Jumat, 15 November 2013

6. Keluarga Dan Masyarakat.


 Pelajaran 06 - KELUARGA DAN MASYARAKAT
 
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, 
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
< kusuma(at)in-christ.net > dan di cc ke:
< staf-pesta(at)sabda.org >
***Catatan: Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
PERTANYAAN A:
  1. Mengapa ada kelompok-kelompok masyarakat di Perjanjian Lama yang menganggap aib jika keluarga tidak memiliki anak?
  2. Perubahan konsep apa yang terjadi dalam Perjanjian Baru tentang keluarga/wanita yang tidak melahirkan anak?
  3. Apakah keluarga yang tidak dikaruniai selalu berarti bahwa keluarga itu kurang beriman kepada Tuhan?
  4. Mengapa orang tua tunggal yang memiliki anak di luar nikah harus bertobat dan menerima pengampunan dari Allah?
  5. Dosa apakah yang mengancam orang yang membuat keputusan untuk tidak menikah seumur hidup?
  6. Apakah arti perceraian bagi orang Kristen?
  7. Pergumulan terberat apakah yang harus dipikul oleh pasangan yang menikah dengan orang yang tidak seiman?
  8. Mengapa orang Kristen disarankan untuk merayakan pernikahan dengan sederhana?
  9. Apakah arti ayat ini, "...laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan akan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka akan menjadi satu daging." (Mat 19:5)?
  10. Apakah artinya "muliakanlah Tuhan dengan keluargamu"?
PERTANYAAN B:
  1. Apakah menjadi orang yang membujang seumur hidup adalah dosa dan orang itu tidak akan mungkin bisa menjadi dewasa?
  2. Bagaimana membangun ibadah keluarga di keluarga Anda? Ceritakan pergumulan keluarga Anda masing-masing.

Materi Pelajaran | Pelajaran 06 | Pertanyaan 06
Nama Kursus : Pernikahan Kristen (PKS)
Nama Pelajaran : Keluarga Kristen dan Masyarakat Luas
Kode Pelajaran : PKS-R06a
Referensi PKS-R06a diambil dari:
Judul Buku : Liku-liku Problema Rumah Tangga
Judul Artikel : Keluarga yang Sehat
Pengarang : Dr. Clyde M. Narramore
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
Halaman : 12 -- 26
REFERENSI PELAJARAN 06a - KELUARGA KRISTEN DAN MASYARAKAT LUAS
KELUARGA YANG SEHAT
Keluarga yang sehat bukanlah sekelompok manusia yang sekadar hidup bersama-sama dan saling berbagi pengalaman. Kalau saya mengatakan bahwa keluarga Santosa adalah keluarga yang sehat, sesungguhnya yang saya maksudkan bukanlah bahwa setiap anggota keluarga Santosa itu bebas dari segala macam penyakit. Yang saya maksudkan ialah bahwa setiap pribadi dalam keluarga itu, yang tua dan yang muda, sedang menikmati kehidupan ini dan sedang bertumbuh menjadi orang sebagaimana yang direncanakan Allah baginya.
Apa yang menjadi ciri suatu keluarga yang sehat? Apakah yang terjadi di dalam keluarga yang setiap anggotanya sedang hidup dan berkembang dengan cara yang sehat? Saya yakin bahwa hal-hal yang berikut ini merupakan esensi dari satu keluarga yang sehat.
  1. Membina Rasa Saling Menghargai.
    Di dalam keluarga yang sehat, baik orang tua maupun anak-anak, sama-sama membina rasa saling menghargai. Sang suami memperlakukan sang istri dengan baik dan dengan kasih, dan dengan demikian memberi teladan yang dapat diikuti oleh seluruh keluarga.
    Untuk membina rasa hormat atau menghargai, orang tua perlu mendengarkan dengan cermat anak-anaknya. Orang tua tidak boleh memotong jika anaknya sedang berbicara. Memotong pembicaraan anak- anak bukan hanya menjengkelkan mereka, tetapi seakan-akan sekaligus mengatakan bahwa mereka bukanlah orang-orang yang penting. Orang tua patut meminta saran-saran dari anak-anak mereka. Jika anak-anak itu melihat bahwa ada saran mereka yang dilaksanakan, maka mereka akan merasa diri mereka berharga.
    Cara lain bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa mereka menghargai anak-anaknya ialah dengan mendorong mereka untuk sedapat mungkin mengambil keputusan sendiri. Dengan mengizinkan mereka untuk membuat beberapa keputusan, mereka mengetahui bahwa orang tua mereka mempercayai mereka dan keputusan mereka. Hal in akan memupuk perasaan untuk menghargai dirinya sendiri.
    Untuk memupuk perasaan menghargai dirinya sendiri itu kita perlu bersikap sopan terhadap anak-anak. Jika orang tua berkata: "Terima kasih", "Bolehkah saya ...?", dan "Tolong ..." kepada anak-anak, anak-anak pun akan mulai memakai ungkapan-ungkapan itu terhadap orang lain. Rasa menghargai akan melahirkan rasa menghargai.
    Seorang anak perlu mendengar komentar yang positif tentang dirinya. Kita akan membuat anak itu berlaku tidak sopan, jika kita terus- menerus mempermainkan dia. Ia akan mulai merasa rendah diri dan juga merasa dirinya tidak layak.
    Untuk membangun rasa menghargai, orang tua harus menaruh perhatian pada berbagai macam kegiatan anaknya. Gambar hasil karya anak itu sangat penting bagi anak itu sama seperti suatu urusan dagang yang besar bagi orang tua.
    Jika Anda mengakui kepada anak-anak Anda bahwa Anda bersalah pada waktu Anda memang bersalah, maka Anda menyebabkan mereka menghargai Anda dan juga menghargai diri mereka sendiri sekalipun jika mereka pada suatu saat kelak berbuat salah. Kadang-kadang orang tua memberi pesan yang harus disampaikan oleh seorang anak: "Katakan kepada mereka bahwa saya tidak di rumah", atau "Katakan kepada mereka bahwa saya tidak dapat pergi, saya sakit". Jika pesan-pesan itu tidak benar dan anak-anak mengetahui hal ini, maka anak itu jadi kurang menghargai orang tuanya. Mereka pun akan bertanya-tanya apakah mereka juga sering dibohongi oleh orang tua mereka. Ini merupakan salah satu peristiwa di mana orang tua harus mengakui kesalahan mereka kepada anak-anaknya.
  2. Menemukan dan Mengembangkan Bakat. Setiap manusia lahir di dunia ini dengan seperangkat bakat dan kemampuan yang unik, dan di rumahlah tempat yang paling tepat untuk menemukan bakat dan kemampuan setiap orang, mengenalinya, dan mengembangkannya. Inilah bagian yang paling mendebarkan dan menyenangkan dari suatu kehidupan keluarga yang sehat! Keluarga menjadi makin kuat dan makin bermanfaat karena dapat mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan dari setiap anggotanya.
    Keluarga harus mendorong sang ibu dalam minat dan bakat-bakatnya. Hal yang sama pun harus dilakukan terhadap sang ayah. Janganlah membiarkan orang tua berdiam diri. Setiap orang harus bertumbuh dan mengembangkan bakat-bakatnya. Setiap anggota keluarga harus mendorong sang ayah; setiap anggota keluarga harus memberi semangat kepada sang ibu. Dengan cara demikian mereka akan menjadi orang- orang Kristen yang lebih berbahagia, lebih sehat dan lebih berguna.
    Orang tua harus menemukan bakat-bakat yang dikaruniakan Allah kepada putra-putrinya. Mereka harus mulai memperhatikan minat-minat ini sejak anak-anaknya masih kecil. Walaupun dalam masa pertumbuhan mereka, dari waktu ke waktu, minat anak-anak itu berubah, beberapa bakat biasanya tetap bertahan melampaui masa kanak-kanak, masa remaja, dan terus tetap bertahan dalam masa dewasa.
    Dalam keluarga yang sehat, orang tua melakukan segala sesuatu yang mereka sanggup untuk menolong setiap anak agar menemukan bakat- bakatnya dan menggunakan bakat itu di dalam waktu senggang dan dalam berbagai hobi mereka. Jimmy mulai menunjukkan suatu minat dalam bidang memotret sejak umur sekitar sembilan tahun. Orang tuanya mendorong dia untuk membaca buku dan majalah mengenai seni memotret. Mereka membelikannya sebuah kamera yang sederhana sehingga ia dapat membuat berbagai potret, dan mereka juga memberi dia semangat. Jimmy benar-benar menikmati hobi ini dan mendapat banyak manfaat berkat dukungan orang tuanya.
  3. Mengungkapkan dan Menunjukkan Kasih.
    Salah satu kebutuhan emosional yang paling penting adalah kasih- sayang. Setiap orang mendambakannya; setiap orang membutuhkannya. Tempat yang terbaik untuk menunjukkan, menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, dan mempraktekkan kasih sayang adalah di dalam keluarga. Dengan demikian, setiap anggota keluarga - ibu, ayah, putra, dan putri - berkembang dengan cara yang sehat dan dengan demikian akan dapat menyisihkan banyak sekali masalah di dalam kehidupan ini.
    Memberi dan menerima kasih sayang ini harus berlaku bagi setiap orang di dalam keluarga. Orang tua harus saling menunjukkan kasih. Anak-anak harus menunjukkan kasih kepada orang tua, dan orang tua harus menunjukkan kasih kepada anak-anak mereka. Kakak-beradik harus saling mengasihi.
    Dengan demikian di dalam diri setiap anggota keluarga - terutama sekali di dalam diri sang anak - akan tumbuh rasa menghargai dirinya sendiri dan akan memiliki sikap atau pandangan yang sehat terhadap dirinya sendiri. Suasana ini juga akan menumbuhkan rasa saling mempercayai dan saling menghargai di antara para anggota keluarga. Pada waktu anak itu sudah dewasa, pengalamannya di dalam keluarga yang penuh kasih akan membuat ia sanggup membuka dirinya kepada orang lain dan menjadi berkat bagi mereka.
    Penting sekali agar orang tua senantiasa ingat untuk mengungkapkan kasih sayang mereka secara lisan, selain mengungkapkan kasih mereka dalam bentuk perbuatan. Tindakan atau perbuatan memang penting, namun kata-kata dapat makin meneguhkan apa yang sudah dinyatakan dalam bentuk perbuatan itu. Orang tua harus berkata dengan terus terang: "Saya sayang padamu, Budi" atau "Saya sayang padamu, Tina". Jika kasih itu diucapkan di dalam keluarga, maka anak-anak akan bertumbuh menjadi dewasa dan kelak dapat mengasihi suami atau istri mereka dengan sepenuh hati dan secara terang-terangan. Mereka akan terhindar dari kekurangan yang diderita banyak orang yaitu ketidakmampuan untuk menunjukkan dan menerima kasih sayang.
  4. Menghormati Batas-batas yang Wajar.
    Segala sesuatu di dalam kehidupan ini ada batasnya. Mau atau tidak mau, untuk setiap orang ada hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Tempat yang paling baik untuk belajar mematuhi dan menghormati batas-batas ini ialah di dalam keluarga.
    Orang tua dalam keluarga yang sehat menampilkan diri mereka menjadi contoh bagi anak-anak mereka dengan mematuhi undang-undang dan peraturan-peraturan negara, daerah, dan pemerintah setempat. Kepatuhan ini diperlihatkan baik dalam kata-kata maupun tindakan. Anak-anak akan belajar menghargai dan menyukai diri mereka dengan lebih baik apabila mereka taat, seperti orang tua mereka juga taat.
    Jika seseorang melanggar hukum, maka ia akan dihukum menurut sistem peradilan yang ada. Demikian juga halnya jika anak-anak tidak taat; mereka pun harus dikenakan tindakan disiplin. Jika orang tua menghukum anak-anak mereka, itu berarti mereka sedang menunjukkan bahwa kasih mereka terhadap anak-anak mereka itu cukup besar sehingga mereka ingin membuat agar anak-anak itu taat. Sebagian orang merasa sulit menerima prinsip ini, namun hal ini memang benar. Kitab Amsal menyatakan: "Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi" (Ams 3:12).
    Jika seorang anak yang baru berumur lima tahun bersikeras untuk bermain-main di tengah jalan yang ramai, maka cara satu-satunya untuk mencegahnya ialah dengan menghukumnya, dan ia memang harus dihukum. Sama sekali tidak masuk akal jika ada orang tua yang mengasihi anaknya, tetapi mengizinkan dia untuk melakukan sesuatu yang bodoh seperti bermain-main di tengah lalu lintas yang ramai.
    Tentunya, hukuman dan tindakan koreksinya harus sesuai dengan umur dan kepribadian anak itu. Waktu anak itu sudah makin besar, maka orang tuanya juga sudah harus makin sedikit menggunakan pukulan sebagai sarana hukuman. Bagi anak yang lebih besar orang tua sudah harus lebih banyak bertukar pikiran dengan anak itu, serta mengemukakan alasannya yang masuk akal atas apa yang dilakukannya itu. Beberapa bentuk hukuman lebih cocok bagi sebagian anak tertentu daripada bagi sebagian lainnya.
    Dalam mengajarkan anak untuk menghormati undang-undang atau peraturan dan dalam melaksanakan tindakan disiplin, orang tua perlu menjelaskan kepada sang anak apa yang seharusnya ia lakukan dan mengapa ia harus dihukum untuk kesalahannya itu. Mengatakan "lakukan itu karena saya mengatakan demikian kepadamu" tidaklah akan menolong anak itu untuk mengerti atau menghargai wewenang.
  5. Mengembangkan Citra Diri Sendiri yang Sehat.
    Bagi seorang anak atau orang dewasa hampir tidak ada hal lain yang lebih penting daripada citra yang sehat tentang dirinya sendiri. Seorang yang menghargai dirinya sendiri atau yang mempunyai citra diri yang sehat akan dapat mengatasi berbagai kesulitan di dalam kehidupan ini.
    Orang tua perlu menolong anak-anak mereka agar mereka memupuk dan mengembangkan perasaan yang positif tentang diri mereka sendiri. Seorang anak yang memiliki citra diri yang baik bukan hanya akan disenangi banyak orang di sekelilingnya, tetapi rasa harga diri itu juga akan terus terbawa sampai ia menjadi dewasa. Perasaan yang positif tentang diri sendiri akan menyanggupkan dia untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan keadaan yang terus berubah.
    Orang tua dapat membangun citra diri yang sehat dalam diri anak- anak mereka dengan memberi semangat kepada mereka untuk mengungkapkan bagaimana perasaan mereka. Mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak-anak bukan hanya akan memberi kesan bahwa mereka itu penting, tetapi orang tua juga akan tetap mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diri anak-anak itu, bagaimana sifat dan kepribadian mereka itu dibentuk dan dipengaruhi.
    Orang tua dapat menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka itu penting bagi Allah. Ajarkanlah kepada mereka dari Alkitab bahwa Allah sendiri telah menciptakan mereka menurut gambar dan rupa Allah sendiri dan bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dengan harga yang mahal, yaitu darah Anak-Nya. Beritahukanlah kepada anak-anak itu bahwa malaikat-malaikat sedang melindungi mereka dan bahwa surga telah dipersiapkan untuk mereka. Segala kebenaran yang indah ini akan meyakinkan anak-anak bahwa mereka itu berharga sekali. Kehidupan mereka berharga di mata Allah, dan hal ini seharusnya membuat mereka melihat bahwa kehidupan mereka itu penting.
    Tetapi bukan hanya anak-anak yang mendapat manfaat jika anak mempunyai citra diri yang sehat. Orang tua juga mendapat manfaat. Itu sebabnya suami istri hares saling memberi semangat. Janganlah ada salah seorang orang tua yang melewatkan satu hari pun tanpa dihargai atau tanpa mendapat dorongan semangat dari kawan hidupnya.
  6. Peka terhadap Keadaan Masyarakat dan Dunia.
    Dalam keluarga yang sehat anak-anak menjadi besar dengan menyadari bahwa mereka bukan hanya bagian dari satu keluarga, tetapi juga bagian dari masyarakat dan bangsa-bangsa di luar batas negara mereka. Saat kita hanya memikirkan diri kita sendiri saja sekarang sudah lewat. Hampir tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di satu negara tanpa mempengaruhi negara lain. Anak-anak harus menyadari akan tanggung jawab mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sesama manusia mereka.
    Di dalam keluarga Kristen, anak-anak harus belajar bahwa tanggung jawab mereka terhadap dunia itu lebih daripada sekadar mengetahui saja. Tanggung jawab itu meliputi juga usaha untuk mencari jalan bagaimana caranya mereka dapat ikut membantu. Satu contoh yang nyata yang dapat dimengerti anak ialah merogoh saku mereka untuk mengeluarkan uang untuk dikirim kepada orang-orang di luar negeri yang tidak seberuntung diri mereka.
    Sayang sekali bahwa di dalam kebanyakan rumah tangga anak-anak tidak pernah diberi kesempatan untuk membagikan apa yang mereka miliki kepada orang lain dengan cara demikian. Sehingga anak-anak menjadi besar dengan hanya memikirkan diri mereka sendiri, mobil mereka sendiri, milik pribadi mereka, atau apa saja. Mereka tidak pernah mengalaml bagaimana rasanya memikirkan tentang orang lain yang berada di dalam masyarakat dan di negara lain, mereka tidak pernah mengalami bagaimana rasanya berdoa dan menolong mereka.
    Sekarang terserah kepada orang tua apakah mereka bersedia untuk saling menolong dan dengan demikian menolong anak-anak mereka untuk mengembangkan pandangan terhadap dunia yang luas ini. Hendaknya tidak ada anggota keluarga yang menyembunyikan diri dan hidup seperti siput. Orang tua harus menjadi teladan dalam hal menaruh minat dan perhatian terhadap orang-orang lain atau terhadap organisasi-organisasi lain di seantero dunia.
  7. Dipuaskan secara Rohani.
    Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memelihara ketiga bidang kehidupan manusia: jasmani, emosional, dan rohani. Banyak keluarga yang mengabaikan kebutuhan rohani mereka, terutama kebutuhan rohani anak-anak mereka.
    Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga merupakan makhluk rohani. Mereka mempunyai jiwa yang harus diberi makan, sebab jika tidak jiwa mereka akan jadi kerdil. Sama seperti tubuh mereka harus diberi makan dan pakaian, demikian juga kerohanian mereka harus dipelihara dan diberi makan.
    Sekali peristiwa ketika saya sedang bepergian dengan pesawat terbang saya duduk berdampingan dengan seorang pengusaha yang menceritakan kepada saya tentang keluarganya. Ia sangat bangga tentang anaknya yang adalah seorang atlet yang baik. Orang ini berkata bahwa ia telah bertekad untuk mendorong anak-anaknya di dalam kegiatan sekolah dan olahraga. Ia menyekolahkan mereka di salah satu perguruan tinggi yang terbaik (dan yang termahal) di negaranya agar mereka dapat meraih hasil yang sebesar-besarnya di dalam kehidupan mereka. Ketika saya menanyakannya apakah ia sudah memenuhi kebutuhan rohani anak-anaknya, ia memandang kepada saya dengan roman muka seolah-olah saya adalah orang yang baru saja tiba dari angkasa luar. Ia bukan orang Kristen, dan ia tidak pernah memikirkan soal mengikutsertakan Allah dalam keluarganya.
    Sebagai suami istri kita harus senantiasa saling mendorong untuk berperan sebaik-baiknya bagi Kristus. Janganlah ada seorang ayah atau ibu yang tinggal diam secara rohani. Kita harus saling menolong agar bertumbuh.
    Sebagai orang tua, kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah kita sudah memberikan kepada anak-anak kita nilai-nilai yang kekal. Sudahkah kita mengusahakan segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk membina iman mereka kepada Allah? Kita dapat menolong anak- anak kita secara rohani dalam banyak cara. Sebagai contoh, kita dapat menjadi teladan dalam soal kesalehan; kita dapat menjalankan kehidupan yang benar yang menyenangkan Allah dan memberikan contoh- contoh nyata kepada anak-anak kita untuk mereka teladani atau bahkan melebihi teladan yang mereka lihat itu. Kita dapat menyatakan kepercayaan diri kita kepada Kristus dan menceritakan kepada anak-anak kita apa yang telah dilakukan Kristus di dalam kehidupan kita.
    Tentunya, kesukaan yang terbesar ialah memimpin anak-anak kita kepada Kristus, namun pemeliharaan rohani tidak berhenti sampai di situ saja. Orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk mengasihi dan bergantung kepada Allah dan mengajarkan agar mereka memahami Alkitab. Orang tua dapat bercakap-cakap dengan anak-anak mereka tentang Tuhan dan menolong mereka menafsirkan kejadian-kejadian masa sekarang di dalam terang firman Allah dan rencana-Nya bagi dunia. Pendidikan Kristen sangatlah penting. Dengan adanya begitu banyak sekolah dasar dan sekolah lanjutan yang baik, dan dengan begitu banyaknya perguruan tinggi yang istimewa, tak perlu seorang anak itu sekadar mendapat pendidikan yang biasa-biasa saja. Memenuhi kebutuhan rohani seorang anak berarti ikut menentukan di mana ia kelak berada sampai kekal.
  8. Menentukan Sasaran Pribadi dan Sasaran Keluarga.
    Sama seperti seorang harus mempunyai sasaran, demikian juga setiap keluarga harus mempunyai sasaran. Di dalam keluarga yang sehat, orang tua saling memberi semangat agar sasaran-sasaran mereka dapat tercapai. Mereka juga mendukung anak-anak mereka dalam membuat dan mencapai sasarannya. Sangat menyedihkan bahwa banyak sekali anak yang bertumbuh menjadi dewasa tanpa mempunyai sasaran sama sekali, dan akibatnya, kehidupan mereka tidak mempunyai arah.
    Anak-anak juga harus mengerti apa yang menjadi sasaran keluarganya dan harus ikut membantu agar sasaran itu dapat dicapai. Orang tua dapat membahas sasaran-sasaran keluarga ini pada waktu seluruh anggota keluarga sedang berkumpul atau pada waktu ibadah sekeluarga.
    Dalam keluarga yang sehat setiap individu bukan hanya menaruh minat pada sasarannya sendiri, tetapi juga menaruh minat pada sasaran anggota keluarga lainnya. Setiap orang berusaha menolong sesamanya agar dapat mencapai aspirasi mereka.
    Sayang sekali bahwa terlalu banyak anak yang menjadi dewasa di dalam keluarga-keluarga di mana mereka hanya makan minum, ke sekolah, tidur, dan mengulangi kegiatan yang serupa esok harinya. Mereka terantuk-antuk di dalam perjalanan hidup mereka tanpa arah yang tetap. Karena hanya ada satu kali kesempatan untuk hidup, maka sangatlah penting untuk mengetahui jalan mana yang hares ditempuh dan bagaimana caranya agar dapat sampai ke sana.
  9. Bekerja dan Bermain Bersama.
    Salah satu dari kegembiraan kehidupan keluarga yang sehat ialah bekerja dan bermain bersama-sama. Dalam zaman modern ini mudah sekali bagi sang putra pergi ke perkumpulan anu, sang putri ke pramuka, sang ibu ke arisan, dan sang ayah ke rapat perusahaannya. Dengan melakukan perkara-perkara ini, mereka sebenarnya sedang menjauhkan diri dari salah satu kegembiraan yang terbesar yang mungkin dinikmati di dalam kehidupan ini yaitu bekerja dan bermain bersama sama sebagai satu keluarga.
    Jika kita sebagai orang tua menyediakan waktu untuk bersama-sama dengan anak-anak kita, maka itu berarti kita sedang memberitahukan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka. Bagaimanapun juga, kita gemar menghabiskan waktu bersama-sama dengan orang-orang yang paling kita kasihi dan seharusnya orang-orang itu adalah keluarga kita sendiri. Dalam unit keluarga yang sehat setiap pribadi akan menghabiskan banyak waktu senggang dan waktu gembiranya bersama anggota keluarga lainnya.
  10. Mempunyai Kebiasaan yang Baik Demi Kesehatan.
    Sangat sulit bagi seseorang untuk bertindak dengan baik jika ia tidak sehat. Orang tua bertanggung jawab untuk mengusahakan agar semua anggota keluarganya berada dalam keadaan kesehatan yang sebaik-baiknya dan agar setiap orang mempunyai kebiasaan yang baik untuk menjaga kesehatannya dan merasakan bahwa badannya dalam kondisi yang mantap. Orang tua melakukan sesuatu yang baik bagi anaknya sepanjang umur hidupnya apabila mereka mendorong anaknya itu agar mempunyai kebiasaan yang baik untuk menjaga kesehatannya dan membawa mereka ke dokter untuk diperiksa jika diperlukan.
    Sebagai seorang ahli ilmu jiwa yang menangani masalah orang tua dan anak-anak selama bertahun-tahun, saya heran melihat banyaknya orang dewasa yang menceritakan kepada saya bahwa tidak ada seorang pun menyadari bahwa mereka kehilangan daya pendengaran atau mempunyai masalah pada penglihatan mereka sampai mereka sudah menjelang dewasa. Seorang dokter wanita mengatakan kepada saya: "Saya tidak pernah mengetahui sebelumnya bahwa orang lain tidak melihat dua bayangan dari satu benda yang dilihatnya sampai saat saya memasuki sekolah kedokteran." Selanjutnya ia mengatakan bahwa karena ia memiliki dua buah mata, ia menganggap bahwa wajarlah jika ia melihat segala sesuatu itu dua. Misalnya, jika ada seorang anak berdiri di depannya, ia melihat dua bayangan dari satu anak yang sama.
    Kira-kira sepuluh kali setahun berbagai kelompok orang-orang dewasa datang ke kampus Narramore Christian Foundation di Rosemead, California, selama satu atau dua minggu untuk mengikuti latihan dan evaluasi khusus. Selama waktu itu saya beserta staf saya menjadi sangat kenal orang-orang itu. Suatu kenyataan yang selalu mengherankan saya ialah bahwa dalam setiap kelompok yang terdiri atas lima puluh sampai seratus orang, kami selalu mendapati cukup banyak orang, laki-laki dan wanita, yang mempunyai masalah fisiologis yang cukup gawat. Dan, tentunya "masalah kesehatan tubuh" mereka itu menghambat mereka sehingga mereka tidak dapat berhasil dan mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri sebagaimana mestinya. Apakah sebabnya sehingga masalah-masalah fisik semacam itu sudah berlangsung sedemikian lama tanpa diketahui, bahkan sampai tiga puluh atau empat puluh tahun? Saya yakin bahwa sebagian dari jawabnya terletak pada kenyataan bahwa orang tua mereka tidak pernah mengamati mereka dengan saksama. Dalam keluarga yang sehat, kesejahteraan fisik setiap anggotanya juga diperhatikan.
  11. Saling Mencukupi secara Finansial.
    Dalam keluarga yang sehat, setiap anggota keluarga memperhatikan agar dapat mencukupi kebutuhan finansial yang dasar dari anggota keluarga yang lainnya. Anak-anak dan orang tua haruslah membicarakan soal anggaran belanja keluarga dan membahas apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan keluarga, apa yang dapat dibeli, dan apa yang tidak. Dengan demikian anak-anak dapat mempunyai cara berpikir yang praktis dalam soal keuangan dan mendapat pengetahuan tentang penghasilan dan tentang tabungan uang. Orang tua dapat membuat suatu kontribusi yang bermakna seumur hidup bagi kesejahteraan anak-anak mereka dengan jalan menolong mereka agar mengerti tentang kerja, penghasilan, tabungan, dan penanaman modal. Anak-anak perlu mempunyai sikap yang sehat dan realistik terhadap uang, walaupun mereka harus menyadari juga bahwa uang bukanlah hal yang terpenting dalam kehidupan ini.
    Tentunya, salah satu segi yang paling penting dari keuangan ialah perpuluhan. Sungguh merupakan satu hak istimewa bagi pasangan suami istri jika mereka memulai kehidupan bersama mereka dengan mengetahui bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu yang mereka miliki dan segala sesuatu yang kelak akan mereka miliki! Mereka sudah belajar dari orang tua mereka tentang berkat yang dialami jika mereka memberi persembahan untuk organisasi atau kegiatan Kristen. Sekarang mereka membawa hati yang suka memberi itu ke dalam kehidupan mereka yang barn. Mungkin hal yang sekarang menjadi masalah bagi banyak orang bukanlah tentang kemampuan seseorang untuk mencari uang, melainkan sikap orang itu terhadap uang yang dihasilkannya itu. Dan hal ini seharusnya dipelajari di dalam keluarga.
  12. Memikul Tanggung Jawab dalam Keluarga.
    Setiap orang dilahirkan untuk melakukan sesuatu - untuk bekerja, untuk berlatih, dan untuk berkarya. Sungguh suatu keluarga itu adalah keluarga yang sehat, jika di dalam keluarga itu setiap anggotanya mengambil bagiannya dan belajar menerima tanggung jawab sejak usia dini. Tentunya, tanggung jawab seorang anak haruslah disesuaikan dengan kematangannya, namun setiap anak dapat melakukan sesuatu betapa pun kecilnya anak itu.
    Belum lama berselang saya berbicara dengan seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga di mana ia tidak pernah mendapat tanggung jawab khusus apa pun. "Ibu saya seorang perfeksionis," kata wanita itu. "Saya tidak pernah dapat melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan dia, maka saya selalu diusirnya dari dapur atau di mana saja ia sedang bekerja, sambil mengatakan bahwa dialah yang akan melakukan semuanya. Tentu saja, ibu dapat melakukan segala sesuatu dengan lebih cepat dan lebih baik, tetapi yang menyedihkan ialah ketika saya menikah, saya tidak mampu melakukan apa pun. Saya tidak mengetahui apa-apa tentang mengurus rumah; dan yang lebih parah lagi, saya tidak percaya bahwa saya mampu melakukannya."
    Betapa menyedihkan bila harus melepaskan anak untuk pergi sekolah di perguruan tinggi atau untuk menikah dan membina rumah tangga sendiri, tetapi kita mengetahui bahwa kemampuannya untuk mengerjakan sesuatu itu masih sangat terbatas! Jika seseorang telah belajar bertanggung jawab dan melakukan tugas-tugas di dalam keluarga, ia akan merasa lebih yakin dan akan memiliki sikap yang lebih sehat terhadap dirinya sendiri.

Materi Pelajaran | Pelajaran 06 | Pertanyaan 06
Nama Kursus : Pernikahan Kristen (PKS)
Nama Pelajaran : Keluarga Kristen dan Masyarakat Luas
Kode Pelajaran : PKS-R06b
Referensi PKS-R06b diambil dari:
Judul Buku : Asas-asas Psikologi Keluarga Idaman
Judul Artikel : Peran Orang Tua dalam Perkembangan Anak
Pengarang : Yulia Singgih D. Gunarsa
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000
Halaman : 41 -- 47
REFERENSI PELAJARAN 06b - KELUARGA KRISTEN DAN MASYARAKAT LUAS
PERAN ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN ANAK
Orang tua sangat berperan dalam mendidik anak menuju hidup bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat dapat mencapai taraf kesejahteraan bagi seluruh anggotanya apabila setiap unsur masyarakat turut membentuk dan memelihara kesejahteraan dalam hidup bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat akan berjalan dengan lancar apabila ada dasar-dasar pedoman dan peraturan yang mengatur kehidupan bersama yang dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap anggota masyarakat. Kesinambungan kehidupan bermasyarakat dapat dipertahankan apabila dasar-dasar pedoman dan peraturan yang mengatur kelangsungan dan kelancaran hidup bermasyarakat secara berkesinambungan diteruskan kepada masyarakat.
Suatu masyarakat terdiri dari berbagai macam unsur, dan keluarga merupakan salah satu unsur kesatuan yang kecil dari masyarakat. Setiap keluarga dapat dikatakan telah mencapai kesejahteraan dan tujuan utamanya apabila dapat mengatur kehidupan keluarganya dengan balk. Apabila setiap keluarga berusaha menciptakan kesejahteraan antara keluarga-keluarga, maka seluruh masyarakat akan menjadi masyarakat sejahtera. Dengan demikian keluarga memegang peranan penting dalam usaha membentuk masyarakat sejahtera atau,umat sejahtera.
  1. Keluarga Sebagai Unsur Masyarakat.
    Setiap keluarga terdiri dari anggota keluarga yang sekaligus menjadi anggota masyarakat. Maka setiap anggota keluarga turut mengambil bagian dalam upaya membentuk, mencapai, dan memelihara kesejahteraan. Anggota masyarakat seyogyanya belajar dan memiliki peraturan atau tatanan hidup bermasyarakat agar tidak terjadi bentrokan yang menghambat tercapainya kesejahteraan umum ataupun merusak kesejahteraan yang mungkin sudah terbentuk. Agar setiap anggota masyarakat dapat turut berperan aktif dalam membentuk kesejahteraan masyarakat, anggota keluarga harus mengalami dan menjalani sosialisasi.
    Sosialisasi adalah suatu proses yang dijalani seorang individu agar pedoman hidup, prinsip-prinsip dasar hidup, ketangkasan, motif, sikap dan seluruh tingkah lakunya dibentuk sesuai dengan peranannya saat ini maupun kelak di masyarakat.
  2. Sosialisasi Sudah Dimulai dari Masa Bayi.
    Bayi laki-laki dikenakan baju berwarna biru muda dan warna merah muda untuk bayi perempuan; bayi ditimang-timang dan dimanja oleh ibu yang lembut; bayi, dibiarkan menangis oleh ibu yang tidak mau memanjakan anak. Hal ini merupakan contoh sosialisasi sejak bayi. Sikap dan perlakuan orang dewasa ini atau sikap orang tua terhadap bayi akan mewarnai proses sosialisasi dan meninggalkan kesan, jejak, serta membentuk kepribadian yang membentuk kesejahteraan pribadi maupun umum.
    Nilai kehidupan bermasyarakat harus mendasari tingkah laku anak. Nilai-nilai kehidupan akan membentuk dan mengubah tingkah laku anak atau perilaku anak. Nilai-nilai kehidupan bersama yang berintikan nilai-nilai agama, moral, dan sosial harus diperoleh dan dimiliki oleh seorang individu sebagai inti pribadi serta menjadi pedoman hidup yang mengarahkan tingkah lakunya.
    Lingkungan sosial akan menyampaikan nilai-nilai kepada anggota masyarakat, selanjutnya akan menginternalisasi nilai-nilai tersebut sehingga tercapailah hidup sejahtera dan aman sentosa. Lingkungan sosial yang berperan dalam meneruskan dan menanamkan nilai pedoman hidup pada anggota masyarakat adalah keluarga, teman sebaya, guru dan sebagainya. Keluarga mengambil tempat penting dalam sosialisasi anak, karena anggota keluarga, orang tua dan saudara kandung merupakan kontak sosial pertama bahkan mungkin satu-satunya kontak sosial sial bagi anak pada tahun-tahun pertamanya. Masa anak, terutama masa balita, merupakan bagian yang kritis dalam perkembangan sosial seorang individu. Interaksi dan hubungan emosional antara anak dan orang tua akan membentuk pengharapan dan responsnya pada hubungan sosial selanjutnya.
    Keyakinan, kepercayaan, dan sikap kebudayaan dalam masrakat akan disaring oleh orang tua dan disajikan kepada anak dengan diwarnai oleh mereka. Keyakinan, nilai-nilai dan sikap kebudayaan masyarakat akan disajikan oleh orang tua dengan cara dan corak yang dipengaruhi oleh kepribadian, sikap, latar belakang sosio-ekonomis, jenis kelamin, pendidikan, dan agama orang tua. Ikatan antara orang tua dan anak pada masa anak dini - balita - merupakan fondasi bagi hubungan keluarga selanjutnya, bahkan turut membentuk dasar-dasar keluarga baru yang dibentuk kelak.
  3. Peran Keluarga dalam Perkembangan Anak.
    Keluarga merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat langgeng berdasarkan hubungan pernikahan dan hubungan darah. Keluarga adalah tempat pertama bagi anak, lingkungan pertama yang memberi penampungan baginya, tempat anak akan memperoleh rasa aman.
    Orientasi dan suasana keluarga timbul dari komitmen antara suami- istri dan komitmen mereka dengan anak-anaknya. Keluarga inti (nuclear) terdiri dari orang tua dan anak yang merupakan kelompok primer yang terikat satu sama lain karena hubungan keluarga ditandai oleh kasih sayang (care), perasaan yang mendalam (affection), saling mendukung (support), dan kebersamaan dalam kegiatan-kegiatan pengasuhan. Suami-istri yang selanjutnya menjadi ayah-ibu merupakan anggota keluarga yang penting dalam membentuk keluarga yang utuh dan sejahtera. Kebudayaan yang mengikuti kemajuan teknologi mengalami perbbahan cepat. Kebudayaan yang berubah sering disertai perubahan-perubahan nilai kebudayaan.
  4. Peranan orang tua dalam Perkembangan Anak.
    Perubahan nilai dalam masyarakat akan menimbulkan masalah bagi orang tua, terutama dalam membentuk tujuan perkembangan yang realistis bagi diri mereka dan anak-anaknya. Tujuan pendidikan manakah yang harus dikejar dan cara-cara manakah yang harus dikembangkan agar anak dapat berkembang dengan sempurna. Sosialisasi sudah dimulai pada tahun pertama. Pada tahun kedua, sosialisasi makin disadari dan menjadi lebih sistematis karena anak sudah dapat berbicara, dan dengan bertambahnya umur maka terjadilah perubahan-perubahan dalam upaya mengubah dan membentuk tingkah laku anak.
    1. Perbuatan, pola tingkah laku, dan tingkah laku anak kecil, yang sebelumnya diperbolehkan dan dianggap lucu, lama kelamaan dibatasi bahkan mulai dilarang dan dianggap nakal apabila tetap dilakukan.
    2. Anak perlu larangan terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak baik, tidak layak, tidak pantas dilakukan, supaya belajar menahan diri dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.
    3. Anak perlu dipuji apabila melakukan perbuatan baik, mencapai prestasi, atau memperlihatkan sikap-sikap yang baik. peranan orang tua dalam perkembangan anak:
      1. Sebagai orang tua, mereka membesarkan, merawat, memelihara, dan memberikan anak kesempatan berkembang.
      2. Sebagai guru:
        1. Mengajarkan ketangkasan motorik, keterampilan melalui latihan-latihan.
        2. Mengajarkan peraturan-peraturan - tata cara keluarga, tatanan lingkungan masyarakat.
        3. Menanamkan pedoman hidup bermasyarakat.
      3. Sebagai tokoh teladan, orang tua menjadi tokoh yang ditiru pola tingkah lakunya, Cara berekspresi, cara berbicara, dan sebagainya.
      4. Sebagai pengawas, orang tua memperhatikan, mengamati kelakuan, tingkah laku anak. Mereka mengawasi anak agar tidak melanggar peraturan di rumah maupun di luar lingkungan keluarga (tidak-jangan-stop).
  5. Aspek-aspek Perilaku Orang Tua.
    Hubungan orang tua dan anak sering dapat digambarkan suatu interaksi dari 2 pasang atribut orang tua.
    Dalam hubungan orang tua dengan anak sebaiknya lebih adanya kehangatan. Tetapi di samping kehangatan dan memberi kesempatan berkembang, perlu juga adanya sikap membatasi perilaku anak yang tidak sesuai dengan pola tingkah laku yang diinginkan oleh masyarakat umum. Untuk pembatasan perilaku, anak perlu teknik disiplin yang dilaksanakan secara konsisten.
    Teknik-teknik disiplin meliputi penalaran (reasoning), penjelasan (explanation), larangan dengan kasih sayang (affection withdrawal).
  1. BEBERAPA CARA MENANAMKAN DISIPLIN
    1. Pendidikan yang konsisten
    2. Cara otoriter: orang tua menentukan aturan dan batasan mutlak yang harus ditaati oleh anak. Apabila dilanggar, anak dihukum.
    3. Cara bebas: anak mencari sendiri batasan perilaku baik dan yang tidak baik.
    4. Cara demokratis
      1. Kebebasan anak tidak mutlak.
      2. Menghargai dengan penuh pengertian.
      3. Keterangan yang rasional terhadap yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
  2. TEKNIK MENANAMKAN DISIPLIN
    1. Love Oriented Technique
      Teknik ini dilakukan dengan memberikan pujian dan menerangkan - penalaran.
    2. PowerAssertion Technique
      Teknik ini dilakukan dengan unjuk kuasa, hukuman, atau hadiah materi. Pendidikan anak adalah dasar kasih sayang:
      1. Konsekuensi
        Berkaitan dengan tanggung jawab untuk memberikan kasih sayang dan pola pendidikan yang berlandaskan prinsip "apabila benar diteruskan, jika salah diubah".
      2. Konsisten
        Berkaitan dengan sikap dan perlakuan yang konsisten. Demikianlah orang tua masa kini perlu berperan dalam mendidik putra-putrinya, agar mereka mencapai tujuan yang diharapkan bersama.

Bahan Referensi PKS
Berikut ini adalah daftar buku yang dipakai sebagai referensi untuk membantu peserta PESTA mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lebih dalam dan luas tentang pokok-pokok materi yang dibahas dalam Kursus PERNIKAHAN KRISTEN SEJATI. Karena tujuannya adalah untuk melengkapi, maka akan sangat baik jika Anda bisa mengusahakan memiliki buku-buku tsb. dalam bentuk cetaknya untuk kebutuhan di masa y.a.d..:
  • Tong, Stephen. KELUARGA BAHAGIA, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1995.
  • McDowell, Josh. POLA HIDUP KRISTEN, Gandum Mas, Malang; Yayasan Kalam Hidup, Bandung; YAKIN, Surabaya, 2002.
  • Gunadi, Paul. DIAKAH PASANGAN HIDUPKU?, Literatur SAAT, Malang, 2004.
  • Setiawan, Pdt. Roby. HANYA MAUT YANG MEMISAHKAN KITA, Setiawan Literature Ministry, 2007.
  • Gunadi, Pdt. Paul. MENJADI SAHABAT BAGI ISTRI, Literatur SAAT, Malang, 2004.
  • Gunadi, Pdt. Paul. MENJADI SAHABAT BAGI SUAMI, Literatur SAAT, Malang, 2004.
  • Wright, H. Norman. PERSIAPAN PERNIKAHAN, Gloria, Yogyakarta, 1998.
  • Narramore, Dr. Clyde M. LIKU-LIKU PROBLEMA RUMAH TANGGA, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
  • Gunarsa, Yulia Singgih D. ASAS-ASAS PSIKOLOGI KELUARGA IDAMAN, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000.