Senin, 14 April 2014

Mengatur Keuangan Demi Kebahagiaan.


(Kebahagiaan untuk Financial Situation)
    



It is not the amount you have but what yo do with what you have:

1.      Learn to want less –Mengurangi keinginan kita.  Hindari advertisement.

2.      Get organized –Lebih cermat/seksama mengatur, karena sibuk jadi tidak sempat lagi meng-organized (Sehingga bill-bill yang datang kelewat).

3.      Set goals –Dalam hidup ini kita harus punya tujuan.  Yale University menyatakan bahwa setiap student yang mempunyai goal dalam hidup mereka, maka mereka membuat lebih banyak kesuksesan/uang.

4.      Plan Our spending –Rencanakan pengeluaran kita.  Pengeluaran-pengeluaran kecil disimpan, supaya kita lebih cermat membuat budget pada waktu selanjutnya.

5.      Invest Sensibility –nothing save = nothing invested = No retirement.

6.      Protect what’s ours –Kita harus menjaga apa yang kita punyai.  Melindungi keluarga melalui insurance & trust. 

7.      Start talking about money—Minta advis dari orang yang pengalaman dalam keuangan.  Bicarakan bersama keluarga (Suami/Isteri/Anak) tentang pengaturan keuangan.  Meskipun isteri yang lebih banyak income, planning bersama-sama tentang pengeluaran.  Katakan bahwa uang bukan jatuh dari pohon.

8.      Find work that Fit for you —Cari pekerjaan yang cocok dengan Anda.  Orang yang menyenangi pekerjaannya itu akan menghasilkan keuangan lebih banyak.

 Cerita pengalaman seorang bernama David :

 -Dia seorang pria single.  Saat mulai kerja, dia tinggal di sebuah apartment.  Namun setiap bulan merasa bahwa income nya tidak cukup.  Ia pun mulai frustrasi.  Lalu dia minta nasehat kepada para ahli.  Anjuran kepadanya ialah : Agar Life Stylenya di ubah:

a. Yang tadinya makan diluar –sekarang dia masak sendiri dan ternyata $ 6. Telah cukup sehari.

b. Dia melihat apa yang dia bisa hematkan lagi : Dia pun mulai memakai Public transportation supaya tidak beli bensin.  Demikianlah hal-hal yang kecil dia potong.  Ternyata dia bukan minus, tetapi masih ada sisa atau yang lebih sebanyak $ 20 setiap bulan.
   Semoga dengan tip ini, Anda dapat mengatur keuangan yang pada akhirnya membawa kebahagiaan bagi Anda.  Sebelum terlambat, lakukanlah yang terbaik.

Kristus Dan Hukum-Nya. (Tambahan Pel.1)


 
Hukum-hukum di Zaman Kristus.
Pelajaran No.1, 05 April 2004.
Kitab Suci: Lks.2:1-5; 14:1-6; Ibr.10:28; Ul.17:2-6; Im.1:1-9; Yak.2:8-12.
     1.   Dalam seri pelajaran ini, kita akan menyelidiki hubungan orang Kristen dengan Hukum.  Ini termasuk semua jenis Hukum tetapi terutama hukum moral dari 10 perintah Allah.

“Dari sejak awal pertentangan besar di surga, telah menjadi tujuan setan untuk membuang hukum Allah”. GC.582,1,

 

Dan mengapa setan bertujuan ingin membuang(overthrow) hukum itu?.

Karena hukum, sebagai dasar pemerintahan Allah. (Bandingkan MB 109).

2.   Kita hidup didalam sebuah dunia—dimana orang terus menantang hukum-hukum (Challenging laws).  Sama seperti yang setan lakukan, orang ingin mengubah setiap hukum yang seseorang pikirkan dapat merubahnya.  Tentu saja, jika Allah tidak ada, maka dunia kita benar-benar sebuah dunia yang AMORAL, bukan dunia IMMORAL, yang artinya memiliki moral yang buruk (bad moral), tetapi suatu dunia AMORAL, yang artinya, tidak memiliki moral.  Namun jika Allah itu ada, sebagaimana kita percaya, kemudian kita mengetahui apa yang benar dan salah dan apa yang baik dan buruk datang dari pemahaman kita tentang karakter dan pemerintahan-Nya.

3.   Pada dasarnya ada 2 jenis hukum :

1.PROSCRIPTIVE LAWS (Hukum-hukum Proscriptif)—Ini adalah undang-undang seperti batas kecepatan (as the speed limits).  Sekelompok individu—diharapkan setelah dengan hati-hati mempertimbangkan semua implikasi(maksud,pengertian)—menentukan kecepatan tertentu agar aman bekendara di jalan bebas hambatan.  Hal ini kemudian disahkan menjadi undang-undang, dan kita semua taati.

 

2.DESCRIPTIVE LAWS (Hukum2 deskriptif)—type ke 2 dari undang-undang).  Hukum/undang2 ini mengatur fisika(physic), kimia dan biologi.  Hukum gravitasi adalah Hukum deskriptif.  Jika salah satu/seseorang mencoba untuk melanggar itu, dia akan menderita konsekwensi langsung (will suffer the immediate consequences).  Hukum deskriptif adalah Hukum yang menjelaskan bagaimana perkara-perkara itu benar-benar bekerja (how things actually work).  Kita tidak memiliki pilihan(option) untuk menetapkannya(mereka) atau mengubahnya.

4.   Sebagian besar dari kita mengakui bahwa dihampir setiap masyarakat,

         kita tunduk pada berbagai undang-undang.  Di Indonesia, kita punya

         undang-undang Negara, hukum2 kabupaten, hukum dan peraturan

         kota.  Kita tunduk/patuh kepada semua hukum ini, dan pada beberapa

         kejadian, hukum2 itu bertentangan satu salam lain.

5.   Ada juga berbagai undang2 yang mana orang-orang Galilea dan Judea patuhi pada zaman Yesus.  Ada hukum Romawi secara menyeluruh diberlakukan oleh pemerintahan Romawi.  Lalu ada juga hukum yang dikenakan untuk berurusan dengan kebiasaan dan tradisi Yahudi yang ditetapkan oleh SANHEDRIN di Yerusalem.  Ada juga hukum2 yang mempengaruhi sinagog setempat dan masyarakat sekitarnya.

6.   Baca Lukas 2:1-5.  Dengan jelas, Yusuf dan Maria telah berpikir, perlu mengadakan perjalanan yang cukup jauh ke Betlehem untuk membayar pajak mereka kepada pemerintah Romawi.  Memahami hukum-hukum dan Codes/peraturan hukum pada saat itu membantu kita untuk mengerti Alkitab.  Ini khususnya berlaku dalam Kisah-kisah Paulus dan ketika dia dipenjarakan, ditangkap, disiksa serta penyaliban Yesus.

7.   SANHEDRIN, atau Council/Dewan (Yoh.11:47; Kis.5:27) terdiri dari 71 pria terpilih dari antara para imam, rabi-rabi, dan tua-tua dari keluarga terkemuka Yehuda.  Imam Besar adalah petugas yang memimpin/mengetuai (Presiding officer).  Para anggota Sanhedrin mendasarkan semua pembahasan mereka dan hukum mereka pada 5 Kitab Musa—satu-satunya bagian dari Alkitab yang diterima oleh orang-orang Saduki.  Ke 5 Buku Musa disebut Torah/Taurat atau, HUKUM MUSA karena ia telah menulis 5 buku itu.  Tentu, maksud mula-mula(Original intent) adalah bahwa Tuhan akan menjadi Raja orang2 Yahudi yang bersama para nabi Yahudi dan Nabi-nabi yang menjalankan hukum2 Allah itu dengan cara yang adil atas umat-Nya.

8.   Pertimbangkan beberapa contoh dimana Hukum Musa yang masih dipraktekkan pada zaman Yesus.---PRIA Yahudi masih diharapkan untuk membayar ½ syikal pajak kaabah/temple tax (Mat.17:24-27; Kel.30:13); PERCERAIAN masih diatur oleh ketentuan yang ditetapkan oleh Musa (Mat.19:7; Ul.24:1-4); Orang-orang masih menganut hukum pernikahan turun ranjang(Levirate marriage) dimana seorang JANDA menikahi saudara suaminya (Mat.22:24; Ul.25:5); Anak laki-laki masih disunat pada hari ke 8 (Yoh.7:23; Im.12:3); dan para pezinah harus dihukum rajam (Yoh.8:5; Ul.22:23-29) PSSD hlm.7.

9.   Dalam kasus perdata (Civil) atau Pidana (Criminal cases), hukum Yahudi menuntut adanya setidaknya 2 saksi.(Mat.26:59-61; Ibr.10:28 dan Ul.17:2-6).  Beberapa Hukum Musa tampak cukup aneh (asing) bagi kita.  Sebagai contoh, perhatikan aturan dan hukum dalam Ul.21 (Cara mengadakan pendamaian karena pembunuhan oleh seorang yang tak dikenal) dan Bil.5:11-30 (Hukum mengenai perkara cemburuan).

 

 10. Dalam hukum Musa, ada berbagai jenis perintah/commandments yang melibatkan berbagai aspek kehidupan.

Yakni : 1) Hukum moral dari Sepuluh Hk.Allah; 2) Hukum2 upacara alat pemerintahan Kristus dan Hukum-Nya. - #1 - page 1 of 4 kurban2, dll.; 3) Hukum2 kesehatan; 4) Hk.Sipil; dan 5. Hukum2 Marching.(baris,pemecatan)

 

11. Ellen White membuat beberapa pernyataan yang sangat menarik tentang mengapa  semua aturan/rules  itu diberikan?.

Jika Adam tidak melanggar hukum Allah, hukum upacara tidak akan pernah dilembagakan (never have been instituted). Injil Kabar Baik, pertama kali diberikan kepada Adam saat deklarasi disampaikan kepadanya bahwa benih perempuan itu akan meremukkan kepala ular; dan diturunkan dari generasi ke generasi sampai kepada Nuh, Abraham, dan Musa.

Pengetahuan tentang Hukum Allah, dan Rencana Keselamatan telah diberikan kepada Adam dan Hawa oleh Kristus sendiri. Mereka dengan hati2 telah menyimpan pelajaran penting itu, dan menyampaikannya dari mulut ke mulut, kepada anak-anak mereka dan cucu-cicit mereka.They carefully treasured the important lesson, and transmitted

it by word of mouth, to their children, and children’s children. Dengan demikianlah hukum Allah itu tetap terpelihara.—The Signs of the Times, March 14, 1878; Selected

Messages, book 1, p. 230.

Jika manusia telah memelihara hukum Allah itu, sebagaimana yang telah diberikan kepada Adam setelah kejatuhannya, dipelihara oleh Nuh dan oleh Abraham(Kej.26:5), maka tidak perlu ada tanda/peraturan sunat (the ordinance of circumcision). Dan jika keturunan Abraham telah memelihara perjanjian itu, yang mana sunat adalah sebuah tanda, mereka tidak akan pernah tergoda kedalam penyembahan berhala, tidak akan mengalami kehidupan perbudakan di Mesir; mereka akan terus memelihara Hukum itu dalam pikiran mereka, dan tidak perlu Hukum Allah itu di umumkan di bukit Sinai atau terukir pada loh batu.

 

Dan orang-orang yang mempraktekkan prinsip-prinsip dari 10 Perintah Allah, tidak memerlukan petunjuk tambahan yang diberikan kepada Musa.—Patriarchs and

Prophets 364.2 (1890). (Compare 1SM 233-235.) [Words in brackets are added.]

12. Jelaslah dari dua kutipan ini bahwa hukum-hukum telah ditambahkan dan ditambahkan (added) karena Allah tahu kita membutuhkannya(mereka) karena dosa kita, bukan karena mereka awalnya diperlukan.

Namun di Surga, pelayanan tidaklah diberikan dalam semangat legalitas(legality). Ketika setan memberontak melawan hukum Tuhan, pemikiran bahwa disana ada hukum datang kepada para malaikat hampir sebagai suatu kebangunan kepada sesuatu yang tidak terpikirkan. Dalam pelayanan/pekerjaan mereka para malaikat bukan sebagai pembantu (as a servant), tetapi sebagai anak-anak. Ada kesatuan yang sempurna antara mereka dan Pencipta mereka.

Penurutan bagi mereka tidak membosankan. Kasih kepada Allah membuat pelayanan mereka suatu sukacita.—Thoughts From the Mount of Blessing 109.2. (Lihat juga 1 Timothy 6:8-10.)

13. Apakah benar untuk mengatakan bahwa semakin dekat kita mematuhi dan mengikuti hukum2 Allah, maka semakin sedikit kita memerlukan hukum-hukum Allah itu?.Ingat apa yang dikatakan oleh Paulus bahwa "hukum" telah ditambahkan (was added) : Gal.3:19-25.

14. Pada zaman Kristus, Orang2 Yahudi juga mencoba untuk mengikuti suatu koleksi besar hukum2 lisan(oral laws) yang dikenal sebagai Hukum Rabi(Rabbinic law). Dalam bahasa Ibrani hukum lisan ini dikenal sebagai halaqah(jamak: halakoth) yang berarti "berjalan"/to walk. Selama bertahun-tahun, para rabi Yahudi telah menetapkan bahwa ada 613 hukum utama(major laws) yang terdapat dalam buku-buku Musa (Termasuk 39 diantaranya berkaitan dengan sabat).

   (Para Rabi merasa bahwa jika rakyat menaati halakoth, maka rakyat akan “berjalan” di jalur 613 HUKUM.  Sekalipun berawal dari hukum lisan, halakoth rabbinis tsb. Disusun dan dicatat dalam bentuk buku.)

 Sejumlah uu/hukum tersebut kemudian dikenal sebagai MIDRASH.

 Sedangkan yang lainnya dicatat dicatat dalam kumpulan hukum yang disebut MISHNAH.  (Ketika itu digunakan oleh mereka guna melawan Yesus—tetapi kesalahan lebih banyak muncul dari perilaku para pemimpin Yahudi, bukan dengan hukum2 itu sendiri).

   Beberapa dari hukum2 itu dianggap lebih penting yang telah dituliskan dalam suatu koleksi yang disebut Mishnah.

  * Sebagai tambahan terhadap Hk2 Musa, orang2 Yahudi pada zaman Yesus juga telah terbiasa dengan hukum para rabi.  Para Rabi=senjata cerdik dari orang Farisi.  Tanggung jawab para rabi ini adalah memastikan agar hukum Musa tetap relevan bagi umat Yahudi.  Para Rabi menghitung ada 613 hukum dalam 5 KITAB MUSA (termasuk 39 di antaranya berkaitan dengan Sabat), dan mereka menggunakan hukum2 ini sbg dasar bagi perundang-undangan mereka.

15. Tentunya, kita semua menyadari bahwa orang-orang Yahudi sangat berhati-hati dalam pemeliharaan Sabat. Para pemimpin Yahudi secara terus menerus menuduh Kristus melanggar aturan Sabat mereka. Apakah peraturan2 Sabat mereka?. Banyak dari peraturan2 itu telah dipelihara dalam sebuah buku orang Yahudi yang telah dijilidkan,  yang disebut dengan Mishnah.

The Oxford University Press telah menghasilkan terjemahan Mishnah dalam bahasa Inggeris, dan itu dapat memberikan detailnya bagi kita. Pertama/mula2, bagaimanapun, perhatikanlah bahwa dalam memberikan perintah ke empat, Allah hanya mengatakan secara sederhana:"Ingatlah dan kuduskanlah  hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,..(Kel.20:8,9). Namun, Dia tidak memberitahukan kepada mereka "pekerjaan" yang ada dalam pikiranNya.(What "work" He had in mind). Jadi, mereka mulai untuk memecahkan masalah itu. Lihat Mishnah, hlm. 106.

Kelas-kelas utama pekerjaan adalah 40(The main classes of work are 40), save 1. Menabur,membajak,menuai,mengikat sheaves, threshing, menampi,membersihkan tanaman,penggilingan,pengayakan,meremas,baking,sheering wool, mencuci, atau pemukulan/beating, atau pencelupan wol, memutar, menenun, membuat 2 loop(satu akan baik-baik saja tapi tidak dua), tenun benang dua, memisahkan dua benang, mengikat simpul,melonggarkan simpul, menjahit dua jahitan,(Jika kancing hanya jatuh, diperbaiki dalam perjalanan hari sabat ke gereja dan itu adalah gembala kami --dia ingin terlihat rapi diatas mimbar--itu terlalu buruk.  Dia tidak bisa menjahit itu) merobek agar menjahit 2 jahitan,berburu rusa,pemotongan, atau menguliti, atau pengasinan atau curing it's skin, menggores atau memotong, menulis dua surat, menghapus untuk menulis dua surat, membangun,merobohkan,memadamkan api,menyalakan api,memukul dengan palu, atau mengambil dari satu tempat ke tempat yang lain.  Inilah semua kelas utama dari pekerjaan, Forty save.(Isi dalam kurung ditambahkan.

 16. Dalam catatan kaki dikatakan: "39 tindakan kerja ini diperlakukan dalam berbagai tingkat menditeil dalam fasal 39 dan yang mengikutinya.” Jadi, apakah rincian tersebut?) Pertimbangkanlah uu/hukum2 ini tentang Kristus dan Hukum-Nya.-#1 - hlm.2 dari 4.

Mandi pada hari Sabat dan mengeringkan. 

   Jika seorang pria mandi di air sebuah gua atau di air Tiberias dan mengeringkan dirinya sendiri,bahkan walaupun itu dengan 10 handuk, ia mungkin tidak dapat membawa mereka pergi dalam tangannya. Anda bertanya-tanya apa itu artinya?. Jadi dengan demikian ada sebuah catatan kaki:

Dari takut menyinggung terhadap prinsip memeras keluar namun ada sedikit kelembaban di dalamnya.  Kemudian Anda melihat pointnya.  Anda tidak di izinkan untuk memeras handuk pada hari Sabat.  Namun, Anda ingin mengeringkan Anda sendiri. Baik, gunakanlah 10 handuk dan tidak ada satupun diantara mereka yang akan sangat basah, dan Anda  tidak  bersalah menekan/memeras mereka. Tetapi tidak, hal itu dilarang.  Jadi, aturan berlangsung begini:

Namun, jika 10 orang/ mengeringkan mereka sendiri dengan handuk satu(Kemudian itu akan sangat basah, bukan?, menyeka wajah mereka, tangan dan kaki mereka, mereka mungkin membawa kembali handuk itu di tangan mereka. [Nah, bagaimana mungkin?]. Begitu banyak manusia yang akan terus saling memperingatkan bahayanya memeras(menekan). [Isi dalam kurung disediakan.]

Akan jauh lebih aman untuk 10 orang menggunakan satu handuk dan mendapatnya sangat basah karena mereka akan mengingatkan satu sama lain bahwa mereka tidak harus meremasnya. Tetapi, jika satu orang menggunakan 10 handuk--meskipun handuk tidak akan sangat basah--ada bahaya dia akan melupakan dan menekan salah satu dari mereka.  Ingat bahwa lain waktu Anda take a shower.! 

  17. Apakah mengherankan kemudian bahwa Yesus tampaknya pergi keluar dari cara-Nya untuk melanggar peraturan buatan manusia mereka sementara memelihara peraturan2 Allah?. Baca Lukas 14:1-6(Penyembuhan pada hari Sabat: Seorang yang sakit busung air)  dan Yohanes 9(Org yg.buta sejak lahirnya). Masehi Advent Hari Ketujuh terus memelihara Sabat hari ketujuh. Sebagian besar saudara2 Kristen tidak memeliharanya. Mereka melihat pada banyak mujijat yang Yesus telah peragakan pada hari Sabat dan menganjurkan bahwa dengan meyatakan mujijat2 itu pada Sabat, Dia melakukan jauh dengan perintah Sabat. Ketika Anda membaca berbagai cara dimana Yesus melakukan mukjizat pada hari Sabat, apakah pendapat Anda?. Apakah Yesus mencoba untuk mendukung suatu pemeliharaan yang benar akan hari Sabat?. Atau, apakah Dia sedang mencoba untuk menyingkirkan hari Sabat?, Atau Mishnah?.  Apakah hukum Sabat itu poscriptive?.  Atau descriptive?.

18. Hampir semua orang yang mempelajari Alkitab dengan hati-hati akan mengakui bahwa orang-orang Yahudi, terutama orang-orang Parisi, diperlukan menjaga dengan teliti Sepuluh Perintah Allah. Ada suatu bagian dari Misnah yang disebut TAMID (5:1) yang menyatakan bahwa orang2 Yahudi yang setia harus melafalkan Sepuluh perintah-perintah setiap hari. Haruskah kita melakukan itu?.  Mereka percaya bahwa semua hukum lainnya tergantung atau berasal dari 10 Perintah Allah. Haruskah kita melakukan itu?.

19. Pada suatu kesempatan, Yesus bertanya apakah perintah terbesar?. Baca Matt. 19:16-19 (Ttg Orang Muda yang kaya).

Roma 13:8-10(Kasih adalah kegenapan Hk.Taurat); dan Yakobus 2:8-12(Kasihilah sesamamu manusia seperti diri sendiri). Advent Hari Ketujuh telah menyarankan bahwa 10 Hukum adalah akhirnya telah diringkaskan ke dalam 2 perintah:

1) Menyembah Allah yang utama, dan

 2) Mengasihi semua orang sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Kedua hukum ini dapat akhirnya diringkaskan lagi dengan perkataan tunggal KASIH. Jika kita benar-benar mencintai setiap orang sebagaimana seharusnya, akan tidak ada lagi masalah(no problem) dalam pemeliharaan kita akan setiap hukum itu.

20. Haruslah jelas bagi kita semua bahwa setiap masyarakat yang akan bertahan hidup(survive) harus mempunyai beberapa aturan dan uu/hukum yang disepakati. Jadi, dimanakah masyarakat mendapatkan ide dari apa yang benar dan apa yang salah?.

Bahkan banyak atau kurang, masyarakat ateis seperti pemerintahan komunis yang kita kenal memiliki banyak uu/hukum2. Bukankah seharusnya uud/hukum2 itu dirancang untuk membantu kita hidup bersama secara damai dan aman?.

Apakah Anda setuju bahwa 10 Perintah Allah dipahami dengan benar dan sepenuhnya membentuk dasar dari semua hukum moral?.

21. Apakah memelihara Sepuluh Perintah sesuatu yang kita lakukan secara alami?.  Haruskah orang2 Kristen selalu merasa nyaman memelihara Sepuluh Perintah Allah?. Mengapa itu, pada waktunya, kita tidak.  Ingat bahwa kita dilahirkan dengan sifat egois/selfish, dan Sepuluh Perintah diringkas oleh ke dua dan oleh  perintah untuk mengasihi itu kebalikan dari ke egoisan. Jadi masing-masing dari kita harus terus berjuang diantara egois alami kita dan hukum2 kasih yang kita percaya Tuhan telah berikan kepada kita.

22. Jika Anda ditugaskan, tugas mendirikan sebuah masyarakat baru, apakah ada dari 10 perintah Allah yang anda  ingin tinggalkan?.  Dapatkah anda  meninggalkan hari Sabat.?

23. Ada berbagai cara di mana orang-orang telah melihat perintah2 Allah selama beberapa generasi.

Bahkan di zaman kita, banyak orang percaya bahwa Alkitab penuh dengan harus dan tidak boleh dilakukan (full of do's and dont's), "perbuatan yang harus dilakukan dan dosa yang harus dijauhi!". Mereka menganggap Alkitab sebagai semacam cetak biru (blue print).

24. Orang-orang lain menganggap Kitab Suci dengan semua ceritanya, peraturan2, hukum2 sebagai sebagai satu deskripsi utama tentang bagaimana  kita dapat diselamatkan.

Christ and His Law - #1 - page 3 of 4

25. Sementara yang lain, mungkin dengan pengetahuan yang lebih dalam akan kitab suci, melihat kitab suci sebagai cerita tentang Allah dan urusannya dengan anak-anakNya yang penuh dosa dan pembrontakan turun menurun (dari generasi ke generasi).  Hal ini terutama cerita tentang  Allah.

26. Jadi, bagaimana Anda merasakan tentang hukum-hukum Allah dan perintah-perintahNya?. Jika Anda adalah orang percaya dan berusaha utk melakukan kehendak Allah, apa yang membuat Anda bersedia untuk taat?. Bisakah Anda mengatakan,  "Saya melakukan apa yang saya lakukan karena Allah yang telah menyuruhku, dan Dia memiliki kuasa untuk memberi upah/menghargai dan membinasakan/menghancurkan?.Apakah ini mengapa Anda tidak membunuh atau berzinah karena Allah telah mengatakan Anda tidak harus melakukannya?.

27. Menurut Anda, apakah yang ada dalam pikiran E.G. White ketika dia berkata: "Hukum dari 10 perintah tidak harus dipandang dari sisi banyak larangan, seperti dari sisi belas kasihan.  Larangan2nya adalah jaminan pasti kebahagiaan dalam penurutan".? (1 SM 235.1).

28. Apakah 10 Hukum mempromosikan kebebasan dan keadilan?. Banyak orang Kristen menganggap Hukum dan Kasih Karunia (law and grace) menjadi dua ekstrem pada sebuah kontinum.  Apakah itu benar?.

29. Bahkan dalam Perjanjian Lama, hati-hati melihat banyak kata yang berbeda yang telah digunakan oleh orang2 Ibrani untuk  menggambarkan hukum menunjukkan bahwa kata-kata ini bisa menggambarkan bukan hanya hukum tetapi instruksi, bimbingan, undang2, perintah, atau bahkan aturan2/ajaran2.

30. Ciptaan Allah yang semula digambarkan sebagai :"baik/good", bahkan  "sangat baik/very good". (Kejadian 1). uu/Hukum Allah dianggap oleh para malaikat sebagai sesuatu yang sangat alami bahwa mereka bahkan tidak berpikir tentang mereka, mereka hanya melakukan mereka secara alami. (MB 109; compare COL 97,98)

31. Apakah Anda mempertimbangkan suatu kehidupan yang tinggal hidup mengikuti perintah2 Allah suatu penggenapan/pemenuhan Yohanes 10:10 yang berkata: "Aku datang supaya mereka memiliki hidup, dan memilikinya berlimpah"? (NASB).

32. Baca Wahyu 12:17 (Marahlah naga itu---yang menuruti hk2 Allah dan memiliki Kesaksian Yesus) dan 14:10. Kelompok umat Allah yang terakhir di dunia ini digambarkan dalam buku Wahyu yang tetap bertahan karena mereka memelihara hukum2 Allah. Apakah sudah menjadi lebih jelas dalam pikiran Anda bahwa orang2 dari dunia bergerak menjauh dari perintah2 Allah secepatnya. Bagaimana kita menanggapi perubahan sosial ini?. Apakah kita masih menganggap hukum Allah itu penting bagi kita?.

 

Doa Ucapan Syukur.


Bapa surgawi,
(Kami memberi hormat & memuji nama-Mu)
Segala hormat & puji kami sampaikan kehadiratMu
karna Engkau adalah Juruselamat dan Khalik Alam Semesta.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendakMu di bumi seperti.di sorga.

Engkau adalah Allah kami yang Maha Kudus dan kami manusia berdosa,
Ampunilah segala dosa yang kami perbuat agar kami layak menerima
akan segala berkat-Mu.
Kami datang menyampaikan kebutuhan-kebutuhan kami baik secara jasmani maupun
secara rohani: Jadikanlah kami menjadi berkat bagi orang lain.

Curahkanlah Roh Kudusmu untuk menuntun kami.
Kami serahkan semua urusan & masalah lainnya kedalam tangan Bapa.
Jadikanlah apa yg menjadi masalah, tugas serta pek.kami sehari-hari akan
selalu lancar. Engkau jaga & jauhkan kami dari orang yang ingin mencobai
kami. Iri & jahat mereka, kami serahkan semuanya kepada-Mu.

Kiranya apa yang menjadi berkat dari-Mu akan selalu Engkau lancarkan
seperti air yang mengalir tiada hentinya.
Berkati pula org-orang yg membantu kami & jadikan selalu hati kami lembut
dan selalu ada kasih dari-Mu.

Terimakasih untuk semua anugrahMu dalam kehidupan kami dan untuk kasih-Mu
yang tanpa batas bagi kami & orang-orang disekitar kami.
Kami bersyukur akan hari-hari yang Engkau berikan kepada kami terutama
keselamatan,kesehatan, penyertaan dan berkat dari-Mu yang kami
rasakan dan nikmati selama ini walaupun saat ini kami mungkin masih
mempunyai persoalan masing-masing dalam kehid.kami.

Kepada-Mulah kami memohon dan meminta apa yang selama ini menjadi
pengharapan kami saat ini dan kedepannya. Terimakasih Bapa untuk
semuanya. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, AMEN.

Kamis, 10 April 2014

2. Kristus Dan Hukum MUSA.

PENDAHULUAN

Sikap Yesus terhadap Torah. Iman Kristiani meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menjelma sebagai manusia biasa dengan missi utama untuk penebusan dosa manusia. Adalah kehendak Allah sendiri bahwa Yesus lahir dari keturunan Daud (Yes. 9:6-7) di kota kecil Betlehem (Mi. 5:2). Jadi, secara keturunan Yesus adalah seorang Yahudi. Dan sebagai orang Yahudi, Yesus bukan saja tunduk pada Torah tetapi juga membela hukum Musa itu. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya," kata-Nya (Mat. 5:17).

"Seperti tiap orang Yahudi yang setia di abad pertama, Yesus tunduk kepada hukum Musa. Dibesarkan dalam satu rumahtangga dengan orangtua Yahudi yang taat, Ia menghargai sepenuhnya warisan duniawi-Nya yang kaya itu yang berakar pada takdir Ilahi. Ia tahu bahwa Allah sendiri yang sudah mengilhami Musa untuk menuliskan hukum-hukum ini dengan maksud untuk menciptakan suatu masyarakat yang memantulkan kehendak-Nya serta menjadi seperti mercusuar bagi bangsa-bangsa. Ia menuruti dengan setia secara kata demi kata dari hukum itu" [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Namun di seluruh injil kita sering membaca tentang tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh golongan elit masyarakat Yahudi--kaum Farisi, ahli Taurat, dan orang Saduki--yang selalu hendak memojokkan Yesus seolah-olah Dia adalah pelanggar hukum Musa. Ini bukan masalah perbedaan pandangan antara Yesus dengan elit Yahudi terhadap hukum Musa, melainkan masalah prasangka. Selain itu, sebagaimana kita pelajari pada pelajaran pekan lalu, tuduhan pelanggaran hukum yang mereka lontarkan itu bukan menyangkut esensi dari hukum melainkan lebih pada penafsiran.

Pena inspirasi menulis: "Bilamana Kristus menyampaikan khotbah di atas bukit, orang-orang Farisi hadir dan mencermati setiap perkataan. Juruselamat membaca pikiran mereka; Ia tahu bahwa mereka sedang mengeraskan hati untuk menolak terang. Mereka berkata dalam hati mereka, 'Dia bertentangan dengan hukum. Kita tidak akan mengajarkan hal yang demikian.' Tetapi sementara mereka menahan amarah, mereka terkesima ketika mendengar jawaban atas pikiran mereka yang tak terucapkan itu: 'Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukuim Taurat atau kita para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.'" (Ellen G. White, Review and Herald, 15 November 1898).

1. MENAATI HUKUM SEJAK KANAK-KANAK (Sunat dan Penyerahan)

Sunat sebagai tanda. Kewajiban sunat di kalangan orang Yahudi didasarkan pada hukum Musa, atau Torah, yang dalam PL terdapat dalam Kejadian 17:10-12. "Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun..." (huruf miring ditambahkan). Hukum ini terus dilaksanakan oleh keturunan Abraham sampai sekarang ini. Bahkan ada sebagian orang Kristen, yang merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, juga memperingati hari penyunatan Yesus, yaitu hari kedelapan yang jatuh pada tanggal 1 Januari. Mereka merayakannya sebagai sebuah liturgi yang dinamakan "Pesta Sunat" (Feast of Circumcision) atau "Pesta Nama Kudus" (Feast of Holy Name), meskipun mereka sendiri tidak disunat.

"Kebenaran ini memberi kita suatu pengertian yang lebih baik tentang hari-hari permulaan dari kehidupan Yesus. Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria dipilih untuk menjadi orangtua duniawi Yesus setidaknya karena kesalehan mereka. Yusuf digambarkan sebagai 'seorang yang tulus hati' (Mat. 1:19), dan Maria disebut mendapat 'kasih karunia di hadapan Allah' (Luk. 1:30). Tatkala Yesus berumur delapan hari, orangtua-Nya mengadakan upacara pemberian nama dan sunat dengan cara yang sama seperti telah dialami oleh laki-laki Ibrani yang tak terhitung jumlahnya itu di masa lampau" [alinea kedua].

Akan halnya pemberian nama kepada Yesus pada hari Ia disunat itu merujuk kepada pesan seorang malaikat kepada Yusuf, "engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Mat. 1:21). Sebenarnya, nama-Nya dalam bahasa Ibrani adalah Yeshuah yang artinya "Tuhan adalah keselamatan," tetapi PB yang ditulis dalam bahasa Grika menerjemahkan nama itu menjadi IÄ“sous, dan "Yesus" adalah pengindonesiaan dari nama Grika "IÄ“sous." Mungkin anda pernah melihat sebuah kristogram (monogram nama suci) bertanda "IHS" yang tidak lain adalah singkatan dari Iesus Hominum Salvator atau "Yesus Juruselamat Manusia" dalam bahasa Latin. Menurut tradisi Yahudi pemberian nama anak dilakukan oleh orangtua, oleh ayahnya (Kej. 16:15; Kel. 2:22) atau ibunya (Kej. 29:32-35; 1Sam. 1:20), tapi terkadang juga oleh orang lain yang tidak ada hubungan keluarga (Kel. 2:10; Rut 4:17). Tapi dalam hal Yesus sebagai Juruselamat itu adalah nama surgawi.

Penyerahan anak sulung. Hal kedua yang dicatat dalam Alkitab tentang apa yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria sehubungan dengan Yesus ketika masih bayi ialah upacara penyerahan anak. "Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan..." (Luk. 2:22-23; huruf miring ditambahkan). Yesus diserahkan kepada Tuhan karena Dia adalah anak sulung, dan di dalam Torah ditentukan bahwa waktu untuk penyerahan anak laki-laki sulung ialah "bila sudah genap hari-hari pentahiran" diri sang ibu (Im. 12:6). Hukum Musa menetapkan bahwa seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki harus melewatkan 7 hari masa kenajisan (ay. 2), ditambah dengan 33 hari masa pentahiran (ay. 4), sehingga seluruhnya menjadi 40 hari. Seorang ibu yang melahirkan anak perempuan masa kenajisan dan pentahirannya lebih panjang, yaitu 2 minggu masa kenajisan ditambah 66 hari masa pentahiran, seluruhnya 80 hari (ay. 5). Jadi, hari penyerahan Yesus tidak bersamaan dengan hari Dia disunat.

Lukas 2:20-22 adalah tiga ayat yang menceritakan tiga peristiwa berbeda menyangkut Yesus ketika masih bayi, yaitu tentang hari kelahiran-Nya (ay. 20), hari khitan-Nya (ay. 21), dan hari penyerahan-Nya (ay. 22). Perbedaan itu ditandai dengan kata awal "dan" pada ayat 21 dan 22 dalam versi TB (Terjemahan Baru). Kalau anda membaca ayat-ayat tersebut dalam PB versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) maka anda akan dapati bahwa ketiga ayat tersebut dipisahkan dalam tiga perikop berbeda. Jadi, Yusuf dan Maria baru bisa menunaikan hukum Musa tentang penyerahan Yesus sebagai anak laki-laki yang sulung di bait suci sesudah ibu-Nya melewatkan masa pentahirannya, sebab selama masa kenajisan dan pentahiran Maria belum berakhir "tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus" (Im. 12:4).

"Alkitab itu jelas bahwa Maria adalah seorang perawan ketika dia dipilih untuk menjadi ibu Yesus (Luk. 1:27); jadi, Yesus adalah anak pertama yang membuka kandungannya. Menurut Keluaran 13, setiap anak sulung di antara umat Israel (apakah itu hewan ataupun manusia) harus dipersembahkan kepada Tuhan...Sebagai orang Yahudi yang saleh, Maria dan Yusuf dengan teliti memenuhi kewajiban hukum Musa dan memastikan bahwa Anak Allah itu menyandang tanda-tanda perjanjian itu" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang sejak bayi sudah menggenapi tuntutan Hukum Musa?

1. Dari sejak lahir Yesus sudah dibiasakan untuk mengikuti hukum Musa (Torah) karena sebagai manusia Dia adalah orang Yahudi. Tentu peran orangtua duniawi Yesus, Yusuf dan Maria, dalam hal ini sangat penting. Sepanjang masa kanak-kanak dan masa remaja Yesus telah diajar juga untuk taat hukum.

2. Dalam skenario besar untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa, Allah telah mengutus Putra-Nya untuk menjelma sebagai manusia. Yusuf dan Maria dipilih oleh Allah sendiri untuk menjadi orangtua duniawi Anak Allah karena kesalehan dan ketaatan mereka pada hukum-Nya (Torah).

3. Setelah dewasa Yesus tetap memperlihatkan ketaatan-Nya pada setiap hukum Allah yang berlaku pada masa itu di lingkungan bangsa-Nya (yaitu hukum moral, hukum upacara agama, dan hukum sipil) untuk memberi teladan kepada manusia bahwa menurut hukum Allah itu penting.

2. DIRAYAKAN SEBAGAI PERINGATAN (Hari-hari Raya Orang Yahudi--Yoh. 5:1)

Memperingati hari pembebasan. Hukum Musa mewajibkan orang Israel untuk memperingati 7 hari raya nasional yang tercatat dalam Imamat 23. Masing-masing adalah Paskah [Ibrani; Pesach]--1 hari (ay. 5), Roti Tidak Beragi [Ibr.: Chaq HaMotzi]--7 hari (ay. 6), Hasil Raya Menuai [Ibr.: Reshit Katzir] (ay. 10-11), Hari Raya Tujuh Minggu [Ibr.: Shavu'ot; Grika: Pentakosta, artinya "kelimapuluh"]--50 hari (ay. 16-17), Hari Terompet [Ibr.: Yom Teru'ah] (ay. 24-25), Hari Pendamaian [Ibr.: Yom Kippur]--1 hari (ay. 27-28), dan Hari Raya Pondok Daun [Ibr.: Sukkot]--7 hari (ay. 34). Ketujuh hari raya ini tercakup dalam perintah Tuhan melalui Musa di gunung Sinai, dan merupakan bagian dari hukum upacara agama, di mana empat perayaan pertama berlangsung dalam musim semi dan tiga perayaan kedua dalam musim gugur.

Tetapi selain itu orang Yahudi juga merayakan hari-hari raya lainnya yang ditambahkan atas dasar tradisi--bukan berdasarkan Torah--seperti Pesta Lampu (Ibr.: Chanukah] untuk memperingati pengudusan kembali bait suci Yerusalem dari pencemaran yang dilakukan oleh Anthiokus Epifanes dari Yunani, Hari Raya Undian [Ibr.: Purim] untuk memperingati perlawanan bangsa Yahudi terhadap Haman seperti tertulis dalam kitab Ester, dan Tahun Baru Yahudi [Ibr.: Rosh Hashanah].

"Periode pertama dari hari raya utama dalam tahun kalender Yahudi adalah hari raya Roti Tidak Beragi yang diawali dengan Paskah. Perayaan ini untuk memperingati kelepasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir ketika malaikat maut melewatkan rumah-rumah dari mereka yang membubuhi tanda darah pada tiang pintu. Injil mencatat tiga kesempatan ketika Yesus merayakan Paskah (Luk. 2:41-43, Yoh. 2:13-23, Mat. 26:17-20)" [alinea pertama].

Merujuk kepada Yesus Kristus. Sesungguhnya inti dari Torah adalah Yesus Kristus, dan semua perayaan-perayaan yang diperintahkan kepada bangsa Israel itu dirancang Allah untuk pembelajaran yang merujuk kepada Mesias sebagai Juruselamat. Dalam perkataan lain, perayaan-perayaan itu merupakan "bayangan" dari apa yang akan digenapi oleh Yesus Kristus, bukan saja demi kepentingan bangsa Israel tapi juga untuk segenap manusia. Mari kita telaah satu demi satu:

1. Paskah--Skala bangsa Israel: Pembebasan dari perbudakan Mesir (Im. 23:5)--Kegenapan dalam Kristus: Kemerdekaan dari perbudakan dosa (Yoh. 8:36).

2. Roti Tidak Beragi--Skala bangsa Israel: Selama tujuh hari makan roti bundar yang tidak beragi (Im. 23:6)--Kegenapan dalam Kristus: Ragi, lambang dari dosa, telah dibersihkan melalui kematian Yesus sebagai "Anak Domba Paskah" (1Kor. 5:7-8).

3. Hari Raya Menuai--Skala bangsa Israel: Setiap panen pertama di negeri Kanaan harus dipisahkan untuk Tuhan (Kel. 23:16; Im. 23:10-11)--Kegenapan dalam Kristus: Kebangkitan Yesus sebagai "buah sulung" dari orang-orang saleh yang akan dibangkitkan (1Kor. 15:20).

4. Hari Raya 7 Minggu--Skala bangsa Israel: Membawa persembahan unjukan sesudah hari ke-50 (Im. 23:15-17)--Kegenapan dalam Kristus: Pencurahan Roh Kudus (Hari Pentakosta) sesudah 50 hari kebangkitan Yesus.

5. Hari Terompet--Skala bangsa Israel: Meniup serunai atau terompet khas dari tanduk, sebagai peringatan (Im. 23:24)--Kegenapan dalam Kristus: Bunyi terompet yang membangkitkan orang mati pada kedatangan Yesus kedua kali (Mat. 24:30-31; 1Tes. 4:13-18; 1Kor. 15:52).

6. Hari Pendamaian--Skala bangsa Israel: Upacara persembahan kurban bakaran istimewa sekali setahun untuk pembersihan bait suci dari dosa (Im. 16:15-22; 23:27-28)--Kegenapan dalam Kristus: Kematian Yesus di kayu salib sebagai Anak Domba Allah untuk menebus dosa seluruh umat manusia (Yoh. 3:16; Ibr. 13:11-2).

7. Hari Raya Pondok Daun--Skala bangsa Israel: Tinggal di dalam pondok-pondok beratapkan daun seminggu lamanya (Im. 23:34-36)--Kegenapan dalam Kristus: Ketika merayakan hari raya ini Yesus mengucapkan undangan untuk mengecap air hidup dari pada-Nya (Yoh. 7:37-38).

"Tentu saja perayaan-perayaan alkitabiah telah lama berakhir, setidaknya sejauh menyangkut orang-orang Kristen. Semua itu sudah digenapi dalam Kristus. Namun, kita dapat belajar sangat banyak dengan mempelajarinya dan melalui pekabaran-pekabaran yang dikandungnya, sebab semua itu mengajarkan kita pelajaran-pelajaran tentang kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan kuasa-Nya yang memberi kelepasan" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hari-hari raya orang Yahudi?

1. Tuhan merancang hari-hari raya untuk diperingati oleh bangsa Israel sebagai peringatan akan pengalaman masa lalu mereka. Setiap negara di zaman moderen ini memiliki hari-hari raya untuk mengenang perjalanan sejarah bangsanya.

2. Dalam hal hari-hari raya bangsa Israel yang tercantum dalam Torah, selain sebagai peringatan itu juga menjadi pelajaran akan apa yang akan datang di masa depan, khususnya menyangkut kedatangan Mesias dan apa yang akan dilakukan-Nya bagi mereka.

3. Sebagai orang Kristen, peristiwa bersejarah yang harus selalu dikenang adalah kematian Yesus di kayu salib sebagai Juruselamat dunia dan Penebus dosa manusia. Selain itu kita juga harus mengingat pengajaran-pengajaran-Nya, terutama janji-Nya untuk datang kembali (Yoh. 14:1-3).

3. KETAATAN YESUS SEBAGAI ANAK (Yesus di Bait Suci)

Masa kecil Yesus. Di seluruh PB hanya kitab-kitab injil saja yang mencatat tentang masa kecil Yesus, itupun sangat sedikit dan tanpa informasi apapun dalam injil Markus. Apa yang kita tahu ialah bahwa beberapa hari setelah lahir di Betlehem orangtua-Nya membawa Yesus mengungsi ke Mesir (Mat. 2:14), kemudian kembali ke Nazaret (Mat. 2:23; Luk. 2:39). Sebagai kanak-kanak Yesus bertumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas dan bijak (Luk. 2:40), dan setiap tahun ikut orangtua-Nya merayakan Paskah di Yerusalem (ay. 41). Ketika berusia 12 tahun bersama orangtua-Nya pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, Yesus mencengangkan bukan saja para alim-ulama tapi juga orangtua-Nya sendiri (ay. 46-48).

Paskah adalah perayaan penting bagi orang Yahudi yang mewajibkan kaum pria dewasa untuk melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem. Fakta bahwa Yusuf dan Maria mengajak Yesus yang berumur 12 tahun untuk ikut, sebagaimana yang dilakukan setiap tahun, menunjukkan bahwa orangtua Yesus adalah orang yang taat hukum (Hukum Musa atau Torah). Sebagian orang berspekulasi bahwa dalam perjalanan kali ini Yesus juga telah menjalani upacara tradisional yang di kalangan orang Yahudi disebut bar mitzvah (arti harfiahnya: "son of the commandments" atau "anak hukum") di mana seorang anak laki-laki dianggap sudah mencapai usia akil-baliq (untuk anak perempuan disebut bat mitzvah atau "daughter of the commandments"). Namun pendapat ini patut diragukan karena dua alasan: pertama, upacara bar mitzvah adalah untuk anak laki-laki yang sudah berumur 13 tahun, sedangkan saat itu Yesus baru berusia 12 tahun; kedua, tradisi ini baru diadakan sejak abad ke-13.

Jarak perjalanan dari tempat tinggal Yesus di Nazaret ke ibukota Yerusalem adalah sekitar 80 mil atau 128 Km, karena itu harus ditempuh dalam waktu tiga hari berjalan kaki. Alkitab mencatat bahwa Yusuf dan Maria baru menyadari ketidakhadiran Yesus dalam perjalanan pulang itu setelah satu hari penuh perjalanan (Luk. 2:44), dan baru menemukan Dia setelah tiga hari (ay. 46), jadi mereka kehilangan Dia selama tiga hari. Perhitungannya: satu hari setelah berangkat dari Yerusalem, satu hari perjalanan kembali ke Yerusalem, dan satu hari untuk mencari-Nya di Yerusalem karena sebelumnya mereka tidak sangka kalau Yesus masih berada di dalam Bait Suci. Dalam peristiwa ini hanya orangtua Yesus yang gelisah karena kehilangan Dia, tetapi di kemudian hari seluruh alam semesta kehilangan Yesus selama tiga hari sejak hari kematian-Nya sampai hari kebangkitan-Nya (Mat. 17:22-23; Luk. 24:7, 46). Sebab selama Yesus di dalam kubur Dia tidak berada di manapun di seluruh alam semesta ini maupun di surga! Sebagaimana Yesus pernah katakan: "Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada" (Yoh. 7:34).

Dalam rumah Bapa-Ku. Meskipun keluarga Yusuf dan Maria setiap tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, kunjungan mereka kali ini menjadi istimewa karena insiden "kehilangan" Yesus. Alkitab mencatat: "Tiap-tiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orangtua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia" (Luk. 2:41-45; huruf miring ditambahkan).

Inilah satu-satunya catatan Alkitab yang secara tegas menyebutkan umur Yesus. Tampaknya baru kali inilah Yesus ketinggalan, sebab kalau di tahun-tahun sebelumnya Dia pernah ketinggalan tentu waktu hendak berangkat pulang itu Yusuf dan Maria sudah memeriksa lebih dulu bahwa Yesus ada bersama mereka. Rupanya Yesus juga seorang anak yang suka berteman dan biasa berjalan bersama teman-teman atau sanak keluarga yang lain sehingga orangtua-Nya menyangka Yesus ada bersama mereka. Ketika Yusuf dan Maria menemukan Dia di dalam Bait Allah sedang bersoal-jawab dengan para alim ulama, seperti juga orang-orang lain yang menyaksikan-Nya kedua orangtuanya pun dibuat terheran-heran (ay. 47-48).

Tetapi, hal yang paling mencengangkan ialah soal-jawab antara Yesus dengan orangtua-Nya: "Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: 'Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.' Jawab-Nya kepada mereka: 'Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?'" (ay. 48-49; huruf miring ditambahkan). Jawaban Yesus itu membuat kedua orangtua-Nya bertambah heran dan tidak mengerti (ay. 50). Belasan tahun kemudian, tatkala Yesus sudah dewasa dan sedang melaksanakan pekerjaan Bapa semawi-Nya, lalu ibu-Nya bersama saudara-saudara-Nya datang hendak menemui Dia, Yesus berkata kepada orang yang memberitahukan hal itu kepada-Nya: "'Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?'" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: 'Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'" (Mat. 12:48-50).

Apa yang kita pelajari tentang peristiwa penting dalam kehidupan Yesus ketika berusia 12 tahun?

1. Catatan Alkitab tentang masa kanak-kanak Yesus sangat minim, meskipun begitu peristiwa yang terjadi pada waktu Dia berumur 12 tahun mengandung pelajaran sangat penting. Yesus bukan saja sudah dipenuhi dengan hikmat Allah, tapi Dia juga tahu untuk apa hikmat itu harus digunakan.

2. Ketika menjelma menjadi manusia biasa Yesus "telah mengosongkan diri-Nya sendiri...dan menjadi sama dengan manusia" (Flp. 2:7). Jadi, Yesus bertumbuh dan belajar seperti umumnya anak-anak. Namun, Dia "penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk. 2:40).

3. Pelajaran penting bagi orangtua Yesus--dan bagi kita semua--ialah bahwa sebagaimana Yesus lebih mementingkan untuk berada di rumah Bapa semawi (Luk. 2:49) dan melaksanakan kehendak Bapa di surga (Mat. 12:50), kita pun harus memelihara sikap demikian.

4. ANTARA KEWAJIBAN DAN KEBIJAKAN (Pajak)

Pajak dalam hukum Musa. Ketika memerintahkan Musa untuk membangun Bait Suci, Allah menginstruksikan pengumpulan dana dengan cara mewajibkan setiap laki-laki berumur 20 tahun ke atas agar membayar "uang pendamaian" (Kel. 30:12; BIMK: "uang tebusan") seberat "setengah syikal" (ay. 13). Pada zaman purba yang disebut dengan "uang" itu adalah nilai intrinsik dari logam berharga, perak atau emas. Satu syikal beratnya adalah 11 gram, jadi setengah syikal sama dengan 5,5 gram. Ini adalah sebuah "persembahan khusus" (ay. 14; BIMK: "sumbangan khusus") yang dipungut secara merata tanpa melihat apakah dia orang kaya atau miskin (ay. 15), dan menjadi semacam "uang pendamaian" (ay. 16; BIMK: "uang tebusan") bagi nyawa orang itu. Persembahan wajib ini berbeda dari persepuluhan yang diatur dalam kitab Maleakhi pasal 3.

Allah menentukan bahwa pungutan wajib itu harus digunakan "untuk ibadah dalam Kemah Pertemuan" (ay. 16). Ini bisa berarti bahwa uang tersebut dapat digunakan untuk pembangunan Bait Suci darurat yang digunakan selama perjalanan pengembaraan di padang gurun menuju Kanaan, atau juga sebagai dana penyelenggaraan upacara-upacara peribadatan di Bait Suci itu. Namun yang pasti bagi Allah persembahan itu "menjadi peringatan di hadapan TUHAN untuk mengingat kepada orang Israel" (ay. 16).

"Aspek upacara agama berarti bahwa Bait Suci merupakan pusat dari kehidupan keagamaan orang Yahudi. Bahkan, pada abad pertama, Bait Suci kemungkinan adalah satu-satunya bangunan tertinggal yang memberikan kepada bangsa Yahudi suatu perasaan jatidiri nasional" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Pajak menurut Yesus. Satu-satunya keterangan dalam Alkitab yang menceritakan tentang Yesus membayar pajak adalah Matius 17:24-27. Tetapi ini bukan pajak yang dibayarkan kepada negara (dalam hal ini pemerintah Romawi), melainkan kepada Bait Suci sebagai sumbangan wajib yang diatur dalam hukum Musa seperti yang kita bahas di atas (Kel. 30:12-16). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "bea dua dirham" dalam Matius 17:24 versi TB, atau "pajak Rumah Tuhan" dalam versi BIMK, adalah didrachma atau dua drachma, yaitu sekeping uang perak Yunani yang setara dengan setengah syikal perak uang Yahudi masa itu.

Entah kaget atau sok tahu, ketika petugas pemungut persembahan untuk Bait Suci (mungkin sekarang: diakon) itu bertanya kepada Petrus, "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" (Mat. 17:24), tanpa berpikir panjang langsung saja murid yang terkenal dengan spontanitasnya itu menjawab, "Memang membayar" (ay. 25). Tetapi Yesus yang berada di dalam rumah dan mengetahui hal itu tampaknya tidak setuju dengan jawaban Petrus. Yesus kemudian mengajukan pertanyaan yang menyadarkan murid-Nya itu, bahwa sesungguhnya Yesus sebagai Anak Allah tidak wajib membayar persembahan khusus untuk Bait Allah. "Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kau pancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga" (ay. 27; huruf miring ditambahkan).

"Walaupun demikian, Yesus memilih untuk mematuhi pihak berwenang dan menyuruh Petrus untuk mengambil uang pajak itu dari mulut ikan pertama yang ditangkapnya. Uang syikal dalam mulut ikan itu cukup untuk mencakup uang pajak baik untuk Yesus maupun Petrus" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus dan pajak?

1. Selain persepuluhan, orang Israel purba juga membayar persembahan wajib untuk Bait Suci; persepuluhan untuk menopang hidup para pelayan pekerjaan Tuhan, persembahan untuk menyokong pekerjaan dalam rumah Tuhan. Persepuluhan bersifat proporsional, sepuluh persen dari pendapatan; persembahan nilainya merata.

2. Petrus yang berjiwa patriotik itu terlalu gegabah menjawab bahwa Yesus membayar "bea dua dirham" itu, hanya karena tidak mau Gurunya dipersalahkan. Tampaknya Yesus tidak pernah membayarnya, karena memang Dia tidak wajib membayarnya. Tapi kecerobohan Petrus telah membuat Yesus "terpaksa" membayar.

3. Sebenarnya Yesus bisa saja keluar menghadapi pemungut bea itu dan menegaskan siapa Dirinya, tetapi Yesus memilih untuk menunjukkan ketaatan-Nya sebagai warga Yahudi. Pemimpin yang baik tidak akan bersikap "mentang-mentang" melainkan dengan rendah hati memberi teladan.

5. MENEPIS TUDUHAN SEBAGAI PELANGGAR HUKUM (Penegakan Hukum*)
(*Judul asli: "Law Enforcement")

Menghadapi jebakan. Entah berapa kali Yesus menghadapi jebakan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sengaja menyuguhkan kasus-kasus yang secara faktual mempertentangkan kententuan-ketentuan hukum antara Torah (hukum agama) dengan undang-undang kerajaan Romawi (hukum positif). Sambil menyeret seorang perempuan PSK ke hadapan Yesus, mereka berkata: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (Yoh. 8:4-5). Menurut hukum Musa perempuan itu harus dirajam sampai mati (Ul. 22:23-24), tetapi menurut undang-undang Romawi hukuman mati hanya dapat dilaksanakan atas putusan hakim di pengadilan sipil.

Dalam kedua kasus ini--dan juga kasus-kasus lainnya--kalau Yesus tidak menuruti ketentuan dalam Torah maka Ia akan dicap pelanggar hukum, tetapi jika Yesus tidak menaati hukum Romawi selaku penguasa-penjajah maka Ia pun akan dituduh melawan hukum. Apakah ini "situasi buah simalakama" (kalau dimakan ayah mati, kalau tidak dimakan ibu yang mati), alias keadaan yang serba salah, maju kena, mundur kena? Bagi anda dan saya mungkin ya, tapi bagi Yesus tidak! Anggapan bahwa Yesus akan menjadi serba salah dengan kasus itu hanya ada dalam pikiran kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, nyatanya setelah Yesus menuliskan di atas tanah dosa-dosa mereka sambil berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh. 8:7), para penjebak itulah yang menjadi serba salah dan satu demi satu minggat secara diam-diam (ay. 9).

"Dia tidak mengatakan bahwa perempuan itu tidak boleh dirajam; Ia hanya sekadar memaksa orang-orang itu untuk melihat pelanggaran-pelanggaran hukum mereka sendiri. Bahkan pembebasan perempuan itu selaras dengan hukum Musa, sebab tidak seorangpun yang menuduh, dan sedikitnya diperlukan dua orang saksi untuk menjalankan peradilan (Ul. 17:6)" [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Hukum Musa dan perceraian. Pada waktu yang lain, orang Farisi dan ahli Taurat mendatangi Yesus sambil mengajukan pertanyaan menjebak soal mengawini kembali seorang perempuan yang pernah diceraikan, yang berdasarkan hukum Musa adalah perzinaan (Ul. 24:1-4) tetapi dalam hukum Romawi itu sah. Pendeknya, mereka berusaha untuk menggiring Yesus ke dalam situasi yang dilematis dengan tujuan untuk dapat mempersalahkan Dia.

Pada waktu orang Farisi mencobai Yesus dengan bertanya soal perceraian (Mat. 19:3), gantinya Yesus menggiring pikiran mereka kepada perkawinan sebagai rencana Allah dengan menyinggung penciptaan Adam dan Hawa sebagai pasangan pertama (ay. 5-6). Perceraian mungkin adalah cara yang tak terhindarkan kalau hubungan rumahtangga begitu parah dan tidak mungkin lagi untuk diperbaiki, tetapi bila dari awal seseorang sudah dan terus berpikir untuk bercerai maka perceraian akan lebih mudah terjadi. Yesus menyebut cara berpikir seperti itu sebagai sikap keras kepala (ay. 8), sambil menegaskan: "Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina" (ay. 9).

"Ketika orang-orang Farisi menunjukkan hukum Musa dalam Ulangan 24:1-4, Yesus membuat semuanya makin jelas. Tidak pernah Musa memerintahkan bahwa perceraian itu diperbolehkan. Namun, karena ketegaran hati bangsa itu maka Musa mengizinkan perceraian (Mat. 19:8). Jadi, kita lihat di sini bahwa meskipun Yesus mengkritisi salah satu hukum Musa, Ia tidak mengesampingkannya. Yesus adalah seorang Yahudi yang setia dalam segala hal, taat pada hukum-hukum Musa" [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang cara Yesus menghadapi jebakan hukum dari orang Farisi?

1. Menjebak orang lain adalah salah satu perbuatan paling keji yang dapat dilakukan seseorang. Kalau itu dilakukan secara beramai-ramai terhadap satu orang, apalagi secara berulang-ulang, bagaimana anda menyebut perbuatan itu? Itulah yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat terhadap Yesus.

2. Dalam kasus wanita PSK (pekerja seks komersial) yang dihadapkan kepada Yesus, orang Farisi dan para ahli Taurat itu bukan hendak menuntut tindakan penegakan hukum dari Yesus, melainkan pemanfaatan hukum untuk mencari kesalahan Yesus. Berapa seringkah kita memanipulasi Firman Tuhan untuk mempersalahkan orang lain?

3. Kepiawaian Yesus menghadapi jebakan orang Farisi dan ahli Taurat, dan sekaligus juga menunjukkan penguasaan-Nya akan hukum Musa, terlihat ketika Ia menerangkan soal perkawinan, perceraian, dan perzinaan. Musa tidak memerintahkan perceraian tetapi mengizinkannya karena sikap keras kepala bangsa itu.

PENUTUP

Peringatan bagi manusia yang pelupa. Manusia diciptakan Allah dengan sempurna, tetapi dosa mengakibatkan kemerosotan terhadap manusia dalam segala aspek. Manusia jadi makhluk yang paling pelupa di seluruh jagad, dan karena itu harus sering diingatkan. Elizabeth Loftus, psikolog Amerika yang terkenal dengan penelitiannya dalam soal daya ingat manusia, menyimpulkan bahwa penyebab utama mengapa seseorang gagal mengingat kembali sesuatu ialah karena jarang mengakses memori tersebut yang tersimpan di otak. Menurutnya, suatu memori yang jarang di-retrieve (didapatkan kembali) lama kelamaan akan lenyap dari ingatan, sesuatu yang disebutnya decay theory (teori pembusukan).

Semua perayaan yang harus diperingati oleh bangsa Israel adalah cara Allah untuk mengingatkan mereka akan perbuatan Allah di masa lalu demi kepentingan mereka. Misalnya perihal malapetaka yang direncanakan-Nya terhadap anak-anak sulung bangsa Mesir tetapi meluputkan keluarga-keluarga bangsa Israel, sebuah peristiwa yang harus mereka peringati di kemudian hari sebagai hari raya Paskah. Allah berfirman: "Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya" (Kel. 12:14; huruf miring ditambahkan).

Perayaan Paskah adalah salah satu dari tiga perayaan yang mengharuskan setiap laki-laki dewasa orang Yahudi berziarah ke kota Yerusalem, dua lainnya adalah perayaan Roti Tidak Beragi dan Pondok Daun. Allah berfirman: "Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu" (Ul. 16:16-17).
"Tiga kali setahun orang Yahudi dituntut berhimpun di Yerusalem untuk maksud keagamaan. Dalam keadaan terselubung dengan tiang awan, Pemimpin Israel yang tidak kelihatan itu telah memberikan petunjuk-petunjuk sehubungan dengan pertemuan-pertemuan ini...Adalah rencana Allah agar perayaan-perayaan ini hendaknya mengingatkan pikiran orang banyak itu kepada-Nya" [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Kita mempelajari sejarah bangsa Israel purba sebagai umat Allah yang gagal, agar kita sebagai umat Tuhan masa kini tidak mengulangi kegagalan mereka. Bagi mereka, Allah telah menyediakan perayaan-perayaan keagamaan sebagai modus untuk mengingatkan mereka; bagi kita, Allah telah menyediakan firman-Nya untuk didalami sebagai pelajaran tertulis untuk mengingatkan kita.

"Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu di mana zaman akhir telah tiba. Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1Kor. 10:11-12).

DAFTAR PUSTAKA:

 1.   Keith Augustus Burton, Kristus dan Hukum-Nya -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, April - Juni 2014.

2.   Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.

 

Kuasa Ucapan Syukur (Intisari Kitab Mazmur).


Hati yang bersyukur melalui ucapan kata-kata adalah suatu rahasia besar dari kebenaran mulia. Berabad-abad kebenaran ini telah dijelaskan dan diperkatakan oleh orang-orang hebat. Salah satunya adalah penulis Kitab Mazmur, Raja Daud.

Kebenaran pertama yang kita angkat, pintu gerbang pujian dan penyembahan adalah ucapan syukur. Hanya dengan hati yang bersyukur atas segala rahmat dan pertolongan Tuhan sebagai penyebab segala sesuatunya boleh ada. Dalam Mazmur  100:4 kita membaca: “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” (Enter into his gates with thanksgiving, and into his courts with praise: be thankful unto him, and bless his name. KJV) 

Sekarang kita mengerti bahwa POLA PENYEMBAHAN dimulai dengan ucapan syukur baru kemudian puji-pujian. Ucapan syukur HARUS keluar dari mulut yang mengalir dari hati yang JUJUR. Dalam Mazmur  109:30 kita baca: “Aku hendak bersyukur sangat kepada TUHAN dengan mulutku, dan aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. DALAM Mazmur  119:7 kita membaca: "Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.”

Lalu mengemuka satu pertanyaan, MENGAPA KITA MENGUCAP SYUKUR?

1. Karena Ucapan syukur adalah sebuah (salah satu) persembahan. Kita baca Mazmur  116:17: “Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN”. Kita diajarkan untuk memberi bukan? Kita rajin memberikan uang kita, tetapi kita sering lupa untuk memberikan salah satu persembahan penting lainnya yaitu ucapan syukur, perhatikan kata ucapan syukur. Itu artinya ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut dan mengalir dari perbendaharaan hati. Namun demikian dijelaskan bahwa ucapan syukur itu harus keluar dalam bentuk kata-kata verbal. Ucapan syukur tidak cukup di dalam hati, tetapi harus keluar sebagai suatu untaian kata-kata verbal. Bahkan para tuna rungu (bisu) sekalipun dapat merangkai kata-kata yang memang sulit kita mengerti. Tetapi sejatinya, para tuna rungu pun dapat mengucapkan syukur kepada Allah yang sekalipun mengijinkan kekuranang kepadanya.

2. Karena Dia (TUHAN) sangat baik. Kita baca Mazmur  118:1 “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kebaikan dari orang yang paling baik sekalipun akan berakhir, namun kebaikan ALLAH kita tak pernah habis untuk selama-lamanya, maka kita harus mengucap syukur kepadaNya. KebaikanNya yang melebihi akal dan logika memaksa setiap mulut harus bersyukur kepadaNya.

3. Karena Dia (TUHAN) menjawab doa kita. Kita membaca Mazmur  118:21 “Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.” Seringkali kita tidak mendapatkan jawaban doa, bukan karena kita kurang iman atau kurang percaya, tetapi karena kita lupa MENGUCAP SYUKUR. Atau yang paling logis adalah, kita tak mengucap syukur karena jawabanNya bukan sesuatu yang kita inginkan. Memang sangatlah logis, karena Tuhan tidak digerakkan oleh keinginan, tetapi kebutuhan. Bila doa kita didorong oleh keinginan, maka manusia akan jatuh kedalam dosa hawanafsu. Itulah sebabnya Tuhan hanya digerakkan oleh kebutuhan. Sudah menjadi pasti bahwa doa yang lahir dari hati yang sungguh mengharapkan Tuhan menjawab kebutuhan, akan mengalami ucapan syukur karena jawaban doa datang tapat pada waktuNya. Dalam Injil MARKUS 11:24 KITA BACA: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

JAWABAN doa karena dilandaskan pada iman memang sangat penting. Allah tidak kuasa untuk tidak menjawab kebutuhan umatNya. Namun demikian, hanya orang-orang yang mengucap syukurlah yang akan mengalami mukjizat sebanarnya. Orang-orang yang telah mendapatkan jawaban doa, namun hatinya tidak bersyukur, maka semua yang didapatnya menjadi tak bermakna kekal. Kita membaca kisa sepuluh orang yang disembuhkan Tuhan dari kusta dan  hanya satu orang yang kembali dengan ucapan syukur. Sembilan yang lain pergi tanpa berita dan mereka hilang tanpa berita, sementara yang satu lagi. Ia mengalami kesembuhan pisik dan hatinya mengalami pemulihan. Hati yang dilingkupi ucapan sykur akan menyempurnakan mukjizat. Kita membacanya dalam Lukas  17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”

4. Karena DIA (TUHAN) Mahaadil. Dalam Mazmur  119:62 tertulis: “Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” Daud sebagai orang biasa, rakyat jelata yang tak terpandang. Namun demikian karena Allah adalah Mahaadil, maka Dia mengangkatnya menjadi raja yang mulia. Saat mengalami berbagai gejolak selama pemerintahannya sebagai Raja Israel, Daud tidak ditinggalkan. Saat anaknya berkhianat, Dau tetap ditolong. Dia adalah Tuhan yang tidak berpihak seperti manusia, Dia membela kaum marginal. Bacalah Mazmur  10:14 “Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.”

5. Karena kasih setiaNya yang tak pernah habis untuk selama-lamanya. Kita baca Mazmur  136:2 “Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Manusia itu fana dan tanda kefanaannya adalah dari keterbatasan kasihnya. Manusia akan marah dan memutuskan untuk pergi, namun Allah tetap mengasihi bahkan saat dalam amarah dan murka yang menyala-nyala. Allah itu kasih adanya sehingga apapun tidak dapat membatasih kasihnya. Bahkan sebagai puncak dari kasihNya, Dia rela mati di kayu salip untuk menunjukkan kasihNya. Maka, sepantasnyalah hati kita mengucap syukur atas segala kasihNya.

6. Karena Dia (Tuhan) menciptakan kita dengan dahsyat dan ajaib. Mari kita baca Mazmur  139:14 “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” Tuhan adalah penjunan yang telah menenun kita didalam rahim ibu. Ia menjadikan kita sangat baik. Kalau kita melihat bagaimana proses kelahiran anak manusia yang luar biasa, maka hati kita pastilah terkagum. Dalam kekakguman itu, maka mulut kita menjadi penuh dengan ucapan syukur. Daud menulis dalam Mazmur  9:2 “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;” DIA MENENUN KITA laksan seorang menenun halai-helai kapas menjadi benang dan akhirnya menjadi selembar kain. Dalam Mazmur  139:13 tertulis kata-kata yang sangat indah: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.”

Ada demikian banyak hal yang “memaksa” kita untuk mengucap sykur kepadaNya. Namun intinya adalah karena Dia semata-mata. Kita bersyukur buat mahakaryaNya. Kita bersyukur buat kasihnya yang kekal. Kita bersykur buat segala hal yang baik dari padaNya. Terpujilah Yesus Kristus, haleluyah, amin