Jumat, 14 Februari 2014

6. SURGA UNTUK ORANG-ORANG BIASA.


 

"MEMURIDKAN ORANG BIASA"

PENDAHULUAN

 Jangan memandang muka. Banyak orang senang berada dekat dengan orang yang dianggap penting. Sebagaimana kita tahu, ukuran sekuler untuk orang "penting" adalah dari kalangan pejabat, berpangkat, terkenal, kaya, dan sebagainya. Sangat mudah untuk mengenali orang-orang penting menurut ukuran duniawi seperti itu. Bisa dibayangkan bagaimana sambutan jemaat kalau satu orang penting sekonyong-konyong muncul di gereja kita dalam acara kebaktian. Disediakan tempat duduk khusus di deretan paling depan, didampingi, diajak ngobrol, dan sebagainya. Wajar.

 Kalau dikunjungi oleh orang-orang penting saja sudah begitu membanggakan, apalagi kalau di antara jemaat kita sendiri ada anggota-anggota dari kalangan orang penting. Karena itu kita sangat senang jika berhasil menarik jiwa dari "golongan atas," seolah-olah merasa jiwa-jiwa seperti itu lebih berkualitas dibanding jiwa-jiwa dari kalangan orang kebanyakan. Saya teringat seorang pendeta yang secara terbuka mengungkapkan kebanggaannya melihat halaman gereja yang bertebaran dengan mobil-mobil mewah milik para anggota jemaat. Untuk ukuran di tanah air pada tahun 1980-an, ketika banyak orang masih mengandalkan kendaraan umum seperti angkutan kota (angkot) sebagai moda transportasi keluarga, banyaknya mobil pribadi parkir di halaman menunjukkan bahwa gereja itu "berkelas."

 "Tidak demikian dengan Yesus yang melihat kesia-siaan dan kehampaan dari kebesaran dan kehormatan duniawi. Bahkan, dalam banyak kasus, orang-orang yang sangat sukses--seperti kaum Farisi yang kedudukannya menyenangkan, golongan Saduki yang kaya, dan bangsawan Romawi--itulah yang paling menyusahkan Dia. Sebaliknya, orang-orang 'biasa'--para tukang kayu, nelayan, petani, ibu rumahtangga, gembala, serdadu, dan hamba--yang pada umumnya mengerumuni dan menerima Dia" [alinea kedua].

 Pemuridan yang diajarkan Yesus Kristus tidak mengenal diskriminasi dalam bentuk dan manifestasi apapun, karena dalam pemandangan Allah semua manusia adalah sederajat dan sama-sama adalah calon warga surga, "sebab Allah tidak memandang muka" (Gal. 2:6). Tetapi mata manusiawi kita terlalu gampang untuk menjadi silau melihat jiwa-jiwa yang kelihatannya memiliki atribut-atribut kesuksesan duniawi, akibatnya kita mudah terjebak ke dalam sikap memandang muka. "Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka" (Ef. 6:9).

1. BERTUMBUH DALAM KESEDERHANAAN (Permulaan yang Rendah Hati)

    Hidup sebagai orang miskin. Pernahkah anda bertanya-tanya, apa sebabnya Allah menghendaki Yesus Kristus lahir dari orangtua yang miskin seperti Yusuf dan Maria, bukan dari keluarga kaya atau bangsawan supaya menyediakan latar belakang yang lebih berpengaruh di mata masyarakat? Tentu saja Yesus dilahirkan dalam keluarga sederhana bukan karena sasaran utama dari missi keselamatan-Nya adalah orang-orang miskin dan rakyat jelata saja, sehingga dengan menjadi orang miskin Yesus akan lebih mudah menjangkau dan diterima di kalangan orang-orang biasa. Injil keselamatan Kristus mengandung kuasa ilahi dan tidak membutuhkan penguatan bersifat duniawi apapun agar diterima oleh manusia.

    Fakta bahwa orangtua Yesus hanya sanggup menyediakan "sepasang burung tekukur dan dua ekor anak merpati" (Luk. 2:24) sebagai persembahan penyerahan anak atas kelahiran Yesus, suatu bentuk persembahan paling murah yang ditentukan oleh Kitabsuci orang Ibrani (Im. 12:8), menunjukkan kemiskinan keluarga Yesus. Tampaknya hadiah-hadiah berharga yang dulu dipersembahkan oleh orang-orang majus dari Timur (Mat. 2:11) sudah habis untuk bekal hidup ketika mereka harus melarikan diri ke Mesir karena Herodes hendak membunuh bayi Yesus (Mat. 2:13-15). Seperti yang Yesus katakan kepada seorang ahli Taurat yang ingin mengikuti Yesus ke mana saja, bahwa bantal untuk tidur pun Dia tidak punya (Mat. 8:19-20).

    "Tekukur dan merpati dapat menggantikan karena keadaan yang sederhana. Jadi sejak awal--dari kelahiran-Nya di palungan sampai persembahan yang diberikan oleh orangtua-Nya--Yesus digambarkan sebagai sudah menanggung kemanusiaan-Nya dalam keluarga orang 'biasa' dan miskin" [alinea kedua:dua kalimat pertama].

 Kemiskinan yang membawa hikmah. 
    Sewaktu memuji kedermawanan jemaat di Korintus yang dengan murah hati membawa persembahan bagi pekerjaan injil, rasul Paulus menulis: "Sebab kalian mengetahui betul bahwa kita sangat dikasihi oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Ia kaya, tetapi Ia membuat diri-Nya menjadi miskin untuk kepentinganmu, supaya dengan kemiskinan-Nya itu, kalian menjadi kaya" (2Kor. 8:9, BIMK; huruf miring ditambahkan). Seperti pernah saya katakan, penjelmaan Yesus bersifat totalitas, termasuk hidup sebagai orang miskin di atas dunia ini padahal Ia datang dari istana surga dan menguasai seluruh alam semesta.

 Sebagaimana Kristus membungkus keilahian-Nya dengan kemanusiaan, demikianlah Ia membungkus kekayaan-Nya dengan kemiskinan. Sebagaimana dengan menjadi seperti manusia Yesus tidak kehilangan keilahian-Nya, dengan menjadi miskin Ia tidak kehilangan kekayaan-Nya. Tidak seperti orang-orang kaya yang sangat takut kalau menjadi miskin, Yesus rela hidup di dunia ini sebagai orang miskin tanpa merasa takut akan kehilangan kekayaan-Nya.

 Pena inspirasi menulis: "Kristus melewatkan rumah-rumah orang kaya, istana-istana bangsawan, kedudukan-kedudukan terpelajar yang masyur, dan menjadikan Nazaret yang gelap dan hina sebagai rumah-Nya. Kehidupan-Nya, dari permulaan sampai akhir, adalah sebuah kehidupan kerendahan hati dan sederhana. Kemiskinan menjadi kudus oleh hidup-Nya yang miskin. Ia tidak akan mengenakan kemuliaan sikap yang bakal menghalangi pria dan wanita, serendah apapun, untuk datang ke dalam hadirat-Nya dan mendengar pengajaran-Nya" (Ellen G. White, Signs of the Times, 7 Juni 1905; huruf tebal ditambahkan).

 Apa yang kita pelajari tentang kehidupan Yesus yang diawali dalam kemiskinan?

1. Sekiranya Yesus dalam penjelamaan-Nya telah dilahirkan sebagai orang kaya atau dalam keluarga bangsawan, rakyat jelata dan orang-orang biasa akan sulit mendekati-Nya. Mungkin Yesus hanya akan berkhotbah di ruang utama kaabah Yerusalem, di istana, atau di rumah-rumah orang kaya yang tertutup untuk umum.

2. Hidup Kristus yang miskin justeru membawa hikmah bagi semua manusia, khususnya masyarakat kalangan bawah yang lebih memerlukan pelayanan-Nya. Yesus bahkan menjadi lebih peka terhadap orang-orang miskin yang tulus seperti ditunjukkan-Nya terhadap persembahan seorang perempuan janda (Mrk. 12:41-44).

3. Yesus terbiasa dengan lingkungan miskin seperti di Betania (dalam bahasa Aram berarti "gubuk derita"), di rumah penderita kusta bernama Simon (Mrk. 14:3), tempat di mana Dia sering beristirahat dan mengasingkan diri (Mat. 21:17; Mrk. 11:11). Keakraban Yesus dengan kemiskinan membuat kemiskinan itu hal yang sakral.

2. YESUS MENGUBAH SITUASI (Mengubah yang "Biasa")

 Merasa seperti orang miskin. Seseorang pernah membuat kategori manusia berdasarkan status sosial-ekonomi seperti ini: Orang yang miskin dan jelata setiap hari bertanya, Besok mau makan apa? Orang yang berkecukupan dan punya jabatan setiap hari bertanya, Besok mau makan di mana? Orang yang kaya dan berkedudukan tinggi setiap hari bertanya, Besok mau makan dengan siapa? Orang yang kaya raya dan berkuasa setiap hari bertanya, Besok mau makan siapa? Tentu saja penggolongan tersebut bersifat satiris (menyindir) meski berdasarkan pengamatan empiris (pengalaman) seringkali ada benarnya.

    Sebagai manusia seutuhnya yang memiliki cipta, rasa dan karsa (kesanggupan akal, perasaan, dan kemauan; kerap disebut Tridaya) setiap orang mempunyai hasrat-hasrat alami yang umum dan sama. Namun kebersamaan hasrat itu tampaknya lebih terbuka di kalangan "masyarakat bawah" yang miskin dan sederhana cara berpikirnya ketimbang di antara "masyarakat atas" yang kaya dan berpikiran kompleks. Masyarakat dari strata sosial bawah ini--dalam sosiologi disebut kaum proletar--lazimnya memiliki ikatan emosional yang kuat, berbeda dengan masyarakat dari strata sosial atas--sering disebut kaum borjuis--yang biasanya lebih tertutup dan berpikiran individualistik karena mampu mandiri.

 "Orang-orang 'biasa' mempunyai kesamaan keinginan-keinginan jasmani, emosi, dan sosial yang alamiah. Mereka menginginkan makanan jasmani, pengakuan pribadi, dan persahabatan. Yesus mengerti ciri-ciri sifat ini dan menempatkan diri-Nya dalam situasi-situasi sosial yang menyediakan peluang untuk menjangkau orang-orang melalui keinginan-keinginan bersama ini" [alinea pertama].

    Kepedulian Yesus terhadap kekurangan. Pesta kawin di Kana, Galilea di mana Yesus dan murid-murid hadir dan mengadakan mujizat-Nya yang pertama itu tampaknya bukan sebuah pesta kalangan miskin, terbukti dari banyaknya undangan yang datang termasuk tamu-tamu dari kampung lain sehingga persediaan minuman anggur habis. Mungkin itu kesalahan perhitungan pihak katering, atau karena keluarga pengantin menyebarkan undangan lebih banyak dari hidangan yang disediakan. Pada zaman itu minuman anggur merupakan sajian utama dari sebuah pesta kawin, maka kekurangan persediaan minuman anggur adalah sebuah social faux pas (baca: fau pa), yaitu "musibah sosial" yang sangat memalukan.

    Perlu dicatat bahwa Yesus secara "terpaksa" mengadakan mujizat perdana untuk mengubah air biasa menjadi minuman anggur, yang lezat pula. "Saat-Ku belum tiba," kata Yesus (Yoh. 2:4). Meskipun waktu-Nya belum sampai untuk melakukan mujizat, Yesus tidak terlalu kaku terhadap timeline dan tidak peduli dengan keadaan yang mendesak. Karena rasa belas kasihan-Nya terhadap keluarga pengantin yang akan memikul aib sepanjang hidup kalau sampai tamu-tamu tidak kebagian air anggur untuk bisa minum sampai puas, maka Yesus "melanggar jadwal" dan mengadakan mujizat itu. Di sini kita melihat kepedulian Yesus yang tinggi terhadap kekurangan dan kebutuhan manusia yang mendesak. Bagi para tamu di pesta kawin ini minuman anggur hanyalah untuk kepuasan selera, tetapi bagi keluarga pengantin suguhan minuman itu penting sebab dapat mengakibatkan masalah psikologis berkepanjangan jika tidak tertanggulangi.

 Sebagaimana Yesus sudah mengubah air biasa menjadi minuman anggur yang paling lezat, demikianlah Yesus telah dan akan selalu mengubah "orang-orang biasa" di mata dunia menjadi orang-orang yang luar biasa dalam pemandangan surga. "Yesus sangat sering mencari orang-orang yang dianggap orang biasa karena kekurangan sumberdaya pribadi, mereka disiapkan untuk bergantung sepenuhnya pada Allah demi keberhasilan mereka...Namun ingat, mereka adalah orang-orang biasa--para petani, nelayan, tukang kayu, gembala, tukang keramik, ibu rumahtangga, hamba--yang telah diubah menjadi saksi-saksi yang luar biasa bagi Kristus" [alinea terakhir: kalimat pertama dan kalimat terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang mengubah orang biasa menjadi luar biasa?

1. Kemiskinan hampir selalu diidentikkan dengan kebodohan, orang-orang "biasa" yang lemah dan karena ketidakberdayaan mereka sering dimanfaatkan bahkan "dimangsa" oleh orang-orang yang nasibnya lebih beruntung. Tetapi kepada orang-orang biasa itulah Yesus menunjukkan kepedulian-Nya.

2. Allah tidak menilai manusia berdasarkan kekayaan maupun kepintaran mereka, tetapi Tuhan menilai manusia menurut ketulusan hati mereka. Allah lebih peduli kepada orang-orang biasa yang berhati tulus dan menunjukkan kebaikan-Nya kepada mereka.

3. Sebagaimana Tuhan memperlakukan umat-Nya dengan tidak memandang muka, umat-Nya pun harus memperlakukan sesamanya tanpa memandang muka. "Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran" (Yak. 2:9).

3. YESUS MEMILIH ORANG BIASA (Panggilan Kepada Nelayan yang Penuh Kekurangan)

 Berubah oleh pengalaman rohani. Petrus adalah murid Yesus yang temperamental dan spontanitas, namun dia berhati tulus dan terbuka. Petrus yang nama aslinya Simon adalah saudara dari Andreas, seorang yang tadinya adalah murid dari Yohanes Pembaptis tapi kemudian menjadi pengikut Kristus ketika Yesus memanggil kedua bersaudara ini sewaktu mereka sedang menjala ikan di danau Galilea (Mat. 4:18-20). Belakangan Yesus mengubah nama Simon menjadi Kefas, sebuah nama yang dalam bahasa Aram artinya "batu karang." Dalam bahasa Grika, kata untuk "batu" atau "batu karang" ialah Πέτρος, Petros. Satu-satunya orang yang bernama Petrus dalam Alkitab adalah murid terdekat Yesus ini.

 "Dalam Perjanjian Baru, Petrus menonjol sebagai seorang yang paling berpengaruh di antara semua murid-murid. Bahkan, pada akhirnya dia menjadi orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Ini berbicara perihal mengubah 'orang biasa' menjadi orang yang luar biasa!" [alinea pertama].

 Mengapa Petrus yang hanya seorang nelayan biasa bisa berubah menjadi seorang yang paling berpengaruh? Bukan karena Petrus adalah seorang yang berpembawaan karismatik dan berjiwa pemimpin, melainkan karena dia telah berubah melalui pengalaman rohaninya bersama Yesus, di antaranya melalui pelajaran berharga ketika sedang menjala ikan di danau Genesaret. Malam itu tak satupun ikan yang berhasil ditangkap meski mereka sudah bekerja semalaman, dan berdasarkan pengalaman berarti malam itu bukan waktu yang tepat untuk mencari ikan. Mereka sudah kembali ke tepi danau dan bersiap hendak pulang ketika Yesus muncul dan menyuruh mereka mendorong perahu kembali ke tengah danau. Meskipun sempat membantah tapi akhirnya dia turuti juga kata Gurunya itu, dan kita tahu hasilnya berlimpah secara mencengangkan.

 Mungkin dalam hatinya Petrus menggerutu, saya sudah lelah melaut sepanjang malam, dan jala-jalanya sekarang sudah dicuci dan dibereskan, apa gunanya berlayar ke tengah danau lagi yang sudah pasti tidak akan ada hasilnya? Dalam soal menangkap ikan, Yesus yang berlatar belakang anak tukang kayu ini tahu apa dibandingkan dengan saya yang sejak muda berpengalaman sebagai nelayan? Barangkali dia menuruti kata Yesus hanya untuk menunjukkan bahwa usaha ini akan sia-sia (Luk. 5:5). Tetapi apa yang terjadi membuktikan bahwa Yesus sungguh Anak Allah, bukan sekadar anak tukang kayu yang miskin. Dalam ketakjubannya, Petrus akhirnya berkata kepada Yesus: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa" (ay. 8).

 Dipanggil dan diubahkan. Selain sebagai mantan nelayan, kita tidak tahu apa-apa lagi mengenai latar belakang sosial Petrus. Namun latar belakang tidak penting bilamana seseorang menerima panggilan Yesus untuk mengikut Dia, sebab Yesus akan mengubah seseorang yang dipanggil untuk disiapkan dan diperlengkapi bagi pekerjaan-Nya. Ketika Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya dan meminta informasi dari mereka tentang penilaian masyarakat tentang siapakah diri-Nya, semua menyatakan sesuai dengan apa yang mereka dengar. Namun tatkala Yesus meminta pendapat dari murid-murid itu sendiri mengenai diri-Nya, sementara yang lain masih dalam keragu-raguan, Petrus langsung menjawab dengan tandas: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat. 16:16). Tetapi bukan ketegasan Petrus yang Yesus puji, melainkan keterbukaan hatinya yang mau mendengar bisikan Roh Allah. Kata Yesus kepada Petrus, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga" (ay. 17).

 "Tidak disangsikan bahwa Yesus menghabiskan banyak waktu dengan Petrus, dan Petrus memiliki banyak pengalaman yang dahsyat dengan Dia. Meskipun hanya seorang nelayan biasa dengan banyak kesalahan, melalui waktunya bersama Yesus, Petrus diubahkan secara radikal--bahkan sesudah berbuat beberapa kesalahan yang memilukan, termasuk menyangkal Yesus tiga kali persis seperti yang Yesus katakan sebelumnya" [alinea kedua].

 Apa yang kita pelajari tentang Petrus dan perubahannya?

1. Seperti Petrus, banyak orang mungkin dilahirkan dengan ciri-ciri tabiat seorang pemimpin. Tegas, berani, berpendirian, karismatik, dan tanggap. Tetapi dalam pelayanan pekerjaan Tuhan semua sifat-sifat itu hanya berguna sebagai pendukung, pemimpin rohani adalah seorang yang telah diubahkan oleh Tuhan.

2. Perubahan dalam diri Petrus bukan hasil pendidikan seminari, tapi hasil pengalaman rohani yang dialami dari hari ke hari bersama Yesus. Allah memanggil orang-orang biasa untuk diubahkan melalui proses pembelajaran dalam pelatihan iman dan kerendahan hati.

3. Yesus adalah Guru dan Teladan umat-Nya sepanjang zaman. Yesus sudah menjadi Guru dan Teladan bagi murid-murid-Nya pada zaman dulu secara pribadi, Dia juga tetap menjadi Guru dan Teladan anda dan saya sebagai murid-murid pada masa kini. Sebagaimana Yesus sudah mengubah Petrus dkk, Dia juga ingin mengubah kita.

4. ANDA DAN SAYA DI MATA TUHAN (Evaluasi Surgawi)

 Tak ada perbedaan. Dalam bukunya berjudul De l'égalité des races humaines (Tentang kesetaraan ras manusia), terbit tahun 1885, Joseph Anténor Firmin (1850-1911), seorang politikus, pakar hukum, dan antropolog kelahiran Haiti, antara lain menulis: "Semua manusia dianugerahi dengan keunggulan-keunggulan yang sama dan kekurangan-kekurangan yang sama, tanpa perbedaan warna kulit atau bentuk anatomis. Semua ras adalah sederajat." (hal. 450). Akibat terbitnya buku itu cendekiawan berkulit hitam ini sempat dikucilkan karena pada waktu itu pendapatnya dianggap terlalu radikal. Belakangan, sejalan dengan reformasi kemanusiaan yang ditandai dengan penghapusan perbudakan dan gerakan persamaan hak kulit berwarna di AS dan Eropa, publik mengakui kebenaran pandangannya.

    Alkitab mencatat bahwa ketika Allah menciptakan manusia satu-satunya perbedaan adalah soal jender atau jenis kelamin, tetapi secara umum nenek moyang pertama manusia itu sama-sama menyandang rupa Allah. "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" (Kej. 1:27). Empat ribu tahun kemudian, di bawah tuntunan Roh Allah, rasul Petrus mengeluarkan pernyataan ini: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang" (Kis. 10:34-36; huruf miring ditambahkan).

 "Tidak mengherankan, Yesus menjangkau massa dengan ilustrasi-ilustrasi biasa dan pembicaraan yang mudah. Tak ada dalam sikap-Nya yang menunjukkan bahwa ada seseorang yang dikecualikan dari perhatian-Nya. Para penggalang murid moderen juga harus berhati-hati agar tidak memberi kesan bahwa mereka memperlakukan sebagian orang lebih mulia daripada yang mereka lakukan pada orang-orang lain dalam hal jangkauan keluar" [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

 Yesus mati bagi semua orang. Allah yang pada mulanya telah menciptakan manusia sama dan sederajat, Allah yang sama itulah yang mempedulikan semua manusia dengan perhatian yang sama. Di mata Allah manusia yang lebih berharga dari burung pipit itu kehidupannya dipelihara (Luk. 12:6-7), tetapi di mata Allah yang sama itu juga semua manusia yang berbuat dosa dan tidak bertobat akan dibinasakan (Luk. 13:1-5). Allah yang memelihara kehidupan burung-burung dan mendandani bungka bakung serta rumput di padang (Mat. 6:25-30), namun Allah itu juga tidak menyayangkan malaikat-malaikat sekalipun yang berbuat dosa dan melemparkan mereka ke neraka (2Ptr. 2:4).

 Yesus menyerahkan diri-Nya dan mati sebagai Penebus untuk semua manusia tanpa peduli latar belakang, ras, dan status sosial mereka (1Tim. 4:10; 1Tim. 2:6). "Salib membuktikan, dalam cara yang tidak bisa kita coba pahami, 'nilai yang tak terhingga' (meminjam frase yang Ellen G. White banyak kali gunakan) dari setiap manusia, terlepas dari statusnya dalam kehidupan--sebuah status yang seringkali tidak lebih dari rekaan manusia berdasarkan konsep dan ciri yang tak berarti di surga, atau bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip surga itu sendiri" [alinea terakhir: kalimat terakhir].

 Pena inspirasi menulis: "Yesus mempedulikan setiap orang seakan-akan tidak ada orang lain di muka bumi ini. Sebagai Tuhan, Ia menggunakan kuasa yang besar demi kita, sementara sebagai Saudara Sulung Ia merasakan segala dukacita kita. Pangeran surga itu tidak menjauhkan diri-Nya dari manusia yang hina dan berdosa. Kita tidak mempunyai seorang imam besar yang terlalu besar dan terlalu ditinggikan sehingga Ia tidak dapat memperhatikan kita atau bersimpati dengan kita, melainkan seorang yang dalam segala hal digoda sama seperti kita, namun tanpa dosa" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 5, hlm. 346-347).

 Apa yang kita pelajari tentang penilaian surga terhadap setiap manusia?

1. Pada mulanya Allah menciptakan manusia sederajat, dalam keserupaan dan kesempurnaan bentuk, tetapi dosa membuat manusia jadi berbeda-beda seperti sekarang. Sekalipun keadaan manusia beraneka ragam, Allah tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan keadaan jasmaniah mereka.

2. Yesus datang ke dunia ini untuk mati sebagai Penebus bagi semua manusia, karena itu Ia menghendaki injil keselamatan itu juga menjangkau semua orang agar seluruhnya mendapat kesempatan yang sama untuk bertobat dan selamat.

3. Allah tidak menilai manusia berdasarkan penampilan lahiriah seseorang, tetapi berdasarkan kesetiaan dan ketulusan hati. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (1Sam. 16:7).

5. KESETARAAN MANUSIA (Sebuah Masyarakat Tanpa Kelas)

 Dipersatukan oleh Injil Kristus. Dalam Kekristenan dikenal apa yang disebut "Egaliterianisme Kristen" atau paham kesetaraan alkitabiah (biblical equality), sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa manusia diciptakan sama dan sederajat dalam pemandangan Tuhan. ("Egaliter" adalah kata serapan dari bahasa Prancis, égal, artinya "sama" atau "sederajat.") Kesetaraan di sini meliputi semua aspek, termasuk jender dan ras maupun kelas sosial, tetapi terutama kesetaraan dalam hal tanggungjawab untuk menggunakan setiap talenta dan karunia Tuhan demi kemuliaan Allah maupun dalam hal pelayanan bagi semua manusia tanpa pilih buluh. Salah satu dasar alkitabiah dari doktrin ini berpangkal pada ajaran Rasul Paulus dalam Galatia 3:26-28. Paham lainnya adalah "Komplementarianisme" yang mengajarkan bahwa sementara kita sebagai satu umat adalah sama dalam pemandangan Tuhan, masing-masing orang berbeda dalam hal talenta dan karunia sehingga dengan demikian memiliki tanggung jawab dan peran yang berbeda pula, namun semuanya saling melengkapi. Pandangan ini berdasarkan pada ajaran Rasul Paulus dalam 1Korintus 12:4-12.

 Perbedaan-perbedaan acapkali menghasilkan berbagai prasangka di antara manusia, termasuk di kalangan umat percaya sekalipun. Perbedaan ras dan budaya sering menimbulkan sikap keunggulan, perbedaan tingkat sosial dan ekonomi kerap melahirkan rasa curiga, perbedaan tingkat pendidikan dan kecerdasan terkadang mengakibatkan salah pengertian, perbedaan jender banyak kali menumbuhkan cara berpikir yang dikotomis, dan sebagainya. Tetapi di dalam sifat Kristus kita dipersatukan dan tidak mengenal perbedaan. Seperti kata rasul Paulus, "Kalian semuanya sudah dibaptis atas nama Kristus, jadi kalian sudah menerima pada diri kalian sifat-sifat Kristus sendiri. Dalam hal ini tidak lagi diadakan perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, antara hamba dan orang bebas, antara laki-laki dan perempuan. Saudara semuanya satu karena Kristus Yesus" (Gal. 3:27-28, BIMK).

 "Mungkin ciri yang secara sosial paling menarik dari Kekristenan primitif adalah tidak adanya perbedaan kelas. Tembok-tembok pemisah sudah diruntuhkan di bawah kepentingan injil. Orang biasa menang melalui Kristus. Kristus mengubah orang biasa menjadi orang yang luar biasa...Pada kenyataannya, masyarakat Kristen telah menjadi sebuah masyarakat tanpa kelas" [alinea pertama: empat kalimat pertama dan kalimat terakhir].

 Universalitas, bukan universalisme. Berkaitan dengan Kekristenan kita membedakan antara "universalitas" dengan "universalisme." Universalisme Kristen adalah pandangan yang mengajarkan bahwa semua orang pasti selamat karena Allah yang maha kasih itu tidak akan tega membinasakan manusia, karena Yesus sudah mati di kayu salib untuk menebus dosa semua manusia, sebuah doktrin yang tidak berdasarkan pengajaran Alkitab yang seutuhnya. Sedangkan universalitas adalah suatu keadaan yang bersifat kesemestaan, atau kehadiran di mana-mana. Jadi, bilamana kita berbicara tentang "universalitas Kristen" itu berarti sebuah usaha untuk menghadirkan Kekristenan di mana-mana di seluruh muka bumi ini, yaitu program penginjilan semesta seperti yang kita telah dan sedang jalankan selama ini sebagai implementasi dari perintah Yesus dalam Matius 28:19-20 dan Markus 16:15-16.

 Berdasarkan pandangan Kristen bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah, dan bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus dan diselamatkan oleh iman, penginjilan semesta harus menjadi kepedulian setiap orang Kristen. Injil keselamatan harus dibagikan secara merata, dikumandangkan di segala tempat, dan menjangkau setiap orang tanpa membeda-bedakan kelas dan latar belakangnya.

 Pena inspirasi menulis: "Tidak ada perbedaan atas dasar kebangsaan, ras, atau kasta yang diakui oleh Allah. Ia adalah Pencipta seluruh umat manusia. Semua orang adalah satu keluarga oleh penciptaan, dan semua adalah satu melalui penebusan. Kristus sudah datang untuk menghancurkan tiap dinding pemisah untuk membuka lebar setiap bagian bait suci supaya setiap jiwa bisa memperoleh jalan masuk yang bebas kepada Allah. Kasih-Nya begitu luas, begitu dalam, dan begitu penuh yang menembus ke mana-mana" (Ellen G. White, Christ's Object Lessons, hlm. 386).

 Apa yang kita pelajari tentang Kekristenan dan doktrin masyarakat tanpa kelas?

1. Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama dan sederajat dalam pemandangan Tuhan, itulah sebabnya Kekristenan tidak mengenal atau mempraktikkan pembedaan manusia. Semangat kesetaraan ini harus kita praktikkan di dalam gereja lebih dulu, baru kita dapat mempraktikkannya di luar gereja.

2. Allah tidak mengenal perbedaan manusia, tetapi Ia menandai perbedaan kepribadian dan keunikan manusia. Sebagai orang Kristen kita mendukung kesederajatan manusia di mata Tuhan, tetapi kita pun mengakui perbedaan-perbedaan pendapat, sifat, watak, selera, talenta dan karunia setiap orang.

3. Kesetaraan tidak sama dengan penyamarataan. Sementara peluang untuk selamat adalah hak semua orang, keselamatan itu sendiri merupakan pilihan pribadi. Kita harus menginjil kepada semua orang di mana saja, tetapi kita tidak dapat paksakan dengan cara apapun dan terhadap siapapun untuk menerima injil.

PENUTUP

 Penginjilan oleh semua orang Kristen. Sesaat sebelum kembali ke surga Yesus mengamanatkan kepada kesebelas murid-Nya, "Pergilah ke seluruh dunia dan siarkanlah Kabar Baik dari Allah itu kepada seluruh umat manusia" (Mrk. 16:15, BIMK). Perintah itu sesungguhnya ditujukan juga kepada murid-murid-Nya di seluruh dunia pada setiap zaman, siapapun mereka. Penginjilan harus dilakukan kepada semua orang, oleh semua orang Kristen. Pemuridan untuk semua, dan semua untuk pemuridan.

 "Pada penutupan pekerjaan injil ini ada ladang luas yang harus dikerjakan; dan lebih daripada sebelumnya, pekerjaan itu memerlukan pembantu-pembantu dari kalangan orang biasa...Banyak dari antara mereka ini hanya memiliki sedikit kesempatan memperoleh pendidikan; tetapi Kristus melihat dalam diri mereka kemampuan-kemampuan yang akan menyanggupkan mereka memenuhi maksud-Nya. Kalau mereka menyerahkan hati mereka kepada pekerjaan itu dan terus-menerus belajar, Ia akan melayakkan mereka untuk bekerja bagi Dia" [kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

 "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah" (1Kor. 1:27-29).

DAFTAR PUSTAKA:

 1.   Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.

2.   Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.

 

Jumat, 07 Februari 2014

6. Memuridkan Orang Biasa.


1.   Pelajaran kita adalah tentang pelayanan Yesus dan memuridkan orang-orang “biasa”.  Ada banyak cerita tentang pelayanan-Nya kepada : nelayan, petani, ibu rumah tangga, gembala, tentara, dan bahkan hamba.  Mengapa Yesus tampaknya FOKUS pada orang-orang itu daripada kepada para pemimpin Yahudi?.  Bukankah lebih baik jika Yesus telah menobatkan pemimpin-pemimpin Yahudi itu, dengan demikian banyak orang  yang akan mengikuti mereka pula dan kemudian menjadi murid/pengikut YESUS?.

2.   Bukankah seharusnya Yesus lahir di istana kerajaan sehingga ia dengan segera diakui otoritasnya/memiliki otoritas.  Atau seperti di jalan menuju Emaus, apakah Yesus ingin menarik alasan dan logika(reason and logic) daripada otoritas? (Lukas 24:13-35).  Dia ingin agar setiap individu diyakinkan untuk dirinya sendiri.

·         Apa sebabnya Allah menghendaki Yesus Kristus lahir dari orangtua yang miskin seperti Yusuf dan Maria, bukan dari keluarga kaya/bangsawan supaya menyediakan latar belakang yang berpengaruh dimata masyarakat?.  Bukan karena sasaran utama dari Misi Keselamatan-Nya adalah orang-orang miskin dan rakyat jelata dan supaya lebih mudah menjangkau dan diterima dikalangan orang-orang biasa.  Injil keselamatan Yesus Kristus mengandung KUASA Ilahi dan tidak membutuhkan penguatan bersifat duniawi apapun agar diterima manusia.

3.   Baca Lukas 2:21-28; Matius 13:53-58; Markus 6:2-4 dan Imamat 12:8.  Ayat-ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Yesus dilahirkan dalam keluarga seorang tukang kayu miskin.  Mereka bahkan tidak mampu membeli se-ekor domba untuk dipersembahkan sebagai kurban untuk merayakan kelahiran Raja Semesta Alam!,  Bayangkan, Ia lahir sebagai manusia dan orang tua-Nya sebagai manusia hanya mempersembahkan se ekor burung dara.  Orang tua Yesus adalah MISKIN, dan tergantung pada kerja keras mereka sehari-hari.  DIA AKRAB dengan kemiskinan (familiar with poverty), penyangkalan diri dan penderitaan.  Pengalaman ini adalah suatu pelindung bagi-Nya (a safeguard to Him).  Dalam kehidupan-Nya yang rajin –tidak ada saat-saat menganggur untuk mengundang godaan”. (D.A. hal.72/Alfa dan Omega Jld.5 hlm.62….(Lihat Pel.Minggu)

4.   Hal ini diluar pemahaman kita untuk berpikir bahwa pencipta seluruh alam semesta akan memilih untuk menjadi manusia dan tidak hanya itu, tetapi juga untuk lahir sebagai bayi di kandang –dibaringkan dalam palungan—tempat makan untuk sapi dan keledai.  Bagaimana itu mempengaruhi kita.

·         Matius 8:19-20 –Bantal untuk tidur pun, Dia tidak punya.

·         E.G. White, Signs of the times, 7 Juni 1905: “Kristus…menjadikan Nazaret yang gelap dan hina sebagai rumah-Nya.  Kehidupan-Nya, dari permulaan sampai akhir adalah sebuah kehidupan kerendahan hati dan sederhana.  Kemiskinan menjadi kudus oleh hidup-Nya yang miskin”.

5.   Baca Yohanes 2:1-11 dan Matius 15:32-39.  Ada beberapa pelajaran yang dapat kita pelajari dari 2 cerita ini.  Pada mujizat di pesta perkawinan di Kana, berada di rumah seorang kerabat yang menikah.  Saat itu Yusuf telah meninggal.  Maria secara alami berbalik kepada Yesus setiap kali ada sesuatu masalah.  Yesus tidak membuat suatu pertunjukan besar dari apa yang akan Ia lakukan, tetapi Dia hanya mengatakan kepada petugas untuk mengisi WADAH penyimpanan yang digunakan untuk upacara pembersihan/penyucian, masing-masing dengan 100 liter air –jadi semua berjumlah 600 liter.  Kemudian mereka membawanya kepada kepala pesta (to the head of the feast).  Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa dalam kedua mujizat ini(Lihat fasal diatas) ---Yesus memberi makan orang-orang itu dengan makanan/minuman biasa yang mereka terbiasa.  Tentu saja Dia menyediakan minuman yang terbaik dan ikan serta roti yang terbaik.

·         Kekurangan persediaan minuman anggur di pesta—merupakan Social Faux Fas = musibah social.

·         Sebagaimana Yesus sudah mengubah air biasa menjadi minuman anggur yang paling lezat, demikianlah Yesus telah dan akan selalu mengubah “orang-orang biasa” di mata dunia menjadi orang-orang yang luar biasa dalam pemandangan surga.

6.   Kisah tentang memberi makan 4000 orang (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) telah dilakukan sebelumnya.  Baca Matius 8:28-34; Markus 5:1-20 dan Lukas 8:26-39.   Yesus menyeberangi danau Galilea dengan perahu hanya untuk mencapai daerah Gerasa, Gadara atau Gergesa.  Seperti kita ketahui, Ia menyembuhkan seorang atau mungkin 2 orang yang kerasukan setan dan mengusir setan itu kepada 2000 babi yang akhirnya tenggelam di laut Galilea.  Di wilayah itu Dia hanya dalam waktu singkat karena Ia diminta segera meninggalkan tempat itu.  Orang yang di rasuk setan itu tadinya ingin ikut dengan Yesus, tetapi Yesus mengutus mereka ke rumah tangga mereka dan agar menceritakannya kepada orang lain apa yang terjadi kepada mereka.   Ketika Yesus kembali ke wilayah itu beberapa bulan kemudian, ribuan orang keluar untuk melihat-Nya untuk mengetahui apakah Dia benar-benar bisa melakukan.  Adalah menarik untuk mengetahui bahwa  orang yang tadinya kerasukan setan ini telah menjadi Missionaris Pertama yang telah dikirim Yesus ke wilayah Kafir (Dekapolis).

7.   YESUS sebelumnya telah memberi makan 5000 orang Yahudi karena mereka sedang dalam perjalanan mereka untuk perayaan Paskah (Lihat YOHANES 6).  Ketika mereka makan dari 5 roti dan 2 ikan, para murid telah mengumpulan masih sisa 12 bakul/keranjang penuh.  Ketika Dia selesai memberi makan 4000 orang (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) di daerah Dekapolis, Dia telah mengumpulkan 7 bakul makanan untuk memberi makan “Tujuh bangsa Kanaan”).

8.   Baca Markus 1:16-20, bandingkan dengan Yohanes 1:35-42.  Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes telah mengenal Yesus.   Yakobus dan Yohanes telah berhubungan dengan Dia—dari sejak tahun 27 AD – 29 AD.  Mereka telah mengikut Dia setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan.  Namun waktunya telah tiba bagi mereka untuk mengambil peran yang lebih dalam dan lebih lengkap dalam pekerjaan Yesus.

9.   Ketika Yesus berjalan disepanjang pantai, 4 orang dari mereka bersama ayah Yakobus dan Yohanes sedang membersihkan jala mereka setelah menjala sepanjang malam.  E.G. White mengatakan (D.A. 246:5 – 249) bahwa mereka berbicara malam itu tentang prospek mereka jika mereka menggabungkan diri kepada pelayanan Yesus.  Yohanes Pembaptis baru saja ditangkap dan dipenjarakan.  Pada saat itu, Yesus telah meniggalkan pelayanan-Nya di Yudea.  Kemungkinan Yesus bisa menjadi Mesias yang mereka harapkan, tampaknya semakin jauh.  Maka mereka telah memikirkan untuk memutuskan bahwa mereka perlu untuk kembali ke profesi mereka yang lama.  Itulah sebabnya mereka telah memancing malam itu.  Ketika Yesus berkhotbah, mereka sedang membersihkan jalan mereka.

10.                Setelah berkhotbah selama beberapa waktu, apa yang Yesus lakukan?.  Dia sedang duduk di perahu Petrus dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai(beberapa meter) supaya lebih banyak orang bisa melihat dan mendengar Dia.  Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.  Kemudian Dia berpaling kepada Petrus, nelayan itu.  Yesus, tukang kayu itu mengatakan dalam Lukas 5:4 “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”.  Petrus pasti berfikir, Yesus kurang waras!.  Mencoba menangkap ikan di perairan danau Galilea yang jernih/bening—apalagi di siang hari, itu adalah nelayan yang bodoh!,  Tapi karena ia menghormati Yesus, dia melakukan apa yang diminta oleh Yesus.  Lukas 5:5 “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”.  Penangkapan itu adalah luar biasa!.  Yesus dapat memberitahukan ikan itu dimana berenang!.

11.                Apa yang dapat kita pelajari dari cerita itu?.  Petrus segera berlutut(tersungkur) didepan Yesus dan memegang kaki-Nya dan berkata dalam Lukas 5:8 “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”. (Go away from me Lord!  I am a sinful man).  PETRUS bersama dengan orang lain, menyadari betapa bodohnya mereka yang telah meragukan kemampuan Yesus.  Mujizat ini telah membuktikan kepada mereka bahwa Yesus tidak hanya bisa mengendalikan kekuatan alam(control the forces of nature)---tetapi juga dengan mudah memelihara mereka dan keluarga mereka selama sisa hidup mereka.

·         Mengapa Petrus –yang hanya nelayan biasa. Petrus adalah seorang yang temperamental dan spontanitas tetapi berhati tulus dan terbuka.—bisa berubah menjadi seorang yang paling berpengaruh?.  Tentu melalui pengalaman rohaninya bersama Yesus, diantaranya melalui pelajaran yang berharga ketika sedang menjala ikan di danau Genesart.

12.                Baca Markus 6:1-3 dan Matius 13:54-57.  MENGAPA ORANG2 NAZARETH MENOLAK MEREKA?.  Ketika Yesus kembali ke Nazareth, mereka kagum pada khotbah-Nya dan ingin melihat mujizat seperti yang mereka telah dengar telah Dia lakukan ditempat lain.  Tetapi kemudian mereka teringat Anak yang dibesarkan di kota mereka, dan mereka telah menolak Dia.

13.                APAKAH YESUS HANYA MEMILIH MURID2NYA PARA PRIA”BIASA”?.  Dan bagaimana dengan wanita yang mengikut Yesus?.  Yesus juga telah menarik wanita kaya (Perempuan2 yang melayani Yesus).  Yesus telah memilih nelayan yang tidak terpelajar.  Mereka sebenarnya orang-orang pribumi yang memiliki kemampuan dan mereka rendah hati dan MUDAH DIAJAR---orang-orang yang Dia bisa didik bagi pekerjaan-Nya.  Ketika mereka dilatih Yesus, mereka tidak lagi bodoh dan menjadi lebih berbudaya” (D.A. hlm.250).

14.                Mengingat komentar dari E.G. White –Apakah Anda pikir itu benar untuk memanggil nelayan-nelayan “BIASA” ini?.  Mengapa orang miskin itu jauh lebih bersedia untuk menerima Yesus daripada orang kaya dan berpengaruh?.  (Perhatikan bahwa kita akan berbicara tentang orang kaya dan berpengaruh dalam pelajaran yang akan datang).

15.                Baca Kisah 2:43-47 dan Kisah 4:32-37.  Setelah pengalaman pada hari Pentakosta, gereja Kristen telah bertumbuh cepat.  Ada beberapa alasan untuk itu :

1)   Banyak orang yang bertobat telah mendengar dan melihat Yesus dan terkesan oleh pekerjaan-Nya.  Banyak dari mereka mungkin karena disembuhkan oleh-Nya.

2)   Orang-orang Kristen mula-mula memperlakukan semua orang SAMA(treated everyone equally).  Mereka bertemu bersama di rumah-rumah bahkan di Bait Allah, dan semua orang, tidak perduli apa status sosialnya—adalah di sambut (was welcomed).  Mereka bahkan menjual property mereka untuk membantu mendukung seluruh kelompok.  Jenis fellowship terbuka ini (open fellowship) hampir tidak dapat ditahan/dibendung.  Seberapa baik yang kita lakukan pada jenis open fellowship itu dalam gereja kita saat ini?.

Baca 1 Yohanes 3:16-19.  Ayat 7 “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”.  Ayat 18 “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan/dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”.  Apakah kita pernah menutup hati kita terhadap orang miskin?.

16.                Berapa banyak dari kita telah bersalah berpikir bahwa pekerjaan penyebaran Injil itu adalah  pekerjaan Pendeta?.  Pada saat penutupan pekerjaan Injil terdapat ladang yang sangat luas untuk dikerjakan; dan  kita mengetahui bahwa sebelumnya pekerjaan ini banyak dibantu oleh orang-orang biasa(common people).  Orang-orang muda dan orang-orang yang lebih tua akan dipanggil dari berbagai profesi dan diutus oleh Tuhan menyampaikan pekabaran itu.  Banyak dari mereka yang memiliki sedikit kesempatan dalam pendidikan, tetapi Kristus melihat kwalifikasi2 yang akan memungkinkan(menyanggupkan) mereka untuk memenuhi tujuan-Nya.  Jika mereka menempatkan hati mereka dalam pekerjaan itu, dan terus menerus mau belajar, Ia akan melayakkan mereka untuk menjadi pekerja bagi-Nya”.  E.G. White, Education hlm.269, 270.

17.                Jadi jika demikian, siapa yang harus terlibat dalam menyebarkan Injil?.  Rasul Paulus memberikan beberapa petunjuk bagi kita.  Baca 1 Korintus 1:26-29.  Ayat 26 “Ingat saja, saudara-saudara, keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Ayat 27 “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat,….  Pikirkan bagaimana kata-kata ini boleh di terapkan di dunia kita saat ini.  Siapakah orang-orang duniawi yang bijaksana dan educated people dalam zaman kita  ini?.  Apakah mereka bersahabat dengan pemikiran-pemikiran Kekristenan, ataukah mereka memeluk Atheisme dan Evolusi?.  Di Amerika Utara—persentase orang-orang “BIASA” yang percaya kepada Alkitab lebih banyak.

18.                Dalam mencoba untuk menjangkau orang-orang yang kurang berpendidikan di generasi kita, bagaimana kita supaya lebih bersahabat?.  Apakah bisa membantu jika kita menggunakan terjemahan yang lebih mudah dipahami seperti Good News Bible ketimbang terjemahan tradisional King James Version?.

19.                Apakah ada perbedaan kelas dalam Gereja Kristen?.  Kita tidak ingin menghilangkan (eliminate) pendeta atau penatua atau diaken, tetapi apakah mereka unggul dalam semua hal?.  Bagaimana pendapat Anda, mengapa Yesus berkata bahwa mereka yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi hamba/pelayan dari semuanya (Markus 9:35; Matius 20:26).

20.                Anda mungkin menganggap diri Anda adalah sebagai seorang Kristen “Biasa”.  Namun demikian Anda adalah putra putri Allah.  Kontribusi apakah yang dapat Anda buat ke gereja/Sekolah Sabat Anda?.  Dan kontribusi apa yang Anda lihat yang telah dibuat orang lain?.  Adakah Anda berpikir ada perbedaan kelas dalam gereja Anda?.

21.                Tentu saja, masing-masing kita mengakui bahwa Yesus adalah yang paling luar biasa dan orang yang unik yang pernah hidup di bumi ini.  Namun selama 30 tahun pertama dari kehidupan-Nya, Dia bertindak dan tampak seperti orang “BIASA”.  Masa kecil-Nya di ringkas dalam satu ayat: Lukas 2:40.

22.                Apakah Anda tidak senang bahwa Yesus telah memfokuskan hidup-Nya terutama pada orang-orang biasa?.

23.                Apa yang dapat kita lakukan sebagai gereja dan kelas-kelas SS dan bahkan sebagai individu Kristen untuk dapat lebih baik menjangkau orang-orang “biasa” disekitar kita?.  Apa yang akan terjadi jika setiap Kristen Advent melakukan itu?.

===========

Minggu, 02 Februari 2014

5.Pemuridan dan Penyembuhan Holistik.

"MEMURIDKAN ORANG SAKIT"

 PENDAHULUAN

Melayani orang sakit. Tidak ada hal yang paling didambakan oleh orang yang sedang menderita sakit lebih dari kerinduannya untuk sembuh. Namun sementara kesembuhan itu membutuhkan waktu, seringkali suatu jangka waktu yang panjang, pasien juga perlu penghiburan dan dorongan semangat untuk sabar selama dalam proses penyembuhan. Penyakit seringan apapun selalu menimbulkan ketidaknyamanan pada si penderita dan kerepotan bagi keluarganya, tapi di dunia yang berdosa ini penyakit sering menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tak dapat dihindarkan. Orang sakit selalu memerlukan pelayanan, tidak hanya layanan medis tapi juga layanan sosial. Lebih dari itu, seorang yang sedang sakit membutuhkan pelayanan doa demi kesembuhannya.

Yesus suka menjenguk orang yang menderita sakit supaya dapat menyembuhkannya, di antaranya adalah ibu mertua Petrus. "Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia" (Mat. 8:14-15). Tapi Yesus juga pernah sengaja berlama-lama untuk mengunjungi Lazarus yang sedang sakit dengan suatu maksud (Yoh. 11:5-6), dengan mengatakan: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan" (ay. 4). Yesus datang ke rumah Maria dan Marta di kampung Betania setelah Lazarus, saudara laki-laki mereka, sudah dikubur empat hari lalu (ay. 17) tapi Yesus kemudian mengadakan mujizat membangkitkan Lazarus dari kuburnya (ay. 43-44).

"Selama pelayanan-Nya Yesus mencurahkan lebih banyak waktu menyembuhkan orang sakit ketimbang berkhotbah. Mujizat-mujizat-Nya menyaksikan tentang kebenaran firman-Nya, bahwa Ia datang bukan untuk membinasakan tetapi untuk menyelamatkan. Ke mana saja Ia pergi kabar tentang kemurahan-Nya mendahului Dia. Di mana saja Ia pernah lewat orang-orang yang telah menikmati belas kasihan-Nya bersukacita karena kesehatan dan mencoba kuasa-kuasa yang baru mereka temukan itu" [empat kalimat pertama].

Berbeda dari kesembuhan yang diperoleh melalui pengobatan dan tindakan medis dokter duniawi, penyembuhan yang Yesus berikan kepada manusia lebih dari sekadar kesejahteraan fisik untuk kehidupan sementara di dunia ini tetapi juga demi kehidupan di akhirat. Karena itu Yesus selalu mengaitkan penyembuhan dengan iman, seperti yang Ia katakan kepada penderita kusta yang kembali untuk berterimakasih sambil tersungkur di depan kaki-Nya: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau" (Luk. 17:19). Kristus memberi kesembuhan duniawi dan keselamatan surgawi.

1. KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN (Mesias Sang Penyembuh)

Hubungan penyakit dengan dosa. Tentu saja, ada hubungan kasuistik antara penyakit dan dosa. Ketika dunia ini baru diciptakan segala sesuatu sempurna dan tidak ada penyakit apapun, sampai Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa oleh melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan di Taman Eden itu. Akibat dari "pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut" (Rm. 5:15), sebab "upah dosa ialah maut" (Rm. 6:23). Secara umum kematian adalah akibat dari dosa, tapi secara pribadi penyakit bisa merupakan "produk samping" dari gaya hidup berdosa. Sebutlah di antaranya HIV/AIDS dan penyakit kelamin akibat perilaku seks serampangan, sirosis hati akibat kecanduan minuman beralkohol, penyakit saluran pernafasan maupun tuberkulosis paru akibat ketagihan merokok, obesitas dan pengerasan pembuluh arteri karena gelojoh, dan lain-lain. Tubuh kita adalah "bait Allah" tempat di mana Roh Allah tinggal, dan siapa merusak tubuhnya sendiri oleh gaya hidup yang berdosa akan dibinasakan oleh Tuhan (1Kor. 3:16-17).

Yesus sendiri mengidentifikasikan penyakit dengan dosa, baik dosa orang itu sendiri maupun dosa masyarakat lingkungannya. Kepada orang lumpuh yang disembuhkannya di tepi kolam Betesda itu Yesus berpesan, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk" (Yoh. 5:14). Demikian juga kepada orang lumpuh lainnya yang terpaksa diturunkan dari atap untuk bisa disembuhkan oleh Yesus yang berada di dalam rumah yang penuh sesak itu, Ia berkata, "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (Mrk. 2:5). Bahkan, penyakit juga--dan yang ini jarang kita perhatikan!--bisa timbul akibat turut ambil bagian dalam perjamuan kudus secara "tidak layak" sehingga "ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan" dan banyak "yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal" (1Kor. 11:27-30).

"Pada zaman dulu, penyakit dianggap sebagai akibat dari perbuatan dosa. (Bahkan sekarang pun siapa yang belum pernah--walau hanya sejenak--bertanya-tanya apakah penyakit, yang dialami sendiri ataupun orang yang dikasihi, itu terjadi sebagai hukuman atas dosa?) Dalam kitab Ayub teman-temannya beranggapan bahwa kesialannya, termasuk penyakit yang dideritanya, adalah akibat dari kesalahan-kesalahan yang tersembunyi; maksudnya ialah bahwa bagaimanapun dosanyalah yang menyebabkan keadaannya yang sulit itu" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Disembuhkan karena iman. Yesus adalah sumber keselamatan serta sumber kesembuhan, dan dalam pelayanan-Nya selama berada di dunia Ia seringkali menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati oleh sebab iman dari pasien itu sendiri maupun keluarganya. Yesus bukan saja menyembuhkan orang-orang yang sakit jasmani tetapi juga orang-orang yang kerohaniannya "sakit" akibat dosa, sebagaimana pernyataan-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit...karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Mat. 9:12-13). Matius pasal 9 adalah salah satu pasal yang sarat dengan mujizat yang dilakukan oleh Yesus untuk menyembuhkan orang-orang sakit maupun membangkitkan orang mati, dan iman di pihak manusia merupakan unsur paling penting dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus.

Kepada orang lumpuh di kampung-Nya Yesus berkata, "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni... Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu" (ay. 2 dan 6). Selanjutnya, sebelum mendatangi rumah kepala rumah ibadah untuk membangkitkan anak perempuannya, Yesus yang terkesan dengan iman seorang perempuan pengidap penyakit perdarahan yang menjamah jubah-Nya itu berkata kepadanya, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" (ay. 22). Iman sebagai hal yang penting dalam penyembuhan terungkap dalam dialog antara Yesus dengan dua orang buta yang mengikuti-Nya sambil mengiba-iba memohon penyembuhan. Sebelum mengadakan mujizat penyembuhan bagi mereka Yesus bertanya dulu, "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Setelah mereka menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya" barulah Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu" (ay. 28-29).

"Yesus mengakui bahwa missi-Nya adalah untuk mengkhotbahkan pembebasan dan untuk menyembuhkan orang-orang buta (Luk. 4:17-19). Ia menarik banyak orang melalui kuasa yang berasal dari kasih dan tabiat-Nya. Sebagian mengikuti Dia karena mereka mengagumi khotbah-Nya yang mudah dimengerti. Sebagian lagi menjadi murid-murid oleh sebab bagaimana Ia memperlakukan orang-orang miskin. Namun banyak yang mengikuti Kristus karena Ia telah menjamah dan menyembuhkan mereka dari kehancuran" [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus sebagai sumber penyembuhan?
1. Meskipun kita tidak bisa mengatakan bahwa penyakit yang diderita seseorang adalah akibat dari dosanya atau dosa orangtuanya secara spesifik, namun secara umum dapat dipastikan bahwa dosa manusia berakibat langsung terhadap segala penyakit yang diderita manusia.
2. Missi kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini selain untuk mati bagi dosa manusia juga untuk menanggung "penyakit" kita dan memikul "kesengsaraan" kita, supaya "oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yes. 53:3-5). Bahkan penyembuhan yang dilakukan-Nya berkaitan dengan missi ini (baca Mat. 8:16-17).
3. Yesus tidak saja memberi kesembuhan dari penyakit jasmani tapi juga membawa penyembuhan untuk penyakit rohani, yaitu keampunan dosa dan keselamatan jiwa. Bagi kedua hal ini, yaitu kesembuhan jasmani dan keampunan dosa, dasar utamanya adalah iman.

2. KESEMBUHAN SEUTUHNYA (Menyembuhkan Tubuh)

Hubungan tubuh dan jiwa. Adalah Plato (429-347 SM) yang mengajarkan tentang keterpisahan antara tubuh (só̱ma) dan jiwa (psūkhē) sebagai dua entitas yang berbeda, yaitu dikenal dengan teori dualisme. Menurut filsuf Yunani purba tersebut, jiwa itu abadi dan sudah ada sebelum tubuh terbentuk tapi kemudian masuk ke dalam tubuh yang fana dan tidak sempurna dalam sosok seorang manusia, dan selama seseorang hidup maka jiwa tersebut "terpenjara" dan baru akan bebas pada saat orang itu meninggal dunia ketika tubuhnya "melepaskan" jiwanya. Sedangkan Aristotel (384-322 SM), ilmuwan dan filsuf Yunani lainnya, meskipun selama 20 tahun menjadi murid Plato tapi dalam hal ini tidak sependapat dengan gurunya itu. Aristotel mengajarkan bahwa tubuh dan jiwa merupakan dua substansi yang tak terpisahkan sebagai bagian dari manusia yang seutuhnya. Dengan demikian, menurut guru privat Alexander Yang Agung ini, semua yang dirasakan oleh jiwa itu dalam cara tertentu berpengaruh pada tubuh.

Dalam dunia kedokteran dikenal apa yang disebut "penyakit psikosomatik," yakni ketidakseimbangan rohani (tekanan batin maupun gangguan emosional) yang menimbulkan gejala-gejala sakit pada tubuh ataupun memperburuk penyakit jasmani yang sudah ada sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa 60-70 persen penyakit lambung disebabkan oleh gangguan psikologis seperti depresi, marah, frustrasi, dendam, dan sebagainya. Gangguan kejiwaan juga bertanggungjawab atas memburuknya penyakit asma, saluran pernafasan, bahkan penyakit jantung. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa penyakit psikosomatik terjadi bilamana emosi negatif mempengaruhi sistem otonom tubuh, sistem hormonal dan sistem kekebalan tubuh. Seorang dokter yang memiliki pandangan dikotomis antara jiwa dan raga akan sulit melakukan diagnosis yang tepat terhadap gangguan-gangguan fisik yang disebabkan oleh masalah kejiwaan tersebut.

"Tubuh, pikiran, dan jiwa hanyalah aspek-aspek yang berbeda dari kepribadian atau keberadaan manusia, bukan entitas-entitas yang berdiri sendiri. Karena itu, apapun yang mempengaruhi tubuh mempengaruhi pikiran dan jiwa, yaitu aspek-aspek pribadi yang saling berkaitan. Maka, bilamana Kristus menyembuhkan, Ia tidak semata-mata membasmi penyakit kanker atau menyembuhkan penyakit jantung; Ia mengubah pengalaman fisik, mental, dan rohani manusia" [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Pendekatan holistik. Alkitab mengatakan bahwa Yesus menjadikan pelayanan penyembuhan penyakit sebagai bagian dari penginjilan yang dilakukan-Nya. Ia menyembuhkan segala macam penyakit dan kesusahan manusia, bukan saja atas orang-orang di negeri-Nya sendiri tapi juga dari negeri tetangga. "Di Galilea, Yesus berkeliling di seluruh negeri dan mengajar di rumah-rumah ibadat. Ia memberitakan Kabar Baik bahwa Allah akan memerintah. Dan Ia juga menyembuhkan orang-orang yang sakit dan cacat. Kabar tentang Yesus itu tersebar di seluruh negeri Siria, sehingga banyak orang datang kepada-Nya. Mereka membawa orang-orang yang menderita segala macam penyakit dan kesusahan. Orang-orang yang kemasukan roh jahat, yang sakit ayan, dan yang lumpuh, semuanya disembuhkan oleh Yesus" (Mat. 4:23-24, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Dunia kedokteran juga mengenal istilah "pengobatan holistik" (holistic medicine) dalam proses penyembuhan, yaitu berfokus pada bagaimana unsur-unsur jasmani, pikirani, rohani dan emosi seseorang yang saling kait-mengait dapat bersinergi untuk menopang dan memelihara kesehatan seseorang. Kalau ada salah satu dari unsur-unsur ini yang tidak sehat maka hal itu diyakini akan mempengaruhi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Jadi, pengobatan holistik adalah cara pengobatan melalui pendekatan menyeluruh terhadap kondisi kesehatan seseorang yang seutuhnya.

"Yesus menyembuhkan lebih dari sekadar tubuh saja. Kristus selalu menyembuhkan orang-orang seutuhnya. Pendekatan holistik-Nya mengakui bahwa kesehatan jasmani tidak dapat dipisahkan dari kesehatan rohani. Melalui penyembuhan fisik Ia mempengaruhi transformasi rohani. Pada tingkatan yang lebih luas, itulah tujuan sepenuhnya" [alinea terakhir: lima kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang metode penyembuhan yang menyeluruh dari Kristus?
1. Manusia yang seutuhnya terdiri atas aspek-aspek jasmani, rohani, dan pikirani yang seimbang. Jiwa (rohani) dan raga (jasmani) adalah dua unsur dalam diri manusia yang saling mempengaruhi secara khusus, di mana bila salah satu terganggu yang lainnya ikut merasakan akibatnya.
2. Seseorang disebut sehat bukan karena dia tidak sakit, tetapi karena ketiga aspek dalam dirinya itu berada dalam kondisi yang nyaman dan kesejahteraannya seimbang. Penyakit yang dimanifestasikan sebagai gangguan pada tubuh seringkali merupakan gejala dari terganggunya kesejahteraan dan kenyamanan dua aspek lainnya.
3. Dalam tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap manusia ketika Ia berada di dunia ini selalu menyentuh dua aspek utama seseorang, kesembuhan jasmani dan rohani. Yesus bukan hanya ingin menyembuhkan manusia dari penyakit, tapi juga menyelamatkan manusia dari kebinasaan jiwa.

3. KESEHATAN LAHIR-BATIN (Menyembuhkan Pikiran dan Tubuh)

Disembuhkan untuk diselamatkan. Konsep pemuridan Kristen bertujuan menjadikan sebanyak mungkin orang, kecil-besar, tua-muda, pria-wanita, menjadi pengikut-pengikut atau murid-murid Kristus. Menjadi pengikut atau murid Kristus berarti mengamalkan suatu kehidupan serupa dengan Kristus yang lemah-lembut, rendah hati, ramah-tamah, peduli terhadap sesama, suka menolong tanpa pilih buluh, dan rela berkorban. Pemuridan adalah sebuah pandangan yang aktif dan pro-aktif, selalu mencari dan tidak bersifat menunggu di tempat. Itulah sebabnya Yesus Kristus tidak pernah tinggal lama di satu tempat, tetapi terus bepergian dari satu kampung ke kampung yang lain sampai semua wilayah yang dapat dijangkau bisa dicapai. Pemuridan Kristen adalah untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini dan mempersiapkan banyak orang bagi kerajaan surga (Mat. 4:23; Mrk. 4:30-32; Luk. 4:43-44).

Salah satu cara efektif untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini seperti yang dilakukan Yesus ialah dengan melayani manusia dalam kebutuhan-kebutuhan dasar mereka, antara lain melalui penyembuhan penyakit. Kesehatan adalah keperluan hakiki manusia, dan kesembuhan merupakan kebutuhan mendesak dari orang sakit. Itulah sebabnya Yesus Kristus selama masa kehidupan sebagai orang dewasa di dunia ini sangat giat menyembuhkan orang-orang sakit di sela-sela waktu-Nya untuk menginjil dan mengajar. Yesus juga mengaruniakan kuasa untuk menyembuhkan segala penyakit dan mengusir roh jahat kepada murid-murid-Nya yang mula-mula (Mat. 10:1; Luk. 9:1). Pada zaman Yesus, manusia disembuhkan untuk diselamatkan.

"Melalui penyembuhan jasmani dan pemulihan pikirani, Yesus menjadikan murid-murid. Seringkali pasien-pasien Kristus menderita penyakit pikirani dan jasmani. Penyembuhan jasmani itu sendiri tidak pernah menjadi sasaran akhir. Tujuan penghabisan selamanya adalah pemuridan. Penyembuhan bisa saja menghasilkan tambahan dua puluh, lima puluh, atau mungkin tujuh puluh lima tahun yang berkualitas. Pemuridan menawarkan hidup yang kekal bersama Kristus" [alinea pertama].

Kegalauan batin dan gangguan jasmani. Pada ulasan dalam pelajaran kemarin (Senin, 27 januari) kita telah membahas tentang penyakit psikosomatik, yaitu gejala-gejala gangguan fisik yang dipicu oleh masalah pikiran dan jiwa. Seseorang yang mengalami kegalauan batin sudah terbukti secara ilmiah akan menimbulkan berbagai masalah pada kesehatan lahiriah, sebab jiwa dan raga adalah dua aspek yang tak terpisahkan dalam diri kita sebagai manusia seutuhnya. Kesehatan yang sempurna adalah meliputi kesembuhan pikiran, hati dan jiwa sebagai sumber dari gangguan jasmani.

Ini membuat saya teringat pada seorang dokter missionaris di Rumah Sakit Advent Bandung pada dasawarsa 1970-an yang bijak dan rohani. Bilamana menghadapi seorang pasien dengan berbagai keluhan fisiologis, dan berbagai pengobatan serta terapi sudah dilakukan tetapi tidak membawa hasil, dokter ini akan melepaskan stetoskopnya dan menutup berkas-berkas rekam medis di atas meja praktiknya, lalu dengan tatapan kebapakan yang simpatik bertanya kepada pasien itu: "Apakah anda mau berbagi dengan saya masalah pribadi yang telah memberatkan hati anda?" Sebagaimana diceritakan oleh perawat wanita yang menjadi asisten pendamping, dokter tua ini akan memberi konsultasi yang bersifat menenteramkan batin dan atas kesediaan pasien itu lalu berdoa bersama.

"Penyakit jasmani kadang-kadang disebabkan oleh rangsangan pikiran. Hubungan antara pikiran dan tubuh dikukuhkan oleh ilmu kedokteran. Kecemasan cenderung menyebabkan masalah lambung. Kekhawatiran mengakibatkan gangguan tidur. Amarah yang tidak terkendali menjadi faktor penyakit jantung. Mengajar orang tentang prinsip-prinsip kesehatan pikiran harus menyoroti pentingnya percaya kepada Tuhan, dan secara alamiah akan menuntun mereka kepada komitmen rohani pribadi dan pemuridan seutuhnya" [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang penyembuhan pikiran dan tubuh?
1. Menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani adalah hal pokok dalam konsep pemuridan Kristen. Seorang yang mengalami tekanan batin dapat membuat tubuhnya sakit, begitu juga sebaliknya. Acapkali pula penyakit fisik yang parah dan tak kunjung sembuh berdampak buruk pada ketenangan jiwa dan keseimbangan berpikir.
2. Penyembuhan menyeluruh diperlukan untuk kesehatan menyeluruh dengan pendekatan holistik. Kesehatan seutuhnya juga membutuhkan usaha seutuhnya serta komitmen menyeluruh dari para pelaksana pemuridan, suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa pamrih.
3. Kondisi lahir dan batin seseorang dapat menjadi pintu masuk (entry point) bagi program pemuridan jika dilakukan secara bijaksana dan tanpa memberi kesan memanfaatkan situasi. Pemuridan Kristen bertujuan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan orang lain.

4. PENGHARAPAN MASA DEPAN (Kebangkitan dan Kehidupan)

Apa yang Yesus tawarkan? Kemajuan teknologi informasi telah membuat Bumi ini terasa semakin kecil dengan mendekatkan orang-orang dari berbagai tempat yang dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer menjadi seperti tetangga dekat ketika berinteraksi lewat dunia maya (cyberspace), misalnya melalui jejaring-jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, selain ratusan situs jejaring sosial lainnya. Menurut sebuah sumber, sampai dengan Januari 2014 ini Facebook sudah memiliki lebih dari 1,23 milyar pengguna aktif, dan Twitter separuhnya. Fitur yang ingin saya sorot tentang kedua media sosial paling populer ini bukan jumlah teman (Friends) yang anda miliki, tapi banyaknya Followers yang membuntuti setiap postingan anda. Konon, ada beberapa selebriti dan politikus di tanah air yang memiliki "Pembuntut" di akun Twitter mereka hingga mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Pertanyaannya, apa yang ditawarkan oleh orang-orang terkenal itu di laman mereka sehingga selalu dinantikan oleh banyak orang? Informasi penting dan berharga, atau sekadar kicauan pendapat yang dangkal dan curahan isi hati tak bernilai?

Yesus Kristus menarik para pengikut yang terus bertambah banyak bukan karena popularitas atau janji-janji kosong, melainkan karena pelayanan yang nyata serta tawaran penyelesaian yang simpatik terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Lebih dari sekadar kebutuhan dasar manusia sehari-hari, Yesus bahkan menawarkan pengampunan dosa dan keselamatan abadi. Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini Sang Juruselamat telah melayani rakyat kecil maupun pemuka masyarakat dengan keperluan-keperluan jasmani maupun rohani mereka, menawarkan kebahagiaan surga dan hidup kekal kepada setiap orang yang menyambut-Nya.

"Demikianlah, Yesus menyediakan tiga peragaan terkenal untuk melawan orang-orang yang tidak percaya, membeberkan kepalsuan-kepalsuan, dan memuaskan para pencari kebenaran sejati. Anak perempuan Yairus, anak lelaki seorang janda, dan akhirnya Lazarus yang membuktikan bahwa tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan ini adalah asli. Penyakit dan kecelakaan mungkin pada awalnya menang, tetapi hidup kekal pada akhirnya akan menaklukkannya. Kesembuhan tidak akan terjadi setiap kali diminta, tetapi kehidupan abadi terjamin bagi semua orang yang menjadikan Yesus sebagai Juruselamat mereka" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Hidup kekal dijanjikan. Seseorang pernah berkata: Kematian itu bukanlah lawan dari kehidupan, tapi kematian adalah bagian dari kehidupan. Dalam pengertian tertentu pendapat ini benar, yaitu apabila kita menyadari bahwa kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan berdosa yang akan berujung pada kematian. Salah satu ayat Alkitab yang populer di kalangan orang Kristen ialah Roma 6:23, yang menyatakan bahwa "upah dosa ialah maut." Namun kita terlalu terpaku dan berhenti pada kalimat pertama itu saja, lupa bahwa apa yang sebenarnya lebih penting dari pernyataan rasul Paulus itu terdapat pada kalimat berikutnya, "tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Kalau anda dan saya telah menyambut Yesus Kristus berarti kita sudah menerima karunia hidup kekal dari Allah, dan hidup kekal itu jauh lebih penting daripada kematian.

Itulah sebabnya dalam suratnya kepada umat percaya di Korintus, rasul yang sama berkata: "Sebab kami tahu bahwa kalau rumah--yakni tubuh--yang kita diami di dunia ini dibongkar, Allah akan menyediakan bagi kita sebuah rumah di surga, yang dibuat oleh Allah sendiri dan yang tahan selama-lamanya. Di dalam rumah yang sekarang ini, kita mengeluh sebab kita rindu sekali tinggal di dalam rumah kita yang di surga itu. Rumah itulah tubuh kita yang baru. Selama kita tinggal di dalam rumah yang dari dunia ini, kita mengeluh karena beban kita berat. Bukannya karena kita ingin lepas dari tubuh kita yang dari dunia ini, tetapi karena kita ingin mengenakan tubuh yang dari surga itu, supaya tubuh kita yang bisa mati ini dikuasai oleh yang hidup" (2Kor. 5:1-4, BIMK).

Pada zaman Yesus dan rasul-rasul pun tidak semua orang yang sakit mendapat kesempatan untuk menerima mujizat penyembuhan, apalagi kita yang hidup pada zaman ini. "Namun apa yang kita miliki adalah sesuatu yang bahkan jauh lebih baik dari suatu mujizat penyembuhan, dan itu ialah janji kebangkitan untuk hidup kekal pada akhir zaman bilamana Yesus akan datang dan 'orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima pemerintahan, dan mereka akan memegang pemerintahan itu sampai selama-lamanya, bahkan kekal selama-lamanya' (Dan. 7:18)" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang tawaran kebangkitan dan hidup kekal dari Kristus?
1. Menjadi pengikut orang-orang terkenal dan berkuasa boleh jadi dapat mendatangkan keuntungan, sedangkan menjadi pengikut Kristus seringkali mendatangkan kesengsaraan. Tetapi sementara menjadi pengikut manusia hanya berakhir di kubur, menjadi pengikut Kristus akan berujung pada hidup kekal.
2. Bagi orang yang tidak percaya, kelahiran adalah awal perjalanan menuju kematian; bagi orang percaya, kematian adalah awal perjalanan menuju hidup kekal. Walaupun kesembuhan dari penyakit jasmani tidak selalu kita nikmati, namun sebagai umat percaya kita yakin akan menikmati hidup kekal tanpa penyakit.
3. Kematian tentu adalah sesuatu yang menakutkan bagi banyak orang, tapi tidak bagi orang saleh dan beriman. Seperti kata rasul Paulus, "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp. 1:21). Bagi umat Tuhan kematian bukan persoalan, tetapi kebangkitan keberapa kita tergolong, pertama atau kedua?

5. MUJIZAT PENYEMBUHAN DARI ZAMAN KE ZAMAN (Warisan Penyembuhan Kristus)

Penyembuhan di zaman rasul-rasul. Kehidupan dan peribadatan Gereja yang mula-mula ditandai dengan berbagai mujizat penyembuhan dan karunia-karunia Roh Kudus sebagaimana disebutkan dalam 1Korintus 12, khususnya yang berlangsung selama abad pertama sesudah Kristus. Banyak ahli teologia yang berpendapat bahwa semua tanda ajaib itu diperlukan dalam rangka menarik perhatian masyarakat kafir penyembah berhala yang menyukai tanda ajaib itu kepada Kekristenan, tetapi sesudah itu mujizat tidak diperlukan lagi.

"Murid-murid abad pertama menyaksikan langsung janji Kristus untuk melihat 'hal-hal yang lebih besar daripada hal-hal ini' digenapi (Yoh. 1:50, bandingkan dengan Yoh. 5:20; 14:12). Mujizat penyembuhan dan kebangkitan mengikuti pelayanan-pelayanan Kekristenan yang mula-mula dari murid-murid paling terkemuka: Petrus dan Paulus. Peristiwa-peristiwa ini secara mencolok digambarkan dalam pertumbuhan gereja mula-mula. Hadirat Allah yang kekal, ditandai oleh mujizat penyembuhan, mempengaruhi ribuan pemimpin agama untuk menerima Kristus. Seringkali jemaat mereka mengikuti" [alinea pertama].

Apakah Tuhan masih mengadakan mujizat melalui hamba-hamba-Nya pada akhir zaman ini? Kalau anda mengajukan pertanyaan ini kepada golongan Kristen beraliran kharismatik pasti anda akan mendapat jawaban tegas yang mengiyakan. Tetapi sementara kita harus berhati-hati dalam menilai mujizat penyembuhan dan tanda ajaib sebagai bukti hadirat dan kuasa Allah (baca Mat. 7:22-23; Mat. 24:24), kita juga tidak boleh menjadi orang Kristen yang skeptis terhadap kuasa dari karunia Roh Kudus yang masih terus bekerja sejak zaman rasul-rasul hingga sekarang (baca Kis. 2:17-18). Janganlah kita mengambil posisi sebagai "kaum Farisi" moderen yang karena tidak percaya lalu menghakimi orang lain (baca Mat. 21:22-23; Kis. 4:5-7).

Kuasa penyembuhan pada zaman ini. Penyakit tidak akan pernah hilang dari dunia yang berdosa ini, karena itu orang sakit akan selalu ada di sekitar kita. Bahkan dengan semakin seringnya terjadi anomali cuaca akibat faktor-faktor aktivitas manusia yang berdampak buruk pada kondisi alam, di samping pola hidup manusia itu sendiri yang menyebabkan kemerosotan kualitas hidup, jenis-jenis penyakit pun berkembang dan meluas. Banyak penyakit yang sudah lama merajalela tapi belum ditemukan obat yang paten dan terapi yang manjur untuk benar-benar menyembuhkannya, sebutlah misalnya kanker dan HIV/AIDS. Dalam keadaan ini, apakah kita akan berserah pada nasib atau bergantung pada kuasa penyembuhan ilahi?

Sebagai gereja kita lazim menerapkan praktik meminyaki orang yang sakit parah dan sekarat, mengikuti nasihat rasul Yakobus: "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan" (Yak. 5:14). Prosedur ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kedua belas murid Yesus yang pertama ketika mereka menjalani praktikum penginjilan di lapangan (baca Mrk. 6:12-13). Tapi yang lebih sering kita lakukan--dan kerap terkesan sekadar rutinitas yang bersifat formalitas ketimbang sebagai suatu permohonan yang khusuk--ialah melalui doa syafaat pada acara khotbah ketika orang yang memimpin doa bertelut membaca nama-nama yang perlu didoakan dari secarik kertas di tangannya. Meskipun Tuhan mendengar setiap doa umat-Nya, tapi mungkin untuk memperoleh penyembuhan ilahi bagi saudara-saudara kita yang menderita sakit perlu dilayangkan doa syafaat yang lebih tekun, khidmat, dan terus-menerus.

"Jelaslah kesehatan merupakan kepedulian yang terus-menerus dan pelayanan penyembuhan adalah fungsi yang terus-menerus dari gereja Kristus. Penyembuhan tercatat di antara karunia-karunia rohani. Petunjuk-petunjuk untuk menjalankan karunia penyembuhan Allah kepada mereka yang menderita sakit tercatat dalam Kitabsuci. Karunia-karunia ini menguntungkan umat percaya hingga kedatangan Kristus kedua kali bilamana hadirat-Nya secara pribadi akan membuat itu semua tidak diperlukan" [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang mujizat penyembuhan zaman dulu dan kini?
1. Mujizat penyembuhan sudah menjadi bagian dari pekerjaan penginjilan Kristus, dan sesudah kenaikan-Nya ke surga hal itu dilanjutkan oleh murid-murid-Nya yang pertama. Yesus tidak pernah berubah pikiran dan mencabut kebijakan-Nya untuk menggunakan mujizat di mana perlu demi kepentingan pekerjaan-Nya.
2. Setan juga dapat melakukan mujizat penyembuhan melalui agen-agennya untuk meniru kuasa ilahi demi menipu manusia. Tapi sementara kita harus waspada terhadap tipuan itu, kita juga harus berhati-hati agar tidak begitu saja menghakimi hanya karena "mereka" yang mengadakannya, bukan kita (baca Mrk. 9:38-40).
3. Penyembuhan ilahi adalah warisan Kristus kepada murid-murid-Nya sepanjang zaman, bahkan berbagai mujizat akan lebih gencar diadakan menjelang kedatangan-Nya kedua kali (Kis. 2:19-20). Mujizat penyembuhan sering ditentukan oleh kadar keyakinan orang yang didoakan maupun yang mendoakan. Jadi, percayalah.

PENUTUP

Kesembuhan rohani mendahului kesembuhan jasmani. Sebagaimana penyakit jasmani seringkali disebabkan oleh adanya penyakit rohani, maka penyembuhan jasmani acapkali harus didahului dengan penyembuhan rohani. Pengobatan yang jitu adalah pengobatan yang terfokus pada penyebab penyakit, bukan pada gejala-gejala penyakit yang timbul. Namun banyak dokter yang baik mengobatinya sekaligus, penyebab penyakit dan gejalanya diobati secara bersamaan karena biasanya yang membuat pasien menderita adalah akibat dari gejala-gejala penyakit itu. Yesus Kristus, Tabib surgawi itu, juga melakukan hal yang sama ketika Ia menyembuhkan penyakit jasmani seseorang dan pada waktu yang sama mengampuni dosa orang itu yang menjadi penyebab dari penderitaannya.

"Orang lumpuh itu menemukan dalam Kristus penyembuhan bagi jiwa maupun tubuhnya. Dia memerlukan kesehatan jiwa sebelum dia bisa menghargai kesehatan tubuh. Sebelum penyakit jasmani dapat disembuhkan, Kristus harus mendatangkan kelegaan pada pikiran, dan membersihkan jiwa dari dosa. Pelajaran ini tidak boleh diabaikan" [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Masuknya dosa ke Bumi ini telah mengakibatkan kemerosotan secara menyeluruh, terhadap alam maupun makhluk-makhluk hidup penghuninya. Kemerosotan atas kehidupan manusia juga bersifat menyeluruh, yaitu kemerosotan yang meliputi kondisi jasmani, rohani, pikirani, dan akhlak. Kita pun merindukan pemulihan seutuhnya kepada keadaan semula waktu manusia baru diciptakan Allah di Taman Eden, dan itulah yang dijanjikan Yesus kepada semua umat-Nya yang setia bilamana Ia datang--sebentar lagi!

"Tetapi kita adalah warga negara surga. Dari situlah juga Raja Penyelamat kita, Tuhan Yesus Kristus, akan datang. Dialah yang kita nanti-nantikan dengan rindu. Tubuh kita yang lemah dan dapat hancur ini, akan diubah oleh Kristus menjadi seperti tubuh-Nya sendiri yang mulia. Ia dapat melakukan itu karena Ia memiliki kuasa untuk menaklukkan segala sesuatu" (Flp. 3:20-21, BIMK).

DAFTAR PUSTAKA:

 1.   Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Januari - Maret 2014.
2.   Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.