"CARILAH
TUHAN DAN HIDUPLAH! (AMOS)"
PENDAHULUAN
Hidup atau mati. Haruki Murakami, novelis kelahiran Jepang
(1949), dalam karyanya bertajuk Blind Willow, Sleeping Woman menulis
kata-kata ini, "Kematian bukanlah kebalikan dari kehidupan, tapi kematian
adalah bagian dari kehidupan." Dalam pengertian tertentu pernyataan ini
ada benarnya, khususnya bila kehidupan seseorang terus terkungkung dalam dosa
tanpa pengharapan untuk kehidupan di balik kematian karena menolak keselamatan.
Tidak demikian bagi orang-orang beriman dan setia memelihara iman mereka sampai
Yesus datang kedua kali (1Kor. 15:51-53).
Namun, meskipun kehidupan abadi ditawarkan Allah kepada semua orang, kenyataannya
banyak yang tidak memperolehnya karena mengabaikan tawaran itu. Bangsa Israel
purba, misalnya, sekalipun sebagai umat pilihan tapi tidak semua mereka
mendapatkannya. Bahkan ketika nabi Amos yang diutus Tuhan kepada mereka telah
mengingatkan, "Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu
hidup..." (Am. 5:24), banyak yang tidak menghargai amaran itu dan
akibatnya binasa.
"Sekiranya
bangsa Israel sudah setia kepada Allah, niscaya Ia sudah akan dapat
melaksanakan maksud-Nya oleh kehormatan dan kemuliaan mereka. Sekiranya mereka
sudah berjalan pada jalan-jalan penurutan, niscaya Ia sudah akan mengangkat
mereka 'di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya untuk menjadi terpuji,
ternama dan terhormat" [alinea kedua: dua kalimat pertama].
Masalah
Israel purba bukan sekadar kegagalan mereka untuk setia dan taat kepada
perintah-perintah Allah, tetapi sebab mereka tidak meninggalkan gaya hidup
keduniawian. Kelompok kelas atas di Israel pada masa itu, yaitu orang-orang
kaya dan memegang kekuasaan, sedang menikmati kemakmuran dan kesenangan di atas
penderitaan kaum miskin yang tertindas. Namun Tuhan tidak pernah berhenti
mengasihi mereka, dan melalui nabi-nabi-Nya terus mengingatkan dan mengamarkan
mereka supaya bertobat. Sifat panjang sabar Allah benar-benar terbukti dalam
menghadapi sikap keras kepala umat Israel.
"Pekan
ini, sementara kita lanjutkan mempelajari kitab Amos, kita akan melihat lebih
banyak lagi cara-cara Tuhan meminta umat-Nya agar menyingkirkan dosa-dosa
mereka dan kembali kepada Dia, satu-satunya Sumber Hidup yang sejati. Pada
akhirnya, kita semua hanya mempunyai dua pilihan: hidup atau mati. Tidak ada
jalan tengah. Amos menunjukkan kepada kita sedikit lebih jauh lagi tentang
perbedaan-perbedaan mencolok dari kedua pilihan ini" [alinea terakhir].
1. KARENA TAK MAU
BERUBAH (Bencilah Kejahatan, Cintailah Kebaikan)
Menangisi
Israel. "Dengarlah
hai umat Israel! Aku hendak menyanyikan bagimu sebuah nyanyian duka,"
demikianlah Amos berkata kepada bangsa yang sedang berbuat kejahatan itu (Am.
5:1, BIMK). Oleh karena seorang nabi adalah utusan dan jurubicara Tuhan, maka
tangisan nabi itu adalah juga tangisan Tuhan. Tapi, mengapa menangisi Israel?
"Maksud
dari nyanyian duka dalam Amos 5:1-15 adalah untuk mengejutkan bangsa itu
menghadapi kenyataan. Jika mereka bersikeras dalam dosa-dosa mereka, pasti
mereka akan mati. Sebaliknya, jika mereka menolak kejahatan dan kembali kepada
Tuhan, mereka akan hidup. Tabiat Allah adalah sedemikian rupa sehingga Dia
mengharapkan kesesuaian dengan kehendak ilahi" [alinea kedua].
Nubuatan Amos atas Israel adalah sesuatu yang tragis dan dahsyat. Tragis, sebab
Israel adalah negara yang belum begitu lama muncul--digambarkan sebagai
"anak dara Israel"--tetapi belum apa-apa sudah akan "terkapar di
atas tanahnya" (ay. 2), yaitu di negeri mereka sendiri yang tidak lain
adalah warisan yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka. Dahsyat,
karena ketika tentara-tentara mereka maju ke medan perang sebagian besar akan
mati dan hanya 10% saja yang tersisa (ay. 3). Ini adalah suatu kekalahan paling
memalukan sekaligus mengerikan bagi sebuah bangsa yang ketika mereka datang
telah menyebar teror kepada bangsa-bangsa di kawasan itu berkat
kemenangan-kemenangan mereka yang sangat fantastis.
Harus berubah. Amos mengungkapkan latar belakang dosa
Israel, sehingga hukuman Allah akan menimpa mereka, melalui nasihat ini:
"Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup...bencilah
yang jahat dan cintailah yang baik" (Am. 5:14-15). Peringatan ini jauh
lebih luas dari sekadar bertobat; bangsa itu harus berubah. Amaran supaya
mereka mencari dan mencintai kebaikan menunjukkan bahwa pada waktu itu
kehidupan bangsa ini sarat dengan kejahatan, dan sekarang mereka harus membenci
hal-hal yang jahat itu lalu kembali mencintai hal-hal yang baik. Tentu saja ini
menyangkut mentalitas (=cara berpikir), dari yang tadinya cenderung kepada
perilaku-perilaku jahat sekarang harus berubah untuk condong kepada
perilaku-perilaku yang baik.
Sebagai umat Tuhan, kita harus memiliki dan mengembangkan "pancaindera
yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat" (Ibr. 5:14;
bukan ay. 24 seperti yang tercetak dalam PSSD). Sebagaimana nasihat rasul
Paulus, "Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik" (Rm. 12:9).
Raja Salomo berkata, "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci
kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu
muslihat" (Ams. 8:13).
"Amos mengajak orang banyak itu bukan hanya berhenti mencari yang jahat
tapi juga membenci kejahatan dan mencintai kebaikan. Perintah pada bagian ini
bersifat bertahap. Katakerja mencintai (Ibr. 'ahav') dan membenci
('sane') dalam Alkitab seringkali merujuk kepada keputusan dan
tindakan, bukan sekadar perasaan dan sikap. Dengan kata lain, perubahan dalam
sikap bangsa itu akan menuntun kepada perubahan dalam tindakan
mereka" [alinea ketiga].
Kekacauan moral. Allah berfirman melalui nabi Yesaya,
"Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu
jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan,
yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit" (Yes. 5:20).
Apa yang kita hendak katakan tentang orang-orang yang "menyebut jahat itu
baik dan baik itu jahat"? Ini bukan sekadar kerancuan berpikir, tapi kekacauan
moral atau penjungkirbalikkan nilai-nilai moral. Inilah kondisi moral bangsa
Israel purba, dan keadaan seperti ini sedang menggejala di kalangan "orang
Israel rohani" dewasa ini.
Namun, tentu saja, kita tidak boleh melakukan jeneralisasi (menyamaratakan).
Kita patut bersyukur karena ada sebagian umat Allah dan hamba-hamba Tuhan yang
tetap tegar berpegang pada kebenaran sekalipun mereka mesti mengalami tantangan
yang berat, bahkan menghadapi persekongkolan-persekongkolan yang ingin
menggilas mereka dan yang berusaha hendak mematikan karir dan membunuh karakter
mereka.
"Semua orang yang pada hari yang jahat itu mau melayani Allah tanpa rasa
takut sesuai dengan suara hati nurani akan memerlukan keberanian, keteguhan
hati, dan pengetahuan akan Allah dan firman-Nya; oleh sebab orang-orang yang
benar di hadapan Allah akan dianiaya, motif mereka akan diragukan, dan
usaha-usaha mereka yang paling baik disalahtafsirkan, dan nama-nama mereka
dicoret sebagai yang jahat. Setan akan bekerja dengan segala kuasa penipuannya
untuk mempengaruhi hati dan mengaburkan pengertian, untuk menjadikan yang jahat
kelihatan baik dan yang baik itu jahat" [alinea keempat].
Apa yang kita pelajari tentang amaran agar membenci kejahatan dan
mencintai kebaikan?
1. Nabi Amos berusaha untuk menarik perhatian bangsa Israel purba
terhadap nasib tragis yang menunggu mereka dengan menyebut nubuatan yang hendak
diutarakannya sebagai sebuah "nyanyian duka." Tidak berlebihan, sebab
memang itulah yang bakal terjadi kalau mereka tidak bertobat.
2. Waktu itu kondisi rohani bangsa Israel purba sudah sampai pada taraf
"kekacauan moral" sebab hal yang jahat dianggap baik dan hal yang
baik dibilang jahat. Siapa yang berani berkata bahwa kekacauan moral yang sama
tidak terjadi pada umat Tuhan sekarang ini?
3. Untuk luput dari hukuman Allah yang dinubuatkan oleh Amos, umat Israel harus
berbuat suatu hal: berubah. Perubahan itu harus meliputi kerohanian dan cara
berpikir, berbalik dari praktik-praktik hidup mereka. Amaran yang sama juga
berlaku bagi kita dewasa ini.
2. BERTUHAN DENGAN LEBIH SERIUS (Beragama Seperti Biasa)
Beragama adalah hal yang serius. Ketika beberapa tahun silam
dunia mengalami krisis ekonomi yang parah, di mana-mana orang menuntut agar
pemerintah maupun pelaku bisnis tidak lagi doing business as usual (bekerja
seperti biasa-biasa saja). Artinya, harus ada upaya dan ikhtiar untuk mengurus
ekonomi dengan lebih serius lagi. Dalam pengertian yang sama juga, bilamana
kehidupan kita tengah dilanda masalah dan kesulitan, biasanya orang jadi lebih
serius beribadah dan tidak "beragama seperti biasa-biasa saja."
Kehidupan beragama yang biasa-biasa saja adalah keberagamaan yang formalitas
atau sekadar rupa, menjalankan ibadah tetapi ajaran-ajaran agama tidak
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Orang Israel purba juga menghadapi masalah yang sama, kehidupan beragama mereka
berjalan seperti biasa-biasa saja sehingga menjadi sia-sia dan tidak berterima
bagi Tuhan. "Aku benci dan muak melihat perayaan-perayaan
agamamu! Kalau kamu membawa kurban bakaran dan kurban gandum, Aku tidak
akan menerimanya..." Allah berkata dengan tegas seraya melanjutkan,
"Hentikan nyanyian-nyanyianmu yang membisingkan itu; Aku tak mau
mendengarkan permainan kecapimu. Lebih baik, berusahalah supaya
keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah
kering" (Am. 5:21-24, BIMK; huruf miring ditambahkan).
Beragama adalah hal yang serius dan tidak dapat dijalankan secara basa-basi.
Menjalankan kehidupan beragama yang serius berarti menghidupkan setiap doktrin
agama secara benar. Dengan mengamalkan ajaran-ajaran agama dengan
sungguh-sungguh maka kehidupan kita akan dipengaruhi secara positif, antara
lain tercermin dalam hubungan kita dengan orang lain. "Amos
berkhotbah bahwa Allah memandang rendah tatacara agama yang kosong dari
formalisme yang mati bangsa itu, dan Dia menyerukan kepada mereka untuk
berubah. Tuhan tidak senang dengan bentuk-bentuk perbaktian lahiriah dan kosong
yang dipersembahkan kepada-Nya oleh orang-orang yang pada waktu yang sama menindas
orang-orang lain demi keuntungan pribadi" [alinea kedua: kalimat ketiga
dan keempat].
Keadilan dan kebenaran. Tatacara (ritual) agama memang hal
penting yang ditetapkan Allah dengan cermat. Ketelitian adalah bagian tak
terpisahkan dari upacara agama yang ditentukan atas bangsa Israel (baca Im.
10:16-18). Tetapi karena sudah menjadi kebiasaan, tatacara agama yang bersifat
lahiriah itu akhirnya kehilangan makna dan berjalan secara otomatis seperti
gerakan sebuah mesin yang sudah terprogram. Padahal, sementara tatacara dalam
upacara agama Yahudi harus dilakukan dalam kecermatan tinggi--karena setiap
bagian mempunyai arti tersendiri--esensi dari apa yang dilambangkan dalam
upacara agama mereka itu adalah hal penting yang mereka harus pahami dan
amalkan.
Pekabaran Amos menguak masalah pokok dari kehidupan bangsa Israel purba, yakni
konflik sosial antar golongan, sebab orang-orang kaya memperlakukan orang-orang
miskin tanpa keadilan dan kebenaran. Berabad-abad kemudian, ketika berkhotbah
kepada keturunan bangsa Israel itu di sebuah bukit, Yesus berkata: "Sebab
itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau
teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap
engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai
dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu
itu" (Mat. 5:23-24). Di sini Yesus mengajarkan bahwa peribadatan tidak ada
artinya jika hubungan pribadi dengan sesama saudara seiman tidak dibereskan
lebih dulu. Atau, dalam perkataan lain, perbaktian seseorang adalah sia-sia
kalau orang itu masih tetap bermusuhan dengan saudaranya.
"Tuhan menyerukan umat yang sisa untuk menjauhkan diri mereka dari
praktik-praktik kejahatan dan formalisme agama, dan sebagai gantinya membiarkan
keadilan mengalir seperti sungai dan kebenaran mengalir seperti aliran air yang
tidak pernah berhenti. Sementara keadilan menyangkut penegakan apa yang benar
di hadapan Allah, kebenaran adalah kualitas hidup dalam hubungan dengan Allah
dan orang-orang lain di tengah masyarakat. Gambaran yang ditampilkan di sini
ialah mengenai orang-orang beragama yang agamanya telah merosot menjadi hampa
selain dari bentuk dan upacara tanpa perubahan hati yang seharusnya menyertai
iman yang benar. (Baca Ul. 10:16)" [alinea terakhir: tiga kalimat
terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang amaran terhadap beragama secara
biasa-biasa saja?
1. Keberagamaan adalah hal yang serius, tapi bangsa Israel purba
telah terjebak dalam kehidupan beragama yang biasa-biasa saja dan hanya
mementingkan formalitas. Ini membuat keberagamaan mereka ditolak Tuhan yang
akan mendatangkan hukuman atas mereka.
2. Ciri-ciri dari kehidupan beragama yang biasa-biasa saja, yaitu formalisme
beragama yang tanpa makna, ialah tidak mengamalkan nilai-nilai agama yang
sesuai dengan iman. Dalam kasus Israel purba hal itu ditandai dengan lenyapnya
keadilan dan sirnanya kebenaran dalam kehidupan sosial mereka.
3. Umat Tuhan zaman akhir juga dapat terjebak dalam keberagamaan yang
biasa-biasa saja jika hanya secara luar saja kelihatan taat beragama tetapi
jiwa dan hatinya tidak. Yesus menyebutnya agama "kuburan yang dilabur
putih" (Mat. 23:27).
3. MELAYANI SEBAGAI KAUM AWAM (Dipanggil Menjadi Nabi)
Profesionalisme kaum awam. Acapkali orang menggunakan
istilah "profesional" untuk membedakannya dari "amatir"
dalam hal yang berkaitan dengan keahlian, di mana seorang profesional dianggap
lebih ahli dari seorang amatir dalam suatu bidang tertentu. Ini termasuk gaya
bahasa yang rancu. Dalam dunia olahraga perbedaan antara profesional dan amatir
bukan pada soal ketrampilan tapi soal penghasilan, apakah seorang atlet
membiayai hidupnya sepenuhnya dari hasil berolahraga atau tidak. Misalnya,
seorang petinju profesional seratus persen menggantungkan nafkahnya dari
bertinju, sedangkan seorang petinju amatir tidak semata-mata hidup dari
bertinju. Namun dalam hal kemampuan serta ketangkasan di atas ring bisa saja
petinju amatir lebih unggul dari petinju profesional.
Umumnya di kalangan gereja Kristen para anggota jemaat biasa disebut dengan
istilah "kaum awam" untuk membedakan mereka dari para pendeta atau
pelayan gerejawi yang menerima gaji atau hidup dari pekerjaan mereka sebagai
rohaniwan. Lazimnya, dalam hal pengetahuan dan pemahaman teologis para pendeta
dan rohaniwan profesional yang telah melewati suatu tahap pendidikan formal
teologia dianggap "lebih tinggi" ketimbang kaum awam atau anggota
jemaat biasa yang tidak memiliki pendidikan serupa. Secara teoretis mestinya
begitu, terutama dalam lingkup organisasi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
(GMAHK) yang mewajibkan seorang pendeta untuk lebih dulu menempuh pendidikan
teologia formal setara strata satu (S1 atau Sarjana Agama) dari lembaga
pendidikan tinggi yang dikelola oleh organisasi gereja MAHK. Namun sesuai
dengan paham alkitabiah bahwa setiap pengikut Kristus pada prinsipnya adalah
seorang penginjil, dan berpedoman pada asas alkitabiah priesthood by
all believers (keimamatan oleh semua orang percaya) yang juga dianut
oleh Gereja MAHK, maka kaum awam harus dilatih untuk menjadi pelayan injil yang
trampil di dalam maupun di luar gereja.
Salah satu cara pembinaan sistematis dan berkelanjutan adalah melalui
pendalaman Alkitab dengan materi Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat, atau
populer sebagai Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa (PSSD), yang dibahas di
kelompok-kelompok Unit Kerja Sekolah Sabat (UKSS) yang diadakan di tiap jemaat
dan diikuti oleh semua anggota termasuk para rohaniwan. Jadi, materi PSSD
dibahas bersama-sama antara semua anggota jemaat, yaitu kaum awam maupun
rohaniwan, dan melalui diskusi interaktif inilah doktrin-doktrin Alkitab
didalami oleh semua. Pembelajaran juga diadakan mulai dari tingkat balita,
kanak-kanak, pra-remaja, remaja dan pemuda untuk mendidik mereka sejak dini.
MAHK adalah gereja yang progresif yang mendorong dan memberi keleluasaan kepada
setiap kaum awam untuk berpartisipasi dalam liturgi maupun pelayanan injil.
Dalam hal ini, "kaum awam" tidak harus secara kaku diartikan sebagai
kelompok yang "lebih rendah" pengetahuan Alkitabnya dibandingkan
dengan rohaniwan profesional. Dalam sejarah gereja Advent, tidak sedikit
pemahaman doktrin Alkitab yang merupakan kontribusi pemikiran dari
anggota-anggota awam berkat adanya komitmen dan sikap seperti ini.
Amos, nabi kaum awam. Dalam ulasan pelajaran pekan lalu kita
sudah mengenal siapa Amos, seorang petani dan peternak dari kampung Tekoa di
Yehuda yang menerima panggilan ilahi untuk berkhotbah dan bernubuat bagi
Tuhan kepada umat Israel di Betel dan Samaria. Barangkali, ketika meninggalkan
desanya Amos tidak berangkat dengan perasaan sebagai seorang nabi yang baru
diangkat, atau merasa seperti seorang pendeta muda tamatan sekolah seminari
yang baru ditahbiskan dan siap membangun karirnya yang dimulai dengan tugas
penggembalaan di suatu tempat. Dia tetaplah seorang pemuda desa yang sederhana,
seorang kaum awam, tetapi dengan rasa tanggungjawab bahwa dia sudah dipilih
Allah untuk menjadi jurubicara-Nya. Hanya karena iman dan sifat pemberaninya
saja yang membuat dia berangkat tanpa ragu.
Amazia, imam di kota Betel, tidak menyukai nubuatan-nubuatan yang
dikumandangkan Amos perihal bangsa Israel dan raja Yerobeam karena isinya
sangat mengerikan. Lalu imam itu melapor kepada raja, tak lupa dibumbui dengan
fitnah seolah-olah sang nabi telah berkomplot dengan rakyat untuk menggulingkan
raja. Tidak jelas apa reaksi raja terhadap laporan tersebut, tapi setelah
melapor imam itu langsung keluar dan menemui Amos. "Hai nabi, pulanglah ke
Yehuda! Berkhotbahlah di sana. Biarlah mereka yang memberi nafkah
kepadamu! Jangan lagi berkhotbah di Betel. Kota ini khusus untuk raja, dan
tempat ibadah nasional," katanya kepada nabi itu (Am. 7:12-13, BIMK).
Terhadap pengusiran yang bernada menghina tersebut, sang nabi
menyahut: "Aku bukan nabi karena jabatan. Sebenarnya aku peternak dan
pemetik buah ara. Tapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaanku, dan menyuruh
aku menyampaikan pesan-Nya kepada orang Israel" (ay. 14-15, BIMK). Sesudah
mengucapkan itu Amos lalu bernubuat tentang nasib tragis yang bakal menimpa
Amazia dan keluarganya (ay. 17).
"Dalam tanggapannya kepada imam itu, Amos menegaskan bahwa panggilan
kenabiannya datang dari Allah. Dia mengaku bahwa dirinya bukan seorang nabi
profesional yang bisa diupah untuk pelayanannya. Amos menjauhkan dirinya dari
nabi-nabi profesional yang bernubuat demi keuntungan...Akan tetapi, mengatakan
kebenaran sama sekali tidak menjamin sambutan penerimaan, oleh sebab kebenaran
seringkali bisa tidak menyenangkan, dan--kalau itu mengganggu mereka yang
sedang berkuasa--hal itu dapat menimbulkan perlawanan serius" [alinea
ketiga; dan alinea keempat: kalimat pertama, huruf miring ditambahkan].
Apa yang kita pelajari tentang panggilan Amos sebagai seorang nabi?
1. Seseorang tidak harus menjadi "profesional" dulu baru
bisa digunakan oleh Tuhan untuk pekerjaan pelayanan-Nya. Allah tidak memanggil
orang yang sanggup, tetapi Dia menyanggupkan orang yang dipanggil-Nya.
2. Amos adalah representasi dari golongan "kaum awam" dan orang-orang
biasa yang dipanggil Tuhan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Dalam
melayani Tuhan, kriteria yang paling utama adalah ketulusan hati dan kesediaan
untuk digunakan Allah.
3. Kualifikasi yang dibutuhkan untuk menyampaikan kebenaran bukanlah kecakapan,
melainkan keberanian. Berani berkata benar di atas yang benar sekalipun langit
runtuh, dan tidak mempan terhadap rayuan untuk berkompromi, itulah ciri-ciri
profesionalisme sejati yang diperlukan dalam pekerjaan Tuhan.
4. BUSUNG LAPAR ROHANI (Jenis Kelaparan yang Terburuk)
Ketika Allah bungkam. Kehidupan bangsa Israel tidak pernah
lepas dari tuntunan firman Allah melalui nabi-nabi-Nya, mulai dari saat mereka
meninggalkan negeri perhambaan Mesir hingga memasuki dan bermukim di tanah
perjanjian Kanaan. Bangsa Israel purba terbiasa mendapatkan petunjuk maupun
nasihat yang langsung dari Tuhan melalui komunikasi lisan lewat para nabi.
Karena itu nubuatan nabi Amos sungguh mengejutkan. "Akan tiba saatnya Aku
mendatangkan bencana kelaparan di negeri ini. Orang akan lapar, tapi bukan
lapar akan makanan. Orang akan haus, tapi bukan haus akan air. Mereka lapar dan
haus akan pesan-Ku. Orang akan mengembara dari utara ke selatan dan dari
timur ke barat untuk mendapatkan pesan-Ku, tapi mereka tidak akan
menemukannya," katanya mengumumkan (Am. 8:11-12, BIMK).
Sistem pemerintahan Israel purba semula adalah teokrasi di mana bangsa itu
diperintah langsung oleh Allah melalui nabi-Nya. Sesudah bermukim di Kanaan
rakyat menuntut perubahan dan menghendaki sistem pemerintahan monarki, sebab
mereka ingin dipimpin oleh seorang raja seperti bangsa-bangsa kafir di sekitar
mereka. Meskipun tuntutan ini menyakiti hati Allah namun Ia memenuhi kehendak
mereka (baca 1Sam. 8:6-9). Atas petunjuk Tuhan nabi Samuel
lalu pergi mengurapi Saul, anak Kish dari suku Benyamin, menjadi raja pertama
bangsa Israel (1Sam. 10:1) dan rakyat menyambutnya penuh suka (ay. 23-24).
Mula-mula raja Saul yang masih belia itu memerintah dengan baik dan taat kepada
Tuhan, tapi belakangan dia menjadi sombong dan keras hati lalu mengabaikan
Tuhan. Allah kemudian menolak dia dan memilih Daud sebagai penggantinya. Saul
masih tetap bercokol di istana sekalipun telah kehilangan legitimasi, dan pada
saat yang kritis itu tentara Filistin siap untuk menyerbu. Nabi Samuel sudah
wafat, dan Allah sengaja belum menunjuk nabi yang lain. Dalam ketakutannya Saul
berusaha mencari petunjuk Allah tetapi tidak mendapatkannya sehingga dia pergi
kepada seorang perempuan peramal nasib (1Sam. 28:6-7). Kevakuman yang sama
kembali mengancam Israel.
Nubuatan nabi Amos tentang "kelaparan rohani" yang akan melanda
Israel adalah juga akibat kesombongan dan kekerasan hati bangsa itu sebab
pikiran mereka telah dikuasai oleh keduniawian. Tetapi tidak seperti raja Saul
yang memang ditolak Allah, dalam kasus bangsa Israel pada zaman nabi Amos
mereka sendiri yang menolak Allah. Akibatnya Tuhan menghukum mereka dengan dua
bentuk kelaparan berturut-turut, yaitu kelaparan jasmani dan
rohani. "Tragedi yang akan lebih menonjol di atas yang lain ialah
kelaparan akan Firman Allah karena Allah akan bungkam, dan tidak ada kelaparan
yang lebih buruk...Seringkali ketika bangsa Israel mengalami kesulitan yang
besar, mereka akan berpaling kepada Tuhan untuk mendapatkan perkataan nubuat
dalam pengharapan akan tuntunan. Kali ini jawaban Allah akan tetap membisu.
Suatu bagian dari penghakiman Allah atas umat-Nya akan berupa penarikan Tuhan
akan Firman-Nya melalui nabi-nabi-Nya" [alinea pertama: kalimat terakhir;
dan alinea kedua].
Sebelum
terlambat. Pada
zaman Yesus, ketika keturunan Israel itu secara politik berada di bawah
kekuasaan kekaisaran Romawi, pelayanan rohani menjadi urusan dan tanggungjawab
rabi-rabi dan para pemuka agama. Tetapi tampaknya pelayanan itu terabaikan oleh
sebab para pemimpin agama sibuk mengurus kepentingan diri sendiri. Yesus
melihat penelantaran ini dan Dia pergi mengajar injil dari kampung ke kampung,
sambil melakukan pelayanan-pelayanan kemanusiaan seperti menyembuhkan orang
sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir roh-roh jahat dari tubuh
korban-korban (Mat. 9:35). "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati
Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan
terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (ay. 36; huruf
miring ditambahkan).
Peradaban
moderen juga pernah mengalami situasi seperti dialami orang Israel purba ketika
manusia tidak memiliki akses kepada Firman Tuhan sebagai pedoman hidup, yaitu
pada masa yang disebut "zaman kegelapan." Zaman yang juga dikenal
dengan "Abad Pertengahan" itu berlangsung dari abad ke-5 sampai abad
ke-15, yaitu setelah runtuhnya kekaisaran Romawi dan munculnya kekaisaran
Byzantium yang berpusat di ibukota Byzantium (belakangan menjadi
"Constantinople" atau "kotanya Constantine"). Pada masa itu
agama dikendalikan oleh negara, Alkitab cuma tersedia dalam bahasa Latin dan
hanya boleh dibaca oleh kaum paderi dan pemuka agama. Masyarakat luas tidak
mempunyai akses terhadap Alkitab, dan Gereja dengan leluasa memanipulasi Firman
Tuhan itu, sampai tiba era Reformasi Protestan di abad ke-16 dan ke-17 melalui
gerakan perlawanan oleh Martin Luther dkk.
Sekarang
ini, menurut data United Bible Society, per 31 Desember 2011
Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 2530 bahasa dan dialek di seluruh dunia.
Bahkan, data pada Wycliffe Bible Translators menyebutkan angka
2798 bahasa dan dialek termasuk salinan Alkitab yang terbatas atau tidak
seluruh bagian secara lengkap, di antaranya sekitar 30 dialek atau bahasa
daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia seperti
yang saya miliki. Namun, sementara Alkitab yang kita percaya berisi Firman
Allah itu sekarang dapat dengan mudah kita miliki--termasuk dalam bentuk
aplikasi yang dapat diunduh secara gratis di komputer tablet maupun ponsel
cerdas, dalam berbagai bahasa dunia--pertanyaan yang penting di sini adalah:
Seberapa seringkah anda dan saya membaca dan mendalaminya untuk menjadi pedoman
hidup dan sumber kekuatan iman? Mungkin Alkitab tidak akan pernah ditarik lagi
dari masyarakat seperti terjadi pada zaman kegelapan dulu, tetapi ancaman yang
lebih menakutkan adalah jika Roh Allah ditarik dari dunia ini dan kita
kehilangan penuntun bahkan keinginan untuk membaca firman Tuhan.
"Jika
umat Allah terus membandel, sang nabi berkata, waktunya akan datang bilamana
mereka akan ingin sekali untuk mendengar pekabaran, tetapi sudah terlambat
untuk berpaling kepada firman Allah dalam pengharapan untuk luput dari
penghakiman...Seperti Saul sebelum pertempurannya yang terakhir (1Sam. 28:6),
manusia suatu hari kelak akan menyadari betapa mereka membutuhkan Firman
Allah" [alinea ketiga: kalimat pertama dan kalimat terakhir].
Apa
yang kita pelajari tentang jenis kelaparan terburuk yang akan melanda manusia?
1.
Diutusnya nabi Amos kepada bangsa Israel purba membuktikan bahwa Tuhan masih
berkenan berhubungan dengan umat-Nya. Tetapi karena bangsa itu menolak
pekabaran-Nya, Tuhan menghukum mereka dengan menutup hubungan komunikasi ilahi
itu.
2. Absennya
firman Allah adalah "bencana kelaparan rohani" bagi satu umat yang
hidupnya mengandalkan tuntunan firman Allah, karena sekarang mereka dibiarkan
hidup dalam kegelapan. Situasi yang sama dapat dialami umat Allah pada zaman
akhir jika terus menolak amaran Tuhan.
3.
Dalam konteks umat Tuhan zaman ini, kelaparan rohani itu bukan karena Alkitab
yang berisi Firman Allah tidak tersedia lagi, melainkan ditariknya Roh Allah
sebagai satu-satunya Penerang terpercaya yang dapat memberi pengertian
sesungguhnya tentang Firman yang tertulis.
5. PEKABARAN UNTUK SEGALA BANGSA (Reruntuhan
Yehuda Dipulihkan)
Hari
penampian. Amos
pasal 9 diawali dengan penglihatan sang nabi mengenai Bait Suci di mana Allah
tampak sedang berdiri di dekat mezbah. Allah berada di tempat kudus itu bukan
membawa berkat melainkan mendatangkan kehancuran. Ia memerintahkan supaya
tiang-tiang tempat kudus itu diguncang sampai kayu-kayunya runtuh menimpa
kepala orang-orang yang berada di situ. Penglihatan Amos yang terakhir ini
berbicara perihal penghakiman Allah atas umat-Nya yang terus membangkang.
"Hulu tiang" dan "ambang-ambang" (ay. 1) merupakan bagian
paling kokoh pada suatu bangunan sehingga apabila bagian-bagian itu runtuh maka
dengan sendirinya seluruh bangunan akan roboh. Ini merupakan penghancuran total
atas sebuah bangunan lama yang hendak dibangun kembali. Jadi, ini bukan sekadar
renovasi tapi pembangunan kembali.
Selanjutnya
nabi itu mendengar Tuhan berkata, "Aku akan memberi perintah dan menampi
bangsa Israelseperti orang menampi gandum dalam nyiru. Untuk menyingkirkan
semua yang tak berguna di antara mereka, Aku akan mengocok mereka di
antara bangsa-bangsa" (Am. 9:9, BIMK; huruf miring ditambahkan). Ini sama
seperti ucapan Yohanes Pembaptis yang bertutur tentang Yesus Kristus, "Di
tangan-Nya ada nyiru untuk menampi semua gandum-Nya sampai bersih. Gandum
akan dikumpulkan-Nya di dalam lumbung, tetapi semua sekam akan dibakar-Nya di
dalam api yang tidak bisa padam!" (Luk. 3:17, BIMK).
Nabi
Amos menyebut peristiwa ini sebagai "hari Tuhan" (Am. 5:18, 20),
sebuah hari penghakiman yang pelaksanaannya harus dimulai dari "rumah
Allah sendiri" atau pada lingkungan umat-Nya (1Ptr. 4:17). Namun
penghakiman Tuhan itu tidak hanya membawa pehukuman atas mereka yang dianggap
sebagai sekam, tapi juga menyediakan keselamatan bagi mereka yang tergolong
sebagai gandum. "Hari Tuhan, sebelumnya digambarkan sebagai hari
penghukuman (Amos 5:18), sekarang adalah hari keselamatan sebab keselamatan,
bukan hukuman, adalah perkataan Allah yang terakhir kepada umat-Nya. Meskipun
demikian, keselamatan akan datang sesudah penghukuman, bukan sebagai
gantinya" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
Hari
pemulihan. Jadi,
"hari Tuhan" mengandung dua sisi negatif dan positif: sebagai hari
pehukuman bagi orang jahat dan sebagai hari keselamatan bagi
orang benar. Dalam konteks Israel purba, khususnya terkait dengan pekabaran nabi
Amos, dua sisi dari "hari Tuhan" itu adalah saat di mana sebagian
besar rakyat dan pemimpin bangsa yang bersalah itu dihukum, sedangkan sebagian
lagi yang tetap setia dan benar diselamatkan. Orang-orang yang dianggap tidak
berguna ("sekam") akan disingkirkan, tetapi mereka yang tergolong
berharga ("gandum") akan dipulihkan.
"Para
nabi Alkitab tidak mengajarkan bahwa pehukuman Allah adalah demi pehukuman itu
sendiri. Di balik hampir semua amaran adalah seruan penebusan. Meskipun ancaman
pembuangan sudah dekat, Tuhan menguatkan umat yang sisa dengan janji pemulihan
pada negeri itu. Umat yang sisa akan menikmati pembaruan dari perjanjian itu.
Mereka yang mengalami pehukuman akan melihat tindakan Allah untuk menyelamatkan
dan memulihkan" [alinea ketiga].
Dalam
skala yang lebih luas, janji pemulihan itu berlaku bukan saja bagi bangsa
Israel sebagai umat pilihan Tuhan berdasarkan "perjanjian lama" yang
diadakan Allah dengan Abraham, tetapi juga meliputi segala bangsa berdasarkan
"perjanjian baru" di dalam Yesus Kristus. Seperti kata-kata pembelaan
rasul Yakobus yang mengutip nubuatan nabi Amos, bahwa umat yang disebut sebagai
"milik Allah" itu bukan hanya bangsa Israel saja tapi juga
bangsa-bangsa lain di dunia (Kis. 15:13-20; Am. 9:11-12). Bahkan, Yesus Kristus
sendiri sudah menegaskan, "Sesungguhnya akan datang waktunya...Aku akan
mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum
Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang
mereka..." (Ibr. 8:8-9; huruf miring ditambahkan). Dengan demikian,
pekabaran Amos mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dari sekadar bangsa
Israel purba pada zamannya saja, tetapi pekabaran itu juga relevan dan efektif
untuk semua umat Tuhan sepanjang masa.
Pena
inspirasi menulis: "Tuhan memperhatikan umat-Nya satu persatu; Dia
mempunyai rencana-rencana bagi masing-masing. Adalah menjadi tujuan-Nya agar
mereka yang mempraktikkan prinsip-prinsip-Nya yang suci haruslah menjadi
orang-orang yang terhormat. Kepada umat Allah zaman ini maupun kepada Israel
purba berlaku perkataan yang ditulis oleh Musa melalui ilham Roh: 'Sebab
engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh
TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat
kesayangan-Nya.' Ulangan 7:6" (Ellen G. White, Testimonies for the
Church, jld. 6, hlm. 12).
Apa
yang kita pelajari tentang keruntuhan dan pemulihan Yehuda?
1.
Penglihatan Amos yang terakhir adalah pekabaran tentang penghakiman Allah atas
Israel dan Yehuda, yang disertai dengan penampian atas umat itu, merupakan
pekabaran rangkap dua yang mengandung "pehukuman" dan
"pemulihan."
2.
Pekabaran nabi Amos yang terakhir itu bukanlah sebuah pekabaran yang sifatnya
eksklusif bagi bangsa Israel purba saja, tapi itu juga mencakup semua bangsa
pada segala zaman. Sebab umat yang disebut "milik Allah" bukan
terbatas orang Yahudi saja tapi juga segala bangsa.
3.
Israel purba memiliki keistimewaan oleh karena mereka adalah bangsa yang
dipilih Allah berdasarkan perjanjian lama melalui siapa "prinsip-prinsip
surgawi yang suci" dan "rencana keselamatan ilahi" seyogianya
disebarkan ke seluruh dunia. Dengan kegagalan Israel maka tanggungjawab itu
dibebankan kepada kita berdasarkan perjanjian baru di dalam Yesus Kristus.
PENUTUP
Membedakan
benar dan salah. Kekristenan
itu bersifat progresif, tidak statis. Kehidupan orang Kristen tak dapat tidak
harus mengalami pertumbuhan rohani yang ditandai dengan pembaruan dalam
perilaku dan gaya hidup. Melalui pertumbuan dan perubahan itu kita dapat
menjadi sebagai anak-anak Allah yang semakin bertambah dewasa serta matang
dalam pergumulan kita untuk semakin menyerupai Kristus. Rasul Paulus
menasihati, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan
yang sempurna" (Rm. 12:2; huruf miring ditambahkan).
"Derajat
kita di hadapan Allah bukan bergantung pada banyaknya terang yang telah kita
terima, tetapi pada penggunaan dari apa yang kita miliki. Dengan demikian orang
kafir sekalipun yang memilih apa yang benar sejauh yang dapat mereka bedakan,
berada dalam satu keadaan yang lebih berkenan daripada mereka yang telah
memiliki terang yang besar dan mengaku melayani Allah tetapi mengabaikan terang
itu dan kehidupan mereka sehari-hari berlawanan dengan pengakuan mereka"
[alinea pertama].
Dalam
perkataan lain, memiliki "terang kebenaran" seperti yang sering
dibanggakan oleh banyak orang, tidak menjamin bahwa kedudukan mereka di hadapan
Tuhan adalah lebih baik ketimbang orang-orang lain yang dianggap tidak atau
kurang mendapat terang kebenaran. Ini penting untuk diperhatikan, khususnya
bagi sebagian orang yang karena "rajin" mengikuti pendalaman Alkitab
dan mendengarkan uraian-uraian yang dianggap "baru" lalu merasa diri
lebih berpengetahuan dan lebih benar daripada orang-orang lain. Terang
kebenaran itu penting untuk dipelajari, sejauh "terang" itu sudah
melalui suatu pengkajian dan pengujian (1Tes. 5:21; 1Yoh. 4:1). Namun yang lebih
penting lagi ialah kalau kita menggunakan pengetahuan kebenaran itu untuk
mencapai "kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan
kepenuhan Kristus" (Ef. 4:13).
"Carilah
TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan
rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya,
dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya"
(Yes. 55:6-7).
SUMBER :
1. Zdravko
Stefanofic, Profesor bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama, Universitas Walla
Walla,U.S.A--- Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.II, 2013.
Bandung: Indonesia Publishing House.
2. Loddy Lintong,
California U.S.A.