Jumat, 07 Juni 2013

DERITA BERLALU, BERKAT MENJELANG- Hagai (10)




"UTAMAKAN HAL YANG TERPENTING! (HAGAI)"

PENDAHULUAN

Kebutuhan utama. Abraham Maslow (1908-1970) terkenal di seluruh dunia dengan teorinya yang disebut "Piramida Kebutuhan Manusia" (hierarchy of needs) yang terbagi atas 5 tingkatan kebutuhan. Dalam makalahnya yang bertajuk "Teori Motivasi Manusia" (1943) psikolog asal New York, Amerika itu menempatkan "kebutuhan fisik" sebagai yang paling utama atau primer. Sesudah kebutuhan fisik yang ditempatkan pada bagian dasar dari tingkatan kebutuhan manusia yang sering digambarkan dalam bentuk kerucut itu, dia menempatkan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang secara berjenjang adalah kebutuhan akan rasa aman, rasa dicintai serta dimiliki, penghargaan, dan aktualisasi diri (aspirasi). Berdasarkan teori piramida kebutuhan tersebut, kebutuhan fisik manusia--yaitu kebutuhan dasar untuk menopang kehidupan, termasuk kebutuhan biologis--menjadi prioritas pertama. Sesudah kebutuhan dasar itu terpenuhi baru seseorang berusaha untuk memenuhi keperluan-keperluan lainnya yang dia sebut metamotivation. Maslow tidak menyebut tentang kebutuhan rohani untuk kepuasan jiwa.
 Berbicara perihal kebutuhan manusia yang sesungguhnya, teori duniawi selalu berlawanan dengan teori surgawi. Sementara manusia selalu mendahulukan pemenuhan kebutuhan jasmaniah, Kitabsuci mengajarkan agar kita lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan rohaniah. Seperti tercermin dalam perkataan Tuhan Yesus berikut ini: "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat. 6:31-33; huruf miring ditambahkan). Jadi, kebutuhan manusia yang paling utama dan hakiki sebenarnya adalah keselamatan dan hidup kekal, bukan kebutuhan untuk bisa sekadar hidup di dunia ini.
 Bangsa Israel purba, dalam hal ini sebagian rakyat Yehuda yang berada dalam pembuangan di Babel, telah menyambut tawaran raja Koresh (atau Cyrus) kepada mereka untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali tembok kota itu beserta Bait Suci yang hancur akibat serbuan tentara Nebuzaradan, komandan pasukan pengamanan raja Babel pada tahun 587 SM (2Raj. 25:8-10; Yer. 52:12-14). Koresh mengaku dekrit yang dikeluarkannya bagi pemulangan orang Israel itu sebagai mandat dari "Allah semesta langit" (Ezr. 1:2). Itu terjadi tidak lama setelah Koresh yang Agung (580-529 SM) berkuasa dengan menaklukkan kerajaan Babel lalu mendirikan kerajaan Hakhamaneshi (Achaemenid Empire) dengan mempersatukan dua sukubangsa serumpun, Media dan Persia (sekarang Iran). Ini menggenapi nubuatan nabi Yeremia (Yer. 25:8-13; 2Taw. 36:22) dan nabi Yesaya (Yes. 44:28), sekitar 150 tahun sebelum raja itu lahir. Para penyelidik Alkitab menduga kuat bahwa nabi Daniel, penasihat utama istana kerajaan Babilon yang posisinya tetap dipertahankan oleh Koresh, turut memainkan peran penting di balik keputusan tersebut. Apalagi setelah kepada sang raja diperlihatkan perkataan Allah sendiri, "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja...Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku" (Yes. 45:1, 4).
 Prioritas yang salah. Sebenarnya, setibanya kembali di Yerusalem rakyat Yehuda yang pulang kampung itu telah dengan penuh semangat berusaha mendirikan kembali tembok-tembok kota Yerusalem dan mengusahakan pembangunan kembali Bait Suci, namun baru dua tahun bekerja mereka terpaksa menghentikan pekerjaan itu karena mengalami banyak hambatan khususnya dari penduduk sekitar yang cemburu. Atas hasutan penduduk Samaria yang jahat itu (mereka bukan orang Yahudi yang sebelumnya sudah diusir keluar oleh tentara Asyur sewaktu ibukota kerajaan Israel itu diduduki; baca 2Raj. 17:6; 18:11) raja Persia telah menghentikan bantuan sehingga pekerjaan pembangunan kembali kota Yerusalem dan Bait Suci itu telah tertunda setidaknya 17 tahun lamanya (Ezra 4). Pada waktu raja Darius naik takhta baru pekerjaan itu bisa dilanjutkan lagi (ay. 24). Selama masa penundaan ini bangsa Yehuda telah mengalihkan perhatian mereka kepada pembangunan rumah-rumah mereka sendiri, bahkan karena keasyikan mengejar kebutuhan-kebutuhan primer manusiawi itu mereka telah "lupa" akan pembangunan Bait Suci.
 Sehingga Tuhan mengutus Hagai untuk menyampaikan teguran yang bernada sindiran kepada mereka, "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!" (Hag. 1:4, 6-7).
 "Jadi, sang nabi mendesak orang-orang yang kembali dari pembuangan itu untuk memberi perhatian yang seksama terhadap keadaan mereka. Pekabarannya sederhana dan masuk akal. Orang banyak itu sudah bekerja keras tetapi hasilnya tidak cukup. Hal ini terjadi oleh sebab mereka mempunyai prioritas-prioritas yang salah. Mereka harus menempatkan Tuhan yang pertama dalam segala perkara yang sedang mereka lakukan" [alinea kedua: lima kalimat pertama].
 Pekabaran nabi Hagai. Hagai menerima pekabaran Tuhan tahun 520 SM, yaitu empat pekabaran selama kurun waktu kurang dari empat bulan dalam tahun yang sama. Penuturan Hagai yang secara rinci menyebutkan waktu-waktunya ketika dia menerima pekabaran-pekabaran tersebut memungkinkan dilakukannya penelusuran tanggal berdasarkan kalender moderen. Pekabaran pertama yang diterimanya pada tanggal 29 Agustus ditujukan kepada Zerubabel selaku bupati Yehuda dan Yosua selaku imam besar, yaitu masing-masing sebagai pemimpin sipil dan pemimpin agama, (Hag. 1:1); pekabaran kedua, tanggal 17 Oktober, bagi seluruh bangsa Yehuda termasuk para pemimpin mereka (2:1-3); pekabaran ketiga untuk para imam (2:10-11); pekabaran keempat khusus untuk Zerubabel sebagai pribadi (2:22). Dua pekabaran terakhir itu diterimanya pada hari yang sama, yaitu tanggal 18 Desember (2:19, 21). Kecuali yang terakhir, isi dari pekabaran-pekabaran itu menyangkut pembangunan kembali Bait Suci.
 Orang Israel kembali dari pembuangan di Babel dalam tiga gelombang. Kelompok pertama yang berjumlah sekitar 50.000 orang pulang tahun 537 SM, kemungkinan termasuk Hagai. Rombongan ini dipimpin oleh Zerubabel yang menggantikan Sesbazar (Ezr. 1:8; 2:2). Kelompok kedua sebanyak lebih dari 5000 orang, termasuk mereka yang sudah kawin campur dengan bangsa-bangsa lain, mudik dalam tahun 458 SM di bawah pimpinan Ezra (Ezr. 8-10). Kelompok ketiga sebanyak 42.000 orang pulang kampung dalam tahun 445 SM, dipimpin oleh Nehemia. Jadi, Hagai bernubuat 16 tahun kemudian setelah pulang kampung, yaitu setelah 14 tahun lamanya proyek pembangunan kembali Bait Suci itu terbengkalai.
 Nabi Hagai (namanya dalam bahasa Ibrani ialah חַגַּיChaggay, berarti "pesta perayaan") merupakan nabi pertama dari tiga nabi kecil/mini yang melayani di Yehuda sesudah masa pembuangan selama 70 tahun di Babel. Dua nabi lainnya adalah Zakharia dan Maleakhi. Kitab Hagai yang singkat itu mengandung 4 bagian pekabaran: 1. Muliakanlah Allah dengan membangun kembali Bait Suci untuk beribadah (1:1-15); 2. Membayangkan kemegahan Bait Suci di masa lalu, yaitu Kaabah Salomo yang tidak mungkin lagi mereka tiru (2:1-9); 3. Menguduskan diri lebih dulu baru berkat datang (2:10-19); 4. Sekalipun banyak hambatan, pada akhirnya pekerjaan Tuhan pasti tuntas (2:20-23).
 Teologia dari pekabaran nabi Hagai yang relevan bagi kita sebagai umat Tuhan pada zaman akhir ini adalah:
1. Meskipun mengalami berbagai hambatan dan tantangan, setiap orang percaya harus tetap memprioritas peribadatan kepada Allah di atas segala hal yang lain.
2. Barangkali kita pernah memiliki masa lalu yang semarak dan gemilang. Kenangan masa lalu yang manis bisa terasa pahit jika melihat keadaan sekarang yang memprihatinkan. Namun janji-janji Tuhan dapat memberi kita kekuatan.
3. Tuhan lebih peduli pada kekudusan hati dan ketulusan dalam beribadah ketimbang peribadatan yang bersifat lahiriah.
 *Judul asli pelajaran pekan ini adalah "First Things First! (Haggai)" 
1.    SEMANGAT YANG PATAH (Menanam Banyak, Menuai Sedikit)
 Kesimpulan yang keliru. Proyek pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem itu sudah dimulai dengan penuh semangat dan tekad bulat. Segera setelah fondasi bangunan yang baru terpasang, mereka mengadakan upacara yang semarak lengkap dengan persembahan musik pujian berdasarkan ketetapan yang dibuat oleh raja Daud dahulu (Ezr. 3:10-11; 1Taw. 15:16). Namun, dua tahun kemudian proyek itu dihentikan menyusul sikap permusuhan dari penduduk sekitar yang tiada henti mengganggu pekerjaan itu, termasuk melalui hasutan dan persekongkolan politik yang jahat. Akibat dari semua hambatan tersebut, umat Tuhan di kota Yerusalem purba itu lalu mengambil kesimpulan bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk membangun kembali rumah Tuhan. Sebuah kesimpulan yang terburu-buru dan keliru.
 Kita pun sering kali membuat kesimpulan yang salah, baik sebagai jemaat maupun sebagai pribadi, untuk suatu usaha pekerjaan Tuhan hanya dengan berpatokan pada situasi yang kita anggap tidak kondusif untuk kegiatan tersebut. Dan seperti orang-orang Yehuda itu, kita melihat hambatan-hambatan sebagai pertanda untuk tidak memulai atau melanjutkan pekerjaan tersebut gantinya menjadikan hambatan itu sebagai tantangan iman. Tetapi satu pelajaran penting dapat kita petik dari pengalaman ini: Dalam membangun rumah Tuhan sekalipun, seringkali Tuhan membiarkan Setan dan antek-anteknya mengganggu dan menghalangi, semata-mata untuk menjadi ujian bagi umat-Nya yang melaksanakan pekerjaan itu. Secara jemaat, hambatan-hambatan itu kemungkinan adalah kekurangan dana, masalah perizinan, gangguan lingkungan, dan sebagainya. Secara pribadi, hambatan-hambatan bisa berupa tantangan dari keluarga, atau rasa kecewa karena kurang dihargai, tersinggung sebab merasa sarannya tidak diperhatikan, dan lain-lain. Betapa kita manusia sangat rentan terhadap hambatan serta tantangan, dan begitu gampang kita meninggalkan tekad semula untuk membantu pekerjaan Tuhan dan beralih kepada kepentingan diri sendiri.
 "Oleh karena mereka telah membiarkan Bait Suci itu terlantar, maka Tuhan mendatangankan ke atas mereka kekeringan yang melelahkan. Allah sudah memberkati mereka dengan buah-buah di ladang dan kebun, jagung dan air anggur serta minyak sebagai tanda kebaikan-Nya, tetapi oleh sebab mereka sudah menggunakan pemberian yang berlimpah-limpah ini secara begitu mementingkan diri maka berkat-berkat itu pun diangkat" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
 Misi ilahi. Pekerjaan Tuhan bukan untuk kepentingan Allah, tapi sesungguhnya itu adalah demi kepentingan manusia. Pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem itu bukanlah demi keuntungan Tuhan, melainkan menjadi keuntungan bagi umat Yehuda supaya Allah bisa tinggal di tengah-tengah mereka (Kel. 25:8; 1Raj. 6:12-13; Yeh. 43:6-7). Rumah Tuhan yang kita bangun bukan untuk menyediakan tempat tinggal bagi Allah di dunia ini, melainkan supaya Tuhan dapat datang dekat kepada umat-Nya di tempat yang kita sediakan untuk Dia. Sesungguhnya, gereja dan tempat perbaktian itu adalah serambi surga di atas bumi ini.
 "Bait Suci di Yerusalem melambangkan hadirat ilahi di antara umat manusia yang telah jatuh. Itu merupakan peringatan yang tampak bagi seluruh dunia bahwa Tuhan yang Maha Kuasa itu adalah Allah langit dan bumi. Bagaimanakah anak-anak Israel itu dapat bersaksi bagi Allah yang benar apabila simbol dari Allah (baca Yoh. 2:19; Mat. 26:61) dan seluruh rencana keselamatan berada dalam reruntuhan? Dalam banyak cara, sikap mereka terhadap Bait Suci itu menyatakan masalah kerohanian yang lebih mendalam: mereka kehilangan arti dari misi ilahi sebagai umat Tuhan yang sisa"  [alinea keempat: empat kalimat terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Sejarah akan berulang. Akan ada kegagalan-kegagalan rohani oleh sebab manusia tidak mempunyai iman. Bilamana mereka memandang kepada perkara-perkara yang kelihatan maka tampaklah kemustahilan-kemustahilan, tetapi Tuhan dapat menuntun mereka langkah demi langkah dalam pekerjaan yang Ia kehendaki mereka laksanakan. Pekerjaan-Nya hanya akan maju selagi hamba-hamba-Nya bergerak maju oleh iman. Meskipun mereka mungkin dipanggil untuk melewati masa-masa penuh cobaan, namun mereka harus senantiasa ingat bahwa mereka sedang bersaing dengan musuh yang sudah dilemahkan dan terpukul. Umat Allah akhirnya akan menang atas setiap kuasa kegelapan" (Ellen G. White, SDA Bible Commentary, jld. 4, hlm. 1175).
 Apa yang kita pelajari tentang teguran terhadap sikap melalaikan pekerjaan Tuhan?
1. Pekerjaan Tuhan tidak menjamin bahwa segalanya akan berlangsung dengan serba mulus. Iblis selalu lebih bersemangat untuk menghalangi pekerjaan Tuhan daripada para pelaksananya untuk menyelesaikan pekerjaan itu, tetapi hamba Allah sejati tak akan kalah semangat dengan iblis.
2. Seringkali hambatan terbesar dalam pekerjaan Tuhan bukan datang dari luar, tetapi berasal dari dalam. Perasaan kecewa dari para pelaksana pekerjaan Tuhan merupakan tantangan paling potensial yang dapat menyebabkan kegagalan.
3. Hambatan dan tantangan dalam pekerjaan Tuhan hanya bisa diatasi dengan iman. Kehilangan iman akan mengakibatkan kehilangan fokus, dan kehilangan fokus menyebabkan kita kehilangan makna dari misi ilahi yang sedang kita jalankan.
2. "AKU INI MENYERTAI KAMU..." (Janji Allah yang Terbesar)
 Mendengarkan Tuhan. Tidak seperti pada waktu sebelum pembuangan, ketika orang Yehuda sama sekali mengabaikan bahkan menolak pekabaran Tuhan, kali ini orang banyak itu langsung menanggapi positif pekabaran yang disampaikan oleh nabi Hagai. Barangkali bangsa ini sudah benar-benar belajar dari pengalaman bahwa apa yang Tuhan firmankan itu pasti terjadi. Sekarang mereka mau mendengarkan Tuhan.
 "Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN" (Hag. 1:12). Sikap mereka langsung dijawab Allah dengan suatu janji, "Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN" (ay. 13). Bahkan, bersamaan dengan itu Tuhan "menggerakkan semangat" para pemimpin dan seluruh bangsa itu untuk segera mulai bekerja lagi (ay. 14). Dalam tempo empat tahun, yakni pada tahun 516 SM atau tahun keenam pemerintahan raja Darius, pekerjaan pembangunan kembali Bait Suci itu rampung (Ezr. 6:14-15).
 Hagai melayani Tuhan dalam waktu yang bersamaan dengan dua nabi lainnya, Zakharia dan Maleakhi, yaitu pada permulaan masa pemugaran kota Yerusalem setelah pembuangan. Di dalam Talmud (kitab yang berisi ajaran-ajaran para rabi Yudaisme), Hagai bersama dua rekannya itu dianggap sebagai "Pembangun Sinagog Agung" sebagai pengganti Kaabah Salomo yang telah hancur. "Jika kepatuhan langsung terhadap pekabaran nubuatan dijadikan ukuran keberhasilan seorang nabi, maka Hagai menonjol sebagai salah satu dari nabi-nabi yang sukses. Khotbahnya menggerakkan orang banyak untuk bertindak. Dalam bulan itu juga pekerjaan di Bait Suci dilanjutkan di mana nabi-nabi Tuhan meyakinkan orang banyak itu bahwa Tuhan akan menolong mereka" [alinea ketiga].
 Takut akan Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa khotbah-khotbah nabi Hagai sangat bernas yang telah "menghipnotis" para pemimpin dan rakyat Yehuda sehingga mereka kembali bekerja tanpa rasa khawatir. Kaum Yehuda itu "mendengarkan suara Tuhan, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai...lalu takutlah bangsa itu kepada Tuhan" (Hag. 1:12). Apabila kita memiliki rasa takut akan Tuhan, kita akan kehilangan rasa takut terhadap apa saja yang lain!
 "Mereka 'takut akan Tuhan' (ay. 12), dan menunjukkannya dengan menyembah Dia serta memberi perhatian yang patut kepada-Nya. Maka sekarang Hagai dapat menyampaikan satu perkataan baru dari Tuhan: 'Aku ini menyertai kamu' (ay. 13). Segera setelah orang banyak itu memutuskan untuk menaati Tuhan, pekabaran teguran digantikan dengan kata-kata dorongan. Jaminan kehadiran Allah memberikan kepada mereka semua berkat-berkat lainnya" [alinea keempat: kalimat ketiga hingga keenam].
 Pena inspirasi menulis: "Betapa menghiburkannya perkataan ini! Tuhan Allah yang maha kuasa, yang bertakhta di surga, menyatakan, 'Aku menyertai kamu.' Ia menjamin umat-Nya bahwa orang-orang yang taat berada dalam posisi di mana Ia dapat memberkati mereka, demi kemuliaan nama-Nya. Dan kalau saja umat Tuhan pada zaman ini memilih untuk mengandalkan Dia dan percaya kepada-Nya, Ia akan memberkati mereka. Ia akan menjadi suatu pertolongan yang tersedia bagi semua yang melayani Dia gantinya melayani diri sendiri...Hadirat Allah mencakup setiap berkat yang lain" (Ellen G. White, Review and Herald, 12 Desember 1907).
 Apa yang kita pelajari tentang janji penyertaan Tuhan atas umat-Nya?
1. Mendengarkan nasihat Tuhan menjadi kunci keberhasilan atas apa saja yang kita lakukan. Sikap ini telah diperlihatkan oleh bangsa Yehuda dalam proyek pembangunan kembali Bait Suci Yerusalem. Hal itu sudah terjadi dulu, itu juga bisa terjadi sekarang.
2. Sikap mau mendengar melahirkan sikap mau menurut, dan sikap mau menurut menimbulkan sikap takut akan Tuhan. Seringkali kita dengan gampang mengeluarkan pernyataan "berserah pada Tuhan" tetapi tanpa disertai sikap mau mendengar dan menurut pada Tuhan.
3. Allah sangat ingin tinggal bersama orang-orang yang takut akan Dia, dan hadirat Allah menghadirkan pula berkat-berkat lainnya. Orang yang "takut akan Tuhan" adalah seorang yang taat dan menurut kepada Tuhan.
KUATKANLAH HATIMU! (Jangan Takut!)
 Dorongan dari Tuhan. Kita sering mendengar kata-kata dorongan dari sahabat-sahabat ketika kita mengalami suatu kemalangan. Namun, meskipun setiap ungkapan simpati itu baik dan menandakan adanya perhatian, kerap kali itu tidak banyak membantu apalagi mengubah keadaan. Tidak demikian dengan kata-kata dorongan dari Tuhan, sebab di dalamnya terkandung kekuatan dan berkat yang pasti. "Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman Tuhan semesta alam" (Hag. 2:5; huruf miring ditambahkan).
 "Sang nabi mendorong bangsa itu untuk terus bekerja sebab Roh Allah menyertai mereka. Dia mengajak semua umat yang sisa itu supaya tetap kuat dan bekerja keras karena hadirat Allah Maha Kuasa ada di tengah-tengah mereka. Kata-kata Hagai kepada para pemimpin 'Kuatkanlah hatimu! Jangan takut!' terdengar seperti perkataan Tuhan kepada Yosua setelah kematian Musa (Yos. 1:5-9). Semakin kecil dan semakin lemah sumberdaya yang dimiliki Israel, semakin besar perlunya mereka beriman kepada Allah" [alinea kedua: empat kalimat pertama].
 Akhirnya Bait Suci itu rampung pada tahun 516 SM, dua puluh tahun setelah dekrit dikeluarkan atau tujuh puluh tahun sesudah dihancurkan dalam tahun 586 SM (Ezr. 6:15). Pada tahun 168 SM kaabah Tuhan ini telah dicemari oleh Anthiokus Epifanes, penguasa kekaisaran Yunani-Makedonia (175-164 SM), tetapi kemudian dikuduskan dan digunakan kembali oleh masyarakat Yahudi. Inilah kaabah di mana Yesus Kristus bersama murid-murid-Nya sering masuk-keluar untuk melayani kebutuhan manusia, mengajar dan menyembuhkan orang-orang sakit.

Kehadiran Roh Allah. Sekadar info: Dalam terjemahan Alkitab versi TB (Terjemahan Baru) dan versi TL (Terjemahan Lama) kitab Hagai pasal 2 terdiri atas 24 ayat, sedangkan dalam versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) hanya terdapat 23 ayat. Pada versi TB dan TL kalimat "sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!" merupakan ayat tersendiri (Hag. 2:6), tapi dalam terjemahan versi BIMK kalimat tersebut adalah bagian dari ayat 5. Alkitab versi BIMK sama dengan Alkitab berbahasa Inggris, semisal KJV (King James Version) maupun NKJV (New King James Version), CEV (Contemporary English Version), dan TEV (Today's English Version), yaitu terdiri atas 23 ayat di mana bagian kalimat yang sama itu termasuk dalam ayat 5. Tentu saja Dr. Zdravko Stefanovic, penulis pelajaran SS triwulan ini, menyusunnya berdasarkan Alkitab edisi bahasa Inggris maka kalimat tersebut di atas menjadi bagian pembahasannya dalam pelajaran hari ini.
 Pada bagian kalimat itu Allah menyebutkan tentang "perjanjian" yang diadakan-Nya dengan bangsa Israel ketika mereka baru keluar dari negeri perhambaan Mesir, yaitu bahwa Allah melalui Roh-Nya akan tinggal bersama mereka (Kel. 25:8; 29:45-46). Dalam perjanjian yang lama itu Roh Allah tinggal di antara umat-Nya, tetapi dalam perjanjian yang baru Roh Allah tinggal di dalam hati umat-Nya (Mat. 10:20; Kis. 2:4, 17-18; Kis. 5:32; 1Kor. 3:16). Karena itu, seperti pesan-Nya kepada umat Israel jasmani di zaman purba tersebut, Tuhan menyampaikan pesan yang sama kepada umat-Nya Israel rohani di zaman akhir, "Kuatkanlah hatimu! Janganlah takut!"
 "Kehadiran Roh memastikan kelanjutan kerajaan Allah di Israel. Roh Allah, yang sudah menuntun Musa dan para tua-tua dan yang telah mengutus nabi-nabi dengan pekabaran-pekabaran yang diilhamkan, berada di tengah-tengah umat yang sisa...Kehadiran Roh juga menjamin berkat-berkat yang berlimpah. Nabi itu mendorong anggota-anggota masyarakat untuk mengembangkan janji-janji ilahi sampai pada kegenapannya" [alinea ketiga: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Allah itu maha kuasa, dan manusia bisa menjadi kuat untuk mencapai maksud-Nya sembari memegang janji pertolongan ilahi dalam setiap keadaan darurat. Kuasa Allah tersembunyi dari orang yang tidak percaya; cara dan maksud-Nya tidak dimengerti oleh mereka...Rahasia kesuksesan umat Allah ialah hubungan dengan Dia dalam doa, dan penurutan yang rendah hati terhadap tuntutan-tuntutan-Nya" (Ellen G. White, Signs of the Times, 17 Januari 1878).
 Apa yang kita pelajari tentang pesan agar umat Tuhan tetap teguh dan tidak takut?
1. Dari masa ke masa umat Allah menghadapi berbagai tantangan untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan. Itu sudah dialami oleh umat yang sisa di zaman nabi Hagai, itu juga dialami oleh umat yang sisa di zaman akhir. Tetapi pesan Allah tetap sama: "Kuatkanlah hatimu! Janganlah takut!"
2. Tuhan tidak hanya memberi dorongan dengan kata-kata, tapi juga dengan menggenapi janji-Nya untuk mengutus Roh-Nya tinggal bersama-sama dengan umat-Nya. Kehadiran Roh Suci menjadi jaminan kekuatan dan keberhasilan.
3. Allah berkepentingan agar umat-Nya sukses menjalankan tugas dan melaksanakan pekerjaan-Nya di dunia ini. Sementara Tuhan sangat mengandalkan kesediaan anda dan saya untuk bekerja, anda dan saya pun sangat mengandalkan kuasa-Nya untuk berhasil.
4. KETIKA ALLAH MENGGUNCANG BUMI (Kerinduan Semua Bangsa)
 Sudut pandang berbeda. Tatkala pembangunan kembali Bait Suci itu baru dimulai, dan fondasi baru dipasang, rakyat yang menyaksikannya menangis emosional. Tetapi mereka menangis karena dua alasan yang berbeda: generasi tua menangis sedih karena mengingat Kaabah Salomo yang jauh lebih megah, sedangkan generasi muda menangis gembira sebab pada akhirnya mereka akan memiliki Kaabah yang baru (Ezr. 3:12-13). Keharuan dalam perspektif yang berlawanan, yang satu karena melihat ke belakang, yang lain karena memandang ke depan.
 Tidak dapat disangkal bahwa Kaabah Salomo itu sangat indah dan megah oleh sebab bahan-bahannya adalah pilihan dari dalam dan luar negeri yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun oleh Raja Daud, dan pekerjaan pembangunannya yang dilakukan oleh Raja Salomo juga telah melibatkan tukang-tukang yang profesional, domestik maupun mancanegara. Sekarang sumberdaya yang mereka miliki serba terbatas karena beberapa faktor. Jumlah tenaga kerja dan ahli bangunan jauh lebih sedikit, mereka juga baru pulang dari pembuangan sebagai tawanan perang, bahan-bahan yang mereka gunakan kebanyakan mengandalkan pemberian yang dibawa dari negeri pembuangan. Tetapi yang lebih parah lagi, persembahan dari rakyat sangat sedikit oleh karena mereka lebih mementingkan diri sehingga Tuhan menegur mereka (Hag. 2:16-20).
 "Melalui Hagai, Tuhan mempermaklumkan suatu guncangan besar atas bangsa-bangsa pada hari Tuhan bilamana Bait Suci itu akan dipenuhi dengan hadirat Ilahi. Sang nabi menyerukan kepada orang-orang sezamannya untuk memandang di balik kesukaran dan kemiskinan kepada kemuliaan masa depan dari kerajaan Allah terhadap apa Bait Suci itu tunjukkan" [alinea pertama].
 Janji kemegahan. Tetapi Tuhan menegaskan kepada umat-Nya bahwa Bait Suci yang sedang dibangun kembali itu tidak akan kalah megah dengan Kaabah Salomo, bahkan bakal lebih mulia. Meskipun rumah Tuhan memang harus dibuat dari bahan-bahan terbaik yang tersedia dan dikerjakan oleh tukang-tukang terbaik yang ada, tetapi keagungan rumah Tuhan tidak selalu dinilai dari penampilan fisik. Sementara Allah berjanji akan membantu menyediakan segala materi yang diperlukan, sebagaimana firman-Nya bahwa "segala emas dan perak di dunia ini adalah milik-Ku" (Hag. 2:8, BIMK), Ia juga berjanji akan membuat Bait Suci itu lebih megah dari Kaabah Salomo. "Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam" (ay. 10; huruf miring ditambahkan).
 Janji ini telah digenapi dalam tahun 20 SM ketika Herodes yang waktu itu adalah raja Yudea melakukan renovasi sehingga dalam banyak hal keindahannya melampaui Kaabah Salomo, sehingga Bait Suci yang berdiri di Bukit Moria itu menjadi landmark yang menambah keelokan kota Yerusalem. Sekalipun banyak komentator menyebut perbuatan Herodes itu sebagai tindakan politis untuk mengambil hati masyarakat Yahudi, di samping juga untuk memamerkan kehebatannya, tetapi Tuhan dapat menggerakkan hati raja kafir ini untuk menggenapi nubuatan tanpa melihat apa motivasinya. Namun yang lebih penting lagi, Bait Suci itu kemudian menjadi tempat di mana Yesus Kristus, Mesias yang dijanjikan itu, datang setiap hari Sabat untuk beribadah bersama umat-Nya dan mengajar serta melayani mereka pada hari-hari biasa sekalipun mereka tidak menyadari atau mengakui kemesiasan-Nya. Inilah "damai sejahtera" yang Allah maksudkan, dan itulah yang membuat kaabah yang kedua ini lebih agung dan mulia daripada kaabah yang pertama.
 "Allah berjanji bahwa kemegahan Bait Suci yang sekarang akan lebih besar daripada kemuliaan Bait Suci sebelumnya. Itu akan menjadi jenis kemuliaan yang berbeda oleh sebab Bait Suci ini akan menjadi terhormat oleh kehadiran Yesus dalam daging. Sesungguhnya, kehadiran Kristuslah yang membuat kemuliaan Bait Suci yang baru ini lebih agung daripada Kaabah Salomo" [alinea terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang janji Tuhan untuk mempermegah Bait Suci itu?
1. Rakyat Yehuda terbagi dua dalam menyaksikan Bait Suci yang dibangun kembali itu karena perbedaan perspektif (sudut pandang). Umat Tuhan perlu mengembangkan perspektif yang positif, melihat sesuatu dari kelebihannya ketimbang kekurangannya. 
2. Sesekali bernostalgia itu ada baiknya, sejauh itu memberi pelajaran konstruktif dan tidak sampai membuat perasaan kita terhanyut. Setiap masa menyediakan pengalaman tertentu bagi kita, dan setiap pengalaman mengajarkan sesuatu kepada kita.
3. Tidak salah membangun rumah ibadah yang mentereng, kalau itu dimaksudkan untuk mencerminkan kelimpahan berkat Tuhan dan melambangkan kesetiaan roh penatalayanan jemaat. Tetapi keagungan sebuah bangunan gereja hanya ditentukan oleh kehadiran Yesus Kristus di hati jemaat.
5. PENDERITAAN TIDAK SIA-SIA (Cincin Materai Tuhan)
 Mulai hari ini, perhatikanlah! Pelajaran hari ini didasarkan pada pekabaran keempat atau terakhir yang diterima oleh nabi Hagai dari Tuhan, dan khususnya berbicara mengenai janji Allah kepada Zerubabel. Sebelumnya, pada hari yang sama Tuhan telah memberikan pekabaran ketiga kepada Hagai, yaitu menyangkut perilaku rakyat Yehuda (Hag. 2:11-20). Meskipun bagian ini tidak dibahas oleh penulis pelajaran, saya tidak ingin melewatkannya karena kandungan teologia yang penting di dalamnya. Tuhan menyuruh Hagai bertanya kepada para imam di Yerusalem soal kekudusan dan kenajisan (ay. 12). Imam-imam itu tidak mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan Hagai tesebut, berdasarkan hukum Musa, karena mereka sangat paham tentang hukum itu. Intinya: kenajisan bisa ditularkan, kekudusan tidak.
 Lalu, sesuai dengan jawaban para imam itu, Hagai berkata, "Begitu juga dengan umat ini dan dengan bangsa ini di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, dan dengan segala yang dibuat tangan mereka; dan yang dipersembahkan mereka di sana adalah najis" (ay. 15). Mengapa persembahan bangsa itu dianggap najis? Karena selama kira-kira 14 tahun mereka telah membiarkan rumah Tuhan tetap dalam keadaan puing-puing, tetapi pada waktu yang sama berlomba-lomba membangun rumah mereka sendiri. Hagai mengingatkan orang banyak itu bahwa bermukim kembali di Tanah Suci tidak serta-merta membuat segala yang mereka kerjakan itu suci karena kekudusan tidak dapat ditularkan. Sebaliknya, reruntuhan Bait Suci yang terbengkalai itu sudah menjadi bagaikan bangkai yang membusuk sehingga menajiskan seluruh tanah itu. "Maka sekarang, perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya!" kata Tuhan (ay. 16). Lalu Hagai bernubuat tentang kutukan Tuhan kalau kelakuan mereka itu tidak berubah (ay. 17-20).
 Zaman dulu, rakyat Yehuda telah menelantarkan proyek pembangunan Rumah Tuhan (Bait Suci) oleh sebab sibuk membangun rumah mereka sendiri. Zaman sekarang, segelintir orang mendapat kesempatan untuk membangun rumah mereka sendiri karena ada proyek pembangunan di "Rumah Tuhan." Meskipun orang-orang Yehuda itu setia membayar persepuluhan dan memberi persembahan dari hasil kerja keras mereka, persembahan itu dianggap najis. Sekiranya nabi Hagai hidup sekarang ini, apa yang hendak dikatakannya? Rumah Tuhan adalah suci, tetapi berada di dalamnya tidak secara langsung membuat seorang manusia jadi suci, sama seperti Musa ketika berdiri di hadapan hadirat Tuhan di belukar yang menyala tetapi tidak terbakar itu (Kel. 3:1-5). Pekerjaan Tuhan juga suci, tetapi terlibat dalam pekerjaan Tuhan tidak otomatis membuat para pekerjanya jadi suci. Tetapi perbuatan kenajisan seorang pekerja dapat menajiskan kesucian pekerjaan Tuhan. Sekali lagi: kenajisan itu menular, tapi kekudusan tidak!
 Janji kepada Zerubabel. Hagai mempunyai kabar penting bagi Zerubabel, bupati Yehuda. Zerubabel adalah cucu Yekhonya yang menjadi raja terakhir kerajaan Yehuda ketika Yerusalem diserbu oleh Nebukadnezar lalu ditawan di Babel (1Taw. 3:17; Est. 2:6; Yer. 24:1). Sejak ditaklukkan oleh raja Nebukadnezar, secara politik kedudukan Yehuda waktu itu adalah sebagai koloni atau jajahan kerajaan Babel. Sekarang, setelah Babel dikalahkan dan digantikan oleh kerajaan Persia, maka raja Darius telah mengangkat Zerubabel dan memberi dia semacam "jabatan politik" di negerinya. (Versi TB menyebut jabatannya "bupati," sedangkan versi BIMK menyebutnya "gubernur" sama seperti sebutan dalam Alkitab edisi bahasa Inggris.) Tetapi kabar penting dari Tuhan untuk Zerubabel tampaknya tidak berkaitan dengan jabatan publik yang dipegangnya, melainkan lebih kepada dirinya sebagai pribadi.
 Allah berfirman melalui Hagai: "Aku akan mengguncangkan langit dan bumi dan menunggangbalikkan takhta raja-raja; Aku akan memunahkan kekuasaan kerajaan bangsa-bangsa...Pada waktu itu, demikianlah firman Tuhan semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hamba-Ku -- demikianlah firman Tuhan -- dan akan menjadikan engkau seperti cincin materai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman Tuhan semesta alam" (Hag. 2:21-23; huruf miring ditambahkan). Ini bukan kata-kata biasa melainkan perkataan nubuatan Allah tentang Zerubabel. "Mengguncang langit dan bumi" mengandung makna penghakiman, sedangkan "menunggangbalikkan takhta raja-raja" dan "memunahkan kekuasaan kerajaan-kerajaan bangsa-bangsa" berarti mengalahkan dan melucuti kuasa-kuasa duniawi. Ini menandakan bahwa akan muncul seorang "Raja" baru yang akan berkuasa di seluruh alam semesta, tetapi itu tidak terjadi di zaman Zerubabel sendiri.
 "Tuhan memperingatkan akan datangnya kebinasaan dari kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa pada hari penghakiman Allah. Tetapi pada hari yang sama, kata nabi itu, hamba Tuhan akan menyelesaikan tugas keselamatan yang ditentukan Allah. Hal ini dapat kita pahami sepenuhnya tatkala itu digenapi, akhirnya dan seutuhnya, hanya pada Kedatangan Kedua dan semua yang terjadi setelah itu" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
 Mesias dinubuatkan. Dalam PL (Perjanjian Lama) sebutan "hamba-Ku" (Ibr.: עֶבֶד`ebed) sering digunakan sebagai "istilah kemesiasan" yang merujuk kepada Yesus Kristus sebagai Mesias. Kita menemukan kegenapan nubuatan ini dalam PB (Perjanjian Baru) di mana Zerubabel tercatat dalam garis keturunan Yusuf yang menjadi ayah Yesus Kristus (Mat. 1:12; Luk. 3:27). Sedangkan "cincin materai" (Ibr.: חוֹתָםchowtham) adalah stempel pribadi berbentuk cincin dari raja-raja zaman dulu yang selalu terpasang di jari agar sewaktu-waktu siap digunakan untuk mencap sesuatu perintah raja, sehingga perintah itu menjadi sebuah keputusan yang bukan saja sah tapi juga bersifat mengikat dan harus dijalankan. Zerubabel menempati posisi sebagai "cincin materai" untuk menggantikan kakeknya, Yekhonya bin Yoyakim [juga dikenal dengan nama Konya dan Yoyakhin], raja Yehuda terakhir yang jahat dalam pemandangan Allah (baca Yer. 22:24 dan 52:31).
 "Walaupun peran kunci dari Zerubabel dalam pembangunan kembali Bait Suci itu tidak boleh sekali-kali diremehkan, dia tidak menggenapi semua janji yang diberikan kepadanya oleh Tuhan melalui Hagai. Para penulis Injil yang diilhami itu menunjuk kepada pribadi dan pelayanan Yesus Kristus, anak Daud dan juga Zerubabel, sebagai kegenapan akhir dari seluruh janji Kemesiasan yang terdapat dalam Alkitab" [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].
 Pena inspirasi menulis: "Kesaksian pribadi kepada Zerubabel ini telah dicatat untuk menjadi dorongan khusus bagi kita di masa pencobaan. Zerubabel sudah diuji dengan berat selama tahun-tahun dia memimpin orang Israel keluar dari Babel. Allah mempunyai satu maksud dalam membiarkan cobaan kepada anak-anak-Nya. Ia tidak pernah menuntun mereka selain daripada mereka memilih untuk mau dituntun kalau mereka bisa melihat akhir dari permulaan, dan memandang kemuliaan dari maksud yang sedang mereka genapi" (Ellen G. White, Review and Herald, 19 Desember 1907.
 Apa yang kita pelajari tentang janji Tuhan kepada umat Yehuda dan Zerubabel?
1. Dalam Kekristenan, beribadah dan menginjil adalah dua sisi dari satu mata uang, yang satu tak terpisahkan dari yang lain. Inilah makna sesungguhnya dari "ora et labora" (berdoa dan bekerja). Mengabaikan kewajiban ini membuat semua persembahan kita sia-sia, bahkan najis.
2. Proyek pembangunan Bait Suci telah menjadi "batu ujian" (test case) dari kesetiaan Israel badani dulu, itu juga bisa menjadi penguji kesetiaan Israel rohani sekarang ini. Rumah Tuhan melambangkan hadirat Allah di tengah umat-Nya, kecintaan kita akan Rumah Tuhan melambangkan kasih kita pada Tuhan.
3. Predikat sebagai "cincin materai" yang dianugerahkan kepada Zerubabel adalah berdasarkan pilihan Allah (Hag. 2:24) sebagai tanda penghargaan atas kesetiaan memimpin pekerjaan-Nya. Penghargaan Allah harus menjadi motivasi utama dari para pemimpin pekerjaan Tuhan, bukan hal yang lain.
PENUTUP
 Bait Suci dalam "Perjanjian" Lama dan Baru. Isu pokok dari kitab Hagai ini adalah soal prioritas, yaitu mendahulukan apa yang paling penting. Dalam kasus bangsa Yehuda hal yang paling penting itu ialah menyelesaikan pembangunan kembali Bait Suci, sebab mereka terikat dengan "Perjanjian Lama" yang tertuang dalam Hukum Musa--Taurat--bahwa satu-satunya peribadatan yang berkenan kepada Allah ialah melalui upacara-upacara di kaabah itu. Tanpa Bait Suci (kaabah) tidak ada peribadatan, dan tanpa peribadatan tidak ada berkat dari Allah.
 Bangsa Israel tidak dapat mengadakan upacara peribadatan kalau bukan di Bait Suci sebab mereka terikat di bawah "Perjanjian Lama" antara nenek-moyang mereka dengan Yahwe. Setelah kaabah kedua yang didirikan oleh Zerubabel (terkadang disebut "Kaabah Zerubabel") itu dihancurkan oleh pasukan Romawi di bawah jenderal Titus dalam tahun 70 AD, bangsa Yahudi tidak lagi mempunyai Bait Suci yang lain. Itulah sebabnya orang Yahudi sekarang ini tidak melaksanakan ritual persembahan hewan-hewan kurban seperti dulu, termasuk kurban anak domba jantan tidak bercela yang melambangkan Mesias, padahal mereka tidak mengakui Yesus Kristus adalah Mesias dan masih menunggu kedatangan "Mesias" yang lain. (Klik di sini untuk informasi ringkas tentang "Kaabah Zerubabel" --->  http://biblecharts.org/oldtestament/interestingfactsaboutzerubbabelstemple.pdf)
 "Kurangnya kemakmuran jasmani adalah akibat dari kelalaian menempatkan kepentingan Allah yang pertama, nabi-nabi menyatakan. Sekiranya orang-orang Israel telah menghormati Allah, sekiranya mereka sudah menunjukkan penghormatan dan rasa hormat yang pantas kepada-Nya dengan menjadikan pembangunan rumah-Nya sebagai usaha mereka yang pertama, maka mereka telah mengundang hadirat dan berkat-Nya" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
 Umat Tuhan zaman ini terikat dalam "Perjanjian Baru" melalui pengantaraan Yesus Kristus (Ibr. 9:15; 12:24) dan disahkan oleh darah-Nya (Mat. 26:28; 1Kor. 11:25), yaitu perjanjian yang lebih mulia (Ibr. 8:6) dan yang dijamin oleh Yesus sendiri (Ibr. 7:22). Demikian pula, hukum yang menguasai kita bukan seperti hukum Taurat yang ditulis oleh Musa di atas gulungan kitab yang terbuat dari sejenis daun lontar, melainkan "hukum Roh" yang tidak kelihatan dan ditulis oleh Tuhan sendiri di dalam hati dan akal budi (2Kor. 3:6; Ibr. 10:16). Bait Suci umat Allah dalam Perjanjian Baru itu juga bukan dalam bentuk bangunan yang terbuat dari benda-benda tak bernyawa, tetapi Bait Suci itu adalah tubuh kita yang hidup sebagai tempat tinggal Roh Kudus dan itu bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20), yang harus tetap terpelihara kekudusannya tanpa kecacatan rohani hingga Yesus datang kedua kali (1Tes. 5:23).
 "Kaabah yang kedua tidak dimuliakan dengan awan kemuliaan Tuhan, tetapi dengan kehadiran yang hidup dari Dia yang di dalamnya berdiam kepenuhan Keallahan--yang adalah Allah sendiri yang dinyatakan dalam daging...Dalam kehadiran Kristus, dan hanya hal ini saja, kemuliaan kaabah yang kedua itu melebihi yang pertama" [alinea kedua: kalimat pertama dan terakhir]. Jadi, bukan kehebatan fisik yang menentukan, tetapi hadirat ilahi.
 "Inilah firman Tuhan kepada Zerubabel, bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam" (Za. 4:6).
SUMBER :

1.   Zdravko Stefanofic, Profesor bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama, Universitas Walla Walla,U.S.A--- Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.II, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.
2.   Loddy Lintong, California U.S.A.