Tampilkan postingan dengan label PEMURIDAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMURIDAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2014

13.MEMAKNAI PENDERITAAN DALAM PEMURIDAN.


"HARGA DARI PEMURIDAN"

PENDAHULUAN
Risiko menjadi murid Kristus. 

   Dalam iman Kristiani, masuk surga itu harus melalui jalan yang sempit. Yesus berkata, "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Mat. 7:13-14). Bahkan, Yesus menyatakan bahwa kehilangan nyawa untuk sementara di dunia ini lebih baik daripada kehilangan nyawa untuk selama-lamanya. "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Mat. 16:25-26).
Banyak orang beragama karena mendambakan hidup yang senang dan tenteram di dunia ini, berharap bahwa agama yang mereka anut sebagai jalan memperoleh ni'mat dunia-akhirat. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian, sebab hidup beragama berarti suatu kehidupan yang sarat dengan larangan, bahkan terkadang harus kehilangan nyawa karena agama. Bagi banyak orang, sulit untuk menerima bahwa agama akan mendatangkan penderitaan dan kematian. Itu sebabnya tidak banyak yang mau dan mampu menjadi orang Kristen yang serius, setia sampai akhir.

"Sepanjang sejarah jutaan orang tak dikenal dengan rela mengorbankan hidup mereka bagi Kristus. Mereka dipenjarakan, disiksa, bahkan dihukum mati. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, dihina, dikucilkan dari keluarga, dan bertahan melewati penganiayaan karena agama ketimbang meninggalkan Kristus. Hanya Tuhan yang tahu beratnya penderitaan yang harus dihadapi oleh orang-orang-Nya yang setia...Pada akhirnya, kita tahu dengan pasti bahwa berapapun harga dari pemuridan itu, mengingat pahalanya yang penghabisan, harga itu cukup murah" [alinea pertama dan terakhir].

Menjadi murid Kristus bukan untuk orang yang pengecut, sebab pemuridan itu menuntut keberanian yang bukan alang-kepalang, kalau perlu sampai kehilangan nyawa. Seorang yang takut mati tidak pantas menjadi pengikut Kristus. Sebab bagaimana seseorang dapat menjadi seperti Yesus, dan meneladani kehidupan yang dijalani-Nya sampai ke kayu salib? Mengikut Yesus berarti siap untuk memikul salib-Nya sampai mati. "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yoh. 12:25).
1.      KOMITMEN SEBAGAI MURID KRISTUS (Menghitung Biaya: Prioritas Pertama)

Murid yang siap berkorban. 
   Lazimnya, bila kita mendengar istilah "konflik horisontal" maka pikiran kita langsung membayangkan kerusuhan antar warga masyarakat sebagaimana yang kerap terjadi. Orang pun mulai mempergunjingkan soal "aktor intelektual" atau provokator di balik kerusuhan itu. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa seseorang yang memilih untuk menjadi pengikut Kristus tak dapat menghindari konflik horisontal dengan sesamanya. Yesus secara terang-terangan berkata, "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan" (Luk. 12:51). Bahkan, pertentangan itu bisa timbul di dalam satu keluarga (ay. 52-53). Mengapa begitu? Karena di dalam satu rumah penghuninya bisa terbagi-bagi secara pribadi, ada yang percaya dan menerima Yesus tetapi ada yang tidak percaya dan menolak Dia.

Banyak orang Kristen yang sudah mengalami dimusuhi oleh orang lain, termasuk dari kaum keluarganya sendiri, gara-gara keputusannya untuk menjadi murid Kristus. Kehilangan teman dan saudara adalah bagian dari harga yang harus dibayar seseorang karena mengikut Yesus. Bahkan, Yesus berkata, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:26; huruf miring ditambahkan). Bagi mereka yang hanya membaca dan memahami ayat ini secara harfiah tentu akan timbul konflik batin dalam dirinya, seakan-akan agama Kristen mendorong perpecahan dalam keluarga. Kata Grika yang diterjemahkan dengan membenci dalam ayat ini adalah miseĊ, dan terjemahannya sudah sesuai. Kata yang sama digunakan juga untuk orang-orang yang "membenci" orang Kristen, seperti terdapat dalam Mat. 10:22; 24:9; Luk. 6:22. "Benci" adalah sebuah kata yang tajam dan kasar.
Tentu saja Yesus tidak sedang mengajarkan balas-membalas, bahwa jika orang membenci kita karena Yesus maka demi Dia kita juga harus balas membenci mereka. Hal itu bertentangan dengan ajaran-Nya sendiri agar mengasihi musuh dan membalas kebaikan kepada orang yang berbuat jahat kepada kita (Mat. 5:44; Luk. 6:27). Di sini Yesus sedang berbicara tentang kerelaan berkorban dan komitmen secara tuntas yang dituntut dari seorang murid Kristus. Seperti Ia katakan selanjutnya, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku...Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:27, 33; huruf miring ditambahkan).

Murid yang mengabdi sepenuhnya. Lukas pasal 14 mencatat dengan jelas dan tegas harga dari pemuridan Kristen, lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi. Pertama-tama Yesus menyingkapkan dua harga yang harus dibayar seorang murid Kristus, yakni meninggalkan keluarga (ay. 26) dan memikul salib (ay. 27). Menarik bahwa Yesus kemudian menyebutkan soal kalkulasi untuk dipertimbangkan oleh seseorang yang hendak mengikut Dia, pertama ibarat orang yang mau membangun menara pengawas di tengah ladang (ay. 28-30) dan kedua seperti raja yang hendak berperang (ay. 31-32). Yesus kemudian menambahkan harga yang ketiga, yaitu meninggalkan segala miliknya (ay. 33), dilanjutkan dengan sebuah ilustrasi tentang garam yang baik (ay. 34-35). Dalam perkataan lain, seorang yang memilih untuk mengikut Yesus harus siap untuk mengabdi sepenuhnya, kalau orang itu kehilangan pengabdiannya dia disamakan dengan garam yang kehilangan rasa asinnya sehingga tidak berharga.
"Maksud Yesus sederhana namun penuh maksud yang mendalam. Apabila keluarga yang didahulukan dan Kristus menjadi nomor dua, Yesus kehilangan kekuasaan-Nya. Melayani banyak tuan itu mustahil. Kristus tentu mendukung hubungan-hubungan keluarga yang kokoh. Akan tetapi hubungan-hubungan tersebut mendapatkan kekuatan dari dasar yang teguh. Dasar itu ialah mengasihi Allah tanpa pamrih, yang pertama dan terutama. Allah menolak setiap penghalang, gangguan, atau selingan. Pemuridan menuntut harga tertinggi: kesetiaan kepada Kristus yang seutuhnya" [alinea terakhir].

Berdasarkan ayat-ayat di atas, pengabdian seutuhnya dari seorang murid Kristus mencakup dua hal utama: pengorbanan total dan menempatkan Kristus yang terutama. Kedua hal tersebut harus ditunjukkan dalam hidup sehari-hari dan dalam semua aspek kehidupan. Urusan keluarga, pekerjaan, karir, pendidikan, cita-cita, kegemaran, dan lain-lain yang bersifat kepentingan diri sendiri harus ditempatkan di bawah pengabdian kepada Kristus.
Apa yang kita pelajari tentang "harga" menjadi murid Kristus?

1. Keputusan untuk menjadi murid Kristus hanya bisa dilakukan oleh seorang pemberani, kalau dia menyadari mahalnya harga yang harus dia bayar. Bukan sedikit orang-orang yang tidak siap untuk menerima risiko sebagai murid Kristus, lalu mundur teratur ketika berhadapan dengan cobaan.
2. Sebagai murid Kristus, anda dan saya memiliki salib masing-masing yang harus dipikul, mungkin dalam ukuran serta berat yang berbeda-beda. Salib bukanlah hiasan seperti yang dipakai banyak orang di dada, tetapi salib adalah beban yang harus dipikul di atas pundak.

3. Pengabdian yang dituntut dari seorang murid Kristus tidak kurang dari pengabdian seutuhnya dan di atas segalanya. Mengikut Yesus adalah pilihan yang berisiko, sebuah pilihan yang mungkin akan memisahkan anda dari apa saja yang berpotensi untuk merintangi pemuridan anda.

2. PENGORBANAN TAK TERHINDARKAN (Memikul Salib Kita)
Menderita seperti Kristus. 

   Kekristenan bukan "angin surga" yang dapat kita hembuskan untuk membuat orang lain terlena, seolah-olah menjadi orang Kristen niscaya membuat jalan hidup kita senantiasa rata dan mulus. Memang, Yesus pernah berkata agar kita tidak khawatir dengan segala keperluan hidup kita (Mat. 6:25-34). Rasul Paulus juga menyatakan "jangan kuatir tentang apapun juga" oleh sebab Allah "akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Flp. 4:6, 19); dan rasul Petrus pun menandaskan "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1Ptr. 5:7). Tetapi sebagai pengikut Kristus anda dan saya menjadi pewaris bersama Dia, dan oleh karena itu "kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia" (Rm. 8:17).
Jadi, sesungguhnya penderitaan bersama Kristus adalah sebuah kehormatan dan kesempatan istimewa bagi murid Yesus. Ini masalah mindset (pola pikir) danmentality (mentalitas; cara berpikir) selaku orang Kristen. Sebagai anak-anak Allah, di dunia ini kita dipanggil untuk menderita karena iman, tetapi seperti halnya Paulus kita pun dapat berkata "bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm. 8:18).

 Pemuridan berarti menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Mengikut Yesus berarti bahwa anda siap mengalami penderitaan yang sama seperti Kristus alami. Karena itu, kita harus jujur dalam cara di mana kita menyampaikan pekabaran kita. Tentu saja kebenaran-kebenaran mulia tentang pembenaran oleh iman, pengampunan Kristus, kedatangan Yesus yang segera, keajaiban-keajaiban surga yang tiada bandingannya, dan kasih karunia Allah yang tak selayaknya itu harus diajarkan" [alinea pertama].

Menderita sebagai murid. Yesus tidak pernah menutup-nutupi dari murid-murid-Nya yang pertama tentang penderitaan yang bakal diderita-Nya (Mat. 16:21), dan Dia juga secara berterus terang menyatakan bahwa sebagai murid-murid mereka pun akan menderita (Luk. 21:12). Yesus menandaskan pula bahwa karena dunia membenci Dia maka kebencian itu berimbas kepada para pengikut-Nya (Yoh. 15:18-19). "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah" (Yoh. 16:1-2). Bukankah orang Kristen sudah sering dibenci dan dianiaya oleh orang-orang yang mengira bahwa dengan berbuat demikian mereka sedang menjalankan amanah Allah?
"Sebelum dibaptis, setiap calon baptisan harus memahami bahwa Kristus sendiri sudah menetapkan baginya sebuah salib, di mana tanpa itu mereka sama sekali tidak dapat menjadi murid-Nya. Apakah hal ini mengurangi sukacita pertobatan? Apakah dengan menjanjikan kepada mereka kehidupan tanpa kesusahan apapun yang tidak realisitk akan menambah sukacita ini? Pertobatan membebaskan orang-orang percaya dari beban dosa, bukan dari tanggungjawab kemuridan. Dengan memilih nama Kristus dan secara terbuka menyatakan pilihan itu melalui baptisan, setiap orang percaya seharusnya sadar bahwa pemuridan itu mengandung risiko" [alinea terakhir: lima kalimat pertama].

Sebagai orang Kristen kita mengenal baptisan dengan air sebagai pengakuan iman dan baptisan dengan Roh Kudus untuk pengudusan. Tetapi rasul Petrus juga menyebutkan tentang baptisan ketiga, yaitu baptisan dengan api untuk pemurnian iman. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya" (1Ptr. 1:6-7; huruf miring ditambahkan). Bahkan, sang rasul mengingatkan agar sebagai orang percaya "janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian...Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus" (1Ptr. 4:12-13).

Apa yang kita pelajari tentang keharusan memikul salib?
1. Tidak ada mahkota tanpa salib; seorang yang tidak mau memikul salibnya tidak bisa berharap akan mendapat mahkota. Yesus memperoleh seluruh kuasa-Nya dan memerintah bersama Bapa setelah Ia sendiri memikul salib yang ditentukan bagi-Nya oleh Bapa (Luk. 24:26; Kis. 3:18; Ibr. 10:12; 12:2).

2. Penderitaan adalah bagian dari pemuridan Kristen yang tak terhindarkan, dan para penggalang murid (disciple-makers) harus secara jujur dan terbuka mengajarkannya kepada calon-calon murid Kristus. Kata Yesus, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat. 10:38).
3. Allah membiarkan murid-murid Kristus mengalami penderitaan hidup untuk melatih dan memurnikan iman kita. "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia" (Flp. 1:29).

3. FAKTOR-FAKTOR PENTING DALAM PEMURIDAN (Sambutan Terhadap Disiplin)
Pemuridan dalam perspektif olahragawan. 

   Menarik mencermati bagaimana rasul Paulus mengibaratkan pemuridan itu dengan dunia olahraga di mana seorang murid Kristus adalah seperti atlet, pelari dan petinju, yang berkompetisi untuk menjadi juara. "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1Kor. 9:24; huruf miring ditambahkan).
Di sini rasul menekankan tentang perlunya kebulatan tekad untuk berhasil. Lalu dia menambahkan, "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi" (ay. 25; huruf miring ditambahkan). Pada bagian ini dia bertutur soal penyangkalan diri. "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapiaku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak" (ay. 26-27; huruf miring ditambahkan). Dalam hal ini Paulus menyinggung soal sasaran akhir dan persiapan.

"Perhatikan contoh atlet yang Paulus gunakan dalam beberapa ayat untuk hari ini. Tidak ada atlet yang berkomplot untuk berlari lebih lambat, melompat lebih rendah, atau melempar lebih dekat. Juga tidak ada orang percaya yang boleh menoleh ke belakang, khususnya apabila yang dipertaruhkan dalam perlombaan adalah sesuatu yang baka sebagai lawan dari hadiah apapun yang bisa dimenangkan seorang pelari duniawi sebagai hasil dari usahanya dan latihannya yang tekun" [alinea ketiga].

 
Pemuridan dan tujuan akhir. Bertutur tentang ketahanan mental dalam pemuridan, penulis kitab Ibrani mendorong kita untuk "menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita...dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman...Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa...Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu...supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah" (Ibr. 12:1-4; huruf miring ditambahkan). Ini berarti murid Yesus harus fokus pada tujuan dan memelihara ketekunan. 

Rasul Petrus menyimpulkan, "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus" (2Ptr. 1:10-11; huruf miring ditambahkan). Murid Yesus harus serius supaya pada akhirnya memperoleh pahala.
Pada akhirnya, pemuridan adalah soal keselamatan. Sebagaimana dalam olahraga tujuan akhirnya ialah untuk piala atau medali kejuaraan, demikian pula dalam pemuridan tujuan akhirnya adalah untuk mahkota keselamatan. Bedanya, dalam olahraga tidak semua yang ikut berlomba mendapat kemenangan, dalam pemuridan semua yang mencapai garis akhir akan mendapat pahala. Karena itu kita semua dapat mencontoh dari tekad Paulus yang berkata, "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Flp. 3:13-14).

Apa yang kita pelajari tentang kedisiplinan seorang murid Kristus?

1. Dalam dunia olahraga ada yang disebut "olahraga rekreasi" sebagai hobi atau untuk kesehatan, ada yang disebut "olahraga prestasi" yang serius dan profesional. Dalam pemuridan tidak ada yang bisa menjadi murid Kristus just for fun, tapi semua harus "dengan segenap hati" (Rm. 6:17; Ef. 6:6).

2. Dalam pemuridan Kristen dituntut adanya kebulatan tekad, penyangkalan diri, persiapan diri, fokus, dan ketekunan. Sebab dalam pemuridan sasaran utamanya adalah pahala keselamatan, yaitu hidup kekal bersama Kristus. Kedisiplinan dalam pemuridan adalah hal yang tak bisa ditawar.
3. Terkadang dalam pemuridan Allah memberlakukan "ganjaran" sebagai latihan ketahanan iman yang meskipun "pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita." Tetapi di kemudian hari "ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya" (Ibr. 12:11).

 4. UNTUNG-RUGI DALAM PEMURIDAN (Perbandingan Harga)

Pemuridan sebagai investasi. 

   Seperti kita pelajari sebelumnya, Yesus membandingkan pilihan untuk menjadi pengikut-Nya ibarat merancang pembangunan menara (Luk. 14:28) dan rencana berperang (ay. 31), di mana untuk kedua-duanya memerlukan pertimbangan dan perhitungan yang cermat (lihat pelajaran hari Minggu). Pengarang pelajaran ini menyamakan pemuridan Kristen seperti sebuah investasi dalam sebuah bisnis yang membutuhkan kalkulasi. Apakah menjadi murid Kristus itu dalam jangka panjang akan menguntungkan, dan lebih penting lagi apakah seseorang memiliki cukup stamina untuk menjalani masa pemuridan sampai mencapai garis akhir? Dapatkah kita kelak berkata seperti rasul Paulus, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2Tim. 4:7)?
Barangkali gagasan yang menyamakan niat menjadi murid Yesus dengan rencana bisnis merupakan ide yang ekstrem bagi sebagian orang, bahkan bisa dianggap sebagai pemikiran yang mencampur-adukkan nilai kerohanian dengan keduniawian. Namun, meskipun pemuridan Kristen adalah masalah rohani menyangkut kehidupan yang akan datang, menjadi murid Kristus itu memang mengandung konsekuensi jasmani yang nyata dalam kehidupan sekarang ini. Pahala pemuridan itu akan diterima nanti, tetapi pemuridan itu harus dijalani sekarang.

"Pahala dari pemuridan mungkin juga diukur melalui perbandingan harga. Harga-harga tersebut bisa termasuk penderitaan emosi, penolakan sosial, siksaan fisik, kerugian keuangan, pemenjaraan, bahkan kematian itu sendiri. Setiap orang yang menjalankan pemuridan pertama-tama harus mempertimbangkan dengan cermat investasi yang diperlukan" [alinea kedua].
Kerugian sementara, keuntungan abadi. Yesus mengutarakan gagasan yang ekstrem ketika mengatakan, 

"Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua" (Mat. 18:8-9). Tentu saja perkataan ini tidak untuk dipahami secara harfiah, sebab di sini Yesus sedang berbicara tentang kerelaan untuk kehilangan hal-hal yang fana demi mendapatkan hal-hal yang baka. Tidak ada orang yang masuk surga dengan tangan atau kaki buntung dan bermata satu, semua orang yang selamat akan masuk surga dengan kesempurnaan fisik yang diubahkan dalam sekejap mata (1Kor. 15:52).

Petrus yang berbicara mewakili rekan-rekannya sesama murid Yesus melontarkan pernyataan yang menyiratkan tuntutan yang bersifat kompensasi ketika dia berkata, "Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau" (Luk. 18:28). Yesus yang penuh pengertian itu menanggapinya dengan menyodorkan suatu janji, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal" (ay. 29-30). Ucapan ini juga bukan untuk dipahami secara harfiah, bahwa murid Yesus yang kehilangan harta benda dan keluarga akan beroleh ganti rugi berlipat kali ganda, dan yang kehilangan istri juga akan mendapat penggantian istri yang berlipat ganda. Yesus sedang berbicara tentang keuntungan yang berlipat kali ganda dari kerugian yang dialami karena menjadi murid-Nya, sebuah kompensasi berupa kebahagiaan batin yang berpuncak pada hidup yang kekal.
"Tidak diragukan bahwa harga dari mengikut Yesus bisa sangat mahal, mungkin hal paling mahal yang seseorang bisa lakukan. Sesungguhnya, kita harus pertanyakan realitas dari iman kita dan komitmen kita kalau mengikut Kristus tidak dengan membayar mahal, bahkan bisa saja segalanya...Tetapi satu hal sudah pasti: apapun yang kita peroleh dalam hidup ini, apapun yang kita capai, apapun yang kita hasilkan untuk diri kita, itu hanya sementara. Itu adalah sesuatu yang tidak abadi. Itu akan lenyap, dan lenyap untuk selamanya" [alinea ketiga dan keempat].

Apa yang kita pelajari tentang kalkulasi untuk menjadi murid Kristus?
1. Pemuridan adalah sebuah "bisnis rohani" yang menuntut kalkulasi untung-rugi. Seorang pengusaha yang cermat tidak begitu saja membuka usaha tanpa memperhitungkan kemampuan modal dan potensi keuntungan dari bisnis itu. Calon murid Kristus juga harus menyadari besarnya "harga" yang harus dibayarnya.

2. Sesungguhnya, tidak ada harga yang terlalu mahal untuk kita tanggung sebagai murid Kristus apabila kita memandang kepada hidup kekal yang kelak kita peroleh sebagai pahala. Pemuridan akan membuat seseorang kehilangan hal-hal yang fana, tetapi semua itu akan digantikan dengan hal-hal yang baka.
3. Menjadi orang Kristen, yaitu murid Yesus atau pengikut Kristus, memang hanya bisa dijalani dengan mengandalkan iman. Seseorang bisa saja sangat menggebu-gebu dan merasa yakin akan kemampuannya menjalani pemuridan, tetapi hanya dengan bergantung pada Tuhan dia akan mencapai garis akhir.

5. JANJI MASA DEPAN (Sebuah Kebangkitan yang Lebih Baik)
Bukan sekarang, tapi nanti. 

   Banyak tokoh-tokoh Alkitab yang oleh iman telah membuat hidup mereka sukses gilang-gemilang, dan luput dari segala marabahaya yang mengancam hidup mereka. Penulis kitab Ibrani mengaku bahwa dia "akan kekurangan waktu" untuk membeberkan semua kisah itu (Ibr. 11:32). Namun, tidak sedikit pula orang-orang percaya yang oleh hikmat Allah yang tak terduga itu telah dibiarkan untuk menjalani penderitaan hidup dan mengalami siksaan luar biasa hingga kehilangan nyawa, tetapi "mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik" (ay. 39).
Sebagian dari kita mungkin telah menikmati kehidupan yang indah dan nyaman atas karunia Tuhan, tetapi sebagian lagi dibiarkan untuk mengalami kehidupan yang pahit dan sengsara atas kehendak Tuhan. Atau, sebagian hidup kita begitu menyenangkan, tapi sebagian lagi amat memberatkan. Kita tidak pernah memahami sepenuhnya jalan-jalan hidup kita ke mana Allah sedang membawa kita untuk menempuhnya. Mengapa janji berkat dan pemeliharaan Tuhan tidak dirasakan dalam hidup kita sekarang ini? "Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita..." (ay. 40). Atas dasar pemahaman ini, seorang murid Kristus sejati tidak akan menjadi tawar hati, bahkan "berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita...dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..." (Ibr. 12:1-2).

"Kita mengikut Kristus sebab kita memiliki janji, pengharapan, penebusan, hidup baru di dunia baru yang tanpa dosa, penderitaan, dan kematian. Pada waktu yang sama, oleh karena kita sudah diberikan pengharapan ini, janji ini--yang dipastikan oleh kehidupan, kematian, kebangkitan, dan pelayanan keimamatan agung Yesus--kita berusaha untuk membawa orang lain kepada pengharapan yang sama, janji yang sama" [alinea kedua: kalimat kedua dan ketiga].
Tuaian menunggu para penuai. Pemuridan tidak saja mendapatkan murid-murid yang baru bagi Kristus, tapi lebih penting lagi adalah juga melahirkan penuai-penuai. Adalah suatu kenyataan bahwa tidak semua murid memiliki keberhasilan yang sama dalam penuaian, tetapi setiap murid harus menjadi seorang penuai. Gereja bisa saja memiliki jumlah pendeta yang (dianggap) berlebihan, tetapi ladang Tuhan yang terus bertumbuh sejatinya tidak pernah kelebihan penuai.

"Tuaian sudah masak; jutaan orang menunggu panggilan kepada pemuridan. Kita sudah diberkati bukan saja dengan injil, tapi injil dalam konteks 'kebenaran masa kini'--pekabaran tiga malaikat dalam Wahyu 14, yaitu pekabaran amaran Allah yang terakhir bagi dunia ini...Apa yang hendak kita lakukan dengan kebenaran-kebenaran yang sangat kita cintai ini? Maka, kita bertanya: di manakah para penuai? Mana mereka yang bersedia datang mendampingi Kristus dan turut serta menanggung risiko-risiko? Akankah anda menerima undangan Tuhan, bukan saja untuk menjadi seorang murid tapi mencari murid-murid, apapun akibatnya terhadap diri anda?" [dua alinea terakhir].

Tujuan utama pemuridan ialah mengumpulkan tuaian berupa jiwa-jiwa yang sebanyak-banyaknya untuk disiapkan bagi kedatangan Yesus kedua kali, baik untuk mereka yang masih hidup pada saat mulia itu, maupun bagi mereka yang sudah mati untuk dibangkitkan dalam kebangkitan pertama. "Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya" (Why. 20:6).
Apa yang kita pelajari tentang pemuridan dan kebangkitan pertama?

1. Sementara janji Allah untuk memelihara umat-Nya selagi hidup di dunia ini adalah janji yang pasti, ada kalanya Ia membiarkan sebagian anak-anak-Nya menderita di dalam iman. Allah tentu peduli pada kesejahteraan dan keselamatan umat-Nya saat ini, tapi Ia lebih peduli lagi pada keselamatan mereka di akhirat nanti.
2. Bila Yesus datang kedua kali umat percaya yang masih hidup akan diubahkan kepada kesempurnaan dan yang sudah mati akan dibangkitkan lalu diubahkan kepada keadaan yang sempurna dan baka. Tidak seorang pun bisa memilih di kelompok mana dia termasuk, tapi semua dapat memilih untuk selamat atau tidak.

 3. Pemuridan berkaitan erat dengan penuaian jiwa-jiwa. Pemuridan Kristen adalah usaha murid mencari murid dalam konteks penuaian jiwa. Pemuridan membebaskan manusia dari rasa takut akan kematian, oleh sebab kematian seorang murid Kristus akan berakhir dengan kebangkitan yang pertama untuk keselamatan.

PENUTUP
Hukuman atas orang jahat. Allah mungkin membiarkan sebagian orang jahat--mereka yang memusuhi dan menganiaya murid-murid Kristus--menikmati hidup yang senang di dunia ini, sebagaimana Dia membiarkan umat-Nya menderita di tangan mereka, untuk sementara waktu. Tetapi saatnya akan tiba bilamana Tuhan akan membalas segala perbuatan manusia, kebinasaan bagi orang jahat dan keselamatan buat orang benar.

"Orang jahat menerima balasan mereka di bumi. Amsal 11:31. Mereka 'akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman Tuhan semesta alam.' Maleakhi 4:1. Sebagian dibinasakan dalam sekejap, sedangkan yang lain menderita berhari-hari lamanya. Semua dihukum 'menurut perbuatan mereka'" [alinea kedua].
Segala sesuatu dalam dunia di mana anda dan saya hidup sekarang ini semuanya hanya sementara, apakah itu kesenangan maupun kesusahan. Bahkan kematian yang dialami semua manusia di dunia inipun hanya bersifat sementara, sebab pada akhirnya setiap orang yang pernah hidup di planet ini akan dibangkitkan--sebagian untuk hidup kekal dan sebagian untuk kematian abadi. Bilamana itu terjadi, segala penderitaan murid-murid Yesus yang setia akan lenyap dari ingatan.

"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal" (2Kor. 4:17-18).

DAFTAR PUSTAKA:

 

1.      Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.

2.      Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.

 

Jumat, 21 Maret 2014

12. Pemuridan Dan Penuai.

"TUAIAN DAN PARA PENUAI"

PENDAHULUAN
Menerapkan metode Kristus. 
   Pekan lalu kita sudah mempelajari perihal pentingnya regenerasi dalam kepemimpinan demi kelangsungan program pemuridan. Tugas utama seorang pemimpin dalam pekerjaan Tuhan adalah memastikan bahwa pemuridan dapat berlangsung terus dengan mendidik serta melatih murid-murid yang baru dan menyiapkan jalan bagi mereka untuk menjadi pemimpin. Kesuksesan dalam pemuridan bukan berdasarkan ilmu dan metodologi temuan manusia, melainkan meniru keteladanan Yesus Kristus dalam pemuridan. Pekan ini kita masih berbicara soal pemuridan yang akan menjadi sebagai para penuai di ladang Tuhan.

    "Prinsip-prinsip dan metodologi yang Yesus pakai harus tetap menjadi dasar rohani bagi persiapan orang Kristen sekarang ini...Dalam perkataan lain, teori-teori pengembangan kepemimpinan moderen jangan pernah menggantikan dasar yang Kristus sendiri telah letakkan...Penginjilan dan penggalangan murid yang sesungguhnya itu terpusat pada seputar (1) pengakuan akan keberdosaan kita, (2) penyesalan sejati yang tulus, (3) kepasrahan rohani tanpa pamrih, dan (4) tekanan yang tak tertahankan untuk menyebarluaskan pekabaran ilahi dari Allah kepada orang lain" [alinea pertama: kalimat terakhir; alinea kedua: kalimat pertama dan kalimat terakhir].
   Tentu saja pelajaran SS ini tidak bermaksud menafikan teori-teori dan metodologi moderen yang dikembangkan oleh kaum intelektual Kristen yang berdasarkan hikmat surgawi telah berusaha untuk menyediakan pedoman-pedoman berharga dalam penginjilan. Bagaimana pun gereja sudah terberkati dengan adanya orang-orang yang dengan tulus memikirkan cara-cara pendekatan yang berdayaguna (efisien) dan berhasilguna (efektif) untuk kemajuan pekerjaan Tuhan, namun pada akhirnya kuasa Roh dan metode alkitabiah adalah dasar utama dalam pemuridan.

    Dunia terus berubah oleh karena pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, akibatnya manusia juga menjadi kian kritis cara berpikirnya dan meningkat penalarannya. Tidak ada sesuatu gaya dan pola pemuridan yang standar dan berlaku bagi setiap orang di semua tempat, maka modifikasi dalam penggalangan murid adalah hal yang wajar dan bijaksana. Namun demikian prinsip-prinsip dasar serta tujuan pokok dari pemuridan tidak pernah berubah dari zaman Yesus, zaman rasul-rasul, hingga zaman ini. Pemuridan adalah doktrin Kristus untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah.
1.   MENARIK JIWA DENGAN KESAKSIAN (Roti Pengemis)

   "Kami telah menemukan Mesias." 
   Cara bagaimana Yesus mendapatkan para pengikut-Nya yang pertama ditandai dengan kesaksian dari mulut ke mulut. Mula-mula adalah Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa Yesus adalah "Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh. 1:2). Ketika pada keesokan harinya sedang bersama-sama dengan dua muridnya, yaitu Andreas dan Yohanes, Sang Pembaptis itu mengulangi kesaksiannya (Yoh. 1:35-36). Demi mendengar pernyataan yang sama dari guru mereka itu, Andreas dan Yohanes (belakangan dikenal sebagai "Yohanes Pewahyu") serentak beranjak lalu mengikut Yesus (ay. 37). Andreas yang kemudian berjumpa dengan saudaranya, Simon Petrus, langsung bersaksi, "Kami telah menemukan Mesias" (ay. 41), lalu Petrus pun menerima ajakan Andreas (ay. 41). Filipus, seorang murid pertama lainnya, juga mengajak Natanael dengan mengatakan hal yang serupa, "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi..." (ay. 43). Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid Yesus yang pertama itu adalah pembelajar Kitabsuci yang tekun, mereka mengerti dengan istilah-istilah "Anak Domba Allah" dan "Mesias" sebagaimana tercatat dalam Taurat dan kitab para nabi itu.

    Sejak dari awalnya proses pemuridan itu berlangsung melalui kesaksian demi kesaksian, di mana orang-orang yang sebelumnya telah mengikut Yesus dan menjadi murid-Nya itu bersaksi kepada orang-orang lain dan dengan cara itu memuridkan mereka. Kesaksian serupa telah dilakukan juga oleh perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di Sumur Yakub (Yoh. 4:28-30). Bahkan, seperti kata Yesus sendiri, "Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku" (Yoh. 15:26; huruf miring ditambahkan), sedangkan murid-murid akan juga bersaksi oleh sebab mereka itu "dari semula bersama-sama" dengan Yesus (ay. 27). Dengan sama-sama bersaksi tentang Yesus, murid-murid sebagai unsur manusia bekerjasama dengan Roh Kudus sebagai unsur ilahi dalam memenangan jiwa-jiwa bagi Kristus.
  "Meskipun Yesus sendiri harus kembali ke surga, Roh Kudus telah ditugaskan untuk menyediakan keakraban rohani yang murid-murid sudah dinikmati dalam kehadiran-Nya...Didampingi oleh Roh, murid-murid Kristus juga akan bersaksi tentang pelayanan Yesus. Allah tentu sudah menugaskan para malaikat, tanpa bantuan manusia, untuk menyiarkan injil. Gantinya, Ia memilih untuk menunjuk manusia yang berdosa, bersalah, dan tidak dapat diduga itu bagi panggilan yang suci ini" [alinea pertama: kalimat ketiga dan tiga kalimat terakhir].

Penginjilan dari mulut ke mulut. 

   Adalah Daniel Thambyrajah Niles (1908-1970), seorang pendeta Metodis asal Srilanka, yang mengatakan bahwa "Kekristenan itu seperti seorang pengemis yang memberitahukan kepada pengemis lain di mana dia menemukan roti." Mantan petinggi di Dewan Gereja-gereja Sedunia (menjabat sebagai sekretaris eksekutif Departemen Penginjilan, 1953) yang kaya pengalaman dalam penginjilan itu mungkin terinspirasi oleh para pengemis jalanan yang disaksikannya di negara-negara miskin. Kalau kita perhatikan, kaum pengemis memiliki rasa kesetiakawanan yang cukup kuat di kalangan mereka. Jika salah satu dari mereka mendapat roti (atau makanan apa saja), biasanya dia akan memberitahukan kepada teman-temannya di mana dia mendapatkannya. 
  Prinsip yang sama berlaku di antara para pengikut Kristus yang tidak bisa tinggal diam untuk memberitahukan kepada orang-orang lain pengalamannya menjadi murid Yesus. Seperti kata Petrus dan Yohanes di hadapan persidangan pemimpin agama Yahudi yang hendak membungkam mereka, "Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar" (Kis. 4:20). Dengarkan apa kata nabi Yeremia tentang usahanya yang sia-sia untuk berhenti menyampaikan pekabaran Tuhan, "Tetapi apabila aku berpikir: 'Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya,' maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup" (Yer. 20:9; huruf miring ditambahkan).

 "Berapa banyak dari saluran-saluran pilihan Allah--para pemimpin yang produktif dalam penginjilan, administrasi, dan kepemimpinan--telah diperkenalkan kepada Kristus oleh murid-murid yang setia yang jatidiri mereka, secara manusiawi, sudah lama dilupakan? Walaupun mereka ini bukanlah orang-orang yang terkemuka, pikirkanlah bagaimana pekerjaan Tuhan bisa menjadi timpang kalau saja mereka tidak dengan setia bersaksi tentang Yesus" [alinea terakhir: dua kalimat pertama].
Apa yang kita pelajari tentang pentingnya bersaksi dalam pemuridan?

1. Pemuridan hanya dapat berlangsung kalau semua murid Yesus dari zaman ke zaman menjalankan fungsi mereka sebagai saksi-saksi bagi Yesus. Anda tidak perlu menjadi seorang penginjil hebat atau penceramah ulung, tetapi cukup dengan menceritakan kepada orang lain pengalaman anda menjadi murid Kristus.

2. Seperti pengemis yang gembira mendapatkan roti akan memberitahukan kepada teman-temannya dari mana roti itu diperoleh, demikianlah seorang murid Kristus yang bahagia akan menggebu-gebu untuk bersaksi tentang Yesus. Artinya, jika anda tidak bersemangat untuk bersaksi menandakan bahwa kehidupan Kristiani anda tidak memuaskan.
3. Bersaksi bagi Yesus bukan untuk mencari nama atau mendulang pujian, melainkan harus karena terdorong oleh desakan yang timbul dari dalam diri sendiri yang sulit dibendung. Banyak saksi-saksi Kristus yang telah berjasa membesarkan pekerjaan Tuhan yang tidak banyak diketahui orang, tapi Yesus mengenal mereka.

2. MENUNGGU PETUNJUK ROH KUDUS (Ketika Yesus Mendorong Kesabaran)
  Memahami halangan dalam penginjilan.

    Meskipun Yesus sudah mengamanatkan kepada para murid yang mula-mula itu tentang tugas mereka untuk menjadi saksi-saksi-Nya, mereka tidak harus bersaksi secara terburu-buru sebelum diperlenngkapi oleh kuasa Roh Kudus. "Kalianlah saksi-saksi dari semuanya itu. Dan Aku sendiri akan mengirim kepadamu apa yang sudah dijanjikan oleh Bapa. Tetapi kalian harus tetap menunggu di kota ini sampai kuasa dari Allah meliputi kalian," katanya (Luk. 24:48-49, BIMK; huruf miring ditambahkan). Bahkan dalam pengalaman Paulus dan Silas, ketika mereka hendak masuk ke wilayah Asia di sebelah timur (yaitu Asia Kecil, sekarang Turki) untuk bersaksi di tempat itu, Roh Kudus menahan langkah mereka (Kis. 16:6-7). Lalu mereka berencana untuk masuk ke daerah Bitinia (salah satu provinsi di Asia Kecil), tapi kembali Roh mencegah mereka. Mengapa? Karena Tuhan mempunyai prioritas lain bagi mereka, yaitu menginjil ke wilayah Masedonia (Eropa) di sebelah barat (ay. 9-10).
"Rasul Paulus telah menyusun rencana-rencana ambisius untuk memasuki Bitinia, tetapi Paulus yang berkemauan keras itu pun peka terhadap tuntunan Allah dan menerima gantinya menolak campur tangan Roh. Sang rasul bersedia menerima arahan Roh yang malah mengutus dia ke Makedonia. Banyak sekali mujizat yang menyertai usahanya di sana. Kalau saja Paulus langsung menuruti rencana-rencananya, missi di Eropa sudah terhenti tanpa batas waktu" [alinea terakhir].
   Jadi, "kesabaran" yang dimaksud di sini adalah mengesampingkan ambisi pribadi dalam penginjilan dan tunduk kepada arahan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, pemuridan tidak mengenal batasan golongan dan kelompok etnis sebab perintah Yesus ialah "jadikanlah semua bangsa  murid-Ku" (Mat. 28:19), namun demikian kita harus peka terhadap bisikan Roh yang mengarahkan kita ke mana usaha pemuridan itu harus diprioritaskan. Semangat penginjilan di pihak manusia mesti diselaraskan dengan kehendak ilahi demi mencapai sasaran terbaik pada waktu yang terbaik.

 Panggilan dari Makedonia. 
   Alkitab mencatat bahwa dua kali Paulus dan Silas berusaha memasuki wilayah Asia Kecil untuk menginjil, tetapi tidak dijelaskan bagaimana caranya Roh Kudus menghalangi usaha mereka itu. Kita meyakini bahwa anak kalimat "Roh Yesus menghalangi mereka" (Kis. 16:7) adalah kata-kata yang diilhamkan oleh Roh Kudus kepada Lukas selaku penulis kitab Kisah Para Rasul, itu bukan kesimpulan dari Lukas sendiri. Tentu saja semula Paulus dan Silas tidak menyadari bahwa rintangan memasuki wilayah Asia Kecil itu adalah kehendak Allah, kalau tidak mereka tidak akan mencoba sampai dua kali. Pada malam hari ketika Paulus mendapat mimpi tentang seorang Makedonia yang berdiri memanggil mereka, "Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami" (ay. 9), barulah Paulus mengerti "bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana" (ay. 10).

    Makedonia adalah sebuah wilayah di sebelah utara Yunani yang terletak di bagian tenggara benua Eropa, dan pada abad pertama termasuk daerah jajahan kekaisaran Romawi. Masuknya pekabaran injil di Makedonia memulai era pemuridan di benua Eropa yang telah mengubah peta penginjilan dunia di zaman rasul-rasul. Jemaat-jemaat penting yang kemudian ditahbiskan oleh Paulus di tempat ini adalah Filipi dan Tesalonika, serta Korintus di bagian selatan.
   Yesus mengerti bahwa kecuali murid-murid juga mengalami kebergantungan ini, kemajuan kerajaan itu telah berada dalam keadaan bahaya yang serius. Sebaliknya, kalau mereka mempelajari pelajaran ini sejak awal, masa depan pelayanan mereka akan ditentukan demi pencapaian surgawi. Karena itu perintah-Nya adalah Tunggu...Kristus menghendaki umat percaya zaman moderen menguasai pelajaran itu juga. Orang-orang Kristen yang berniat baik tetapi percaya diri apabila tidak bersedia menunggu dengan sabar tuntunan Roh dapat mempermalukan diri mereka sendiri dan kerajaan Allah" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir; alinea kedua].

 Apa yang kita pelajari tentang nasihat untuk bersabar dalam menjalankan penginjilan?
1. Kapankah anda merasa bahwa usaha penginjilan anda yang sudah direncanakan dengan baik seperti terhalang? Mungkin Tuhan mempunyai maksud lain yang berbeda dari rencana anda itu, seperti yang dialami oleh Paulus dan Silas. Jangan putus asa, tapi mintalah petunjuk Roh Tuhan.

2. Meskipun penginjilan adalah perintah Tuhan, kita tidak dapat melaksanakannya dengan kemampuan sendiri. Perlu kesabaran untuk menunggu Roh Kudus memperlengkapi diri anda dan mengarahkan langkah anda. Halangan dalam penginjilan sering diizinkan Tuhan terjadi sebagai suatu tanda.
3. Pada zaman ini "panggilan dari Makedonia" masih akan terus bergema terhadap kita kalau rencana penginjilan kita tidak selaras dengan rencana ilahi. Setiap murid Kristus harus peka terhadap "wilayah Makedonia" ataupun "orang Makedonia" agar sesuatu tempat atau seseorang tidak terlewatkan dari usaha pemuridan kita.

3. MEMAHAMI KEWENANGAN DARI KRISTUS (Menjalankan Kewenangan)

 Tentang "mengikat atau melepaskan" dan "pengampunan dosa.
" Ketika Yesus berkata kepada Petrus, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga" (Mat. 16:18-19; huruf miring ditambahkan), bukan berarti bahwa Petrus diberi kewenangan untuk menentukan seseorang boleh masuk surga atau tidak seperti yang mungkin pernah anda dengar. "Kunci kerajaan surga" yang dimaksud di sini adalah "jalan masuk ke surga" yaitu melalui pemuridan. Sedangkan ungkapan "terikat dan terlepas" (Grika: deĊ dan lyĊ; Ibrani: 'asar dan hittir) merujuk kepada istilah yang lazim digunakan oleh rabi-rabi (guru-guru agama Yahudi), bahwa mereka berwenang untuk menyatakan "apa yang dilarang" dan "apa yang tidak dilarang" menurut hukum agama. Tetapi Yesus memberikan otoritas itu kepada Petrus dan murid-murid yang lain.

    Kristus juga memberi kewenangan istimewa lainnya kepada murid-murid yang pertama. Pada hari Minggu malam setelah Yesus dibangkitkan, Ia mendatangi tempat di mana murid-murid dan para pengikut-Nya sedang berkumpul. Kepada mereka Yesus berkata, "Terimalah Roh Allah. Kalau kalian mengampuni dosa seseorang, Allah juga mengampuninya. Kalau kalian tidak mengampuni dosa seseorang, Allah juga tidak mengampuninya" (Yoh. 20:22-23, BIMK). Selama berabad-abad Gereja tertentu telah menggunakan ayat ini untuk menjadi dasar dari otoritas penghapusan dosa yang mereka jalankan. Tetapi Petrus sendiri menyatakan, "Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya" (Kis. 10:42-43; huruf miring ditambahkan).
"Sebagaimana Bapa menugaskan Yesus, demikianlah Kristus menugaskan murid-murid-Nya. Melalui Roh, Bapa menanamkan kuasa ilahi pada Kristus. Melalui Roh, Yesus juga menanamkan pada murid-murid-Nya kuasa ilahi yang sepadan dengan penugasan mereka di bumi ini. Tidak seorang pun pengikut yang perlu khawatir bahwa Kristus menyepelekan mereka. Setiap kecakapan, talenta, kemampuan, dan kekuatan yang diperlukan sudah diberikan" [alinea ketiga].
   Kewenangan murid-murid zaman ini. 
   Pertanyaan yang menarik ialah: Kalau Yesus telah memberi kewenangan kepada murid-murid-Nya yang pertama dulu, apakah ada juga kewenangan untuk murid-murid-Nya pada zaman ini, dan dalam hal apa? Sebagai pengikut Kristus zaman ini, kita adalah murid-murid Yesus juga. Kewenangan yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya yang pertama dulu itu juga berlaku pada kita, khususnya kewenangan untuk menjalankan pemuridan melalui penginjilan. Seperti kata Yohanes Pembaptis, "Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas" (Yoh. 3:34).
"Keteladanan Yesus berbicara nyaring di sini. Jika ada seseorang yang pernah memiliki hak untuk menahan kewenangan dan mendiktekan tingkah laku, tentunya itu Kristus. Sebaliknya Ia memberikan kewenangan kepada orang lain, menugaskan mereka untuk bekerja tanpa kehadiran-Nya di mana satu-satunya pengaruh-Nya adalah petunjuk dan keteladanan-Nya lalu mengutus mereka untuk melayani dan bersaksi" [alinea terakhir].

 Pena inspirasi menulis: "Roh Kudus sudah turun ke atas orang-orang yang mengasihi Kristus. Dengan ini mereka akan disanggupkan, di dalam dan melalui kemuliaan Kepala mereka, untuk menerima setiap anugerah yang perlu demi memenuhi missi mereka. Pemberi hidup itu memegang dalam tangan-Nya bukan saja kunci maut, melainkan seluruh kekayaan surga. Segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya, dan dengan mengambil tempat-Nya di pengadilan surgawi Ia dapat membagikan berkat-berkat ini kepada semua orang yang menerima Dia" (Ellen G. White, The Bible Echo, 22 Mei 1899).
   Apa yang kita pelajari tentang kewenangan yang Kristus berikan kepada pengikut-Nya?

1. Kewenangan yang Kristus berikan kepada murid-murid-Nya lebih bersifat penugasan ketimbang sebagai hak prerogatif yang bersifat menghakimi orang lain. Sebagai murid Kristus, kita tidak berhak untuk membenarkan ataupun mempersalahkan, tapi kita berhak untuk mendoakan orang lain.

2. Sebagaimana Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk menyiapkan jalan keselamatkan bagi manusia, demikianlah Yesus Kristus juga mengutus murid-murid-Nya untuk menunjukkan jalan keselamatan itu kepada orang-orang lain, dan untuk itu mereka diberi kuasa oleh Roh Kudus.

3. Dengan cara yang sama Yesus Kristus juga menugaskan kita untuk menyampaikan kabar selamat ini kepada orang-orang lain yang dapat kita jangkau, dan dengan cara yang sama pula kuasa Roh Kudus itu diberikan kepada anda dan saya untuk menyanggupkan kita melaksanakan tugas itu.

4. MENGGARAP LADANG TUHAN (Pekerja-pekerja Untuk Penuaian)
Tuaian sudah masak. 

   Bagi anda yang memiliki pengalaman bertani, atau setidaknya gemar bercocok-tanam di halaman rumah sekadar rekreasi, tentu pernah merasakan betapa senangnya memanen hasil dari kebun sendiri. Tanaman itu bisa berupa sayur-sayuran, buah-buahan, atau juga bunga-bungaan. Apa yang membuat anda bergairah untuk memetik hasil tanaman itu? Ya, tentu saja, ketika melihat tanaman itu sudah matang dan siap dipetik. Ada jenis-jenis buah yang menguning, memerah, atau menghitam sebagai tanda siap dituai, sementara untuk jenis-jenis sayuran yang telah cukup tua untuk dipanen juga akan memperlihatkan tanda-tanda tertentu. Tetapi, apa jadinya dengan hasil tanaman yang tidak dipanen, karena anda terlampau sibuk? Kalau pada hari-hari ini anda berkunjung ke kota Redlands dan Loma Linda di California Selatan, tempat yang terkenal sebagai penghasil buah jeruk berbagai jenis, anda bisa menyaksikan buah-buah jeruk yang jatuh berserakkan di bawah pohon karena terlalu matang dan belum sempat dipanen. Membusuk.
   Ketika hidup di dunia ini Yesus pernah merasa sedih karena melihat orang-orang yang "terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (Mat. 9:36), sehingga Dia berkata, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.

Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (ay. 37-38). Dari zaman Yesus hidup di dunia sampai sekarang ini ladang Tuhan selalu sarat dengan tuaian yang siap untuk dipanen, dan selalu kekurangan penuai-penuai untuk memanennya. Parahnya lagi, banyak murid-murid Kristus yang tidak dapat melihat saratnya tuaian dan kurangnya penuai.
   "Tuaian rohani berlimpah, tetapi para penuainya langka. Tanah hati sudah siap, bibit rohani sudah ditanam; bertunas, sarat berembun, sinar matahari berlimpah mendorong pertumbuhan yang luar biasa. Jiwa-jiwa yang sudah masak menanti penuaian, tetapi di manakah para penuai itu? Dengan menggunakan gambaran kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti, Yesus berusaha untuk membangkitkan semangat yang menjalar" [alinea pertama].
Jangkauan ke luar dan ke dalam. 

   Benar, ladang Tuhan bukan hanya di luar gereja tapi juga di dalam gereja. Kepada jemaat di Korintus Paulus berkata, "Kamulah ladang Allah, bangunan Allah" (1Kor. 3:9). Artinya, penuaian di dalam jemaat itu sama pentingnya dengan penuaian di luar jemaat. Pemuridan tidak berhenti setelah seseorang dibaptis dan menjadi bagian dari "bangunan Allah." Namun, pemuridan di dalam jemaat harus lebih bertujuan menyiapkan penuai-penuai pergi keluar dan memanen jiwa-jiwa baru untuk dibawa masuk ke dalam lumbung Tuhan. Jemaat yang tidak menghasilkan penuai-penuai adalah jemaat yang tidak bertumbuh untuk melaksanakan prinsip pemuridan yang berkelanjutan, murid menghasilkan murid.
   "Terkadang orang-orang Kristen mengidamkan persekutuan mereka dengan orang-orang percaya lainnya dan berkelompok, tanpa peduli melewatkan para pencari dunia yang telah masak bagi penuaian. Mungkin tidak menyadari pertanggungjawaban ilahi mereka terhadap jiwa-jiwa yang sedang binasa itu, mereka menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan gereja, tanggungjawab sebagai warganegara, perawatan bangunan, dan proyek-proyek bermanfaat lainnya yang diabdikan untuk memelihara status quo" [alinea kedua: dua kalimat pertama].

    Sebagai apa anda terpanggil? Bersediakah anda meninggalkan "zona kenyamanan" (comfort zone) anda, lalu pergi keluar untuk mencari jiwa? Para penuai selalu diperlukan untuk pergi ke ladang-ladang yang sudah siap dituai, mungkin ke tempat yang tidak pernah dijangkau sebelumnya. Kalau karena sesuatu alasan yang patut kita tidak bisa pergi ke sana, setidaknya kita bisa berdoa kepada Tuhan sebagai "yang empunya tuaian" agar mengutus para penuai yang bersedia untuk pergi.
Apa yang kita pelajari tentang tuaian yang berlimpah dan kurangnya penuai?

1. Berbeda dari keadaan murid-murid yang pertama ketika ladang Tuhan baru mulai dibuka, sehingga mereka harus pergi berpencar untuk menuai, pada zaman ini ladang kita ada di sekeliling kita. Anda tidak perlu pergi menuai di "ladang orang" untuk melaksanakan tugas penuaian.
2. Mengenali tanaman yang siap dipanen tentu lebih mudah karena adanya tanda-tanda fisik, dibandingkan mengenali jiwa yang siap dituai. Tetapi dengan bantuan Roh Kudus dan kepekaan kita, sebenarnya kita bisa mengetahui jiwa-jiwa yang sudah cukup matang untuk dituai.

3. Sementara kegiatan di dalam gereja itu penting, kita tidak dapat menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak melakukan penuaian di luar jemaat. Jangkauan ke luar dan ke dalam itu sama penting dalam program pemuridan dan penuaian.
5. CARI DAN SELAMATKAN (Hilang dan Ditemukan)

 Terfokus pada orang berdosa. 
   Tidak sukar mencari orang berdosa di dunia ini, sebab "semua orang telah berbuat dosa" (Rm. 3:23); yang sulit adalah menemukan orang berdosa untuk diselamatkan. Tatkala Yesus melihat Petrus dan Andreas sedang menjala ikan di pesisir danau Galilea, Ia memanggil mereka dengan berkata:  "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Mrk. 1:17). Sebagaimana dalam menjala ikan seorang nelayan tidak bisa memilih ikan mana yang ingin ditangkapnya, demikian pula dalam "menjala" manusia kita tidak dapat memilih jiwa-jiwa seperti apa saja yang menjadi sasaran. Setiap jiwa berharga bagi Tuhan, apapun latar belakangnya.

    "Melalui pengajaran dan keteladanan pribadi Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk bergaul dengnan orang-orang berdosa, bahkan orang-orang yang memiliki nama jelek seperti para pelacur dan pemungut cukai. Bagaimana lagi mereka akan memuridkan seluruh dunia? Pengajaran-Nya seringkali terfokus pada orang-orang berdosa ini. Penyebutan-Nya terhadap mereka sebagai 'yang hilang' menunjukkan betapa berbelaskasihannya Yesus itu" [alinea pertama: empat kalimat pertama].
   Untuk menemukan jiwa-jiwa yang "hilang" itu dengan sendirinya menjadikan anda dan saya sebagai "pencari" jiwa. Sebagai pencari kita berada di pihak yang aktif, sedangkan jiwa-jiwa itu di pihak yang pasif karena hanya bisa menunggu. Selaku pencari jiwa yang serius acapkali kita dituntut untuk proaktif dan menerapkan gaya "jemput bola" demi menemukan jiwa-jiwa itu. Dalam beberapa kasus seorang pencari jiwa bahkan harus lebih agresif jika harus merebut jiwa itu dari tangan iblis.

 Mencari dengan perasaan kasih. 
   Saya pernah kehilangan bagasi dalam suatu penerbangan domestik ke Jakarta yang membuat saya harus menunggu selama beberapa hari dengan perasaan harap-harap cemas. Bukan saja karena ada beberapa barang berharga di dalam kopor yang "nyasar" itu, tapi lebih penting lagi karena di dalamnya terdapat oleh-oleh istimewa yang tidak begitu gampang didapat. Ketika bagasi itu kemudian diantar ke rumah dalam keadaan utuh, baru saya merasa lega. Bukan itu saja, tapi hal ini membuat saya jadi begitu menghargai bagian pelayanan "Lost and Found" dari perusahaan penerbangan itu. Namun, di lain waktu saya juga pernah kehilangan sebuah kamera SLR produk terbaru yang tertinggal di kabin penumpang, dan tidak pernah kembali. Dua pengalaman dengan akhir dan perasaan yang berbeda. 
   Kehilangan barang adalah hal biasa dalam hidup kita, tetapi kehilangan jiwa-jiwa sangat menyusahkan perasaan Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus jiwa-jiwa itu. "Di seluruh injil, Yesus mendorong umat percaya untuk menjadi pencari-pencari. Ia ingin kita agar mengasihi dan menjangkau ke luar pada mereka yang hilang, tidak peduli orang-orang seperti apa mereka itu atau kehidupan macam apa yang mereka jalani" [alinea ketiga]. Dari tiga perumpamaan Yesus yang tercatat dalam injil Lukas pasal 15--tentang domba, uang dirham, dan anak yang hilang--kita menemukan ungkapan emosional ilahi sehubungan dengan ditemukannya kembali jiwa-jiwa yang hilang. Ada suatu sukacita besar di surga bilamana satu jiwa yang tersesat dibawa pulang ke rumah Bapa. Yesus berkata, "Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat" (ay. 10).

 Pena inspirasi menulis: "Semua sumberdaya surga berada di bawah perintah mereka yang berusaha menyelamatkan yang hilang. Malaikat-malaikat akan menolong anda menjangkau orang yang paling bersikap masabodo dan paling mengeraskan hati. Dan bilamana satu orang dibawa kembali kepada Allah, segenap surga bersukacita; para malaikat serafim dan kerub memainkan kecapi emas mereka dan bernyanyi memuji Allah dan Anak Domba karena belas kasihan dan kebaikan penuh kasih terhadap anak-anak manusia" (Ellen G. White, Christ's Object Lessons, hlm. 197).
Apa yang kita pelajari tentang menemukan yang hilang?

1. Kitabsuci menyamakan orang-orang yang hidup dalam dosa dan akan binasa itu sebagai jiwa-jiwa yang hilang. Ada yang seperti domba sesat terbawa arus keduniawian, ada yang seperti uang dirham tidak tahu kalau dirinya hilang dan tak bisa pulang sendiri, ada yang murtad seperti anak bungsu yang tinggalkan rumah.
2. Ada suatu perbedaan besar antara mencari jiwa-jiwa sekadar menjalankan perintah Yesus dengan mencari jiwa-jiwa karena rasa prihatin terhadap jiwa-jiwa itu. Seorang pencari jiwa sejati menginjil karena mengasihi jiwa-jiwa itu agar tidak binasa, dan untuk itu mereka siap untuk berkorban.

3. Terkadang sukacita di surga lebih gegap-gempita menyambut satu jiwa yang bertobat, dibandingkan dengan kegembiraan di antara murid-murid Kristus sendiri. Membayangkan segenap surga bergembira atas satu jiwa yang bertobat seharusnya menjadi pemicu untuk mencari lebih banyak jiwa lagi.

 PENUTUP
Belajar dari murid-murid pertama. 
   Kita mempelajari pengalaman murid-murid Yesus yang mula-mula dalam usaha menyelamatkan jiwa-jiwa bukan sekadar menjadi bahan informasi belaka, tetapi pengalaman mendetil itu disusun untuk menjadi sumber inspirasi dalam pekerjaan penginjilan untuk zaman ini. Murid-murid yang pertama itu berhasil dalam penginjilan sebab mereka telah menyiapkan diri dengan serius untuk pekerjaan itu, memperlengkapi diri dengan kuasa ilahi, dan bekerja tanpa pamrih serta bersedia untuk berkorban.

 "Murid-murid merasakan kebutuhan rohani mereka dan berseru kepada Tuhan untuk pengurapan minyak kudus yang melayakkan mereka bagi pekerjaan penyelamatan jiwa-jiwa. Mereka tidak meminta berkat hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka diberati dengan beban penyelamatan jiwa-jiwa" [tiga kalimat pertama].
   Setiap orang harus mendengar Kabar Baik tentang keselamatan oleh percaya, dan untuk itu tugas anda dan saya untuk menyampaikan kabar keselamatan itu kepada orang-orang lain dengan siapa kita berinteraksi setiap hari. Mungkin kita harus mengubah cara pandang kita terhadap orang lain: rekan bisnis sebagai jiwa-jiwa untuk diselamatkan; teman bergaul sebagai jiwa-jiwa yang harus diselamatkan; rekan sekerja sebagai jiwa-jiwa yang akan diselamatkan.

 "Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?" (Rm. 10:13-14).
DAFTAR PUSTAKA:

 

1.   Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.
2.  Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book