Tampilkan postingan dengan label BAIT SUCI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAIT SUCI. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2013

Siklus Belajar 8: KRISTUS, IMAM KITA.

           MOTIVASI:
Fokus Alkitab : Ibrani 7:25 dan 8:1,2

   Kristus mengantarai umat-Nya di Bait Suci Surgawi dan selalu siap(always ready) untuk menolong mereka meskipun mereka bergumul dengan kenyataan dosa dan masalah-masalah kehidupan.  Dia bukan hanya ingin untuk membuat orang-orang berdosa menyadari perilaku mereka yang merusak, tetapi secara khusus membantu mereka melalui kasih-Nya yang terbatas.  Sebagai Mediator dan Pengantara mereka, Dia rindu memberikan kepada mereka kemenangan atas dosa.  Terlepas dari kegagalan mereka, Dia melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk memenangkan kepercayaan mereka dan membangun hubungan yang bermakna dengan mereka.
   Pelajaran kita: Agar kita mengerti arti pelayanan pengantaraan Yesus(the meaning of Jesus’ intercessory ministry). Dia ingin menyelamatkan kita sepenuhnya dan menolong kita dalam pergumulan kita setiap hari.
   Bagaimana pendapat Anda: Mengapa Anda membutuhkan Kristus sebagai Pengantara dan Pembelamu?.

MENYELIDIKI:

   Komentar Alkitab:
I. Apakah yang Tidak Berarti bagi Yesus menjadi Pengantara kita dalam Bait Suci surgawai? (Tinjau kembali 2 Kor.5:19-21).
1. Yesus tidak perlu memohon dengan  Allah atas nama kita atau mengemis kepada-Nya untuk bermurah hati kepada kita karena Bapa Surgawi kita mengasihi kita (lihat Yoh.16:26,27).
2. Yesus tidak perlu mengubah sikap Bapa terhadap kita atau menenangkan Allah yang murka sehingga Ia akan memberikan kepada kita sedikit kasih karunia-Nya, dan ini adalah karena Dia menyediakan sarana pendamaian: (Baca Yoh.3:16).
3. Yesus tidak perlu mendamaikan Allah dengan kita, tetapi kita manusia perlu untuk diperdamaikan dengan-Nya!.  Paulus menjelaskan bahwa sebagai duta-duta besar Allah pekabaran pendamaian kita adalah: "Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah”./”Be(you people) reconciled to God”.(2 Kor.5:20).

*Yesus Kristus adalah hanya satu-satunya Pengantara kita (1 Tim.2:2-6).  Penegasan Paulus dimaksudkan untuk melawan ajaran Gnostik pada zamannya. Dia adalah Pengantara kita, karena Dia memberikan diri-Nya bagi manusia untuk menebus kita.  Pada kenyataannya ini adalah merupakan realisasi dan aktualisasi dari pekerjaan-Nya bagi kita di kayu slaib.  Kita memerlukan kematian dan kehidupan-Nya agar hidup, agar menjadi pengikut-Nya saat ini.  Mengapa inkarnasi dan kematian Yesus adalah prasyarat bagi pelayanan pengantaraan Kristus bagi kita?.

II. APAKAH ARTI PELAYANAN PENGANTARAAN YESUS? (Tinjau kembali Ibr.7:25 dan Wahyu 12:10-12)
1. Yesus Kristus dan Bapa Surgawi bertemu bersama(dalam bahasa Alkitab “to intercede”/“mengantarai” berarti “to meet”/“bertemu”) agar/supaya membantu manusia dalam pergumulan mereka setiap hari melawan kejahatan.  Hasil nyata pertama dari pertemuan antara Bapa Surgawi dan Yesus adalah pemberian Roh Kudus kepada para umat percaya (lihat Kisah 2).  Segenap surga bersatu untuk menolong kita dalam pergumulan-pergumulan  kita dengan dosa, Setan, dan pencobaan (Yoh.15:5; Flp.4:13).  Yesus Kristus tidak datang untuk menyelamatkan kita “dalam” dosa, tetapi “dari” dosa (Matius 1:21).  Ibrani 4:16 merinci dengan sangat mengesankan mengapa pelayanan pengantaraan dari Imam Besar kita diperlukan bagi kita: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya.”  Kita selalu membutuhkan Yesus dan benar-benar bergantung sepenuhnya pada-Nya, , sebagaimana pada Roh Kudus.  Roh disebut parakletos, yang berarti bahwa “Dia adalah Seseorang yang dipanggil untuk menolong,” “Seseorang yang berjaga-jaga”/”Someone to stand by” (Yoh.14:26).
2. Yesus Kristus menyelamatkan kita sepenuhnya oleh mengampuni dosa-dosa kita dan membenarkan kita (Ibrani 7:25).  Yesus berpihak kepada kita ketika kita memberikan hidup kita kepada-Nya; Dia menjadi satu dengan kita.  Pengenalan ini begitu erat hingga itu dibandingkan kepada bagian yang sangat sensitive dari tubuh: “Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam:…Sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya/Biji mata Tuhan (Za.2:8).  Contoh-contoh jelas lainnya dari kedekatan-Nya kepada umat-Nya yang percaya adalah pernyataan yang berikut: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40,NIV); “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”(Matius 25:45; “Ia rebah ke tanah dan dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?. ‘ Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan’ Kata-Nya: ‘Akulah Yesus yang kau aniaya itu”. (Kisah 9:4,5). “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku(Lukas 10:16 NIV).  Yesus menyelamatkan semua yang datang kepada-Nya, sebagaimana mereka ada, mengakui dosa-dosa mereka secara terbuka, jujur, dan tulus agar Dia mengubah mereka /to transform them oleh kasih karunia-Nya.
3. Yesus membela kita terhadap tuduhan-tuduhan Setan (Lihat Wahyu 12:10-12).  Dia secara pribadi berdiri melawan tuduhan-tuduhan Setan.  Kemenangan kita adalah di dalam Dia, karena Dia adalah Pemenang.  Karena Yesus adalah Pengantara kita dan Dia sedang membela kita di hadapan seluruh alam semesta, kita tidak perlu takut bagi hari penghakiman itu (1 Yoh.2:28; 4:17).

*Diskusikan definisi yang jelas tentang murka Allah (definition of God’s anger) yang sering disalahpahami. Pertimbangkan dengan hati-hati penjelasan  berikut ini: Di salib, Yesus mengambil bagi diri-Nya sendiri murka Allah, yang ditujukan terhadap dosa dan bukan terhadap manusia(kecuali mereka bergaul dengan dosa/they accociate with sin; lihat Yoh.3:36).  Itu berarti bahwa Murka Allah adalah sifat-Nya yang tanpa kompromi, berkata TIDAK kepada dosa, reaksi-Nya yang penuh kesabaran terhadap kejahatan/His uncompromised No to sin, His passionate reaction toward evil.   Yesus mati bagi kita di tempat kita, mengalami murka Allah dan hukuman agar kita boleh hidup ketika kita meletakkan iman kita pada-Nya (Rm.3:21-26; 2 Kor.5:18,19,21; Gal.3:13,14).  Hanya melalui kurban pendamaian Yesus kita dapat menjadi satu dengan Bapa Surgawi kita.


III. YESUS SEDANG BERDOA BAGI ANDA (Jesus is Praying for You) (Tinjau kembali Yoh.17:20,21).

   Menurut Yohanes 17, Yesus berdoa untuk kita.  Dia berdoa bagi para murid-Nya dan generasi-generasi selanjutnya dari para pengikut-Nya agar menjadi bersatu dan setia.  Dia melakukan hal yang sama secara khusus untuk Petrus (Lukas 22:32).  Jadi, pengantaraan Yesus berarti bahwa Yesus sedang berdoa bagi kita supaya kita tidak jatuh.  Ini adalah sebuah contoh bagi kita bagaimana kita seharusnya berdoa satu sama lain.

MENERAPKAN.
   Buku Ibrani menekankan bahwa Yesus adalah Imam Besar dan Pengantara kita.  Sekarang kita mengetahui bahwa Seseorang, ada untuk kita 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun.  Dia mengasihi, mengampuni, membenarkan, menolong, menyucikan, melepaskan dari kuasa dosa, dan membela melawan tuduhan-tuduhan Setan.  Pengantaraan Kristus lebih unggul daripada orang lain yang ada di alam semesta ini.

MEMPRAKTEKKAN
   Allah kita melakukan segala sesuatu agar kita mengetahui bahwa Dia ada di pihak kita dan tidak pernah melawan kita.  Sebagai Pengantara kita, Dia mati bagi kita sehingga kita dapat hidup.  Pengantaraan dibangun di atas pengorbanan.

KEGIATAN-KEGIATAN
1. Buatlah daftar orang-orang yang membutuhkan doa-doa Anda dan kemudian berdoa agar Allah dapat menolong mereka untuk menghidupkan kehidupan yang bahagia dan berkemenangan di dalam Yesus Kristus bagaimana pun sulitnya situasi-situasi dari kehidupan mereka.
2. Secara pribadi sepanjang minggu ini, kunjungilah orang-orang yang Anda pikir mungkin membutuhkan pertolonganmu.  Mereka mungkin sedang sakit, secara keuangan bangkrut, putus asa, kecewa, atau telah kehilangan seorang yang dikasihi, sahabat, atau pekerjaan.


Kamis, 21 November 2013

8. Yesus, Pengantara Dan Pembela Sejati.

"KRISTUS, IMAM KITA"

PENDAHULUAN

 Kristus, Imam Besar surgawi.

   Rencana keselamatan--yaitu penebusan dosa manusia--telah dimulaikan di surga dan akan diselesaikan juga di surga. Ucapan Yesus bahwa Diri-Nya diutus oleh Bapa di surga (Yoh. 5:36-38; 6:38-40) mengindikasikan bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini adalah untuk melaksanakan missi Allah Bapa, yaitu missi penyelamatan manusia, dan bahwa itu adalah sebuah rencana surgawi. Sesudah missi di dunia ini selesai, Yesus kembali ke surga untuk melaksanakan tahap lanjut dari rencana keselamatan itu di sana.

    "Sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Bait Suci surgawi, Kristus memasuki tahap baru dari rencana Penebusan (Ibr. 2:17). Dengan syarat mutlak pengorbanan-Nya itu dipenuhi, Ia pun dinobatkan sebagai imam dan memulai pelayanan keimamatan-Nya supaya sekarang dengan korban-Nya yang sempurna mengantarai mereka yang oleh iman terbungkus oleh darah-Nya" [alinea pertama: dua kalimat pertama].

     Sementara kematian-Nya di salib Golgota membuat Yesus Kristus memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar surgawi dan Pembela umat-Nya, pelayanan keimamatan di surga merupakan proses lanjutan dari rencana keselamatan. Jadi, penebusan dan penyelamatan manusia berdosa tidak diselesaikan di kayu salib tetapi di Bait Suci surgawi, yaitu melalui prosedur keimamatan yang juga disebut masa penghakiman (1Ptr. 4:17; Why. 14:7). Sebagaimana rencana keselamatan itu tidak selesai di kayu salib, tapi masih harus dilanjutkan dalam Bait Suci surgawi, demikian juga keselamatan itu tidak cukup hanya dengan hanya percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat tetapi harus ditindaklanjuti dengan pertobatan. Bertobat artinya berhenti berbuat dosa, dan seterusnya hidup dalam penyerahan diri kepada Yesus Kristus yang kini menjadi Pengantara dan Pembela kita di surga.

     "Sesungguhnya, kita bisa beroleh penghiburan besar dengan mengetahui bahwa Yesus sekarang berdiri di hadapan Allah, menggunakan jasa-jasa pengorbanan-Nya demi kita. Pekabaran Bait Suci menyajikan pengharapan dan dorongan bahkan bagi pengikut-pengikut-Nya yang paling lemah" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].


I. BUKAN IMAM BESAR BIASA (Imam Besar Kita)

 Keimamatan Kristus.

    Seperti sudah kita pelajari terdahulu tentang upacara kurban di Bait Suci PL, tugas seorang imam adalah untuk menjadi pengantara antara seorang berdosa untuk memohon pengampunan dari Allah. Imam biasa menjalankan pelayanan keimamatan harian, sedangkan imam besar melaksanakan pelayanan keimamatan tahunan pada hari yang disebut "Hari Pendamaian" atau "Yom Kippur" dalam bahasa Ibrani. Kalau imam biasa melayani orang Israel purba secara perorangan, imam besar melayani segenap umat Israel purba sebagai satu bangsa. Walaupun Yesus menjalankan pelayanan keimamatan sebagai "Imam Besar" di surga tidak berarti bahwa Dia hanya melayani umat-Nya secara kolektif, tapi juga melayani umat-Nya secara pribadi.

     Dalam tradisi PL seorang imam besar harus ditentukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan Allah dan baru akan menjalankan tugasnya setelah ditahbiskan. Yesus pun bisa melayani sebagai "Imam Besar" dalam "Bait Suci" surgawi karena sudah memenuhi kriteria yang ditentukan bagi-Nya, sebab Dia "telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah" (Ef. 5:2). Sebagaimana imam besar zaman dulu harus mempersembahkan satu kurban, "karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan" (Ibr. 8:3), dan hal itu "telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban" (Ibr. 7:27). Meski sudah memenuhi syarat, Yesus tidak mengangkat diri-Nya sebagai Imam Besar surgawi tetapi oleh Allah Bapa sendiri (Ibr. 5:5). "Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek" (Ibr. 5:10), dan sesuai dengan peraturan Melkisedek juga, Yesus "menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya" (Ibr. 6:20, bandingkan dengan Mzm. 110:4).

     "Kitab dalam Perjanjian Baru yang paling banyak berbicara tentang Kristus sebagai Imam adalah kitab Ibrani. Dasar kekuatan Perjanjian Lama bagi kitab Ibrani terdiri atas dua ayat yang dikutip dari Mazmur 110. Ayat 1 digunakan untuk menegaskan bahwa Kristus ditinggikan di atas segala sesuatu karena Ia duduk di sebelah kanan Allah" [alinea kesatu: tiga kalimat pertama].

 Imam Melkisedek.

   Siapakah Melkisedek? Nama "Melkisedek" muncul dua kali dalam PL (Kej. 14:18 dan Mzm. 110:4), dan sembilan kali dalam PB yang semuanya terdapat dalam kitab Ibrani (pasal 5, 6 & 7). Semua ayat dalam Alkitab yang menyebut tentang Melkisedek mengacu kepada dua jabatan, yaitu sebagai imam dan raja, dan semuanya merujuk kepada Yesus Kristus. Tapi satu hal yang menarik bahwa meskipun Melkisedek disebut sebagai "imam" dan "raja" namun dia bukanlah seorang Yahudi, sebab dia bukan keturunan Abraham, bahkan dia yang telah memberkati Abraham (waktu itu namanya masih Abram) setelah kembali dari peperangan mengalahkan gerombolan Kedarlaomer yang telah menjarah penduduk kota Sodom termasuk keluarga Lot, keponakan Abraham (Kej. 14:19), bahkan kepadanya nenek moyang bangsa Israel itu membayar persepuluhan dari hasil pertempuran tersebut (ay. 20). Tampaknya Melkisedek bukan sosok yang asing bagi Abraham maupun raja Sodom, mungkin saja sebelum itu mereka pernah mengenalnya dalam suatu peristiwa tertentu.

     Secara etimologis (asal kata), "Melksedek" terdiri atas dua kata Ibrani, מַלְכִּי־צֶדֶק, malki-tsedeq, yang secara harfiah berarti "rajaku adalah kebenaran" yang kemudian disederhanakan menjadi "Raja Kebenaran." Dia adalah "raja Salem" (Salem artinya "Damai"), sebuah kata yang berkaitan dengan nama kota Yerusalem. Namun pada waktu yang sama Melkisedek disebut pula sebagai "imam Allah yang Mahatinggi" yang memberikan roti dan air anggur kepada Abraham (Kej. 14:18). Kitab Kejadian pasal 14 juga mencatat bahwa Melkisedek sesudah memberkati Abraham (ay. 19) kemudian memuji Allah yang Mahatinggi (ay. 20). Kita melihat di sini bahwa dalam pengertian tertentu Melkisedek sebagai imam telah melaksanakan fungsi pengantaraan, yakni mengantarai Abraham dan Allah.

     "Yesus menggenapi baik keimamatan agung Harun maupun keimamatan agung Melkisedek dalam cara yang lebih baik daripada keduanya, atau dari keimamatan yang pernah ada atau bisa lakukan. Kedua bayangan (type) itu menemukan kegenapannya (antitype) dalam diri Kristus" [alinea terakhir].

    Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai Imam Besar surgawi?

1. Sesudah mempersembahkan diri-Nya sebagai Kurban yang nyata di bumi demi keselamatan umat manusia, Yesus Kristus kembali ke surga untuk melaksanakan tahap lanjut dari rencana keselamatan di mana Dia bertindak selaku Imam Besar dalam "Bait Suci surgawi."

2. Pembandingan keimamatan Yesus Kristus dengan keimamatan Harun adalah dari sudut prosedural sebagai Imam Besar, dan pembandingan dengan keimamatan Melkisedek ialah menyangkut kedudukan sebagai Imam Besar yang lebih tinggi dari Harun dan para imam besar sesudahnya.

3. Seperti halnya jabatan imam besar dalam PL berperan sebagai pengantara antara manusia dengan Allah, demikianlah Yesus Kristus sebagai "Imam Besar surgawi" juga memerankan fungsi yang sama untuk mengantarai kita dengan Allah dalam rangka pengampunan dosa.

II. DWI FUNGSI KEIMAMATAN KRISTUS (Pembela dan Pengantara)

 Doktrin pembelaan dan pengantaraan.

   Istilah "pembela" berkaitan dengan suasana pengadilan (dalam konteks Alkitab: penghakiman), sedangkan "pengantara" menyangkut pelayanan dalam Bait Suci. Di surga, Yesus menjalankan kedua fungsi ini secara simultan--Ia adalah "pembela" dan sekaligus juga "pengantara" demi kepentingan manusia (tepatnya: demi kepentingan umat-Nya). Sebagai pembela, Yesus membela umat-Nya dari tuduhan Setan bahwa kita harus binasa oleh sebab dosa-dosa kita, dan Yesus mematahkan dalil Setan itu dengan menyodorkan fakta bahwa Dia sudah menjalankan hukuman mati itu di salib sebagai "kurban pengganti." Sebagai pengantara, Yesus menjadi penghubung umat-Nya untuk memohon pengampunan dosa dari Allah Bapa, juga atas dasar yang sama, yaitu bahwa Dia sudah mati untuk menebus kita.

    Rasul Paulus mengutarakan doktrin pembelaan dan pengantaraan ini dalam kata-kata yang sangat membesarkan hati serta nyaman didengar: "Apakah yang dapat dikatakan sekarang tentang semuanya itu? Kalau Allah memihak pada kita, siapakah dapat melawan kita? Anak-Nya sendiri tidak disayangkan-Nya, melainkan diserahkan-Nya untuk kepentingan kita semua; masakan Ia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang lainnya? Siapakah yang dapat menggugat kita umat yang dipilih oleh Allah, kalau Allah sendiri menyatakan bahwa kita tidak bersalah? Apakah ada orang yang mau menyalahkan kita? Kristus Yesus nanti yang membela kita! Dialah yang sudah mati, atau malah Dialah yang sudah dihidupkan kembali dari kematian dan berada pada Allah di tempat yang berkuasa" (Rm. 8:31-34, BIMK).

    "Yesus Kristus berada di pihak kita. Yesus adalah jawaban terhadap rasa takut akan penghukuman, karena Ia sudah mati, sudah dibangkitkan, dan sekarang secara terus-menerus memohon bagi kita dalam Bait Suci surgawi di sebelah kanan Allah" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

    Pembela yang benar.

   Mengenai pelayanan Yesus Kristus sebagai pembela manusia dalam pengadilan surgawi, hal itu didukung oleh pernyataan yang tegas dari rasul Yohanes. "Anak-anakku! Saya menulis ini kepada kalian supaya kalian jangan berbuat dosa. Tetapi kalau ada yang berbuat dosa, maka kita mempunyai seorang pembela, yaitu Yesus Kristus yang adil itu; Ia akan memohon untuk kita di hadapan Bapa. Dengan perantaraan Yesus Kristus itulah dosa-dosa kita diampuni. Dan bukannya dosa-dosa kita saja, melainkan dosa seluruh umat manusia juga" (1Yoh. 2:1-2, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata "pembela" dalam ayat ini adalah interpretasi dari kata Grika παράκλητος, paraklētos, yang arti harfiahnya ialah "dipanggil untuk mendampingi" seseorang yang membutuhkan pertolongan (Strong, G3875). Perhatikan bahwa kata yang sama itu juga digunakan untuk Roh Kudus sebagai "Penolong" yang Yesus minta dari Bapa untuk mendampingi murid-murid-Nya (Yoh. 14:16, 26; 15:26).

    "Pembela kita itu 'benar,' yang memberi kita kepastian bahwa Bapa akan mendengarkan permohonan Kristus, sebab Kristus tidak berbuat apa-apa sehingga Bapa-Nya yang benar itu akan menolak. Kristus mengantarai bagi orang-orang yang telah berdosa dengan mengajukan diri-Nya--Dia yang tidak berdosa itu--sebagai Orang Benar yang berdiri menggantikan mereka" [alinea terakhir].

    Pena inspirasi menulis: "Sementara kita mengakui di hadapan Allah penghargaan kita akan jasa-jasa Kristus, bau yang harum bercampur pada pengantaraan kita itu. Sementara kita menghampiri Allah melalui kebaikan dari jasa-jasa Sang Penebus, Kristus menarik kita dekat ke sisi-Nya, merangkul kita dengan tangan kemanusiaan-Nya, sementara dengan lengan keilahian-Nya Ia meraih takhta Yang Tak Terhingga itu. Ia menaruh jasa-jasa-Nya sebagai dupa yang harum dalam pedupaan di tangan kita untuk mendorong permohonan-permohonan kita. Ia berjanji untuk mendengar dan menjawab permintaan-permintaan kita" (Ellen G. White, Signs of the Times, 14 April 1909).

 Apa yang kita pelajari tentang Kristus sebagai Pengantara dan Pembela kita?

1. Sebagai pembela, Yesus mewakili kita dalam persidangan surgawi; sebagai pengantara, Yesus mewakili kita dalam permohonan pengampunan dosa di Bait Suci surgawi. Dwi fungsi ini dapat dijalankan Yesus Kristus secara bersamaan waktunya oleh karena takhta Allah adalah "ruang penghakiman" dan sekaligus "Bait Suci."

2. Yesus Kristus dapat menjalankan fungsi sebagai Pembela orang berdosa sebab Dia sudah lebih dulu menjalani hukuman yang seharusnya ditimpakan atas manusia berdosa. Yesus juga bisa melaksanakan fungsi sebagai Pengantara karena Dia mempunyai suatu kurban untuk dipersembahkan, yaitu diri-Nya sendiri.

3. Pelayanan Kristus di bumi ini selama 4-5 tahun terakhir kehidupan-Nya tercatat dalam empat injil dan sebagian kecil kitab Kisah Para Rasul, tetapi pelayanan Kristus di surga selama hampir 2000 tahun terakhir ini hanya tertuang dalam beberapa pasal kitab Ibrani dan beberapa kitab PB lainnya secara sporadis. Namun kita harus serius mempelajarinya karena apa yang Kristus kerjakan di surga berkaitan langsung dengan kepentingan kita saat ini.

III. MENJEMBATANI MANUSIA DENGAN ALLAH (Pengantara)

 Satu Allah, satu Pengantara.

    Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus menyarankan agar orang-orang Kristen rajin mendoakan pemerintah dan para pemimpin politik di tempat di mana mereka tinggal, supaya "kita dapat hidup tenang dan tenteram" untuk menjalankan peribadatan (1Tim. 2:2), dan menyebut hal itu "berkenan kepada Allah" (ay. 3). Pada bagian selanjutnya sang rasul beranjak kepada gagasan tentang keselamatan manusia dari sudut pandang Allah, yaitu bahwa Dia "menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (ay. 4). Apa hubungannya antara mendoakan pemerintah dan para pemimpin masyarakat dengan kehendak Allah supaya semua orang diselamatkan? Dengan campur tangan Allah dalam menggerakkan hati para pemimpin itu kita bisa lebih sukses dalam melaksanakan tugas penginjilan dan penyebaran kebenaran sehingga banyak orang dapat diselamatkan.

    Selanjutnya beralih kepada bagaimana manusia itu diselamatkan. Tulisnya, "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan" (ay. 5-6; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "pengantara" (BIMK: "penengah") dalam ayat ini adalah μεσίτης, mesitēs, yaitu seseorang yang "menengahi" antara dua pihak, khususnya dalam persengketaan (Strong, G3316). Manusia bermusuhan dengan Allah karena dosa, sebab "dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1Yoh. 3:4); manusia bermusuhan dengan Allah akibat keinginan daging yang kita turuti, sebab "keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah" (Rm. 8:7); manusia bermusuhan dengan Allah oleh karena kita bersahabat dengan dunia, sebab "persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah" (Yak. 4:4). Itulah sebabnya kita memerlukan Penengah atau Pengantara untuk mendamaikan kita kembali dengan Allah.

    "Kristus disebut seorang Penengah antara Allah dan manusia. Tidak ada yang lain lagi karena memang tidak ada lain yang diperlukan. Melalui kedudukan Kristus sebagai Pengantara, keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran tersedia untuk semua (1Tim. 2:4). Pertanyaan yang penting bagi kita semua ialah apakah kita mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang Kristus sudah tawarkan kepada masing-masing kita, terlepas dari status, ras, tabiat, atau perbuatan masa lalu kita" [alinea kesatu].

 Didamaikan berdasarkan perjanjian yang baru.

    Sebagai pengantara atau penengah tentu saja fungsinya adalah untuk mendamaikan kedua pihak yang berseteru, dan itulah yang yang dilakukan oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar surgawi. Pelayanan keimamatan Yesus dilakukan menurut "perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi" (Ibr. 8:6), yaitu "suatu perjanjian yang baru" (Ibr. 9:15), oleh karena Dia adalah "Pengantara perjanjian baru" (Ibr. 12:24).

    "Ia telah mengadakan pendamaian. Walaupun dosa telah merusak persekutuan yang erat antara manusia dengan Allah dan akan membawa kepada kebinasaan umat manusia, Kristus datang untuk memulihkan hubungan itu. Inilah pendamaian itu. Dialah satu-satunya tautan antara Allah dengan manusia, dan melalui tautan ini kita dapat menikmati suatu hubungan perjanjian sepenuhnya dengan Tuhan" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

    Pena inspirasi menulis: "Membungkus keilahian-Nya dengan kemanusiawian, Ia datang ke bumi untuk disebut Anak Manusia dan Anak Allah. Ia adalah jaminan bagi manusia, dutabesar bagi Allah--jaminan bagi manusia untuk dipuaskan oleh kebenaran-Nya dalam tuntutan hukum atas nama manusia, dan mewakili Allah untuk menyatakan tabiat-Nya kepada manusia yang sudah jatuh" (Ellen G. White, Review and Herald, 22 Desember 1891).

  Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai Pengantara manusia?

1. Karena dosa maka manusia telah merusak hubungan dengan Allah, tapi perdamaian adalah ikhtiar Allah. "Dan melalui Anak itu pula Allah memutuskan untuk membuat segala sesuatu berbaik kembali dengan Dia--baik segala sesuatu yang di bumi, maupun yang di surga. Allah melakukan itu melalui kematian Anak-Nya di kayu salib" (Kol. 1:20, BIMK).

2. Yesus sendiri berhak untuk bertindak sebagai Pengantara dalam "perseteruan" antara manusia dengan Allah oleh sebab Dia telah "menanggung dosa kita, supaya kita berbaik kembali dengan Allah karena bersatu dengan Kristus" (2Kor. 5:21, BIMK).

3. Pendamaian yang dilakukan melalui pengantaraan Yesus Kristus itu didasarkan pada suatu perjanjian yang baru, perjanjian yang lebih mulia dan janji yang lebih tinggi. Perjanjian yang lama antara Allah dan manusia batal akibat kegagalan manusia memelihara perjanjian itu, dalam perjanjian yang baru ini tidak akan ada pembatalan.

IV. KUALITAS KEIMAMATAN KRISTUS (Imam Besar Agung)

 Sifat Imam Besar yang Agung.

   "Imam Besar" (Ibr. 2:17) hanyalah salah satu dari banyak gelar yang disandang oleh Yesus Kristus. Di seluruh Alkitab terdapat sekitar 200 predikat yang dikenakan pada Yesus, semuanya berhubungan dengan sifat dan fungsi-Nya. Di antaranya adalah Terang Dunia (Yoh. 8:12), Batu Penjuru (Ef. 2:20), Raja Damai (Yes. 9:6), Roti Hidup (Yoh. 6:35, 48), Penebus (Rm. 11:26), Pengantara (1Tim. 2:5), Juruselamat (Luk. 2:11), serta Anak Allah yang menerangkan keilahian-Nya (Luk. 1:35; Yoh. 1:49) dan Anak Manusia yang menegaskan kemanusiaan-Nya ketika berada di dunia (Yoh. 5:27). Dalam Ibrani 4:14, gelar Yesus Kristus ditingkatkan lagi dari "Imam Besar" menjadi "Imam Besar Agung."

    Dalam sebutan sebagai Imam Besar, bahkan Imam Besar yang Agung, tersirat dua hal utama: (1) seorang yang berfungsi sebagai Pengantara antara manusia dengan Allah, dan (2) seorang yang kudus atau diasingkan untuk suatu maksud istimewa. Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung yang seperti Melkisedek ditahbiskan di luar ketentuan Hukum Musa yang diberikan di Sinai (Ibr. 5:6), tapi seperti halnya imam-imam dari suku Lewi itu Yesus juga mempersembahkan satu kurban sebagaimana dituntut oleh Hukum Musa ketika Ia mempersembahkan diri-Nya untuk mati bagi dosa-dosa kita (Ibr. 7:27). Namun, berbeda dengan imam-imam orang Lewi yang harus terus-menerus mempersembahkan kurban bagi diri mereka sendiri, Yesus cukup melakukannya satu kali untuk selamanya (Ibr. 9:12).

 Keunggulan Yesus Kristus sebagai Imam Besar bukan karena kedekatan-Nya dengan Allah sehubungan dengan status-Nya yang asli sebagai Anak Allah ataupun karena Dia berasal dari surga, tetapi keunggulan-Nya terletak pada dua hal ini: (1) Yesus tidak pernah berbuat dosa, dan (2) Dia sudah mempersembahkan diri-Nya untuk mati sebagai kurban di salib. "Yesus adalah 'Imam Besar Agung' (Ibr. 4:14). Dia lebih unggul terhadap semua imam besar dan penguasa-penguasa dunia. Alkitab memberikan sejumlah ciri sifat kepada Yesus sebagai Imam Besar Agung" [alinea kesatu].

 Keimamatan Yesus di surga.

    Beberapa saat menjelang kematian-Nya di atas salib, Yesus yang sudah lemas akibat deraan fisik yang dialami-Nya masih sempat berkata lemah, "Sudah selesai" (Yoh. 19:30). Dalam bahasa Grika kuno frase ini hanya tertulis dalam satu kata, Τετέλεσται, Tetelestai, yang artinya "sudah diselesaikan," sebuah pernyataan yang secara tradisional diucapkan oleh seorang pemenang sehabis menyelesaikan suatu pertarungan. Kematian Yesus di kayu salib itu adalah kemenangan bagi rencana keselamatan bagi manusia berdosa. Tetapi sementara salib Kristus menyempurnakan dan mensahkan rencana keselamatan Allah tersebut, salib belum menjadi akhir dari seluruh rencana maha mulia itu. Tugas lain menunggu Yesus di surga, yaitu pelayanan keimamatan-Nya dalam Bait Suci surgawi.

 "Bagi kita. Kristus tampil di Bait Suci surgawi di hadapan Allah 'guna kepentingan kita' (Ibr. 9:24), dan Ia mengadakan pengantaraan bagi kita (Ibr. 7:25). Bersyukur kepada Allah bahwa kita mempunyai Wakil ilahi untuk tampil dalam penghakiman di tempat kita" [alinea terakhir].

 Pena inspirasi menulis: "Persembahan-persembahan kurban bayangan dari bait suci orang Yahudi tidak lagi memiliki makna. Pendamaian secara harian dan tahunan tidak perlu lagi. Tetapi oleh karena perbuatan dosa yang terus berlangsung, kurban penebusan dari Pengantara surgawi itu penting. Yesus, Imam Besar kita yang Agung, bertugas untuk kita di hadapan Allah, mempersembahkan atas nama kita darah-Nya yang tercurah" (Ellen G. White, The Youth's Instructor, 16 April 1903).

 Apa yang kita pelajari tentang pelayanan Yesus sebagai Imam Besar Agung di surga?

1. Kualitas keimamatan Kristus di Bait Suci surgawi mengungguli semua pelayanan keimamatan di Bait Suci duniawi karena, sebagai Imam Besar, Yesus tidak perlu mempersembahkan kurban bagi diri-Nya oleh sebab Dia tidak pernah berdosa, dan kurban yang dipersembahkan-Nya bukanlah hewan melainkan diri-Nya sendiri.

2. Keimamatan Kristus tidak didasarkan pada Hukum Musa seperti yang berlaku bagi para imam dan imam besar PL, tetapi keimamatan-Nya didasarkan pada "peraturan Melkisedek" (Ibr. 5:6; 6:20), dan "Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah" (Ibr. 5:10).

3. Kematian Yesus di kayu salib mengakhiri fase penebusan dosa manusia; kebangkitan-Nya mengawali fase pelayanan keimamatan-Nya untuk pengampunan dosa manusia. Kriteria dan persyaratan sebagai Imam Besar surgawi dipenuhi Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya di dunia ini.

V. KRISTUS ADALAH SOLUSI (Satu Persembahan Kurban)

 Jalan keluar atas dosa.

    Kalau ada satu masalah yang barangkali "memusingkan" Allah maka itu adalah masalah dosa manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, sebenarnya Allah mempunyai tiga opsi (pilihan) untuk menyelesaikannya. Pertama, membinasakan pasangan manusia pertama itu lalu menciptakan pengganti mereka; kedua, meninggalkan planet Bumi ini bersama isinya sampai hancur binasa sesuai hukum yang Allah tetapkan atas dosa; ketiga, mengikhtiarkan rencana keselamatan atas pasangan manusia pertama beserta keturunan mereka. Allah memilih opsi yang ketiga, dengan segala konsekuensinya!

 Masalah dosa bersifat dilematis karena dua sifat Allah yang menyatu dan tak terpisahkan, yaitu kasih dan adil. Allah itu kasih (1Yoh. 4:8), dan Allah itu adil (1Yoh. 1:9). Kasih Allah menuntut pengampunan atas dosa manusia, dan pada saat yang sama keadilan Allah menuntut hukuman atas orang berdosa. Maka untuk mengimplementasikan keduanya, menerapkan asas yang satu tanpa mengabaikan yang lainnya, Allah dalam hikmat-Nya yang tak terbatas telah mengadakan jalan keluar atas dosa melalui apa yang disebut "kasih karunia Allah" dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus sangat tepat ketika menyimpulkan formula ini: "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Rm. 6:23; huruf miring ditambahkan). Dalam gaya bahasa yang khas pemazmur berkata: "Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman" (Mzm. 85:11; huruf miring ditambahkan).

    "Dosa adalah sesuatu yang terlalu dahsyat untuk sekadar diatasi oleh kematian binatang (betapapun menyedihkan dan malangnya kematian-kematian itu). Gantinya, semua darah yang ditumpahkan itu merujuk kepada satu-satunya jalan keluar bagi dosa, dan itu adalah kematian Yesus sendiri. Bahwa hal itu menuntut kematian-Nya, kematian dari Dia yang setara dengan Allah (Flp. 2:6) dalam rangka penebusan atas dosa, menunjukkan alangkah buruknya dosa itu sesungguhnya" [alinea kesatu: tiga kalimat terakhir].

   Hanya oleh darah Kristus.

   Sementara upacara penyembelihan hewan untuk kurban bakaran adalah perintah Allah demi pengampunan dosa di zaman Israel purba, sebuah ritual keagamaan yang efektif secara terbatas, pengampunan dosa yang bersifat komprehensif dan obyektif harus melalui penumpahan darah Kristus yang disebut "Anak Domba Allah" (Yoh. 1:29). Hanya oleh darah Kristus saja dosa manusia benar-benar diampuni bahkan dihapuskan untuk selama-lamanya (Rm. 6:10). "Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup" (Ibr. 9:13-14).

    "Banyak kebenaran penting bergema dengan nyaring dari ayat-ayat ini, salah satunya yang paling penting ialah bahwa kematian binatang-binatang itu tidaklah cukup untuk mengatasi masalah dosa. 'Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa' (Ibr. 10:4). Darah binatang-binatang itu hanya menunjuk kepada jalan keluar; darah binatang itu sendiri bukan jalan keluar. Solusinya adalah Yesus, kematian-Nya, dan kemudian pelayanan-Nya di Bait Suci surgawi demi kepentingan kita" [alinea kedua].

 Pena inspirasi menulis: "Yesus adalah Pembela kita, Imam Besar kita, Pengantara kita. Posisi kita adalah seperti bangsa Israel pada Hari Pendamaian. Bilamana imam besar memasuki bilik mahasuci yang melambangkan tempat di mana Imam Besar kita sedang melakukan pembelaan sekarang ini, dan memercikkan darah yang mendamaikan itu ke atas tutup pendamaian, tidak ada kurban pendamaian yang dipersembahkan di luar. Sementara imam itu mengadakan pengantaraan dengan Allah setiap hati harus tertunduk dalam penyesalan akan dosa, memohon pengampunan atas pelanggaran" (Ellen G. White, Signs of the Times, 28 Juni 1899).

    Apa yang kita pelajari tentang satu korban yang menghapuskan seluruh dosa manusia?

1. Rencana keselamatan melalui pengampunan dosa oleh kematian Yesus Kristus adalah ikthiar Allah. Manusia yang berbuat dosa, Allah yang mencarikan jalan keluarnya. Dalam melakukan itu sifat kasih dan keadilan Allah bukan saja tetap terjaga tapi bahkan semakin dipertegas.

2. Upacara persembahan kurban di Bait Suci pada zaman PL adalah perintah Allah melalui Musa, karena itu upacara tersebut efektif bagi pengampunan dosa untuk tahap dan lingkup yang terbatas. Melalui darah Kristus yang tercurah di kayu salib pengampunan dosa oleh darah binatang itu disahkan, dan pengampunan dosa berlaku lebih komprehensif.

3. Sekarang ini kita hidup dalam "masa Hari Pendamaian" di mana Yesus Kristus berada pada tahap "bilik mahasuci" untuk memohon pengampunan atas dosa kita semua, tiap-tiap hari. Menyadari akan hal itu maka seharusnyalah hati kita senantiasa dalam suasana pertobatan dan penyesalan akan dosa sebagaimana umat Israel pada zaman Musa.

PENUTUP

   Imam Besar yang penuh pengertian.

    Bagi mereka yang meragukan kemanusiaan Kristus ketika hidup di dunia ini perlu menyimak kembali dengan lebih seksama peristiwa ketika Yesus digoda oleh Setan (Mat. 4:1-11). Yesus digoda dengan nafsu jasmani (mengubah batu jadi roti, dalam keadaan lapar setelah berpuasa 40 hari), digoda untuk memamerkan kekuasaan dengan perilaku yang konyol (melompat dari bubungan Bait Suci supaya malaikat-malaikat datang menolong), dan digoda dengan harta dunia (asalkan mau menyembah Setan satu kali saja). Pikirkanlah, kalau saat itu Yesus adalah sebagai Anak Allah dan bukan dalam keadaan kemanusiaan, bukankah Setan sangat bodoh untuk menggoda Penguasa alam semesta ini dengan hal-hal yang tidak berarti itu? Anda tidak bisa "menggoda" seorang milyarder dengan uang sejuta rupiah untuk mau sujud kepada anda, bukan?

 Bersyukur kepada Tuhan bahwa anda dan saya mempunyai Imam Besar, Pengantara dan Pembela kita, yang mengerti apa artinya digoda oleh Setan karena Dia pernah mengalaminya sendiri tetapi tidak jatuh dengan godaan itu. Namun Yesus mengerti kalau anda dan saya bisa terjebak dalam muslihat Setan dan jatuh ke dalam dosa, sekalipun hati-Nya bersedih namun Dia mau membela kita dan mengantarai kita dengan Allah Bapa untuk mendapatkan pengampunan. Sebab Yesus adalah Imam Besar yang penuh pengertian dan pengasihan.

 "Yesus adalah pengantara yang berbelas kasihan, imam besar yang murah hati dan setia. Dia yang adalah Penguasa surga--Raja Kemuliaan--dapat memandang kepada manusia yang fana, sasaran penggodaan Setan, menyadari bahwa dia telah merasakan dahsyatnya tipu daya Setan" [alinea kesatu: dua kalimat terakhir].

    "Saya menulis kepadamu, Anak-anak, sebab dosamu sudah diampuni karena Kristus. Saya menulis kepadamu, Bapak-bapak, sebab kalian mengenal Dia yang sudah ada sejak awal mula. Saya menulis kepadamu, Orang-orang muda, sebab kalian sudah mengalahkan Si Jahat. Saya menulis kepadamu, Anak-anak, sebab kalian mengenal Allah Bapa. Saya menulis kepadamu, Bapak-bapak, sebab kalian mengenal Sabda yang sudah ada sejak awal mula. Saya menulis kepadamu, Orang-orang muda, sebab kalian kuat. Perkataan Allah ada di dalam hatimu, dan kalian sudah mengalahkan Si Jahat" (1Yoh. 2:12-14, BIMK).

DAFTAR PUSTAKA:

1. Martin Probstle, BAIT SUCI -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Oktober - Desember 2013.
2. Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.



Selasa, 19 November 2013

Siklus Belajar 7: Kristus, Korban Kita.


 SIKLUS BELAJAR 7: KRISTUS, KORBAN KITA(Christ, Our Sacrifice)

   MOTIVASI:

   Fokus Alkitab: Yesaya 53:4-6.

Konsep Untuk Pertumbuhan Rohani:
   Dalam cara yang luar biasa (In a powerful way), Nabi Yesaya menyajikan misi Mesias, yang disebut Hamba Tuhan(the Servant of the Lord).  Ini adalah gambaran terbaik tentang PERAN Juruselamat kita. (This is the best description of the role of our Saviour).   HAMBA ini membawa pengharapan, dan kematian-Nya menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka.

    Pelajaran kita saat ini : Arti dari pengorbanan kematian Yesus Kristus seperti yang dinubuatkan dalam kehidupan Hamba Tuhan dari Yesaya 53 dan sebagaimana terlihat dalam konteks Alkitab yang lebih luas.  Hamba Tuhan ini adalah “manusia yang menderita”/ a man of sorrow, “korban penebus salah”/ a guilt offering, dan oleh kasih Ia dengan sukarela mati bagi dosa-dosa kita.

MENYELIDIKI

   Dalam bagian kedua dari buku Yesaya terdapat 5 nyanyian dari Hamba Tuhan yang disebut juga  nyanyian-nyanyian Hamba Yang Menderita/ the songs of the Suffering Servant (Yes.42:1-9; 49:1-7; 50:4-9; 52:13-53:12, dan 61:1-3).Allah ingin menyelamatkan umat-Nya meskipun mereka  tidak menghargai kasih-Nya./do not recognize His love.  Oleh karena itu, Dia menginginkan kita untuk mengerti dan menghargai pengorbanan-Nya yang besar bagi kemanusiaan/humanity.  Dalam Yesaya 53, pengorbanan ini dapat digambarkan dengan baik sebagai kematian pengganti yang telah membawa kemenangan atas dosa, serta kematian dan pembenaran bagi mereka yang menerima solusi-Nya bagi keadaan dosa mereka(for their sinful situation).

KOMENTAR ALKITAB

   Kehidupan kekal kita bergantung pada penggenapan dari misi Hamba Tuhan.  Pengorbanan-Nya yang penuh rahmat, Penderitaan-Nya bagi kita adalah sumber PEMBENARAN dan keselamatan kita.  Kita akan selidiki dengan penekanan khusus pada nyanyian yang keempat.(the fourth song).

I. Nyanian Pertama dan Kedua dari Hamba Tuhan (Ulangi Yes.42: 1-9 dan 49:1-7).
    Pertimbangkan dengan hati-hati ayat-ayat dari Yesaya, yang menjelaskan misi universal Kristus.  Nyanyian pertama tidak mengungkapkan identitas dari Hamba Tuhan tetapi menggambarkan tugas-Nya yang luar biasa :  Dia akan membawa keadilan dan hukum kepada dunia dan akan menjadi perjanjian(covenant) dan terang kepada dunia. Meskipun Dia adalah Raja, Ia tidak akan bertindak sebagai seorang penakluk namun sikap-Nya akan lembut dan rendah hati.  Kekuatan dan kuasa-Nya akan berada dalam Firman dan Roh Allah.

   Nyanyian kedua mengidentifikasikan Hamba sebagai Seorang yang harus memenuhi peran penting dalam membawa Israel dan umat-Nya yang sisa kembali kepada Allah (dengan demikian Hamba itu bukanlah dari antara orang Israel atau umat yang sisa dari Israel; lihat Yes.49:6).
   Dia bukan hanya perantara yang mengkomunikasikan keselamatan, tetapi Dia adalah, sebagai Oknum, Keselamatan bagi seluruh dunia.  Untuk pertama kalinya dalam nyanyian ini, seseorang juga menemukan kiasan kepada penderitaan mental dan pemuliaan dari Sang Hamba (Yes.49:7).

DISKUSIKAN:
   Terjemahan harfiah dari Yesaya 49:6  menyoroti fakta bahwa Hamba Tuhan adalah Keselamatan bagi dunia: Dan ia(Tuhan kepada hamba-Nya) berkata: “Itu adalah hal kecil bahwa engkau menjadi hambaku untuk membangkitkan suku-suku Yakub, dan memulihkan Israel yang masih terpelihara.  Aku bahkan akan membuat engkau menjadi terang kepada bangsa-bangsa kafir untuk menjadi keselamatanku ke seluruh ujung bumi” (terjemahan penulis pelajaran).  Diskusikan perbedaan antara pernyataan bahwa Yesus Kristus adalah Keselamatan bagi seluruh dunia dan pernyataan bahwa Sang Hamba akan membawa atau memberitakan Keselamatan Allah ke seluruh dunia.

II. NYANYIAN KETIGA (Tinjau kembali Yes.50:4-9).

   Nyanyian ini disebut “Hamba Taman Getsemani”(Servant’s Gethsemane), karena Hamba itu sendiri berbicara tentang pengalaman-Nya pribadi, penderitaan yang hebat dan kepercayaan pada Tuhan.  Nabi Yesaya pertama melukiskan gambaran yang sangat indah dari janji-janji Sang Hamba dan hubungan yang erat dengan Allah.  Tuhan membangunkan Dia setiap pagi untuk menyatakan tugas-Nya di hari itu.  Pemuridan yang taat dari sang Hamba digambarkan dalam perikop ini.  Untuk pertama kalinya penderitaan badani dari Hamba ini di sebutkan. Dia akan di cambuk, dipukuli, disiksa, dan sangat dipermalukan dengan cara diejek dan diludahi (ayat 6).  Namun, dalam penderitaan-Nya Dia percaya bahwa Tuhan akan menolong dan membela-Nya.

III. NYANYIAN KEEMPAT DAN KELIMA (Tinjau kembali Yes.52:13-52:12 dan 61:1-3).

   Nabi Yesaya tiba pada inti masalah dalam lagunya yang keempat.  Dalam lima bait, masing-masing terdiri dari 3 ayat, kita menemui perikop yang paling luhur tentang pengorbanan hidup Sang Hamba.  Karya yang baik sekali ini berisi pekabaran paling mulia tentang misi dan pencapaian-pencapaian dari Mesias dan menggambarkan semuanya dalam scenario.
1. Paradoks dari kehidupan Sang Hamba – sangat ditinggikan dan sangat terhina (Yes.52:13-15).  Teka-teki kehidupan-Nya tampaknya tak terpecahkan.  Tatapi sebagaimana Yesaya bergerak maju dalam puisi ini, teka-teki itu menjadi semakin jelas; perjalanan dari Hamba akan melalui penderitaan dan pengorbanan kematian kepada kemuliaan.
2. Penolakan atas Sang Hamba, manusia yang penuh kesengsaraan dan penderitaan (Yes.53:1-3).  Orang-orang tidak percaya pada-Nya, dan 2 kali dalam perikop ini ditekankan bahwa Dia dibenci.  Gambaran yang realistis ini berakhir dengan pernyataan yang menyedihkan bahwa tak seorang pun yang menghormati-Nya.
3. Pendamaian (Atonement) dari Hamba Tuhan yang mengambil atas diri-Nya pelanggaran kita (Yes.53:4-6).  Inti dari nyanyian ini menjelaskan mengapa Sang Hamba harus melewati semua penderitaan dan penghinaan: “Sesungguhnya ia menanggung kelemahan kita…Dia tertikam oleh karena pelanggaran kita..diremukkan bagi kejahatan kita.”  Yesaya dengan jelas mengidentifikasikan kita dan dosa-dosa kita sebagai penyebab kematian sang Hamba. Anda dan saya bertanggung jawab dan bersalah atas kematian-Nya, dan kita tidak dapat menyalahkan orang lain.  Itu adalah solusi Allah bagaimana akhirnya menyelesaikan masalah dosa: “Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (ayat 6).  Perhatikan kata kerja pasif pada ayat 5, yang menjelaskan apa yang telah dilakukan oleh Sang Hamba bagi kita.  Oleh karena kerelaan Sang Hamba dan kematian pengganti bagi kita, kita disembuhkan (Keselamatan adalah penyembuhan), dan kita boleh hidup.
4. Penderitaan, godaan, kematian, dan penguburan Hamba Tuhan (Yes.53:7-9).  Sekarang Yesaya menggambarkan penyerahan sepenuhnya Sang Hamba kepada kehendak Allah dan bahwa kesedihan, dukacita, dan penderitaan-Nya bukanlah milik-Nya (Dia tidak bersalah dan tiada tipu daya pada-Nya) tetapi karena “pemberontakan umat-Ku”.
5. Pemuliaan Hamba Tuhan (Yes.53:10-12).  Nyanyian ini mencapai klimaks dengan sebuah penjelasan tentang hasil-hasil yang begitu indah dari korban kematian Sang Hamba: kebangkitan, pembenaran atas banyak orang, dan berbagi kemenangan-Nya dan bermesraan dengan yang lain.  Dia melanjutkan pekerjaan-Nya bagi orang-orang berdosa untuk siapa Dia telah menderita kematian : Dia mengantarai mereka (He intercede them).

Nyanyian ke 5 dan terakhir (Yes.61:1-3) menyatakan bahwa Sang Hamba diurapi oleh Tuhan dan dimampukan oleh Roh untuk memberitakan kabar baik dan menerapkan segala yang telah dilakukan-Nya dalam hidup dan kematian-Nya bagi orang berdosa untuk membawa kebebasan dan kemenangan kepada mereka sehingga mereka dapat melayani orang lain dan menjadi hamba-hamba-Nya yang setia (Yes.61:4-56).
                            Hms

Jumat, 15 November 2013

7. Salib Kristus, Pengorbanan Tiada Tara.

"KRISTUS, KURBAN KITA" ((Christ, Our Sacrifice).

PENDAHULUAN

 Arti sebuah pengorbanan.

   Salah satu kata yang paling sedap didengar karena mengandung sifat yang mulia, adalah "pengorbanan." Kata ini menyiratkan keluhuran budi bila dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Seseorang yang "berkorban" berarti rela melepaskan sesuatu yang dimilikinya demi kepentingan orang lain, jadi pada prinsipnya pengorbanan itu adalah kesediaan untuk menderita kehilangan atau kerugian hal tertentu. Maka, adalah suatu hal yang ganjil jika ada orang yang mau berkorban tapi tidak ingin merugi. Kalau begitu, apa maknanya "berkorban"?

    Kisah seorang paderi bernama Maximilian Kolbe yang rela menyediakan dirinya untuk menggantikan tempat seorang Yahudi yang menghadapi kekejaman Nazi pada PD II mungkin bisa membuka cakrawala tentang makna dari "berkorban." Terlahir dengan nama Rajmund Kolbe, 8 Januari 1894, di Zduńska Wola, Polandia, anak yang berayahkan seorang Jerman dan beribukan seorang Polandia ini tergolong pintar. Pada tahun 1915, dalam usia 21 tahun, dia berhasil meraih gelar doktor filsafat dari Pontifical Gregorian University di Roma, sebuah universitas paling terkemuka di lingkungan Gereja Katolik. Empat tahun kemudian dia menggondol gelar doktornya yang kedua di bidang teologi dari Pontifical University di St. Bonaventura, sebuah universitas bergengsi lainnya, setahun setelah ditahbiskan menjadi imam pada umur 24 tahun dan menggunakan nama Maximilian Maria Kolbe. Karir pelayanan membawanya ke Jepang sebagai missionaris di mana dia mendirikan biara di pinggiran kota Nagasaki. Kembali ke Polandia, Kolbe mendirikan biara di kota Niepokalanów yang selama PD II secara bergelombang telah menjadi tempat persembunyian ribuan warga Polandia dan Yahudi yang meluputkan diri dari kekejaman tentara Nazi Jerman.

    Bulan Februari 1941 Gestapo, polisi Nazi Jerman yang terkenal dengan kebengisannya, menangkap Kolbe dan menjebloskannya ke penjara setempat sebelum kemudian dipindahkan ke penjara Auschwitz pada tanggal 21 Mei. Suatu hari di bulan Juli tahun 1941 seorang tahanan dari barak di mana Kolbe disekap itu lenyap. Sekalipun tahanan yang kabur itu belakangan ditemukan sudah menjadi mayat setelah tenggelam di jamban, komandan "SS" (polisi rahasia Nazi yang sangat kejam) dengan marah mengambil 10 orang tahanan dari barak yang sama itu dan memindahkannya ke Blok 13 yang terkenal sebagai tempat penyiksaan hingga mati kelaparan, salah satunya adalah Franciszek Gajowniczek yang sejak awal terus menangis mengiba-iba karena teringat akan keluarganya. Kolbe yang tersentuh hatinya lalu menawarkan diri sebagai pengganti pria malang itu. Sesudah tiga minggu dari kesepuluh orang itu hanya tersisa empat orang yang masih hidup, termasuk Kolbe, yang akhirnya disuntik mati dengan asam karbolik.

 Untuk mengenang kehidupan dan pelayanannya, pada tanggal 10 Oktober 1982 Paus Yohanes Paulus II menganugerahkan gelar sebagai "syuhada" (martir) kepada Maximilian Kolbe dalam suatu upacara di Vatikan yang dihadiri oleh Franciszek Gajowniczek, lelaki sesama tahanan yang nyawanya telah diselamatkan Kolbe 41 tahun silam itu. Dengan statusnya itu sang paderi menjadi salah seorang yang dinobatkan sebagai syuhada pada abad ke-20 yang patungnya menghiasi bagian atas dari pintu gerbang barat katidral Santo Petrus di Westminster Abbey, London.

    "Betapa pun mengharukannya, pengorbanan Kolbe itu hanyalah sebuah bayangan dari Dia yang rela mengambil tempat kita, suatu tindakan yang dilambangkan dalam upacara di Bait Suci. Perjanjian Baru menyamakan Yesus dengan dua aspek utama dari sistam upacara kurban Perjanjian Lama: Ia adalah kurban kita (Ibrani 9-10), dan Ia adalah Imam Besar kita (Ibrani 5-10)" [alinea kedua].

I. PENDERITAAN MESIAS DINUBUATKAN (Yesus Dalam Yesaya 53)

    Mati untuk manusia.

    Disebutkan bahwa tindakan Maximilian Kolbe yang rela menggantikan tempat Franciszek Gajowniczek itu cukup mencengangkan bagi polisi Nazi Jerman, tetapi tidak bisa menyamai ketakjuban Setan terhadap tindakan Yesus Kristus yang rela memikul salib di mana Anak Allah itu rela mati menggantikan manusia. "Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia--begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi--demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami" (Yes. 52:14-15).

    Kitab Yesaya pasal 53 dimulai dengan sebuah pertanyaan: "Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?" (ay. 1; huruf miring ditambahkan). Adapun "berita" yang dimaksud di sini adalah kabar mencengangkan perihal Anak Allah yang bersedia merendahkan diri-Nya menjadi seperti manusia, bahkan "begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi" sebagaimana disebutkan pada ayat terakhir pasal 52 itu. Di sini sang nabi seperti sedang menubuatkan dua hal: ketidakpercayaan manusia terhadap kematian Yesus sebagai Mesias, dan ketidakpercayaan manusia akan keselamatan yang disediakan-Nya.

 "Yesaya 52:13 hingga 53:12 merupakan sebuah gambaran yang mantap tentang kematian Kristus bagi dosa-dosa dunia. Beberapa aspek dalam serangkaian ayat-ayat ini memberi bukti nyata bahwa kematian Yesus adalah pendamaian dalam bentuk pertukaran hukuman, yang artinya bahwa Ia menanggung hukuman yang sepatutnya untuk orang lain dan benar-benar mati sebagai Pengganti bagi mereka" [alinea pertama: dua kalimat pertama].

 Menggenapi nubuatan.

   Yesaya 53 bertutur tentang Yesus Kristus sebagai Mesias yang bakal menjadi "kurban pengganti" ("vicarious sacrifice" atau "penal substitution") bagi manusia. Tetapi, percaya atau tidak, banyak teolog Kristen dan pakar Perjanjian Lama yang berpendapat bahwa nubuatan Yesaya 53 ini bukan tentang Mesias, melainkan perihal bangsa Israel. Argumentasi mereka antara lain adalah pada anak kalimat "kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?" dalam ayat 1, yang menurut mereka jika hal itu diterapkan pada diri Yesus maka frase tersebut akan terkesan di luar konteks. Pendapat seperti itu seiring dengan teori Yudaisme yang mengajarkan bahwa "hamba yang menderita" dalam pasal ini merujuk kepada bangsa Israel yang terpuruk dan dihinakan, tapi kemudian akan bangkit dan berjaya kembali. Mereka menuding ajaran bahwa Yesaya 53 berbicara tentang Yesus Kristus adalah sebuah doktrin anti-Semitik (menaruh prasangka dan kebencian terhadap orang Yahudi).

    Tetapi ayat-ayat dalam beberapa kitab Perjanjian Baru dengan tegas membuktikan bahwa Yesaya 53 merujuk kepada Yesus Kristus. Misalnya perkataan Yesus sendiri dalam Lukas 22:37, yang mengutip Yesaya 53:12, "Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi." Begitu pula kisah tentang seorang pejabat kerajaan Etiopia yang dalam perjalanan pulang sedang membaca gulungan kita nabi Yesaya dan sampai pada bagian "Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian" (Yes. 53:7), tepat pada saat yang bersamaan Filipus yang diutus Roh itu mengajarnya dan sempat mendengarkan bacaan itu lalu menerangkan kepadanya bahwa nubuatan itu bertutur tentang Yesus Kristus (Kis. 8:35). Bahkan tulisan rasul Petrus lebih tegas lagi, "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (1Ptr. 2:24; huruf miring ditambahkan). Kalimat terakhir ini jelas-jelas mengutip Yesaya 53:5.

    "Kiasan-kiasan Perjanjian Baru atas Yesaya 53 membuktikan tanpa ragu bahwa Yesus Kristus menggenapi nubuatan ini. Bahkan Ia mengidentifikasikan Diri-Nya sendiri sebagai orang yang digambarkan di situ (Luk. 22:37). Kristus menaruh dosa-dosa kita ke atas Diri-Nya supaya kita bisa diampuni dan diubahkan" [alinea terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang nubuatan perihal Yesus Kristus dalam Yesaya 53?

1. Dalam dunia di mana masyarakatnya secara umum cinta diri, tindakan seseorang yang mau berkorban sampai mati demi orang lain itu sungguh mencengangkan. Yesus juga telah berbuat hal yang sama bagi semua manusia, dan kita semua harus meneladani roh pengorbanan Kristus dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda.

2. Yesaya pasal 53 sudah sejak lama diklaim oleh ajaran Yudaisme sebagai sebuah nubuatan tentang bangsa Israel, bukan tentang Yesus Kristus sebagai Mesias. Sama halnya dengan nubuatan dalam Ulangan 18:15-19 pernah diklaim golongan tertentu sebagai nubuatan tentang nabi mereka, bukan tentang Yesus Kristus.

3. Banyak orang yang belajar Alkitab bukan untuk menemukannya mutiara-mutiara kebenarannya melainkan untuk mencari kesalahan-kesalahannya, atau setidaknya membuat penafsiran yang membela kepentingan golongannya sendiri meski berbeda dari maksud yang sebenarnya. Tetapi Alkitab dapat membela kebenarannya sendiri.

II. MENGAPA YESUS HARUS MATI? (Pengganti yang Memadai)

 Kematian yang tak terelakkan.

   Dalam rencana keselamatan Allah, kematian Yesus adalah hal yang tak terhindarkan oleh karena "upah dosa adalah maut" (Rm. 6:23). Maut yang dimaksudkan di sini adalah kematian yang kekal atau kebinasaan. Yesus harus mati untuk menggantikan kematian kekal yang seharusnya menimpa manusia, "supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16). Kematian Yesus di kayu salib bukan untuk menghindarkan manusia dari kematian sekarang ini sebagai dampak dari kondisi alami tubuh kita yang telah merosot akibat dosa, melainkan menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal oleh api neraka.

    Kematian Yesus adalah kematian yang dikehendaki oleh Allah sendiri sebagai bagian dari rencana keselamatan yang dicanangkan-Nya di Taman Eden. "Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia" (Ibr. 2:9; huruf miring ditambahkan). Yesus yang tidak berdosa itu harus "mengalami maut bagi semua manusia" artinya mati sebagai pengganti manusia, dan itu adalah "kasih karunia Allah." Tidak perlu menghujat para pemuka agama di Yerusalem dan orang Yahudi, atau mempersalahkan Pilatus dan prajurit-prajurit Romawi atas kematian Yesus, sebab kita tahu bahwa kematian-Nya adalah atas kehendak Allah sendiri.

 "Yesus mati bagi orang berdosa. Ia tidak berbuat dosa (Ibr. 4:15) sehingga ketika Ia memberikan hidup-Nya sebagai sebuah persembahan kurban Ia tidak mati karena dosa-Nya sendiri...Dalam istilah sederhananya, demi agar umat manusia diselamatkan, Yesus harus mati. Tidak ada cara lain" [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinea kedua: dua kalimat terakhir].

 Kematian yang dikehendaki Yesus.

   Kejatuhan Adam dan Hawa mungkin sangat mengejutkan bagi para malaikat surga, tetapi apa yang lebih mengejutkan lagi bagi mereka ialah keputusan Allah untuk menyelamatkan Adam dan Hawa beserta keturunan mereka dengan mengorbankan Putra-Nya yang tunggal itu (Yoh. 3:16). Namun, apakah Yesus "dikorbankan" dalam skenario ini? Jawabnya: Tidak! Sebab "dikorbankan" mengandung arti dijadikan korban tidak atas pengetahuan dan keinginan korban yang bersangkutan, sedangkan kematian Yesus di kayu salib adalah atas pilihan-Nya sendiri dan dijalani-Nya dengan sadar.

 Sebelum kematian-Nya, Yesus pernah berkata, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku" (Yoh. 10:17-18; huruf miring ditambahkan). Tatkala berada dalam keadaan kemanusiaan, bergumul sendirian dalam dinginnya Taman Getsemane yang sunyi pada tengah malam itu, Yesus yang mulai merasakan sengatan maut yang mengerikan itu berseru kepada Bapa-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Mat. 26:42). Yesus sudah memutuskan untuk menjalani kematian itu sehingga rela datang ke dunia yang dikuasai Setan ini dan menjelma sebagai manusia biasa, Ia akan menjalani missi-Nya sampai tuntas!

    "Mengapa patut bagi Allah untuk membiarkan Yesus menderita? Konteks dalam Ibrani 2:14-18 menunjukkan bahwa kematian Yesus itu perlu untuk melepaskan anak-anak Allah dari perhambaan maut, dari Iblis, dari rasa takut akan kematian, dan untuk melayakkan Yesus menjadi 'Imam Agung yang setia dan berbelaskasihan' (BIMK)" [alinea keempat].

 Apa yang kita pelajari tentang kematian Yesus sebagai "kurban pengganti" yang memadai?

1. Mengapa Yesus harus mati? Pertama, karena hukum Allah menuntut kematian atas dosa (Kej. 2:17, Rm. 6:23); kedua, karena kematian Yesus untuk menyelamatkan manusia adalah kasih karunia Allah (Ibr. 2:9), dan Yesus dalam kasih-Nya juga rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan manusia itu (Yoh. 10:17).

2. Kematian Yesus adalah sebuah anugerah terbesar yang surga pernah berikan kepada dunia yang berdosa, sebuah jalan dengan mana manusia berdosa dapat beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Sebagai sebuah anugerah, keselamatan itu adalah pilihan bagi manusia. Tak seorang pun selamat karena terpaksa (2Ptr. 1:10).

3. Kematian Yesus sebagai "kurban pengganti" bagi manusia itu memenuhi syarat dan memadai, "sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kol. 2:9), "lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat" (Gal. 4:4), namun tidak berdosa.

III. DISELAMATKAN OLEH DARAH (Darah Kristus)

 Darah dalam riwayat manusia.

   Darah yang pertama kali tercurah ke bumi adalah darah binatang ketika Allah mengambil kulitnya untuk dijadikan pakaian dan mengenakannya kepada Adam dan Hawa di Taman Eden (Kej. 3:21). Bahasa asli PL yang diterjemahkan dengan "pakaian dari kulit binatang" dalam ayat ini adalah כֻּתֹּנֶת עוֹר, kĕthoneth 'owr. Dalam bahasa Ibrani, 'owr adalah sebuah katabenda maskulin yang artinya "kulit" dan dalam hal ini bisa diartikan sebagai "kulit binatang" ataupun "kulit manusia" (Strong, H5785). Contoh lain dari pengggunaan kata ini sebagai "kulit binatang" misalnya pada cerita tentang Ribka yang memakaikan kulit anak kambing ke tangan dan leher Yakub untuk mengelabui Ishak yang sudah rabun itu demi mendapatkan berkat hak kesulungan (Kej. 27:16), sedangkan penggunaan kata ini sebagai "kulit manusia" ialah ketika menerangkan tentang kulit wajah Musa yang bercahaya setelah berbicara dengan Tuhan di atas gunung (Kej. 34:29). Dalam peristiwa di Taman Eden itu kata 'owr tentu saja merujuk kepada "kulit binatang" karena benda itu dipakaikan ke badan Adam dan Hawa yang telanjang, dan waktu itu hanya mereka berdua saja manusia yang ada di bumi ini.

    Segera setelah pasangan manusia pertama itu berdosa karena melanggar perintah Allah dengan cara memakan buah larangan (Kej. 3:1-6), Allah yang maha kasih itu telah memulai tindakan penyelamatan manusia dengan mengorbankan seekor binatang--tidak disebutkan apa jenis hewan itu--untuk mengambil kulitnya demi kepentingan manusia. Sejak Taman Eden sampai bangsa Israel purba bermukim di tanah perjanjian Kanaan, darah binatang selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penyembahan manusia kepada Allah. Alkitab menyaksikan, "Memang menurut hukum agama Yahudi, hampir segala sesuatu disucikan dengan darah; dan dosa hanya bisa diampuni kalau ada penumpahan darah" (Ibr. 9:22, BIMK). Kata "darah" (Grika: αἷμα, haima) digunakan berkali-kali dalam kitab Ibrani untuk menekankan tentang darah Yesus sebagai satu-satunya persembahan kurban agar manusia "mendapat kelepasan yang kekal" (Ibr. 9:12) dan "untuk menguduskan umat-Nya" (Ibr. 13:12).

    "Upacara darah menjadi ciri dari sistem persembahan kurban bangsa Israel untuk menggambarkan kebenaran penting bahwa tanpa darah kita tidak akan memiliki peluang apapun untuk diampuni dari dosa-dosa kita dan untuk masuk ke dalam hadirat Allah. Darah adalah satu-satunya cara untuk menerima kemurahan Allah dan memperoleh persekutuan dengan Dia" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

    Kuasa darah Yesus.

   Alkitab PB menerangkan tentang apa yang sudah dilakukan oleh darah Yesus bagi manusia. Berikut ini 20 ayat yang menyebutkan hal-hal apa saja yang telah dihasilkan oleh kuasa darah Yesus:

 1. Untuk pengampunan dosa (Mat. 26:28).

2. Untuk memberi kehidupan (Yoh. 6:53).

3. Untuk membuat Dia tinggal di dalam kita, dan kita di dalam Dia (Yoh. 6:56).

4. Untuk memperoleh jemaat-Nya (Kis. 20:28).

5. Untuk menjadi jalan pendamaian oleh iman (Rm. 3:25).

6. Untuk membenarkan kita (Rm. 5:9).

7. Untuk memungkin kita beroleh penebusan, pengampunan dosa (Ef. 1:7; 1Ptr. 1:18-19; Kol. 1:14).

8. Untuk mendekatkan kita dengan Allah (Ef. 2:13).

9. Untuk mendamaikan kita dengan Bapa (Kol. 1:20).

10. Untuk membebaskan kita selama-lamanya (Ibr. 9:12, BIMK).

11. Untuk membersihkan hati nurani kita (Ibr. 9:14).

12. Untuk membuat kita berani memasuki tempat kudus (Ibr. 10:19).

13. Untuk menjadi Pengantara yang bersuara lebih nyaring daripada darah Habel (Ibr. 12:24).

14. Untuk menguduskan kita (Ibr. 13:12).

15. Untuk memperlengkapi kita dalam melakukan kehendak-Nya (Ibr. 13:20-21).

16. Untuk menyucikan kita dari segala kejahatan (1Yoh. 1:9).

17. Untuk melepaskan kita dari dosa (Why. 1:5).

18. Untuk membeli seluruh umat manusia bagi Allah (Why. 5:9).

19. Untuk membasuh jubah tabiat kita (Why. 7:14).

20. Untuk mengalahkan Setan (Why. 12:10-11).

 "Darah Kristus yang ditumpahkan itu secara menakjubkan memiliki banyak fungsi. Darah Kristus menghasilkan Penebusan kekal, menyediakan penyucian dari dosa, menyediakan pengampunan, pengudusan, dan menjadi dasar bagi kebangkitan...Tertumpahnya darah Kristus dan pengaruh-pengaruhnya adalah bukti yang jelas bahwa kematian Kristus itu bersifat pengganti, artinya bahwa Ia mengambil alih hukuman yang selayaknya untuk kita" [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang kuasa darah Kristus?

1. Kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden telah mengakibatkan terjadinya penumpahan darah binatang, dan sejak itu darah telah menjadi bagian utama dari ritual penyembahan manusia kepada Allah. Darah binatang yang tidak bersalah itu melambangkan darah Yesus Kristus, kurban yang tidak berdosa untuk menutupi dosa manusia.

2. Peribadatan umat Tuhan di zaman PL selalu melibatkan darah, yaitu darah binatang, sebagai pelajaran rohani yang tidak putus-putusnya diajarkan kepada manusia tentang tercurahnya darah Kristus. Meskipun di zaman PL upacara kurban itu hanya sebagai lambang, tapi dosa dari mereka yang menjalankan ibadah itu betul-betul diampuni.

3. Darah Yesus Kristus yang secara harfiah benar-benar tercurah di kayu salib memiliki efek yang beragam terhadap kehidupan manusia, tetapi yang terutama ialah bahwa darah Kristus itu secara harfiah sesungguhnya membersihkan dosa-dosa manusia dan menyediakan pengampunan serta keselamatan bagi kita.

IV. YESUS KRISTUS, KURBAN YANG SEMPURNA (Persembahan Kurban yang Tak Bercela)

 Persyaratan kurban bakaran.

    Persembahan berupa hewan sebagai kurban bakaran dalam Perjanjian Lama adalah perintah dan kehendak Allah. Tidak sembarang hewan dapat dipersembahkan sebagai kurban bakaran, melainkan hanya binatang yang memenuhi beberapa persyaratan yang Allah sendiri tentukan. Binatang-binatang yang boleh dipersembahkan itu bisa berupa lembu, domba, atau kambing, bahkan burung untuk rakyat yang tidak mampu (Im. 1:17; 5:7-8). Kalau hewan kurban itu berupa lembu, jenis kelaminnya bisa jantan atau betina (Im. 3:1), kecuali untuk persembahan kurban atas dosa seorang imam harus lembu jantan muda (Im. 4:3), sedangkan jika untuk umat Israel pada umumnya haruslah domba jantan berumur setahun (Kel. 12:5).

    Namun, sementara persembahan kurban itu memiliki berbagai alternatif, syarat utama dari semua binatang kurban itu adalah "tidak bercela." Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan "tidak bercela" di sini adalah תָּמִים, tamiym, dari akar kata תָּמַם, tamam, yang berarti "sempurna, utuh, dan sehat" (Strong, H8549). Persyaratan ini mengacu kepada Yesus Kristus, penjelmaan Anak Allah sebagai manusia biasa yang sempurna seutuhnya, jasmaniah dan rohaniah.

 "Pemilihan hewan kurban menuntut perhatian yang besar. Seseorang tidak boleh mengambil binatang apa saja untuk persembahan; hewan itu harus memenuhi beberapa kriteria, tergantung pada jenis persembahan...Hal itu mengungkapkan ide bahwa sesuatu itu memenuhi standar yang setinggi mungkin. Hanya yang terbaik bisa disebut cukup baik" [alinea pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

    Yesus Kristus, kurban yang sempurna.

   Yesus Kristus adalah sosok manusiawi dari Anak Allah, Oknum ilahi "yang telah menyatakan Diri-Nya dalam rupa manusia" (1Tim. 3:16; huruf miring ditambahkan), supaya dapat menjalani kematian sebagai Kurban yang sempurna untuk menyelamatkan manusia. Kesempurnaan Yesus bukanlah karena sifat keilahian-Nya, melainkan karena Ia juga "turut merasakan kelemahan-kelemahan kita...telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibr. 4:15). Karena keadaan-Nya "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda" (Ibr. 7:26), maka Yesus Kristus "yang telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat" (Ibr. 9:14) itu sudah membebaskan kita "dengan sesuatu yang sangat berharga; yaitu dengan diri Kristus sendiri, yang menjadi sebagai domba yang dikurbankan kepada Allah tanpa cacat atau cela" (1Ptr. 1:18-19).

    "Yesus, 'Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia' (Yoh. 1:29), memenuhi secara sempurna kriteria Perjanjian Lama tentang persembahan kurban yang tak bercela. Hidup-Nya yang bersih menentukan Yesus sebagai sebuah persembahan kurban yang sempurna. Inilah jaminan keselamatan kita, karena hanya Dia yang tak berdosa dapat menanggung dosa kita untuk kita, dan kebenaran-Nya yang sempurna itulah yang membungkus kita, sekarang dan dalam penghakiman. Kebenaran itu adalah pengharapan keselamatan kita" [alinea keempat].

 Pena inspirasi menulis: "Melalui pengorbanan yang tak terbatas dan penderitaan yang tak terperikan maka Penebus kita telah menaruh penebusan itu dalam jangkauan kita. Dia sudah berada di dunia ini tanpa dihormati dan tak dikenal supaya melalui sikap merendahkan diri dan kerendahan hati-Nya yang ajaib itu Ia boleh mengangkat manusia untuk menerima kehormatan kekal dan sukacita abadi dalam kerajaan surga...Tak bersalah, namun mempersembahkan Diri-Nya sebagai pengganti bagi orang yang bersalah. Kesalahan dari setiap dosa menindih jiwa keilahian dari Sang Penebus dunia itu" (Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 321-322).

   Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai kurban yang tak bercela?

1. Sempurna. Itulah persyaratan yang tak tergantikan untuk suatu persembahan kurban bakaran dalam ritual penebusan dosa di zaman PL, sebab Yesus Kristus, Anak Allah yang mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban, adalah juga sempurna.

2. Kesempurnaan pengorbanan Yesus Kristus diperoleh-Nya dalam pergumulan pribadi melawan dosa di dunia ini ketika Ia mengenakan rupa manusia, bukan kesempurnaan yang terlindung di balik jubah keilahian-Nya. Kesempurnaan adalah tuntutan yang tidak dapat dikompensasikan (=ditukar) ataupun dikompromikan (=ditawar).

3. Sebagai orang Kristen kita hidup di zaman PB yang tidak lagi menuntut persembahan kurban bakaran, gantinya adalah mempersembahkan diri kita sebagai kurban yang hidup. Persyaratannya tetap sama, karena itu kita harus berusaha untuk menjadi sempurna (2Kor. 13:11) sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13).

V. KEMURTADAN DIAMARKAN (Suatu Bahaya Besar)

 Amaran penting.

   Seseorang pernah berkata (mungkin sambil berseloroh!), bahwa ada tiga kejutan yang bisa dia dapatkan di surga: pertama, bertemu dengan orang-orang yang tidak disangka berada di surga; kedua, tidak menemukan orang-orang yang seharusnya ada di surga; ketiga, menemukan dirinya sendiri di surga. Kuncinya adalah pertobatan atau kemurtadan, dan keduanya adalah sebuah keniscayaan. Artinya, orang yang sangat berdosa bisa saja bertobat pada waktu yang tepat, dan orang yang saleh dapat saja murtad pada waktu yang tidak disangka-sangka. Bahkan, salah satu dari dua kemungkinan itu bisa pula terjadi pada diri anda dan saya. Alkitab mengamarkan tentang dua hal yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga, yaitu sudah bertobat tapi kemudian murtad, atau tidak pernah bertobat meskipun sudah mengetahui tentang penebusan dan keselamatan.

 Amaran I: "Sebab, orang-orang yang sudah murtad, tidak mungkin dibimbing kembali. Mereka dahulu sudah berada di dalam terang dari Allah, dan sudah menikmati pemberian-Nya. Mereka sudah juga turut dikuasai oleh Roh Allah. Mereka tahu dari pengalaman mereka bahwa perkataan Allah itu baik, dan mereka sudah merasai karunia-karunia yang penuh kuasa dari zaman yang akan datang. Tetapi sesudah itu mereka murtad! Mana mungkin membimbing mereka kembali untuk bertobat lagi dari dosa-dosa mereka. Sebab mereka sedang menyalibkan lagi Anak Allah dan membuat Dia dihina di depan umum" (Ibr. 6:4-6, BIMK; huruf miring ditambahkan).

    Amaran II: "Sebab kalau berita yang benar dari Allah sudah disampaikan kepada kita, tetapi kita terus saja berbuat dosa dengan sengaja, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa kita. Satu-satunya yang ada untuk kita ialah menghadapi pengadilan Allah dan api kemarahan-Nya yang akan membakar habis orang-orang yang melawan Dia! Orang yang tidak mentaati hukum yang diberi oleh Musa, dihukum mati tanpa ampun, kalau atas kesaksian dua atau tiga orang, ia terbukti bersalah. Betapa lebih berat hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah. Orang itu menganggap hina darah perjanjian Allah, yakni kematian Kristus yang membersihkannya dari dosa. Ia menghina Roh pemberi rahmat. Kita tahu siapa Dia yang berkata, 'Aku akan membalas! Aku akan menghukum!' dan yang berkata, 'Tuhan akan menghakimi umat-Nya.' Alangkah ngerinya kalau jatuh ke tangan Allah Yang Hidup!" (Ibr. 10:26-31, BIMK; huruf miring ditambahkan).

    "Bahaya yang nyata dari ketidakpedulian dan pengabaian ialah bahwa seringkali prosesnya tidak kentara dan amat bertahap. Peralihannya bisa saja tanpa disadari. Perlahan-lahan pekerjaan Kristus tidak cukup dihargai, serupa dengan kegagalan Esau untuk tidak lagi menghargai hak kesulungannya (Ibr. 12:15-17). Pengorbanan Kristus jangan sampai menjadi begitu lazim sehingga kita menganggapnya sebagai hal yang biasa saja" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

 Setia sampai akhir.

   Sementara amaran terhadap orang yang sudah mendengar kebenaran Allah tapi tetap berkeras hati dan tidak mau bertobat itu sama dengan melecehkan Anak Allah dan menganggap hina darah perjanjian Allah, orang yang sudah mengenal terang Allah kemudian murtad itu disebut sebagai menyalibkan Yesus kembali dan tidak ada lagi kurban penebusan bagi mereka. Karena itu kesetiaan adalah penting.

    Rasul Paulus menasihati: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur" (Kol. 2:6-7). Melalui tulisan rasul Yohanes, Allah mempertegas janji-Nya: "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua" (Why. 2:10-11; huruf miring ditambahkan). Setia sampai mati, bukan setia sampai murtad!

    Pena inspirasi menulis: "Mereka yang menolak Roh Allah dan menyebabkan-Nya pergi, tidak tahu seberapa jauh Setan akan menuntun mereka. Apabila Roh Kudus meninggalkan orang itu secara tak terasa dia akan melakukan hal-hal yang, dalam cahaya yang benar, pernah dianggapnya sebagai dosa. Kecuali dia memperhatikan amaran-amaran, dia akan menutupi dirinya dalam penipuan yang, seperti halnya Yudas, akan menyebabkan dia menjadi seorang pengkhianat dan buta" (Ellen G. White, Review and Herald, 12 Oktober 1897).

    Apa yang kita pelajari tentang bahaya besar yang diamarkan oleh rasul Paulus?

1. Nasib manusia ditentukan oleh pilihan dari dua hal ini: bertobat dan murtad. Bertobat artinya menerima penebusan oleh darah Yesus, murtad berarti mencampakkan keselamatan yang sudah digenggam. Apapun pilihan anda sudah pasti akan mengubah nasib akhir dari kehidupan kita.

2. Kesetiaan adalah sifat dari iman Kristiani; iman tanpa kesetiaan adalah sia-sia. Namun Yesus sendiri bertanya-tanya, "Tetapi apabila Anak Manusia datang, apakah masih ditemukan orang yang percaya kepada-Nya di bumi ini?" (Luk. 18:8, BIMK). Apa respon anda terhadap kesangsian ini?

3. Kalau ada orang Kristen yang tidak selamat, itu ironi; kalau ada orang Advent yang tidak selamat, itu skandal. Betapa tidak? Sebagai orang Kristen kita seharusnya paling dekat dengan Yesus, dan sebagai orang Advent kita yang mengaku umat pilihan seharusnya paling duluan. Tetapi masalahnya, apakah anda dan saya akan terus setia dan memelihara kesempurnaan iman kita.

PENUTUP

 Dasar pengharapan kita.

    Rasul Paulus mengatakan bahwa "kita diselamatkan dalam pengharapan" (Rm. 8:24), yaitu pengharapan akan hidup kekal. "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia" (1Kor. 15:19). Pengharapan harus didasarkan pada iman, itulah sebabnya kita "harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil" (Kol. 1:23).

   "Tidak kurang dari kematian Kristus dapat membuat kasih-Nya mujarab bagi kita. Hanya karena kematian-Nya maka kita dapat memandang dengan sukacita pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Pengorbanan-Nya adalah pusat dari pengharapan kita. Di atas hal inilah kita harus mendasarkan iman kita" [alinea kedua].

    "Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus" (1Kor. 1:7-8).

DAFTAR PUSTAKA:

1. Martin Probstle, BAIT SUCI -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Oktober - Desember 2013.
2. Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.



Rabu, 13 November 2013

Siklus Belajar 6. Hari Pendamaian (The day of Atonement)

SIKLUS BELAJAR 6:

HARI PENDAMAIAN (The day of Atonement)

   MOTIVASI :
   Upacara-upacara/RITUAL-RITUAL Hari Pendamaian Perjanjian Lama menggambarkan(sebelumnya/prefigure) pekerjaan Kristus dan tanggung jawab-tanggungjawab umat-Nya during the antitypical Day of Atonement(selama lambang sesungguhnya dari Hari Pendamaian).

   Pernahkah Anda bertanya-tanya atau telah ditanya : “Mengapa GMAK menggunakan begitu banyak waktu mempelajari Hari Pendamaian, sebuah topik yang dkungan utama Alkitabnya terselip dalam satu pasal dari satu bagian yang sulit dipahami/tidak terkenal dari buku Taurat(Pentateuch – 5 Taurat yang ditulis oleh Musa), IMAMAT 16?.
   Musa mengorganisir seluruh 5 buku Taurat ke dalam struktur simetris yang indah dan meletakkan buku Imamat pada titik tertinggi dari struktur tersebut.   Mengapa pasal ini ditempatkan ditengah-tengah 5 buku Taurat?. 
   Hari PENDAMAIAN adalah hari yang paling suci sepanjang tahun di mana orang yang tersuci dari seluruh Israel (Imam Besar) masuk ke dalam tempat yang paling suci di atas bumi (Bilik Yang Maha Suci) untuk melakukan pekerjaan yang paling suci (Membersihkan Bait Suci, pekerjaan Pendamaian terakhir).
   Nama “HARI PENDAMAIAN” dalam bahasa Ibrani sebenarnya Yom Hakippurim (bentuk jamak dari intensifikasi kippur; digunakan untuk menekankan ide Pendamaian, “hari Pendamaian(terakhir)”. Im.23:27.

MENYELIDIKI:

   Dalam pelajaran ini kita akan melihat pada yang dilambangkan oleh Hari Pendamaian dan penggenapan dari lambang yang sesungguhnya.(at the typology of the Day of Atonement and its antitypical fulfillment).

UPACARA-UPACARA DARI HARI PENDAMAIAN.

A. Persembahan Korban “Harian” (Tinjau kembali Bil.29:11).

Pelayanan Harian(tamid) dari para imam tidak ditunda pada Hari Pendamaian (Bil.29:11; lihat Kel.30:8,10).  Orang-orang( the people) terus bergantung pada darah korban dan dupa perantaraan ke imamatan.  Dasar penerimaan di hadapan Allah selama lambang sesungguhnya dari Hari Pendamaian tetap tinggal seperti semula : darah Kristus Pengganti kita dan kebenaran-Nya diberikan kepada kita (imputed to us).

B. KAMBING KEPUNYAAN ALLAH/Lord’s God) – (Tinjau kembali Imamat 16:3-19).

Sejumlah kebenaran-kebenaran penting muncul dari persembahan “Kambing milik Tuhan/”Lord’s God.
1. Darah –Tanpa Dosa(Sin – free blood) .  Tidak ada tangan diletakkan di atas Kambing kepunyaan Tuhan (ayat 9,15); dan karenanya, tidak ada dosa yang dipindahkan kepadanya; darahnya adalah “tanpa dosa”.  Sebagai darah “tanpa dosa”, fungsinya bila diterapkan ke Bait Suci bukanlah untuk mencemarkan tetapi membersihkan Bait Suci.
2. Pergerakan di sebelah luar (Outward movement).  Pekerjaan pendamaian pada Hari Pendamaian pindah keluar, dari Bilik Yang Mahasuci ke halaman (ayat 15-18), secara simbolis menunjukkan bahwa darah kambing milik Tuhan tidak mencemarkan Bait Suci tetapi membersihkannya.
3. Pemeriksaan Penghakiman (The day of Judgement).  Hari penghakiman menunjukkan hari pemeriksaan penghakiman Ilahi.  Mereka yang “tidak menyengsarakan jiwa”/afflict their souls (harafiahnya/literally “merendahkan diri sendiri”/humble their selves” dalam pertobatan ) pada hari Pendamaian akan di “potong”/out off , contohnya , berada di bawah pemeriksaan penghakiman Ilahi mengenai  kehidupan setelah kematian mereka (Im.16:29, 31: 23:27,29,32).  Para Teolog Yahudi modern mengakui fungsi  hari Pendamaian ini.
4. Pendamaian melampaui pengampunan (Atonement beyond forgiveness).  Tidak ada disebutkan pengampunan(Ibr: salach) dalam Imamat 16 (atau ayat  lain yang merujuk kepada hari Pendamaian).  Sepanjang tahun, Allah telah mengambil tanggungjawab bagi dosa-dosa yang diampuni atas diri-Nya sendiri, sebagaimana itu terjadi di Bait Suci.  Pada Hari Penghakiman Ia sanggup membersihkan Bait Suci sebagaimana Ia menunjukkan keadilan-Nya karena telah mengampuni orang-orang berdosa sepanjang tahun.
5. Penyucian/Pembersihan (Cleansing).  Hari Pendamaian melibatkan suatu pekerjaan pembersihan menyeluruh bagi umat-umat Allah. (Lihat Im.16:30; Yeh.36:25-27; Mal.3:2,3).  Tetapi perhatikan bahwa adalah Allah yang mengambil tanggungjawab bagi pembersihan atas mereka yang mengizinkan Dia untuk melakukan pekerjaan ini dalam hidup mereka.

C. RITUAL KAMBING PENANGGUNG DOSA (AZAZEL)/ The Scapegoat(Azazel Ritual)—Tinjau kembali Imamat 16:5-10, 20-13).

Banyak tema-tema dari bukti Alkitab mendukung kesimpulan bahwa “Scapegoat(Azazel) ritual/ ritual “Kambing Penanggung Dosa” menunjuk kepada Setan dan bukan kepada Kristus.

1. Kesejajaran pribadi sebagai manusia (Parallelism of personal being).  Menurut Imamat 16:8, salah satu dari dua kambing yang ditentukan oleh undian adalah leYHW “(berdiri/standing) for/untuk (atau kepunyaan/or belonging to ) Yahwe, dan yang lain adalah la’aza’zel”(berdiri/standing) for/untuk (atau kepunyaan/belonging to ) Azazel,  Jika ungkapan pertama “for the Lord”mengarah kepada pribadi, Yahwe, maka dalam kesejajaran alamiah, ungkapan kedua “for Azazel”/“bagi azazel” akan menunjuk kepada pribadi lainnya yang berlawanan/bertentangan  kepada Yahwe, misalnya Setan..
2. Waktu (Timing).  Ritual Azazel terjadi setelah pekerjaan pendamaian bagi Bait Suci diselesaikan (Im.16:20).
3. Bukan Kurban (Nonsacrificial).  Tidak seperti Kambing milik Tuhan, kambing milik Azazel tidak disembelih, tetapi, sebaliknya, itu digiring keluar hidup-hidup ke padang belantara (ayat 20-22).  Kambing Azazel bukanlah bagian dari, juga tidak terkait dengan, persembahan korban penghapus dosa.
4. Upacara penghapusan/pembersihan (Elimination rite).  Ritual Azazel bukanlah ritual korban tetapi suatu upacara penghapusan/pembersihan(Elimination rite)  Azazel adalah “the tote goat”/“kambing pemikul” – a “garbage truck”/“truk sampah,” sebagaimana itu adanya—secara keagamaan membawa “sampah” moral keluar perkemahan setelah terlebih dahulu diperdamaian.
5. Azazel dan kambing Setan (Azazel and the goat demons).   Imamat 17 mengamarkan agar orang Israel  tidak mempersembahkan korban-korban/sacrifices  kepada “kambing Setan”/”goat demons (Ibrani se’irim).  Di tempat lain dalam Alkitab “kambing Setan” ini dikaitkan dengan padang belantara (Yes.13:21; 34:14). Kambing Azazel digiring keluar ke padang belantara telah dihubungkan dengan kuasa-kuasa Setan yang diwakili oleh kambing berbulu/hairy goats.  Interpretasi Azazel sebagai kuasa Setan adalah suatu pendapat yang dominan di antara sumber-sumber awal orang Yahudi, juga terwakili dengan jelas dalam pengajaran para Bapa-bapa gereja mula-mula dan pendapat yang umum yang didukung oleh para ahli masa kini.
6. Wahyu 20.  Doktrin yang melambangkan Azazel menemukan penggenapan yang mencolok dalam nasib Setan selama millenium.  Dalam sebuah kiasan yang jelas kepada Imamat 16, Yohanes sang Pewahyu dalam Wahyu 20:1-3 menggambarkan Setan menjadi “terikat” (oleh rantai situasi) ke bumi yang kosong (Yunani abyssos, kata yang sama digunakan untuk bumi yang kosong dalam Yeremia 4:23).
7. Saksi Jahat.  Setan menanggung kesalahan orang benar, bukan dalam arti menjadi Juruselamat mereka tetapi sebagai “pendakwa saudara-saudara kita” (Why.12:10).  Dia hanya menerima ganti rugi sesuai dengan prinsip saksi jahat (Ul.19:!5-19); Why.20:10).

II. Aktifitas-aktivitas Jemaat pada Hari Pendamaian (Tinjau kembali Im.23:23-32).

   Lima aktifitas jemaat Israel pada Hari Pendamaian yang masing-masing memiliki aplikasi terhadap lambang sesungguhnya bagi Israel rohani saat ini:
A. Berkumpul di Bait Suci untuk pertemuan kudus (ayat 27). “Umat Allah saat ini harus mengarahkan pandangan mereka pada Bait Suci Surgawi”. –E.G. White, Life Sketches, hlm.278 (bandingkan Ibrani 4:16; 10:19,20).
B. Mengenali kurban persembahan yang dibuat oleh Imam (ayat 27). Lihat Ibr.12:22-24. “Satu kepentingan akan menang, satu subjek akan menelan setiap yang lainnya,- Kristus kebenaran kita.” E.G. White, Sons and Daughters, hlm.259.
C. Berhenti dari pekerjaan (ayat 28,30,31).  Lihat Ibr.4:3,9; E.G. White berbicara tentang “perhentian kasih karunia.”- The SDA Bible Commentary, jld.7,hlm.928.
D. Berduka(Merendahkan diri)—Afflict(Humble) One’s souls. (ayat 27,29,32).  Lihat Yes.58:5-11. “ Adalah pekerjaan Allah dalam meletakkan kemuliaan manusia di dalam debu”.—E.G. White, Testimonies to Ministers, hlm.456.
E. Menjalani sebuah pekerjaan pembersihan/Undergo a work of Cleansing-- (Im.16:30).  Lihat Mal.3:2,3; Yeh.36:25-27.

MENERAPKAN:

   Kata untuk  CLEANSE/“membersihkan” dalam Daniel 8:14 adalah nitsdaq, yang memiliki makna yang luas, termasuk “membersihkan,” “memulihkan,”/restore dan Vindicate/“membela.”  Bagaimanakah masing-masing makna cocok /match dengan aktivitas-aktivitas imam besar pada Hari Pendamaian?.


6. "Yom Kippur, Antara Tradisi Dan Doktrin.

"HARI PENDAMAIAN"

PENDAHULUAN

 Upacara maha kudus.

   "Hari Pendamaian" adalah upacara terbesar dan maha kudus sejauh menyangkut sistem persembahan kurban di Bait Suci pada zaman Perjanjian Lama (PL), dan merupakan hari raya terpenting dan paling utama dalam sejarah bangsa Israel sampai kini. Perayaan "hari pendamaian" didasarkan pada perintah Allah sebagaimana tercatat dalam kitab Imamat 16:29-30: "Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan."

    Hari raya besar ini masih dipelihara hingga sekarang, baik oleh orang Yahudi di Israel maupun masyarakat Yahudi yang bermukim di luar negeri, khususnya di AS dan Eropa, yang dalam bahasa Ibrani disebut "Yom Kippur." Sesuai dengan bunyi ayat di atas Yom Kippur dirayakan pada setiap hari ke-10 bulan Tishri dalam kalender Yahudi yang tahun ini telah memasuki tahun 5774, atau dalam kalender internasional jatuh pada hari Jumat, 13 September 2013 (tahun depan: Sabtu, 14 September 2014). Perlu diketahui bahwa penghitungan hari menurut kalender Yahudi selalu dimulai pada saat matahari terbenam malam sebelumnya hingga matahari terbenam hari berikutnya, jadi praktis mereka merayakannya selama dua hari dalam kalender internasional, yakni tanggal 13 malam sampai tanggal 14 malam bulan September tahun ini. "Yom Kippur" adalah "Hari Sabat" terbesar dan paling suci bagi masyarakat Yahudi, bahkan mereka yang jarang beribadah di sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi) tidak akan melewatkan kesempatan sekali setahun yang istimewa ini untuk datang ke sinagog.

 Upacara "Hari Pendamaian" di zaman moderen ini tidak lagi sama dengan upacara serupa pada zaman Musa ketika seluruh bangsa berhimpun di sekeliling Bait Suci di mana upacara dipusatkan, dan yang terutama sekarang ini tidak ada lagi upacara persembahan kurban seperti dulu. Untuk menggantikan upacara kurban itu kelompok Yahudi ortodoks melakukan ritual yang disebut "kaporos" atau "kapparot" di mana mereka mengambil seekor ayam hidup kemudian diputar-putarkan di atas kepala beberapa kali lalu membanting ayam itu ke tembok atau ke tanah sekuat-kuatnya supaya mati. Tradisi yang dilakukan menjelang matahari terbenam sebelum memasuki Yom Kippur itu mereka anggap sebagai pengganti upacara kurban, dan dengan memutar-mutarkan ayam itu di atas kepala sambil komat-kamit berdoa mereka percaya bahwa dosa-dosa mereka sudah dipindahkan kepada ayam itu sebagai kurban. Tradisi yang dicap sebagai kekejaman terhadap hewan ini banyak mendapat tantangan masyarakat di AS dan Eropa, bahkan di Belanda dan Polandia tradisi ini sudah dilarang pemerintah. (Baca lebih jauh di sini--> http://www.earthintransition.org/2012/09/animal-sacrifice-and-the-day-of-atonement/).

     Melalui Musa, Allah telah memberi perintah kepada bangsa Israel purba tentang "Hari Pendamaian" (TL: "Hari Gafirat") ini sebagai hari pengudusan sebagai satu bangsa, bagi para imam dan juga bagi mezbah serta Bait Suci itu sendiri (Im. 16:33). Sebagai hari paling penting dalam sistem upacara keagamaan untuk umat Israel ini merupakan hari perhentian terbesar, atau yang dapat kita sebut sebagai "Sabatnya hari Sabat" (Sabbath of Sabbaths) di mana segala bentuk pekerjaan apapun sangat dilarang. Dalam tradisi Yahudi, pada permulaan dan penutup hari ini ditandai dengan tiupan terompet tradisional terbuat dari tanduk yang disebut shofar.

    "Ini juga disebut sebagai Sabat perhentian penuh (Im. 16:31), hari yang menyerukan perhentian dari segala pekerjaan yang adalah unik untuk sebuah perayaan tahunan Israel. Fakta ini menempatkan hari itu tepat di dalam konsep tentang Hari Sabat--satu waktu untuk berhenti dalam apa yang Allah, sebagai Khalik dan Penebus, telah lakukan (dan akan lakukan) bagi kita" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

I. HARI PENGHAPUSAN DOSA BANGSA (Pentahiran Tahunan)

 Pengampunan dosa kolektif.

"Hari Pendamaian" (Ibrani: יוֹם כִּפֻּר, Yom Kippur) merupakan hari penghapusan dosa Israel secara bangsa terhadap Tuhan, yaitu segala dosa yang bersifat pelanggaran Hukum Allah yang dilakukan oleh umat itu sepanjang satu tahun sebelumnya. Ini didasarkan pada perintah yang terdapat dalam Imamat 23:26-27, "Tanggal sepuluh bulan tujuh adalah hari upacara tahunan untuk pengampunan dosa bangsa Israel. Pada hari itu kamu harus berpuasa dan mengadakan pertemuan untuk beribadat serta mempersembahkan kurban makanan kepada Tuhan" (BIMK; huruf miring ditambahkan). Jadi, ini adalah hari penghapusan dosa yang bersifat vertikal. Sedangkan dosa-dosa di antara sesama bangsa itu secara perorangan maupun kaum-keluarga, yaitu dosa yang bersifat horisontal, sudah harus dibereskan sebelum Yom Kippur (Yom=hari; kippur=pendamaian/pengampunan).

     Kata "Kippur" dalam bahasa Ibrani berasal dari akar kata כָּפַר, kafar, yang berarti "menebus" atau "mengadakan perdamaian." Kata ini paralel dengan kata Ibrani lainnya, פָּדָה, padah, yang artinya "tebus" seperti yang digunakan antara lain dalam Kel. 13:13, Im. 19:20, Ul. 9: 26, dan Mzm. 49:8. Jadi, Yom Kippur pada dasarnya adalah "hari tebusan" atau "hari penebusan" yang dalam hal ini merujuk kepada kurban penebusan yang diadakan oleh Yeshua atau Yesus sebagai Mesias.

    "Segala jenis dosa dan kenajisan ritual sepanjang tahun dipindahkan ke Bait Suci. Bersamaan dengan Hari Pendamaian tibalah waktu untuk pembersihan dosa-dosa dan kenajisan-kenajisan itu...Hari Pendamaian adalah waktu untuk menghilangkan dosa-dosa ini dari Bait Suci; proses ini dilaksanakan melalui darah kambing 'bagi Tuhan'" [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinea ketiga: kalimat terakhir].

    Hari pembersihan Bait Suci.

    Maksud dari diadakannya "Hari Pendamaian" itu dijelaskan oleh Allah sendiri, "Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka" (Im. 16:16; huruf miring ditambahkan).

    Sepanjang satu tahun dosa-dosa bangsa Israel, baik secara pribadi maupun sebagai satu umat, baik dosa rakyat biasa maupun dosa para pemimpin dan para imam, semuanya telah "dipindahkan" ke Bait Suci melalui ritual pemercikan dan pengolesan darah hewan kurban yang diadakan dari hari ke hari. Maka Allah menetapkan bahwa sekali setahun Bait Suci yang sudah menampung segala dosa umat Israel itu harus dibersihkan, dan hari itu disebut Hari Pendamaian. Pembersihan dosa dari Bait Suci itu dilakukan dengan mempersembahkan kurban lembu jantan untuk pengampunan dosa diri imam besar dan keluarganya (ay. 11), serta domba jantan untuk pengampunan dosa bangsa Israel (ay. 15), yang darahnya dipercikkan ke atas "tutup pendamaian" di dalam bilik mahasuci di dalam Bait Suci. Sebagian dari darah lembu jantan dan domba jantan itu digunakan juga untuk ritual "pendamaian bagi mezbah" yang berada di halaman dengan cara mengoleskannya pada tanduk-tanduk mezbah itu dan memercikannya juga ke bagian atas mezbah itu (ay. 18-19).

    Prosesi berikutnya adalah pemindahan dosa-dosa bangsa Israel dari Bait Suci kepada seekor kambing jantan, diperagakan melalui penumpangan tangan imam besar ke kepala binatang itu yang melambangkan pemindahan dosa bangsa Israel melalui tangan imam besar kepada kambing jantan itu. "Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun" (ay. 22).

 "Imam besar mengadakan pendamaian dengan darah kambing bagi Tuhan, membersihkan seluruh Bait Suci. Prosedur yang sama juga menghasilkan pentahiran umat itu sehingga ketika Bait Suci dibersihkan dari seluruh dosa-dosa orang banyak bangsa itu sendiri juga dibersihkan. Dalam pengertian ini Hari Pendamaian itu unik, sebab hanya pada hari itu saja baik Bait Suci maupun bangsa itu dibersihkan" [alinea kelima: tiga kalimat terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang upacara pentahiran tahunan Israel purba?

1. "Hari Pendamaian" (d/h Hari Gafirat) adalah upacara tahunan yang merupakan puncak dari seluruh ritual persembahan kurban sepanjang tahun bagi umat Israel purba. Pada hari itu dua upacara simbolik dilakukan: pembersihan Bait Suci dan pemindahan dosa bangsa Israel kepada seekor kambing jantan.

2. Upacara pembersihan Bait Suci didahului dengan pembersihan dosa imam besar dan keluarganya dengan mempersembahkan lembu jantan, dan pembersihan dosa bangsa Israel dengan mempersembahkan domba jantan. Darah kedua binatang itu dipercikkan ke atas "tutup pendamaian" dari tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Hukum dan tersimpan di bilik mahasuci, juga pengolesan dan pemercikan darah ke atas mezbah.

3. Selanjutnya adalah upacara simbolik pemindahan dosa bangsa Israel kepada kambing jantan melalui penumpangan tangan pada kepalanya oleh imam besar. Kambing jantang yang disebut "azazel" itu kemudian dilepaskan hidup-hidup ke gurun (Im. 16:8, 10).

II. IMAM BESAR MELAMBANGKAN KRISTUS (Melampaui Pengampunan)

 Pengantara Allah dan manusia.

   Atas ketetapan Allah, hari pendamaian itu "harus diadakan oleh imam yang telah diurapi dan telah ditahbiskan untuk memegang jabatan imam menggantikan ayahnya" (Im. 16:32). Ini menegaskan bahwa jabatan imam pada zaman PL merupakan jabatan warisan yang sifatnya turun-temurun, imam biasa dari suku Lewi dan imam besar dari keluarga Harun. Sebenarnya dalam ayat ini tidak disebutkan secara tegas bahwa yang memimpin upacara hari pendamaian itu adalah seorang "imam besar" (Ibrani: כֹּהֵןגָּדוֹל, kohen gadowl), tetapi hanya disebut "imam" (כֹּהֵן, kohen). Namun ayat berikutnya memberi petunjuk bahwa "Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat maha kudus, bagi Kemah Pertemuan dan bagi mezbah, juga bagi para imam dan bagi seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu" (ay. 33; huruf miring ditambahkan). Hanya imam besar yang dapat mengadakan "pendamaian" ataupun "pentahiran" bagi para imam yang lain, selain juga bagi Kemah Pertemuan atau Bait Suci dan bagi seluruh jemaah.

    Istilah "imam besar" baru disebutkan pertama kali dalam Imamat 21:10, yang dalam versi TB (Terjemahan Baru) diterjemahkan "imam yang terbesar" atau "Imam Agung" dalam terjemahan versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini). Penyebutan "imam besar" pertama dalam versi TB baru ditemukan pada kitab Bilangan 35:25. Tidak ada catatan yang pasti dalam Alkitab tentang jumlah imam besar yang pernah ada sepanjang sejarah berdirinya Kaabah Pertama (Bait Suci Musa) hingga Kaabah Kedua (Bait Suci Salomo). Tetapi menurut Josephus (37-100 TM), sejarahwan Yahudi berdarah imam yang nama aslinya ialah Yusuf bin Matityahu, mulai dari Harun (imam besar pertama) hingga Pinehas (imam besar terakhir sebelum Bait Suci Yerusalem dihancurkan tahun 70 TM) terdapat 83 imam besar, 13 di antaranya adalah keturunan langsung dari Harun yang melayani pada masa Kaabah Pertama.

    "Fungsi utama dari imam besar adalah menengahi antara Allah dan umat manusia. Mengenai Bait Suci, dia menjalankan sistem dan melakukan berbagai upacara kurban dan persembahan (Ibr. 8:3). Tugasnya pada Hari Pendamaian itu sangat besar. Dia melaksanakan hampir setiap upacara, terkecuali membawa kambing Azazel ke padang gurun, walaupun dialah yang memberi perintah untuk menjauhkan kambing itu" [alinea pertama].

 Melambangkan Kristus.

   "Imam Besar" mengandung dua makna, yaitu sebagai seorang yang mengantarai Allah dan manusia dalam upacara Hari Pendamaian dan sebagai seorang yang dikuduskan atau dikhususkan untuk tugas-tugas istimewa di Bait Suci. Berbicara tentang Yesus Kristus, penulis kitab Ibrani menulis: "Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibr. 2:17-18). Imam besar dalam PL mengenakan efod atau penutup dada bertahtakan 12 batu mulia yang melambangkan ke-12 suku Israel, dan nama-nama mereka tercantum di pundaknya sebagai pertanda bahwa imam besar itu memikul nasib seluruh bangsa Israel. Sebagai "imam besar" Yesus Kristus tidak mengenakan atribut itu, tetapi salib yang dipikul-Nya merupakan lambang nyata bahwa nasib umat manusia--bukan saja kedua belas suku Israel--semuanya berada di pundak-Nya.

     "Pada Hari Pendamaian, imam 'agung' itu, sebagaimana dia juga disebut, menjadi contoh hidup tentang Kristus. Sama seperti perhatian umat Allah terpusat pada imam besar, Yesus adalah pusat yang eksklusif dari perhatian kita. Sebagaimana aktivitas-aktivitas imam besar di bumi membawa pembersihan kepada jemaah, demikianlah pekerjaan Yesus di Bait Suci surgawi melakukan hal yang sama untuk kita (Rm. 8:34, 1Yoh. 1:9). Sama seperti satu-satunya pengharapan jemaah pada Hari Pendamaian berada pada imam besar, pengharapan kita satu-satunya adalah di dalam Kristus" [alinea kedua].

    Imam besar di zaman PL hanya untuk bangsa Israel purba saja, sedangkan Yesus Kristus adalah Imam Besar untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman. Imam besar di zaman PL masih melakukan pelanggaran dan dosa sehingga dia sendiri juga harus memohon pengampunan atas dosa-dosa dirinya dan keluarganya dengan mempersembahkan kurban bakaran, tetapi Yesus Kristus adalah Imam Besar yang sempurna dan tak bercela. "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat surga" (Ibr. 7:25-26).

 Apa yang kita pelajari tentang peran imam besar dalam upacara Hari Pendamaian?

1. Imam besar adalah pejabat tertinggi dalam pelayanan ibadah di Bait Suci PL, dan dialah yang berhak mengadakan upacara Hari Pendamaian setahun sekali di mana dia akan masuk ke dalam bilik mahasuci untuk mempersembahkan darah kurban ke atas tutup pendamaian demi pengampunan dosa seluruh jemaah Israel.

2. Tugas seorang imam besar adalah sebagai "pengantara" antara Allah dan manusia dalam hal mana dia memohon pengampunan dosa kepada Allah atas nama seluruh umat Israel. Imam besar melambangkan Yesus Kristus yang menjadi Pengantara Allah dan manusia untuk memohon keampunan sejati.
3. Tidak seperti imam besar PL yang harus lebih dulu mengadakan persembahan kurban untuk keampunan dosanya dan keluarganya sendiri sebelum memimpin upacara Hari Pendamaian, Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang tidak berdosa dan sempurna tidak memerlukan prosesi seperti itu. Yesus adalah Imam Besar sejati.

III. SETAN DILAMBANGKAN (Azazel)

 Ditentukan atas undian.

   Khusus untuk upacara Hari Pendamaian imam besar harus menyediakan dua ekor kambing jantan yang diperolehnya dari rakyat Israel, yang satu melambangkan Kristus sebagai Penebus manusia dan satu lagi melambangkan Setan sebagai Penggoda manusia, yang penentuannya dilakukan melalui mekanisme undian. "Ia harus mengambil kedua ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan Tuhan di depan pintu Kemah Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi Tuhan dan sebuah bagi Azazel. Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi Tuhan itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan Tuhan untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" (Im. 16:7-10).

    Istilah "Azazel" (Ibrani: עֲזָאזֵל) secara etimologis (asal kata) merupakan perpaduan dari kata עֵז, 'ez, yaitu "kambing" dan kata אָזַל, 'azal, yang artinya "pergi" atau "mengembara"; sehingga aza'zel, bisa berarti "kambing yang disuruh pergi" atau "kambing pengembara" (Strong, H5799). Kita tidak menemukan kata ini dalam semua versi Alkitab berbahasa Inggris, kecuali antara lain dalam New Revised Standard Version (NRSV), Today's English Version (TEV), Contemporary English Version (CEV) dan versi baru The Message (MSG). Alkitab versi-versi lain semisal King James dan New King James (KJV dan NKJV), New American Standard Version (NASV), New American Standard Bible (NASB), Revised Standard Version (RSV) dan New International Version (NIV) menggunakan istilah "scapegoat" yang padanan katanya dalam Bahasa Indonesia adalah "kambing hitam." Dalam Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) tercantum imbuhan keterangan seperti ini: "*Azazel: arti kata Ibrani ini tidak diketahui, mungkin merupakan nama roh jahat yang diam di padang gurung." Versi Terjemahan Lama (TL) menyebutnya "kambing yang hendak dihalaukan." Kita tidak menemukan penjelasan yang absah perihal asal-usul istilah "azazel" ini, yang ada umumnya bersifat penafsiran mitologis. Misalnya, "azazel" adalah malaikat-malaikat jahat yang disebut "Uza" dan "Azael" atau "raksasa-raksasa jahat" sebagaimana dimaksud dalam Kej. 6:2, 4.

 "Hal ini tidak mungkin berlebihan: ritual susulan menyangkut kambing yang hidup itu tidak ada hubungannya dengan pentahiran sesungguhnya dari Bait Suci atau jemaah itu. Kedua-duanya sudah ditahirkan...Ritual dengan kambing yang hidup itu adalah upacara yang merampungkan pembuangan dosa terakhir. Pertama-tama dosa akan ditanggungkan ke atas dia yang bertanggungjawab untuk itu kemudian dibawa pergi dari jemaah untuk selama-lamanya. 'Pendamaian' telah dilakukan atas hal itu dalam pengertian menghukum (Im. 16:10), sementara kambing itu memikul tanggungjawab akhir untuk dosa" [alinea pertama: dua kalimat terakhir; alinea ketiga].

 Dosa dibuang dan dilupakan.

   Sebagaimana diatur oleh Tuhan bahwa pada upacara Hari Pendamaian itu, selain persembahan kurban berupa lembu jantan dan domba jantan, juga harus disediakan dua ekor kambing jantan. Kedua kambing jantan itu harus diterimanya dari umat Israel. "Dari umat Israel ia harus mengambil dua ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran" (Im. 16:5; huruf miring ditambahkan). Perhatikan bahwa sekalipun kambing yang satu dipersembahkan sebagai kurban bakaran dan yang lainnya sebagai "kambing azazel" yang dibiarkan hidup tetapi dibuang ke padang gurun, namun sebagai satu kesatuan kedua binatang itu sama-sama memerankan simbol penghapusan dan pendamaian. Allah berkata, "Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi Tuhan itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan Tuhan untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" (ay. 9-10; huruf miring ditambahkan).

    Sementara kambing pertama yang dipersembahkan sebagai persembahan kurban itu melambangkan Yesus Kristus yang mati di atas salib untuk penebusan dosa manusia, kambing kedua yang terkena undi untuk "dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" itu juga mengibaratkan pemikul dosa manusia yang akan membawanya kepada Azazel, meskipun kambing kedua itu tidak melambangkan Kristus. "Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun" (ay. 21-22; huruf miring ditambahkan). Kambing jantan yang kedua itu memperagakan janji Allah yang akan "menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mi. 7:19).

    Pena inspirasi menulis: "Kambing hitam itu, yang memikul dosa-dosa Israel, diusir 'ke daerah tandus yang tidak didiami' (Im. 16:22, BIMK); begitulah Setan, sambil memikul kesalahan dari seluruh dosa-dosa yang telah dia sebabkan sehingga umat Allah lakukan, selama seribu tahun akan dipenjarakan di bumi yang akan dibuat tandus, tanpa penghuni, dan pada akhirnya dia akan menderita hukuman dosa sepenuhnya dalam neraka yang akan membinasakan semua orang jahat. Demikianlah rencana keselamatan yang agung itu akan mencapai penyelesaiannya dalam penghapusan dosa terakhir dan kelepasan semua yang telah rela menolak kejahatan" (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 486).

 Apa yang kita pelajari tentang kambing Azazel dan makna yang digambarkannya?

1. Peribadatan di Bait Suci PL yang sarat dengan simbol itu mencapai puncaknya pada upacara Hari Pendamaian ketika diadakan ritual pentahiran mezbah, Bait Suci, dan bangsa Israel sebagai satu umat. Disebut "hari pendamaian" sebab pada hari itu imam besar "mendamaikan" perseteruan antara Allah dan umat-Nya karena dosa.

2. Selain lembu jantan dan domba jantan sebagai persembahan kurban, binatang lain yang dilibatkan dalam upacara paling penting bagi umat Israel purba itu adalah dua ekor kambing jantan. Undian adalah prosedur yang ditetapkan Allah untuk menentukan mana yang akan menjadi persembahan kurban dan mana yang akan dibuang ke gurun sebagai pemikul dosa bangsa itu.

3. Secara bersama-sama kedua kambing jantan itu memperagakan pengampunan dan penghapusan dosa, yang satu mati sebagai kurban bakaran dan yang lainnya dibuang ke gurun sebagai "kambing hitam" (azazel). Tetapi "azazel" itu hanya ada di zaman PL sebagai lambang, dalam dunia nyata kita tidak dapat mencari "kambing hitam" untuk perbuatan dosa yang kita sendiri sengaja lakukan.

IV. PUNCAK PENGAMPUNAN DOSA (Pada Hari Pendamaian)

 "Hari Pendamaian" bagi Israel purba.

   Sifat pokok dari "hari pendamaian" (Ibrani: Yom Kippur; Inggris: Day of Atonement) dalam Perjanjian Lama adalah penghapusan dosa yang dalam hal ini bersifat kolektif bagi bangsa Israel purba sebagai satu umat atau jemaah. Inilah titik kulminasi dari segala upacara persembahan kurban bakaran sepanjang tahun sebagai ritual penghapusan dosa secara perorangan yang dilakukan setiap hari di halaman Bait Suci. Pada hari pendamaian itu diadakan juga ritual pentahiran atau pembersihan mezbah dan Bait Suci, yaitu upacara untuk membersihkan dosa-dosa bangsa Israel yang selama satu tahun telah "dipindahkan" ke mezbah dan Bait Suci. Kita bisa bayangkan betapa mezbah itu berbau amis oleh darah-darah hewan kurban yang dicurahkan ke bagian samping dan bawah mezbah itu. Tetapi pembersihan mezbah dan Bait Suci itu tidak dilakukan dengan air melainkan dengan darah hewan kurban juga. Katakanlah, darah "dibersihkan" dengan darah.

    Tujuan utama dari "Hari Pendamaian" bagi bangsa Israel purba ialah "karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan" (Im. 16:30; huruf miring ditambahkan). Versi BIMK menerjemahkan ayat ini: "Pada hari itu harus dilakukan upacara untuk menyucikan bangsa Israel dari segala dosa mereka supaya mereka bersih" (huruf miring ditambahkan). Pada hari itu seluruh bangsa Israel harus menjalankan dua hal. "Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa" (Im. 23:32; huruf miring ditambahkan). Dalam tradisi bangsa Israel, berhenti bekerja berarti "pengudusan" sedangkan berpuasa menandakan "kerendahan dan kesungguhan hati." Jadi, hari pendamaian adalah hari yang dikuduskan secara penuh dan merendahkan diri dengan sungguh-sungguh. Dua ketentuan ini serius, sebab siapa saja di antara mereka yang "tidak merendahkan diri dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya" (ay. 29), dan mereka "yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya" (ay. 30).

    "Hari Pendamaian sesungguhnya tidak kurang dari soal hidup dan mati. Hal itu menuntut kesetiaan sempurna dari orang percaya kepada Allah...Dengan mengabaikan apa yang Allah telah rencanakan untuk diperagakan pada hari ini, orang itu membuktikan dirinya tidak setia kepada Allah" [alinea kedua: kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat terakhir].

 "Hari Pendamaian" bagi kita sekarang.

    Bagi masyarakat Yahudi zaman ini, "Yom Kippur" adalah salah dari dua hari raya yang untuk merayakannya pasti akan membawa mereka ke sinagog; hari raya lainnya yang sama penting dengan itu adalah "Rosh Hashanah" atau tahun baru Yahudi, sepuluh hari sebelum Yom Kippur. Banyak orang Yahudi perantauan sekarang ini yang jarang beribadah ke sinagog, tapi pada hari raya Yom Kippur dan Rosh Hashanah mereka pasti menyempatkan diri untuk pergi ke sinagog. Sama seperti kebanyakan "orang Kristen" zaman moderen yang hanya pergi ke gereja dua kali setahun, yaitu pada waktu merayakan Natal dan Paskah.

 Kekristenan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Yom Kippur atau "hari pendamaian" sebagai tradisi Yahudi, tetapi secara teologis ide pengampunan dan pemindahan dosa yang diperagakan dalam upacara zaman Israel purba itu menjadi doktrin pokok yang diimani oleh setiap orang Kristen. Sebab sebagai umat percaya kita juga memerlukan pengantara yang melaksanakan tugas-tugas seorang imam besar, tetapi bukan dalam Bait Suci duniawi melainkan di surga. "Tetapi Kristus sudah datang sebagai Imam Agung dari hal-hal yang baik yang sudah ada. Kemah Tuhan di mana Ia mengerjakan tugas-Nya sebagai Imam Agung adalah kemah yang lebih agung dan lebih sempurna. Itu tidak dibuat oleh manusia; artinya bukan berasal dari dunia yang diciptakan ini. Kristus memasuki Ruang Mahasuci di dalam kemah itu hanya sekali saja untuk selama-lamanya. Pada waktu itu Ia tidak membawa darah kambing jantan atau darah anak lembu untuk dipersembahkan; Ia membawa darah-Nya sendiri, dan dengan itu Ia membebaskan kita untuk selama-lamanya" (Ibr. 9:11-12, BIMK).

    Bahwa Yesus Kristus hanya sekali saja memasuki Ruang Mahasuci dengan membawa darah-Nya sendiri itu mengibaratkan kematian-Nya di salib yang hanya satu kali saja dijalani, dan dengan itu "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus...sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (Ibr. 10:10, 14). Namun ini bukan jaminan bahwa sekali kita sudah dikuduskan dan disempurnakan maka kita tidak akan pernah berdosa lagi sehingga pasti selamat. "Kita aman di dalam Kristus hanya selama kita hidup dalam iman, dan kita menyerahkan diri kepada-Nya, meminta kuasanya untuk kemenangan bilamana digoda dan memohon pengampunan-Nya apabila kita jatuh" [alinea terakhir: kalimat terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang Hari Pendamaian bagi umat Kristen sekarang ini?

1. Hari Pendamaian dalam PL adalah puncak upacara pengampunan dosa bagi bangsa Israel purba sepanjang tahun. Pada hari itu mezbah dan Bait Suci yang selama satu tahun "menampung" dosa-dosa sehari-hari bangsa itu dibersihkan, dan pada saat yang sama pembersihan itu juga membersihkan seluruh bangsa.

2. Pada hari pendamaian itu semua orang Israel harus berhenti dari segala bentuk pekerjaan sebagai tanda pengudusan, dan berpuasa sebagai tanda merendahkan diri. Pengampunan dosa adalah hal paling utama dalam peribadatan maupun keimanan, dan pengampunan hanya diperoleh melalui pengudusan diri dan kerendahan hati.

3. Pengampunan dosa tidak selalu identik dengan keselamatan. Yesus Kristus telah mengadakan "hari pendamaian" bagi seluruh umat manusia sepanjang masa melalui kematian penebusan-Nya di salib, sekali untuk selamanya. Tetapi bukan berarti bahwa pengampunan dosa cukup sekali saja untuk selamanya, sebagaimana dicontohkan dalam kisah seorang yang berhutang banyak dalam Matius 18:23-35.

V. NABI YANG DIKUDUSKAN (Yom Kippur Pribadi Yesaya)

 Allah di takhta surga.

    Melihat Allah duduk di takhta surga dalam kebesaran-Nya adalah sebuah pemandangan yang dahsyat bagi seorang manusia berdosa. Yesaya dalam ketakjubannya langsung berseru, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam" (Yes. 6:5). Kekudusan Allah adalah bagaikan api yang menghanguskan bagi orang berdosa yang najis seperti Yesaya, sekalipun dia seorang nabi Tuhan. Kesadaran inilah yang membuat dia gemetar ketakutan. Puji Tuhan, kemuliaan Allah tidak membinasakannya oleh karena seketika itu juga dirinya telah dikuduskan dengan bara api dari mezbah yang disentuhkan pada bibirnya oleh malaikat Serafim (ay. 6).

     Pada zaman dulu raja memiliki dwifungsi, yaitu sebagai kepala pemerintahan dan hakim. Jadi, takhta raja adalah juga takhta hakim yang mengadili dan memutuskan setiap perkara. Nabi Yesaya melihat "Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan jubah-Nya memenuhi Bait Suci" (ay. 1). Allah bisa saja menampilkan diri kepada Yesaya dalam pemandangan surgawi yang lain, tetapi dengan memperlihatkan takhta nan menjulang tinggi dan jubah nan lebar hingga menaungi Bait Suci mengandung arti tertentu yang berkaitan dengan pengadilan atas dosa dan pengampunan atas dosa. Yesaya bukan satu-satunya orang yang pernah menyaksikan Allah duduk di takhta-Nya di surga; ada sejumlah hamba Tuhan dalam Alkitab yang pernah mengalami penglihatan yang istimewa seperti itu. Di antaranya adalah Daud (Mzm. 9:4; 11:4), Yehezkiel (Yeh. 1:26; 10:1), Yeremia (Rat. 5:19), Daniel (Dan. 7:9), Mikha (1Raj. 22:19), Ayub (Ay. 26:9), dan Yohanes Pewahyu (Why. 4:1-11).

    "Dalam Yesaya 6:1-6 Yesaya melihat Raja surga duduk di atas sebuah takhta dalam Bati Suci, 'tinggi dan menjulang.' Penglihatan ini adalah suatu pemandangan penghakiman yang menampilkan Allah sebagai yang sedang datang untuk menghakimi (Yes. 5:16). Yesaya memandang Raja sejati yang dikenal dalam Injil Yohanes sebagai Yesus Kristus (Yoh. 12:41)" [alinea pertama].

 Hari pendamaian pribadi.

   Kalau "hari pendamaian" dalam PL itu sama dengan "hari pengudusan" atau "hari pengampunan dosa" maka pengalaman teofania nabi Yesaya, di mana dia memandang Allah di Bait Suci surgawi, dalam skala terbatas merupakan "hari pendamaian" bagi sang nabi secara pribadi. Perhatikan bahwa ada mezbah dengan api yang membara di atasnya yang menandakan sebuah ritual sedang berlangsung, dan asap yang memenuhi Bait Suci serta seruan "kudus" sampai tiga kali yang menunjukkan suasana peribadatan dan upacara yang suci. Pengakuan sang nabi tentang dirinya yang "najis bibir" adalah pengakuan dosa yang selalu mewarnai setiap upacara persembahan kurban di Bait Suci, dan pengudusan secara spontan yang ditunjukkan melalui tindakan Serafim yang menyentuh bibir sang nabi dengan bara dari mezbah.

    "Yesaya mengenali ini sebagai sebuah upacara pembersihan, dan dia tetap berdiam diri sementara bara api menyentuh bibirnya. Dengan begitu 'kesalahannya telah dihapus' dan 'dosanya telah diampuni' (Yes. 6:7). Kalimat pasif dalam ayat 7 itu menunjukkan bahwa pengampunan dikaruniakan oleh Dia yang duduk di atas takhta itu. Hakim yang adalah juga Juruselamat" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

 Pena inspirasi menulis: "Sementara sang nabi mendengarkan, kemuliaan, kuasa, dan kebesaran Tuhan terbuka pada penglihatannya; dan di dalam cahaya wahyu ini kecemaran batinnya sendiri muncul secara terang benderang....Kerendahan hati Yesaya itu tulen. Sementara perbedaan yang kontras antara kemanusiawian dan tabiat ilahi dinyatakan kepadanya, dia merasa tidak cakap dan sekaligus tidak layak. Bagaimana dia bisa membicarakan kepada orang banyak itu tuntutan-tuntutan yang suci dari Yehovah?" (Ellen G. White, Gospel Workers, hlm. 22).

 Apa yang kita pelajari tentang pengalaman "hari pendamaian" pribadi bagi Yesaya?

1. Bait Suci menggambarkan secara gamblang bagaimana dosa telah memisahkan manusia dari Allah. Orang berdosa hanya boleh menghampiri Allah melalui imam, dan bilik mahasuci yang menjadi simbol hadirat Allah hanya boleh dimasuki oleh imam besar setahun sekali dengan persyaratan yang rumit dan ketat. Dosa membuat hubungan manusia dengan Allah jadi sangat birokratis.

2. Penglihatan nabi Yesaya menampilkan Allah yang kudus dalam suasana Bait Suci itu telah menyadarkan sang nabi tentang kenajisan dirinya karena dosa. Seorang manusia berdosa tidak dapat menghampiri takhta Allah--melalui doa ataupun ibadah--tanpa hatinya tergugah oleh kekudusan Allah dan akan kecemaran dirinya.

3. Pengalaman teofania dari nabi Yesaya itu berubah menjadi "hari pendamaian pribadi" ketika kenajisan dirinya dibersihkan oleh bara api dari mezbah melalui malaikat Serafim. Sesudah peristiwa itu Yesaya siap menjadi utusan Allah untuk menyampaikan pekabaran-pekabaran yang suci bagi umat Israel.

PENUTUP

 Pendamaian dituntaskan.

   Ritual pamungkas pada Hari Pendamaian ialah dilepaskannya kambing jantan yang terundi untuk secara simbolik menanggung dosa-dosa umat Israel itu ke gurun. Sebelumnya imam besar meletakkan tangannya ke atas kambing jantan yang dijuluki "Azazel" itu sambil mengutarakan segala dosa-dosa bangsa Israel, sebuah ritual yang melambangkan pemindahan dosa-dosa bangsa itu kepada binatang yang dijadikan sebagai "kambing hitam" untuk segala perbuatan dosa seluruh bangsa. Menurut tradisi Yahudi, selama masa Kaabah Kedua (Bait Suci yang dibangun oleh Salomo) kambing azazel itu akan dibawa oleh seorang yang telah ditentukan untuk itu dengan berjalan kaki sejauh 12 mil ke sebuah bukit batu yang curam untuk kemudian dicampakkan ke jurang di mana binatang itu mati. Namun kebenaran cerita yang tertulis dalam "Kitab Henokh" ini diragukan karena dianggap bukan sebagai kitab yang diilhamkan.

 Tapi terlepas dari bagaimana teknis pelaksanaannya, peragaan kambing jantan azazel itu adalah cara Allah untuk mengajarkan kepada bangsa Israel purba akan doktrin tentang pemindahan dosa umat manusia kepada Setan pada akhirnya. Dalam peristiwa yang nyata dosa umat manusia telah "dipikulkan" kepada Yesus sehingga Anak Allah itu harus mati di salib (1Ptr. 2:24), dalam peristiwa yang nyata juga dosa umat manusia akan "ditimpakan" kepada Setan yang sudah menyebabkan manusia jadi berdosa.

 "Dengan cara yang sama, bilamana pekerjaan pendamaian di Bait Suci surgawi telah diselesaikan, kemudian di hadapan Allah dan malaikat-malaikat surgawi serta rombongan umat tebusan, dosa-dosa umat Allah akan ditanggungkan ke atas Setan; dia akan dinyatakan bersalah atas segala kejahatan yang dia telah sebabkan mereka lakukan" [kalimat terakhir].

 "Dan kita sekarang mempunyai seorang imam yang agung, yang bertanggung jawab atas Rumah Allah. Sebab itu, marilah kita mendekati Allah dengan hati yang tulus dan iman yang teguh; dengan hati yang sudah disucikan dari perasaan bersalah, dan dengan tubuh yang sudah dibersihkan dengan air yang murni" (Ibr. 10:21-22, BIMK).

DAFTAR PUSTAKA:

1. Martin Probstle, BAIT SUCI -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Oktober - Desember 2013.
2. Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.