Jumat, 14 Maret 2014

10. PEKABARAN BAGI SEGALA BANGSA.


 

"MEMURIDKAN BANGSA-BANGSA"

PENDAHULUAN

 Injil untuk semua bangsa. 

Alasan pokok dari instruksi Yesus kepada murid-murid-Nya yang mula-mula agar pergi dan "jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Mat. 28:19) ialah karena Yesus sudah menyerahkan diri-Nya "sebagai tebusan bagi semua manusia" (1Tim. 2:6), "supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia" (Ibr. 2:9). Mengabaikan penginjilan kepada semua bangsa adalah pengingkaran terhadap hakikat kematian penebusan Kristus untuk semua manusia di dunia.

 Allah tidak menciptakan bangsa-bangsa; Ia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, supaya beranak-cucu dan memenuhi bumi ini (Kej. 1:27-28), sehingga Hawa disebut "ibu semua yang hidup" (Kej. 3:20). Bangsa-bangsa baru muncul setelah air bah melalui keturunan dari tiga anak Nuh--Sem, Ham dan Yafet--sekitar 4500 tahun lampau. Keluarga Nuh yang terdiri atas delapan orang, istrinya ditambah tiga anak lelaki dan tiga menantu, adalah satu-satunya keluarga yang bertahan hidup karena tinggal di dalam bahtera sesuai dengan rencana Allah (Kej. 7:13; 2Ptr. 2:5), sementara bumi ini seluruhnya diliputi air dan memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa (Kej. 6:17). Sebagian orang berkata bahwa air bah tersebut hanya terjadi secara lokal saja, tetapi pendapat itu tidak didukung nalar. Kalau air bah hanya terjadi di wilayah setempat dan tidak menggenangi seluruh bumi mestinya tidak perlu harus membangun bahtera yang menyita waktu, tetapi cukup menyuruh keluarga Nuh bermigrasi ke sebuah tempat yang aman. Selain itu, kalau air bah hanya bersifat lokal, seharusnya tidak perlu menyelamatkan semua spesis hewan dan unggas secara berpasang-pasangan (Kej. 6:19-20).

    Adalah menarik bahwa sekali waktu Yesus pernah seakan menolak untuk memenuhi permohonan seorang wanita bangsa Kanaan agar Yesus menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan, dengan berkata: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" (Mat. 15:24). Sebelum itu, ketika mengutus murid-murid-Nya pergi menginjil, Yesus juga berpesan: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" (Mat. 10:5-6). Apakah Yesus kemudian berubah pikiran? Jawabnya, tidak! Sebab Yesus sendiri telah menginjil kepada perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh. 4:7-15). Namun, seperti kata rasul Paulus, injil itu memang datang dari orang Yahudi, baru kemudian dari orang Yahudi kepada bangsa-bangsa lain (Rm. 1:16).

    "Dari mulanya pekabaran Kristus diperuntukan bagi setiap orang di mana saja. Pada mulanya injil telah disampaikan ke seluruh dunia, karena injil itu berlaku secara universil...Yesus, Kerinduan Bangsa-bangsa itu, tidak terbatas hanya untuk satu kelompok. Keselamatan bisa saja dari orang Yahudi, tetapi itu untuk semua orang. Pengikut-pengikut Kristus akan melampaui batas-batas nasional, konflik-konflik internasional, perbedaan-perbedaan bahasa dan kesulitan-kesulitan lain, karena Ia Sendiri yang sudah menetapkan pola penginjilan lintas budaya" [alinea pertama: dua kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

1.   JANJI YANG DIGENAPI (Nubuatan Para Nabi)

 Menjadi berkat bagi bangsa lain. Israel (purba) adalah umat pilihan Tuhan atas perjanjian dengan Abraham, tetapi bukan berarti hanya mereka saja yang hendak diselamatkan. Janji Allah kepada Abraham ialah, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; danengkau akan menjadi berkat" (Kej. 12:2; huruf miring ditambahkan). Allah memilih Israel dalam rangka menyelamatkan umat manusia, dengan demikian keturunan Abraham itu dapat "menjadi berkat" bagi dunia. Janji-janji ini diulangi kembali setelah Abraham lulus dalam ujian paling berat, yaitu ketika dia diminta untuk mengorbankan Ishak, anak perjanjian itu. "Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,karena engkau mendengarkan firman-Ku" (Kej. 22:18; huruf miring ditambahkan). Berkat apa?

    Dalam tulisan nabi Yesaya kita menemukan petunjuk tentang rencana Allah atas bangsa Israel yang akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, yaitu "orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya" (Yes. 56:6). Israel akan menjadi bagaikan gunung Tuhan di mana "bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana" untuk mendengar Tuhan yang akan mengajarkan tentang jalan-jalan-Nya "sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman Tuhan dari Yerusalem" (Mi. 4:1-2). Bahkan, Tuhan juga mengirim hamba-hambaNya untuk mempertobatkan dan menyelamatkan bangsa kafir, misalnya nabi Yunus yang menjadi missionaris ke Niniwe (Yun. 3:7-10).
  "Nabi-nabi zaman purba menubuatkan pertobatan bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kafir) kepada iman yang didasarkan pada Kitabsuci. Dewa-dewa kafir, penyembahan berhala, dan gaya hidup yang merusak akan ditumbangkan oleh penyerahan kuat dan iman kepada Tuhan. Musuh-musuh Israel akan berdatangan ke Yerusalem memohon untuk masuk, karena haus akan pengetahuan rohani. Tugas Israel ialah untuk memashurkan undangan Allah yang universal kepada bangsa-bangsa sekitar" [alinea pertama].

 Tantangan orang Kristen. 

   Sesudah Yesus naik ke surga murid-murid-Nya yang pertama dan rasul-rasul memenuhi tugas untuk menyampaikan Kabar Baik tentang keselamatan kepada bangsa-bangsa kafir, khususnya melalui Paulus yang memang telah dipilih Allah untuk menjadi penginjil kepada orang kafir (Rm. 11:13). Dalam suatu audiensi dengan raja Agripa, rasul Paulus bersaksi mengenai missi khususnya kepada orang-orang kafir, yaitu "untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka...memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan" (Kis. 26:18). Di awal suratnya kepada jemaat di Roma sang rasul juga mengidentifikasikan dirinya sebagai pemberita injil dengan menulis, "Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci" (Rm. 1:1-2).

    Selain Paulus, kita juga membaca tentang Filipus yang menginjil kepada menteri keuangan Etiopia yang namanya tak disebutkan (Kis. 8:26-39). Petrus menjadi missionaris ke Babel (1Ptr. 5:13) dan mungkin Turki di sebelah timur, tetapi tidak ada indikasi bahwa dia pernah pergi ke Roma di sebelah barat seperti yang diklaim oleh gereja Katolik Roma. Andreas juga pergi ke Turki (Asia Kecil) terus ke Masedonia melalui Korintus dan terakhir mendarat di Patros di mana dia mati sebagai syuhada. Yakobus menginjil sampai ke Spanyol, sedangkan Yohanes menginjil dan menggembalakan jemaat-jemaat di Efesus dan sekitarnya. Matius menginjil sampai ke Iran (Persia), sementara Bartolomeus bersama Filipus juga berangkat ke Asia Kecil bahkan sampai ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Azerbaijan dan mati di sana. Matias, murid yang dipilih oleh para murid untuk menggantikan tempat Yudas Iskariot yang berkhianat (Kis. 1:23-26), pergi sampai ke Armenia.
   "Sayangnya, secara umum bukan seperti itulah yang terjadi, sementara Israel menjadi sangat terfokus kepada diri sendiri sehingga kehilangan pandangan akan tujuannya yang lebih besar, dan seringkali kehilangan pandangan akan Allah yang telah memberikan kepada mereka begitu banyak...Orang-orang Kristen zaman moderen menghadapi tantangan serupa. Akankah mereka berkorban untuk memajukan injil, atau akankah mereka menjadi terfokus kepada diri sendiri dan melupakan tujuan mereka yang lebih besar? Itu adalah perangkap ke dalam mana kita lebih mudah terperosok daripada yang kita sadari" [alinea keempat dan kelima].

 Apa yang kita pelajari tentang nubuatan para nabi perihal Israel sebagai sumber Kabar Baik?

1. Allah berniat menyelamatkan semua bangsa, untuk itu Ia memilih keturunan Abraham sebagai saluran berkat keselamatan. Rencana ini gagal karena bangsa Israel yang terlalu egois lebih fokus pada diri sendiri. Bahkan nabi Yunus, missionaris yang berhasil, marah karena bangsa Niniwe bertobat dan selamat (Yun. 4:1).

2. Meskipun secara umum bangsa Israel gagal menjadi saluran berkat bagi bangsa lain, Kabar Baik tentang keselamatan dapat menjangkau bangsa-bangsa lain melalui penginjilan secara orang per orang, terutama melalui murid-murid Yesus dan para rasul yang mula-mula. Bagaimana pun Kekristenan berhutang budi pada orang Yahudi dalam hal ini.

3. Sebagai orang Kristen kita mengemban tugas yang sama dengan para rasul, yaitu menjangkau semua bangsa dan menjadikan mereka murid-murid Yesus. Kita dapat melakukan itu tanpa harus menjadi missionaris yang dikirim ke luar negeri, selama kita menjaga terang kebenaran Kristus terus menyala dalam hidup kita dan di mana kita berada.

2. TANGGUNGJAWAB DAN KEUNTUNGAN (Celakalah Kamu!)

 Tanggungjawab sebagai orang Kristen. 

Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum adalah tiga kota di mana Yesus tercatat paling banyak mengajar dan mengadakan mujizat. Ketiga kota ini sering dijuluki "Evangelical Triangle" (Segitiga Penginjilan). Ketiganya adalah kota-kota Israel yang terdapat di wilayah Galilea, yang dalam keadaan sekarang lebih tepat disebut desa atau kampung, tapi pada abad pertama dapat dianggap sebagai kota karena jumlah penduduknya yang lebih banyak dan lebih padat dibandingkan tempat-tempat lain. Khorazim yang terkenal dengan tanahnya yang subur karena dekat dengan gunung berapi terletak sekitar 3 Km sebelah utara Kapernaum, sedangkan Betsaida adalah kota nelayan di pesisir danau Galilea yang juga berjarak sekitar 3 Km sebelah timur Kapernaum. Betsaida adalah kampung asal dari Filipus, Petrus dan Andreas (Yoh. 1:43-45).

    Pada kesempatan lain Yesus menegaskan, "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut" (Luk. 12:48). Di sini Yesus sedang menjawab pertanyaan Petrus setelah Guru mereka itu berbicara mengenai kewaspadaan yang dituntut dari para pengikut-Nya dalam menantikan kedatangan-Nya. Setiap terang kebenaran ilahi yang kita peroleh itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Tuntutan yang logis dan cukup adil.

    "Kristus ingin agar umat-Nya sendiri, yaitu mereka yang memiliki begitu banyak keuntungan, supaya bangun sesuai dengan panggilan dan maksud mereka yang sebenarnya sebagai satu umat. Ia ingin agar mereka melihat bahwa keselamatan, sekalipun itu untuk bangsa pilihan, bukanlah sesuatu yang dibawa lahir. Keselamatan tidak diturunkan melalui gen atau hak kelahiran. Itu adalah sesuatu yang menuntut pilihan secara sadar untuk menerimanya, sebuah pilihan yang meski bukan orang Israel pun bisa buat seperti yang telah mereka lakukan" [alinea pertama].

 Keuntungan sebagai orang Kristen. 

   Yesus berkata, "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala"(Yoh. 10:16; huruf miring ditambahkan). Apakah yang Yesus maksudkan di sini ialah bahwa yang bakal masuk surga nanti bukan hanya orang Kristen saja, tapi juga orang-orang lain yang bukan Kristen? Kalau begitu, apa gunanya menjadi orang Kristen? Kalau tuntutan tanggungjawab "lebih berat" pada orang Kristen, khususnya dalam hal penurutan dan kehidupan yang menyerupai Kristus, lalu apa untungnya menjadi orang Kristen?

 Petrus mempunyai kepedulian yang sama ketika dia berkata kepada Tuhan Yesus, "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" (Mrk. 10:28). Mungkin kalau dilanjutkan dia akan bertanya, "Sekarang apa untungnya bagi kami?" Atas pernyataan itu Yesus menanggapi bahwa bagi seseorang yang telah meninggalkan semuanya "karena Aku dan dan karena injil" (ay. 29) maka orang itu "sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat" (ay. 30; huruf miring ditambahkan). Tentu saja perkataan Yesus ini tidak harus dipahami secara harfiah. Dalam Roma 8 rasul Paulus menyebut beberapa keuntungan menjadi orang Kristen: Kebebasan dari hukuman dan kemerdekaan dari maut (ay. 1-2); tidak diperbudak oleh keinginan daging, tapi dikuasai oleh keinginan Roh (ay. 6, 9); dibangkitkan dengan tubuh yang fana untuk diubahkan (ay. 11); disebut sebagai anak-anak Allah (ay. 14-16); menjadi pewaris janji-janji Allah (ay. 17); memperoleh kemuliaan sebagai anak-anak Allah yang membuat penderitaan hidup sekarang ini menjadi tidak berarti (ay. 18, 21); Roh akan menyempurnakan doa-doa kita (ay. 26-27); dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan (ay. 30); tidak takut terhadap apapun dan siapapun karena Allah di pihak kita (ay. 31); tidak ada kuasa apapun yang mampu memisahkan dari kasih Kristus (ay. 35-39).

 "Sebagian orang mungkin memiliki banyak keuntungan rohani yang orang lain tidak miliki, tetapi orang-orang yang mempunyai keuntungan-keuntungan ini harus sadar bahwa apapun yang telah diberikan kepada mereka itu semua adalah pemberian dari Allah untuk digunakan demi kemuliaan-Nya dan bukan milik mereka sendiri" [alinea terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang tanggungjawab dan keuntungan sebagai orang Kristen?

1. Menjadi orang Kristen adalah suatu kesempatan istimewa oleh sebab pengalaman-pengalaman hidup kerohanian yang tidak bakal dialami oleh mereka yang bukan pengikut Kristus. Tidak ada orang yang memiliki pergumulan hidup seberat yang dialami oleh orang Kristen yang taat dan setia, lalu menang.

2. Sementara menjadi pengikut Kristus harus melalui ujian hidup bagaikan emas yang dimurnikan di dalam api, pada waktu yang bersamaan orang Kristen juga memperoleh terang kebenaran ilahi yang membuatnya lebih paham akan rencana dan maksud Allah pada nasib manusia dan apa yang akan terjadi atas bumi ini kelak.

3. Orang dunia cenderung mengaitkan segala sesuatu dengan keuntungan pribadi, tetapi orang Kristen sejati selalu melihat dari sudut pandang pengorbanan. Seperti Paulus, orang Kristen akan berkata, "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp. 1:21), dan "apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus" (Flp. 3:7).

3. KEHIDUPAN YANG MENAMPILKAN YESUS ("Kami Ingin Bertemu Dengan Yesus")

    Kerinduan beberapa orang Yunani. 

   Sambutan massa yang mengelu-elukan Yesus saat memasuki kota Yerusalem hari itu sungguh di luar dugaan siapapun. Sesungguhnya, kedatangan Yesus ke Yerusalem yang gemilang itu sebelumnya sudah dinubuatkan oleh nabi Zakharia (baca Za. 9:9). Sementara orang banyak menyambut Yesus dengan teriakan "Hosana!" (artinya: Selamatlah sekarang), orang-orang Farisi menggerutu dan menyaksikannya dengan resah. "Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia" (Yoh. 12:19; huruf miring ditambahkan). Kegelisahan mereka dapat dimengerti, sebab selain penduduk kota Yerusalem terdapat juga wisatawan-wisatawan mancanegara yang menunjukkan kerinduan mereka untuk melihat Yesus. Kerinduan orang-orang asing itu untuk melihat Yesus mengingatkan kita pada orang-orang Majus dari timur yang sengaja datang jauh-jauh untuk melihat Yesus ketika Raja atas segala raja itu baru lahir (Mat. 2:1-7), sementara penduduk setempat tidur lelap dalam ketidaktahuan dan ketidakpedulian mereka.

    Setelah Filipus bersama Andreas menyampaikan hal itu kepada Yesus, Guru mereka itu menanggapinya dengan berkata, "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan" (Yoh. 12:23). Sebelumnya, ketika saudara-saudara-Nya mendorong Dia untuk pergi ke Yudea dan menunjukkan kepada masyarakat luas apa yang telah dilakukan-Nya di kampung halaman-Nya, Yesus mengatakan, "Waktu-Ku belum tiba" (Yoh. 7:6). Sekarang, Yesus menggunakan momentum tersebut sebagai saat yang tepat, dan menjadikan kerinduan orang-orang Yunani itu sebagai tanda bahwa pengorbanan penebusan-Nya yang segera dijalani-Nya itu akan diterima oleh dunia.

    "Di antara orang banyak yang berkumpul untuk hari raya Paskah terdapat jemaah orang Yunani. Perhatikan perkataan mereka kepada Filipus, 'Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.' Dalam perkataan lain, mereka ingin melihat Yesus. Mereka ingin bersama-sama dengan Dia. Mereka ingin belajar dari Dia. Betapa sebuah kesaksian kepada dunia perihal tabiat Kristus dan pekabaran-Nya! Tapi juga alangkah menyedihkan bahwa orang-orang yang seharusnya mengatakan hal yang sama adalah mereka yang ingin menghindari-Nya" [alinea kedua].
   Mengikut Yesus dengan pengorbanan. 

   Perhatikan kata-kata Yesus kemudian, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yoh. 12:24-25; huruf miring ditambahkan). Pada ayat 24 Yesus menggunakan pengibaratan dari dunia tumbuhan, yaitu proses metabolisme perkecambahan benih yang meliputi perubahan-perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia. Jadi, harus terjadi dulu "perubahan-perubahan" dalam diri seorang pengikut Yesus baru dia bisa bertumbuh dan nantinya menjadi banyak dengan menghasilkan buah-buah, dan perubahan itu disebut-Nya "mati." Pada ayat 25, Yesus beralih kepada manusia yang harus bersedia "kehilangan nyawa" demi untuk mendapatkan hidup kekal. Artinya, mengikut Yesus harus disertai dengan kesediaan untuk berkorban, kalau perlu mengorbankan nyawa sekalipun.

    Perkecembahan benih dipengaruhi oleh faktor internal (benih itu sendiri) dan eksternal (lingkungan sekitar). Tidak semua benih secara otomatis berkecambah lalu bertumbuh dan berbuah, walaupun benih itu kelihatannya baik dan sehat. Dalam biologi kondisi di mana benih yang sehat serta hidup (viable) dan ditempatkan pada lingkungan yang memenuhi syarat tetapi tidak bertumbuh disebut "dormansi benih." Seorang pengikut Kristus yang tidak mau berubah dengan cara membiarkan dirinya "mati" juga akan mengalami dormansi, dan bisa kita sebut sebagai "orang Kristen dorman" (orang Kristen yang dari luar kelihatannya setia dan saleh tapi tidak bertumbuh). Yesus berkata lagi, "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (ay. 26).

    Pena inspirasi menulis: "Kristus melihat bahwa tanah yang belum digarap harus dibajak, tanah diolah dengan baik, benih yang baik ditabur dan dikerjakan dengan teliti. Tidak menyenangkan bagi murid-murid untuk pasrah kepada hal ini. Banyak pengaruh yang berlawanan telah berusaha membingungkan dan mengaburkan pikiran mereka. Tetapi dengan hikmat yang Kristus sampaikan tentang masa depan-Nya, dengan ilustrasi dari benda-benda alam, maka murid-murid bisa mengerti bahwa missi-Nya harus digenapi oleh kematian-Nya...Apabila benih gandum jatuh ke tanah dan mati ia akan bertumbuh dan menghasilkan buah. Demikianlah kematian Kristus akan menghasilkan buah bagi kerajaan Allah. Kehidupan harus menjadi hasil dari kematian-Nya, persis seperti halnya hukum dunia tumbuhan" (Ellen G. White, Signs of the Times, 1 Juli 1897).

 Apa yang kita pelajari tentang maksud kematian Yesus demi keselamatan dunia?

1. Selain penduduk kota Yerusalem terdapat pula pendatang-pendatang asing ingin menyambut Kristus karena sudah mendengar perihal pengajaran dan perbuatan-Nya, maka mereka pun ingin bertemu dengan Dia. Kebaikan tidak selamanya tersembunyi dan ditutup-tutupi.

2. Sementara anda dan saya beraktivitas sehari-hari dan bergaul di tengah masyarakat, kesan apa yang orang-orang lain dapatkan tentang Kekristenan melalui hidup kita? Apakah mereka menjadi tertarik untuk "bertemu dengan Yesus" karena sangat terkesan dengan tingkah laku dan gaya hidup kita?

3. Kekristenan adalah jubah yang kita kenakan, baik di ruang tertutup maupun di depan umum. Kekristenan sesungguhnya adalah manifestasi dari perubahan hati, mati bagi diri sendiri untuk hidup bagi Yesus. Kekristenan adalah kehidupan penuh pengorbanan supaya bertumbuh dan berbuah.

4. "SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?" (Meruntuhkan Penghalang)

 Israel sebagai anak manja. 

   Bangsa Israel mungkin terlalu terbuai dengan keistimewaan mereka yang terus bergaung dari generasi ke generasi. "Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya" (Ul. 7:6; huruf miring ditambahkan). Status yang istimewa ini adalah sebuah keuntungan yang jika dimanfaatkan dengan maksud yang sebenarnya akan membuat mereka menjadi saluran berkat Tuhan, tetapi di sisi lain itu dapat menjadi jerat yang menjerumuskan bilamana mereka menjadikannya sebagai alasan untuk kesombongan dan keunggulan. Israel adalah ibarat anak manja yang egoistis, merasa diri selalu benar, tidak dewasa, dan berpikiran picik.

    Mentalitas yang merasa diri lebih unggul itu tercermin dari ucapan seorang ahli Taurat yang hendak mencobai Yesus, "Dan siapakah sesamaku manusia?" (Luk. 10:29). Terhadap pertanyaan itu Yesus kemudian mengutarakan sebuah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati yang tanpa pamrih bersedia menolong orang Yahudi yang dirampok itu, seorang dari bangsa yang selalu menganggap orang Samaria itu lebih rendah. Seseorang yang memiliki sikap mental seperti orang Farisi yang sombong itu senantiasa kegerahan ketika berhadapan dengan Yesus yang rendah hati dan tulus, itulah sebabnya mereka menolak Dia. Sifat Yesus yang lemah lembut dan rendah hati itu tidak terdapat dalam kamus kehidupan orang Yahudi, dan ketika Yesus berkata kepadanya, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (ay. 37), dia merasa tersinggung dan berlalu.

 "Kembali, ironi yang mengerikan ialah bahwa mereka yang seharusnya berdiri di garis depan untuk menerima Dia dan pekabaran-Nya ternyata adalah orang-orang yang menentang Dia paling keras. Imam-imam Israel mencaci Putra Allah ketika bukan orang-orang Israel yang menerima Dia sebagai Mesias. Betapa sebuah pelajaran yang dahsyat dan bijaksana di sini bagi orang-orang yang menganggap diri mereka (mungkin disertai pembenaran) diuntungkan secara rohani!" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

 Kasih mengalahkan pertimbangan. 

   Seperti juga imam dan orang Lewi dalam perumpamaan Yesus tersebut, orang Samaria itu pun mempunyai alasan-alasan yang sama untuk tidak berhenti dan menolong korban perampokan yang terkapar di pinggir jalan itu. Takut menjadi korban berikutnya, sedang terburu-buru dan tidak ada waktu, harus mengeluarkan biaya untuk pertolongan, dan sebagainya. Bahkan, orang Samaria itu mempunyai alasan lebih kuat lagi yang tidak dimiliki imam dan orang Lewi itu: korban mungkin adalah orang Yahudi yang memusuhi orang Samaria! Tetapi rasa kasih terhadap sesama manusia di dalam hati orang Samaria itu lebih besar daripada pertimbangan-pertimbangan pribadi yang egoistis.

 "Orang asing yang dianggap rendah itu, seorang Samaria, dengan bersungguh-sungguh telah menentang prasangka etnis dan menyelamatkan hidup orang yang tak dikenal. Sungguh sebuah teguran pedas terhadap semua orang yang meremehkan dan mencibir seseorang yang memerlukan pertolongan hanya karena orang itu bukan berasal dari latar belakang etnis, sosial, dan budaya mereka" [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

 Pena inspirasi menulis: "Pemimpin-pemimpin Yahudi itu dipenuhi dengan kesombongan rohani. Kerinduan mereka akan pemujaan diri dimanifestasikan bahkan dalam upacara-upacara di Bait Suci. Mereka suka akan kedudukan-kedudukan yang paling tinggi di sinagog-sinagog serta pujian manusia. Mereka menyukai sapaan-sapaan di pasar, dan puas dengan sebutan gelar-gelar mereka di bibir manusia. Sementara kesalehan yang sebenarnya merosot, mereka menjadi lebih cemburu akan tradisi-tradisi dan upacara-upacara mereka. Bukankah kita melihat kebusukan yang sama dalam gereja Kristen sekarang ini?" (Ellen G. White, Review and Herald, 7 Februari 1888).

 Apa yang kita pelajari tentang mentalitas para pemimpin agama Yahudi purba?

1. Bangsa Israel purba, utamanya para pemimpin agama mereka, membanggakan status mereka sebagai "bangsa pilihan" dan "umat kesayangan" Tuhan sehingga meremehkan bangsa-bangsa lain. Bukankah sikap mental yang sama terkadang muncul dari sebagian kita, karena merasa sebagai "umat pilihan"?

2. Yesus lahir di tengah bangsa Israel, sebagai bagian dari mereka, tetapi Dia ditolak karena Yesus menampilkan sifat dan sikap yang rendah hati hal mana sangat berbeda dari kebanyakan mereka. Prasangka-prasangka pribadi bisa lebih tajam daripada prasangka-prasangka etnis dan perbedaan latar belakang sosial.

3. Kekristenan adalah kasih, dan kasih adalah kekristenan. Orang Kristen tanpa kasih bukanlah orang Kristen. Tapi seringkali kasih itu hanya sekadar pengetahuan teoretis seperti ditunjukkan oleh orang Farisi itu yang hanya fasih menghafalkannya (Luk. 10:27), tapi kemudian berkelit saat dituntut untuk mempraktikannya (ay. 28-29).

5. KEWAJIBAN MURID-MURID MASA KINI (Perintah Agung)

 Pekabaran yang dinubuatkan. 

   Saya selalu mengatakan bahwa bagi orang Kristen peribadatan dan penginjilan adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang, menyatu dan tak dapat dipisahkan. Bagi setiap orang Kristen penginjilan bersifat wajib serta pribadi, itu bukan pilihan dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Penginjilan ialah memberitakan Injil, yaitu Kabar Baik, bahwa Yesus Kristus sudah mati untuk menebus dosa umat manusia demi menyediakan keselamatan bagi setiap orang yang percaya (Yoh. 3:16). Yesus adalah "Taruk dari pangkal Isai" (BIMK: "Raja dari keturunan Daud") yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Rm. 15:12; bd. Yes. 11:10). Dalam melaksanakan penginjilan kita tidak bergantung pada kemampuan diri sendiri, melainkan oleh kuasa Roh Kudus (Kis. 1:7-8).
   Adalah menarik bahwa imam besar Kayafas saat berbicara di hadapan Mahkamah Agama yang membahas laporan tentang Yesus Kristus telah berkata begini: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa" (Yoh. 11:49-50; huruf miring ditambahkan). Kalau tidak ada penjelasan tentang latar belakang pernyataan ini, bahwa perkataan itu bukan pendapat pribadi melainkan dia sedang "bernubuat" tentang Yesus yang akan "mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja" (ay. 51-52), barangkali orang bisa menyangka bahwa Kayafas berniat mengorbankan Yesus sebagai tumbal demi menyelamatkan mereka semua dari kemungkinan dijarah oleh orang-orang Roma (baca ay. 48). Namun penjelasan Yohanes mempertegas bahwa ucapan itu merupakan "nubuatan yang tak disadari" (unconscious prophecy), itu bukan dari diri Kayafas sebagai pribadi melainkan dia sebagai Imam Besar. Ini mengingatkan kita akan Bileam yang disewa raja Moab untuk mengutuki bangsa Israel, tapi oleh pengendalian Allah gantinya mengutuk dia malah memberkati Israel (Yos. 24:9-10; Neh. 13:2).

 "Pekerjaan Allah yang terakhir belum lengkap sampai injil kekal yang dinyatakan dalam pekabaran tiga malaikat yang terdapat dalam Wahyu 14 itu sudah melintasi setiap perbatasan ras, etnis, bangsa, dan batas negara. Tanpa menyingkapkan waktunya yang tepat, Kitabsuci dengan tegas menyatakan bahwa injil ini akan menjangkau seantero dunia. Kemenangan Allah dan pengumandangannya dipastikan" [alinea pertama].

 Pekabaran segala zaman. 

   Ketika Yesus memerintahkan kepada murid-murid untuk pergi "jadikanlah semua bangsa murid-Ku...dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan" (Mat. 28:19-20), sebuah perintah yang dikenal sebagai "Perintah Agung" yang diucapkan-Nya 2000 tahun silam, penduduk dunia belum sepadat sekarang dan jumlah bangsa-bangsa yang ada waktu itu jauh lebih sedikit. Namun Yesus tentu telah melihat jauh ke depan bahwa jumlah manusia akan terus meningkat dan bangsa-bangsa akan bertambah banyak. Sudah tentu penginjilan semesta tidak mungkin hanya dilakukan oleh murid-murid-Nya pada waktu itu, jadi perintah Yesus itu ditujukan juga kepada semua murid-murid-Nya dari zaman ke zaman hingga saat ini.

 Pena inspirasi menulis: "Perintah yang diberikan kepada murid-murid pertama itu diberikan kepada mereka yang pada zaman akhir ini telah menerima terang yang lebih besar dari surga. Adalah kehendak Allah bahwa semua bangsa dibangunkan kepada pertobatan dan penurutan oleh pekerjaan Roh Kudus. Pekabaran kasih karunia yang menyelamatkan harus dikhotbahkan kepada segala bangsa dan kaum dan bahasa dan masyarakat. Biarlah setiap jiwa sekarang menuruti gerakan-gerakan Roh Allah; biarlah kebenaran maju bagaikan sebuah lampu yang menyala" (Ellen G. White, Review and Herald, 11 Maret 1909).

 "Apa yang sedang kita lakukan untuk menjangkau orang-orang lain, siapa pun dan di mana pun mereka? Sangat disayangkan bahwa sebagian umat percaya membiarkan perilaku rasial, prasangka kultural, dan penghalang-penghalang sosial rancangan setan untuk menghalangi mereka mengumandangkan injil dengan bersemangat ketika sesama umat percaya lainnya tersebar di seluruh dunia, rela mengorbankan hidup mereka supaya injil itu bisa dikhotbahkan" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].
   Apa yang kita pelajari tentang "perintah agung" Yesus?

1. Kematian Yesus Kristus sebagai kurban tebusan dosa manusia adalah kehendak Allah dan dinubuatkan oleh nabi-nabi. Imam besar Kayafas mengulangi nubuatan itu atas dorongan Roh Kudus di luar kehendaknya sendiri. Allah berkuasa mengendalikan pikiran dan mulut manusia untuk melaksanakan maksud-Nya.

2. Nubuatan tentang "pekabaran tiga malaikat" dalam Wahyu 14 adalah nubuatan yang menopang "Perintah Agung" Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya sepanjang zaman. Pekabaran Tiga Malaikat adalah missi dari Gereja MAHK, dan seharusnya itu adalah sukma (ruh) dari setiap anggota jemaatnya.

3. Pekabaran Injil tidak pernah menjadi usang atau ketinggalan zaman, dan selalu relevan bagi semua orang dari masa ke masa. Itulah sebabnya, sebagaimana murid-murid Yesus yang pertama telah menginjil dengan penuh semangat dan pengorbanan, demikianlah hendaknya murid-murid Yesus pada zaman ini.

PENUTUP

 Sesama kita manusia. 

   Kebiasaan untuk membeda-bedakan orang adalah suatu kebiasaan yang bertentangan dengan gagasan penginjilan, dan dengan demikian berlawanan dengan maksud dari Perintah Agung yang Yesus amanatkan itu. Orang Kristen tidak selayaknya memiliki atau memelihara sikap dikotomi dalam pelaksanaan penginjilan.

 "Kristus sudah tunjukkan bahwa sesama kita manusia bukan berarti hanyalah seseorang dari gereja kita atau iman yang sama dengan kita. Tidak ada acuan perbedaan ras, warna kulit, atau golongan. Sesama kita manusia ialah setiap orang yang memerlukan pertolongan kita. Sesama kita manusia ialah setiap jiwa yang terluka dan disakiti oleh musuh. Sesama kita manusia ialah setiap orang yang merupakan milik Allah" [alinea kedua: lima kalimat terakhir].

 Ketika menjawab pertanyaan menjebak dari seorang ahli Taurat, perihal hukum mana yang terbesar, Yesus menyebutkan tentang hukum kembar, dua tapi satu: kasih vertikal terhadap Tuhan dan kasih horisontal terhadap sesama manusia (baca Mat. 22:35-40). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "sesama manusia" di sini adalah plēsion yang dapat diartikan sebagai tetangga (neighbour) seperti yang digunakan dalam Alkitab versi King James. Dalam tradisi Yahudi "sesama manusia" (Ibrani: rā'-ah) itu adalah "orang-orang sebangsamu" yang dalam hal ini adalah sesama orang Israel (baca Im. 19:18). Tetapi perintah Yesus melampaui batas-batas kebangsaan yang sempit seperti itu, dengan menerapkan makna baru tentang "sesama manusia" yang meliputi setiap orang dari segala bangsa.

 "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Rm. 3:29).

DAFTAR PUSTAKA:

 

1.   Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.

2.   Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.

Selasa, 04 Maret 2014

My Brief Autobiography.


MY BRIEF AUTOBIOGRAPHY


 

   My name is Halasan Marihot Siagian, means: The pleasure that is bind.  I was born in Pebruary 3, 1945 at Baribatali, Sigumpar-Porsea, North Sumatra. 

   I was six years old when my parents moved to Rantauprapat and I  sudied there until Senior High School level (SMA).  After I graduated, I din’t continue my education to the next level because of financial matters.  Since that time, at the end of 1965, I started to wander to Pekanbaru, Riau Province and tried to find a job. 

 

   Finding a job was not easy as I had thought previously because of lack of relations and limitation in education.  But with God’s help, I had  a job in the administrasion of Delta Exploration which operated in Pekanbaru, Lirik and Pendopo, South Sumatra.

   Praise the Lord, in Pendopo (a small town in South Sumatra) I met with a beautiful girl and then we married in 1969.  Then, I returned to Pekanbaru with my wife and still worked there until 1970.

    In September 3, 1970, God gave us a first child, a son named him  Joint Esthon.  In the last year of 1970, when our son was about three months old we departed to Bandung to continue my education at the Adventist University sponsored by my brother in law, brother Akhmad Thona.  I took the Ministerial Education (in Theologia) for 4 years and graduated in 1974.  When I  studied there in Cisarua, Bandung God gave us twin daughters in 1972, their names  Veraline Edwina and Veryuna Maureen.  After I graduated in 1974, we were placed in Palembang, South Sumatra, I was an Intern Pastor in Lorok Pakjo and Sekojo SDA Church.

    Praise God, because He gaves us again in Palembang one more daughter in 1975 and we called her name Persis Triposa.

   In 1976 we moved to Kotabumi, North Lampung and became a District Pastor for one year,and in 1977 moved again to Pangkal Pinang, Bangka Belitung as a District Pastor there until 1978. After I served four years in the field as a pastor, in January 06, 1979, I was anointed as a pastor/priest and also after that, directly I had been appointed as a Publishing Department Director, South Sumatera Mission of SDA until 1984.  After I served as Publishing Departemen Director in South Sumatera Mission of SDA for seven years, we moved again to Bandung as Publishing Departement Director,  West Java Mission of SDA in 1985.  After I served three years I was promoted and become an Associate of WIUM Publishing Department Director in 1988 until 1991.

   In 1992 we moved to Surabaya and became Publishing Department Director of  East Java Mission until 1993.  Then we moved again to Jakarta Conference and I was  Church Pastor from 1994 until 2002.

   In 2003 I was promoted again and became Publishing Departemen Director of Jakarta Conference until 2008.

   And then from 2009 until 2010, I served as a pastor at Nazareth Church.

   In 2011  enjoyed retirement after more than 36 years serving in God’s ministry.

   Here’s a brief history of my life experiences in the work of the Lord.  Thank God for the breath of life that is given to us until today.

 

Thank you.

9. MENJANGKAU ORANG-ORANG PENTING



"MEMURIDKAN ORANG BERKUASA"

PENDAHULUAN

   Keberanian murid-murid.

   Setiap orang Kristen sejati selalu memiliki kerinduan untuk melaksanakan amanat Kristus, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Mat. 28:19; huruf miring ditambahkan). Frase jadikanlah...murid pada ayat ini berasal dari kata kerja dalam bahasa Grika (bahasa asli PB), μαθητεύω, mathēteuō, yang berarti mengajar (Strong; G3100); sebuah bentukan dari kata benda maskulin μαθητής, mathētēs, yang artinya murid (Strong; G3101).
   Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) menggunakan kata pengikut sebagai pengganti murid, mungkin untuk menghindari kerancuan pengertian dan untuk membedakannya dari pelajar atau murid sekolah. Tetapi sebenarnya istilah pengikut digunakan juga pada bagian lain dari PB dengan makna yang berbeda, yaitu "pengikut Kristus" (1Kor. 11:1; huruf miring ditambahkan), di mana kata pengikut di sini berasal dari kata asli μιμητής, mimētēs, artinya peniru (imitator).
   Kembali kepada amanat Yesus agar para pengikut-Nya menjalankan tugas pemuridan atas "semua bangsa" (=semua orang), ini berarti bahwa pemuridan mesti dilaksanakan terhadap siapa saja tanpa memandang rupa, dalam hal ini termasuk mereka yang berasal dari strata sosial tinggi atau kalangan atas, tidak terkecuali orang-orang berpangkat dan mereka yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Masalahnya, apakah anda dan saya cukup punya nyali untuk mencoba menjadikan "orang-orang besar" itu sebagai murid Kristus? Atau, dalam pengertian yang lazim digunakan, apakah kita berani untuk menginjil kepada para petinggi dan penguasa itu? Pekerjaan pemuridan benar-benar merupakan sebuah tantangan yang besar bagi siapa pun.

    "Murid-murid tidak diwarisi dengan keberanian dan keteguhan hati dari para syuhada itu sampai tiba anugerah seperti itu diperlukan. Pada waktu itulah janji Juruselamat itu digenapi. Sewaktu Petrus dan Yohanes bersaksi di depan majelis Sanhedrin, 'heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus' (Kis. 4:13)" [tiga kalimat pertama].

    Barangkali kita memang harus belajar dari pengalaman murid-murid Yesus yang pertama, bagaimana mereka telah diurapi dengan keberanian dan hikmat dari surga sehingga mencengangkan banyak orang sekalipun murid-murid yang mula-mula itu hanyalah orang-orang biasa. Ketika seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan secara totalitas berkomitmen pada pekerjaan Tuhan, Roh Allah akan menjadikan seorang biasa mampu menjalankan pekerjaan yang luar biasa!
1.      KEKUASAAN POLITIK DALAM PERSPEKTIF ALKITAB (Menghormati Kekuasaan)
   Orang Kristen sebagai warganegara. Adalah dua hal yang berbeda antara taat kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang telah memilih kita menjadi umat-Nya (Yoh. 15:16; 1Tes. 1:4), dengan taat kepada pemerintah sebagai penguasa politik yang kita pilih dalam proses demokrasi. Namun, Alkitab tidak mempertentangkan antara keduanya. Kepada umat Kristen di Roma rasul Paulus menulis, "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah ia melawan ketetapan Allah, dan siapa yang melakukannya akan mendatangkan hukuman atas dirinya" (Rm. 13:1-2; penempatan koma merupakan penyuntingan pribadi untuk pemahaman yang lebih baik).

   Kata Grika yang diterjemahkan dengan pemerintah dalam Roma 13:1 adalah ἐξουσία, exousia, sebuah kata benda feminin yang dapat berarti kuasa (power), kewenangan (authority), atau juga kemampuan (ability), sebagaimana digunakan antara lain dalam Mat. 9:6, 8; Mrk. 3:15; dan Luk. 10:19 (Strong, G1849). Sedangkan frase "pemerintah yang di atasnya" (Grika: ἐξουσίαις ὑπερεχούσαις, exousias huperechousias) pada ayat tersebut di atas, menurut beberapa pakar penafsiran Alkitab, sebenarnya tidak selalu harus diartikan sebagai "pemerintah sipil" tetapi bisa saja yang dimaksudkan ialah "atasan yang berwenang" dalam berbagai aspek hubungan antar-manusia.
   "Selama berabad-abad yang panjang, banyak orang telah berusaha untuk memahami peran dan fungsi pemerintah dan bagaimana warganegara harus berhubungan dengan itu. Apakah yang memberikan pemerintah hak untuk memerintah? Apakah bentuk yang terbaik dari pemerintahan? Haruskah rakyat selalu menaati pemerintah mereka? Kalau tidak, mengapa? Ini hanya sebagian dari sejumlah pertanyaan yang kita masih geluti hingga hari ini" [alinea pertama].

   Gereja tidak berpolitik praktis.
   Roma 13:1-7 telah menimbulkan berbagai penafsiran yang berbeda-beda di kalangan teolog Kristen perihal maksud sesungguhnya dari sang rasul. Bahkan ada sebuah pendapat ekstrem yang menyebutkan bahwa perikop ini adalah hasil interpolasi (sisipan) yang berasal dari "sumber" lain. Kalau benar Paulus menasihatkan hal itu, kata mereka, seharusnya pemerintah Romawi bersimpati kepadanya dan tidak menghukum dia secara kejam. Kenyataannya sang rasul mati dipancung oleh Kekaisaran Romawi. Pada tahun 67 TM kaisar Nero membumihanguskan kota Roma lalu dengan liciknya menuding orang-orang Kristen adalah pelakunya, lalu atas dasar itu menganiaya mereka dengan sangat kejam dan di luar batas peri kemanusiaan. Apakah rasul Paulus akan menganjurkan orang Kristen untuk patuh pada tirani yang jahat seperti itu, sebab mereka adalah pemerintah yang "ditetapkan oleh Allah"?
   Pada malam ketika Allah menyingkapkan kepada Daniel perihal mimpi raja Nebukadnezar dan artinya, nabi itu berdoa sambil memuji Allah seperti ini: "Allah itu bijaksana dan perkasa, terpujilah Dia selama-lamanya! Dialah yang menetapkan musim dan masa, Dia menggulingkan dan melantik penguasa..." (Dan. 2:20-21, BIMK; huruf miring ditambahkan). Daniel berkata demikian setelah mengetahui bahwa Nebukadnezar dan kerajaan Babel tidak akan berkuasa selamanya, sebab Tuhan telah menetapkan satu masa bagi setiap kerajaan dan pemerintahan. Tidak semua pemerintah menjalankan pemerintahan dengan bijaksana, dan tidak semua penguasa bekerja semata-mata demi kesejahteraan rakyat, tetapi sebagai umat Kristen yang percaya kita akan menyerahkan kepada Tuhan untuk bertindak. Sebagai warganegara setiap orang Kristen memiliki hak konstitusional untuk berpolitik atas pilihan sendiri, tetapi sebagai gereja kita tidak melakukan kegiatan politik praktis.
   Pena inspirasi menulis: "Kita tidak dituntut untuk menentang pemerintah. Perkataan kita, baik lisan maupun tulisan, harus dipertimbangkan masak-masak, kalau tidak kita akan tercatat sebagai orang yang menyuarakan apa yang kelihatannya bermusuhan dengan hukum dan aturan. Kita tidak boleh mengucapkan atau melakukan apapun yang secara tidak perlu akan menutup jalan kita. Kita harus maju dalam nama Kristus, membela kebenaran yang dipercayakan pada kita. Kalau manusia melarang kita melakukan pekerjaan ini, baru kita boleh berkata seperti rasul-rasul itu, 'Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar' (Kis. 4:19)" (Ellen G. White, The Acts of the Apostles, hlm. 69).

   Apa yang kita pelajari tentang kekuasaan politik menurut Kitabsuci?

   1. Sebagai pengikut Kristus, orang Kristen taat kepada Yesus selaku Pribadi; sebagai warganegara, kita tunduk kepada pemerintah selaku institusi. Kewarganegaraan kita bukan di dunia ini melainkan di surga (Flp. 3:20), maka ketaatan pada kekuasaan duniawi berhenti saat ketaatan pada kekuasaan surgawi menghendakinya.
   2. Selama bermukim di Mesir bangsa Israel mengalami dua masa pemerintahan yang memperlakukan mereka dengan cara yang bertolak-belakang, Firaun di zaman Yusuf yang baik hati dan Firaun pada zaman Musa yang kejam. Dalam perspektif Roma 13:1-7, bagaimana anda melihatnya?
   3. Allah tidak pernah sedetik pun melepaskan kendali-Nya atas alam semesta, termasuk atas peristiwa-peristiwa politik di dunia ini. Setiap pemerintahan di negara mana pun pasti berdampak langsung pada kehidupan umat Tuhan yang menjadi warga maupun yang hidup di negara itu. Allah mengendalikan naik-turunnya penguasa dunia.

    2.      YESUS MENGUTAMAKAN JIWA MANUSIA ("Belum Pernahkah Kamu Baca...?")

Legalisme kaum Farisi.
   Pada zaman Yesus, orang-orang Farisi tergolong kelompok elit karena pengetahuan agama mereka, yang bersama orang-orang dari kelompok Saduki (sering dijuluki "kasta imam-imam") membentuk majelis Sanhedrin terdiri atas 71 orang yang bertanggungjawab dalam menafsirkan dan menerapkan hukum agama dan hukum sipil bangsa Yahudi. Meskipun kedua partai ini kelihatannya berada satu "front" dalam menentang Yesus, dua kelompok ini mempunyai perbedaan yang sangat mendasar yang tak terjembatani. Kaum Saduki memelihara Hukum Musa atau Torah sebagai "Hukum Tertulis" yang diterapkan secara harfiah, sedangkan kaum Farisi selain memelihara Torah juga menggunakan ajaran-ajaran yang merupakan tafsir dari Torah, sebagai "Hukum Lisan" yang sekarang dikenal dengan Talmud. Sementara kaum Saduki yang lebih fokus pada upacara-upacara agama di Bait Suci bubar setelah Kaabah Kedua dihancurkan pada tahun 70 TM, kaum Farisi terusd bertahan dan mengalami regenerasi selama berabad-abad. Agama Yudaisme yang ada sekarang dianggap sebagai penjelmaan dari ajaran-ajaran Farisi yang bersifat legalistik.

   Berdasarkan hukum lisan yang sarat dengan penafsiran atas Torah, Hukum Musa itu telah diperluas sedemikian rupa sehingga lebih sebagai beban gantinya sebagai pedoman hidup keagamaan, termasuk penerapan hukum keempat dari Sepuluh Perintah tentang pengudusan Sabat hari ketujuh. Orang-orang Farisi telah menambahkan satu daftar panjang mengenai apa yang "boleh" dan "tidak boleh" dilakukan pada hari Sabat. Maka ketika pada suatu hari Sabat orang-orang Farisi yang sengaja memata-matai Yesus dan murid-murid-Nya itu memergoki murid-murid sambil berjalan memetik bulir-bulir gandum dan memakannya karena lapar, langsung saja orang-orang Farisi itu mencela. "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" (Mrk. 2:24). Memetik gandum milik orang lain tanpa menggunakan sabit, yang berarti hanya mengambil sedikit sekadar untuk mengisi perut menahan lapar, diperbolehkan menurut Hukum Musa (Ul. 23:25). Tetapi orang-orang Farisi itu mempersalahkan murid-murid bukan terhadap apa yang mereka lakukan (memetik gandum), tapi kapan mereka melakukan hal itu (hari Sabat).
   Atas tuduhan itu Yesus menjawab, "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu--yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam--dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" (ay. 25-26). Cerita yang Yesus maksudkan ialah peristiwa ketika Daud bersama pengikutnya yang kelaparan dalam pelarian sewaktu dikejar-kejar oleh tentara Saul yang tercatat dalam 1 Samuel 21:1-6.

   "Adalah menarik bahwa, dalam berurusan dengan orang-orang ini, Yesus merujuk kepada sumber Kitabsuci dan bahkan riwayat suci yang tentu sudah menjamah hati pemimpin-pemimpin agama itu. Yesus memikat mereka kepada apa yang seharusnya menjadi kesamaan di antara mereka. Misalnya, Ia mengutip Alkitab ketika Ia berbicara tentang pentingnya kemurahan daripada tatacara agama. Dengan begitu Ia berusaha membawa pemimpin-pemimpin itu kepada makna yang lebih dalam dari hukum yang mereka akui begitu sungguh-sungguh dihargai dan dijunjung" [alinea ketiga].

   Jiwa manusia lebih penting.

   Pada suatu hari Sabat yang lain, di halaman Bait Suci, orang-orang Farisi melihat Yesus hendak menyembuhkan seorang yang lumpuh sebelah tangan. Menyadari bahwa diri-Nya sedang dimata-matai, Yesus lalu memanggil orang itu dan menempatkannya di tengah-tengah banyak orang yang mulai datang berkerumun. "Menurut agama, kita boleh berbuat apa pada hari Sabat? Berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membunuh" tanya Yesus. (Mrk. 3:4, BIMK). Karena tidak ada dari orang-orang Farisi itu yang menjawab, mungkin karena takut dipermalukan di depan umum, Yesus kemudian menyembuhkan orang itu. Orang-orang Farisi yang merasa dikalahkan dengan telak itu kemudian bubar dan berunding untuk membunuh Yesus.
   Dalam peristiwa pertama, Yesus telah menandaskan kepada kaum pemimpin Yahudi itu, dalam hal ini adalah orang-orang Farisi, bahwa "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat" (Mrk. 2:27). Dengan berkata demikian bukan berarti Yesus menafikan Sepuluh Perintah demi sesuatu perbuatan kebajikan, tetapi Ia ingin menekankan bahwa kebutuhan manusia lebih penting dari aturan-aturan keagamaan. Hukum Allah tetap penting dan wajib dijunjung setinggi-tingginya, tetapi Allah lebih mengutamakan jiwa manusia. Hukum tidak dapat menyelamatkan manusia, hanya kasih karunia melalui Yesus Kristus yang bisa menyelamatkan. Yesus Kristus adalah "Tuhan atas hari Sabat" (Mrk. 2:28), bahkan Ia adalah Pencipta hukum hari Sabat bersama hukum-hukum yang lain itu, maka Yesus yang lebih tahu dengan persis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat.
    "Sayangnya, sebagian dari orang-orang yang paling berkuasa dan berpengaruh dengan siapa Yesus berhadapan itu adalah para pemimpin agama pada zaman-Nya, banyak dari mereka itu yang secara terang-terangan bermusuhan dengan Dia. Namun, meskipun dalam pertemuan-Nya dengan mereka, Yesus selalu berusaha untuk menyelamatkan. Dia tidak berusaha untuk berargumentasi; Ia mengusahakan keselamatan semua orang, bahkan atas orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh itu yang pada akhirnya menghukum Dia sampai mati" [alinea pertama].

   Apa yang kita pelajari tentang cara Yesus menghadapi golongan elit Yahudi itu?
    1. Dengan menambahkan aturan-aturan terhadap Hukum Sabat, berdasarkan penafsiran mereka sendiri, orang-orang Farisi sebenarnya telah melanggar ketentuan Allah untuk tidak boleh menambahi maupun mengurangi perintah Allah (Ul. 4:2; 12:32). Menafsirkan Firman Tuhan dalam arti menyimpulkan itu tidak sama dengan menambahkan.
    2. Seringkali para pemimpin merasa seperti orang yang paling tahu serta paling benar, dan apa yang mereka ucapkan tak boleh dibantah atau dikritik. Tetapi kedudukan dan jabatan tidak serta-merta menjadikan seseorang lebih unggul dari orang lain dalam segala hal.
   3. Salah itu manusiawi, selama pemimpin itu masih manusia dia tetap rawan untuk berbuat salah. Namun pemimpin yang menyadari (atau diberitahu) akan kesalahannya tapi tidak berusaha memperbaiki kesalahan itu, berarti dia telah melakukan dua kesalahan sekaligus.

    3.      IMAN ORANG KAFIR (Sang Perwira)
Iman yang mengejutkan.
   Seorang perwira tentara Romawi sudah tentu adalah orang kafir (non-Yahudi), tetapi rasa kemanusiaannya lebih tinggi dari orang Yahudi. Bayangkan saja, dia menaruh iba terhadap hambanya yang tiba-tiba jatuh sakit sampai tidak dapat bangun dari tempat tidur. Meskipun secara hukum Romawi majikan dapat memperlakukan apa saja terhadap hambanya, bahkan membunuhnya jika perlu, perwira ini mau bersusah-susah meminta pertolongan dari Yesus agar menyembuhkan hambanya itu. Bukan itu saja, tetapi sang perwira itu percaya bahwa hanya dengan satu kata yang keluar dari mulut Yesus sudah bisa menyembuhkannya. Yesus kagum atas imannya lalu berkata, "Bukan main orang ini. Di antara orang Israel pun belum pernah Aku menemukan iman sebesar ini!" (Mat. 8:10, BIMK). Benar, sesuai perkataan Yesus, hamba itu sembuh seperti yang diyakini oleh sang perwira (ay. 13).

   Penuturan Lukas perihal kejadian ini mungkin lebih lengkap dan lebih menarik. Perwira tentara Romawi yang bertugas di wilayah Kapernaum itu mungkin sudah mendengar cerita-cerita tentang bagaimana Yesus mengadakan mujizat-mujizat untuk menyembuhkan banyak orang sakit bahkan membangkitkan orang mati. Maka ketika dia mendapat info bahwa Yesus sudah memasuki wilayahnya--mungkin dari prajurit intelijennya, karena selaku komandan pasukan dia tentu bertanggungjawab atas keamanan wilayah setempat--perwira itu langsung menyuruh para pemimpin Yahudi untuk menemui Yesus. "Perwira ini layak ditolong oleh Bapak, sebab dia mengasihi bangsa kita dan sudah membangun rumah ibadat untuk kami," kata mereka kepada Yesus (Luk. 7:3-5, BIMK). Yesus langsung menanggapi dan menuju ke rumah sang perwira, tetapi begitu mendekati rumahnya dia lalu mengutus teman-temannya untuk menyongsong Yesus dengan pesan, "Tak usah Bapak bersusah-susah ke rumah saya. Saya tidak patut menerima Bapak di rumah saya. Itu sebabnya saya sendiri tidak berani menghadap Bapak. Jadi, beri saja perintah supaya pelayan saya sembuh" (ay. 6-7, BIMK; huruf miring ditambahkan).
    "Di sini mawas diri yang jujur itu berguna. Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri apakah kita sudah menjadi puas diri dan sekadar mengemban doktrin-doktrin yang benar gantinya mengalami iman yang hidup? Apakah orang-orang yang baru percaya dan kurang sempurna itu memperlihatkan iman yang lebih mendalam ketimbang mereka yang dibesarkan dalam Kekristenan? Apakah keuntungan-keuntungan rohani kita sudah menyebabkan kebergantungan pada diri sendiri? Apakah peluang-peluang rohani telah berlalu tanpa disadari?" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

    Menginjili penguasa.
   Mungkin sebagian dari kita agak kecewa mengapa perwira tentara Romawi itu mencegah Yesus masuk ke rumahnya. Bagi Yesus sendiri tidak masalah untuk masuk ke rumah orang kafir (non-Yahudi), sebab pantangan itu hanya tradisi manusia, bukan perintah atau kebijakan Tuhan. Apalagi Yesus mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan itu, sebab Ia sudah mendapat rekomendasi tentang kebaikan sang perwira melalui para pemimpin Yahudi yang bersahabat dengan dia. Tentu kali ini Yesus tidak akan dicela oleh para pemimpin Yahudi itu sekiranya Dia jadi bertamu ke rumah seorang kafir. Namun perhatikan, Yesus tidak memaksakan diri tetapi menghargai permintaan perwira itu walaupun Dia memang sedang menuju ke rumahnya dan sudah hampir sampai. Yesus tidak ingin perwira Romawi itu merasa tidak nyaman dan dianggap menyalahi tatakrama Yahudi. Sikap saling menghormati dan menghargai perasaan orang lain adalah salah satu kunci kesuksesan dalam pemuridan.
   "Siapa pun bisa menikmati pengalaman perwira itu. Cerita ini mendorong mereka yang menginjil di antara orang-orang yang menduduki jabatan penguasa. Berapa banyak 'perwira' yang ada di abad ke-21 ini? Semoga iman mereka mengilhami dan menguatkan iman kita" [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

   Apa yang kita pelajari tentang iman sang perwira tentara Romawi?
1. Sebesar apakah iman yang anda dan saya miliki sekarang? Apakah iman kita sekarang cukup besar untuk dapat membuat Tuhan terkaget-kaget, ataukah Tuhan terperangah oleh sebab setelah bertahun-tahun menjadi murid-Nya tapi iman kita masih belum sebesar biji sesawi?
2. Iman mungkin adalah masalah pokok di akhir zaman. Yesus sendiri pernah menyangsikan apabila Ia datang "adakah Ia akan mendapati iman di bumi" (Luk. 18:8). Lebih memalukan lagi jika iman orang-orang "kafir" lebih besar dari iman umat Tuhan, seperti perwira Romawi itu.
3. Menjalankan pemuridan (=penginjilan) juga membutuhkan iman yang cukup. Iman akan membuat kita lebih percaya diri untuk memberitakan Injil kepada setiap orang, rakyat biasa maupun penguasa dan orang berpangkat. Iman yang berasal dari Allah dapat bersemai di setiap hati manusia.

   4.      BERSAKSI DALAM DIAM (Hari Penghakiman)
Yesus di pengadilan.
   Pengadilan Yesus dimulai segera setelah Ia ditangkap di Taman Getsemane pada hari Rabu tengah malam, menjelang subuh hari Kamis. Berdasarkan sistem hukum Yahudi masa itu proses peradilan Yesus Kristus cacat hukum karena beberapa alasan, antara lain: 1. Dilarang mengadili seseorang selama masa perayaan, termasuk Paskah; 2. Pengadilan harus dimulai dan diakhiri pada siang hari; 3. Vonis hanya boleh diputuskan di ruang sidang rersmi, bukan di rumah imam besar; 4. Hanya vonis bebas yang boleh diputuskan pada hari yang sama, sedangkan vonis berupa hukuman harus dilakukan setelah jedah paling sedikit satu hari, dan eksekusi menunggu waktu setidaknya tiga hari; 5. Vonis harus diputuskan dalam sidang paripurna Majelis Sanhedrin berjumlah 71 orang dengan sistem satu anggota satu suara, bukan secara kolektif dan aklamasi. Belum lagi soal penangkapan-Nya yang tidak disertai tuduhan resmi dan tanpa perintah penangkapan pihak berwenang, ketersediaan saksi-saksi yang sah, pembela yang mendampingi, dan sebagainya yang semuanya diatur dalam hukum Yahudi. Mungkin kalau pada waktu itu sudah dikenal lembaga pra-peradilan, Yesus Kristus harus dibebaskan demi hukum.
   Tetapi Yesus menjalani semua proses tersebut tanpa bersungut, malah menggunakan kesempatan itu untuk bersaksi kepada para penguasa yang mengadilinya tanpa mempersoalkan keabsahan peradilan itu. Yesus menjalani enam sesi pengadilan, tiga pengadilan agama di hadapan mantan imam besar Hanas, imam besar Kayafas, dan majelis Sanhedrin serta tiga pengadilan sipil di hadapan Pilatus, Herodes, dan kembali lagi ke Pilatus. Di hadapan para petinggi itu Yesus berkali-kali berusaha menyadarkan mereka perihal siapa Dia sesungguhnya. Penginjilan tidak selalu harus dalam bentuk khotbah atau penyajian doktrin melalui KKR yang gegap gempita, tetapi penginjilan dapat dilakukan dengan membagikan kepada mereka apa yang kita percaya dan mengapa kita percaya. Bahkan, Yesus tetap bersaksi dalam kebisuan-Nya di ruang pengadilan.

 "Sejak penangkapan hingga penyaliban, Kristus bersaksi di hadapan orang-orang paling berkuasa di negeri itu: raja, gubernur, imam-imam. Pribadi demi pribadi Ia mencermati mereka yang mabuk dengan kekuasaan duniawi. Kelihatannya mereka bisa menguasai Dia. Serdadu-serdadu menyeret Yesus antara ruang-ruang peradilan mereka, majelis-majelis mereka, istana-istana mereka, dan gedung-gedung pengadilan mereka, tidak menyadari bahwa sebenarnya ini adalah dunia-Nya." [alinea pertama: kalimat kedua hingga kelima].
Bersaksi sampai mati.
   Yesus melaksanakan tugas pemuridan hingga pada hari kematian-Nya di kayu salib ketika salah seorang penyamun yang disalibkan bersama Dia tergerak hati untuk percaya. Selama berabad-abad setelah kematian-Nya jutaan orang berhasil ditobatkan dan menjadi pengikut-Nya, jauh lebih banyak dari jumlah orang yang bertobat selama tiga setengah tahun Dia melayani di dunia ini. Pekerjaan pemuridan telah dimulai oleh Yesus sendiri, tetapi pekerjaan itu akan diselesaikan oleh murid-murid-Nya dari zaman ke zaman secara berkelanjutan.

    "Demikian juga, para pengikut Kristus abad kedua puluh satu harus menyadari bahwa sementara mereka bersaksi untuk mendapatkan murid-murid, hasilnya seringkali tampak sangat berbeda dari apa yang mereka harapkan dan doakan. Keberhasilan yang terukur mungkin tidak selalu menyertai usaha mereka. Hal ini jangan mengecewakan mereka ataupun menghalangi pekerjaan bersaksi selanjutnya. Murid yang sejati adalah, seperti Kristus sendiri, setia sampai mati, bukan setia sampai kecewa." [alinea ketiga: empat kalimat pertama].
    Pena inspirasi menulis: "Tetapi Yesus berdiri dengan tenang di hadapan penguasa yang angkuh bagaikan seorang yang tidak dapat melihat ataupun mendengar. Herodes berkali-kali mengemukakan dalilnya kepada Yesus, dan menegaskan kembali fakta bahwa dia memiliki kekuasaan untuk membebaskan ataupun menghukum-Nya. Bahkan dia berani sesumbar tentang hukuman yang dia jatuhkan pada Yohanes dengan maksud untuk menegur Dia. Terhadap semua itu Yesus tidak menjawab baik dengan perkataan maupun airmuka" (Ellen G. White, risalah Redemption or the Suffering of Christ, His Trial and Crucifixion, hlm. 56).

   Apa yang kita pelajari tentang kesaksian Yesus Kristus di ruang pengadilan?
1. Pengadilan mestinya adalah forum di mana keadilan ditegakkan dan kebenaran dinyatakan, tetapi dalam kasus Yesus Kristus pengadilan hanyalah menjadi alat pembunuhan. Banyak murid Kristus di seluruh dunia telah mengalami nasib yang sama dengan Yesus tatkala mereka dihukum secara tidak adil karena iman mereka.
2. Yesus sudah mencontohkan bahwa dalam situasi yang menekan dan sulit bersaksi dapat dilakukan dalam diam. Seperti Yesus, bersaksi dan pemuridan bisa dilaksanakan melalui khotbah dalam tingkah laku dan kesantunan. Kebenaran bukan untuk dikhotbahkan, tapi dihidupkan.
3. Bersaksi dan pemuridan adalah usaha sepanjang hayat secara pribadi, bukan sebagai profesi. Murid Kristus yang sejati tidak berhenti bersaksi karena pensiun dari pekerjaan injil, atau karena kekecewaan. Bersaksi bagi Kristus bisa berlangsung terus sampai ajal tiba.

    5.      PENGINJILAN DI ZAMAN RASUL-RASUL (Ledakan Awal)
Pemuridan dan penganiayaan.
   Sejak awal pekerjaan pemuridan selalu dibayang-bayangi oleh penganiayaan, baik oleh pemuka-pemuka Yahudi di Yerusalem dan Yudea maupun oleh penguasa-penguasa kafir di luar wilayah Israel. Kekristenan adalah "wabah" yang tak terbendung oleh sebab Injil memiliki kekuatan seperti dinamit yang dapat meruntuhkan tembok-tembok kekafiran. Pada zaman rasul-rasul Kekristenan bertumbuh dalam kecepatan yang mengagumkan, tapi itu bukan tanpa harga yang mahal berupa nyawa rasul-rasul dan para penginjil lainnya.
   "Murid-murid Kristus yang paling awal dengan penuh semangat memajukan injil di seluruh dunia yang beradab. Rumah-rumah, sinagog-sinagog, stadion umum, ruang-ruang pengadilan, dan istana-istana raja menjadi panggung untuk memproklamirkan kerajaan surga. Akan tetapi Yesus menubuatkan adanya penangkapan-penangkapan, pengadilan-pengadilan, dan dihadapkan pada penguasa yang bermusuhan bagi murid-murid itu (Mat. 10:16-20). Sayangnya, orang-orang yang sudah jenuh dengan kekuasaan duniawi itu paling lambat untuk menerima Kristus." [alinea pertama].

    Penganiayaan terhadap umat Kristen merebak sejalan dengan meluasnya Kekristenan, khususnya di masa kebesaran kekaisaran Romawi. Mengapa penguasa Romawi sangat membenci Kekristenan dan orang Kristen? Perlu diketahui bahwa agama adalah hal yang terutama dalam kebudayaan Romawi untuk mendorong persatuan masyarakat dan kesetiaan pada negara, sebuah sikap hidup orang Romawi yang disebut pietas (ketakwaan). Sementara itu Kekristenan di mata para budayawan bukan sebagai ketakwaan tapi ketakhyulan. Tacitus, sejarahwan Romawi abad pertama yang juga seorang senator, menyebut Kekristenan sebagai "takhyul yang mematikan." Kekristenan dianggap membahayakan peradaban Romawi yang sangat dibanggakan itu.

 Dampak kebangkitan Kristus.
   Agama Kristen yang mengajarkan kebangkitan sesudah kematian, serta penebusan dosa melalui kematian Kristus, bagi masyarakat dengan peradaban yang sudah maju dianggap sebagai tidak realistik dan sulit diterima akal. Tetapi kematian dan kebangkitan Kristus dengan segera mendobrak kesangsian banyak orang dan membuka mata mereka. Iman Kristiani bukan "pepesan kosong" yang tak berharga, melainkan sebuah pengharapan yang nyata.
   "Ketika Kristus secara pribadi menaklukkan maut, yang mempertegas pekabaran-Nya, ribuan orang yang ragu-ragu melompat masuk ke dalam kerajaan itu. Mereka secara rahasia sudah mengikut Dia. Hati mereka telah menyambut undangan-Nya. Faktor-faktor budaya, jaminan pekerjaan, dan tekanan keluarga menghambat sambutan mereka secara terbuka. Kebangkitan Kristus menghancurkan pagar, memaksa untuk mengambil keputusan." [alinea kedua: lima kalimat terakhir].

   Apa yang kita pelajari tentang penginjilan dan penganiayaan di zaman rasul-rasul?
1. Kekristenan tidak pernah bebas dari penganiayaan, dari dulu sampai sekarang. Maka, menjadi orang Kristen adalah suatu tindakan keberanian. Kata Yesus, "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat. 16:25).
2. Kekristenan adalah soal keselamatan di akhirat, bukan di dunia ini. Menjadi orang Kristen berarti rela mengorbankan hidup di dunia ini demi hidup kekal di surga dan selanjutnya di dunia baru. Tidak ada hal yang terlalu mahal untuk diserahkan demi memperoleh kehidupan abadi bersama Kristus.
3. Orang Kristen tidak disukai oleh dunia sebab mereka bukan berasal dari dunia ini. Yesus berkata, "Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu" (Yoh. 15:19).

   PENUTUP

    Pemikiran sekuler.

   Orang-orang dengan pemikiran sekuler adalah mereka yang kehidupannya terfokus pada hal-hal duniawi dan kebendaan. Mungkin mereka itu bukan orang-orang yang anti agama atau ateis, hanya saja hidup mereka tidak memusingkan soal agama tetapi lebih mengutamakan materialisme. Sepintas lalu orang-orang yang berpandangan sekuler itu seakan "lebih realistis" ketimbang orang-orang yang berpandangan agamis yang hidup mengandalkan iman. Menginjili kaum sekularis seperti itu seringkali membutuhkan cara pendekatan yang khusus, bukan dengan cara-cara yang biasa. Meskipun cara berpikir mereka sangat duniawi, pemuridan di kalangan orang-orang ini adalah sebuah keniscayaan.

    "Bukan oleh jamahan biasa dan secara kebetulan maka jiwa-jiwa yang kaya, mencintai dunia dan pemuja dunia itu ditarik kepada Kristus. Seringkali orang-orang ini paling sulit didekati. Usaha perorangan harus diadakan untuk mereka oleh pria dan wanita yang dipenuhi dengan semangat utusan injil, yaitu mereka yang tidak akan gagal atau pun patah semangat" [alinea kedua: tiga kalimat pertama].
   Dua orang ibu yang sama-sama bersuamikan evangelis dan tinggal bertetangga pada suatu hari terlibat dalam percakapan yang bersifat "curhat" (curahan isi hati). Bukan kesederhanaan hidup mereka yang jadi topik pembicaraan, tetapi hasil penginjilan suami masing-masing. Sambil menjahit tambalan celana panjang milik suami mereka masing-masing, ibu yang sedang menisik bagian bokong celana suaminya mengeluh karena hasil kerja suaminya tidak sesukses suami tetangganya itu. Lalu, dengan nada memberi semangat, ibu yang lain itu menanggapi: "Ibu, rahasianya terletak pada apa yang sedang kita lakukan sekarang. Ibu sedang menambal bagian belakang celana suami ibu yang sobek, sedangkan saya menambal bagian lutut dari celana suami saya. Mungkin suami ibu terlalu banyak duduk, dibandingkan dengan suami saya yang banyak berdoa sampai lutut celananya sobek..."
   "Dengan kuasa Allah yang giat bekerja di dalam diri kita, Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita minta atau pikirkan" (Ef. 3:20, BIMK).

DAFTAR PUSTAKA:
1.                  Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House 
             Januari – Maret 2014,
2.                  Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.