Senin, 04 Maret 2013

Alergi Pada Anak.



TERAPI ALERGI PADA ANAK

Alergi merupakan kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respon imun) yang berlebihan, yang diakibatkan oleh beberapa penyebab dan pencetus, diantaranya karena makanan, inhalasi/hirupan (debu, serbuk sari bunga tanaman, bulu binatang), kontak (sabun, bahan kimia atau logam), dan lain-lain tergantung individu masing-masing.
 Gejala yang dapat timbul adalah gatal-gatal, bersin-bersin dan sesak nafas. Bila salah satu atau kedua orang tua menderita gejala alergi, maka kemungkinan diturunkan pada anak sekitar 25-30%. Kemungkinan akan meningkat jika kedua orang tua mengalami gejala alergi. 
 Alergi yang sering berulang dan tidak dapat dikendalikan ternyata juga dapat mengganggu susunan saraf pusat/otak, gangguan ini disebabkan oleh beberapa zat stimulan yang dikeluarkan oleh saluran pencernaan, disamping itu perubahan hormonal juga berperan dalam gangguan tersebut.
 Alergi juga bisa mengganggu berbagai sistem dan organ tubuh lain. Akibatnya, tentu dapat mengganggu tumbuh-kembang anak. Gangguan yang sering muncul adalah malnutrisi (kurang gizi). Malnutrisi biasa terjadi pada anak diatas usia 4-6 bulan, dimana anak mulai dikenalkan makanan baru yang terkadang mengakibatkan alergi atau gangguan pencernaan seperti sulit makan, sering muntah, sering diare, sering kembung dan sebagainya. Gejala gangguan pencernaan yang sering timbul antara lain rewel, terus-terusan menangis, kolik di malam hari pada anak di bawah 3 tahun, bayi dengan riwayat berak darah, dan bayi dengan riwayat diare berulang.
 Secara teoritis alergi memang tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dijarangkan frekuensi kekambuhannya serta dikurangi beratnya keluhan.
 Untuk mendeteksi alergi, banyak tahap yang dilakukan, yang pertama adalah anamnesa, yaitu melihat riwayat keluarga dan riwayat sering penyakit berulang.  Penanganan alergi pada anak memang harus dilakukan secara benar dan berkesinambungan, yang paling ideal adalah menghindari zat yang dicurigai sebagai pencetus yang bisa menimbulkan keluhan alergi. Bila makanan sebaiknya berhenti memakan makanan tersebut. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang lainnya tes alergi pada kulit, foto rontgen, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya jika dibutuhkan.
 Pilihan untuk pengobatan disesuaikan dengan gejala yang dirasakan. Biasanya dokter akan memberikan obat anti histamin seperti cetirizine yang dapat mengurangi gejala tanpa menyebabkan rasa kantuk. Pengobatan ini diberikan 1 kali dalam sehari sehingga cukup praktis.
 - sumber: Keluarga Caladine.

ALERGI PADA ANAK – BUKAN MASALAH SEPELE.
by Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A
Alergi ternyata tak hanya menyerang kulit atau paru seperti yang selama ini kita ketahui, melainkan semua organ tubuh, termasuk otak. Bagaimana mengenali alergi pada anak?
Menurut Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A dari Children Allergy Center RS Bunda, Jakarta, alergi pada anak ternyata tidak sesederhana seperti yang diduga. Sebelumnya, sering kita dengar bahwa gejala alergi adalah batuk, pilek, sesak dan gatal di kulit. “Padahal, alergi dapat menyerang semua organ dan sistem tubuh, mulai paru, kulit, saluran kencing, jantung, bahkan susunan saraf pusat (otak),” tegas Widodo.
Ternyata banyak bahaya dan komplikasi alergi yang bisa terjadi, sehingga sangat berisiko mengganggu tumbuh kembang anak. “Risiko dan tanda alergi ini dapat diketahui sejak anak dilahirkan, bahkan terkadang sejak dalam kandungan pun sudah bisa terdeteksi. Jadi, alergi sebetulnya dapat dicegah sejak dini,” lanjutnya.
Apa sebetulnya alergi? Alergi adalah kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respon imun) yang berlebihan, yang diakibatkan oleh beberapa penyebab atau pencetus. Alergi dapat diturunkan dari orangtua atau kakek/nenek penderita. “Jadi, bila ada orangtua, keluarga atau kakek-nenek yang menderita alergi, kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak,” terang Widodo. Bila ada salah satu dari kedua orangtua (ayah misalnya) yang menderita gejala alergi, maka risiko yang mungkin diturunkan pada anak sekitar 25 ­ 30 persen. Sementara bila kedua orangtua alergi, maka risiko alergi menurun ke anak pun meningkat menjadi 60 ­ 70 persen.
Untuk mengetahui risiko alergi pada anak, kita harus mengetahui gejala alergi pada orang dewasa. “Pasalnya, gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua sistem/organ tubuh anak,” lanjut Widodo. Gejala dan tanda alergi dapat ditimbulkan oleh beberapa pencetus atau penyebab, di antaranya:
a.Makanan
Pada bayi dan anak, makanan merupakan pencetus utama, sedangkan pada orang dewasa, pengaruh makanan semakin berkurang.
b.Bukan makanan, antara lain:
1. Inhalasi/hirupan: debu (karpet/filter AC), serbuk sari bunga tanaman, bulu binatang.
2. Kontak: sabun, bahan kimia, atau logam
3. Kecoa
4. Mite/tungau pada kasur, kapuk, dan lain-lain.
GANGGUAN PENCERNAAN
Alergi yang sering berulang dan tidak dikendalikan ternyata juga dapat mengganggu susunan saraf pusat (SSP atau otak). Secara pasti, mekanisme timbulnya gangguan tersebut belum dapat dijelaskan. “Diduga, gangguan SSP itu diakibatkan oleh pengaruh beberapa zat stimulan yang dikeluarkan oleh pencernaan penderita alergi, yang biasanya juga terganggu. Di samping itu, perubahan hormonal pada penderita alergi diduga juga ikut berperan dalam gangguan tersebut,” kata Widodo.
Gangguan otak yang terjadi antara lain keluhan sakit kepala berulang, gangguan tidur, keterlambatan bicara, serta gangguan perilaku. “Gangguan perilaku yang sering terjadi antara lain emosi berlebihan, agresif, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autisme,” lanjutnya.
Selain gangguan SSP, alergi juga bisa mengganggu berbagai sistem dan organ tubuh lain. Akibatnya, tentu sangat mengganggu tumbuh-kembang anak. Gangguan yang sering muncul adalah malnutrisi (kurang gizi). “Berat dan tinggi badan anak kurang dibanding tinggi badan anak lain yang normal seusianya,” tambah Widodo. Malnutrisi biasa terjadi pada anak di atas usia 4-6 bulan, dimana anak mulai dikenalkan makanan baru yang terkadang mengakibatkan alergi atau gangguan. “Ini berakibat gangguan pencernaan seperti sulit makan, sering muntah, sering diare, sering kembung dan sebagainya, yang berisiko terjadinya malnutrisi.”
Gejala gangguan pencernaan yang sering timbul antara lain rewel, terus-terusan menangis, kolik di malam hari pada anak di bawah 3 tahun, bayi dengan riwayat berak darah, dan bayi dengan riwayat diare berulang.
TAK PERLU OBAT
Untuk mendeteksi alergi, banyak tahap yang dilakukan. Yang pertama adalah anamnesa, yakni melihat riwayat orang tua/keluarga/kakek-nenek dan riwayat penyakit sering berulang. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. “Antara lain skin test allergy, foto rontgen (foto polos dada), pemeriksaan laboratorium, dan lainnya,” ujar Widodo.
Penanganan alergi pada anak memang harus dilakukan secara benar dan berkesinambungan. “Pemberian obat terus-menerus bukanlah jalan terbaik. Yang paling ideal adalah menghindari pencetus yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut,” jelas Widodo.
Secara teoritis, alergi memang tak bisa dihilangkan, tetapi dapat dijarangkan frekuensi kekambuhannya serta dikurangi beratnya keluhan. Dengan pertambahan usia anak, di usia 6-7 tahun, pencetus alergi makanan biasanya akan semakin berkurang atau hilang. “Namun, yang sering terjadi, orangtua justru terus memberikan makanan pencetus alergi pada anak, dengan tujuan agar anak kebal dan tidak lagi alergi. Ini tidak benar dan tidak akan mengurangi gejala alergi, tetapi malah memperberat.”

                      MENGOBATI DAN CEGAH ALERGI PADA BAYI DAN ANAK

Siapa bilang bayi tidak bisa terkena alergi? walaupun bayi sudah di berikan vaksinasi dan juga imunisasi, alergi pada bayi biasanya berupa alergi pada susu, alergi pada kain, dan banyak lagi bentuk alergi yang sering di derita bayi, yang tentunya sangat mempengaruhi kesehatan bayi itu sendiri, namun seperti biasa jangan terlalu berlebihan mensikapinya, berikut ada beberapa cara yang bisa di coba apabila bayi anda terkena alergi. Pada prinsipnya dalam merawat bayi yang terkena penyakit alergi adalah dengan menghindari bayi dari zat-zat penyebab alergi .

Meskipun alergi pada masa bayi tidak bisa dicegah secara total, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya alergi, yang pertama hindarkan bayi dari makanan bayi yang berpotensi menyebabkan alergi: putih telur, susu sapi, sereal gandum, dan madu.

Hindari pula makanan-makanan padat sampai usianya mencapai 6 bulan kemudian secara bertahap kenalkan beberapa makanan baru, mulailah dengan makanan lunak (sereal beras atau gandum) selanjutnya bersihkan seluruh rumah dan terutama tempat tidur si kecil supaya sebisa mungkin terbebas dari debu, kalau bisa kosongkan dan bersihkan ruang tidur bayi, lepas semua karpet yang menempel di lantai, gantilah dengan lantai kayu atau linoleum selain itu usahakan untuk mengisi ruang tidur si kecil dengan satu tempat tidur saja dan tutuplah kasur dan boks bayi dengan menggunakan plastik anti debu atau anda bisa menggunakan bantal dakron atau bantal karet, gunakan selimut dari bahan katun dan bukan dari bahan perca atau kapas, kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah bersihkan ruangan setiap hari.

Saat membersihkan, buka semua pintu dan jendela agar udara segar masuk, kemudian tutup kembali. Saat membersihkan debu, gunakan kain basah atau berminyak supaya debu tidak terbang kemana-mana, semua mainan harus disingkirkan dari kamar si kecil kemudian jika memungkinkan, gantilah semua perlengkapan bayi yang berlapis kain dengan perlengkapan bayi yang terbuat dari bahan yang bisa dilap, seperti lapisan kayu, vinil, atau kulit dan yang terakhir apabila tingkat alergi pada bayi terlihat semakin parah, konsultasikanlah dengan dokter anak untuk memberikan suntikan alergi pada bayi Anda.

Pengobatan yang paling ampuh terhadap penyakit alergi adalah dengan menghindari zat-zat penyebab alergi. Meskipun alergi pada masa kanak-kanak tidak bisa dicegah secara total, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya alergi:
  1. Hindarkan si anak dari makanan yang berpotensi menyebabkan alergi: putih telur, susu sapi, sereal gandum, dan madu. Hindari pula makanan-makanan padat sampai usianya mencapai 6 bulan. Secara bertahap kenalkan beberapa makanan baru, mulailah dengan makanan lunak (sereal beras atau gandum)
  2. Bersihkan seluruh rumah dan terutama tempat tidur si kecil supaya sebisa mungkin terbebas dari debu.
  3. Kosongkan dan bersihkan ruang tidur bayi, lepas semua karpet yang menempel di lantai, gantilah dengan lantai kayu atau linolium.
  4. Usahakan untuk mengisi ruang tidur si kecil dengan satu tempat tidur saja dan tutuplah kasur dan boks bayi dengan menggunakan plastik anti debu. Beralihlah menggunakan bantal dakron atau bantal karet, gunakan selimut dari bahan katun dan bukan dari bahan perca atau kapas.
  5. Bersihkan ruangan setiap hari. Saat membersihkan, buka semua pintu dan jendela agar udara segar masuk, kemudian tutup kembali. Saat membersihkan debu, gunakan kain basah atau berminyak supaya debu tidak terbang kemana-mana, semua mainan harus disingkirkan dari kamar si kecil.
  6. Jika mungkin, gantilah semua perabot yang berlapis kain dengan perabot yang terbuat dari bahan yang bisa dilap, seperti lapisan kayu, vinil, atau kulit.
  7. Mungkin Anda perlu memasang ‘penyedot’ ruangan terutama di dapur dan di kamar mandi.
  8. Hindarkan anak dari binatang piaraan
  9. Jangan ijinkan orang merokok dalam ruangan, karena perokok pasif bisa memperburuk gejala-gejala alergi.
  10. Konsultasikan dengan dokter untuk memberikabn suntikan alergi pada anak Anda.

                     Iritasi dan Alergi pada Kulit Bayi.
Alergi atau Iritasi

   Bayi bukan manusia kecil. Dibutuhkan pengetahuan khusus tentang perawatan kulit bayi yang tentunya mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan manusia dewasa.
Salah satu tujuan utama perawatan kulit bayi ialah mencegah atau mengurangi iritasi. Karena ternyata iritasi masih menduduki peringkat tinggi sebagai penyebab kelainan pada kulit bayi, sejalan dengan perkembangan fisiologi kulit bayi yang mempunyai kerentanan khas terhadap faktor iritasi tersebut. Sebaliknya, sangat jarang dijumpai kelainan alergi pada kulit bayi akibat kontak (peradangan kulit yang disebut sebagai Dermatitis Kontak Alergik-DKA) dengan bahan penyebab alergi (alergen kontaktan).
Memang sering kita dengar banyak ibu mengeluhkan kulit bayinya yang super-sensitif dan mudah “elergi” karena berkontak dengan sabun, bedak, atau lotion kosmetika bayi tertentu. Tapi perlu dicermati pengertian kata “alergi” khas bahasa di masyarakat tersebut. Karena bisa jadi yang dimaksud “iritasi”. Dengan begitu kita tidak segera menjatuhkan vonis bahwa bahan sabun atau bedak merek tertentu itu adalah penyebab alergi yang menimbulkan ruam pada bayi yang terakhir dengan diterminasinya pemakaian kosmetika baby skin care itu selamanya.

Mengapa demikian ?
Karena ada beberapa faktor yang menyebabkan kulit bayi lebih rentan terhadap terjadinya iritasi (Dermatitis Kontak Iritan: DKI) dibandingkan dengan alergi (Dermatitis Kontak Alergik: DKA), yaitu:
  • Kulit bayi yang lebih tipis dengan ikatan antarsel yang lebih lemah memudahkan penyerapan berbagai bahan kontak.
  • Sistem imun atau kekebalan kulit bayi yang belum berkembang sempurna menyebabkan reaktivitas alergi masih rendah. Sebagai contoh, bila kulit bayi berkontak dengan suatu bahan kimia yang sebenarnya bersifat contact sensitizer atau toksis, maka kulit bayi tidak segera bereaksi, sehingga paparan kontak dengan bahan tersebut tetap berlangsung/diteruskan karena dianggap tidak menimbulkan “kerugian” bagi kulit bayi. Akibat jangka panjang terjadi efek toksik kimia pada kulit yang menyebabkan kerusakan sel kulit dengan peradangan kulit (dermatitis) sebagai hasil akhirnya. Berat ringannya kondisi dermatitis akibat kontak bahan iritan tersebut bergantung pada jenis bahan iritan yang berkontak dan frekuensi atau lama paparan kontaknya pada kulit.
  • Peradangan kulit karena kontak alergi membutuhkan sistem imun yang telah lebih berkembang sempurna (umumnya anak di atas usia 2 tahun).
Penyebab iritasi dan seperti apa kelainannya
Iritasi umumnya sering terjadi pada:
  • Pemakaian popok sintetis atau celana berlapis plastik yang lama tidak diganti, sering menimbulkan iritasi langsung pada kulit akibat tertimbunnya urin dan kotoran yang mengandung amonia yang bersifat iritatif. Tertutupnya daerah popok meningkatkan suhu maupun kelembapan di daerah itu, ditambah gesekan daerah lipatan bokong makin memudahkan penyerapan bahan-bahan kimia iritan tersebut. Bila berlangsung berulang-ulang, sawar (pelindung) kulit rusak, sehingga memudahkan berkembangbiaknya jamur Candida albicans yang akan memperburuk keadaan peradangannya.
  • Daerah lipatan pada bayi yang gemuk (leher, lipatan paha, lipat siku). Keringat yang menumpuk berlama-lama di daerah lipatan tertutup menjadi bersifat iritatif bagi kulit bayi. Peradangan berulang yang terjadi juga akan diperburuk dengan berkembang biaknya jamur Candida albicans.
  • Bayi dengan riwayat keluarga mempunyai faktor alergi, memang lebih sering dijumpai keluhan iritasi, misalnya adanya sisik halus di daerah kulit kepala akibat pemakaian produk kosmetika sampo ber-pH tinggi atau hair lotion yang terlalu wangi. Pada dada, punggung, perut, pada kebiasaan pemakaian minyak penghangat tubuh, yang digunakan terus-menerus di iklim panas.
  • Kekeringan kulit bayi akibat pemakaian berulang sabun mandi yang mengandung antiseptik. Peradangan kronis akibat kontak bahan iritan lemah ini juga akan mempengaruhi keseimbangan flora normal kulit, dengan akibat berkurangnya daya pertahanan alamiah kulit.
  • Bayi baru lahir pengguna susu sapi formula dengan pH tinggi, terkadang dijumpai kemerahan di daerah sekitar dubur.
Bagaimana mengobatinya
Terpenting adalah pencegahannya, karena bila dicermati semua faktor penyebab iritasi pada kulit bayi dapat dicegah paparan berulangnya. Dan umunya kelainan kulit baru timbul bila telah terjadi paparan yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan sebelum ke dokter:
  • Hindari sementara pemakaian popok sekali pakai atau celana berlapis plastik selama peradangan, pakai popokkain tipis lembut yang bahannya menyerap keringat, bahkan sesekali biarkan tanpa popok/celana. Cuci daerah bokong dan sekitarnya setiap bayi buang air kecil atau buang air besar dengan sabun lembut khusus bayi dan keringkan dengan handuk lembut ditepuk-tepuk pelan dan jangan digosok kasar. Hindari pemakaian bedak saat meradang.
  • Daerah lipatan yang merah meradang, sering dikompres dengan waslap handuk yang dibasahi air, hindari pemakaian bedak untuk sementara waktu, Daerah lipatan sering dibuka dan diangin-anginkan. Bila berkeringat segera seka perlahan (jangan digosok) dengan waslap handuk yang dibasahi air, lalu keringkan dengan handuk dengan cara ditepuk atau ditekan lembut. Hindari pemakaian bahan handuk yang kasar. Pakailah baju longgar bahan katun yang tipis menyerap keringat.
  • Kulit kering kasar bersisik (kecuali di kulit kepala) dapat diberi krim pelembab khusus bayi setiap setelah mandi. Jangan mandi dengan air terlalu panas berlama-lama. Pakailah sabun ataupun sampo khusus bayi yang lembut denga pH balanced. Untuk sementara waktu tidak perlu pemakaian bedak dan hindari pemakaian berbagai produk kosmetika pewangi atau minyak yang dioleskan atau dituangkan langsung ke kulit yang bersisik tersebut.
  • Jangan oleskan obat salep, krim atau minyak apapun di daerah yang meradang, apalagi bila ada kalainan kulit merah dan basah.
  • Gunakan intuisi atau naluri ibu yang Anda miliki untuk menjadi detektif. Kumpulkan bahan-bahan seperti “barang bukti” dan “tersangka”, lalu tunjukkanlah kepada dokter.
Dapat dicegah
Yang perlu diingat ialah peradangan kulit pada bayi  karena faktor iritasi lebih sering disebabkan oleh bahan iritan yang lemah (keringat, urin, feses, produk perawatan kulit yang salah penggunaannya, deterjen, cairan antiseptik, dan sebagainya) dan mungkin kitapun punya andil untuk memaparkannya selama ini. Timbulnya peradangan jarang hanya akibat kontak oleh satu bahan iritan lemah itu saja. Namun umumnya ditunjang oleh beberapa faktor yang bersama-sama menciptakan kondisi yang cocok untuk timbulnya peradangan tersebut, seperti faktor kelembapan, panas, tertutup, gesekan dan sebagainya.
Sumber : Dr. Amaranila Lalita, Sp.KK.