Sabtu, 27 April 2013

Sepuluh Kunci Pernikahan Bahagia



Pernikahan  merupakan wujud menyatunya dua sejoli ke dalam satu tujuan yang sama. Dan salah satu tujuan pernikahan adalah mencapai kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, jalan menuju kebahagiaan tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga. Nah, bagaimana kita mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga kita tidak goyah? Inilah 10 kunci menuju perkawinan yang bahagia.

1. Cinta
Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian dari suami isteri. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. Pernikahan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun pernikahan yang langgeng. Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus.
Epesus 5:22 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,…”
Epesus 5:25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat….”

2. Seiman
Cinta saja tentu belum cukup untuk menciptakan pernikahahan yang bahagia. Prinsip memilih suami yang seiman juga merupakan salah satu kunci dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga. Memang, banyak juga pasangan suami-istri beda agama yang juga bisa bahagia menjalani pernikahannya. Namun, sebaiknya jangan anggap enteng soal satu ini. Bisa-bisa, Anda dan suami akhirnya jalan sendiri-sendiri, sesuai iman masing-masing. Belum lagi kehadiran anak. Persoalan agama apa yang akan dianut anak seringkali juga memicu perdebatan yang panjang.
2 Korintus 6:14-15 “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.”

3. Saling percaya
Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, pernikahan tentu tak akan berjalan mulus. Rasa saling percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami maupun istri Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.
Amsal 31:11a “Hati suaminya percaya kepadanya,…”

4. Seks
Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi pasangan suami istri.
Kejadian 4:1 “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain.”  Kidung Agung 2:6 “Tangan kirinya ada dibawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku”.

5. Ekonomi
Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah. Artinya, tak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak didukung oleh topangan ekonomi yang memadai. Mengatur ekonomi secara benar juga akan memberikan perasaan aman dan bahagia.
Amsal 21:20 “Harta yang indah dan minyak ada dikediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya”.

6. Kehadiran anak
Anak adalah karunia Illahi yang tak terkirakan nilainya. Pernikahan tanpa kehadiran anak seringkali memicu persoalan tersendiri. Banyak keluarga atau pasangan suami-istri yang sulit mendapatkan anak dan mati-matian berupaya dan berikhtiar agar mempunyai keturunan. Kehadiran seorang anak juga membuat suami-istri memiliki keterikatan dan tanggung jawab untuk membesarkan, merawat dan mencintai bersama-sama.
Mazmur 127:3  “Sesungguhnya , anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan,…”  Mazmur 144:2 “Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru yang dipahat untuk bangunan istana”.

7. Hindari pihak ketiga
Kehidupan pernikahan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Banyak contoh keluarga yang hancur gara-gara pihak ketiga ikut intervensi di dalamnya. Entah campur tangan mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga, dan sebagainya.  Titus 1:10 …”mereka mengacau banyak keluarga..”

8. Menjaga romantisme
Terkadang, pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup kita.
Amsal 15:19 “rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya”.

9. Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tangga. Bagaimana mungkin hubungan Anda dengan suami akan mulus jika menyapa pun Anda enggan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan.
Yakobus 1:19 “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”. Baca juga Ulangan 6:4-9.

10. Saling memuji dan memperhatikan
Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami, dan sebaliknya. Ucapan bernada pujian akan semakin memperkuat ikatan suami-istri. Tanpa pujian atau perhatian, bisa-bisa yang ada hanya saling mencela dan merendahkan. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai. Memuji itu tak butuh biaya atau ongkos yang mahal. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada suami atau istri.
Roma 12:10 “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”.

    Semoga  setiap keluarga umat Tuhan mencapai kebahagiaan dalam pernikahannya, adalah doa dan pengharapan kita.


Jumat, 26 April 2013

Umat Tuhan Dalam Kancah Pergaulan Dunia (4)




"ALLAH BAGI SEGALA BANGSA (AMOS)"

PENDAHULUAN

Singa dari Sion. Nabi Amos memulai pekabarannya dengan kata-kata yang mendirikan bulu roma: "TUHAN mengaum dari Bukit Sion, suara-Nya menggemuruh dari Yerusalem. Padang-padang rumput menjadi gersang, rumput di Gunung Karmel kering kerontang...Apabila singa mengaum, siapakah yang tidak takut? Apabila TUHAN Yang Mahatinggi berbicara, siapakah dapat berdiam diri dan tidak mengumumkan pesan-Nya?" (Am. 1:2 dan 3:8, BIMK).
Singa yang dijuluki "raja hutan" membuat hewan itu sering dijadikan lambang dari kekuatan yang menakutkan, dan acapkali auman singa digunakan sebagai lambang amarah. Alkitab juga sering menggunakan singa sebagai simbol dari kedahsyatan. Menarik pula bahwa dalam PB singa digunakan untuk melambangkan dua kekuatan yang bertolak-belakang, yaitu Kristus sebagai "singa Yehuda" (Why. 5:5) dan Iblis sebagai "singa yang mengaum-aum" (1Ptr. 5:8). Di sini keduanya sama-sama sebagai "penakluk"--Kristus adalah penakluk kejahatan dan Iblis adalah penakluk manusia. Namun, oleh karena Kristus telah berhasil mengalahkan Iblis, maka sekarang Iblis itu tidak lebih dari "penakluk yang sudah ditaklukkan."
Sion adalah nama sebuah bukit dengan ketinggian 765m di atas permukaan laut yang terletak di kota tua Yerusalem, bekas benteng orang Yebus yang direbut oleh raja Daud dan setelah diperkuat lagi dinamai "Kota Daud" atau "Benteng Daud" (David Citadel). Daud pun menyebut Sion sebagai "kota Allah" (Mzm. 87:2-3) dan "tempat kedudukan-Nya" (Mzm. 132:13). Secara tradisional bangsa Israel menganggap bahwa Sion adalah "kota TUHAN" dan "Sion, milik Yang Mahakudus, Allah Israel" (Yes. 60:14). Bagi kalangan umat Kristen, Sion memiliki makna teologis karena Yesus Kristus dikaitkan dengan nama ini (Mat. 21:5; Yoh. 12:5; Rm. 9:33, 11:26; 1Ptr. 2:6), bahkan dihubungkan dengan Yerusalem semawi (Ibr. 12:22; Why. 14:1).
"Amos, seorang gembala, diutus kepada bangsa Israel untuk mengamarkan mereka bahwa dia telah mendengar auman singa--dan singa itu tidak lain dari Tuhan mereka! Digerakkan oleh Roh Kudus, nabi Amos membandingkan cara Allah berbicara kepada bangsa-bangsa, seperti juga kepada umat-Nya yang istimewa itu, dengan auman singa (baca Am. 1:2)" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
Pelayanan Amos sebagai seorang nabi Allah berlangsung pada zaman pemerintahan raja Uzia di Yehuda (kerajaan selatan) dan Yerobeam II di Israel (kerajaan utara), diperkirakan antara tahun 760-750 SM, dua tahun sebelum terjadi bencana gempa bumi di wilayah itu. Ketika itu kedua kerajaan tersebut dari segi militer sedang kuat-kuatnya, dan kelompok orang-orang kaya sedang makmur-makmurnya. Tetapi pada waktu yang sama orang-orang miskin di negeri itu tengah berada dalam keadaan sangat tertindas sehingga banyak orangtua yang dipaksa untuk menjual anak-anak mereka demi membayar hutang, anak-anak lelaki dijadikan budak dan anak-anak gadis dijadikan budak seks.
"Amos dipanggil untuk bernubuat kepada bangsa-bangsa yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia juga diutus kepada satu masyarakat di mana orang-orang yang beruntung dan kaum rohaniwan hidup nyaman dan makmur. Namun, orang-orang ini menindas orang miskin dan membiarkan usaha yang tidak jujur dan penyuapan di pengadilan. Pekan ini kita akan mendengarkan apa yang Tuhan hendak katakan tentang perbuatan-perbuatan yang tercela ini" [alinea kedua].
Nabi yang dilecehkan. Harap diketahui bahwa nabi Amos ini bukan ayah dari nabi Yesaya (Yes. 1:1). Nabi Amos berasal dari Tekoa, sebuah kota kecil di wilayah Yudea sekitar 8 Km sebelah selatan Betlehem. Demi menjawab panggilan Allah dia pun berangkat ke Betel, kota suci kerajaan Yehuda yang terletak sekitar 15 Km sebelah utara kota Yerusalem, untuk berkhotbah dan bernubuat di sana. Kemungkinan besar dia hanya tinggal beberapa hari di kota itu, dan setelah selesai menjalankan tugasnya dia langsung pulang lalu kembali menekuni profesinya sebagai petani dan peternak.
Khotbah-khotbahnya yang keras tidak disukai dan dianggap telah menciptakan keresahan. Amazia, imam di kota itu, mengusirnya sambil menghina bahwa dia berkhotbah untuk cari makan (Am. 7:12). Perhatikan kata-kata Amos ketika menjawab tudingan yang melecehkan itu: "Aku bukan nabi karena jabatan. Sebenarnya aku peternak dan pemetik buah ara. Tapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaanku, dan menyuruh aku menyampaikan pesan-Nya kepada orang Israel" (ay. 14-15, BIMK). Lalu sang nabi bernubuat tentang nasib tragis yang akan dialami oleh imam itu (ay. 16-17).
Tuhan dapat menggunakan seorang yang sederhana, yang bekerja melayani Dia tanpa pamrih dan berani menyampaikan pekabaran Tuhan tanpa rasa takut atau khawatir terhadap penolakan dan penghinaan. Di zaman akhir ini Allah sangat membutuhkan orang-orang seperti Amos, mereka yang melayani Tuhan sebagai kaum awam dan tidak mencari nafkah dari pekerjaan pelayanan itu.
1.      PENINDASAN BANGSA ATAS BANGSA (Kejahatan Terhadap Kemanusiaan).
Allah menghukum kejahatan manusia. Dalam ukuran dunia Yerobeam adalah raja yang berhasil karena pada masa pemerintahannya yang cukup panjang itu (41 tahun) dia sukses memulihkan kedaulatan Israel serta membangun perekonomian dan kekuatan militernya, tetapi di mata Tuhan dia seorang yang gagal (baca 2Raj. 14:23-29). Waktu itu kerajaan Israel sudah eksis sekitar 150 tahun lamanya sejak sepuluh suku itu memisahkan diri dari dua suku lainnya di selatan, yang sekarang menggunakan nama kerajaan Yehuda, dan saat itu diperintah oleh raja Uzia.
Sebenarnya Amos dipanggil untuk bernubuat terhadap kerajaan Israel, tetapi oleh kehendak Tuhan dia harus lebih dulu bernubuat atas enam kerajaan kafir di kawasan itu: Asyur (juga disebut Aram), Filistin, Fenisia (Tirus), Edom (keturunan Esau), Amon (keturunan dari salah satu anak Lot), dan Moab. Selanjutnya, nubuatan Amos beralih kepada umat Tuhan sendiri, dimulai dari Yehuda kemudian Israel. Keenam bangsa tetangga itu dihukum Allah terutama oleh sebab tindakan mereka sebelumnya yang sangat kejam terhadap Israel dan Yehuda, selain karena mereka adalah masyarakat penyembah berhala. Sedangkan hukuman atas Yehuda dan Israel adalah akibat praktik penyembahan berhala dan juga penindasan oleh "the ruling class" (kelompok penguasa) atas rakyat kecil.
"Dua pasal pertama dalam kitab Amos berisi tujuh nubuatan terhadap bangsa-bangsa tetangga, diikuti oleh satu nubuatan terhadap Israel. Bangsa-bangsa asing itu dihakimi bukan karena mereka adalah musuh-musuh Israel tetapi oleh sebab pelanggaran mereka terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan universil. Dua hal yang menonjol dalam kutukan Amos: hilangnya kesetiaan dan hilangnya belas kasihan" [alinea pertama].
Kejahatan kemanusiaan. Kekejaman yang dialami bangsa Israel memang luar biasa. Filistin, misalnya, musuh bebuyutan ini pernah menyerbu Israel lalu menawan rakyat yang kemudian diserahkan kepada orang Edom yang memperlakukan mereka dengan bengis. Begitu pula bangsa Fenisia (Tirus), kerajaan yang di masa pemerintahan raja Hiram pernah menjadi sekutu dekat dan masih terikat persahabatan sejak Israel masih bersatu di bawah raja Daud dan raja Salomo, belakangan melanggar janji persaudaraan tersebut dengan menyerbu Israel lalu menyerahkannya juga kepada Edom, bangsa yang sejak lama dengki terhadap sepupu mereka itu. Lebih jahat lagi Amon yang dalam suatu sengketa perbatasan menyangkut wilayah Gilead, bangsa yang masih terhitung saudara jauh itu menyerbu Israel lalu membantai anak-anak dan ibu-ibu hamil.
Tampaknya mereka semua ingin agar Israel punah. Setelah apa yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan kafir itu terhadap Israel purba, nasib yang sama juga dialami oleh keturunan mereka di zaman moderen ketika orang-orang Yahudi pada masa PD II dibantai oleh regim Nazi Jerman yang juga menghendaki kepunahan mereka. Hingga kini pun banyak negara yang terus memusuhi Israel, bahkan regim Iran sekarang ini sesumbar akan menghapus Israel dari peta dunia. Namun Tuhan masih tetap mengendalikan dunia ini, dan tidak membiarkan pemimpin-pemimpin dunia berbuat sesuka hati.
"Karena Allah berkuasa atas semuanya, Dia menggenggam nasib seluruh dunia dalam tangan-Nya. Dia mempunyai tujuan dan kepentingan yang menjangkau jauh melampaui perbatasan Israel. Allah Israel adalah Tuhan atas segala bangsa; seluruh sejarah umat manusia menjadi kepedulian-Nya. Dia adalah Allah Pencipta yang memberi kehidupan kepada semua, dan semuanya bertanggungjawab kepada-Nya" [alinea terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang perhatian Allah terhadap kejahatan kemanusiaan?
1. Allah menghukum manusia atas kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan, baik dulu maupun sekarang. Sekalipun kini Allah tidak mengutus seseorang seperti Amos untuk bernubuat, tetapi penghakiman Allah tetap berlaku (Kis. 17:31; Rm. 2:16).
2. Penghakiman dan hukuman Allah tidak hanya atas orang-orang kafir yang jahat, tetapi Dia juga menghakimi kejahatan yang dilakukan oleh umat-Nya sendiri (Ibr. 10:30; 2Sam. 22:28; Mzm. 9:13).
3. Fakta bahwa Allah tidak hanya menghukum orang-orang kafir yang jahat tetapi juga umat-Nya sendiri yang melakukan kejahatan, menunjukkan bahwa Allah kita itu adil dan tidak pilih bulu dalam menghakimi manusia (Mzm. 98:9; Yes. 11:4).
 2. PENINDASAN SESAMA SAUDARA (Keadilan Bagi yang Tertindas).
Kemiskinan rohani. Pada pelajaran kemarin (Minggu, 21 April) kita telah pelajari mengenai penindasan bangsa atas bangsa yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan kafir atas Israel purba. Hari ini kita menyoroti penindasan manusia atas manusia (exploitation de l'homme par l'homme), secara kelompok dan perorangan, yang berlangsung di kalangan bangsa Israel sendiri. Tuhan berkata, "Orang Israel telah berkali-kali berdosa, karena itu Aku pasti akan menghukum mereka...Mereka menindas orang lemah yang tak berdaya, dan menyingkirkan orang miskin. Ayah dan anak menggauli hamba wanita yang sama, sehingga mencemarkan nama-Ku yang suci. Di setiap tempat ibadah, orang-orang tidur dengan baju yang mereka ambil sebagai jaminan utang dari orang miskin. Di Rumah Allah mereka, mereka minum anggur yang mereka ambil dari orang yang berutang pada mereka" (Am. 2:6-8, BIMK).
Melalui Musa, Allah telah menurunkan kepada bangsa Israel hukum yang lengkap, termasuk hukum sosial yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang miskin. Telah diatur dalam "Hukum Musa" itu bahwa apabila ada di antara sesama warga Israel yang jatuh miskin kemudian membaktikan diri kepada orang kaya untuk bisa menyambung hidup, mereka tidak boleh diperlakukan seperti budak dan sesudah tujuh tahun mengabdi mereka harus bebas demi hukum pada tahun yang disebut "Tahun Yobel" itu (Im. 25:39-43). Bahkan, pada tahun ketujuh itu wajib diadakan pemutihan atas segala jenis hutang-piutang di antara sesama bangsa Israel (Ul. 15:1-3). Menyangkut pakaian yang digadaikan dan menjadi sebagai jaminan atas pinjaman uang, itu mesti dikembalikan pada hari yang sama sebelum matahari terbenam, terlepas dari apakah pinjaman itu sudah dilunasi atau belum (Kel. 22:26-27).
Tampaknya orang-orang kaya Israel purba pada masa itu telah dipengaruhi oleh sekularisme (keduniawian) yang diadopsi dari luar, sehingga mereka menjadi sangat egosentris dan individualistis sehingga tidak memiliki kepedulian sosial. "Kemakmuran ekonomi dan stabilitas politik Israel telah membawa kepada kebusukan rohani. Kebusukan rohani itu memperlihatkan dirinya dalam ketidakadilan sosial. Di Israel, orang kaya menindas orang miskin, dan yang berkuasa menindas yang lemah. Orang kaya hanya peduli dengan diri mereka sendiri dan keuntungan pribadi mereka, sekalipun ketika hal itu berarti mengorbankan dan menyengsarakan orang miskin (Tidak banyak yang berubah setelah beberapa ribu tahun, bukan?)" [alinea kedua: empat kalimat terakhir].
Ibadah yang sia-sia. Anda beribadah kepada Tuhan untuk apa? Para penyembah berhala, dari dulu hingga sekarang, beribadah kepada dewa-dewa mereka dengan tujuan untuk menyenangkan hati para dewa yang mereka sembah itu. Ada dua hal utama yang diharapkan dari penyembahan berhala, yaitu supaya mendapatberkat dan keselamatan diri. Orang Kristen tidak beribadah karena kedua alasan ini, tetapi kita beribadah kepada Allah oleh sebab kita sudah diselamatkan melalui kasih karunia Yesus Kristus (Kis. 4:12; 15:11; 1Tes. 5:9; Why. 1:5) dan karena kita mengasihi Tuhan (Ef. 6:24; 1Ptr. 1:8; 1Yoh. 4:19). Berkat itu adalah urusan Tuhan, sebab Dia mengetahui dan akan memenuhi keperluan kita sesuai dengan kekayaan-Nya (Mat. 6:8; Rm. 8:26-27; Flp. 4:19).
Mungkinkah ibadah kita menjadi sia-sia dan percuma? Sebagian orang berpikir bahwa setiap ibadah kepada Tuhan pasti diterima dan tidak ada ibadah yang mubazir, namun iman Kristiani percaya bahwa tidak semua ibadah diterima Allah. Bahkan, tidak setiap doa dan puasa berkenan bagi Tuhan. Salah satu alasan mengapa sesuatu ibadah ditolak oleh Tuhan ialah jika sesuatu ibadah hanya bersifat "lips service"  alias hiasan bibir tanpa mengikuti perintah Tuhan (Mrk. 7:6-8), atau kalau ibadah tersebut sekadar "pro forma" supaya tampak dari luar seperti beribadah tapi di dalam hati berbeda (2Tim. 3:5). Bahkan, ibadah seseorang bisa menjadi sia-sia jika dia "tidak mengekang lidahnya" (Yak. 1:26).
Dalam kasus Israel purba, banyak orang yang percuma beribadah oleh sebab pada waktu yang sama mereka itu hanya mencari keuntungan pribadi, menindas anak buah, dan berkelahi di antara mereka sendiri. Tuhan berkata, "Mereka menyembah Aku setiap hari, dan ingin mengetahui kehendak-Ku, seolah-olah mereka melakukan yang baik, dan setia kepada hukum-Ku. Mereka berkata bahwa mereka senang menyembah Aku dan menginginkan hukum-Ku yang adil" (Yes. 58:2, BIMK). Tetapi mereka heran, sebab meski sudah beribadah sambil berpuasa tapi Tuhan tidak memperhatikannya (ay. 3). Pesan Tuhan kepada mereka adalah: "Apabila kamu berdoa, Aku akan mengabulkannya. Apabila kamu berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab. Jangan lagi menindas sesamamu, hentikanlah permusuhan dan fitnah. Berilah makan kepada orang lapar dan tolonglah orang-orang yang tertindas. Kalau kamu berbuat begitu, maka kegelapan di sekitarmu akan menjadi seterang siang" (ay. 9-10, BIMK).
"Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa keadilan sosial mesti menjadi suatu produk alami dari injil. Sementara Roh Kudus membuat kita lebih menyerupai Yesus, kita belajar untuk turut dalam kepedulian Allah...Tidak ada pengikut Kristus yang dapat melakukan sesuatu yang kurang lalu benar-benar menjadi seorang pengikut Kristus" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
Pena inspirasi menulis: "Demi masyarakat yang sejahtera dibutuhkan orang-orang yang berintegritas moral di ruang-ruang legislatif dan ruang-ruang pengadilan. Gereja kita memerlukan orang-orang seperti itu untuk melayani pada jabatan yang suci, mereka yang seyogianya adalah orang-orang yang terhormat, takwa, murni; yang harus dikuduskan oleh Roh dan oleh firman itu" (Ellen G. White, Signs of the Times, 2 Februari 1882).
Apa yang kita pelajari tentang penindasan manusia dan kepedulian Allah?
1. Bangsa Israel purba di zaman nabi Amos mungkin kaya dari segi badani, tetapi mereka sangat miskin secara rohani. Kemiskinan rohani itu lalu menimbulkan kebusukan rohani yang dimanifestasikan dalam cara hidup yang cinta diri dan mementingkan kelompoknya.
2. Adalah suatu kejahatan besar di mata Tuhan bagi suatu bangsa yang telah diberkati tetapi kemudian melecehkan dan menindas sesama anak bangsa, seperti Israel purba, dan dengan demikian melanggar aturan yang Allah sendiri telah berikan.
3. Allah tidak akan membiarkan penindasan dalam bentuk apapun terjadi di kalangan umat-Nya, mentang-mentang punya jabatan atau kekayaan. Tuhan telah menghukum Israel purba, Dia juga akan menghukum umat-Nya sekarang yang berbuat demikian.
3. HAK ISTIMEWA DAN TANGGUNGJAWAB MORAL (Bahaya Dari Hak Istimewa)
Pengakuan dan hak istimewa. Israel purba adalah bangsa yang beruntung karena sebagai umat pilihan Allah mereka memiliki hak-hak istimewa yang tidak dipunyai bangsa-bangsa lain. Sebagaimana kita tahu "Israel" adalah nama pemberian Allah kepada Yakub, cucu Abraham, nenek moyang bangsa itu ketika dia bergumul dengan Tuhan di tepi sungai Yabok (Kej. 32:25-28). Israel adalah transliterasi dari kata Ibrani יִשְׂרָאֵל, Yisra'el, yang berarti Allah menang atau Menang bersama Allah. Sebelumnya dia bernama asli Yakub (diberi nama itu karena waktu lahir dia memegang tumit Esau, kakak kembarnya; baca Kej. 25:26) dan setelah menipu ayahnya, Ishak, dengan mengaku dirinya sebagai Esau, nama Yakub mendapat konotasi baru sebagai penipu (baca Hos. 12:4). Namun, sesuai dengan janji Tuhan, keturunan Yakub itu menjadi sangat banyak dan berkembang di tanah warisan yang luas serta diberkati dan dilindungi Tuhan (Kej. 28:14-15), dan "Israel" kemudian menjadi nama mereka sebagai satu bangsa.
Dengan latar belakang tersebut tentu saja mereka sangat dikenal oleh Allah. Tuhan berkata melalui Amos: "Dari semua bangsa di dunia, kamulah satu-satunya bangsa yang Kukenal dan Kuperhatikan. Itulah sebabnya dosamu besar, dan Aku pasti menghukum kamu" (Am. 3:2, BIMK). Kata Ibrani יָדַע, yada, yang diterjemahkan dengan kenal dalam ayat ini juga berarti bergaul dekat yang melukiskan suatu hubungan yang akrab antara Allah dengan bangsa Israel. Hubungan itu sudah dimulai berabad-abad sebelumnya ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Abram, nenek moyang pertama bangsa Israel, untuk menjadikan keturunannya menjadi bangsa yang besar dan termashur (Kej. 12:2). Janji yang sama diulangi setelah Tuhan mengganti nama Ibrahim menjadi Abraham (Kej. 22:17; 32:12). Sebagai bangsa yang "didirikan" oleh Allah sendiri, Israel diberkati dengan dua hal: recognition (pengakuan) dan privilege (hak istimewa).
"Dalam Yeremia 1:5, misalnya, Allah berkata bahwa Dia 'mengenal' nabi itu dan menetapkan dia bahkan sebelum kelahirannya. Demikian pula halnya dengan Israel. Mereka itu bukan sekadar salah satu bangsa di antara banyak bangsa. Sebaliknya, Allah berketetapan memisahkan mereka untuk suatu tujuan ilahi yang suci. Mereka berada dalam satu hubungan yang istimewa dengan Dia" [alinea kedua: lima kalimat terakhir].
Tanggungjawab moral. Hampir semua orang mau jadi pemimpin, umumnya karena dua hal: pengakuandan hak istimewa. Makanya belakangan ini orang berbondong-bondong terjun ke dunia politik (walaupun kebanyakan awam soal politik, bahkan tak punya potongan politisi), sebab di alam demokrasi "moda" untuk mengantar seseorang kepada kursi kekuasaan adalah politik. Begitulah, para anggota dewan tidak puas hanya sebagai wakil rakyat, lalu meninggalkan jalur legislatif dan bertarung di jalur eksekutif. Para artis seakan kurang puas hanya jadi selebriti, lalu beringsut dari dunia hiburan dan memasuki dunia politik. Para pengusaha juga merasa tak cukup dengan kekuasaan di kantornya dan ingin jadi penguasa di ruang publik. Dunia politik pun berubah menjadi arena dagang sapi, dan sebagian orang mengeluh karena "ongkos politik" menjadi sangat tinggi. Inflasi politik, mungkin?
Tetapi perilaku mengejar-ngejar kedudukan seperti itu bukan cuma monopoli "orang dunia" (istilah yang lazim kita gunakan), tapi fenomena serupa bisa terjadi di lingkungan keagamaan/kegerejaan. Pemicunya ya itu tadi, pengakuan dan hak istimewa. Bentuk-bentuk penghormatan mulai dari yang bersifat normatif seperti fasilitas dan perlakuan khusus dalam setiap pertemuan, sampai kepada hal-hal tetek-bengek seperti jadi rebutan banyak orang untuk bersalaman dan berfoto bersama (buat pajangan di Facebook!), semuanya merupakan privilese-privilese yang cukup menggairahkan untuk dinikmati sebagai bonus dari suatu jabatan. Namun jabatan itu bukan sekadar pengakuan dan hak istimewa, tetapi jabatan adalah amanah dan tanggungjawab moral. Semakin tinggi dan semakin penting jabatan seseorang, baik itu jabatan publik maupun non-publik, kian besar pula tuntutan tanggungjawab moralnya. Tanggungjawab moral itu termasuk komitmen untuk keberhasilan tugas dan kelakuan yang terpuji.
Kewajiban moral. Kita kembali kepada masalah Israel purba. Sebagai bangsa dan umat pilihan Tuhan mereka beroleh pengakuan dan hak-hak istimewa, sayangnya mereka mengabaikan tanggungjawab moral untuk menjadi satu bangsa melalui siapa semua bangsa di dunia ini diberkati (Kej. 12:3; 22:18), dan mereka pun melalaikan kewajiban moral untuk memperkenalkan bangsa-bangsa kafir kepada Allah yang benar (Yes. 55:4, 5).
"Allah sendiri yang telah memilih Israel dan membawanya keluar dari perhambaan kepada kebebasan. Keluar dari Mesir adalah satu peristiwa paling penting dalam permulaan sejarah Israel sebagai satu bangsa. Hal itu menyediakan jalan bagi tindakan-tindakan penebusan Allah dan penaklukkan tanah Kanaan. Tetapi kekuatan dan kemakmuran Israel telah membawa kepada kesombongan dan kepuasan diri karena statusnya yang istimewa sebagai umat pilihan Tuhan" [alinea ketiga].
Israel adalah bangsa yang istimewa bukan saja karena mereka adalah umat pilihan Tuhan, namun karena kepada mereka telah diberikan Hukum Allah dan kesempatan luas untuk bergaul dengan Dia sehingga dari pengalaman itu mereka lebih mengenal Allah dan lebih mengetahui tentang kehendak-kehendak-Nya. Tetapi seperti halnya setiap keistimewaan selalu mengandung tuntutan, dari bangsa itu pun dituntut tanggungjawab dan kewajiban yang sepadan dengan keistimewaan mereka. "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut" (Luk. 12:48). Ketentuan absolut ini merupakan rumus abadi, dulu sudah berlaku dan sekarang juga masih berlaku.
Pena inspirasi menulis: "Semua yang sudah mempunyai terang kebenaran sedang diuji sama seperti orang Yahudi. Sebagai satu umat kita sudah ditinggikan pada hak-hak istimewa yang tertinggi. Tuhan sudah dinyatakan kepada kita di dalam terang yang terus bertambah. Hak-hak istimewa kita jauh lebih besar ketimbang hak-hak istimewa bangsa Yahudi. Kita bukan saja memiliki terang besar yang dipercayakan kepada Israel purba, tetapi kita juga mempunyai bukti yang meningkat tentang keselamatan agung yang diberikan kepada kita melalui Kristus. Apa yang merupakan contoh dan lambang bagi orang Yahudi adalah kenyataan bagi kita. Mereka mempunyai sejarah Perjanjian Lama, kita mempunyai Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru" (Ellen G. White, Review and Herald, 17 Januari 1899).
Apa yang kita pelajari tentang hak istimewa dan tuntutan-tuntutannya?
1. Eksistensi bangsa Israel adalah atas rencana Allah sebagai ujud dari perjanjian-Nya dengan Abraham. Itulah sebabnya Israel adalah bangsa yang mendapat "pengakuan dan hak istimewa" langsung dari Allah sendiri. Tetapi keistimewaan mereka itu disertai dengan tujuan yang istimewa juga.
2. Sebagai umat pilihan Allah, bangsa Israel mengemban tanggungjawab dan kewajiban moral yang melekat pada keistimewaan mereka sebagai satu bangsa. Mereka harus menjadi saluran berkat Allah dan juga sumber pengetahuan akan Allah yang benar bagi bangsa-bangsa lain.
3. Israel purba telah gagal memenuhi tanggungjawab dan kewajiban mereka oleh sebab sikap cinta diri dan mengabaikan maksud Allah. Kegagalan Israel purba dapat menjadi kegagalan umat Tuhan zaman akhir ini kalau kita tidak belajar dari pengalaman mereka.
4. SAAT PERTANGGUNGJAWABAN (Pertemuan Israel Dengan Allah)
Siap menghadap Tuhan? Lewat nabi Amos, Allah berfirman kepada bangsa Israel purba: "Sebab itu demikianlah akan Kulakukan kepadamu, hai Israel. Oleh karena Aku akan melakukan yang demikian kepadamu, maka bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu, hai Israel!" (Am. 4:12; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan bertemu pada ayat ini adalah קָרָא, qir'ah, kata yang juga digunakan dalam Kej. 18:2 yang tentang Abraham yang keluar menemui tiga orang yang dilihatnya lewat di depan perkemahannya di Mamre, yang kemudian diketahuinya bahwa mereka tidak lain dari Tuhan bersama malaikat-malaikat pengiring-Nya. Kata yang sama juga digunakan dalam Kej. 19:1 tentang Lot ketika menemui dua orang yang dilihatnya berjalan menuju ke rumahnya di Sodom, yang semula disangkanya musafir tapi ternyata mereka adalah kedua malaikat yang datang untuk mengamarkannya tentang hukuman Allah yang segera akan menimpa kota Sodom dan Gomora.
Meskipun kata "bertemu" dalam ketiga ayat di atas memiliki arti yang sama, namun pemakaian kata ini dalam kitab Amos berbeda dengan pemakaiannya dalam dua ayat kitab Kejadian tersebut, yaitu perbedaannya pada makna yang melatarbelakangi pemakaian kata itu. Abraham dan Lot datang bertemu dengan Tuhan dan malaikat Tuhan itu adalah atas inisiatif mereka sendiri secara sukarela, sedangkan Israel bertemu dengan Tuhan karena keharusan. Hal ini terindikasi dalam ayat sebelumnya ketika Tuhan berkata, "Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu, seperti Allah menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora, sehingga kamu menjadi seperti puntung yang ditarik dari kebakaran, namun kamu tidak berbalik kepada-Ku" (Am. 4:11). Bagi Israel, pertemuan dengan Allah dalam hal ini bukan sebuah tantangan seperti bagi Abraham dan Lot, bukan pula sebagai sebuah undangan seperti ketika Tuhan berbicara kepada bangsa Israel melalui nabi Yesaya (Yes. 55:3), tetapi kali ini pertemuan tersebut adalah sebuah panggilan untuk menghadap yang tidak bisa ditolak.
Dalam gaya bahasa populer di kalangan masyarakat pengguna bahasa Indonesia, kita mengenal istilah "menghadap Tuhan" yang mengandung arti kematian. Sebutan ini adalah produk dari penghalusan bahasa (eufemisme) yang lazim untuk menggantikan kata "mati" jika menyangkut seorang manusia. Istilah ini juga sama dengan "tutup usia" atau "menghembuskan nafas terakhir." Jadi, sebutan "menghadap Tuhan" sesungguhnya memiliki konotasi yang mengerikan. Mengapa Israel harus menghadap Tuhan? Untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan mereka dan pola hidup yang selama ini mereka praktikkan. "Amos pasal 4 dimulai dengan uraian tentang dosa-dosa Israel, dan diakhiri dengan pengumuman akan hari perhitungan. Allah membuat umat-Nya bertanggungjawab khususnya atas cara-cara bagaimana mereka hidup dan memperlakukan orang lain" [alinea pertama].
Doa Salomo. Pada upacara penahbisan Bait Suci pertama dan termegah dalam sejarah bangsa Israel yang dibangun di kota Yerusalem, sambil menengadahkan tangannya raja Salomo memanjatkan doa penyerahan kepada Tuhan yang disaksikan oleh seluruh rakyat. Dalam doa yang cukup panjang itu Salomo juga menyelipkan--sebagaimana kelaziman pada masa itu--suatu sumpah yang mengikat seluruh bangsa Israel.
Antara lain dia berdoa, "Apabila umat-Mu berdosa kepada-Mu dan Engkau menghukum mereka dengan tidak menurunkan hujan lalu mereka bertobat dari dosa mereka dan menghormati Engkau sebagai TUHAN, kemudian menghadap ke rumah ibadat ini serta berdoa kepada-Mu, kiranya dari surga Engkau mendengarkan mereka. Dan ampunilah dosa umat-Mu Israel dan raja mereka. Ajarlah mereka melakukan apa yang benar. Setelah itu, ya TUHAN, turunkanlah hujan ke negeri-Mu ini, negeri yang Kauberikan kepada umat-Mu untuk menjadi miliknya selama-lamanya. Apabila negeri ini dilanda kelaparan atau wabah, dan tanaman-tanaman dirusak oleh angin panas, hama atau serangan belalang, atau apabila umat-Mu diserang musuh, atau diserang penyakit, semoga Engkau mendengarkan doa mereka...Sebab itu perlakukanlah setiap orang setimpal perbuatan-perbuatannya, supaya umat-Mu taat kepada-Mu selalu selama mereka tinggal di negeri yang Kauberikan kepada leluhur kami" (1Raj. 8:35-40, BIMK).
Salomo sebenarnya hanya mengulangi perjanjian yang diucapkan oleh leluhur mereka di hadapan Musa dan Yosua ketika masih berada dalam perjalanan pengembaraan di padang gurun dan menjelang mereka memasuki tanah warisan Kanaan. Perjanjian itu bersifat hitam-putih dan sangat jelas: kalau setia dan taat kepada Allah mereka akan diberkati dengan keamanan dan kemakmuran, sebaliknya kalau tidak setia dan murtad mereka akan menderita kutukan. Tetapi ada tambahan dalam doa Salomo, yaitu permohonan bahwa apabila bangsa itu berbuat dosa kemudian bertobat dan kembali kepada Tuhan supaya mereka diampuni. Tuhan mendengar doa Salomo itu. "Doamu sudah Kudengar, dan dengan ini rumah yang telah kau dirikan ini Kunyatakan menjadi tempat khusus untuk beribadat kepada-Ku selama-lamanya. Aku akan selalu memperhatikan dan menjaga tempat ini" (1Raj. 9:3, BIMK). Sayangnya, bangsa Israel gagal mempertahankan kesetiaan mereka sehingga hukuman-hukuman yang disebutkan dalam doa Salomo itu menimpa mereka.
Pena inspirasi menulis: "Bersiaplah untuk bertemu Tuhan-mu. Ada dosa-dosa yang harus diakui, dan kesalahan-kesalahan untuk diluruskan. Sekarang ini waktu harus digunakan untuk persiapan yang sungguh bagi Tuhan. Di masa pertobatan yang khidmat ini kita harus merendahkan hati kita di hadapan Allah dan mengakui dosa-dosa kita. Kita mesti memiliki iman yang sesuai dengan kebenaran-kebenaran penting dan serius yang kita miliki. Inilah satu-satunya bukti yang dapat kita berikan kepada dunia untuk menunjukkan bahwa agama kita itu murni" (Ellen G. White, Review and Herald, 11 Juli 1899).
Apa yang kita pelajari tentang Israel yang harus bertemu dengan Tuhan?
1. Amaran nabi Amos kepada Israel agar bersiap untuk bertemu dengan Allah adalah panggilan untuk mempertanggungjawabkan cara hidup mereka yang jahat. Itu adalah pertanda yang buruk bagi bangsa yang murtad itu.
2. Salomo, raja terdahulu ketika bangsa itu masih bersatu, telah memohon kepada Allah agar sekiranya di kemudian hari umat itu berbuat dosa Tuhan mau mengampuni bila mereka bertobat. Tuhan menerima permohonan itu, tetapi mereka tidak memanfaatkan kesempatan untuk bertobat.
3. Allah yang sama juga telah berjanji untuk memberi pengampunan kepada umat-Nya di zaman akhir bila mereka bertobat dari kejahatan dan dosa (2Ptr. 3:9; Luk. 5:32). Pertanyaannya: apakah kita akan memanfaatkan kesempatan itu, atau mengabaikannya seperti bangsa Israel purba sampai dipanggil menghadap Tuhan?
5. HUKUMAN ATAS ORANG SOMBONG (Kesombongan yang Menuntun Kepada Kejatuhan)
Saudara tapi juga musuh. Pekabaran nabi Obaja bukan kepada kerajaan Israel maupun Yehuda, melainkan khusus ditujukan bagi bangsa Edom. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bangsa Edom adalah keturunan Esau, kakak kembar dari Yakub yang menjadi nenek moyang bangsa Israel dan Yehuda. Jadi, bangsa Edom dan bangsa Israel merupakan dua bangsa kakak-beradik yang berasal dari satu darah, yaitu Ishak, ayah dari Esau dan Yakub. Esau pernah begitu marah terhadap adiknya itu karena Yakub, dengan arahan dan bantuan ibunya, telah merebut berkat kesulungan dengan memperdayai ayah mereka sehingga dia berniat untuk membunuh Yakub (Kej. 27:41). Tapi belakangan kedua saudara kembar itu telah rujuk ketika Yakub pulang dari perantauan dan bertemu dengan Esau dalam suasana persaudaraan yang mesra (Kej. 33:4). Namun hubungan persaudaraan itu tidak berlanjut pada keturunan Esau, bangsa Edom. Bahkan keturunan lain dari seorang cucu Esau, Amalek, menjadi salah satu musuh bebuyutan Israel juga (Kej. 36:12).
Dr. Zdravko Stefanovic, penyusun pelajaran SS ini, tampaknya sekadar menyelipkan kitab Obaja--hanya untuk satu hari pembahasan saja dari seluruh 13 pelajaran triwulan ini--mungkin karena sasaran pekabarannya cuma ditujukan kepada satu bangsa di luar Israel, yakni bangsa Edom (Ob. 1). Meskipun begitu, inti pekabarannya tetap relevan bagi umat Tuhan masa kini, khususnya perihal kesombongan. Nama Obaja berarti "Hamba Tuhan" tetapi tidak diketahui pasti apakah itu nama asli atau hanya julukan saja. Para peneliti Alkitab berkesimpulan bahwa nabi ini bernubuat sekitar tahun 586 SM saat raja Nebukadnezar menyerbu Yehuda dan menawan para pemuda dan sebagian besar rakyat ke Babel, meninggalkan orang-orang tua, kaum wanita dan anak-anak di Yerusalem. Gantinya merasa kasihan dan menolong tetangga sekaligus saudara mereka yang malang itu, orang-orang Edom justeru menjadikan mereka sasaran kekejaman. Perlakuan Edom atas Yehuda itu terekam dalam kitab Yehezkiel 25, 35, 36 dan disinggung dalam Mazmur 137.
"Obaja adalah kitab terpendek dalam Perjanjian Lama, dan kitab itu melaporkan penglihatan nubuat tentang penghakiman Allah atas negeri Edom. Pekabaran dari kitab ini terpusat pada tiga perkara: Kesombongan Edom (ay. 1-4), penghinaan yang akan datang atas Edom (ay. 5-9), dan tindak kekejaman Edom terhadap Yehuda (ay. 10-14)" [alinea pertama].
Amaran terhadap kesombongan. Edom waktu itu memang sangat makmur berkat posisi geografisnya di mana wilayah mereka menjadi jalur utama perdagangan internasional di kawasan itu. Sebagai negara yang menguasai lintasan perdagangan, Edom memiliki banyak sahabat dari bangsa-bangsa sekitar. Selain itu, kota-kota yang mereka dirikan di wilayah-wilayah pegunungan membuat sistem pertahanan militer mereka terbilang kuat dan sulit ditembus oleh musuh. Kedua hal ini--kemakmuran dan ketangguhan--membuat mereka menjadi bangsa yang sombong dan cenderung suka merendahkan bangsa lain. Dua keunggulan tersebut telah menjadi jerat bagi bangsa itu, dan Tuhan bertindak menghukum mereka. Tetapi bukankah hal yang sama terjadi juga pada banyak umat Tuhan dewasa ini, yaitu orang-orang yang merasa dirinya "kaya" dan "kuat" lalu menjadi sombong?
"Allah menuntut tanggung jawab dari mereka yang mengambil keuntungan atas orang-orang lain di masa kesukaran mereka. Obaja mengamarkan orang-orang Edom yang sombong bahwa Allah akan mendatangkan kehinaan ke atas mereka. Tidak ada tempat untuk luput dari Tuhan (Am. 9:2-3). Hari Tuhan yang akan datang itu bakal membawa baik pehukuman maupun keselamatan. Edom akan meminum cawan murka Allah, sedangkan keberuntungan umat Allah akan dipulihkan" [alinea terakhir].
Betapa sering kita melihat sifat-sifat Edom dipantulkan dalam kehidupan dan kelakuan umat Allah bahkan hamba-hamba Tuhan di zaman akhir ini. Banyak di antara kita yang memanfaatkan posisi demi keuntungan diri sendiri dan pada waktu yang sama menindas orang lain. Pena inspirasi mengamarkan: "Karena mereka memiliki kekuasaan, mereka menuntut lebih dari apa yang adil dan jujur, dan dengan demikian menjadi penindas-penindas. Firman Allah harus menjadi aturan dalam urusan-urusan...Tuhan akan menghakimi dan menghukum; Dia akan mendengar teriakan orang yang tertindas, dan akan membalas si penindas itu sesuai dengan perbuatannya" (Ellen G. White, Review and Herald, 11 Maret 1884).
Apa yang kita pelajari tentang kesombongan dan kejatuhan Edom?
1. Bangsa Edom pada zaman nabi Obaja adalah bangsa yang makmur dan tangguh, tetapi keunggulan mereka itu tidak dimanfaatkan untuk menolong Yehuda yang sedang mengalami keterpurukan. Justeru orang Edom memanfaatkan kemalangan saudara mereka itu untuk tambah menindas.
2. Kondisi Edom yang makmur dan tangguh itu telah membuat mereka menjadi bangsa yang sombong dan takabur (Ob. 3). Tetapi Allah akan menghukum dengan menghinakan serta memusnahkan mereka (ay. 4, 10), dan perbuatan mereka akan berbalas (ay. 15).
3. Karakteristik dari dosa bangsa Edom tersebut kerap tercermin dalam sepak terjang sebagian umat Tuhan masa kini, yaitu sombong karena kekayaan atau kedudukan mereka. Pekabaran nabi Obaja dan ancaman pembalasan dari Tuhan kiranya menjadi amaran yang relevan bagi kita semua.
PENUTUP
Keistimewaan bisa menjerumuskan. Sebagaimana posisi bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan telah menimbulkan perasaan istimewa yang menjerumuskan bagi mereka, demikian pula posisi sebagai umat pilihan Allah zaman akhir dapat menjerumuskan kita. Sebagai umat pilihan, kita memang umat yang istimewa (peculiar people). Khas, eksklusif, dan berbeda. Namun perbedaan ini bukanlah suatu keunggulan untuk disombongkan, melainkan untuk menyadarkan kita agar senantiasa berhati-hati dalam hal bagaimana kita hidup supaya selalu memantulkan sifat-sifat Kristus yang suci dan tak bercela. Setiap orang Kristen harus menyadari bahwa kehidupannya adalah semacam "surat Kristus...ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup" (2Kor. 3:3).
"Dari permulaan agama orang Israel keyakinan bahwa Allah sudah memilih umat yang istimewa ini untuk melaksanakan missi-Nya telah menjadi fondasi iman orang Ibrani maupun penghiburan pada masa-masa kesulitan. Namun demikian, nabi-nabi itu merasa bahwa bagi banyak orang di zaman mereka fondasi ini adalah sebuah batu sandungan, dan penghiburan ini adalah sebuah pelarian. Mereka harus mengingatkan bangsa itu bahwa keterpilihan tidak boleh disalah-artikan sebagai sikap pilih kasih ilahi atau kekebalan dari hukuman, tapi sebaliknya hal itu berarti menjadi lebih tak terlindung terhadap penghakiman dan pehukuman ilahi..." [alinea kedua].
Secara kolektif, posisi sebagai umat pilihan dapat menjadi sebuah keistimewaan yang bisa menjerumuskan kalau kita keliru menilai dan memahami arti kedudukan kita sebagai satu umat di tengah kancah pergaulan yang luas di dunia ini. Secara perorangan, posisi sebagai orang-orang yang terpilih oleh Tuhan dan organisasi untuk menduduki suatu jabatan struktural ataupun tugas fungsional juga dapat menjerumuskan kita kalau kita salah dalam memaknai keterpilihan kita di lingkungan pekerjaan Tuhan!
Posisi dan kedudukan dapat menjadi jerat bagi mereka yang tidak menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dalam kerendahan hati untuk dibimbing oleh Roh-Nya, dan mereka yang tidak bertobat tetapi terus memelihara sifat dan ambisi keduniawiannya segera akan terbukti menjadi alat Setan yang merongrong pekerjaan Tuhan. Pekabaran nabi Amos dan nabi Obaja adalah pekabaran Allah yang juga ditujukan kepada kita semua dewasa ini.
"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik" (Tit. 2:12-14).
CATATAN:
1. Ulasan tambahan ini dirancang sebagai suplemen untuk digunakan bersama buku "Pedoman Pendalaman Alkitab - Sekolah Sabat Dewasa" atau yang lazim disebut Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa (PSSD) resmi yang disediakan oleh Gereja MAHK.
2. Bagian-bagian dari materi pelajaran harian yang dikutip dalam ulasan ini (ditandai dengan "alinea...: kalimat...") diterjemahkan langsung dari buku PSSD Edisi Bahasa Inggris yang baku, dan hasil terjemahannya bisa agak berbeda dari PSSD Edisi Bahasa Indonesia terbitan IPH karena beberapa faktor. Pengutipan tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan pokok pembahasan sebagaimana dimaksudkan oleh Penulis PSSD.
3. Bagi pembaca yang ingin berbagi pendapat maupun pertanyaan yang berhubungan langsung dengan materi pembahasan disarankan untuk menyampaikannya pada Grup "KLUB SS" yang terbuka untuk umum. Sumbangan pendapat maupun pertanyaan hendaknya singkat, padat, dan langsung ke sasaran. Administrator grup berhak untuk menyunting jika dianggap perlu.
SUMBER :

1.   Zdravko Stefanofic, Profesor bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama, Universitas Walla Walla,U.S.A--- Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.II, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.
2.   Loddy Lintong, California U.S.A.

Kamis, 25 April 2013

Wahyu Kepada Yohanes (38)



WAHYU KEPADA YOHANES –(38)

TINDAKAN PALING AMAN ADALAH MENGASIHI.

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau TELAH MENINGGALKAN KASIHMU YANG SEMULA “ (Wahyu 2:4).

   “Jemaat di Efesus tampaknya mengulangi pengalaman bangsa Israel sebelum pembuangan ke Babel.  Mengutip perkataan Yeremia bagi Yerusalem :”Aku teringat…kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun”.(Yer.2:2).   Tahun-tahun awal pengalaman bangsa Israel di padang belantara merupakan masa-masa penuh pengabdian dan kesetiaan.  Tapi kemudian semuanya berubah: “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan… Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar !”. (ayat 21).   Seandainya Anda harus menekankan pada kebenaran doktrinal yang teguh atau kasih dalam suatu situasi, manakah yang Anda pilih? .  Saat kita tidak tahu apa yang mesti dibuat, tindakan paling aman adalah MENGASIHI.
    Kitab 1 Korintus 13 mengatakan bahwa kita bisa saja memilili semua kebenaran doctrinal dan segala macam pekerjaan baik, tetapi jika kita tidak memiliki kasih, semua itu tidak ada gunanya.
   Ellen G. White menyimpulkan, “Dalam pembaruan, sebaiknya kita tidak berbuat kelewatan dengan melangkah terlalu jauh.  Dan seandainya terjadi kesalahan pun, sebaiknya kita  berada tak melupakan sisi manusiawinya”. 
            Ellen G White, Testimonies for the church (Mountain View,Calif:Pacific Press Pub.Assn.,1948) jld.3,hlm.21.
  
   Pada dasarnya kita cenderung bersikap keras kepada sesama dan mengasihi diri sendiri.  Setiap gereja yang telah meninggalkan pusat Injil maka akan mulai menyakiti orang-orang sekalipun dia setia dan mempertahankan doktrin yang benar.  Ketika kita tak yakin bagaimana harus menangani situasi tertentu, lebih baik kita mengambil risiko salah yaitu menebar kasih dan belas kasihan.”    1.

Ay 4: “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”.
1)   ‘Namun demikian Aku mencela engkau’.
a)   Tadi ada pujian, sekarang ada kritikan.
Tuhan bersikap fair; memuji apa yang baik dan mengkritik apa yang jelek. Kita seringkali melakukan hanya salah satu saja, baik terhadap anak, pegawai, jemaat, anak sekolah minggu, dsb. Atau sering juga kita tidak melakukan kedua-duanya.
b)   KJV: ‘Nevertheless I have somewhat against thee’ (= Bagaimanapun Aku mempunyai sesuatu yang kecil / sedikit terhadap engkau).
Ini salah, karena kata ‘somewhat’ (= sedikit) ini sebetulnya tidak ada. Terjemahan yang salah ini mengecilkan kesalahan gereja Efesus dalam persoalan meninggalkan kasih yang semula ini, padahal itu sama sekali bukan sesuatu dosa yang remeh! Karena itu, kalau saudara sedang meninggalkan kasih yang semula / pertama, jangan meremehkan keadaan itu!
2)   ‘karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula’.
a)   Dicela sekalipun ‘baik’.
Sekalipun ada banyak hal-hal yang sangat baik dalam diri gereja Efesus ini, seperti sikap orthodox, menjaga kemurnian doktrin, bekerja keras, tidak menjadi lelah / bosan, membenci kejahatan dsb, tetapi mereka tetap dicela karena meninggalkan kasih yang semula / pertama. Karena itu jelaslah bahwa:
·        Kemurnian doktrinal tidak bisa menggantikan kasih.
George Eldon Ladd: “Doctrinal purity and loyalty can never be a substitute for love” (= Kemurnian dan kesetiaan doktrinal tidak pernah bisa menjadi pengganti kasih) - hal 39.
Adalah sesuatu yang baik kalau saudara adalah orang yang sangat memperhatikan dan menjaga doktrin, tetapi pada saat yang sama saudara juga harus memperhatikan dan menjaga kasih saudara kepada Tuhan.
·        Kebencian terhadap dosa / kejahatan tidak bisa menggantikan kasih kepada Kristus.
John Stott: “to hate error and evil is not the same as to love Jesus Christ” (= membenci kesalahan dan kejahatan tidaklah sama dengan mengasihi Yesus Kristus) - hal 29.
Orang yang mengasihi Kristus pasti membenci kejahatan, tetapi orang yang membenci kejahatan belum tentu mengasihi Kristus. Sebagai contoh, ada banyak orang yang mengutuk perkosaan massal tanggal 14 Mei 1998, padahal mereka sama sekali bukan orang kristen, dan karenanya tentu tidak mengasihi Kristus.
·        pelayanan yang bagaimanapun giatnya tidak bisa menggantikan kasih.
Pulpit Commentary: “Ere ever he would restore the recreant Peter to his apostleship, thrice over was the question asked, ‘Lovest thou me?’ as if the Lord would teach him and all of us that love to himself is the one indispensable qualification of all acceptable service” (= Sebelum Ia mengembalikan Petrus yang tidak setia / murtad dari kerasulannya, tiga kali Ia menanyakan pertanyaan: ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’, seakan-akan Tuhan mengajar dia dan semua kita bahwa kasih kepadaNya adalah satu persyaratan yang harus ada dalam semua pelayanan yang menyenangkanNya) - hal 79.
b)   Bandingkan celaan di sini dengan Yer 2:1-8! (khususnya perhatikan Yer 2:2b,5)!
Yer 2:2b - “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya”.
NIV: ‘I remember the devotion of your youth, how as a bride you loved me and followed me through the desert, through a land not sown’ (= Aku mengingat kesetiaan / penyerahan / pembaktian masa mudamu, bagaimana sebagai mempelai engkau mengasihi Aku dan mengikuti Aku melalui padang gurun, melalui tanah / negeri yang tidak ditaburi).
Yer 2:5 - “Beginilah firman TUHAN: Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu padaKu, sehingga mereka menjauh dari padaKu, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia?”.
Penerapan:
Kalau saudara sedang meninggalkan kasih yang semula, tanyakan pertanyaan yang sama terhadap diri saudara sendiri: apakah kecurangan / kesalahan yang aku dapati pada Allah, sehingga aku meninggalkan kasihku yang semula kepadaNya?
c)   Kasih kepada siapa yang dimaksudkan di sini?
·        Ada yang menganggap bahwa ini menunjuk kepada kasih kepada sesama manusia.
Beasley-Murray: “the love which had abated was primarily love for fellow men” (= Kasih yang telah berkurang terutama adalah kasih kepada sesama manusia) - hal 75.
·        Leon Morris (hal 60) mengatakan bahwa tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘kasih’ di sini. Ada yang mengartikan bahwa ini adalah ‘kasih kepada Kristus’, ada yang mengatakan bahwa ini adalah ‘kasih kepada sesama saudara seiman’, dan ada juga yang mengatakan bahwa ini adalah ‘kasih kepada seluruh umat manusia’. Leon Morris lalu mengatakan bahwa mungkin kasih di sini mencakup ketiga-tiganya.
·        Tetapi saya berpendapat bahwa penekanan utama di sini adalah kasih kepada Allah / Kristus.
Barnes’ Notes: “The love here referred to is evidently love to the Saviour” (= Kasih yang dimaksudkan di sini jelas adalah kasih kepada sang Juruselamat) - hal 1553.
Pulpit Commentary: “Christ is very jealous of our love” (= Kristus sangat cemburu akan cinta kita) - hal 69.
·        Tetapi perlu juga diingat bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama sangat berhubungan. Kalau kasih kepada Allah berkurang, maka pasti kasih kepada sesama juga demikian.
Robert H. Mounce (NICNT): “A cooling of personal love for God inevitably results in the loss of harmonious relationship within the body of believers” (= Kasih pribadi yang mendingin kepada Allah secara tak terhindarkan menghasilkan hilangnya hubungan yang harmonis di dalam tubuh orang-orang percaya) - hal 88.
Penerapan:
Untuk memperbaiki hubungan / persekutuan dalam keluarga ataupun gereja, maka setiap individu harus memperbaiki kasihnya kepada Tuhan. Ini juga berlaku sebaliknya. Untuk memperbaiki kasih kepada Tuhan kita harus memperbaiki hubungan dengan sesama.
d)   Siapa yang dikatakan meninggalkan kasih yang semula / pertama ini? Ada 2 pandangan tg hal ini:
1.   Kata-kata ini ditujukan kepada mereka sebagai gereja, bukan sebagai individu.
Herman Hoeksema (hal 58-59) mengatakan bahwa yang kehilangan kasih yang semula bukanlah jemaat / individu yang tadinya mempunyai kasih yang semula, tetapi gereja Efesus. Jadi gereja ini bertumbuh dalam hal jumlah, dan orang-orang yang baru ini tidak mempunyai kasih yang semula seperti jemaat yang lama. Ia berpandangan demikian karena ia berkata bahwa orang kristen sejati tidak bisa kehilangan keselamatan. Tetapi saya berpendapat bahwa ‘kehilangan kasih yang semula’ tidaklah sama dengan ‘kehilangan keselamatan’ / ‘jatuh dari kasih karunia’!
William Hendriksen mempunyai pemikiran yang sejalan dengan Hoeksema. Ia berkata bahwa rasul Yohanes menulis Kitab Wahyu ini lebih dari 40 tahun setelah gereja Efesus didirikan. Jadi generasi pertama sudah mati, dan lalu muncul generasi kedua, yang tidak mempunyai kasih yang semula.
Pandangan Hoeksema dan Hendriksen ini memang memungkinkan. Apalagi kalau dilihat dari Yer 2:1-8, yang pada ay 2nya berbicara tentang ‘cintamu’, padahal yang dimaksud adalah ‘cinta nenek moyangmu’. Jadi bagian ini meninjau Israel sebagai suatu bangsa, yang dahulu mengasihi Tuhan tetapi sekarang tidak. Karena itu adalah mungkin bahwa dalam kasus gereja Efesus juga diartikan seperti itu.
Kalau ini benar, maka ini menjadi peringatan bagi setiap gereja yang benar, untuk berjaga-jaga bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk generasi penerus. Apa yang harus dilakukan untuk ini?
·        perhatikan anak-anak sekolah minggu supaya mempunyai guru-guru sekolah minggu yang baik dan injili. Guru-guru Sekolah Minggu sendiri harus menjaga kerohanian mereka dan pengajaran mereka, karena secara manusia boleh dikatakan bahwa nasib dari generasi penerus ada di tangan mereka! Renungkan Mat 18:6 - Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.
·        perhatikan kerohanian pemuda remaja di gereja.
·        jaga agar Majelis gereja yang dipilih selalu adalah orang-orang yang rohani, alkitabiah dan injili. Jangan memilih orang yang kaya tetapi yang rohaninya brengsek!
·        hati-hati dalam memilih hamba Tuhan.
·        jaga supaya dalam gereja selalu terdapat Pemberitaan Injil. Dengan demikian orang-orang yang baru bisa mendengar Injil dan bertobat.
2.   Kata-kata ini ditujukan kepada mereka sebagai individu. Jadi jemaat Efesus itu sendiri yang meninggalkan kasih yang semula.
Kebanyakan penafsir membahas bagian ini dari sudut pandang ke 2 ini. Saya sendiri, sekalipun menganggap pandangan pertama di atas tetap mempunyai kemungkinan untuk benar, lebih condong pada pandangan ke 2 ini, karena:
·        dari surat-surat kepada gereja-gereja yang lain terlihat bahwa Tuhan memperhatikan individu, dan bukannya hanya gereja secara keseluruhan. Jadi kalau yang salah hanya sebagian, maka Tuhan juga menegur yang sebagian itu (bdk. 2:14,15,24  3:4).
·        Ay 5 menyuruh mereka untuk:
*        mengingat betapa dalamnya mereka telah jatuh.
*        bertobat.
*        melakukan lagi apa yang semula mereka lakukan.
Semua ini rasanya menunjukkan bahwa yang meninggalkan kasih yang semula / pertama itu adalah diri mereka sendiri, bukan generasi sebelum mereka.
e)   Meninggalkan kasih yang semula / pertama’.
1.   Pada waktu Paulus menulis surat Efesus, gereja Efesus masih berkobar-kobar dalam kasihnya kepada Allah. Ini ditunjukkan secara implicit oleh Ef 6:24, dan ini juga diwujudkan dengan kasih kepada sesama orang kudus - Ef 1:15 (ingat bahwa kasih kepada sesama berhubungan erat dengan kasih kepada Tuhan). Tetapi sekarang gereja Efesus telah meninggalkan kasih yang semula / pertama itu. Perhatikan bahwa mereka tidak dikatakan ‘kehilangan’ (pasif) tetapi ‘meninggalkan’ (aktif) kasih yang semula / pertama itu. Karena itu Allah menyuruh mereka kembali kepada kasih yang pertama itu.
2.   Kalau sejak lahir seorang kristen tidak pernah mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, maka ini bukan ‘meninggalkan kasih yang semula’, tetapi ‘suam-suam kuku’ (Wah 3:14-15) dimana Kristus masih ada di luar hidupnya (bdk. Wah 3:20). Dengan kata lain, orang ini tidak pernah menjadi kristen yang sejati.
Tetapi semua orang kristen sejati pasti pernah mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, karena:
·        Ro 5:5b mengatakan “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”.
Catatan: tentang ‘kasih Allah’ dalam Ro 5:5 ini ada yang menafsirkan bahwa itu adalah ‘kasih Allah kepada kita’, tetapi ada juga yang menafsirkan bahwa itu adalah ‘kasih kita kepada Allah’.
·        kasih adalah ‘buah Roh Kudus’ (Gal 5:22).
Penerapan:
Untuk bisa tahu apakah saudara termasuk orang kristen sejati yang meninggalkan kasih yang semula, atau orang suam-suam kuku yang adalah orang kristen KTP, telusurilah jalan hidup saudara selama ini. Kalau tidak pernah ada saat dimana saudara berkobar-kobar dalam cinta saudara kepada Tuhan, maka saudara adalah orang suam-suam kuku. Bertobatlah dan terimalah Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, sebelum terlambat!
3.   Kasih yang semula / pertama itu mudah memudar.
Thomas Manton: “That of all graces, love needeth keeping. Why? Because of all graces it is most decaying. Mat. 24:12  Rev. 2:4” (= Bahwa dari semua kasih karunia, kasih membutuhkan pemeliharaan. Mengapa? Karena dari semua kasih karunia itu adalah yang paling mudah berkurang / hilang. Mat 24:12  Wah 2:4) - ‘Jude’, hal 344.
Tetapi supaya saudara tidak secara salah dan terlalu cepat menganggap bahwa kasih saudara kepada Allah sudah memudar, perhatikan kutipan di bawah ini.
Barnes’ Notes: “Individual Christians often lose much of their first love. It is true, indeed, that there is often an appearance of this which does not exist in reality. Not a little of the ardour of young converts is often nothing more than the excitement of animal feeling, which will soon die away of course, though their real love may not be diminished, or may be constantly growing stronger. When a son returns home after a long absence, and meets his parents and brothers and sisters, there is a glow, a warmth of feeling, a joyousness of emotion, which cannot be expected to continue always, and which he may never be able to recall again, though he may be ever growing in real attachment to his friends and to his home” (= Individu-individu Kristen sering kehilangan banyak dari kasih pertama mereka. Memang benar bahwa seringkali kelihatannya terjadi hal ini, padahal sebetulnya tidak. Tidak sedikit dari semangat / kobaran api / kehangatan emosi dari petobat-petobat muda yang seringkali tidak lebih dari kegembiraan dari perasaan binatang, yang tentu saja akan segera lenyap, sekalipun kasih sejati mereka mungkin tidak berkurang, atau mungkin bertambah kuat secara konstan. Pada saat seorang anak pulang ke rumah setelah pergi cukup lama, dan bertemu dengan orang tua dan saudara-saudaranya, di sana ada suatu pijaran / sinar, suatu perasaan yang hangat, suatu sukacita emosi, yang tidak bisa diharapkan berlangsung senantiasa, dan yang mungkin tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali, sekalipun ia mungkin terus bertumbuh dalam kasih yang sejati kepada teman-temannya dan rumahnya) - hal 1553.
4.   Hal-hal yang menyebabkan berkurangnya / hilangnya kasih yang semula.
a.   Dosa.
Thomas Manton: “Some times it falleth out through freeness in sinning. Neglect is like not blowing up the coals; sinning is like pouring on waters, a very quenching of the Spirit, 1Thes. 5:19” (= Kadang-kadang itu terjadi karena kebebasan dalam berbuat dosa. Kelalaian adalah seperti tidak mengipasi arang; berbuat dosa adalah seperti menyiramnya dengan air, tindakan yang memadamkan Roh, 1Tes 5:19) - ‘Jude’, hal 345.
Contoh dosa:
·        cinta uang / dunia.
Mat 6:24 - “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”.
Yak 4:4 -  “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuh-an dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
1Yoh 2:15 -  “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
2Tim 3:4b - “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah”. Ini salah terjemahan.
NIV/NASB: ‘lovers of pleasure rather than lovers of God’ (= pecinta kesenangan dan bukannya pecinta Allah).
·        pelayanan / pekerjaan / kesibukan yang begitu ditekankan sehingga menyebabkan tak ada waktu untuk sendirian dengan Tuhan (doa dan belajar Firman Tuhan).
Steve Gregg: “Like Martha, a church may become so engrossed in religious work that it neglects the ‘one thing needed’ (Luke 10:42)” [= Seperti Marta, sebuah gereja bisa menjadi begitu asyik dalam pekerjaan agamawi sehingga mengabaikan ‘satu hal yang diperlukan’ (Luk 10:42)] - hal 65.
Catatan: ‘bagian yang terbaik’ dalam Luk 10:42 diterjemahkan ‘one thing is needful’ (= satu hal yang diperlukan) oleh RSV.
Kata-kata Steve Gregg ini memang sangat mungkin. Orang yang terlalu bersemangat dalam pelayanan, sampai tidak ada waktu untuk belajar Firman dan berdoa, akan kehilangan kasih yang semula. Dan hal yang menyedihkan adalah bahwa ada banyak (bahkan mungkin kebanyakan!) hamba Tuhan yang seperti ini!
·        allah lain, yaitu hal-hal yang dicintai / diutamakan lebih dari Tuhan.
·        occultisme, seperti: tenaga dalam, hipnotisme, yoga, dsb.
b.   Penderitaan yang hebat, banyak, dan berlarut-larut, khususnya kalau kita tidak menghadapinya dengan benar.
c.   Banyaknya kejahatan di sekitar kita.
Mat 24:12 - “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”.
d.   Peperangan mereka melawan kesesatan / nabi palsu.
Ramsey mengatakan bahwa celaan tentang hilangnya kasih yang semula ini (ay 4) diletakkan setelah pujian tentang semangat mereka membongkar kepalsuan dari rasul-rasul palsu (ay 2), tetapi diletakkan sebelum pujian tentang kebencian mereka terhadap tindakan para pengikut Nikolaus (ay 6), dan ini menunjukkan bahwa hilangnya kasih yang semula ini berhubungan dengan semangat mereka dalam membongkar kepalsuan rasul-rasul palsu itu.
James B. Ramsey: “This censure is administered in close connection with the praise of their zeal in exposing these false apostles, and before the second ground of praise is mentioned, implying some real connection between this zeal against false teachers, and their declining love. There is such a connection, and it should never be forgotten. When any are called to contend earnestly for the faith, when patience is tried by daring and persistent error, and when at length the pretensions of the false teachers are exposed, the process is apt to chafe and embitter the spirit, and success to foster spiritual pride; thus holy love to Jesus and His people insensibly loses that first fervour with which it gushes forth in faith’s first view of the cross and the extinguished curse” (= Celaan / kecaman ini diberikan dalam hubungan yang erat dengan pujian terhadap semangat mereka dalam menyingkapkan rasul-rasul palsu ini, dan diberikan sebelum pujian kedua ini disebutkan, menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara semangat menentang guru-guru palsu ini dengan penurunan kasih mereka. Disana ada hubungan seperti itu, dan itu tidak pernah boleh dilupakan. Pada waktu seseorang dipanggil untuk berjuang dengan sungguh-sungguh untuk iman, pada waktu kesabaran diuji oleh kesalahan yang berani dan gigih, dan pada waktu akhirnya pernyataan palsu dari guru-guru palsu itu tersingkap, proses itu cenderung / mudah melukai dan memahitkan roh, dan berhasil mengembangkan kesombongan rohani; sehingga kasih kudus kepada Yesus dan umatNya tanpa terasa kehilangan gairah / semangat pertamanya yang dipancarkan oleh kasih itu pada pandangan pertama dari iman terhadap salib dan kutuk yang dipadamkan) - hal 131.
Catatan: Ramsey menganggap bahwa pujian pertama berhubungan dengan semangat mereka dalam membongkar kepalsuan rasul-rasul palsu itu, dan ay 3 berhubungan dengan pujian pertama tersebut, karena penderitaan dalam ay 3 itu disebabkan hal itu. Pujian kedua berkenaan dengan kebencian terhadap pengikut Nikolaus (ay 6). Jadi kecaman tentang hilangnya kasih semula terletak setelah pujian pertama, tetapi sebelum pujian kedua, dan karena itu ia lalu menyimpulkan bahwa kecaman itu berhubungan dengan pujian pertama itu.
Kata-kata Ramsey di atas sesuai dengan kata-kata Mounce yang berikut ini.
Robert H. Mounce (NICNT): “Every virtue carries within itself the seeds of its own destruction” (= Setiap sifat baik / kebajikan membawa dalam dirinya sendiri benih kehancuran dirinya sendiri)  - hal 88.
Memang orang yang kuat dalam doktrin dan berani / tegas biasanya rawan dalam persoalan kasih! Sebaliknya orang yang penuh kasih, sabar, biasanya kompromistis / kurang tegas, atau munafik / suka berdusta, pengecut, dsb.
Penerapan:
Karena itu kalau saudara menjumpai apapun yang baik dalam diri saudara, maka renungkanlah hal buruk apa yang ter-cakup dalam hal baik tersebut, dan berusahalah untuk memper-tahankan hal baiknya dan membuang hal buruknya.
5.   Ciri / akibat berkurangnya / hilangnya kasih yang semula.
Thomas Manton: “Where we love there will be musing on the object beloved, there will be familiarity and intimateness of converse. There is not a day can pass but love will find some errand and occasion to confer with God, either to implore his help or ask his counsel. But now, when men can pass over whole days and weeks, and never give God a visit, such strangeness argueth little love. Again, when there is no care of glorifying God, no plotting and contrivings how we may be most useful for him, when we do not mourn over sin as we were wont to do, are not so sensible of offences, have not these meltings of heart, are not so careful to avoid all occasions of offending God, are not so watchful, so zealous, as we were wont to be, do not rise up in arms against temptations and carnal thoughts, love is decayed. Certainly when the sense of our obligation to Christ is warm upon the heart, sin doth not escape so freely; love will not endure it to live and act in the heart, Titus 2:11-12, Gen 39:9. But now, as this is worn off, the heart is not watched, the tongue is not bridled, speeches are idle, yea, rotten and profane; wrath and envy tyrannise over the soul, all runneth to riot in the poor neglected heart; yea, further, God’s public worship is performed perfunctorily, and in a careless, stupid manner; sin confessed without remorse and sense of the wrong done to God; prayer made for spiritual blessings without desire of obtaining; wrath deprecated without any fear of the danger; intercession for others without any sympathy or brotherly love; thanks given without any conference of holy things is either none at all, or very slight and careless; hearing without attention; reading without a desire of profit; singing without any delight or melody of heart. All this is but the just account of a heart declining in the love of God” [= Dimana kita mengasihi disana akan ada perenungan tentang obyek yang dikasihi, disana akan ada keakraban dan keintiman dalam pembicaraan. Tidak ada satu haripun akan berlalu dimana kasih tidak menemukan pesan / berita dan alasan / kesempatan untuk berbicara dengan Allah, untuk meminta pertolonganNya atau nasehatNya. Tetapi sekarang, ketika seseorang bisa melewati beberapa hari dan minggu tanpa pernah mengunjungi Allah, keanehan seperti itu menunjukkan kasih yang sedikit / kecil. Juga, pada saat ada ketidakpedulian dalam memuliakan Allah, tidak ada perencanaan dan usaha / penyusunan tentang bagai-mana kita bisa menjadi paling berguna untuk Dia, pada saat kita tidak berkabung atas dosa seperti yang biasa kita lakukan, tidak peka terhadap pelanggaran, tidak mempunyai hati yang hancur, tidak begitu hati-hati untuk menghindari semua kesempatan untuk menyakiti hati / menyalahi Allah, tidak begitu berjaga-jaga dan bersemangat seperti kita biasanya, tidak bangkit untuk melawan pencobaan dan pikiran daging, kasih itu berkurang / melemah. Jelas bahwa ketika rasa kewajiban pada Kristus itu hangat dalam hati kita, dosa tidak lolos dengan begitu bebas; kasih tidak akan mengijinkannya hidup dan bertindak dalam hati, Titus 2:11-12, Kej 39:9. Tetapi sekarang, karena semua ini sudah luntur, hati tidak dijaga, lidah tidak dikekang, kata-kata kosong bahkan busuk dan kotor / tak senonoh; kemarahan dan iri hati merajalela dalam jiwa, semua menuju pada kekacauan dalam hati yang diabaikan; lebih jauh lagi, bahkan kebaktian dilakukan dengan asal-asalan / tak sungguh-sungguh dan dalam cara yang ceroboh dan bodoh; dosa diakui tanpa penyesalan dan perasaan bersalah kepada Allah; doa untuk berkat rohani tanpa keinginan untuk mendapatkan; kemarahan mengutuk tanpa takut bahaya; doa syafaat untuk orang lain tanpa simpati atau kasih persaudaraan; syukur diberikan tanpa menghargai kebaikan / manfaat atau kasih kepada Allah dalam mengingat mereka; perundingan tentang hal-hal kudus tidak pernah dilakukan atau sangat sedikit dan ceroboh; pembacaan (Kitab Suci / Firman Tuhan) tanpa keinginan mendapatkan keuntungan / manfaat; menyanyi tanpa kesenangan atau nyanyian di hati. Semua ini hanyalah laporan / catatan suatu hati yang menurun dalam kasih kepada Allah] - ‘Jude’, hal 345-346.
Renungkanlah kata-kata Manton di atas ini kata demi kata, dan ban-dingkanlah dengan hidup saudara. Dari situ saudara bisa mengetahui apakah saudara sudah kehilangan kasih yang semula atau tidak.
Thomas Manton: “In our serious sequestration and retirements we should have such thoughts as these are: - I was wont to spend some time every day with God; I remember when it was a delight to me to think of him; now I have no heart to pray or meditate, no relish of communion with his blessed majesty; it was the joy of my soul to be at an ordinance, the returns of the Sabbath were welcome to me; but now what a weariness is it! Time was when I had sweet experiences, and the graces of God’s Spirit were more lively in me, but now all is dead and inefficacious; time was when a vain thought was burdensome unto me, but now I can away with sinful actions; time was when the mispence of ordinary time was a grief unto my soul, now I can spend the Sabbath unprofitably and never be troubled, &c. Thus should you consider your estate” (= Dalam penyendirian kita yang serius kita harus mempunyai pemikiran-pemikiran seperti ini: Saya biasanya menghabiskan beberapa waktu setiap hari dengan Allah; saya ingat bahwa dulu adalah suatu kesenangan bagi saya untuk berpikir tentang Dia; sekarang aku tidak mempunyai hati untuk berdoa dan bermeditasi, tidak ada kesukaan dalam bersekutu dengan Dia; dulu adalah sukacita dari jiwaku untuk berada dalam Perjamuan Kudus, datangnya hari Sa-bat kusambut dengan baik; tetapi sekarang alangkah membosankannya hal itu! Ada saat dimana aku mempunyai pengalaman yang manis, dan kasih karunia Roh Allah lebih hidup dalam diriku, tetapi sekarang semua mati dan tidak manjur; ada saat dimana pemikiran sia-sia adalah suatu beban bagiku, tetapi sekarang aku bisa mengabaikan tindakan-tindakan berdosa; ada saat dimana penghamburan waktu biasa merupa-kan kesedihan bagi jiwaku, sekarang aku bisa menghamburkan Sabat secara tak berguna dan tidak merisaukannya, dsb. Begitulah engkau harus memikirkan / merenungkan keadaanmu) - ‘Jude’, hal 346-347.
Pulpit Commentary: “with all their discernment of evil, and zeal against it, they lacked reality. Their light still burned, but in a dull, lifeless way; their service had become mechanical (= dengan pandangan mereka yang tajam terhadap kejahatan, dan semangat menentangnya, mereka kekurangan realitas / kenyataan. Lampu mereka tetap menyala, tetapi secara pudar dan tak bersemangat; pelayanan mereka telah menjadi pelayanan mekanis) - hal 58.
John Stott: “Without this love, the Church’s work is lifeless” (= Tanpa kasih ini, pekerjaan Gereja tidak bersemangat) - hal 28.
John Stott: “It is the duty of man to worship God, of the creature to worship his Creator, but the duty is barren without love. If the worship of the Church is to be more than lip-service, it must spring from hearts that love God. ... I expect the worship of the church of Ephesus was almost dead. The singing had become drab and uninspired, and the prayers were scarcely better than heathen incantations. There was form but no spirit. There was no life because there was no love. What was true of the public worship of the Ephesian Christians was true no doubt of their private devotions also. Only love can save private prayer and Bible reading from degenerating into a mechanical routine” (= Adalah kewajiban dari manusia untuk menyembah / berbakti kepada Allah, dari makhluk ciptaan untuk menyembah / berbakti kepada Penciptanya. Jika penyembahan / kebaktian dari Gereja tidak merupakan kebaktian di bibir saja, maka itu harus keluar dari hati yang mengasihi Allah. ... Saya memperkirakan bahwa kebaktian gereja Efesus hampir mati. Nyanyian telah menjadi membosankan / tidak menarik dan tak bersemangat, dan doa-doa hampir tidak lebih baik dari mantera-mantera orang kafir. Di sana ada upacara tetapi tidak ada roh / semangat. Di sana tidak ada kehidupan / semangat karena di sana tidak ada kasih. Apa yang benar tentang kebaktian umum orang-orang kristen Efesus pasti juga benar tentang Saat Teduh pribadi mereka. Hanya kasih yang bisa menyelamatkan doa dan pembacaan Kitab Suci secara pribadi terhadap penurunan menjadi suatu kerutinan yang bersifat mekanis) - hal 30.
Pulpit Commentary: “The outward forms may be perfect, zeal may be maintained, patience unwearied, orthodoxy untarnished; but if love - the soul’s secret energy - be impaired, time only is needed to bring the Church to utter decay” (= Hal-hal luar / lahiriah mungkin sempurna, semangat mungkin dipertahankan, kesabaran tidak pernah lelah, keorthodoxan tidak bercacat; tetapi kalau kasih - kekuatan rahasia dari jiwa - berkurang / rusak, hanya waktu yang dibutuhkan untuk membawa gereja pada kebusukan total) - hal 92.
Memang saya percaya bahwa orang yang meninggalkan kasih yang semula mula-mula bisa kelihatan tetap baik. Mungkin ia tetap melayani, tetap bersaat teduh, tetap memberi persembahan, dsb. Tetapi kalau keadaan ini dibiarkan, maka keadaan akan makin lama makin memburuk, sehingga dari luarpun hal itu akan kelihatan.
John Stott: “toil becomes drudgery if it is not a labour of love. Jacob could work seven years for the hand of Rachel only because he loved her, and the seven years ‘seemed to him but a few days because of the love he had for her’ (Gen. 29:20). The endurance of suffering can be hard and bitter if it is not softened and sweetened by love. It is one thing to grit the teeth and clench the fists with Stoical indifference, and quite another to smile in the face of adversity with Christian love” [= jerih payah menjadi pekerjaan yang membosankan jika itu bukanlah pekerjaan kasih. Yakub bisa bekerja 7 tahun untuk mendapatkan tangan Rahel hanya karena ia mengasihinya, dan 7 tahun itu ‘baginya terlihat seperti hanya beberapa hari karena kasihnya kepadanya’ (Kej 29:20). Bertahan terhadap penderitaan bisa menjadi berat dan pahit jika itu tidak dilunakkan dan dimaniskan oleh kasih. ‘Mengertakkan gigi dan mengepalkan kepalan dengan ke-tidak-acuhan Stoa’ berbeda dengan ‘tersenyum menghadapi kesengsaraan dengan kasih Kristen’] - hal 28.
Catatan: golongan Stoic / Stoa adalah golongan yang disebutkan dalam Kis 17:18. Ini adalah golongan yang percaya pada takdir, tetapi mereka percaya bahwa takdir itu bahkan ada di atas Allah.
6.   Apa yang harus dilakukan supaya kasih yang semula tidak berkurang / hilang?
·        terus bertumbuh secara rohani; jangan pernah puas dengan apa yang saudara capai secara rohani, baik dalam pengertian Firman Tuhan, keteguhan iman, pengudusan dsb.
Thomas Manton: “Increase and grow in love, 1Thes. 4:10. Nothing conduceth to a decay more than contentment with what we have received; every day you should love sin less, self less, world less, but Christ more and more” (= Bertambahlah dan bertumbuhlah dalam kasih, 1Tes 4:10. Tidak ada yang lebih menimbulkan kebusukan / penurunan kasih dari pada kepuasan dengan apa yang telah kita terima; setiap hari engkau harus makin kurang mengasihi dosa, diri sendiri, dunia, tetapi mengasihi Kristus makin lama makin banyak) - ‘Jude’, hal 346.
1Tes 4:10 - “Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.
·        kalau terjadi penurunan kasih, tanganilah secepat mungkin.
Thomas Manton: “Observe the first declinings, for these are the cause of all the rest. Evil is best stopped in the beginning; if, when we first began to grow careless, we had taken heed, then it would never have come to this. ... it is easier to crush an egg than to kill the serpent” (= Amatilah penurunan pertama, karena ini adalah penyebab dari semua yang lain. Kejahatan sebaiknya dihentikan pada permulaan; jika pada waktu pertama-tama kita mulai bertumbuh menjadi ceroboh kita sudah memperhatikan, maka itu tidak akan pernah menjadi seperti ini. ... adalah lebih mudah menghancurkan sebuah telur dari pada membunuh ularnya) - ‘Jude’, hal 346.       2.
DAFTAR PUSTAKA:
1.    Jon Paulien, “Kabar Baik Dari Patmos”, Bandung: Indonesia Publishing House, 2007. hal. 46
2.    Pdt. Budi Asali M.Div- Eksposisi Wahyu kepada Yohanes.