Tampilkan postingan dengan label Bertumbuh Dalam Kristus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bertumbuh Dalam Kristus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Dunia Baru, Kegenapan Janji Allah--(9)


("KETIKA SEMUANYA MENJADI BARU)
  
 PENDAHULUAN
 Milenium. Seribu tahun adalah suatu jangka waktu yang disebutkan oleh penulis kitab Wahyu, rasul Yohanes, yang menerangkan tentang masa ketika Setan kelak akan dirantai. Tulis sang pewahyu, "Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari surga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya" (Why. 20:1-3; huruf miring ditambahkan).
 Kata Grika yang diterjemahkan dengan seribu pada ayat ini ialah χίλιοι, chilioi, sebuah kata-keterangan yang berarti bilangan 1000. Jangka waktu seribu tahun ini menjadi lebih populer ketika kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, millennium, gabungan dari kata mille yang artinya seribu dan annus yang berarti tahun. Jadi, millennium, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia secara transliteral menjadi milenium, berarti "masa seribu tahun." Milenium dalam Alkitab mengandung makna yang lebih dari sekadar sepenggal waktu, melainkan lebih daripada itu adalah satu masa kevakuman sejarah dunia tatkala Setan diberangus dari segala aktivitasnya. Bayangkanlah bumi ini tanpa ada satu pun Setan yang bergentayangan membuat ulah. Itulah periode yang dilihat oleh pewahyu dalam khayalnya yang akan terjadi sesudah kedatangan Yesus Kristus kedua kali, masa di mana dunia ini menjadi kosong melompong oleh sebab orang-orang saleh seluruhnya sudah diangkat ke surga dan duduk menghakimi bersama Yesus, sedangkan orang-orang jahat semuanya sudah mati bergelimpangan di bumi ini (ay. 4, 5).
 Barangkali sebagian orang akan bertanya, Apakah milenium dan dirantainya Setan itu adalah harfiah? Kitab Wahyu memang mengandung hal-hal yang bersifat simbolik atau lambang, tetapi sebagian isinya bersifat literal atau dalam arti kata yang sebenarnya. Sejauh yang kita pelajari, masa seribu tahun di sini adalah suatu angka harfiah. Namun, jika seandainya masa seribu tahun itu juga hendak dihitung secara bilangan nubuatan, "bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari" (2Ptr. 3:8), sehingga lamanya masa itu menjadi 1000x1000 tahun atau satu juta tahun, bagi saya itu tidak menjadi soal sebab yang penting di sini bahwa selama masa itu Setan dalam keadaan "terikat." Setan berada dalam keadaan dirantai oleh sebab dia tidak dapat lagi "menyesatkan bangsa-bangsa" (Why. 20:3) seperti yang dilakukannya selama ini. Sekarang pun Tuhan sedang "mengikat" Setan dengan cara "menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka...dengan belenggu abadi" (Yudas 6). Kalau Allah dapat membelenggu Setan sekarang ini, tentu Dia juga dapat merantai Setan-setan itu nanti!
 "Allah ingin membawa umat manusia kembali kepada utopia yang sejak semula Dia telah ciptakan bagi kita...Inilah waktu yang kita sebut 'milenium' (untuk kata seribu). Permulaan dari milenium itu menandai dimulainya satu-satunya utopia yang manusia akan pernah kenal sejak Eden sebelum Kejatuhan manusia" [alinea pertama: kalimat terakhir; alinea terakhir].
1.      MULAINYA MASA SERIBU TAHUN (Peristiwa-peristiwa Yang Menandai Milenium).
 "Pasal Milenium." Barangkali tidak keliru jika kita menyebut Wahyu 20 sebagai "pasal milenium" oleh karena inilah satu-satunya pasal di seluruh Alkitab yang berbicara tentang masa seribu tahun berkaitan dengan "pemenjaraan" Setan. Baiklah kita lihat isi setiap ayat dalam pasal ini (seluruhnya ada 15 ayat):
 1 -- Seorang malaikat turun dari surga membawa rantai dan anak kunci.
2 -- Malaikat itu mengikat Setan selama 1000 tahun.
3 -- Selama 1000 tahun itu Setan menganggur; tidak dapat menyesatkan manusia.
4 -- Para syuhada dibangkitkan lalu memerintah bersama Yesus selama 1000 tahun.
5 -- Kebangkitan pertama; orang-orang mati lainnya tidak dibangkitkan.
6 -- Orang-orang yang dibangkitkan pertama akan luput dari kematian kedua.
7 -- Setan akan dilepaskan pada akhir masa 1000 tahun.
8 -- Kebangkitan kedua; Setan akan menyesatkan mereka yang jumlahnya sangat banyak.
9 -- Setan memimpin penyerangan kota Yerusalem Baru bersama orang-orang itu; mereka kemudian dilahap api.
10 -- Setan, binatang, dan nabi palsu itu dicampakkan ke dalam neraka.
11 -- Kristus duduk di atas takhta putih; langit dan bumi lenyap.
12 -- Penghakiman orang-orang mati.
13 -- Orang-orang mati itu diserahkan oleh bumi dan laut untuk dihakimi.
14 -- Kematian kedua; kerajaan maut dihempaskan ke dalam neraka.
15 -- Orang-orang jahat yang dihakimi itu dibuang ke dalam neraka.

"Milenium, sebagai sebuah konsep, muncul dalam Wahyu 20 di mana hal itu disebutkan sebanyak enam kali di antara ayat 2-7. Untuk mengetahui masa seribu tahun itu, kedudukan dari Wahyu 20 ini di dalam keseluruhan rentetan kitab Wahyu harus ditentukan. Meskipun kitab ini tidak tidak mengikuti urutan waktu secara langsung, dalam hal ini tidak terlalu sukar untuk menentukan kapan milenium itu dimulai" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
 Permulaan milenium. Masa seribu tahun, atau milenium, adalah satu periode waktu yang sangat penting dalam sejarah manusia. Inilah masa transisi di antara zaman kefanaan dan zaman kekekalan, sebuah kurun waktu di dalam mana kejahatan dan kuasa kejahatan itu akan berakhir untuk selama-lamanya. Itulah sebabnya masa seribu tahun ini menarik untuk dipelajari karena berkaitan langsung dengan nasib manusia, baik orang-orang yang selamat maupun yang binasa. Sekarang, pertanyaan yang paling relevan bagi kita ialah: Kapan milenium itu dimulai?
 Dalam Wahyu 19 kita menemukan petunjuk bahwa Yohanes Pewahyu menyaksikan ada suatu kemeriahan besar di dalam surga seperti sedang menyiapkan satu peristiwa penting. Di tengah kesibukan persiapan itu terdengarlah suara dari takhta surga, "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia" (ay. 6, 7; huruf miring ditambahkan). Dalam PL, Israel disebut sebagai "istri" dari Allah (Hos. 2:18, 19; Yes. 54:5), tetapi bangsa itu sering tidak setia dan berselingkuh (Yehezkiel 16). Sedangkan dalam PB, Gereja itu dijuluki sebagai "tunangan" dari Kristus (2Kor. 11:2; Ef. 5:25-32). Dalam PB juga, Yesus Kristus sangat sering disebut sebagai "Anak Domba" (Yoh. 1:29, 36; 1Ptr. 1:19; dan di hampir seluruh kitab Wahyu). Dalam kitab Wahyu, Yerusalem Baru sebagai kota suci tempat tinggal umat tebusan, dijuluki "pengantin perempuan, mempelai Anak Domba" (Why. 21:9); dan pada pasal terakhir kita mendapat petunjuk bahwa pengantin perempuan itu merujuk kepada jemaat-jemaat, yaitu orang-orang yang telah menyambut Yesus, "bintang timur yang gilang-gemilang" (Why. 22:16, 17).
 Berdasarkan ayat-ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang dimaksud dengan "perkawinan Anak Domba" tidak lain dari hari pertemuan antara Yesus Kristus dengan umat tebusan-Nya yang akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali. Kesibukan persiapan "perkawinan" itulah yang disaksikan oleh rasul Yohanes, dan yang kemudian berlanjut dengan turunnya Kristus bersama rombongan besar pasukan surgawi (Why. 21:11-14). Dalam penuturannya rasul Paulus berkata, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan" (1Tes. 4:16, 17). Milenium dimulai ketika Yesus Kristus datang kedua kali untuk menjemput umat tebusan-Nya, yaitu orang-orang saleh yang masih hidup maupun yang sudah mati dan dibangkitkan pada hari kedatangan-Nya itu. Jadi, awal dari milenium ditandai oleh dua peristiwa besar: kedatangan Yesus kedua kali dan kebangkitan orang mati.
 "Tentu saja permulaan itu bertepatan dengan kedatangan Kristus kedua kali. Orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan untuk bergabung dengan umat setia yang masih hidup, dan kedua kelompok itu akan diangkat ke surga. Orang-orang jahat yang masih hidup pada kedatangan Kristus kedua kali akan binasa oleh 'cahaya kemuliaan-Nya' (2Tes. 2:8). Dan bumi yang kosong ini akan menjadi penjara bagi Setan yang akan 'terbelenggu' selama 1000 tahun oleh rantai situasi" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].
 Pena inspirasi menulis: "Tubuh-tubuh yang telah berada di dalam kubur dengan membawa tanda-tanda penyakit dan kematian bangkit dalam kesehatan dan kebugaran yang kekal. Orang-orang saleh yang masih hidup diubahkan dalam seketika, dalam sekejap mata, lalu diangkat bersama orang-orang yang dibangkitkan dan bersama-sama mereka bertemu dengan Tuhan mereka di angkasa. Oh, betapa suatu pertemuan yang mulia! Sahabat-sahabat yang telah terpisah oleh kematian itu dipertemukan, dan tidak pernah lagi akan berpisah" (Ellen G. White, The Story of Redemption, hlm. 411, 412).
 Apa yang kita pelajari tentang peristiwa-peristiwa yang menandai permulaan milenium?
1. Milenium, atau masa seribu tahun, adalah periode waktu yang disebutkan dalam Wahyu pasal 20 akan terjadi kelak. Sementara berbagai peristiwa akan berlangsung selama masa seribu tahun itu, hal yang paling relevan bagi kita yang hidup sekarang ini ialah kapan permulaan dari masa itu.
2. Permulaan masa seribu tahun tersebut ditandai dengan dua peristiwa, yaitu kedatangan Yesus kedua kali dan kebangkitan orang mati. Meskipun semua orang yang sudah mati--orang jahat maupun orang saleh--akan dibangkitkan pada saat itu, namun setelah menyaksikan kedatangan Yesus itu semua orang jahat akan binasa sedangkan orang saleh diubahkan ke dalam kondisi yang tidak akan pernah mati lagi (kekal).
3. Peristiwa berikutnya ialah Yesus Kristus bersama rombongan-Nya akan kembali ke surga bersama-sama dengan umat tebusan-Nya yang sudah diubahkan kondisi mereka itu, mengenakan keadaan jasmani yang kekal untuk hidup selama-lamanya.
 2. KEJADIAN-KEJADIAN SELAMA MASA SERIBU TAHUN (Pada Pertengahan Milenium)
 Para syuhada. Wahyu 20:4 mengatakan bahwa di surga ada takhta-takhta yang ditempati oleh umat tebusan, termasuk orang-orang yang telah mengalami mati syahid (syuhada atau martir) di bumi ini, yaitu mereka yang dengan berani melawan perintah penguasa dunia dengan tidak menyembah "binatang itu dan patungnya" serta tidak menerima tandanya baik di dahi (secara sukarela dan sadar) atau di tangan (secara terpaksa). Sebagian pembelajar Alkitab berpendapat bahwa arti dari "telah dipenggal kepalanya" itu bermakna harfiah maupun kiasan, yaitu umat Tuhan yang telah mengalami penganiayaan dan penderitaan fisik demi mempertahankan kebenaran dan tidak mau tunduk kepada kuasa kepausan pada zaman kegelapan di abad pertengahan maupun di akhir zaman. Mereka disebutkan secara khusus dalam penglihatan Pewahyu oleh karena keberanian dan jiwa patriotisme mereka dalam membela kebenaran Kristus.
 Kata asli yang diterjemahkan dengan jiwa-jiwa dalam ayat ini adalah ψυχή, psychē, yang sebagai kata-benda dipakai untuk menyebutkan salah satu unsur dalam diri manusia di samping fisik dan mental, tapi kata ini juga digunakan untuk menerangkan kehidupan atau makhluk hidup. Jadi, penggunaan kata "jiwa-jiwa" oleh Yohanes Pewahyu di sini merujuk kepada orang-orang yang hidup kembali dari kematian secara fisik. Mereka inilah yang dilukiskan sebagai "orang-orang lain di Tiatira" yang tidak mau mengikuti dan mempelajari ilmu-ilmu Setan (Why. 2:24-28), dan sebagai "jemaat Filadelfia" yang tidak mau menggabungkan diri dengan orang-orang dari jemaah iblis (Why. 3:7-12).
 "Sebagai umat Masehi Advent Hari Ketujuh, kita memahami bahwa Alkitab tidak mengajarkan adanya jiwa-jiwa yang terpisah dari tubuh yang baka dan sadar. Sebaliknya, ayat ini menggambarkan orang-orang yang telah melewati pengalaman penganiayaan seperti diutarakan dalam Wahyu 12:17-13:18. Pada Kedatangan yang Kedua (di waktu mana kebangkitan pertama itu terjadi) jiwa-jiwa yang dianiaya ini akan kembali hidup dan setelah kebangkitan bertakhta di surga bersama Kristus (bandingkan dengan 1Tes. 4:15-17)" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
 Penghakiman orang jahat. Milenium adalah masa penghakiman atas orang-orang jahat dan malaikat-malaikat jahat di mana orang-orang benar yang semasa hidup mereka di dunia ini telah teraniaya karena kebenaran itu akan bertindak sebagai para hakim. Inilah kegenapan dari apa yang disebutkan oleh rasul Paulus tentang "orang-orang kudus akan menghakimi dunia" bahkan "menghakimi malaikat-malaikat" (1Kor. 6:2, 3). Orang-orang benar itu, menurut Yohanes Pewahyu, "akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya" (Why. 20:6).
 Pena inspirasi menulis: "Selama seribu tahun, antara kebangkitan pertama dan kedua, penghakiman orang-orang jahat terjadi. Rasul Paulus menyebut penghakiman ini sebagai satu peristiwa menyusul kedatangan yang kedua. 'Janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati.' 1Kor. 4:5. Daniel menyatakan bahwa apabila Yang Lanjut Usianya itu datang, 'keadilan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.' Dan. 7:22. Pada waktu ini orang-orang benar bertakhta sebagai raja-raja dan imam-imam bagi Allah" (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 660).
 Konsep "penghakiman" dalam Alkitab menurut doktrin Gereja Advent adalah meliputi dua tahap: pertama, penghakiman pemeriksaan atas umat Tuhan (1844 hingga kedatangan Yesus kedua kali) di mana Yesus Kristus bertindak sebagai Imam Besar dan sekaligus Pengantara kita; kedua, penghakiman atas orang jahat yang berlangsung dalam masa seribu tahun itu. "Tahap ketiga dari penghakiman terakhir adalah fase pelaksanaan, yang merupakan bagian dari peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir masa seribu tahun" [alinea terakhir: kalimat terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang peristiwa yang terjadi selama milenium?
1. Milenium, atau masa seribu tahun dalam kitab Wahyu 20, adalah periode penghakiman khususnya atas orang-orang jahat, penguasa-penguasa dunia yang jahat, dan malaikat-malaikat jahat. Dalam proses penghakiman ini Yesus Kristus akan bertindak sebagai Hakim yang adil dan "dibantu" oleh umat tebusan-Nya yang selamat.
2. Satu kelompok umat Tuhan yang disebut secara khusus oleh Pewahyu adalah "jiwa-jiwa" para shyuhada, yaitu orang-orang yang mati teraniaya karena mempertahankan kebenaran dan tidak mau tunduk kepada "binatang dan patungnya" maupun orang-orang benar yang dibunuh karena menolak menerima "ajaran-ajaran Setan" namun sudah dibangkitkan kembali dan diselamatkan.
3. Doktrin Gereja Advent memahami konsep penghakiman dalam Alkitab sebagai proses yang berlangsung dalam dua kurun waktu berbeda dan diadakan terhadap dua kelompok manusia berbeda, yaitu penghakiman atas orang-orang percaya (tahun 1844 sampai kedatangan Yesus kedua kali) dan atas orang-orang jahat (selama milenium). Penghakiman tahap ketiga adalah eksekusi pehukuman atas orang jahat di akhir milenium.
3.      SEUSAI MASA SERIBU TAHUN (Peristiwa-peristiwa Pada Akhir Milenium)
 Setan dilepaskan. Sebagaimana diutarakan pada bagian Pendahuluan pelajaran pekan ini, setelah umat tebusan diangkat ke surga bersama rombongan Yesus Kristus yang datang menjemput, dan sementara itu orang-orang jahat yang telah dibinasakan oleh cahaya kemuliaan-Nya berserakan tak bernyawa di atas bumi, dunia ini berada dalam keadaan lengang selama seribu tahun. Keadaan ini digambarkan sebagai terbelenggunya Setan berbubung dia dan malaikat-malaikatnya yang jahat itu akan menganggur dan tidak mempunyai kesibukan untuk menyesatkan bangsa-bangsa. Seusainya periode seribu tahun itu, Setan "akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya" (Why. 20:3). Sebab pada akhir milenium, tatkala "kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga" (Why 21:2), maka orang-orang jahat yang binasa tersebut dibangkitkan kembali sesudah "berakhir masa seribu tahun" (Why. 20:3, 5) itu sehingga Setan seakan "dilepaskan dari penjaranya" (ay. 7).
 Kenyataan bahwa pada waktu orang jahat semuanya mati sehingga Setan kesepian tinggal sendiri di dunia ini, membuktikan bahwa Setan tidak memiliki kuasa apapun untuk membangkitkan manusia meskipun mereka itu adalah orang-orangnya sendiri. Kebangkitan orang mati hanya terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali di awal milenium dan pada waktu turunnya kota suci Yerusalem Baru di akhir milenium, dan hal ini membuktikan bahwa kuasa kebangkitan itu hanya ada di tangan Yesus Kristus yang sudah menang atas maut (Why. 1:18; 1Kor. 15:55).
 Gog dan Magog. Pewahyu menyebut bangsa-bangsa dari keempat penjuru bumi, yaitu orang-orang jahat yang bangkit di akhir masa seribu tahun itu, sebagai "Gog dan Magog" (Why. 20:8). Sebagai nama orang, Magog adalah cucu dari Nuh (Kej. 10:2); sebagai bangsa Gog dan Magog adalah raja-raja agung negeri Mesekh dan Tubal (Yeh. 38:2), yakni pasukan berkuda yang besar dan kuat dari utara Israel yang telah datang menyerang umat Tuhan itu ketika mereka hidup "aman tenteram" atau sedang tidak siap untuk berperang (ay. 14-16). Akibatnya, Tuhan menghukum mereka dengan kekejutan oleh mendatangkan "api dan hujan belerang ke atasnya dan ke atas tentaranya" serta bangsa-bangsa lain yang menyertainya (ay. 21-23). Begitu dahsyatnya pembalasan Allah, dan demikian banyaknya pasukan penyerang yang mati itu, sehingga untuk menguburkan mayat-mayat mereka orang Israel memerlukan waktu sampai tujuh bulan lamanya (Yeh. 39:11-15).
 Dalam bahasa Grika, bahasa asli kitab Wahyu, kata Γώγ, Gōg, berarti gunung; sedangkan Μαγώγ, Magōg, artinya menaungi dari atas. Kedua kata ini merujuk kepada negeri dari utara atau bangsa-bangsa yang pernah menyerang Israel tersebut tidak lama setelah umat Allah itu mendiami negeri perjanjian Kanaan. Dan meskipun Gog dan Magog dalam kitab Wahyu tidak mempunyai hubungan darah atau pertalian kekerabatan dengan Gog dan Magog dalam kitab Yehezkiel, secara konotatif penggunaan nama-nama itu mengisyaratkan sikap permusuhan terhadap Allah dan umat-Nya. Sebagian komentator Alkitab menganggap penggunaan kedua nama ini sebagai pengkiasan karakteristik; sama seperti julukan "setan" atau "ular" terhadap seseorang yang dianggap memiliki ciri tabiat serupa Setan atau mempunyai sifat seperti ular, meskipun dia itu manusia.
 "Frase 'Gog dan Magog' digunakan secara kiasan, sama seperti dalam Yehezkiel 38:2, untuk menerangkan orang-orang yang digunakan Setan akan berhasil dalam penipuan--yakni orang-orang jahat dari segala zaman. Kumpulan orang banyak inilah yang Setan akan hasut untuk berusaha merobohkan kota Allah. Wahyu 20:9 menyebutkan bahwa kota itu, Yerusalem Baru, pada waktu itu sudah akan turun dari surga ke bumi (kemungkinan bersama Kristus), dan Setan beserta bala tentaranya akan maju menyerangnya" [alinea pertama: kalimat ketiga hingga kelima].
Penghakiman dan eksekusi orang jahat. Kitab Wahyu tidak ditulis sebagai sebuah buku sejarah yang kejadian-kejadiannya diketengahkan dalam penuturan secara kronologis atau berdasarkan urutan waktu dan peristiwa. Jadi, sekalipun penghakiman orang jahat disebutkan sesudah uraian tentang turunnya Yerusalem Baru dan pengepungan orang jahat terhadap kota itu, sesungguhnya penghakiman dan vonis terhadap orang jahat sudah ditentukan sebelumnya. Turunnya Yerusalem Baru yang sudah dihuni oleh umat Allah itu terjadi sesudah masa seribu tahun berakhir, dan bersamaan dengan itu adalah eksekusi vonis atas orang jahat yang akan mengalami "kematian kedua" dengan cara "dilemparkan ke dalam lautan api" (Why. 20:14, 15).
 "Selama masa seribu tahun orang-orang kudus turut serta dalam suatu musyarawah penghakiman yang mengkaji-ulang kasus-kasus orang yang tidak selamat dari bumi ini dan malaikat-malaikat berdosa. Penghakiman ini adalah bukti yang penting mengingat sifat kesemestaan dari masalah dosa. Jalannya pemberontakan dosa telah menjadi sasaran kepedulian dan perhatian di dunia-dunia lain (Ayub 1 dan 2; Ef. 3:10). Keseluruhan dosa harus ditangani sedemikian rupa agar hati dan pikiran segenap alam semesta puas dengan perlakuan dan penyelesaiannya, khususnya menyangkut tabiat Allah" [alinea terakhir: empat kalimat pertama].
 Apa yang kita pelajari tentang peristiwa-peristiwa di akhir milenium?
1. Akhir masa seribu tahun ditandai dengan turunnya kota Yerusalem Baru dari surga ke bumi ini. Pada saat itu orang-orang jahat yang dalam keadaan mati di dunia ini selama milenium itu akan dibangkitkan untuk dibinasakan selama-lamanya. Ketika orang jahat bangkit itulah Setan seakan terlepas dari rasa kesepian yang telah memenjarakannya.
2. Begitu mayat-mayat orang jahat yang tadinya bergelimpangan itu hidup kembali, Setan langsung menghasut mereka untuk mengepung dan menyerang kota Allah yang sedang turun. Keberingasan orang-orang jahat itu disamakan dengan "Gog dan Magog," yakni raja-raja dan bangsa-bangsa yang menyerbu Israel sebagaimana disebutkan dalam Yehezkiel 38-39.
3. Tentu saja usaha Setan dan orang jahat itu sia-sia, dan sebaliknya mereka semua binasa dibuang ke dalam lautan api. Inilah eksekusi dari vonis yang sudah ditentukan atas mereka dalam penghakiman kedua yang berlangsung selama masa milenium itu. Hukuman atas mereka itu juga sekaligus menandai pemusnahan dosa dari alam semesta ini untuk selamanya.
 4. JANJI YANG DIGENAPI (Dunia Baru)
 Langit dan bumi baru. Setelah masa seribu tahun itu usai, Yohanes Pewahyu kemudian menyaksikan sesuatu perubahan. "Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi" (Why. 21:1; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan baru pada ayat ini adalah καινός, kainos, sebuah kata-sifat yang mengandung dua makna: bentuk dan substansi. Dalam bahasa Grika (bahasa asli PB), ada kata lain di samping kainos yang juga berarti baru. Kita menemukannya dalam Matius 9:17, "Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya" (huruf miring ditambahkan). Di sini, predikat baru yang digunakan untuk anggur itu menggunakan kata νέος, neos, kata-sifat yang berarti dilahirkan baru seperti untuk "bayi"; sedangkan predikat baru untuk kantong menggunakan kata kainos seperti pada ayat pertama Wahyu pasal 21 itu.
 Langit dan bumi yang baru seperti disaksikan oleh Yohanes Pewahyu itu adalah kegenapan dari janji Allah seperti dicatat dalam kitab Yesaya, "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati" (Yes. 65:17; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan baru pada ayat ini adalah חָדָשׁ, khädäsh, sebuah kata-sifat yang mengandung makna sesuatu hal yang baru atau masih segar seperti juga digunakan antara lain dalam Kel. 1:8 (raja baru) dan Im. 23:16 (sajian yang baru). Janji tersebut telah disebutkan juga oleh rasul Petrus, rekan Yohanes Pewahyu sebagai sesama murid Yesus, "Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran" (2Ptr. 3:13; huruf miring ditambahkan). Di sini rasul Petrus juga menggunakan kata-sifat kainos untuk menerangkan langit dan bumi baru yang dimaksudkannya.
 "Kata [kainos] yang diterjemahkan sebagai 'baru' dalam Wahyu 21:1 menekankan pada sesuatu yang baru dalam bentuk atau kualitas gantinya baru seperti dalam suatu peristiwa 'baru' dalam hal waktu. Maksud Allah dalam kisah Penciptaan pada kitab Kejadian belum terealisasikan sampai janji untuk menjadikan segala sesuatu baru itu digenapi pada dunia yang baru" [alinea kedua: dua kalimat pertama].
 Kota Yerusalem Baru. Selain langit dan bumi yang baru, Yohanes Pewahyu juga bertutur tentang kota Yerusalem Baru sebagaimana yang disaksikannya. "Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya" (Why. 21:2; huruf miring ditambahkan). Inilah kota yang digambarkan oleh rasul Paulus sebagai "perempuan yang merdeka" (Gal. 4:26), dan oleh penulis kitab Ibrani disebut sebagai "kota Allah yang hidup" (Ibr. 12:22). Kota Yerusalem Baru ini telah dinubuatkan dengan uraian secara fisik yang sangat spektakuler dalam kitab Yehezkiel 40-48, dan dalam bahasa Ibrani disebut יְהוָה שָׁמָּה, Jehovah-shammah, yaitu "kota di mana Allah ada." Sebagian komentator Alkitab menganggap kota Yerusalem Baru sebagai sesuatu yang bersifat simbolik, melambangkan umat tebusan, dan karenanya itu tidak akan turun ke dunia ini secara fisik. Tetapi kesaksian Yohanes Pewahyu adalah jelas perihal Yerusalem Baru kota Allah itu: εἶδον καταβαίνουσαν ἐκ τοῦ οὐρανοῦ, ἀπὸ τοῦ θεοῦ, eidon katabainousan ek tou ouranou apo tou Theou, "aku melihat turun dari surga, dari Allah."
 "Satu hal sudah jelas: kita sedang membicarakan tentang satu tempat dalam arti kata sesungguhnya dan bersifat fisik. Paham kekafiran tentang hal yang bersifat fisik itu buruk dan hal hal yang bersifat roh itu baik, sekali lagi ditolak oleh Kitabsuci...Sebaliknya, penggambaran dalam kitab Wahyu, betapapun sulit untuk dipahami bagi kita (yang hanya tahu tentang satu dunia yang telah berdosa), adalah kenyataan abadi yang menunggu kita. Betapa suatu pengharapan yang kita miliki, khususnya jika dibandingkan dengan mereka yang percaya bahwa kematian adalah akhir dari segalanya" [alinea terakhir: dua kalimat pertama, dua kalimat terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Kita sedang berada dalam perjalanan pulang. Dia yang sangat mengasihi kita sehingga mau mati bagi kita sudah membangun sebuah kota bagi kita. Yerusalem Baru adalah tempat perhentian kita. Tidak akan ada lagi kesusahan di kota Allah. Tiada tangisan dukacita, tiada tangisan kepiluan karena pengharapan yang hancur dan kasih sayang yang terkubur akan pernah lagi terdengar. Segera pakaian kemalangan akan digantikan dengan jubah pesta perkawinan. Segera kita akan menyaksikan pemahkotaan Raja kita. Orang-orang yang kehidupannya telah terbungkus dengan Kristus, mereka yang di dunia ini sudah memenangkan peperangan iman dengan baik, akan bersinar dengan kemuliaan Sang Penebus di dalam kerajaan Allah" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 9, hlm. 287).
 Apa yang kita pelajari tentang penglihatan Yohanes Pewahyu seusai masa seribu tahun itu?
1. Sebagaimana disaksikan oleh Yohanes Pewahyu, setelah masa seribu tahun berakhir langit dan bumi yang baru akan muncul. Hal ini dipahami sebagai rekondisi atau "peremajaan" dari langit dan bumi yang lama dan tercemar dosa sehingga menjadi langit dan bumi yang diperbarui, dipulihkan kepada keadaannya seperti pada waktu baru diciptakan.
2. Selain langit dan bumi, Pewahyu juga menyaksikan Yerusalem Baru yang turun dari surga ke bumi yang telah diperbarui ini. Inilah kota suci yang di dalamnya terdapat umat tebusan Allah yang sudah diselamatkan, orang-orang yang telah diampuni dosa-dosanya melalui kematian penebusan Kristus dan yang sudah dibela kasusnya dalam penghakiman pemeriksaan.
3. Langit dan bumi yang baru, beserta kota Yerusalem Baru, merupakan ujud dari janji Allah kepada umat-Nya dari segala zaman. Jadi, kita tidak akan tinggal selamanya di surga, tetapi kita akan kembali mendiami planet Bumi ini setelah diperbarui dan dipulihkan kondisinya.
 5. KEKEKALAN DAN KEBARUAN (Kehidupan Dalam Dunia Baru)
 Allah bersama kita. Hidup di dunia yang baru, tanpa kematian dan kesusahan-kesusahan seperti yang kita saksikan dan alami sekarang, itu saja sudah merupakan suatu kehidupan yang tak terbayangkan betapa menyenangkannya. Tapi seakan itu belum cukup, kesenangan kita masih dilengkapi lagi dengan kehadiran Allah sendiri di tengah-tengah kita. Suatu kehidupan yang aman tenteram, tidak ada sama sekali tanda-tanda kesusahan dalam bentuk apapun, hidup bahagia untuk selama-lamanya, dan yang paling penting lagi adalah hidup bersama Allah kita. Kesempurnaan hidup seperti apa lagi yang anda harapkan?
 Yohanes Pewahyu mencatat, "Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: 'Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu'" (Why. 21:3, 4; huruf miring ditambahkan). Frase kemah Allah di sini (Grika: σκηνὴ τοῦ θεοῦ, skēnē tou theou) merujuk kepada Kemah Suci (Ibrani: מִקְדָּשׁ, miqdash) yang dibangun Musa sewaktu memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di padang belantara sebagaimana tercatat dalam kitab Keluaran dan Bilangan di Perjanjian Lama. Sebagaimana Kemah Suci di padang gurun itu melambangkan kehadiran Allah di tengah-tengah bangsa Israel, demikianlah Kemah Allah itu menandakan kehadiran Allah di tengah umat-Nya di dunia baru nanti. Anak kalimat "Ia akan diam bersama-sama dengan mereka" pada ayat di atas serupa dengan perkataan Allah kepada Musa, "supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka" (Kel. 25:8); dan anak kalimat "mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka" pada ayat di atas paralel dengan kata-kata Allah sendiri, "Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka" (Kel. 29:45).
 "Mungkin tidak ada penglihatan lain yang menakjubkan di seluruh Alkitab yang sebanding dengan apa yang Yohanes Pewahyu uraikan di sini; bumi yang baru bukan hanya akan menjadi rumah bagi makhluk manusia tapi juga bagi Allah. Sang Pencipta alam semesta yang suci dan tak terpahami itu akan memberkati komunitas yang ditebus itu dengan kehadiran-Nya. Tentu saja Allah akan selamanya berbeda dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tapi di dunia baru keterpisahan antara Allah dengan manusia yang diakibatkan oleh dosa itu akan dihapus" [alinea pertama].
 Manusia, makhluk yang mulia. Dalam ketakjubannya yang mencengangkan, raja Daud bersenandung: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat" (Mzm. 8:5, 6). Fakta bahwa manusia telah diciptakan "menurut gambar [citra] Allah" (Kej. 1:27) menunjukkan bahwa memang sejak asalnya kita manusia adalah makhluk ciptaan paling mulia yang menghuni Bumi ini, tetapi dosa telah membuat kita "kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23). Tetapi nanti, pada kedatangan Yesus kedua kali, kita yang percaya kepada-Nya dan tetap setia mempertahankan iman kita itu akan dipulihkan kepada keadaan semula seperti ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Dengan keadaan seperti itu kita akan diangkat ke surga untuk tinggal selama milenium, dan kemudian kembali ke Bumi yang kelak akan dibarui ini untuk hidup selama-lamanya bersama-sama dengan Dia.
 "Dengan berpikir: bahwa Allah yang menciptakan segalanya itu bukan saja mati bagi kita tetapi akan tinggal dengan kita untuk selamanya! Pada titik tertentu, oleh karena keterbatasan dari pikiran kita yang berdosa, kita harus berhenti berusaha memikirkan mengenai hal ini secara rasional, dan sebaliknya sambil tersungkur di atas lutut kita dan memuji Dia yang bukan saja telah menciptakan kita tetapi juga menebus kita dan sekarang berjanji untuk hidup bersama kita sepanjang masa kekekalan" [alinea terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Dan tahun-tahun kekekalan itu, sambil bergulir akan membawa penyataan-penyataan yang semakin kaya dan kian mulia mengenai Allah dan Kristus. Sementara pengetahuan bertambah, demikian pula kasih, penghormatan, dan kebahagiaan itu meningkat. Semakin manusia belajar tentang Allah, akan bertambah besar pemujaan mereka pada tabiat-Nya...Di sana setiap kemampuan akan dikembangkan, setiap kesanggupan ditingkatkan. Usaha-usaha yang terbesar akan terlaksana, cita-cita yang paling agung akan tercapai, ambisi-ambisi yang paling tinggi terwujud. Dan masih akan ada puncak-puncak baru untuk dilintasi, keajaiban-keajaiban baru untuk dikagumi, kebenaran-kebenaran baru untuk dipahami, obyek-obyek yang segar menuntut keberdayaan tubuh dan pikiran dan jiwa" (Ellen G. White, The Adventist Home, hlm. 548, 549).
Apa yang kita pelajari tentang kehidupan di dunia baru?
1. Di dunia baru kita akan hidup untuk selama-lamanya, tanpa kesusahan apalagi penyakit dan kematian. Tetapi bukan itu saja, di dunia baru kita bahkan akan tinggal bersama-sama dengan Allah. Hal itu sudah pernah ditunjukan-Nya kepada sekelompok manusia, yaitu di tengah bangsa Israel di padang gurun maupun di negeri Kanaan, meski tidak berlangsung seterusnya akibat pengkhianatan mereka.
2. Sejak semula Allah ingin tinggal bersama manusia yang diciptakan-Nya, seperti yang pernah dialami oleh Adam dan Hawa di rumah alami mereka, Taman Eden. Sangat disayangkan bahwa masa bahagia itu tidak berlangsung lama dan mereka terusir akibat dosa. Di dunia baru kita akan menikmati suasana Taman Eden itu kembali, kali ini untuk selama-lamanya.
3. Kehidupan di dunia baru akan semakin menyenangkan oleh karena di sana kita bakal mempelajari banyak hal mengenai Allah sendiri dan tentang Kristus yang telah menyelamatkan kita, khususnya perihal kasih-Nya yang sekarang ini tak terjangkau oleh pikiran kita yang sudah merosot akibat dosa. Di dunia baru kita akan memiliki daya berpikir yang sempurna kembali untuk memahami segala misteri keilahian.
PENUTUP
 Rumah masa depan. Hampir setiap orang sekarang ini memikirkan tentang rumah masa depannya. Banyak orang yang telah mengorbankan waktu dan tenaga bahkan kesehatannya, bekerja membanting-tulang demi memastikan bahwa mereka kelak akan hidup tenteram di masa tua serta memiliki tempat tinggal senyaman mungkin. Tidak sedikit orang yang meskipun telah berjuang sekuat tenaga namun cita-cita untuk memiliki rumah masa depan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Ironisnya lagi, baik mereka yang telah berusaha keras dan berhasil, maupun orang-orang yang sudah berjuang keras tapi tidak berhasil, pada akhirnya hanya memperoleh "rumah masa depan" yang sama: sepetak tanah sempit yang ditandai batu nisan!
 Bagi orang-orang percaya, umat tebusan Allah, rumah masa depan kita telah tersedia di kota Yerusalem Baru yang arsiteknya adalah Allah sendiri--dan ke kota itulah tujuan kita. Kehidupan kita di dunia ini sekarang adalah peluang yang diberikan Allah untuk dimanfaatkan demi memastikan satu tempat tinggal di kota Allah tersebut, karena itu janganlah sia-siakan kesempatan ini. Sebab kalau bukan untuk memperoleh rumah di surga itu, alangkah sialnya dan sia-sianya hidup anda, betapapun kehidupan anda saat ini bergelimang harta kekayaan. Sesungguhnya, apa yang disediakan Allah bagi orang-orang yang mengasihi Dia adalah sesuatu "yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia" (1Kor. 2:9).
 "Suatu ketakutan bahwa warisan yang akan datang itu tampak terlalu materialistik telah menuntun banyak orang untuk memandang dari segi rohani kebenaran-kebenaran yang membawa kita untuk melihatnya sebagai tempat tinggal kita. Kristus meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Dia pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka di rumah Bapa. Mereka yang menerima pengajaran-pengajaran firman Allah sama sekali tidak akan bersikap masa bodoh mengenai tempat tinggal semawi..." [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

"Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: 'Ya, Aku datang segera!' Amin, datanglah, Tuhan Yesus! Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin" (Why. 22:20, 21).

SUMBER : 
1. Kwabena Donkor, Wkl.Dit.Biblical /research Institute GC, Silver Spring, Maryland U.S.A --"Bertumbuh Dalam Kristus". (Pel.SS. Trw.IV, 2012).
2. Loddy Lintong, California - U.S.A.



Jumat, 21 Desember 2012

Kristus Pengharapan Yang Pasti--(8)


   ("YANG TERAKHIR: YESUS DAN UMAT TEBUSAN")
  
 PENDAHULUAN
  
Babak terakhir. Pertentangan besar antara Kristus dan Setan, yang diawali di surga dan dilanjutkan di bumi ini, telah berlangsung sepanjang sejarah dunia ini. Berbagai peristiwa besar yang berkaitan dengan pertentangan itu telah terjadi, baik yang berdampak global maupun individual. Secara global, beberapa kali Setan seakan menang dalam pelbagai kejadian yang menimbulkan begitu banyak korban manusia sebagai obyek sasaran dari pertentangan besar itu; secara individual, banyak kali Setan juga seakan menang dalam pergumulan pribadi anda dan saya.
 "Sejarah dari pertentangan besar antara yang baik dan yang jahat telah melewati banyak saat-saat yang genting; namun puncaknya adalah di kayu salib di mana kekalahan dan kebinasaan Setan yang paling penting itu dipastikan. Pada waktu yang sama, nubuatan-nubuatan Alkitab menunjuk kepada 'akhir zaman' (Dan 12:4, 9), suatu masa dalam sejarah keselamatan dengan maknanya sendiri dalam hal hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya" [alinea pertama: dua kalimat pertama].
 Sudah barang tentu, tidak ada yang abadi di dunia ini; pertentangan besar itu juga akan segera berakhir. Namun masih ada beberapa peristiwa penting akan terjadi saat kita memasuki babak-babak terakhir yang sekaligus menjadi klimaks dari pertentangan besar itu. Tiga peristiwa penting yang hendak dibahas dalam pelajaran pekan ini berturut-turut adalah (1) pelayanan Kristus dalam bait suci surgawi, (2) kedatangan Kristus kedua kali, dan (3) kebangkitan orang mati.
 Pena inspirasi menulis: "Segenap surga berminat dalam pekerjaan yang tengah berlangsung di dunia ini. Satu umat sedang disiapkan untuk hari Tuhan yang dahsyat itu, yang sudah berada di depan kita; dan kita tidak boleh membiarkan Setan mengaburkan perjalanan kita serta mengganggu pandangan kita akan Yesus dan kasih-Nya yang tak terhingga. Kita harus mendapatkan dari Kristus pertolongan sejati yang kita perlukan. Lalu, kapan kita membutuhkan pertolongan ini? Yaitu pada masa pencobaan, masa ketika godaan datang seperti banjir bilamana Setan akan melemparkan kesuramannya yang kelam di hadapan jiwa kita sehingga kita tidak mampu membedakan antara hal yang kudus dan yang biasa. Pada waktu itulah kita harus melarikan diri kepada Sumber kekuatan kita itu" (Ellen G. White, Review and Herald, 28 Januari 1890).
1.      PELAYANAN KRISTUS DI SURGA (Bait Suci Surgawi: Bagian 1)
(ILUSTRASI: Penglihatan Hiram Edson di ladang jagung)
 Bait Suci surgawi. Seperti sudah pernah kita pelajari terdahulu, naskah asli dari kitab-kitab yang terhimpun dalam Alkitab tidak terbagi ke dalam pasal-pasal dan ayat-ayat seperti yang kita kenal sekarang, melainkan sebagai satu tulisan panjang yang utuh. Pembagian pasal dan ayat adalah tambahan dengan maksud untuk mempermudah pendalaman dan pengutipan. Pembagian pasal-pasal dilakukan oleh Stephen Langton, seorang profesor pada Universitas Paris yang kemudian menjadi uskup agung Canterburry, pada tahun 1227; pembagian ayat-ayat dikerjakan oleh Robert Stephanus, seorang pengusaha percetakan di Prancis, ketika mencetak Perjanjian Baru yang diterbitkannya tahun 1551. Alkitab pertama yang diterbitkan lengkap dengan pembagian pasal dan ayat adalah berbahasa Latin (Latin Vulgate) tahun 1555, sedangkan Alkitab berbahasa Inggris pertama (hanya PB) dengan pembagian pasal dan ayat adalah Alkitab Jenewa terbitan tahun 1560.
 Kitab Ibrani pasal 8 diawali dengan kalimat, "Inti segala yang kita bicarakan itu ialah:..." Apa rupanya yang sedang dibicarakan oleh penulis kitab Ibrani sehingga dia menambahkan kalimat tersebut, yang sekilas terkesan sebagai sebuah kesimpulan? Tentu saja adalah bagian sebelumnya yang dalam hal ini adalah pasal 7, di mana tiga ayat terakhirnya menyebutkan tentang kriteria seseorang untuk sebuah posisi sangat penting, yaitu Imam Besar. Sementara imam-imam besar yang melayani di Bait Suci duniawi, sesuai dengan aturan Hukum Taurat, adalah orang-orang yang berdosa di mana mereka sendiri harus mempersembahkan kurban bagi dosanya sendiri, Yesus Kristus yakni "Anak" itulah Imam Besar yang sempurna karena tidak berdosa dan karena itu tidak perlu mempersembahkan kurban demi diri-Nya.
 Berdasarkan ayat-ayat ini kita percaya bahwa saat ini Yesus Kristus sedang menjalankan peran-Nya sebagai Imam Besar "yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia" (Ibr. 8:2). Disebut "kemah sejati" (Grika: skēnēs tēs alēthinēs) karena inilah Kemah Suci surgawi yang dijadikan model dari kemah suci di dunia yang dibangun oleh Musa ketika memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di padang belantara. "Bait suci duniawi digambarkan sebagai contoh, atau pola, dari bait suci surgawi; ini berarti bahwa paling sedikit yang pertama itu mempunyai hubungan fungsional dengan yang terakhir. Karena itu, bait suci duniawi banyak mengajarkan kita tentang bait suci surgawi; terlepas dari apapun arti dari bait suci duniawi bagi bangsa Israel, arti yang sesungguhnya terdapat di dalam bait suci surgawi itu dan apa yang terjadi di sana" [alinea kedua: dua kalimat pertama].
 Ajaran khas gereja Advent. Doktrin tentang bait suci surgawi, di mana Yesus Kristus melaksanakan tugas-tugas Imam Besar, berkembang tak lama setelah Hari Kekecewaan Besar yang dialami oleh para pengikut William Miller (dikenal dengan sebutan Millerites) pada tahun 1844, ketika kedatangan Yesus kedua kali yang diperhitungkan akan terjadi pada tanggal 22 Oktober tidak menjadi kenyataan. Perhitungan tentang hari kedatangan itu sendiri didasarkan pada nubuatan bahwa, "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar" (Dan. 8:14), dan dikaitkan dengan "Hari Pendamaian" sebagaimana yang berlaku pada bait suci di dunia bagi bangsa Israel (Im. 23:27, 28) serta apa yang Yesus lakukan di bait suci surgawi (Ibr. 9:23-25). 
 Sehari setelah kekecewaan besar itu, tanggal 23 Oktober sore, seorang petani kaya bernama Hiram Edson yang juga termasuk di antara kelompok orang-orang yang kecewa itu, sedang berada di ladang jagung miliknya ketika tiba-tiba dia mendapat penglihatan. Dalam kesaksiannya dia menulis, "Surga tampak terbuka pada penglihatan saya, dan saya melihat dengan jelas dan terang bahwa gantinya Imam Besar kita itu keluar dari [bilik] Maha Kudus bait suci surgawi untuk datang ke bumi ini pada hari kesepuluh bulan ketujuh, di akhir 2300 hari, pada hari itu untuk pertama kalinya dia memasuki bilik kedua dari bait suci; dan bahwa dia mempunyai satu pekerjaan untuk dilakukan di dalam [bilik] Maha Kudus sebelum datang ke dunia ini." Kisah penglihatan ini kemudian mengembalikan semangat dan sekaligus memberi terang baru dalam penyelidikan Alkitab soal pekerjaan Yesus di surga, dan setelah serangkaian penelitian serta berbagai diskusi akhirnya doktrin tentang bait suci surgawi ini diterima sebagai keyakinan gereja, sebuah ajaran yang khas dari Gereja Advent.
 "Pelayanan di bait suci duniawi mengajarkan bahwa sementara penumpahan darah itu perlu (Ibr. 9:22) untuk menebus dosa, tetap masih diperlukan seorang imam pengantara antara orang-orang berdosa dengan Allah yang Suci sebagai hasil dari darah yang ditumpahkan itu. Pelayanan imam di dalam Tempat Maha Kudus membersihkan bait suci dari dosa dan dituntut penyesalan dan pertobatan di pihak umat itu. Jadi, penghakiman juga disorot sebagai bagian integral dari pelayanan keselamatan menyeluruh" [alinea ketiga].
 Apa yang kita pelajari tentang pelayanan Yesus Kristus di surga?
1. Di bait suci duniawi pada zaman Musa bersama umat Israel, pelayanan keimamatan dilakukan oleh laki-laki suku Lewi yang ditunjuk berdasarkan garis keturunan, yaitu orang-orang biasa dan berdosa yang juga wajib mempersembahkan korban bagi pengampunan dosa-dosa mereka sendiri. Di bait suci surgawi, Yesus Kristus menjadi Imam Besar yang sempurna karena tidak berdosa.
2. Tatkala Yesus dibangkitkan dan hendak naik ke surga, kepada murid-murid Ia berkata bahwa kepergian-Nya ke surga untuk menyediakan tempat bagi mereka dan setelah itu akan kembali menjemput mereka (Yoh. 14:1-3). Berdasarkan doktrin tentang bait suci surgawi, "menyediakan tempat" di sini harus diartikan sebagai "menjamin keselamatan" mereka melalui pelayanan keimamatan-Nya.
3. Doktrin tentang bait suci (sering disebut "doktrin tentang kaabah") merupakan ajaran khas gereja Advent, muncul tidak lama setelah Hari Kekecewaan Besar tahun 1844, yang kemudian dipelajari secara lebih mendalam dan komprehensif sebelum diterima sebagai salah satu ajaran pokok gereja.
2. YESUS PENGANTARA KITA (Bait Suci Surgawi: Bagian 2)
Berbeda dari bait suci duniawi. Kemarin kita sudah pelajari bahwa ajaran tentang bait suci surgawi merupakan doktrin khas Gereja Advent, dalam arti bahwa doktrin ini tidak diajarkan oleh gereja lain seperti yang diyakini oleh gereja kita. Doktrin ini adalah hasil dari pendalaman Kitabsuci oleh para pendiri gereja kita yang didasarkan utamanya pada tulisan-tulisan dalam kitab Imamat, Daniel, Ibrani dan Wahyu. Tapi berbeda dari pelayanan dalam bait suci duniawi di padang gurun pada zaman Musa yang bersifat bayangan (type) merujuk kepada Yesus Kristus, pelayanan di bait suci surgawi adalah kiasan (anti-type) dengan Yesus Kristus sendiri sebagai Imam Besar. (Baca selanjutnya di sini---> https://www.ministrymagazine.org/archive/1980/October/christ-in-the-heavenly-sanctuary).
 Selain itu, tidak seperti ritual di bait suci duniawi yang melibatkan imam, anak domba, dan orang berdosa yang mempersembahkan kurban, di bait suci surgawi Yesus Kristus bertindak sebagai imam sekaligus sebagai anak domba dan juga sebagai Pembela yang mewakili orang berdosa. "Pelayanan bait suci duniawi mengungkapkan tiga fase keselamatan: kurban pengganti, pelayanan pengantaraan imam, dan penghakiman. Alkitab mengajarkan bahwa ketiga fase keselamatan itu diwujudkan dalam pelayanan Kristus mewakili orang-orang berdosa" [alinea pertama].
 Kedatangan Anak Allah yang pertama ke dunia ini melalui penjelmaan sebagai bayi Yesus yang lahir di Betlehem dan kemudian mati di Golgota demi manusia yang sudah "sesat seperti domba," dan melalui kematian di kayu salib Allah "menimpakan kepadanya segala kejahatan kita sekalian" (Yes. 53:6), sehingga menyediakan "jalan pendamaian karena iman" (Rm. 3:24, 25) dengan menjadikan-Nya seolah-olah berdosa karena kita "supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2Kor. 5:21). Oleh kematian-Nya di kayu salib mewakili manusia berdosa itu, Yesus Kristus layak dan berhak untuk menjadi sebagai Pengantara kita (1Tim. 2:5; Ibr. 7:25).
 Kurban yang lebih baik. Bait suci duniawi yang dibangun oleh Musa di padang gurun untuk bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan pengembaraan--karena itu disebut "Kemah Suci" atau lebih sering lagi sebagai "Kemah Pertemuan"--telah dibuat berdasarkan contoh dari bait suci surgawi sebagaimana yang diperlihatkan Allah kepada Musa, mulai dari rancang-bangunnya sampai kepada perabotan di dalamnya, semuanya secara terinci (Kel. 25:8, 9). Kemah Pertemuan, atau bait suci duniawi, itu setahun sekali harus "ditahirkan" atau dibersihkan dari "segala kenajisan orang Israel" (Im. 16:16). Hari pentahiran itu disebut "Hari Pendamaian" yang jatuh pada hari kesepuluh bulan ketujuh menurut kalender Yahudi (Im. 23:26-32; Bil. 29:7-11), atau dalam kalender internasional jatuh antara bulan September-Oktober, enam bulan sesudah perayaan Hari Paskah. Dalam bahasa Ibrani hari ini dikenal sebagai Yom Kippur (יוֹם כִּפּוּר), sebuah hari paling penting dalam Yudaisme (agama orang Yahudi).
 Kalau bait suci duniawi itu harus ditahirkan dengan pemercikan darah binatang yang dilakukan oleh imam besar manusia--yang sebelum melakukan upacara suci itu harus lebih dulu mentahirkan dirinya sendiri dan keluarganya dengan mempersembahkan kurban seekor lembu jantan--maka bait suci surgawi pentahirannya dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri sebagai Imam Besar yang sempurna dan juga sebagai "kurban" yang lebih baik. "Dengan cara seperti itulah barang-barang yang melambangkan hal-hal yang di surga, perlu disucikan. Tetapi untuk hal-hal yang di surga itu sendiri diperlukan kurban yang jauh lebih baik. Sebab Kristus tidak masuk ke Ruang Suci buatan manusia, yang hanya melambangkan Ruang Suci yang sebenarnya. Kristus masuk ke surga itu sendiri; di sana Ia sekarang menghadap Allah untuk kepentingan kita" (Ibr. 9:23-24, BIMK).
 "Dengan latar belakang pelayanan bait suci duniawi, Ibrani 9:23 dengan jelas menunjuk kepada pelayanan pembersihan oleh Kristus di surga. Inilah ayat yang telah membingungkan para pakar selama berabad-abad, sebab ayat itu dengan jelas mengatakan bahwa ada sesuatu di surga yang sudah tercemar dan perlu disucikan. Bagi umat Masehi Advent Hari Ketujuh, dengan pemahaman kami tentang dua fase pekerjaan Kristus di surga yang mewakili kita, pembersihan ini adalah kiasan--sebagaimana pembersihan tahunan dari bait suci duniawi pada Hari Pendamaian itu" [alinea terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang pelayanan Yesus di bait suci surgawi?
1. Pelayanan Yesus Kristus di bait suci surgawi mencakup berbagai aspek pelayanan yang dilakukan dalam bait suci duniawi di zaman Musa, di mana Kristus merangkap sebagai imam besar dan sekaligus kurban. Bahkan, Yesus Kristus juga bertindak sebagai Pembela yang mewakili orang berdosa yang percaya kepada-Nya.
2. Yesus Kristus memiliki kelayakan untuk menjalankan pelayanan selengkap itu di bait suci surgawi oleh sebab Dia sudah hidup di atas dunia ini dan mati sebagai Penebus orang berdosa sekalipun Dia sendiri tidak pernah berdosa. Dengan kematian-Nya di kayu salib itu Yesus menjadikan Diri-Nya sebagai "jalan pendamaian" bagi manusia dengan Bapa surgawi.
3. Pada pelayanan bait suci duniawi itu dilaksanakan oleh orang-orang biasa dari keturunan suku Lewi, di mana mereka harus lebih dulu menyucikan diri dengan persiapan-persiapan yang ketat dan mempersembahkan kurban pendamaian bagi dosa-dosanya dan keluarganya. Yesus Kristus tidak memerlukan ritual seperti itu sebab Dia tidak pernah berdosa, dan dengan demikian membuat-Nya sebagai Imam Besar dan Kurban yang lebih baik dan sempurna.
3. MENUNTASKAN RENCANA KESELAMATAN (Kedatangan Yesus Kedua Kali)
Pertobatan dan penghapusan dosa. Hari itu rasul Petrus berbicara kepada rakyat yang berkumpul di Serambi Salomo, sebuah bangunan tambahan di Kaabah Yerusalem. "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan," katanya (Kis. 3:19). Di sini secara tegas dia mengaitkan pertobatan dengan penghapusan dosa, bahkan lebih jauh lagi bagi mereka yang bertobat selain dosanya diampuni juga akan "menerima karunia Roh Kudus" (Kis. 2:38). Dalam konteks ini, dosa yang dimaksudkannya ialah penolakan bangsa itu terhadap Yesus Kristus sebagai Mesias, sebab bertobat berarti "percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus" (Kis. 20:21). Kematian dan kebangkitan Yesus telah membuat banyak orang sadar bahwa orang yang ditolak dan dihinakan mereka itu sesungguhnya adalah Mesias yang dijanjikan sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab para nabi, khususnya yang dinubuatkan oleh Musa (Ul. 18:15, 18). Namun pertobatan bukanlah sekadar rasa penyesalan yang bersifat pasif; bertobat artinya berpaling dari dosa, suatu perubahan cara berpikir dan sikap hidup yang bersifat aktif (Mat. 3:8; Kis. 26:20). 
 "Sementara Petrus mungkin belum mengetahui 'masa dan waktu' (Kis. 1:7), rujukannya kepada nubuatan Yoel dalam Kisah 2:14-21 menunjukkan penghargaannya akan kegenapan nubuatan tersebut pada zamannya. Di dalam kerangka berpikir kenabiannya tampaknya membuktikan bahwa 'Petrus yang berbicara oleh ilham dan dengan demikian melampaui pemahamannya sendiri yang terbatas, secara ringkas itu merujuk kepada dua peristiwa besar di hari-hari terakhir bumi ini--(1) pencurahan Roh Allah, dan (2) penghapusan dosa terakhir dari orang-orang benar--yang berkaitan dengan peristiwa puncak yang ketiga, yakni kedatangan Kristus kedua kali" [alinea pertama].
 Pena inspirasi menulis: "Pekerjaan penghakiman pemeriksaan dan penghapusan dosa harus diselesaikan sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kali. Oleh karena orang mati harus dihakimi berdasarkan hal-hal yang tertulis dalam kitab-kitab, tidak mungkin dosa-dosa manusia dihapuskan sampai sesudah penghakiman itu ketika kasus-kasus mereka diselidiki. Tapi rasul Petrus dengan tegas menyatakan bahwa dosa-dosa orang percaya akan dihapuskan bilamana 'Tuhan akan datang kepadamu dan kalian akan mengalami kesegaran rohani. Dan Tuhan akan menyuruh Yesus datang kepadamu.' Kis. 3:19, 20, BIMK. Apabila penghakiman pemeriksaan ditutup, Kristus akan datang dan pahala-Nya akan bersama dengan Dia untuk diberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya" (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 485).
 Sebuah momentum penting. Kedatangan Yesus kedua kali selain untuk menjemput umat tebusan, yaitu orang-orang percaya yang sudah bertobat dan dihapuskan dosa-dosanya, dan dengan demikian merampungkan pekerjaan penebusan yang telah dilaksanakan-Nya, pada waktu yang sama kedatangan-Nya itu juga untuk mengakhiri pertentangan besar yang sudah berlangsung sepanjang sejarah dunia ini. Setelah Kristus (Mikhael) mengalahkan Setan dalam peperangan di surga lalu dia dibuang ke dunia ini (Why. 12:7, 9), pertentangan besar itu bukan lagi memperebutkan takhta pemerintahan surga tapi berubah menjadi peperangan untuk memperebutkan umat manusia. Dengan menipu Adam dan Hawa sehingga nenek moyang pertama manusia itu jatuh ke dalam dosa, secara hukum Setan sudah menguasai seluruh umat manusia. Namun Yesus sudah datang ke dunia ini untuk mati di kayu salib demi membayar tebusan dosa atas nama manusia, sehingga secara hukum pula manusia mendapat kesempatan untuk selamat melalui kasih karunia Allah dan terhindar dari kematian sebagai upah dari dosa (Rm. 6:23). Kedatangan Yesus kedua kali akan menjadi sebuah momentum penting untuk menuntaskan dua hal, yaitu pekerjaan penebusan dan pertentangan besar itu.
 "Kedatangan Kristus yang kedua akan menandai tamatnya pertentangan besar, sejauh menyangkut nasib manusia yang fana. Setan yang mengetahui bahwa akhir pertentangan itu sudah di depan mata, berusaha melalui penipuan untuk menyesatkan sebanyak mungkin orang...Terhadap penipuan ini kita sudah diamarkan bahwa kedatangan Kristus akan berupa peristiwa harfiah, pribadi, dan kasat mata yang akan berdampak pada seluruh dunia, menyudahi apa yang kita ketahui--dosa, penderitaan, kepiluan, kekecewaan, dan kematian" [alinea ketiga: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
 Kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini--di mana Dia sudah lahir, mati, bangkit, dan diangkat kembali ke surga--adalah fakta sejarah, terlepas apakah manusia mau menerimanya atau tidak. Seperti kata Aldous Huxley (1894-1963), penulis Inggris yang terkenal dengan karyanya Brave New World, "Fakta tidak akan sirna hanya karena kehadirannya diabaikan." Tetapi semua yang Yesus pernah alami di atas bumi tersebut sudah menjadi sejarah, sedangkan kedatangan-Nya yang kedua kali itu masih sedang dinantikan. Jadi, sementara dunia saat ini sedang bersiap merayakan kelahiran Kristus dengan segala kemeriahannya, saya lebih baik memusatkan perhatian pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebab kedatangan-Nya yang pertama, beserta segala pelayanan yang telah dilakukan-Nya bagi manusia di dunia ini, semua itu akan mubazir dan sia-sia kalau tanpa kedatangan-Nya yang kedua untuk membangkitkan dan menyelamatkan orang-orang saleh.
 Apa yang kita pelajari tentang peristiwa-peristiwa menjelang kedatangan Yesus kedua kali?
1. Yesus akan datang kembali ke dunia ini setelah pelayanan keimamatan-Nya di bait suci surgawi selesai. Saat ini pemeriksaan penghakiman tengah berlangsung, memeriksa kasus-kasus semua orang percaya sepanjang sejarah untuk menentukan vonis, selamat atau binasa. Selama proses penghakiman ini masih berjalan, kesempatan untuk bertobat masih terbuka. Masalahnya, kita tidak tahu apakah kasus kita sudah disidangkan atau belum.
2. Pertobatan menjadi isu paling penting dan kritis pada masa penghakiman pemeriksaan, yang menurut pemahaman doktrin kita telah dimulai sejak tahun 1844 ketika Yesus bukan datang ke dunia ini melainkan memasuki bilik yang Maha Suci untuk berperan sebagai "Pengacara" umat-Nya, menjadi Pengantara bagi orang-orang yang bertobat dan setia kepada-Nya.
3. Bilamana penghakiman pemeriksaan itu sudah selesai, barulah Yesus akan datang untuk kedua kali ke dunia. Kedatangan-Nya itu akan menuntaskan pekerjaan penebusan yang sudah dilaksanakan sebelumnya dalam rangka rencana penebusan Allah, dan dengan demikian mengakhiri pertentangan besar antara kebaikan dan kejahatan, antara kebenaran dan kepalsuan, yang telah menyengsarakan banyak orang.
 4. KEWAJIBAN SELAMA MENUNGGU (Menantikan Kedatangan-Nya)
"Anak-anak siang." Rasul Paulus menasihati jemaat di Tesalonika agar sementara menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali mereka harus tetap waspada dan tidak tertidur atau lengah. Tentu saja nasihat ini relevan bagi semua orang Kristen sepanjang zaman di mana saja, tetapi terutama bagi kita yang hidup di penghujung zaman akhir ini. "Karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar" (1Tes. 5:5-6). Tentu saja nasihat ini menyangkut perilaku kehidupan sehari-hari, bahwa sebagai "anak-anak terang dan anak-anak siang" umat Tuhan harus menjaga kelakuan serta cara hidup yang pantas sesuai dengan jatidiri mereka sebagai anak-anak Tuhan. Setiap orang Kristen yang mengaku sedang menantikan kedatangan Tuhan kedua kali harus memelihara hidup mereka senantiasa dalam keselarasan dengan kehendak Kristus yang bisa sewaktu-waktu datang "seperti pencuri pada malam" (ay. 2).
 "Begitu banyak yang terdapat dalam ayat-ayat itu, tetapi ada satu hal yang mencolok sangat jelas, dan itu adalah pengharapan yang harus dimiliki oleh orang-orang Kristen yang sedang menantikan kedatangan Kristus. Tentu saja kita harus waspada dan mawas diri supaya hari itu tidak menimpa kita seperti pencuri pada malam. Tapi kita juga harus penuh iman dan kasih dan pengharapan; karena apakah kita 'terjaga atau tidur' (artinya, apakah kita mati sebelum Dia kembali atau tetap hidup bila Ia datang), kita memiliki janji hidup kekal bersama-Nya" [alinea pertama].
 Tanda-tanda zaman. Seringkali bilamana kita berbicara tentang tanda-tanda kedatangan Yesus kedua kali pikiran kita langsung tertuju pada bencana alam, peperangan, dan kejahatan yang kejadiannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Bukankah semua hal itu memang disebutkan dalam nubuatan Yesus perihal hari-hari menjelang kedatangan-Nya dan sebagai tanda kesudahan dunia? (Baca Matius 24). Semua tanda-tanda akhir zaman itu benar, sudah lama terjadi dan masih akan terus terjadi bahkan semakin menghebat. Sebagian orang lagi menghabiskan waktu dan perhatian yang besar dalam mencermati serta menafsirkan gerak-gerik "binatang dan patung binatang" itu. (Wahyu 13-16). Tentu saja semua itu baik dan benar karena memang diamarkan dalam Alkitab. Tetapi memelihara kewaspadaan dan tetap siuman dalam menantikan kedatangan Yesus kedua kali bukan hanya mengamat-amati berbagai tanda zaman itu, melainkan terutama juga menyelidiki kehidupan kita sendiri apakah kita dalam keadaan siap menyambut kedatangan-Nya atau tidak. Selain itu, menantikan kedatangan Tuhan adalah juga mewaspadai berbagai ajaran sesat yang sudah dinubuatkan akan kian merebak menjelang hari kedatangan Yesus kedua kali (Mat. 24:24).
 "Prediksi tentang akhir zaman tidak diberikan untuk memuaskan rasa ingin tahu umat percaya melainkan untuk mendorong mereka agar terus berjaga-jaga (Mat. 24:32-44). Sementara kita menantikan Kedatangan yang Kedua, kita perlu menjaga mata kita tetap terbuka, kita harus mengetahui apa yang Firman Allah ajarkan mengenai peristiwa-peristiwa akhir zaman; terutama hal ini penting oleh sebab ada begitu banyak pandangan-pandangan palsu di dalam Kekristenan itu sendiri perihal tanda-tanda zaman" [alinea terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Orang-orang yang sedang menunggu dan menantikan kemunculan Kristus yang sudah dekat itu tidak akan bermalas-malas, tetapi rajin di dalam urusan pekerjaan. Tugas mereka tidak akan diselesaikan secara ceroboh dan tidak jujur, melainkan dengan kesetiaan, ketangkasan, dan ketelitian. Mereka yang membanggakan diri bahwa dengan kurangnya perhatian serta ketidakpedulian terhadap hal-hal kehidupan yang sekarang merupakan bukti dari kerohanian mereka dan pemisahan diri mereka dari dunia ini, berada di bawah suatu penipuan besar. Kejujuran, kesetiaan, dan integritas mereka diuji dan dibuktikan di dalam perkara-perkara duniawi. Kalau mereka setia dalam hal yang terkecil maka mereka akan setia dalam hal yang besar" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 4, hlm. 309).
 Apa yang kita pelajari tentang kewajiban kita sementara menantikan kedatangan Kristus kedua kali?
1. Umat Tuhan yang sejati tidak menanti kedatangan Yesus dalam keadaan terlena oleh kehidupan duniawi, melainkan selalu waspada dan siuman (mawas diri). Ini ditunjukkan dalam cara hidup kita sehari-hari, dan juga dalam hal perhatian yang kita berikan terhadap tanda-tanda zaman. Sebagai "anak-anak terang dan anak-anak siang" kita harus hidup dalam kehati-hatian.
2. Kedatangan Yesus kedua kali disebutkan "seperti pencuri pada malam" yang berarti tidak disangka-sangka. Tetapi banyak orang yang mengabaikan pernyataan ini dengan berusaha menghitung-hitung untuk menentukan waktu kedatangan-Nya, termasuk dengan mereka-reka setiap gerakan "binatang dan patungnya" itu.
3. Tanda-tanda kedatangan Tuhan yang sudah dekat seharusnya memacu setiap orang percaya untuk menuntaskan kewajiban-kewajibannya, baik itu tugas yang bersifat penginjilan maupun pekerjaan sehari-hari. Umat Tuhan sejati tidak akan mengabaikan tanggungjawabnya dalam perkara duniawi selagi menantikan kedatangan Tuhan.
5.  UMAT ALLAH DIPULIHKAN (Kematian dan Kebangkitan)
   Orang saleh dibangkitkan. Orang-orang Kristen di Tesalonika sempat galau ketika saudara-saudara seiman mereka satu demi satu meninggal dunia sementara Yesus belum juga datang. Apalagi ada guru-guru palsu yang menyusup dan menyebarkan ajaran sesat seolah-olah orang-orang yang sudah mati itu akan ditinggalkan. (Lihat pelajaran triwulan lalu.) Maka rasul Paulus menasihati mereka: "Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal" (1Tes. 4:13-15; huruf miring ditambahkan).
 Kata Grika yang diterjemahkan dengan "meninggal" dalam ayat 13 adalah κοιμάω, koimaō, yang artinya tidur. Orang Kristen yang mula-mula biasa menyebut saudara-saudara seiman yang meninggal dunia itu dengan κοιμωμένων, koimōmenōn, yang berarti telah jatuh tertidur. Dari kata ini kemudian muncul istilah cemetery yang berarti "tempat [orang yang] tidur" (sleeping places). Tetapi dalam ayat 14, pada anak kalimat "Yesus telah mati dan telah bangkit," kata Grika yang digunakan dan diterjemahkan dengan "mati" di sini adalah ἀποθνῄσκω, apothnēskō, yaitu mati dalam arti kata yang sebenarnya. Jadi, ketika menulis tentang orang-orang percaya yang meninggal dunia itu rasul Paulus menggunakan istilah "tidur" sebagai penghalusan kata (eufemisme), tetapi untuk kematian Yesus dia menggunakan kata "mati" tanpa penghalusan. Dalam pemandangan sang rasul, kematian manusia--termasuk orang percaya--itu bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan sebagai konsekuensi logis atau ganjaran dari dosa (Rm. 6:23); kematian Yesus Kristus yang tidak pernah berdosa itu adalah hal yang istimewa dan dahsyat mengingat latar belakang dari kematian itu dan siapa Dia sebenarnya. 
 "Dalam Perjanjian Baru, salah satu peristiwa yang berhubungan dengan kedatangan Kristus kedua kali ialah kebangkitan orang-orang yang mati dalam percaya kepada-Nya. Bahkan, sejauh menyangkut kebanyakan umat percaya, itulah bagian paling penting dari Kedatangan yang Kedua sebab kebanyakan dari para pengikut Kristus akan sudah mati ketika Dia datang kembali" [alinea pertama].
    Orang saleh dipulihkan. Umat tebusan atau orang-orang saleh yang dibangkitkan pada kedatangan Yesus kedua kali, maupun mereka yang masih hidup pada waktu itu, semuanya secara serentak akan dipulihkan kepada keadaan seperti Adam dan Hawa sebelum berdosa. "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1Kor. 15:51-53; huruf miring ditambahkan). 
 Sekali lagi dalam ayat 51 di atas Paulus menggunakan kata κοιμάω, koimaō, yaitu tidur, untuk orang-orang percaya yang sudah mati. Sedangkan kata asli (Grika) yang diterjemahkan dengan diubah di sini adalah ἀλλάσσω, allassō, yaitu menjelma atau berubah bentuk (transform). Sedangkan kata yang diterjemahkan dengan "tidak dapat binasa" pada ayat 53 adalah ἀφθαρσία, aphtharsia, yang berarti kekal dan juga murni; sementara kata yang diterjemahkan dengan "tidak dapat mati" adalah ἀθανασία, athanasia, yang artinya abadi selama-lamanya. Ketika Allah menciptakan manusia keadaan asli mereka adalah seperti ini, tidak dapat binasa dan tidak dapat mati. Bahwa kemudian manusia bisa mati dan lenyap binasa, ini menunjukkan kepada kita alangkah hebatnya akibat dari dosa itu. Bukan karena kehebatan kuasa Setan sehingga dapat membuat manusia ciptaan Allah yang sebenarnya tidak dapat binasa itu merosot kepada keadaan yang dapat binasa, melainkan karena dahsyatnya kuasa hukum dan hukuman Allah terhadap dosa. Tapi kita bersyukur bahwa akibat-akibat yang dahsyat dari dosa itu telah ditanggungkan kepada Yesus Kristus, sehingga kita beroleh kesempatan untuk dipulihkan kepada kondisi sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.
 "Kunci kepada kekekalan bukanlah penelitian ilmiah yang lebih hebat. Kuasa kematian sudah dipatahkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus sendiri (Rm. 6:9); berdasarkan pada prestasi itu, Ia sanggup untuk mengaruniakan kekekalan kepada mereka yang terhubung dengan kematian dan kebangkitan-Nya melalui baptisan (Rm. 6:23). Juga, Alkitab memperjelas bahwa karunia kekekalan itu tidak diberikan kepada orang percaya pada saat kematian tetapi bilamana Yesus datang kedua kali, pada waktu 'bunyi nafiri yang terakhir' (1Kor. 15:51-54)" [alinea terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang kematian dan kebangkitan umat Allah?
1. Ketika Yesus datang kedua kali semua orang mati dibangkitkan, baik orang jahat maupun orang saleh, sebab "setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia" (Why. 1:7). Bedanya, orang-orang jahat dibangkitkan hanya untuk menyaksikan kemuliaan kedatangan Yesus lalu mati tertimpa cahaya kemuliaan-Nya, sedangkan orang saleh dibangkitkan untuk diubahkan.
2. Rasul Paulus menyebut kematian orang-orang saleh itu adalah "tidur." Jadi, walaupun sebagai manusia biasa kita akan menangisi kekasih-kekasih kita yang meninggal dunia, namun sebagai umat Kristen yang percaya adanya kebangkitan kita jangan "berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (1Tes. 4:13).
3. Pada hari kebangkitan nanti bukan saja umat Tuhan yang sudah mati akan kembali hidup, tetapi bersama-sama dengan orang saleh yang masih hidup saat Yesus datang kedua kali semuanya akan diubahkan kepada keadaan asli seperti ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa. Unsur-unsur kefanaan dari tubuh kita akan digantikan dengan unsur-unsur kebakaan.
 PENUTUP
 Rencana keselamatan dirampungkan. Ketika Yesus hendak diangkat ke surga, Dia menghibur murid-murid-Nya dengan janji bahwa Dia pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka dan akan datang kembali untuk menjemput mereka "supaya di mana Aku berada, di situ juga kalian berada" (Yoh. 14:1-3, BIMK). Tetapi kepergian Yesus ke surga sekitar dua ribu tahun silam itu bukan sekadar untuk menyediakan tempat bagi murid-murid dan semua pengikut-Nya, melainkan juga untuk merampungkan pekerjaan yang telah dimulaikan-Nya di atas bumi ini. Untuk menyediakan tempat bagi umat-Nya di surga tidak memerlukan waktu sampai ribuan tahun lamanya; menyediakan satu umat untuk menempati tempat-tempat di surga itu, melalui pelayanan pengantaraan-Nya di bait suci surgawi, itulah yang membutuhkan banyak waktu dan perhatian--mungkin juga dengan banyak rasa haru.
 Tanpa pelayanan pengantaraan itu, anda dan saya tidak mempunyai Pembela yang akan membela kasus kita di hadapan Bapa dan malaikat-malaikat surga, dan keadaan tersebut dapat berakibat hasil yang negatif bagi kita. "Pengantaraan Kristus bagi manusia di dalam bait suci di atas sana sama pentingnya bagi rencana keselamatan seperti terhadap kematian-Nya di atas salib. Oleh kematian-Nya Dia telah memulai pekerjaan itu, yang setelah kebangkitan-Nya Ia diangkat untuk merampungkannya di surga" [alinea pertama: dua kalimat pertama].
 Adalah penting untuk selalu menantikan kedatangan Yesus kedua kali, tetapi lebih penting lagi jika sambil menantikan Hari Maranatha anda dan saya menunjukkan penghargaan terhadap pelayanan pengantaraan Yesus di surga itu melalui pertobatan yang sungguh serta perubahan hidup yang tulus menurut kepada kehendak Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Dengan berbuat demikian, kita turut bekerjasama dengan Kristus untuk membuat tugas pengantaraan-Nya menjadi lebih lancar dan mulus. 
 "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini" (1Tes. 4:16-18).
SUMBER:
1.Kwabena Donkor-Wkl Dir.Biblical Research Institute, GC : “Bertumbuh Dalam Kristus”, Pel.SS. Triwulan IV, 2012.
2. Loddy Lintong California, USA.
 Top of Form

Bottom of Form