firman Tuhan semesta alam”.
   Sebagaimana halnya dengan pengalaman Petrus, mungkin kita telah terlalu lama MENJALA DI DALAM AIR YANG DANGKAL dan tidak membawa hasil karena kita hanya MENGANDALKAN USAHA DAN KEKUATAN KITA SENDIRI.  Selama ini kita mungkin telah membuat banyak rencana untuk melakukan Penginjilan dengan program-program yang menarik, menggunakan tekhnik modern, memberikan insentive kepada program penginjilan, namun semuanya program itu tidak mendapat tuntunan dari Rohhulkudus.
   Sebagaimana halnya Petrus telah menerima tantangan untuk memulai satu methode penginjilan yang benar dari Allah maka hal ini juga merupakan tantangan yang harus kita terima pula, yakni : “BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM, DAN TEBARKANLAH JALAMU”.

   Saudara-saudaraku yang kekasih,
   Satu penginjilan supaya berhasil,…HARUSLAH MENGIKUTI POLA KRISTUS.
   “BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM” berarti tidak bergantung atas kebijaksanaan manusia, kepintaran manusia atau program2 yang hebat, budget yang banyak, fasilitas yang super mewah melainkan atas IMAN YANG DISERTAI PENURUTAN.
   “Pekerjaan Tuhan di dunia ini tidak akan pernah selesai sebelum anggota-anggota jemaat, pria dan wanita, turut bekerja dan mempersatukan usaha-usaha mereka dengan usaha-usaha para Pendeta dan pegawai-pegawai jemaat”.
              EG White, Gospel Workers, hlm.352.

   Bila seluruh gereja bergerak bersama-sama ke tempat yang dalam(Kepada penduduk dunia yang demikian padatnya sekarang ini), maka pengalaman seperti pada zaman Pantekosta akan terulang kembali pada zaman kita ini.  Sebagaimana pengakuan Petrus, gereja juga perlu menyatakan pengakuannya seperti dalam Lukas 5:5 “Because you say so”= “Tetapi karena engkau menyuruhnya”.

HASIL YANG MENGAGUMKAN :
   Sebagai hasil sambutan Petrus terhadap perintah Kristus untuk “Bertolak ke tempat yang dalam”, jelas dilukiskan dalam Lukas 5:6,7 “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.  Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam”.

   Tuhan Allah menjamin KEBERHASILAN jika seluruh anggota jemaat dan para pemimpin jemaat dengan IMAN dan PENURUTAN mau melaksanakan STRATEGI/METODE KRISTUS.
   Matius 4 : 18, 19 “Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya.  Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.  Yesus berkata kepada mereka:”MARI, IKUTLAH AKU, DAN KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA”.
   Saudara-saudaraku yang kekasih,

   Tuhan memanggil kita agar menjadi PENJALA MANUSIA.
   HASIL-HASIL DARI BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM :
  1. Hasil penangkapan yang mengesankan:
   Lukas 5:6—”mereka menangkap sejumlah besar ikan,sehingga membuat jala mereka mulai koyak....
   Sebagai hasil sambutan atas perintah Kristus, mereka telah memperoleh hasil yang berlimpah!.  Inilah yang kita harapkan dari Allah agar terjadi kepada GerejaNya.
   Pada akhir zaman ini, Kristus masih tetap mengadakan PANGGILAN kepada kita para muridNya untuk ”BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM DAN MENEBARKAN: JALA INJIL”.
   Bila hal ini kita lakukan maka dengan kasih karunia Allah , akan banyak jiwa yang diselamatkan.  Jala yang mulai koyak adalah lambang dari satu gereja yang MAJU, DINAMIS DAN BERTUMMBUH.

  1. Hasil yang kedua: PERSATUAN DALAM GEREJA.
  Lukas 5:7 .....lalu mereka(teman-temannya) datang, lalu mereka ber sama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam”.

-Adanya PARTISIPASI dari seluruh anggota jemaat telah menghasilkan banyak jiwa yang dibawak masuk ke dalam Kerajaan sorga.  Tuhan Allah  sedang menunggu agar pengalaman seperti ini terjadi kepada gerejaNya pada zaman ini.

-Gereja yang BEKERJA adalah gereja yang bersatu, dan gereja yang bersatu akan menjadi GEREJA YANG BERTUMBUH.
  
   Cara hidup Jemaat yang pertama kita boleh baca dalam Kisah para rasul 2:42,47 :
(Jumlah mereka hari itu bertambah kira-kira 3000 jiwa)
Ayat 42 “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka  selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”. Ayat 47:”sambil memuji Allah. Dan mereka disukai  semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”.

  1. Hasil yang ketiga dari :BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM: HASIL YANG LUAR BIASA, MENGHASILKAN TANTANGAN2 YANG LUAR BIASA PULA.
Lukas 5:7 “Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya...

-Dep.PP,SS,Kesehatan, Pendidikan, Penatalayanan, Penerbitan, Gembala,pemimpin....Semua harus bersatu untuk melakukan tindakan secara setentak mengadakan Penginjilan kepada dunia agar dapat dimenangkan bagi Kristus.

KONKLUSI :
   Bila kita bersatu, bila kita menyerahkan diri dibawah pimpinan Roh Suci, maka kita akan berhasil melakukan perkara yang luar biasa bagi Allah.
   Markus 1:17 Kristus mengundang: “Mari, ikutlah aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia”.

   Biarlah kita selalu mengingat bahwa tugas gereja yang terutama ialah Penginjilan yang aktif/giat.

     Calling....
                        George Brown, Ministry Ag.1985, p.7-9.