Jumat, 07 Februari 2014

6. Memuridkan Orang Biasa.


1.   Pelajaran kita adalah tentang pelayanan Yesus dan memuridkan orang-orang “biasa”.  Ada banyak cerita tentang pelayanan-Nya kepada : nelayan, petani, ibu rumah tangga, gembala, tentara, dan bahkan hamba.  Mengapa Yesus tampaknya FOKUS pada orang-orang itu daripada kepada para pemimpin Yahudi?.  Bukankah lebih baik jika Yesus telah menobatkan pemimpin-pemimpin Yahudi itu, dengan demikian banyak orang  yang akan mengikuti mereka pula dan kemudian menjadi murid/pengikut YESUS?.

2.   Bukankah seharusnya Yesus lahir di istana kerajaan sehingga ia dengan segera diakui otoritasnya/memiliki otoritas.  Atau seperti di jalan menuju Emaus, apakah Yesus ingin menarik alasan dan logika(reason and logic) daripada otoritas? (Lukas 24:13-35).  Dia ingin agar setiap individu diyakinkan untuk dirinya sendiri.

·         Apa sebabnya Allah menghendaki Yesus Kristus lahir dari orangtua yang miskin seperti Yusuf dan Maria, bukan dari keluarga kaya/bangsawan supaya menyediakan latar belakang yang berpengaruh dimata masyarakat?.  Bukan karena sasaran utama dari Misi Keselamatan-Nya adalah orang-orang miskin dan rakyat jelata dan supaya lebih mudah menjangkau dan diterima dikalangan orang-orang biasa.  Injil keselamatan Yesus Kristus mengandung KUASA Ilahi dan tidak membutuhkan penguatan bersifat duniawi apapun agar diterima manusia.

3.   Baca Lukas 2:21-28; Matius 13:53-58; Markus 6:2-4 dan Imamat 12:8.  Ayat-ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Yesus dilahirkan dalam keluarga seorang tukang kayu miskin.  Mereka bahkan tidak mampu membeli se-ekor domba untuk dipersembahkan sebagai kurban untuk merayakan kelahiran Raja Semesta Alam!,  Bayangkan, Ia lahir sebagai manusia dan orang tua-Nya sebagai manusia hanya mempersembahkan se ekor burung dara.  Orang tua Yesus adalah MISKIN, dan tergantung pada kerja keras mereka sehari-hari.  DIA AKRAB dengan kemiskinan (familiar with poverty), penyangkalan diri dan penderitaan.  Pengalaman ini adalah suatu pelindung bagi-Nya (a safeguard to Him).  Dalam kehidupan-Nya yang rajin –tidak ada saat-saat menganggur untuk mengundang godaan”. (D.A. hal.72/Alfa dan Omega Jld.5 hlm.62….(Lihat Pel.Minggu)

4.   Hal ini diluar pemahaman kita untuk berpikir bahwa pencipta seluruh alam semesta akan memilih untuk menjadi manusia dan tidak hanya itu, tetapi juga untuk lahir sebagai bayi di kandang –dibaringkan dalam palungan—tempat makan untuk sapi dan keledai.  Bagaimana itu mempengaruhi kita.

·         Matius 8:19-20 –Bantal untuk tidur pun, Dia tidak punya.

·         E.G. White, Signs of the times, 7 Juni 1905: “Kristus…menjadikan Nazaret yang gelap dan hina sebagai rumah-Nya.  Kehidupan-Nya, dari permulaan sampai akhir adalah sebuah kehidupan kerendahan hati dan sederhana.  Kemiskinan menjadi kudus oleh hidup-Nya yang miskin”.

5.   Baca Yohanes 2:1-11 dan Matius 15:32-39.  Ada beberapa pelajaran yang dapat kita pelajari dari 2 cerita ini.  Pada mujizat di pesta perkawinan di Kana, berada di rumah seorang kerabat yang menikah.  Saat itu Yusuf telah meninggal.  Maria secara alami berbalik kepada Yesus setiap kali ada sesuatu masalah.  Yesus tidak membuat suatu pertunjukan besar dari apa yang akan Ia lakukan, tetapi Dia hanya mengatakan kepada petugas untuk mengisi WADAH penyimpanan yang digunakan untuk upacara pembersihan/penyucian, masing-masing dengan 100 liter air –jadi semua berjumlah 600 liter.  Kemudian mereka membawanya kepada kepala pesta (to the head of the feast).  Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa dalam kedua mujizat ini(Lihat fasal diatas) ---Yesus memberi makan orang-orang itu dengan makanan/minuman biasa yang mereka terbiasa.  Tentu saja Dia menyediakan minuman yang terbaik dan ikan serta roti yang terbaik.

·         Kekurangan persediaan minuman anggur di pesta—merupakan Social Faux Fas = musibah social.

·         Sebagaimana Yesus sudah mengubah air biasa menjadi minuman anggur yang paling lezat, demikianlah Yesus telah dan akan selalu mengubah “orang-orang biasa” di mata dunia menjadi orang-orang yang luar biasa dalam pemandangan surga.

6.   Kisah tentang memberi makan 4000 orang (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) telah dilakukan sebelumnya.  Baca Matius 8:28-34; Markus 5:1-20 dan Lukas 8:26-39.   Yesus menyeberangi danau Galilea dengan perahu hanya untuk mencapai daerah Gerasa, Gadara atau Gergesa.  Seperti kita ketahui, Ia menyembuhkan seorang atau mungkin 2 orang yang kerasukan setan dan mengusir setan itu kepada 2000 babi yang akhirnya tenggelam di laut Galilea.  Di wilayah itu Dia hanya dalam waktu singkat karena Ia diminta segera meninggalkan tempat itu.  Orang yang di rasuk setan itu tadinya ingin ikut dengan Yesus, tetapi Yesus mengutus mereka ke rumah tangga mereka dan agar menceritakannya kepada orang lain apa yang terjadi kepada mereka.   Ketika Yesus kembali ke wilayah itu beberapa bulan kemudian, ribuan orang keluar untuk melihat-Nya untuk mengetahui apakah Dia benar-benar bisa melakukan.  Adalah menarik untuk mengetahui bahwa  orang yang tadinya kerasukan setan ini telah menjadi Missionaris Pertama yang telah dikirim Yesus ke wilayah Kafir (Dekapolis).

7.   YESUS sebelumnya telah memberi makan 5000 orang Yahudi karena mereka sedang dalam perjalanan mereka untuk perayaan Paskah (Lihat YOHANES 6).  Ketika mereka makan dari 5 roti dan 2 ikan, para murid telah mengumpulan masih sisa 12 bakul/keranjang penuh.  Ketika Dia selesai memberi makan 4000 orang (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) di daerah Dekapolis, Dia telah mengumpulkan 7 bakul makanan untuk memberi makan “Tujuh bangsa Kanaan”).

8.   Baca Markus 1:16-20, bandingkan dengan Yohanes 1:35-42.  Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes telah mengenal Yesus.   Yakobus dan Yohanes telah berhubungan dengan Dia—dari sejak tahun 27 AD – 29 AD.  Mereka telah mengikut Dia setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan.  Namun waktunya telah tiba bagi mereka untuk mengambil peran yang lebih dalam dan lebih lengkap dalam pekerjaan Yesus.

9.   Ketika Yesus berjalan disepanjang pantai, 4 orang dari mereka bersama ayah Yakobus dan Yohanes sedang membersihkan jala mereka setelah menjala sepanjang malam.  E.G. White mengatakan (D.A. 246:5 – 249) bahwa mereka berbicara malam itu tentang prospek mereka jika mereka menggabungkan diri kepada pelayanan Yesus.  Yohanes Pembaptis baru saja ditangkap dan dipenjarakan.  Pada saat itu, Yesus telah meniggalkan pelayanan-Nya di Yudea.  Kemungkinan Yesus bisa menjadi Mesias yang mereka harapkan, tampaknya semakin jauh.  Maka mereka telah memikirkan untuk memutuskan bahwa mereka perlu untuk kembali ke profesi mereka yang lama.  Itulah sebabnya mereka telah memancing malam itu.  Ketika Yesus berkhotbah, mereka sedang membersihkan jalan mereka.

10.                Setelah berkhotbah selama beberapa waktu, apa yang Yesus lakukan?.  Dia sedang duduk di perahu Petrus dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai(beberapa meter) supaya lebih banyak orang bisa melihat dan mendengar Dia.  Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.  Kemudian Dia berpaling kepada Petrus, nelayan itu.  Yesus, tukang kayu itu mengatakan dalam Lukas 5:4 “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”.  Petrus pasti berfikir, Yesus kurang waras!.  Mencoba menangkap ikan di perairan danau Galilea yang jernih/bening—apalagi di siang hari, itu adalah nelayan yang bodoh!,  Tapi karena ia menghormati Yesus, dia melakukan apa yang diminta oleh Yesus.  Lukas 5:5 “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”.  Penangkapan itu adalah luar biasa!.  Yesus dapat memberitahukan ikan itu dimana berenang!.

11.                Apa yang dapat kita pelajari dari cerita itu?.  Petrus segera berlutut(tersungkur) didepan Yesus dan memegang kaki-Nya dan berkata dalam Lukas 5:8 “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”. (Go away from me Lord!  I am a sinful man).  PETRUS bersama dengan orang lain, menyadari betapa bodohnya mereka yang telah meragukan kemampuan Yesus.  Mujizat ini telah membuktikan kepada mereka bahwa Yesus tidak hanya bisa mengendalikan kekuatan alam(control the forces of nature)---tetapi juga dengan mudah memelihara mereka dan keluarga mereka selama sisa hidup mereka.

·         Mengapa Petrus –yang hanya nelayan biasa. Petrus adalah seorang yang temperamental dan spontanitas tetapi berhati tulus dan terbuka.—bisa berubah menjadi seorang yang paling berpengaruh?.  Tentu melalui pengalaman rohaninya bersama Yesus, diantaranya melalui pelajaran yang berharga ketika sedang menjala ikan di danau Genesart.

12.                Baca Markus 6:1-3 dan Matius 13:54-57.  MENGAPA ORANG2 NAZARETH MENOLAK MEREKA?.  Ketika Yesus kembali ke Nazareth, mereka kagum pada khotbah-Nya dan ingin melihat mujizat seperti yang mereka telah dengar telah Dia lakukan ditempat lain.  Tetapi kemudian mereka teringat Anak yang dibesarkan di kota mereka, dan mereka telah menolak Dia.

13.                APAKAH YESUS HANYA MEMILIH MURID2NYA PARA PRIA”BIASA”?.  Dan bagaimana dengan wanita yang mengikut Yesus?.  Yesus juga telah menarik wanita kaya (Perempuan2 yang melayani Yesus).  Yesus telah memilih nelayan yang tidak terpelajar.  Mereka sebenarnya orang-orang pribumi yang memiliki kemampuan dan mereka rendah hati dan MUDAH DIAJAR---orang-orang yang Dia bisa didik bagi pekerjaan-Nya.  Ketika mereka dilatih Yesus, mereka tidak lagi bodoh dan menjadi lebih berbudaya” (D.A. hlm.250).

14.                Mengingat komentar dari E.G. White –Apakah Anda pikir itu benar untuk memanggil nelayan-nelayan “BIASA” ini?.  Mengapa orang miskin itu jauh lebih bersedia untuk menerima Yesus daripada orang kaya dan berpengaruh?.  (Perhatikan bahwa kita akan berbicara tentang orang kaya dan berpengaruh dalam pelajaran yang akan datang).

15.                Baca Kisah 2:43-47 dan Kisah 4:32-37.  Setelah pengalaman pada hari Pentakosta, gereja Kristen telah bertumbuh cepat.  Ada beberapa alasan untuk itu :

1)   Banyak orang yang bertobat telah mendengar dan melihat Yesus dan terkesan oleh pekerjaan-Nya.  Banyak dari mereka mungkin karena disembuhkan oleh-Nya.

2)   Orang-orang Kristen mula-mula memperlakukan semua orang SAMA(treated everyone equally).  Mereka bertemu bersama di rumah-rumah bahkan di Bait Allah, dan semua orang, tidak perduli apa status sosialnya—adalah di sambut (was welcomed).  Mereka bahkan menjual property mereka untuk membantu mendukung seluruh kelompok.  Jenis fellowship terbuka ini (open fellowship) hampir tidak dapat ditahan/dibendung.  Seberapa baik yang kita lakukan pada jenis open fellowship itu dalam gereja kita saat ini?.

Baca 1 Yohanes 3:16-19.  Ayat 7 “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”.  Ayat 18 “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan/dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”.  Apakah kita pernah menutup hati kita terhadap orang miskin?.

16.                Berapa banyak dari kita telah bersalah berpikir bahwa pekerjaan penyebaran Injil itu adalah  pekerjaan Pendeta?.  Pada saat penutupan pekerjaan Injil terdapat ladang yang sangat luas untuk dikerjakan; dan  kita mengetahui bahwa sebelumnya pekerjaan ini banyak dibantu oleh orang-orang biasa(common people).  Orang-orang muda dan orang-orang yang lebih tua akan dipanggil dari berbagai profesi dan diutus oleh Tuhan menyampaikan pekabaran itu.  Banyak dari mereka yang memiliki sedikit kesempatan dalam pendidikan, tetapi Kristus melihat kwalifikasi2 yang akan memungkinkan(menyanggupkan) mereka untuk memenuhi tujuan-Nya.  Jika mereka menempatkan hati mereka dalam pekerjaan itu, dan terus menerus mau belajar, Ia akan melayakkan mereka untuk menjadi pekerja bagi-Nya”.  E.G. White, Education hlm.269, 270.

17.                Jadi jika demikian, siapa yang harus terlibat dalam menyebarkan Injil?.  Rasul Paulus memberikan beberapa petunjuk bagi kita.  Baca 1 Korintus 1:26-29.  Ayat 26 “Ingat saja, saudara-saudara, keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Ayat 27 “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat,….  Pikirkan bagaimana kata-kata ini boleh di terapkan di dunia kita saat ini.  Siapakah orang-orang duniawi yang bijaksana dan educated people dalam zaman kita  ini?.  Apakah mereka bersahabat dengan pemikiran-pemikiran Kekristenan, ataukah mereka memeluk Atheisme dan Evolusi?.  Di Amerika Utara—persentase orang-orang “BIASA” yang percaya kepada Alkitab lebih banyak.

18.                Dalam mencoba untuk menjangkau orang-orang yang kurang berpendidikan di generasi kita, bagaimana kita supaya lebih bersahabat?.  Apakah bisa membantu jika kita menggunakan terjemahan yang lebih mudah dipahami seperti Good News Bible ketimbang terjemahan tradisional King James Version?.

19.                Apakah ada perbedaan kelas dalam Gereja Kristen?.  Kita tidak ingin menghilangkan (eliminate) pendeta atau penatua atau diaken, tetapi apakah mereka unggul dalam semua hal?.  Bagaimana pendapat Anda, mengapa Yesus berkata bahwa mereka yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi hamba/pelayan dari semuanya (Markus 9:35; Matius 20:26).

20.                Anda mungkin menganggap diri Anda adalah sebagai seorang Kristen “Biasa”.  Namun demikian Anda adalah putra putri Allah.  Kontribusi apakah yang dapat Anda buat ke gereja/Sekolah Sabat Anda?.  Dan kontribusi apa yang Anda lihat yang telah dibuat orang lain?.  Adakah Anda berpikir ada perbedaan kelas dalam gereja Anda?.

21.                Tentu saja, masing-masing kita mengakui bahwa Yesus adalah yang paling luar biasa dan orang yang unik yang pernah hidup di bumi ini.  Namun selama 30 tahun pertama dari kehidupan-Nya, Dia bertindak dan tampak seperti orang “BIASA”.  Masa kecil-Nya di ringkas dalam satu ayat: Lukas 2:40.

22.                Apakah Anda tidak senang bahwa Yesus telah memfokuskan hidup-Nya terutama pada orang-orang biasa?.

23.                Apa yang dapat kita lakukan sebagai gereja dan kelas-kelas SS dan bahkan sebagai individu Kristen untuk dapat lebih baik menjangkau orang-orang “biasa” disekitar kita?.  Apa yang akan terjadi jika setiap Kristen Advent melakukan itu?.

===========

Minggu, 02 Februari 2014

5.Pemuridan dan Penyembuhan Holistik.

"MEMURIDKAN ORANG SAKIT"

 PENDAHULUAN

Melayani orang sakit. Tidak ada hal yang paling didambakan oleh orang yang sedang menderita sakit lebih dari kerinduannya untuk sembuh. Namun sementara kesembuhan itu membutuhkan waktu, seringkali suatu jangka waktu yang panjang, pasien juga perlu penghiburan dan dorongan semangat untuk sabar selama dalam proses penyembuhan. Penyakit seringan apapun selalu menimbulkan ketidaknyamanan pada si penderita dan kerepotan bagi keluarganya, tapi di dunia yang berdosa ini penyakit sering menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tak dapat dihindarkan. Orang sakit selalu memerlukan pelayanan, tidak hanya layanan medis tapi juga layanan sosial. Lebih dari itu, seorang yang sedang sakit membutuhkan pelayanan doa demi kesembuhannya.

Yesus suka menjenguk orang yang menderita sakit supaya dapat menyembuhkannya, di antaranya adalah ibu mertua Petrus. "Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia" (Mat. 8:14-15). Tapi Yesus juga pernah sengaja berlama-lama untuk mengunjungi Lazarus yang sedang sakit dengan suatu maksud (Yoh. 11:5-6), dengan mengatakan: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan" (ay. 4). Yesus datang ke rumah Maria dan Marta di kampung Betania setelah Lazarus, saudara laki-laki mereka, sudah dikubur empat hari lalu (ay. 17) tapi Yesus kemudian mengadakan mujizat membangkitkan Lazarus dari kuburnya (ay. 43-44).

"Selama pelayanan-Nya Yesus mencurahkan lebih banyak waktu menyembuhkan orang sakit ketimbang berkhotbah. Mujizat-mujizat-Nya menyaksikan tentang kebenaran firman-Nya, bahwa Ia datang bukan untuk membinasakan tetapi untuk menyelamatkan. Ke mana saja Ia pergi kabar tentang kemurahan-Nya mendahului Dia. Di mana saja Ia pernah lewat orang-orang yang telah menikmati belas kasihan-Nya bersukacita karena kesehatan dan mencoba kuasa-kuasa yang baru mereka temukan itu" [empat kalimat pertama].

Berbeda dari kesembuhan yang diperoleh melalui pengobatan dan tindakan medis dokter duniawi, penyembuhan yang Yesus berikan kepada manusia lebih dari sekadar kesejahteraan fisik untuk kehidupan sementara di dunia ini tetapi juga demi kehidupan di akhirat. Karena itu Yesus selalu mengaitkan penyembuhan dengan iman, seperti yang Ia katakan kepada penderita kusta yang kembali untuk berterimakasih sambil tersungkur di depan kaki-Nya: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau" (Luk. 17:19). Kristus memberi kesembuhan duniawi dan keselamatan surgawi.

1. KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN (Mesias Sang Penyembuh)

Hubungan penyakit dengan dosa. Tentu saja, ada hubungan kasuistik antara penyakit dan dosa. Ketika dunia ini baru diciptakan segala sesuatu sempurna dan tidak ada penyakit apapun, sampai Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa oleh melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan di Taman Eden itu. Akibat dari "pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut" (Rm. 5:15), sebab "upah dosa ialah maut" (Rm. 6:23). Secara umum kematian adalah akibat dari dosa, tapi secara pribadi penyakit bisa merupakan "produk samping" dari gaya hidup berdosa. Sebutlah di antaranya HIV/AIDS dan penyakit kelamin akibat perilaku seks serampangan, sirosis hati akibat kecanduan minuman beralkohol, penyakit saluran pernafasan maupun tuberkulosis paru akibat ketagihan merokok, obesitas dan pengerasan pembuluh arteri karena gelojoh, dan lain-lain. Tubuh kita adalah "bait Allah" tempat di mana Roh Allah tinggal, dan siapa merusak tubuhnya sendiri oleh gaya hidup yang berdosa akan dibinasakan oleh Tuhan (1Kor. 3:16-17).

Yesus sendiri mengidentifikasikan penyakit dengan dosa, baik dosa orang itu sendiri maupun dosa masyarakat lingkungannya. Kepada orang lumpuh yang disembuhkannya di tepi kolam Betesda itu Yesus berpesan, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk" (Yoh. 5:14). Demikian juga kepada orang lumpuh lainnya yang terpaksa diturunkan dari atap untuk bisa disembuhkan oleh Yesus yang berada di dalam rumah yang penuh sesak itu, Ia berkata, "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (Mrk. 2:5). Bahkan, penyakit juga--dan yang ini jarang kita perhatikan!--bisa timbul akibat turut ambil bagian dalam perjamuan kudus secara "tidak layak" sehingga "ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan" dan banyak "yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal" (1Kor. 11:27-30).

"Pada zaman dulu, penyakit dianggap sebagai akibat dari perbuatan dosa. (Bahkan sekarang pun siapa yang belum pernah--walau hanya sejenak--bertanya-tanya apakah penyakit, yang dialami sendiri ataupun orang yang dikasihi, itu terjadi sebagai hukuman atas dosa?) Dalam kitab Ayub teman-temannya beranggapan bahwa kesialannya, termasuk penyakit yang dideritanya, adalah akibat dari kesalahan-kesalahan yang tersembunyi; maksudnya ialah bahwa bagaimanapun dosanyalah yang menyebabkan keadaannya yang sulit itu" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Disembuhkan karena iman. Yesus adalah sumber keselamatan serta sumber kesembuhan, dan dalam pelayanan-Nya selama berada di dunia Ia seringkali menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati oleh sebab iman dari pasien itu sendiri maupun keluarganya. Yesus bukan saja menyembuhkan orang-orang yang sakit jasmani tetapi juga orang-orang yang kerohaniannya "sakit" akibat dosa, sebagaimana pernyataan-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit...karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Mat. 9:12-13). Matius pasal 9 adalah salah satu pasal yang sarat dengan mujizat yang dilakukan oleh Yesus untuk menyembuhkan orang-orang sakit maupun membangkitkan orang mati, dan iman di pihak manusia merupakan unsur paling penting dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus.

Kepada orang lumpuh di kampung-Nya Yesus berkata, "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni... Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu" (ay. 2 dan 6). Selanjutnya, sebelum mendatangi rumah kepala rumah ibadah untuk membangkitkan anak perempuannya, Yesus yang terkesan dengan iman seorang perempuan pengidap penyakit perdarahan yang menjamah jubah-Nya itu berkata kepadanya, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" (ay. 22). Iman sebagai hal yang penting dalam penyembuhan terungkap dalam dialog antara Yesus dengan dua orang buta yang mengikuti-Nya sambil mengiba-iba memohon penyembuhan. Sebelum mengadakan mujizat penyembuhan bagi mereka Yesus bertanya dulu, "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Setelah mereka menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya" barulah Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu" (ay. 28-29).

"Yesus mengakui bahwa missi-Nya adalah untuk mengkhotbahkan pembebasan dan untuk menyembuhkan orang-orang buta (Luk. 4:17-19). Ia menarik banyak orang melalui kuasa yang berasal dari kasih dan tabiat-Nya. Sebagian mengikuti Dia karena mereka mengagumi khotbah-Nya yang mudah dimengerti. Sebagian lagi menjadi murid-murid oleh sebab bagaimana Ia memperlakukan orang-orang miskin. Namun banyak yang mengikuti Kristus karena Ia telah menjamah dan menyembuhkan mereka dari kehancuran" [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus sebagai sumber penyembuhan?
1. Meskipun kita tidak bisa mengatakan bahwa penyakit yang diderita seseorang adalah akibat dari dosanya atau dosa orangtuanya secara spesifik, namun secara umum dapat dipastikan bahwa dosa manusia berakibat langsung terhadap segala penyakit yang diderita manusia.
2. Missi kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini selain untuk mati bagi dosa manusia juga untuk menanggung "penyakit" kita dan memikul "kesengsaraan" kita, supaya "oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yes. 53:3-5). Bahkan penyembuhan yang dilakukan-Nya berkaitan dengan missi ini (baca Mat. 8:16-17).
3. Yesus tidak saja memberi kesembuhan dari penyakit jasmani tapi juga membawa penyembuhan untuk penyakit rohani, yaitu keampunan dosa dan keselamatan jiwa. Bagi kedua hal ini, yaitu kesembuhan jasmani dan keampunan dosa, dasar utamanya adalah iman.

2. KESEMBUHAN SEUTUHNYA (Menyembuhkan Tubuh)

Hubungan tubuh dan jiwa. Adalah Plato (429-347 SM) yang mengajarkan tentang keterpisahan antara tubuh (só̱ma) dan jiwa (psūkhē) sebagai dua entitas yang berbeda, yaitu dikenal dengan teori dualisme. Menurut filsuf Yunani purba tersebut, jiwa itu abadi dan sudah ada sebelum tubuh terbentuk tapi kemudian masuk ke dalam tubuh yang fana dan tidak sempurna dalam sosok seorang manusia, dan selama seseorang hidup maka jiwa tersebut "terpenjara" dan baru akan bebas pada saat orang itu meninggal dunia ketika tubuhnya "melepaskan" jiwanya. Sedangkan Aristotel (384-322 SM), ilmuwan dan filsuf Yunani lainnya, meskipun selama 20 tahun menjadi murid Plato tapi dalam hal ini tidak sependapat dengan gurunya itu. Aristotel mengajarkan bahwa tubuh dan jiwa merupakan dua substansi yang tak terpisahkan sebagai bagian dari manusia yang seutuhnya. Dengan demikian, menurut guru privat Alexander Yang Agung ini, semua yang dirasakan oleh jiwa itu dalam cara tertentu berpengaruh pada tubuh.

Dalam dunia kedokteran dikenal apa yang disebut "penyakit psikosomatik," yakni ketidakseimbangan rohani (tekanan batin maupun gangguan emosional) yang menimbulkan gejala-gejala sakit pada tubuh ataupun memperburuk penyakit jasmani yang sudah ada sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa 60-70 persen penyakit lambung disebabkan oleh gangguan psikologis seperti depresi, marah, frustrasi, dendam, dan sebagainya. Gangguan kejiwaan juga bertanggungjawab atas memburuknya penyakit asma, saluran pernafasan, bahkan penyakit jantung. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa penyakit psikosomatik terjadi bilamana emosi negatif mempengaruhi sistem otonom tubuh, sistem hormonal dan sistem kekebalan tubuh. Seorang dokter yang memiliki pandangan dikotomis antara jiwa dan raga akan sulit melakukan diagnosis yang tepat terhadap gangguan-gangguan fisik yang disebabkan oleh masalah kejiwaan tersebut.

"Tubuh, pikiran, dan jiwa hanyalah aspek-aspek yang berbeda dari kepribadian atau keberadaan manusia, bukan entitas-entitas yang berdiri sendiri. Karena itu, apapun yang mempengaruhi tubuh mempengaruhi pikiran dan jiwa, yaitu aspek-aspek pribadi yang saling berkaitan. Maka, bilamana Kristus menyembuhkan, Ia tidak semata-mata membasmi penyakit kanker atau menyembuhkan penyakit jantung; Ia mengubah pengalaman fisik, mental, dan rohani manusia" [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Pendekatan holistik. Alkitab mengatakan bahwa Yesus menjadikan pelayanan penyembuhan penyakit sebagai bagian dari penginjilan yang dilakukan-Nya. Ia menyembuhkan segala macam penyakit dan kesusahan manusia, bukan saja atas orang-orang di negeri-Nya sendiri tapi juga dari negeri tetangga. "Di Galilea, Yesus berkeliling di seluruh negeri dan mengajar di rumah-rumah ibadat. Ia memberitakan Kabar Baik bahwa Allah akan memerintah. Dan Ia juga menyembuhkan orang-orang yang sakit dan cacat. Kabar tentang Yesus itu tersebar di seluruh negeri Siria, sehingga banyak orang datang kepada-Nya. Mereka membawa orang-orang yang menderita segala macam penyakit dan kesusahan. Orang-orang yang kemasukan roh jahat, yang sakit ayan, dan yang lumpuh, semuanya disembuhkan oleh Yesus" (Mat. 4:23-24, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Dunia kedokteran juga mengenal istilah "pengobatan holistik" (holistic medicine) dalam proses penyembuhan, yaitu berfokus pada bagaimana unsur-unsur jasmani, pikirani, rohani dan emosi seseorang yang saling kait-mengait dapat bersinergi untuk menopang dan memelihara kesehatan seseorang. Kalau ada salah satu dari unsur-unsur ini yang tidak sehat maka hal itu diyakini akan mempengaruhi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Jadi, pengobatan holistik adalah cara pengobatan melalui pendekatan menyeluruh terhadap kondisi kesehatan seseorang yang seutuhnya.

"Yesus menyembuhkan lebih dari sekadar tubuh saja. Kristus selalu menyembuhkan orang-orang seutuhnya. Pendekatan holistik-Nya mengakui bahwa kesehatan jasmani tidak dapat dipisahkan dari kesehatan rohani. Melalui penyembuhan fisik Ia mempengaruhi transformasi rohani. Pada tingkatan yang lebih luas, itulah tujuan sepenuhnya" [alinea terakhir: lima kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang metode penyembuhan yang menyeluruh dari Kristus?
1. Manusia yang seutuhnya terdiri atas aspek-aspek jasmani, rohani, dan pikirani yang seimbang. Jiwa (rohani) dan raga (jasmani) adalah dua unsur dalam diri manusia yang saling mempengaruhi secara khusus, di mana bila salah satu terganggu yang lainnya ikut merasakan akibatnya.
2. Seseorang disebut sehat bukan karena dia tidak sakit, tetapi karena ketiga aspek dalam dirinya itu berada dalam kondisi yang nyaman dan kesejahteraannya seimbang. Penyakit yang dimanifestasikan sebagai gangguan pada tubuh seringkali merupakan gejala dari terganggunya kesejahteraan dan kenyamanan dua aspek lainnya.
3. Dalam tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap manusia ketika Ia berada di dunia ini selalu menyentuh dua aspek utama seseorang, kesembuhan jasmani dan rohani. Yesus bukan hanya ingin menyembuhkan manusia dari penyakit, tapi juga menyelamatkan manusia dari kebinasaan jiwa.

3. KESEHATAN LAHIR-BATIN (Menyembuhkan Pikiran dan Tubuh)

Disembuhkan untuk diselamatkan. Konsep pemuridan Kristen bertujuan menjadikan sebanyak mungkin orang, kecil-besar, tua-muda, pria-wanita, menjadi pengikut-pengikut atau murid-murid Kristus. Menjadi pengikut atau murid Kristus berarti mengamalkan suatu kehidupan serupa dengan Kristus yang lemah-lembut, rendah hati, ramah-tamah, peduli terhadap sesama, suka menolong tanpa pilih buluh, dan rela berkorban. Pemuridan adalah sebuah pandangan yang aktif dan pro-aktif, selalu mencari dan tidak bersifat menunggu di tempat. Itulah sebabnya Yesus Kristus tidak pernah tinggal lama di satu tempat, tetapi terus bepergian dari satu kampung ke kampung yang lain sampai semua wilayah yang dapat dijangkau bisa dicapai. Pemuridan Kristen adalah untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini dan mempersiapkan banyak orang bagi kerajaan surga (Mat. 4:23; Mrk. 4:30-32; Luk. 4:43-44).

Salah satu cara efektif untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini seperti yang dilakukan Yesus ialah dengan melayani manusia dalam kebutuhan-kebutuhan dasar mereka, antara lain melalui penyembuhan penyakit. Kesehatan adalah keperluan hakiki manusia, dan kesembuhan merupakan kebutuhan mendesak dari orang sakit. Itulah sebabnya Yesus Kristus selama masa kehidupan sebagai orang dewasa di dunia ini sangat giat menyembuhkan orang-orang sakit di sela-sela waktu-Nya untuk menginjil dan mengajar. Yesus juga mengaruniakan kuasa untuk menyembuhkan segala penyakit dan mengusir roh jahat kepada murid-murid-Nya yang mula-mula (Mat. 10:1; Luk. 9:1). Pada zaman Yesus, manusia disembuhkan untuk diselamatkan.

"Melalui penyembuhan jasmani dan pemulihan pikirani, Yesus menjadikan murid-murid. Seringkali pasien-pasien Kristus menderita penyakit pikirani dan jasmani. Penyembuhan jasmani itu sendiri tidak pernah menjadi sasaran akhir. Tujuan penghabisan selamanya adalah pemuridan. Penyembuhan bisa saja menghasilkan tambahan dua puluh, lima puluh, atau mungkin tujuh puluh lima tahun yang berkualitas. Pemuridan menawarkan hidup yang kekal bersama Kristus" [alinea pertama].

Kegalauan batin dan gangguan jasmani. Pada ulasan dalam pelajaran kemarin (Senin, 27 januari) kita telah membahas tentang penyakit psikosomatik, yaitu gejala-gejala gangguan fisik yang dipicu oleh masalah pikiran dan jiwa. Seseorang yang mengalami kegalauan batin sudah terbukti secara ilmiah akan menimbulkan berbagai masalah pada kesehatan lahiriah, sebab jiwa dan raga adalah dua aspek yang tak terpisahkan dalam diri kita sebagai manusia seutuhnya. Kesehatan yang sempurna adalah meliputi kesembuhan pikiran, hati dan jiwa sebagai sumber dari gangguan jasmani.

Ini membuat saya teringat pada seorang dokter missionaris di Rumah Sakit Advent Bandung pada dasawarsa 1970-an yang bijak dan rohani. Bilamana menghadapi seorang pasien dengan berbagai keluhan fisiologis, dan berbagai pengobatan serta terapi sudah dilakukan tetapi tidak membawa hasil, dokter ini akan melepaskan stetoskopnya dan menutup berkas-berkas rekam medis di atas meja praktiknya, lalu dengan tatapan kebapakan yang simpatik bertanya kepada pasien itu: "Apakah anda mau berbagi dengan saya masalah pribadi yang telah memberatkan hati anda?" Sebagaimana diceritakan oleh perawat wanita yang menjadi asisten pendamping, dokter tua ini akan memberi konsultasi yang bersifat menenteramkan batin dan atas kesediaan pasien itu lalu berdoa bersama.

"Penyakit jasmani kadang-kadang disebabkan oleh rangsangan pikiran. Hubungan antara pikiran dan tubuh dikukuhkan oleh ilmu kedokteran. Kecemasan cenderung menyebabkan masalah lambung. Kekhawatiran mengakibatkan gangguan tidur. Amarah yang tidak terkendali menjadi faktor penyakit jantung. Mengajar orang tentang prinsip-prinsip kesehatan pikiran harus menyoroti pentingnya percaya kepada Tuhan, dan secara alamiah akan menuntun mereka kepada komitmen rohani pribadi dan pemuridan seutuhnya" [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang penyembuhan pikiran dan tubuh?
1. Menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani adalah hal pokok dalam konsep pemuridan Kristen. Seorang yang mengalami tekanan batin dapat membuat tubuhnya sakit, begitu juga sebaliknya. Acapkali pula penyakit fisik yang parah dan tak kunjung sembuh berdampak buruk pada ketenangan jiwa dan keseimbangan berpikir.
2. Penyembuhan menyeluruh diperlukan untuk kesehatan menyeluruh dengan pendekatan holistik. Kesehatan seutuhnya juga membutuhkan usaha seutuhnya serta komitmen menyeluruh dari para pelaksana pemuridan, suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa pamrih.
3. Kondisi lahir dan batin seseorang dapat menjadi pintu masuk (entry point) bagi program pemuridan jika dilakukan secara bijaksana dan tanpa memberi kesan memanfaatkan situasi. Pemuridan Kristen bertujuan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan orang lain.

4. PENGHARAPAN MASA DEPAN (Kebangkitan dan Kehidupan)

Apa yang Yesus tawarkan? Kemajuan teknologi informasi telah membuat Bumi ini terasa semakin kecil dengan mendekatkan orang-orang dari berbagai tempat yang dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer menjadi seperti tetangga dekat ketika berinteraksi lewat dunia maya (cyberspace), misalnya melalui jejaring-jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, selain ratusan situs jejaring sosial lainnya. Menurut sebuah sumber, sampai dengan Januari 2014 ini Facebook sudah memiliki lebih dari 1,23 milyar pengguna aktif, dan Twitter separuhnya. Fitur yang ingin saya sorot tentang kedua media sosial paling populer ini bukan jumlah teman (Friends) yang anda miliki, tapi banyaknya Followers yang membuntuti setiap postingan anda. Konon, ada beberapa selebriti dan politikus di tanah air yang memiliki "Pembuntut" di akun Twitter mereka hingga mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Pertanyaannya, apa yang ditawarkan oleh orang-orang terkenal itu di laman mereka sehingga selalu dinantikan oleh banyak orang? Informasi penting dan berharga, atau sekadar kicauan pendapat yang dangkal dan curahan isi hati tak bernilai?

Yesus Kristus menarik para pengikut yang terus bertambah banyak bukan karena popularitas atau janji-janji kosong, melainkan karena pelayanan yang nyata serta tawaran penyelesaian yang simpatik terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Lebih dari sekadar kebutuhan dasar manusia sehari-hari, Yesus bahkan menawarkan pengampunan dosa dan keselamatan abadi. Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini Sang Juruselamat telah melayani rakyat kecil maupun pemuka masyarakat dengan keperluan-keperluan jasmani maupun rohani mereka, menawarkan kebahagiaan surga dan hidup kekal kepada setiap orang yang menyambut-Nya.

"Demikianlah, Yesus menyediakan tiga peragaan terkenal untuk melawan orang-orang yang tidak percaya, membeberkan kepalsuan-kepalsuan, dan memuaskan para pencari kebenaran sejati. Anak perempuan Yairus, anak lelaki seorang janda, dan akhirnya Lazarus yang membuktikan bahwa tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan ini adalah asli. Penyakit dan kecelakaan mungkin pada awalnya menang, tetapi hidup kekal pada akhirnya akan menaklukkannya. Kesembuhan tidak akan terjadi setiap kali diminta, tetapi kehidupan abadi terjamin bagi semua orang yang menjadikan Yesus sebagai Juruselamat mereka" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Hidup kekal dijanjikan. Seseorang pernah berkata: Kematian itu bukanlah lawan dari kehidupan, tapi kematian adalah bagian dari kehidupan. Dalam pengertian tertentu pendapat ini benar, yaitu apabila kita menyadari bahwa kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan berdosa yang akan berujung pada kematian. Salah satu ayat Alkitab yang populer di kalangan orang Kristen ialah Roma 6:23, yang menyatakan bahwa "upah dosa ialah maut." Namun kita terlalu terpaku dan berhenti pada kalimat pertama itu saja, lupa bahwa apa yang sebenarnya lebih penting dari pernyataan rasul Paulus itu terdapat pada kalimat berikutnya, "tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Kalau anda dan saya telah menyambut Yesus Kristus berarti kita sudah menerima karunia hidup kekal dari Allah, dan hidup kekal itu jauh lebih penting daripada kematian.

Itulah sebabnya dalam suratnya kepada umat percaya di Korintus, rasul yang sama berkata: "Sebab kami tahu bahwa kalau rumah--yakni tubuh--yang kita diami di dunia ini dibongkar, Allah akan menyediakan bagi kita sebuah rumah di surga, yang dibuat oleh Allah sendiri dan yang tahan selama-lamanya. Di dalam rumah yang sekarang ini, kita mengeluh sebab kita rindu sekali tinggal di dalam rumah kita yang di surga itu. Rumah itulah tubuh kita yang baru. Selama kita tinggal di dalam rumah yang dari dunia ini, kita mengeluh karena beban kita berat. Bukannya karena kita ingin lepas dari tubuh kita yang dari dunia ini, tetapi karena kita ingin mengenakan tubuh yang dari surga itu, supaya tubuh kita yang bisa mati ini dikuasai oleh yang hidup" (2Kor. 5:1-4, BIMK).

Pada zaman Yesus dan rasul-rasul pun tidak semua orang yang sakit mendapat kesempatan untuk menerima mujizat penyembuhan, apalagi kita yang hidup pada zaman ini. "Namun apa yang kita miliki adalah sesuatu yang bahkan jauh lebih baik dari suatu mujizat penyembuhan, dan itu ialah janji kebangkitan untuk hidup kekal pada akhir zaman bilamana Yesus akan datang dan 'orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima pemerintahan, dan mereka akan memegang pemerintahan itu sampai selama-lamanya, bahkan kekal selama-lamanya' (Dan. 7:18)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang tawaran kebangkitan dan hidup kekal dari Kristus?
1. Menjadi pengikut orang-orang terkenal dan berkuasa boleh jadi dapat mendatangkan keuntungan, sedangkan menjadi pengikut Kristus seringkali mendatangkan kesengsaraan. Tetapi sementara menjadi pengikut manusia hanya berakhir di kubur, menjadi pengikut Kristus akan berujung pada hidup kekal.
2. Bagi orang yang tidak percaya, kelahiran adalah awal perjalanan menuju kematian; bagi orang percaya, kematian adalah awal perjalanan menuju hidup kekal. Walaupun kesembuhan dari penyakit jasmani tidak selalu kita nikmati, namun sebagai umat percaya kita yakin akan menikmati hidup kekal tanpa penyakit.
3. Kematian tentu adalah sesuatu yang menakutkan bagi banyak orang, tapi tidak bagi orang saleh dan beriman. Seperti kata rasul Paulus, "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp. 1:21). Bagi umat Tuhan kematian bukan persoalan, tetapi kebangkitan keberapa kita tergolong, pertama atau kedua?

5. MUJIZAT PENYEMBUHAN DARI ZAMAN KE ZAMAN (Warisan Penyembuhan Kristus)

Penyembuhan di zaman rasul-rasul. Kehidupan dan peribadatan Gereja yang mula-mula ditandai dengan berbagai mujizat penyembuhan dan karunia-karunia Roh Kudus sebagaimana disebutkan dalam 1Korintus 12, khususnya yang berlangsung selama abad pertama sesudah Kristus. Banyak ahli teologia yang berpendapat bahwa semua tanda ajaib itu diperlukan dalam rangka menarik perhatian masyarakat kafir penyembah berhala yang menyukai tanda ajaib itu kepada Kekristenan, tetapi sesudah itu mujizat tidak diperlukan lagi.

"Murid-murid abad pertama menyaksikan langsung janji Kristus untuk melihat 'hal-hal yang lebih besar daripada hal-hal ini' digenapi (Yoh. 1:50, bandingkan dengan Yoh. 5:20; 14:12). Mujizat penyembuhan dan kebangkitan mengikuti pelayanan-pelayanan Kekristenan yang mula-mula dari murid-murid paling terkemuka: Petrus dan Paulus. Peristiwa-peristiwa ini secara mencolok digambarkan dalam pertumbuhan gereja mula-mula. Hadirat Allah yang kekal, ditandai oleh mujizat penyembuhan, mempengaruhi ribuan pemimpin agama untuk menerima Kristus. Seringkali jemaat mereka mengikuti" [alinea pertama].

Apakah Tuhan masih mengadakan mujizat melalui hamba-hamba-Nya pada akhir zaman ini? Kalau anda mengajukan pertanyaan ini kepada golongan Kristen beraliran kharismatik pasti anda akan mendapat jawaban tegas yang mengiyakan. Tetapi sementara kita harus berhati-hati dalam menilai mujizat penyembuhan dan tanda ajaib sebagai bukti hadirat dan kuasa Allah (baca Mat. 7:22-23; Mat. 24:24), kita juga tidak boleh menjadi orang Kristen yang skeptis terhadap kuasa dari karunia Roh Kudus yang masih terus bekerja sejak zaman rasul-rasul hingga sekarang (baca Kis. 2:17-18). Janganlah kita mengambil posisi sebagai "kaum Farisi" moderen yang karena tidak percaya lalu menghakimi orang lain (baca Mat. 21:22-23; Kis. 4:5-7).

Kuasa penyembuhan pada zaman ini. Penyakit tidak akan pernah hilang dari dunia yang berdosa ini, karena itu orang sakit akan selalu ada di sekitar kita. Bahkan dengan semakin seringnya terjadi anomali cuaca akibat faktor-faktor aktivitas manusia yang berdampak buruk pada kondisi alam, di samping pola hidup manusia itu sendiri yang menyebabkan kemerosotan kualitas hidup, jenis-jenis penyakit pun berkembang dan meluas. Banyak penyakit yang sudah lama merajalela tapi belum ditemukan obat yang paten dan terapi yang manjur untuk benar-benar menyembuhkannya, sebutlah misalnya kanker dan HIV/AIDS. Dalam keadaan ini, apakah kita akan berserah pada nasib atau bergantung pada kuasa penyembuhan ilahi?

Sebagai gereja kita lazim menerapkan praktik meminyaki orang yang sakit parah dan sekarat, mengikuti nasihat rasul Yakobus: "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan" (Yak. 5:14). Prosedur ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kedua belas murid Yesus yang pertama ketika mereka menjalani praktikum penginjilan di lapangan (baca Mrk. 6:12-13). Tapi yang lebih sering kita lakukan--dan kerap terkesan sekadar rutinitas yang bersifat formalitas ketimbang sebagai suatu permohonan yang khusuk--ialah melalui doa syafaat pada acara khotbah ketika orang yang memimpin doa bertelut membaca nama-nama yang perlu didoakan dari secarik kertas di tangannya. Meskipun Tuhan mendengar setiap doa umat-Nya, tapi mungkin untuk memperoleh penyembuhan ilahi bagi saudara-saudara kita yang menderita sakit perlu dilayangkan doa syafaat yang lebih tekun, khidmat, dan terus-menerus.

"Jelaslah kesehatan merupakan kepedulian yang terus-menerus dan pelayanan penyembuhan adalah fungsi yang terus-menerus dari gereja Kristus. Penyembuhan tercatat di antara karunia-karunia rohani. Petunjuk-petunjuk untuk menjalankan karunia penyembuhan Allah kepada mereka yang menderita sakit tercatat dalam Kitabsuci. Karunia-karunia ini menguntungkan umat percaya hingga kedatangan Kristus kedua kali bilamana hadirat-Nya secara pribadi akan membuat itu semua tidak diperlukan" [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang mujizat penyembuhan zaman dulu dan kini?
1. Mujizat penyembuhan sudah menjadi bagian dari pekerjaan penginjilan Kristus, dan sesudah kenaikan-Nya ke surga hal itu dilanjutkan oleh murid-murid-Nya yang pertama. Yesus tidak pernah berubah pikiran dan mencabut kebijakan-Nya untuk menggunakan mujizat di mana perlu demi kepentingan pekerjaan-Nya.
2. Setan juga dapat melakukan mujizat penyembuhan melalui agen-agennya untuk meniru kuasa ilahi demi menipu manusia. Tapi sementara kita harus waspada terhadap tipuan itu, kita juga harus berhati-hati agar tidak begitu saja menghakimi hanya karena "mereka" yang mengadakannya, bukan kita (baca Mrk. 9:38-40).
3. Penyembuhan ilahi adalah warisan Kristus kepada murid-murid-Nya sepanjang zaman, bahkan berbagai mujizat akan lebih gencar diadakan menjelang kedatangan-Nya kedua kali (Kis. 2:19-20). Mujizat penyembuhan sering ditentukan oleh kadar keyakinan orang yang didoakan maupun yang mendoakan. Jadi, percayalah.

PENUTUP

Kesembuhan rohani mendahului kesembuhan jasmani. Sebagaimana penyakit jasmani seringkali disebabkan oleh adanya penyakit rohani, maka penyembuhan jasmani acapkali harus didahului dengan penyembuhan rohani. Pengobatan yang jitu adalah pengobatan yang terfokus pada penyebab penyakit, bukan pada gejala-gejala penyakit yang timbul. Namun banyak dokter yang baik mengobatinya sekaligus, penyebab penyakit dan gejalanya diobati secara bersamaan karena biasanya yang membuat pasien menderita adalah akibat dari gejala-gejala penyakit itu. Yesus Kristus, Tabib surgawi itu, juga melakukan hal yang sama ketika Ia menyembuhkan penyakit jasmani seseorang dan pada waktu yang sama mengampuni dosa orang itu yang menjadi penyebab dari penderitaannya.

"Orang lumpuh itu menemukan dalam Kristus penyembuhan bagi jiwa maupun tubuhnya. Dia memerlukan kesehatan jiwa sebelum dia bisa menghargai kesehatan tubuh. Sebelum penyakit jasmani dapat disembuhkan, Kristus harus mendatangkan kelegaan pada pikiran, dan membersihkan jiwa dari dosa. Pelajaran ini tidak boleh diabaikan" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Masuknya dosa ke Bumi ini telah mengakibatkan kemerosotan secara menyeluruh, terhadap alam maupun makhluk-makhluk hidup penghuninya. Kemerosotan atas kehidupan manusia juga bersifat menyeluruh, yaitu kemerosotan yang meliputi kondisi jasmani, rohani, pikirani, dan akhlak. Kita pun merindukan pemulihan seutuhnya kepada keadaan semula waktu manusia baru diciptakan Allah di Taman Eden, dan itulah yang dijanjikan Yesus kepada semua umat-Nya yang setia bilamana Ia datang--sebentar lagi!

"Tetapi kita adalah warga negara surga. Dari situlah juga Raja Penyelamat kita, Tuhan Yesus Kristus, akan datang. Dialah yang kita nanti-nantikan dengan rindu. Tubuh kita yang lemah dan dapat hancur ini, akan diubah oleh Kristus menjadi seperti tubuh-Nya sendiri yang mulia. Ia dapat melakukan itu karena Ia memiliki kuasa untuk menaklukkan segala sesuatu" (Flp. 3:20-21, BIMK).

DAFTAR PUSTAKA:

 1.   Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.
2.   Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.

 

4. Anak-anak, Calon Warga Sorga.


"MEMURIDKAN ANAK-ANAK"

PENDAHULUAN

 Warga cilik kerajaan surga. Program pemuridan yang mengabaikan kanak-kanak adalah usaha pemuridan yang cacad. Mengapa? Sebab Yesus sendiri melayani dan memberkati kanak-kanak. Bahkan, karena karakter mereka Yesus menjadikan kanak-kanak sebagai standar moral bagi calon-calon surga, "sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat. 19:14). Yesus mengasihi kanak-kanak, dan kanak-kanak pun menyayangi Yesus. Kanak-kanak adalah juga calon-calon warga surga, jangan-jangan malah kanak-kanak itu yang lebih rindu dan lebih siap untuk masuk surga ketimbang orang-orang dewasa. Jadi, janganlah sekali-kali mengabaikan kanak-kanak dalam pemuridan.

 "Banyak gereja tampaknya kehilangan fakta penting ini dalam perencanaan penginjilan mereka, mengarahkan bagian terbesar dari sumberdaya mereka kepada orang dewasa. Murid-murid Kristus yang mula-mula pun kelihatannya meremehkan nilai pelayanan anak-anak. Yesus menolak sikap demikian dan menyediakan ruang bagi anak-anak, bahkan memberi prioritas kepada mereka" [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

    Dalam struktur organisasi Gereja MAHK pelayanan anak-anak mendapat tempat khusus dengan sistem pelayanan berjenjang, mulai dari tingkat pusat sedunia sampai kepada jemaat-jemaat setempat. Dalam situs Departemen Pelayanan Anak-anak dari Pimpinan Pusat Gereja MAHK Sedunia (Children Ministries Department of General Conference of Seventh-day Adventist Church) disebutkan falsafah yang mendasari pelayanan anak-anak: "Pelayanan Anak-anak adalah perihal mengembangkan iman anak-anak dari lahir sampai usia empat belas tahun. Sementara Sekolah Sabat menyediakan pendidikan agama sekali seminggu, Pelayanan Anak-anak melihat pada anak secara utuh dan berusaha menyediakan berbagai pelayanan yang akan menuntun anak-anak kepada Yesus dan memuridkan mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan Dia" (Sumber: http://www.gcchildmin.org/philosophy/index.html).

    Pemuridan di kalangan anak-anak adalah bagian dari pelayanan Yesus, dan dengan demikian menjadi bagian pula dari perintah Yesus yang diamanatkan kepada kita. Pemuridan harus dimulai sejak usia sedini mungkin, bahkan program pemuridan adalah hal yang paling diperlukan oleh anak-anak usia dini pada zaman ini.

1.   ANAK-ANAK JUGA MANUSIA (Keberuntungan Anak-anak Ibrani)

    Ketika anak-anak dikorbankan. 

   Mempersembahkan anak-anak sebagai kurban dalam peradaban purba adalah fakta sejarah. Hampir semua masyarakat purba mengenal upacara mengurbankan anak-anak kecil atau remaja, laki-laki maupun perempuan. Penggalian-penggalian arkeologis di berbagai tempat di dunia membuktikan sinyalemen ini, antara lain kebudayaan Aztec dan Inca di Amerika Selatan, kebudayaan Viking dan Celtic di Eropa, kebudayaan Kartage di Afrika, kebudayaan Fenisia di Laut Tengah, kebudayaan Mancuria, Hindus, dan Tibet di Asia. Bahkan antara tahun 2005-2010 lalu di Uganda, sebuah negara di Afrika, kedapatan masih mempraktikkan ritual mengurbankan anak-anak sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya bangsa di abad ke-21 yang masih menjalankan upacara keji ini.

    Dalam tradisi bangsa Kanaan mengurbankan anak-anak adalah bagian penting dalam penyembahan dewa Molokh, dan peribadatan kekafiran ini seringkali mempengaruhi bangsa Israel yang mendiami negeri Kanaan. Manasye, raja ke-14 kerajaan Yehuda di selatan yang memerintah tahun 687-642 SM, dalam masa kemurtadannya kemungkinan juga telah mempersembahkan anak-anaknya sendiri kepada dewa Molokh (2Taw. 33:6). Perbuatan demikian jelas-jelas melawan perintah Allah kepada bangsa Israel untuk tidak mempersembahkan anak-anak mereka kepada Molokh (Im. 18:21), sebuah perintah yang disertai sangsi hukuman mati (Im. 20:1-5). Namun tampaknya bukan hanya Manasye yang berbuat itu, tapi juga raja-raja Yehuda lainnya seperti Salomo (1Raj. 11:7), Yosia (2Raj. 23:10), dan Zedekia, bahkan rakyat Yehuda dan Israel secara bersama-sama (Yer. 32:32-35).

    Kalau pada peradaban purba mengobankan anak-anak adalah karena tujuan penyembahan (motif keagamaan), pada zaman moderen ini mengorbankan anak-anak lebih karena tujuan eksploitasi (motif ekonomi). Bagi masyarakat yang kurang mampu anak-anak sering dijadikan sebagai tenaga kerja, sedangkan bagi masyarakat mampu anak-anak kerap dijadikan sebagai bahan reputasi dan gengsi orangtua mereka. Apapun alasannya, pengeksploitasian anak pada hakikatnya adalah "mengorbankan" anak-anak, suatu hal yang tidak berterima di hadapan Tuhan.
   "Pengorbanan anak sebagai hal menyenangkan ilah telah diterima oleh banyak budaya. Kalau tidak, nilai anak-anak sering diukur dengan kontribusi ekonomis mereka bagi masyarakat. Produktivitas kerja, bukan nilai hakiki, menentukan hubungan mereka dengan dunia orang dewasa. Menyedihkan untuk dikatakan, namun sebagian dari sikap demikian ini, khususnya ketika dikaitkan dengan nilai ekonomi, ditemukan dalam dunia dewasa ini sekalipun. Sesungguhnya, hari kemurkaan itu akan datang" [alinea pertama: lima kalimat terakhir].

    Harkat anak-anak. 

   Kitabsuci mengatakan bahwa anak-anak merupakan anugerah dan pusaka Allah (Mzm. 127:3-5; 128:4-6). Anak-anak adalah titipan Allah kepada orangtua mereka untuk diajar tentang perintah Tuhan (Ul. 6:6-7) dan dididik (Ams. 22:6), sebab mereka akan menjadi murid-murid Tuhan sendiri (Yes. 54:13). Beberapa di antara tokoh-tokoh Alkitab adalah anak-anak yang lahir atas permintaan ibu mereka kepada Tuhan dengan cara paksa, seperti Yusuf (Kej. 30:22-24) dan Samuel (1Sam. 1:11, 27), menunjukkan bahwa dari zaman dulu orangtua sangat mendambakan anak-anak dan dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Namun sementara anak-anak adalah karunia Tuhan, orangtua berkewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anak mereka sesuai dengan jalan Tuhan. Anak-anak bukanlah aset untuk dimanfaatkan demi kepentingan orangtua, tapi anak-anak adalah tanggungjawab yang dipercayakan Allah kepada orangtua mereka.

    "Pendidikan, hak kesulungan, dan banyak praktik-praktik budaya lainnya yang jelas menunjukkan betapa bernilainya anak-anak dalam kebudayaan Ibrani purba. Tidak mengherankan, Kristus memperluas kedudukan anak-anak yang sudah terangkat itu, dibandingkan dengan budaya di sekitarnya, kepada standar yang baru. Lagi pula, anak-anak adalah makhluk manusia, dan kematian Kristus adalah bagi semua orang berapapun usia mereka--suatu hal yang tidak boleh kita lupakan" [alinea terakhir].

    Peradaban moderen menghargai harkat anak-anak, antara lain dengan mengakui serta menjamin hak-hak anak. Pada rapat paripurna PBB tanggal 20 November 1989 telah disahkan apa yang disebut "Konvensi Anak-anak" di mana Indonesia menjadi salah satu negara penandatangan. Dalam konvensi ini antara lain ditegaskan, "Dalam semua tindakan yang menyangkut anak-anak, baik yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah atau swasta, pengadilan, penguasa-penguasa pemerintahan atau badan-badan legislatif, kepentingan terbaik dari anak-anak harus menjadi pertimbangan utama" (Pasal 3, ayat 1). Selain itu, "Negara-negara Peserta akan menghormati tanggungjawab, hak dan kewajiban orangtua...untuk memberi, dengan cara yang sesuai dengan kemampuan yang berkembang dari anak itu, arahan dan bimbingan yang tepat dalam pelaksanaan hak-hak anak yang diakui dalam Konvensi yang sekarang ini" (Pasal 5).

 Apa yang kita pelajari tentang nilai anak-anak pada pemandangan Tuhan?

1. Allah menanamkan dalam kebudayaan Israel purba (orang Ibrani) untuk menghargai anak-anak sebagai berkat dan anugerah, di antaranya dengan membakukan "hak kesulungan" untuk setiap anak laki-laki tertua. Meskipun hak tersebut tidak berlaku bagi kita, tapi tuntutan Allah akan penghargaan terhadap anak-anak tidak berubah.

2. Mengorbankan anak, dalam cara apapun dan dengan motif apapun, adalah tindakan pengkhianatan terhadap hak-hak anak dan menjadi kekejian bagi Tuhan. Anak-anak adalah milik Allah yang dititipkan dalam pengasuhan orangtua, segala bentuk pengeksploitasian anak pada dasarnya adalah pengingkaran terhadap mandat Allah.

3. Tidak ada satu pun anak yang minta dilahirkan; anak lahir dari aktivitas biologis orangtua dan kehendak Allah. Setiap orangtua bertanggungjawab untuk membesarkan, memelihara, dan mendidik anak-anak mereka. Allah akan memberkati setiap orangtua yang bertanggungjawab dengan menyediakan sumberdaya yang diperlukan.

2. YESUS SEBAGAI ANAK BIASA (Masa Kanak-kanak Yesus)

 Bertumbuh secara normal. 

   Masa kanak-kanak dan masa remaja Yesus Kristus telah menjadi bahan spekulasi banyak orang karena Alkitab sangat sedikit menulis tentang hal itu. Satu-satunya informasi tentang kehidupan Yesus sebelum Dia berusia 30 tahun--selain waktu kelahiran-Nya--adalah saat Yesus berumur 12 tahun ikut bersama Yusuf dan Maria ke Yerusalem dalam ziarah tahunan yang diwajibkan bagi orang Yahudi, mungkin sekaligus untuk persiapan bar mitzvah, sebuah upacara tradisional bagi anak laki-laki Yahudi yang mencapai umur 13 tahun sebagai tanda memasuki masa "kedewasaan rohani" di mana seorang anak dianggap sudah cukup dewasa untuk menaati semua hukum agama (bagi anak perempuan pada usia 12 tahun, disebut bat mizvah). Sesudah kisah tentang kunjungan ziarah tahunan itu, dengan peristiwa Yesus mengajar di kaabah Yerusalem, selanjutnya kita tidak menemukan informasi apapun sampai Yesus muncul lagi ketika Dia dibaptis dan memulai pelayanan-Nya.

    Bahwa Yesus sebagai kanak-kanak dan remaja cukup dikenal di kampungnya terbukti ketika orang-orang mengungkapkan keheranannya terhadap kecakapan Yesus mengajar dan mengadakan mujizat. Kata mereka, "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" (Mat. 13:54-56). Mereka tertegun karena selama ini Yesus yang mereka kenal sebagai anak tukang kayu, yang mungkin tidak banyak bicara, tiba-tiba sekarang tampil begitu fasih dalam pengetahuan agama. Karena mengenal siapa Yesus itulah maka mereka tidak mau mendengar pengajaran-Nya (ay. 57-58). Lumrah dan khas, bukan?
   "Sekiranya Yesus melewatkan masa kanak-kanak dan hadir di planet Bumi ini sebagai seorang yang sudah dewasa, berbagai pertanyaan serius mungkin akan timbul sehubungan dengan kemampuan-Nya menyesuaikan diri dengan anak-anak. Akan tetapi Kristus bertumbuh-kembang seperti layaknya semua anak-anak, tidak ada tahap-tahap pengembangan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan kematangan yang terlewatkan. Ia mengerti godaan-godaan masa remaja. Ia mengalami kecenderungan untuk berbuat salah dan kegelisahan masa kanak-kanak" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

 Masa pertumbuhan akhlak. 

   Sekalipun kelahiran-Nya terjadi sebagai suatu keajaiban, Yesus sebagai kanak-kanak bukanlah seorang "anak ajaib" dalam pengertian seperti anak yang "super" dan berbeda dari teman-teman-Nya. Dapat dipastikan bahwa masa pertumbuhan Yesus hingga mencapai usia dewasa berlangsung dalam tahap-tahap yang normal dan wajar, termasuk dalam pertumbuhan akhlak dan akal budi. Kecerdasan emosi maupun kecerdasan psikologis Yesus tidak bertumbuh sendiri secara otomatis, orangtua-Nya harus menjalankan kewajiban mereka sebagai umumnya orangtua bangsa Ibrani untuk mendidik dan melatih Yesus selama masa kanak-kanak hingga remaja. Kepiawaian Yesus dalam hal doktrin agama adalah hasil dari perpaduan pengajaran orangtua-Nya dan kesungguh-sungguhan Yesus sendiri untuk belajar dengan tekun.
   Satu-satunya ayat dalam Alkitab yang menyinggung soal pertumbuhan kecerdasan emosi dan kecerdasan psikologis Yesus selepas usia 12 tahun adalah dalam injil Lukas: "Yesus makin bertambah besar dan bertambah bijaksana, serta dikasihi oleh Allah dan disukai oleh manusia" (Luk. 2:52, BIMK). Sebelumnya penulis yang sama telah memberi pernyataan tentang pertumbuhan Yesus secara fisik selama dua belas tahun pertama, "Anak itu bertambah besar dan kuat. Ia bijaksana sekali dan sangat dikasihi oleh Allah" (ay. 40, BIMK).

 "Menurut ayat-ayat tersebut, Yesus memperoleh kebijaksanaan. Allah menganugerahkan kasih karunia pada-Nya. Dari perjumpaan pada masa kanak-kanak Kristus di kaabah selama kunjungan Paskah kita dapat melihat bahwa Yesus memiliki hikmat kitabsuci yang mendalam. Guru-guru agama sangat terkesan dengan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban Yesus...Allah sudah tentu menggunakan berbagai pengalaman masa kanak-kanak untuk membentuk tabiat tanpa cela yang menakjubkan itu" [alinea ketiga; alinea keempat: kalimat pertama].

 Apa yang kita pelajari tentang masa kanak-kanak Yesus?

1. Penjelmaan Anak Allah dalam sosok Yesus Kristus adalah penjelmaan totalitas sejak lahir, masa kanak-kanak, masa remaja, sampai usia dewasa. Kemanusiawian Yesus tidak berbeda dari orang-orang sekampung-Nya: bertumbuh, bergaul, membantu orangtua, belajar agama, dan sebagainya.

2. Di Nazaret, kampung halaman Yesus, masyarakat mengenal Dia sebagai seorang yang saleh dan suka bergaul. Itulah sebabnya Ia "makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52, TB). Yesus membuktikan bahwa sebagai remaja menjadi "anak gaul" dan sekaligus "anak saleh" bukan hal yang mustahil.

3. Tampaknya Yesus telah menerima pendidikan agama dan pendidikan moral dari orangtua duniawi-Nya, yakni Yusuf dan Maria, dalam takaran yang proporsional dan porsi yang cukup. Yesus bertumbuh secara normal dan wajar, bukan sebagai seorang "anak karbitan" yang dipaksa bertumbuh karena ambisi orangtua.
   3. KEPEDULIAN PADA ANAK-ANAK (Menyembuhkan Anak-anak)

 Merasakan kekhawatiran orangtua. 

   Yesus tidak pernah menjadi orangtua, tetapi Ia mempunyai orangtua di dunia ini. Tentu saja Yesus mengerti kekhawatiran orangtua terhadap keadaan anak-anak mereka. Bukankah Ia sendiri pernah menyaksikan kekhawatiran ibu dan ayahnya karena kehilangan diri-Nya selama tiga hari dalam perjalanan pulang setelah merayakan Paskah, lalu bergegas kembali ke Yerusalem? Saat menemukan Yesus sedang mengajar di dalam kaabah, ibu-Nya menegur Dia, "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau" (Luk. 2:48).
   Ketika para orangtua dari anak-anak yang sakit parah, dirasuk roh jahat, maupun yang sudah mati itu datang menemui Yesus untuk meminta pertolongan, Ia dapat merasakan kecemasan, kepanikan, bahkan keputusasaan mereka. Namun, meskipun Yesus tentu ingin memenuhi kerinduan para orangtua itu menyangkut keadaan anak mereka, Ia juga ingin menanamkan suatu nilai rohani yang penting: iman. Maka ketika orangtua dari anak tunggal yang tersiksa oleh roh jahat datang kepada Yesus dan mengadu bahwa murid-murid-Nya tidak berhasil mengusir roh jahat itu, Yesus tidak menegur murid-murid melainkan mencela ketidakpercayaan orang banyak termasuk orangtua anak itu. Kata-Nya kepada mereka, "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!" (Luk. 9:41). Bukankah sebelumnya Yesus sudah memberi kekuatan dan kuasa kepada murid-murid-Nya "untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit"? (ay. 1).

 "Dalam semua cerita ini satu kesamaan sangat mencolok ialah bahwa, dalam setiap kasus, orangtua yang putus asa itu datang kepada Yesus mencari pertolongan bagi seorang anak. Orangtua mana yang tidak terpengaruh? Orangtua mana yang belum pernah merasakan kepedihan, kesedihan, ketakutan, dan langsung merasa ngeri apabila seorang anak sakit parah atau bahkan sedang sekarat? Bagi mereka yang sudah mengalaminya, tidak ada hal lain yang lebih buruk" [alinea pertama].

 Ketika orangtua kehilangan anak. 

   Sesungguhnya, tidak ada orangtua yang siap kehilangan anak akibat kematian, sekalipun dalam kasus-kasus di mana kematian mungkin sudah diantisipasi semisal akibat sesuatu penyakit. Kalau boleh memilih, mungkin banyak orangtua yang siap untuk menggantikan kematian anaknya. Dalam satu dunia yang sempurna, siklus kehidupan memang seharusnya berlangsung normal bilamana generasi yang lebih tua meninggal lebih dulu baru kemudian orang-orang dari generasi yang lebih muda. Tetapi anda dan saya tidak hidup dalam dunia yang sempurna, dan kematian selalu tampil sebagai sosok yang misterius dan tak terduga. Banyak kali bahkan doa-doa kita kehilangan daya untuk mencegah suatu kematian.

    Seseorang pernah berkata, "Apabila orangtua yang meninggal, anda kehilangan masa lalu; apabila anak yang meninggal, anda kehilangan masa depan." Anak, atau anak-anak, memang selalu dikaitkan dengan masa depan. Semakin besar ambisi orangtua terhadap masa depan anaknya, semakin berat pula kesedihan yang harus ditanggung kalau anak itu meninggal dunia. Namun orangtua bisa saja kehilangan harapan pada masa depan anaknya bukan akibat kematian secara fisik saja tapi juga karena "kematian" moral dan rohani dari anak itu. Dengan demikian orangtua yang saleh tidak cukup hanya mendoakan kesehatan dan keselamatan fisik anak-anak mereka saja, tapi juga mendoakan kesejahteraan moral dan kerohanian mereka. Mendoakan anak yang sakit jasmani sama pentingnya dengan mendoakan anak yang sakit rohani. Bahkan, dalam banyak kasus, lebih mudah bagi orangtua untuk merelakan anaknya meninggal dunia asalkan jiwanya selamat.

 "Meratapi kematian fisik dan menyaksikan pembusukan rohani mungkin sama-sama menyakitkan. Berapa banyak orangtua yang menderita atas anak-anak yang dikuasai oleh kecanduan narkoba, pornografi, atau sikap ketidakpedulian masa remaja? Apapun penderitaan itu, kita harus belajar untuk percaya kepada Tuhan serta kebaikan dan kasih-Nya, bahkan ketika keadaan tidak menghasilkan kebahagiaan seperti pada cerita-cerita Alkitab tersebut di atas" [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

 Apa yang kita pelajari tentang anak-anak yang disembuhkan oleh Yesus, dibandingkan dengan anak-anak kita sekarang?

1. Semasa hidup-Nya di atas dunia ini Yesus menyembuhkan anak-anak yang sakit dan menderita karena kepedulian orangtua mereka, tapi banyak juga anak-anak lain yang tidak beruntung mendapat pelayanan Yesus. Zaman sekarang pun banyak anak-anak yang bernasib malang akibat ketidakpedulian orangtua mereka.

2. Orangtua yang bertanggungjawab atas kesejahteraan anak tentu menaruh perhatian pada semua aspek kehidupan anak-anak mereka, semata-mata demi kepentingan anak itu sendiri. Yesus menolong anak-anak karena Ia melihat mereka juga adalah calon-calon warga surga.

3. Sementara menangisi kematian anak adalah hal yang manusiawi, orang Kristen tidak akan bersedih kelewat batas. "Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (1Tes. 4:13).

4. KEJAHATAN TERHADAP ANAK-ANAK (Sebuah Amaran Mengerikan)

 Menghargai kepolosan kanak-kanak. 

   Setelah mencela kota-kota yang penduduknya tidak mau bertobat meski sudah mendengar kabar keselamatan, Yesus kemudian berdoa: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu" (Mat. 11:25-26; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan "orang kecil" dalam ayat ini adalahνπιος, nēpios, sebuah kata sifat yang bisa berarti anak kecil atau juga tidak terpelajar (Strong, G3516). Meskipun Alkitab versi King James menerjemahkan kata ini dengan babes ("kanak-kanak" atau "orang yang kurang berpengalaman"), secara kontekstual maksud sebenarnya adalah "orang-orang yang tidak terpelajar" seperti digunakan oleh Alkitab versi BIMK.

    Salah satu sifat khas anak-anak kecil, yang membuat mereka berbeda dari orang dewasa, ialah kepolosan. Karena sifat mereka yang polos maka anak-anak tidak bisa berbohong. Yesus menyukai keluguan dan kepolosan kanak-kanak oleh sebab Ia menghargai ketulusan hati. Itulah sebabnya Yesus menegaskan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga...Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga...Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang" (Mat. 18:3, 10, 14; huruf miring ditambahkan).

    "Terdapat kemurnian yang unik dalam diri anak-anak yang Yesus sering tonjolkan ketika menggambarkan kerajaan-Nya. Bagaimanapun ketulusan, kerendahan hati, kebergantungan, dan kemurnian mereka mencakup esensi dari kehidupan Kristiani. Betapa kita semua harus mendambakan kebersahajaan dan kepercayaan seperti itu dalam menghidupkan iman kita" [alinea pertama].

    Perlindungan anak. Melindungi anak-anak adalah kewajiban semua orang dewasa, dan perlindungan itu bersifat komprehensif. Anak-anak tidak saja harus dilindungi dari keadaan berbahaya yang dapat mengancam hidupnya atau mencelakakan dirinya, tapi juga dilindungi hak-haknya sebagai anak. Perlindungan hak anak sudah menjadi kepedulian dunia internasional, dan sebuah negara akan dianggap terbelakang jika tidak turut merespon masalah ini. Sekarang ini kita memiliki dua lembaga nasional yang menggeluti masalah perlindungan anak. Pertama adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (disingkat KPAI) yang pembentukannya melalui Keppres No. 77 Tahun 2003 berdasarkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebuah lembaga yang dibiayai negara melalui APBN dan bertanggungjawab kepada presiden; kedua adalah Komisi Nasional Perlindungan Anak (disingkat Komnas PA) yang pembentukannya berdasarkan Surat Akta Notaris sebagai sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), didirikan tahun 1988 dan dibiayai oleh para donatur.

    Gereja MAHK juga menaruh perhatian terhadap isu perlindungan anak. Melalui lembaga yang disebut Adventist Risk Management (ARM) telah disusun apa yang disebut Rencana Perlindungan Anak yang bertujuan untuk menyediakan pelatihan dan pemberdayaan para pemimpin jemaat demi menjadikan gereja sebagai tempat yang aman bagi anak-anak serta melindungi anak-anak dari berbagai bentuk pelecehan. Sebagaimana kita tahu, gereja kita menyediakan berbagai program untuk anak-anak dan remaja di mana para relawan dari kalangan orang-orang dewasa terlibat sebagai instruktur ataupun pembimbing, antara lain Pathfinder Club, Acara Pembangunan Tabiat Anak (APTA), Pelayanan Anak-anak, di samping Sekolah Sabat Anak-anak. Dalam rapat General Conference di Atlanta tahun 2010 lalu para delegasi yang berkumpul dari segenap penjuru dunia telah menyetujui sebuah keputusan untuk menambah satu kalimat khusus dalam Buku Peraturan Jemaat (d/h Peraturan Sidang) yang mensyaratkan agar para guru dan pembina program-program bagi anak-anak tersebut "harus memenuhi standar dan tuntutan gereja, misalnya penelitian latar belakang atau sertifikasi." (Sumber: http://news.adventist.org/all-news/news/go/2012-02-21/safe-churches-a-priority-for-adventist-risk-management/).
   "Dalam tindakan-tindakan kejahatan yang dingin, mengerikan, dan sangat kejam atas anak-anak--khususnya selama kegiatan-kegiatan yang disponsori gereja--dapat merusak kepercayaan seorang anak terhadap gereja dan biasanya juga terhadap Tuhan dari gereja itu. Murka seperti apa yang seharusnya secara adil menanti mereka yang melakukan tindakan-tindakan itu serta orang-orang yang melindungi para pelakunya. Kristus dan pekabaran-Nya membangkitkan kepercayaan dan keyakinan. Seberapa beranikah organisasi manusia berkompromi dengan iman yang tulus seperti anak-anak itu oleh kurangnya kewaspadaan?" [alinea terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang peringatan soal perlindungan anak-anak?

1. Keluguan kanak-kanak terkadang muncul dalam celetukan-celetukan yang bagi orang dewasa terdengar menggelikan, tapi kepolosan sebagai ciri alamiah anak-anak kecil itu tidak boleh dianggap enteng. Allah meninggikan orang-orang yang berhati polos karena hal itu menandakan kemurnian pikiran dan ketulusan hati.

2. Banyak orang dewasa yang memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari keluguan anak-anak di bawah umur, bahkan sering sampai menjurus kepada tindak kejahatan yang serius pada kanak-kanak. Setiap orang dewasa memikul tanggungjawab moral untuk melindungi anak dari segala jenis pelecehan dan eksploitasi.

3. Perlindungan anak adalah bukti dari masyarakat yang beradab, sebaliknya pelecehan anak adalah bukti dari kebiadaban. Sementara negara dan gereja beserta organisasi dan lembaga kemasyarakatan bertekad melindungi hak anak, Allah lebih peduli lagi pada keselamatan jiwa anak-anak itu.

5. DISKRIMINASI TERHADAP ANAK-ANAK (Membiarkan Anak-anak Kecil)

 Jangan larang mereka. 

   Yesus berada di dalam sebuah rumah di Yudea dan sedang menerangkan tentang masalah perkawinan dan perceraian kepada murid-murid-Nya, yang tampaknya belum puas dengan penjelasan Yesus sebelumnya kepada orang-orang Farisi, ketika sekonyong-konyong sekelompok anak-anak yang masih kecil muncul di pintu ingin bertemu dengan Dia. "Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu" (Mrk. 10:13). Kata Grika yang diterjemahkan dengan membawa dalam ayat ini adalah προσφρω, prospherō, sebuah katakerja dengan pengertian yang luas dan bisa juga berarti mempersembahkan seperti yang digunakan dalam Matius 2:11 dan 5:23-24. Jadi, tampaknya para orangtua dari anak-anak kecil itu sudah menunggu waktu yang tepat untuk mengadakan semacam acara baby dedication (penyerahan bayi) seperti yang sering kita adakan di gereja.

    Tetapi murid-murid yang merasa diskusi mereka diinterupsi lalu mencegah sambil marah-marah. Namun Yesus balik memarahi murid-murid-Nya, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya"(Mrk. 10:14-15; huruf miring ditambahkan). Di sini Yesus bukan saja menyambut anak-anak karena mereka masih kecil dan lucu-lucu, tetapi Dia juga menghargai sikap "seperti seorang anak kecil" dalam menyambut surga atau keselamatan.

 "Bayangkanlah diabaikan oleh orang-orang dewasa yang galak hanya untuk dipeluk oleh Yesus yang berkepribadian penyayang dan penuh perhatian. Tidak heran kalau anak-anak kecil itu memeluk Dia. Dalam cerita ini kita telah diberikan contoh yang tak ternilai perihal bagaimana anak-anak kecil harus diperlakukan oleh mereka yang mengaku sebagai pelaksana pemuridan" [alinea kedua].

 Keberanian anak kecil. Menarik bahwa ketika anak-anak kecil itu dimarahi oleh murid-murid Yesus dengan cara yang kasar mereka tidak langsung berhamburan keluar sambil menangis ketakutan. Mungkin ada di antara mereka yang sudah siap untuk kabur namun urung tatkala mendengar suara Yesus dan perkataan-Nya yang bersifat membela serta melindungi hak mereka, atau juga karena kerinduan anak-anak kecil itu pada Yesus cukup besar untuk mengalahkan rasa takut mereka. Anak-anak kecil itu ingin tahu bagaimana rasanya dipeluk Yesus dan mereka juga rindu untuk memeluk Guru yang baik hati itu.

 "Pada anak-anak yang dibawa untuk berhubungan dengan Dia, Yesus melihat pria dan wanita yang harus menjadi pewaris kasih karunia-Nya dan rakyat dari kerajaan-Nya, dan sebagian dari mereka akan menjadi syuhada karena nama-Nya. Ia tahu bahwa anak-anak ini akan mendengarkan Dia dan jauh lebih siap untuk menerima Dia sebagai Penebus mereka ketimbang orang-orang dewasa yang kebanyakan berpengalaman duniawi dan berhati keras" [alinea terakhir: dua kalimat pertama].
   Apa yang kita pelajari tentang pembelaan Kristus terhadap anak-anak kecil?

1. Yesus membenci diskriminasi, termasuk terhadap anak-anak kecil. Ia ingin agar anak-anak juga mendapat pelayanan seperti halnya orang-orang dewasa. Dalam hal keselamatan jiwa, orang-orang dewasa tidak lebih penting dari anak-anak yang masih kecil.

2. Pernahkah anda memperhatikan anak-anak kecil mendapat hadiah? Mereka sangat bergairah dan gembira. Sikap seperti inilah yang Yesus inginkan dari manusia ketika mereka menerima anugerah keselamatan. Sayangnya, tidak semua orang yang kelihatannya bersemangat untuk masuk surga.

3. Ketika Yesus mempersilakan mereka masuk, sambil menegur keras murid-murid yang berusaha menghalau mereka, anak-anak kecil itu langsung bergegas ke pangkuan Yesus. Anak-anak mungkin lemah secara fisik karena masih kecil, tetapi tekad mereka seringkali lebih kuat dari orang dewasa.

PENUTUP

 Injil dan perkembangan kognitif anak. 

Salah seorang psikolog yang gagasan-gagasannya telah mempengaruhi dunia psikologi moderen adalah Jean Piaget (1896-1980), seorang pakar psikologi perkembangan dan filsuf asal Swiss yang terkenal dengan teorinya tentang Tahap Perkembangan Kognitif yang disusun berdasarkan rangkaian penelitian epistemologis yang dilakukannya, sebuah kajian ilmiah yang kini lebih dikenal sebagai "epistemologi genetik." Menurut teorinya, ada empat tahap perkembangan kognitif anak:

 1. Tahap sensor-motorik (usia lahir sampai 2 tahun) di mana pengetahuan sang bayi tentang dunia hanya terbatas pada persepsi sensor dan aktivitas motoriknya sendiri. Pada tahap ini sang bayi memperoleh pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman sensorik dengan mempermainkan benda-benda.

2. Tahap pra-operasional (usia 2 hingga 6 tahun) di mana seorang anak belajar menggunakan bahasa, tapi belum mampu memahami logika yang konkret dan belum sanggup menangkap pandangan orang lain. Pada tahap ini anak-anak belajar melalui permainan pura-pura.

3. Tahap operasional konkret (usia 7 hingga 11 tahun) di mana anak mulai memahami penggunaan pikiran. Biasanya seorang anak sudah mulai berpikir logis tentang peristiwa-peristiwa yang konkret, tapi masih sukar untuk mengerti konsep-konsep abstrak atau hipotetik (pengandaian). Pada tahap ini kemampuan logika anak masih sangat kaku.

4. Tahap operasional formal (usia 12 tahun ke atas) di mana anak yang sudah remaja itu mulai mengembangkan kemampuan berpikir tentang konsep-konsep yang abstrak, dan mulai menumbuhkan kecakapan-kecakapan seperti berpikir logis, menggunakan pertimbangan deduktif, dan mengadakan perencanaan yang sistematis.

 Berdasarkan pembagian tahap-tahap perkembangan kognitif (kemampuan berpikir atau pengertian) tersebut di atas kita mungkin dapat menyusun pendekatan-pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk mengajar tentang injil kepada anak-anak sesuai dengan usia mereka.

 "Anak-anak kecil dapat menjadi orang-orang Kristen, mendapat pengalaman sesuai dengan umur mereka. Mereka perlu dididik dalam perkara-perkara rohani, dan orangtua harus memberi mereka setiap kesempatan agar mereka bisa membentuk tabiat yang serupa dengan tabiat Kristus...Para ibu dan ayah harus memandang anak-anak mereka sebagai anggota keluarga Tuhan yang lebih muda, menyerahkan mereka untuk dididik bagi surga" [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat pertama].

 "Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!" (Mzm. 144:12).
   DAFTAR PUSTAKA:
1.   Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.
2.   Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.