WAHYU YESUS KRISTUS
“Inilah Wahyu
Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya
kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi… Ia telah menyatakannya
kepada hamba-Nya Yohanes….”(Wahyu 1:1,2).
Pendahuluan:
Kitab Wahyu (Revelation) adalah nubuatan penyingkapan.
Wahyu (Revelation) berasal dari bahasa Yunani: “apokalupsis”, yang
secara harfiah berarti: “an unveiling” = membuka tutup. Jadi Revelation (Wahyu) artinya: “membuka/to
clarify”, “suatu wahyu”. Nubuatan-nubuatan apokaliptik memberikan
kepada kita wahyu-wahyu khusus dari Allah berdasarkan penglihatan-penglihatan
yang di ilhamkan dan mimpi-mimpi nabi yang menggunakan simbolisme yang luas.
Fokus nubuatan apokaliptik ialah mengenai akhir zaman. Tujuan utama adalah untuk memusatkan
perhatian kita kepada peristiwa-peristiwa pada akhir sejarah manusia bilamana
bangsa-bangsa dunia akan dihancurkan dan kerajaan Kristus didirikan untuk
selama-lamanya. Tema buku wahyu
berpusat pada Kristus.
Setiap buku dalam Alkitab penting tetapi kitab Wahyu adalah merupakan
kitab nubuatan yang terbesar dalam Alkitab, dan kitab ini adalah buku terpenting. Bagi kebanyakan orang, kitab Wahyu merupakan
satu persoalan besar. Bahasanya yang
bersifat nubuat dan lambang-lambangnya yang aneh menantang pengertian, sehingga
jutaan orang jadi menyerah tanpa dapat mengertinya. Banyak orang merasa bahwa kitab wahyu itu
cocok hanya untuk masa yang lalu atau untuk masa depan, lagi pula kitab itu
bersifat tertutup, atau termeterai dan tidak dimaksudkan untuk dimengerti oleh
masyarakat sekarang. Namun sebenarnya
kitab Wahyu bukanlah tertutup atau termeterai.
Malaekat Allah memerintahkan agar kitab itu jangan dimeteraikan :
“Jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya
sudah dekat” (The time is at hand?).
Apakah artinya the time is at hand (waktunya sudah dekat)?.
Ilustrasi:
Berapa jauhkah yang jauh itu dan berapa dekatkah yang dekat itu?. Kalau kita berada di kampung, jarak 10 km itu
tidak jauh. Sedangkan kalau kita berada
di kota, jarak gereja 1 km itu rasanya sudah jauh. Jika seseorang sibuk terus, tidak terasa
waktu itu berlalu dengan cepat tetapi bagi orang malas maka waktu itu terasa
lama.
Wahyu adalah kitab yang terbuka. Kitab itu ditulis khusus untuk sekarang—hari-hari
terakhir sejarah dunia ini (Wahyu 22:10-12), dan satu berkat yang sangat
istimewa dijanjikan bagi mereka yang mengerti dan memperhatikan nasehat buku/kitab
tersebut (Wahyu 1:3; Wahyu 22:7).
Sesungguhnya kitab Wahyu adalah rangkuman(intisari) dari seluruh isi
Alkitab, dimana tema-tema utama Alkitab diulangi untuk menekankan pentingnya
suatu kebenaran. Wahyu dimaksudkan untuk
menerangkan, bukan untuk menakut-nakutkan.
Pembahasan:
PENGARANG/PENULIS
:
Yohaneslah pengarangnya menurut Wahyu 1:4,9; Wahyu 22:8).
Pada saat ini Yohanes adalah merupakan pimpinan dari ke tujuh jemaat-jemaat
di Asia Kecil.
SIAPAKAH YOHANES ITU?
Perjanjian Baru menyebut beberapa nama Yohanes :
1.
Yohanes
Pembaptis, anak Zakaria dan Elisabet.
Yohanes Pembaptis ini bukanlah penulis kitab Wahyu karena dia telah
meninggal pada waktu Kristus masih berada di dunia ini (belum ada buku Wahyu
waktu itu).
2.
Yohanes
Markus – yang mengikuti Paulus dan Barnabas, anak dari Maria. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia penulis kitab
Wahyu, karena cara-cara dan kata-kata yang dipakai pada Wahyu berbeda dengan
kata-kata dari Injil Markus (The style is different with the Gospel of Mark).
3.
Yohanes
– anak Zebedeus, saudara Yakobus –orang yang sangat senang dekat-dekat kepada
Yesus, sehingga dia disebut dengan Yohanes yang kekasih, salah seorang dari ke
duabelas murid Yesus. Pada umumnya banyak
orang yang setuju bahwa Yohanes Kekasih inilah pengarang buku Wahyu .
Yang mengkritik “Johannain authorship” atau
yang memberikan argumentasi bahwa pengarang buku Wahyu bukanlah Yohanes ialah
DIONYSIUS.(Bapa Gereja yang pertama/The first Church Father) karena :
1.
Bahasanya
berbeda dengan Injil Yohanes dan tata bahasanya (grammar nya) juga berbeda. Kalau betul Yohanes pengarang buku Wahyu,
bahasanya harus sama dengan bahasa dalam buku Yohanes.
2.
Istilah-istilah
dalam buku Wahyu tidak digunakan dalam buku Yohanes. Misalnya:
kosmos, “dunia” muncul 79 kali dalam buku Yohanes, tetapi dalam buku
Wahyu hanya 3 kali; aletheia, “kebenaran" dalam Yohanes disebut 25 kali,
dan dalam Wahyu tidak terdapat samasekali; phos, “terang”, dalam Yohanes 22
kali dan dalam Wahyu, 3 kali; agapao,
“mengasihi”: dalam Yohanes terdapat 37 kali, dalam Wahyu ada 4 kali; pisteuo,
“to believe/mempercayai, dalam buku Yohanes terdapat 100 kali, dalam buku Wahyu
tidak ada; alla, “tetapi/but” dalam Yohanes lebih dari 100 kali, didalam Wahyu
ada 13 kali; enopion, “before” dalam buku Yohanes terdapat hanya satu kali dan
dalam Wahyu, ada 36 kali; emos, “mine”, dalam Yohanes ada 42 kali, dalam Wahyu
hanya sekali.
Jadi,
apakah yang menjadi jawaban kita terhadap kritikan ini?
Jawabnya
ialah, bahwa keadaan pada waktu Yohanes ditulis berbeda dengan keadaan pada
saat kitab Wahyu ditulis.
Sebab-sebab hal itu atau bahasa berbeda
ialah, karena:
a.
Keadaan
yang bertumbuh.
b.
Bergantung
juga kepada umur penulis. Misalnya orang
muda beda bila berkhotbah dibandingkan
dengan orang tua.
Pada saat
ia(Yohanes Kekasih) menulis buku Wahyu, dia dalam keadaan/ waktu susah dan
karena ditulis dalam penjara atau sedang ditawan di Pulau Patmos. Jadi berbeda pada waktu senang. Pada waktu senang, kita mungkin bisa
menggunakan kamus teman agar tata bahasanya lebih bagus/indah, tetapi didalam penjara hal
itu tidak memungkinkan. Jadi dia hanya
menggunakan bahasa yang di ilhamkan, bahasanya tergantung pada apa yang sudah
dikuasainya sendiri dan itulah yang membuat tata bahasanya cendrung tidak
begitu teratur.
Buku Wahyu ditulis di Pulau Patmos (Wahyu
1:9), sekitar tahun 96 sesudah Masehi.
Yohanes tinggal di Epesus dan dari sinilah Kaisar DOMITIAN menangkapnya
dan membuangnya ke pulau Patmos.
Tema buku Wahyu ialah: MEMBUKAKAN MASA DEPAN
(To open the future).
KONKLUSI :
“Kitab Wahyu telah berhasil lolos dari para
pencela/pengkritik. Saat ini kitab itu
adalah sebuah karya klasik yang terjamin.
Kitab ini dapat membawa Anda berjalan lebih dekat pada Yesus”.
Jon Paulien,
Kabar Baik Dari Patmos, hlm 9.
Melalui belajar kitab Wahyu, kita dapat
menemukan kunci kepada hubungan yang lebih mendalam bersama Yesus dalam
kehidupan kita masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA:
1. Materi Kuliah "Revelation", Bandung: Institut Theologia dan Keguruan Advent, 1974.
2. Jon Paulien, Kabar Baik Dari Patmos, Bandung: Indonesia Publishing House, 2007.
DAFTAR PUSTAKA:
1. Materi Kuliah "Revelation", Bandung: Institut Theologia dan Keguruan Advent, 1974.
2. Jon Paulien, Kabar Baik Dari Patmos, Bandung: Indonesia Publishing House, 2007.